Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Selasa, 05 Agustus 2014

TULISAN PADA TEMBOK




 Data buku kumpulan puisi

Judul : Tulisan pada Tembok
Penulis : Acep Zamzam Noor
Cetakan : I, Oktober 2011
Penerbit : Komodo Books, Depok
Tebal : 108 halaman (87 puisi)
ISBN : 978-602-9137-10-1
Foto sampul : Orlando Lienasas
Desain sampul : Tugas Suprianto

Beberapa pilihan puisi Acep Zamzam Noor dalam Tulisan pada Tembok

Tulisan pada Tembok
Buat Padwa Tuqan

Semuanya belum juga menepi. Kapal-kapal di samudera
Pesawat-pesawat di udara, panser-panser di jalanan
Di medan-medan pertikaian. Dan abad-abad yang bergulir
Tahun-tahun yang mengalir, musim-musim yang anyir
Entah kapan berakhir. “Dilarang kencing!” seekor anjing
Menyalak pada dunia. Langit nampak masih membara
Hujan bom di mana-mana. Terdengar tangis bayi
Jerit para pengungsi. Tak henti-henti –
Bukankah seratus Hadiah Nobel telah diobral
Dan seribu perundingan digelar? Tapi di manakah
Perdamaian? Masih adakah perdamaian itu? Semuanya
Belum mau menepi, belum mau melabuhkan diri

Lalu kapan menepi? Kapan akan melabuhkan diri? Kapal-kapal
Kehilangan pelabuhan, pesawat-pesawat kehilangan landasan
Panser-panser kehilangan terminal. Peluru-peluru berdesingan
Berita-berita berhamburan, pidato-pidato tak terbendung
Maklumat-maklumat, fatwa-fatwa, slogan-slogan
Konferensi-konferensi, seminar-seminar
Meledakkan udara. Membakar seluruh cakrawala
Tapi kekuasaan terus berderap seperti sepatu
Seperti langkah waktu. Kekuasaan semakin menderu
“Dilarang kencing di sini, bangsat!” seekor anjing
Kembali menyalak pada tembok-tembok kota
Yang sering dikencingi polisi dan tentara



Menyerap Tinta di Lautan

Akulah si miskin yang kaya
Dadaku berkilauan bukan oleh permata
Sebab cinta telah disodorkan kemurahan semesta
Padaku. Kini aku menyeret langkah ke segala penjuru
Dan menulis puisi di sudut-sudut malam
Di antara kesempitan bumi dan keluasan langit
Aku terus menggeliat dan menari
Sedih dan riangku menjadi tarian di udara
Lihatlah, langkahku berderap menyongsong matahari
Menempuh bukit demi bukit sepanjang rahasiamu abadi
Beribu penyair telah menyerap tinta di lautan
Pohon-pohon bergerak menuliskan kerinduan

Lihatlah, kain kafanku terus berkibaran
Memenuhi udara dengan bau keringat pengembara
Meskipun hatiku telah dilumuri lumpur hitam
Aku tahu cahaya masih akan terbit dari tatapan matamu
Setiap pagi. Kemudian kaubakar segala yang ada di bumi
Hingga gairahku menyala dan berkobar kembali
Siang dan malam akan terus berulang, seperti berulangnya
Hidup dan mati. Lihatlah, tidak ada lagi mahkota di kepalaku
Kemegahan hanya menganugerahiku sebatang pena:
Aku ingin menghabiskan semua tinta di lautan
Lalu bergerak bersama pohon-pohon menuliskan cinta


Surat Cinta

Ini musim gugur, minumlah anggur
Denting gitar
Terdengar dari belahan dunia yang hancur

Sambutlah gerimis, kelembutan akan mengurapi
Tanah-tanahmu yang mati. Langit tinggal lengkung
Kabut bergulung-gulung

Rauplah daun-daun yang jatuh, bunga-bunga yang luruh
Bayi-bayi yang terbunuh. Melewati tahun demi tahun
Melintasi abad dan milenium yang ngungun

Hiruplah genangan darah busuk, tumpukan tubuh hangus
Kepulan asap mesiu. Pertempuran demi pertempuran
Akan mendewasakan hidupmu

Arungi luas lautan, terjuni gelap hutan
Selami lubuk bumi. Kelaparan demi kelaparan
Akan membuat hari-harimu lebih berarti

Ini musim gugur, cintaku, ini bahasa sunyi
Denting piano
Sayup-sayup dari reruntuhan waktu


Makati

Cahaya berpendaran dalam kepungan dentang lonceng
Yang berulang. Kusaksikan langit mulai beranjak tua
Ketika raung ambulan di jalan raya tak kunjung menjauh
Dari telinga. Kususuri detik, kurayapi menit demi menit
Kuhitung napas yang berjatuhan seperti rintik gerimis

Orang-orang masih bergegas, hari-hari masih akan lewat lagi
Tahun-tahun terus berganti, abad-abad datang dan pergi
Kubayangkan maut singgah di trotoar, duduk dan batuk-batuk
Bunyi lonceng membuat langit semakin renta dan entah kenapa
Aku merasa seperti telah kehilangan begitu banyak peristiwa


Romantic Agony

Ciumanmu melontarkanku ke dasar sunyi
Dan kembali kusyukuri nikmat kejatuhanku
Di bumi. Sinar bulan kuinjak dalam debu
Kegelapanlah yang kusongsong sebagai harapan baru
Ketika pohon-pohon hitam berbaris mengurungku
Langit merah padam siap menimpaku di segala penjuru
Aku bicara sebagai bangkai dan serigala-serigala
Mengerti ucapanku. Kujabat tangan sungai yang deras
Dan kubiarkan salam-salamku hanyut oleh gelombang
Kini pakaianku kesabaran yang sobek, keikhlasan
Yang koyak. Aku bersujud mencari lumpur yang wangi
Sambil mengenakan ciumanmu dan kepedihanku
Menggali dan menimbun kuburan waktu


Manila Bay, Senja

Kau membawaku pada puncak gelombang
Dan gelombang membakarku dengan sepinya
Sebelum gelap turun, masih kubaca sisa topan
Napasmu seakan bisikan yang jauh, seakan
Sekarat langit yang panjang

Keperihanmu adalah borok bumi yang kekal
Dan kau menuntunku pada pusat nyerinya
Sebelum ajal tiba, kupuja eranganmu dengan cinta
Kepalsuan dan dusta yang sama. Darahku tumpah lagi
Lautan tetaplah garam yang menyirami luka


Le Poete Maudit
Buat Saini K.M.

Mengurung diri dalam tungku
Dibakar cinta dan rindu
Api memercik dari setiap tetes darah
Tubuhku yang luka. Dan iman pun menyala
Di tengah hamparan gurun tak bernama

Pasir-pasir hanyut
Dalam sujudku. Batu-batu
Tumpah
Mataku buta oleh tangis seratus tahun

Pada puncak tiang salib
Gairahku menari. Gerobak sejarah
Lewat
Menyeret Sodom dan Gomorah

Kata-kata mengalir
Dari setiap desah napas
Tahajudku. Dan iman pun membara
Mengobarkan pertempuran tanpa akhir:
Kematian melahirkanku kembali, mengulangku
Berkali-kali


Nokturno

Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan musik yang tenang kulayari gelombang pasang
Kau tahu, betapa hening bunyi yang diciptakannya
Berdenting, mengetuk-ngetuk lantai dan dinding
Betapa nyaring! Betapa runcing percik-percik airnya

Untuk kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan penuh kekhusyukan kudaki nada-nada tinggi
Lalu menukik ke dalam semadi, menyelam ke lubuk sepi
Kau tahu, kekasihku, rindu adalah napas syair-syairku
Ialah gitar yang kugaruki sepanjang waktu

Ialah musik improvisasi, yang iramanya berasal dari lubuk hati
Ialah samudera luas, yang ikan-ikan serta camar-camarnya liar
Ialah deru angin sakal, yang menghantam layar dan buritan
Ialah gemuruh biru, yang gemanya bersahutan dalam dadaku
Yang menggedor-gedor dinding beku. Aku cinta padamu


Lagu Pejalan Larut

Ingin kembali mencium rumputan
Bau tanah sehabis hujan, jejak-jejak pagi di pematang
Duapuluh tiga tahun aku dibakar matahari, digarami
Keringat bumi. Ingin kembali, ingin kembali
Mengairi sawah dan perasaan, menabur benih-benih ketulusan

“Pejalan larut, di manakah kampungmu?”

Langit membara sepanjang padang-padang
Sabana. Pondok-pondok membukakan pintu dan jendela
Tungku-tungku menyalakan senja. Duapuluh tiga tahun
Aku memburu utara, mengejar selatan, tersesat di barat
Dan kehilangan timur. Beri aku cangkul! Beri aku kerbau!

“Pejalan larut, berapa usiamu sekarang?”

Ingin kembali, ingin kembali mencium rumputan
Bau tanah sehabis hujan, jejak-jejak pagi di pematang

Nb. Versi blog: Tungku-tungku menyalakan waktu


Kutukan

Setelah melewati sekian keterluntaan, kau datang
Dengan kalimat-kalimat panjang, senyum yang dipaksakan
Kau datang padaku dengan sajak-sajak yang ditulis
Sebagai persembahan. Tapi sajak adalah kutukan bagiku
Di mana ruang menjadi jurang, dan aku harus melompat
Menyongsong lahirnya pengucapan baru

Betapa tersiksa membaca sajak-sajakmu yang sayup
Dengan sisa kesadaranku yang semakin redup
Kulihat lampu-lampu padam, seperti langkah olengmu
Yang tenggelam dalam pedihnya penciptaan:
Sekian kutukan, di mana keterluntaan kau dan aku
Menjadi bagian dari kemurungan zaman demi zaman


In Memoriam Kriapur

Sepucuk surat yang penuh catatan sunyi
Dikirimkan kemurunganmu dengan sampul jingga
Aku membacanya sambil minum darah bulan
Yang dituangkan langsung dari lukanya di langit
Sejenak aku mabuk dan menari-nari
Menangisi bumi yang terus dikhianati
Sedikit kegembiraan kusisakan untuk kupu-kupu
Yang menandai jejakmu dalam sepi. Di kamarku
Lampu teramat redup untuk jadi petunjuk
Bintang-bintang menyisih ke balik selimut
Dan tenggelam dalam kerumunan mimpi anak-anak –
Aku genggam suratmu dan kubaca fajar yang tiba
Seberkas cahaya seperti menyemburkan kata-kata
Yang membuka sungai lain buat airmata


Pejalan Buta   

Telah kulempar tongkatku pada jeram
Dan kubuang semua perbekalan. Ingin kuhayati sunyi
Sambil mendengar semua yang dibisikkan langit
Mencatat setiap jerit bumi yang sakit
Tanpa perahu aku berlayar karena lautan luas
Adalah hatiku. Pantai-pantai berebut ingin menjemputku
Tapi aku mengelak sambil menari-nari di udara
Kelenturan telah diwariskan burung padaku dan belut
Menjadi kelicinanku. Meskipun ditumbuhi pohonan liar
Telingaku terbuka untuk kata-kata yang diucapkan diam
Tanpa tongkat aku terus berjalan, mengembara
Seperti si buta yang merambah dunia bukan dengan matanya


Zikir

Aku mengapung
Ringan
Meninggi padamu. Bagai kapas menari-nari
Dalam angin
Jumpalitan bagai ikan
Bagai lidah api

Bau busuk mulutku, Anne
Seratus tahun memanggi-manggil
Namamu

Inilah zikirku:
Lelehan aspal kealpaanku, cairan timah
Kekeliruanku, gemuruh mesin keliaranku
Tumpukan sampah keterpurukanku
Selokan mampat kesia-siaanku

Aku tak tidur padahal ngantuk, tak makan
Padahal lapar, tak minum padahal haus
Tak menangis padahal sedih, tak berobat
Padahal luka, tak bunuh diri
Padahal patah hati

Anne! Anne! Anne!

Zikirku seribu sepi menombakmu
Menembus lapisan langitmu, membongkar
Gumpalan megamu, membakar pusaran
Kabutmu, menghanguskan jarak
Ruang dan waktu

Aku mencair
Bagai air
Mengalir padamu. Bagai hujan   
Tumpah ke bumi
Menggelinding bagai batu
Bagai hantu

Anne! Anne! Anne!

Inilah rentetan tembakan kerinduanku, lemparan
Granat ketakutanku, dentuman meriam kemabukanku 
Luapan minyak kegairahanku, kobaran tungku kecintaanku
Semburan asap kepunahanku

Aku tak mengemis padahal miskin, tak mencuri
Padahal terdesak, tak merampok padahal banyak utang
Tak menipu padahal ada kesempatan, tak menuntut
Padahal punya hak, tak memaksa
Padahal putus asa

Anne! Anne! Anne!

Zikirku seribu sunyi mengejarmu
Menggedor barikade pertahananmu, menerobos
Dinding persembunyianmu, mengobrak-abrik ruang
Semadimu, menghancurkan singgasana
Kekhusyukanmu

Bau busuk mulutku, Anne
Seratus tahun memanggil-manggil
Namamu


Di Ujung Dago

Sunyi mengalunkan lagu
Pun segala jemu. Semilir angin mengurapi rabu
Ketika langkahku kehilangan tuju
Di antara pohon-pohon dan udara beku

Kabut mempersempit ruang
Memadatkan waktu. Kenapa aku
Kenapa masih menunggu
Kenapa masih percaya padamu

Sedang ruang
Tak mengenal waktu
Sedang waktu tak mengenal ruang
Ruang dan waktu tak mengenal rindu


Di Bawah Matahari Kramat Raya

Dalam bising jalanan dan teriknya matahari siang
Di antara sejuta teriakan dan gemuruhnya kendaraan
Orang-orang berseliweran, bergegas dan berlari
Sibuk berebut dan berlomba
Mengapa aku hanya diam, kekasihku
Merasakan angin dan debu menampar mukaku
Mengapa aku hanya berdiri menatapmu dengan kelu
Membiarkan matahari membakar tubuh dan jiwaku

Dalam sibuk dan suntuknya hari-hari pergulatan
Di antara sejuta keluhan dan gemuruhnya keserakahan
Orang-orang berjuang dan saling menerkam
Mengapa aku hanya diam saja, kekasihku
Menyaksikan kemenangan-kemenangan yang menggelikan
Juga kekalahan-kekalahan yang tak lagi mengharukan
Mengapa aku hanya termangu melihat semua ini
Tanpa terlibat atau turut ambil bagian

Mengapa aku selalu menghindar dari keramaian
Mengapa aku seperti kehilangan keinginan
Mengapa aku enggan meneruskan kehidupan
Mengapa aku malas berebut dan berlomba
Mengapa aku muak pada cita-cita dunia
Mengapa aku benci terbitnya matahari
Mengapa aku hanya ingin diam dan sendiri
Tenggelam dalam sepimu yang abadi


Lanskap

Ketika lembar hari luruh
Kabutmu jatuh
Mengaca di bukit-bukit jauh

Gerimis yang turun
Firmanmu yang ngungun
Kudengar lembut mengalun

Ketika lembar hari mengaduh
Dan jiwa luluh. Kulihat cakrawala
Demikian dekat kita
Dalam bicara

Demikian dekat kita, serupa Musa
Pada tepian kata dan ambang makna
Kalimat-kalimat yang terbit
Membersit di langit

Demikian dekat kita:
Demikian berat

Hidup hanya memburu keasingan
Diburu kegamangan dari belakang


Lirik (2)

Kereta itu melintas pelan di hadapanku
Menaburkan bunga-bunga ungu

Kuhirup kuntum demi kuntum karena tak tahu
Siapa mesti kucium. Stasiun hanya menunggu

Di deretan bangku masih tersimpan senyap dan seribu
Alamat. Tapi kereta terakhir telah lewat

Mengurungkan kiamat

Mungkin aku telah menjemputmu
Mungkin juga telah kehilangan jejakmu

Tapi kenapa rel begitu dingin dan kabut tak juga luruh
Di kejauhan kudengar lengking panjang azan subuh


Lirik (3)

Aku tidur memeluk perahu
Memimpikanmu melayarkan bintang-bintang

Ke haribaanku. Gelombang
Airmata yang mengalir dalam doa-doaku

Aku mencatat semua yang dibisikkan angin
Membaca semua yang disampaikan dingin padaku

Menyerap cahaya bulan hingga lubuk dini hari:
Betapa cepat kuda ajal merebut semua jalanku di bumi

Lautan kembali menyalakan kaki langit
Engkaulah cahaya pagi yang senantiasa terbit

Aku memeluk perahu. Waktu
Menghanyutkan lembar demi lembar usiaku


Airmataku Lilin

Airmataku lilin
Setelah khusyuk berdoa
Lebur menjadi puisi. Ingin melintasi gurun
Atau mendirikan kemah di ujung bumi
Tapi cahayaku tinggal lentik sepi
Tak terdengar oleh musim manapun
Dan waktu tak mau mencatatnya

Airmataku lilin yang menulis
Pada lembar-lembar angin
Di udara kunang-kunang bertaburan
Bintang-bintang menyapaku dengan kerlipnya
Tapi aku bukan penyair yang ingin dipahami
Biarlah bahasaku menjadi ketiadaan
Dan matiku bukanlah bunuh diri


Tentang Acep Zamzam Noor
Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya. Masa kecil dan remaja dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung. Tahun 1980 menyelesaikan SLTA di Ponpes As-Syafi’iyah, Jakarta. Kemudian ke Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB (1980-1987). Sempat mendapat fellowship dari pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia (1991-1993). Menjadi redaktur Jurnal Sajak. Kumpulan puisinya: Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007). Kumpulan puisi berbahasa Sunda: Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) dan Paguneman (Nuansa Cendekia, 2011). Kumpulan Esai: Puisi dan Bulu Kuduk (Nuansa Cendekia, 2011).


Catatan Lain
Begini penyair membuka catatannya: “Dekade 1980-an merupakan periode yang subur agaknya. Waktu itu saya tinggal dan kuliah di Bandung. Ada sejumlah manuskip antologi puisi yang saya susun dan diantaranya sempat dicetak meskipun darurat: berpenampilan buruk, berhalaman tipis, banyak kesalahan dan hanya beredar di kalangan yang sangat terbatas. Seiring dengan bergulirnya waktu serta bergesernya selera dalam menulis, puisi-puisi tersebut kemudian tertimbun dan terlupakan sekian lama.//Puisi-puisi yang dihimpun dalam Tulisan pada Tembok ini sebagian besar ditulis antara 1979-1989, baik yang sempat disusun dalam manuskrip, dicetak dalam antologi darurat maupun yang tercecer di berbagai Koran, majalah dan jurnal, termasuk yang belum sempat dipublikasikan sama sekali. Sejumlah puisi mengalamai sedikit perubahan: huruf, kata, frasa serta judul, namun tidak sampai mengganggu isi, bentuk maupn suasana secara keseluruhan.”
            Di bagian lain, penyair menulis ini:”Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Dhian Widhiawaty, seorang teman dari Kopenhagen, Denmark, yang sejak tahun 1982 telah menyimpan puisi-puisi awal saya dengan baik. Dari koleksi di buku harian serta kliping beliaulah sebagian puisi yang termuat dalam antologi ini berasal.” Kemudian si penyair juga mengucapkan terima kasih pada Agus R. Sarjono dan Tugas Suprianto yang mengusahakan terbitnya antologi ini.
            Penyair juga ngucapin terima kasih kepada mereka yang dianggap sebagai guru-guru dalam dunia kepenulisan: Saini K.M., Jakob Sumardjo, Rustandi Kartakusuma (alm), Suyatna Anirun (alm), Sanento Yuliman (alm), Karno Kartadibrata dan Aam Amilia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar