Selasa, 01 November 2016

Novy Noorhayati Syahfida: LABIRIN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Labirin
Penulis : Novy Noorhayati Syahfida
Cetakan : I, 2015
Penerbit : Metabook, Bekasi.
Tebal : xviii + 103 halaman (101 puisi)
ISBN : 978-602-73267-0-5
Desaincover : Prima Hidayah
Tata letak :Pippo

Labirin terbagi berdasarkan titi mangsa penciptaan puisinya, yaitu 2003 (2 puisi), 2004 (1 puisi), 2012 (1 puisi), 2013 (2 puisi), 2014 (79 puisi), dan 2015 (16 puisi).

Beberapa pilihan puisi Novy Noorhayati Syahfida dalam Labirin

Kabut

menggeliat resah di pucuk-pucuk pagi
sebab kau setipis udara di lubang sepi
jatuh pada permukaan tanah sedekat aku
antara ada dan tiada yang begitu
kekal. ditempa cuaca sedalam kau
menisbikan segala detak waktu

Tangerang, 31/10/2014


Tidurlah Sayang...

tidurlah sayang
biarkan cinta menyusuri ruang kenang
memeluknya dalam imaji yang paling liar
tanpa takut terluka, karena ialah sang maha tegar

tidurlah sayang, tidurlah
lupakan segala air mata dan pedih
biarkan ia mencari takdirnya sendiri
di belantara nurani yang paling sunyi

Tangerang, 07.03.2014



Apologia
_maulidan

kecuali jarak adalah permintaan takdir
biarlah getar harap menjadi penantian akhir
entah siapa yang kelak memeluk ingatan
ketika rindu telah benar-benar karatan

hasrat memang tak mengenal cuaca
dihujankannya kemarau di dalam dada
air mata melangit bersama doa-doa
sebab aku mencintaimu, siapa tahu kau sudah lupa

Tangerang, 10 Desember 2014


Perihal Kehilangan

pada senjamu yang rekah ungu
aku gagal menerka waktu
tersesat di rerimbunan tubuhmu
hilang, menjadi rahasia yang tak sesiapa pun tahu
luruh merupa rindu yang paling piatu

pada geliat detak jam dinding
aku urung bertanya di doa-doa yang telah mengering
barangkali, tak ada yang setabah langit
mengulang kehilangan demi kehilangan yang maha pahit
dalam sajak-sajak yang wingit

Sepanjang Ciledug-Kedoya, 16/04/2015


Sesaat
_a3

dan waktu merangkak lambat pada tepian malam. berbaris-
baris pesan pendek seolah ingin mempersingkat jarak menjadi
sepersekian detik. menafsirkan isyarat gelombang di antara
kecipak lautan. kata-kata berebut mencari tempat singgah, di
dada, di bahu, di alis matamu.

dan saat pagi tiba, rinduku telah sampai padamu. melewati
jalan-jalan, menuju lobi, hingga tiba di ambang pelukanmu.
sebuah kecupan bagaikan secangkir teh penyambut di muka
pintu. sepasang mata yang badai memporak-porandakan
paragraf demi paragraf yang telah tersusun, matamu.

dan aku yang kian tenggelam dalam samudra mimpi.
berenang ke tepian hanyalah kesia-siaan, yang
menjadikanku rindu untuk selalu kembali dan kembali pada
tawa hangatmu. aroma tubuhmu seakan telah menyatu
pada kulitku. meski tak pernah sama, kau-aku bukanlah dua
orang yang berbeda.

dan kehilangan itu serupa ombak yang menghempas tanjung
harapan, begitu tiba-tiba, begitu seketika. menenggelamkan
isyarat demi isyarat, kenangan demi kenangan. kepingan
realita menjadi jurus maut yang paling ampuh menaklukkan
lembar ingatan. doa-doa memainkan peran sebagai
penyembuh luka, barangkali begitulah seharusnya melupakan
dengan cara merelakan.

Kedoya, 10.04.2015


Ajari Aku

ajari aku merindu
pada rintik-rintik hujan yang gugur dalam sahdu
menggetarkan lembah kesunyian sajakku

ajari aku mencinta
pada debur-debur ombak yang memecah di lepas samudera
memahat karang hatiku yang menjelma senja

ajari aku membenci
sebentuk bayang yang singgah di perjalanan hari
melafadzkan takbir gelisah, karena doaku tak lagi punya arti

Bandung, 31 Januari 2004


Labirin
_hy

aku berdiri saja di sini
memandangmu diamdiam
sesekali menyeduh cemburu yang menganga
membiarkan hati ini tersesat dalam
labirin yang sama
lagi, dan lagi

Tangerang, 24/09/2014


Origami
_ats

aku tahu kau sedang berkemas
melipat semua kenangan cemas
lipatlah menjadi dua, empat, delapan, enam belas
lalu singgah pada satu titik batas

betapapun kau sibuk menghitung kesedihan
kenangan tak akan hilang dalam lipatan
demikianlah hidup...
meski harus berjalan dalam redup

lipat, lipat saja dalam doa-doa
barangkali akan sampai
sambil saling merekatkan tanda
cerita telah usai

Tangerang, 28-29 September 2014


Suatu Ketika

kita pernah saling menanam kata-kata
berdiri di antara derai kabut
dan nyanyi riuh burung gereja
meski tanpa tatap mata
dalam sunyi hati kita saling bertaut

kau seduh kopi sedemikian
kuhirup perlahan dari tanah seberang
betapa secangkir kopi mampu menyatukan
kau-aku dalam lamunan panjang

kita pernah saling menanam kata-kata
berharap gerimis tak akan menghapusnya
meski bulu di mataku gugur satu-persatu
barangkali pertanda kau rindu aku
atau mungkin kita yang sama-sama merindu?

sebelum kita kehilangan kisah
sebelum kita saling berpisah
sebelum semua, entah

Tangerang, 04/12/2014


Di Matamu

di matamu, aku seperti kanak-kanak yang
merengek minta bulan. menunggumu di sini,
dengan setumpuk dongeng yang ingin kudengar
sendiri dari bibirmu.

tiba-tiba gelisahku pecah menjelma malam. kata-
kata berhamburan menemu kelam. kucoba tetap
tabah melawan seribu ketidakpastian.

lalu, di mana kucari wajahmu? mungkin kau telah
menemukan pohon rindang yang menawarkan
keteduhan. maka berakhirlah semua perjalanan,
hanya sampai di sini.

namun di matamu angin tetap berhembus, utara
ke selatan. meniup puisiku yang serupa takdir,
agar tak pernah berhenti mengalir.

Kedoya, 29/10/2014


Sajak Selembar Daun

selembar daun bertuliskan namamu
melayang tertiup angin lalu
beterbangan di atas debu-debu waktu

selembar daun jatuh terkulai
luruh dalam rindu yang abai
tertinggal ditikam pilu yang membadai

selembar daun merindukan gemulai angin
memecah di antara gema ombak selatan
terbata-bata menampung seluruh ingin

Tangerang, 30/10/2014


Rahasia Luka

dirahasiakannya luka
pada kuncup bunga yang tetiba layu
gugur di atas tanah bebatu
pasrah dalam ribuan Tanya
yang menabuh ngilu di dada

dirahasiakannya sepi
pada kesetiaan seharum melati
meski mata menjelma belati
yang melukai ingatan berkali-kali
sedemikian nyeri

Tangerang, 6 November 2014


Bayangmu

telah kubentengi diri dengan doa
meski itu tak cukup memahat jeda
menghapus bayangmu di segumpal asa

ia yang telah hadir bersama kelebat waktu
mematri rasa di jantung kalbu
menjadikan hitam-putih serupa abu-abu

mengingatmu serasa mengamini luka
pedih, namun tak jera
demikianlah aku memaknai debar yang telah ada

Tangerang, 03.03.2014


Kenangan

di matamu yang badai
aku pernah tersesat dalam labirin waktu
hitam, putih, abu-abu
meraba hatimu tak juga usai

di dadamu yang gemuruh
aku pernah rebah
menerka apa yang kau simpan
dalam hening dan kesunyian

selalu saja aku tak mampu
memahami bayangmu
juga langkahmu
kaukah kenangan itu?

Tangerang, 18.05.2014


Tak Ada Dering Telepon

tak ada dering telepon hari ini
barangkali kau lupa membujuk waktu
untuk sambangi barisan namaku
yang setia mengalirkan doa-doa sepanjang puisi

tak ada dering telepon hingga malam melangut
sudut mataku dilanda kabut
sedang aku dikepung gelisah yang tak juga surut

di sana, di teluk penyu
adakah karang yang melebihi hatimu?

Tangerang, 18/10/2014


Kemuning

kau lupa mengabarkan kepergianmu kepadaku
hingga harum kemuning di samping teras itu
yang kerap berjatuhan di atas batubatu
menyadarkanku akan kehilangan
telepon, secangkir kopi dan sepasang kenangan
telah terbawa angin
menuju jauh, ke celah ingatan

Tangerang, 24/03/2015


Perjalanan Kenangan

aku ingin kembali ke masa lalu
menunggumu di beranda rumah siang itu
bersama, kita menghabiskan sepoci kata-kata
menerjemahkan hari-hari yang kerap bermuara
meniupkan ragam impian di dada
namun hidup bukan rekaman lagu
yang bisa diputar ulang sewaktu-waktu
kau telah jauh meninggalkanku
dan aku masih saja mengeja takdirku
memunguti kenangan satu persatu

dan yang hilang dari sebuah rindu
adalah namamu

Tangerang, 25/03/2015


Langit

kita saling berebut singgah
duduk di antara tepian langit
memandang hujan yang tercurah
ada semacam nganga luka yang menjerit
pedih, namun tak juga jera
kau masih bertahan di sana dalam semesta Tanya
aku tertahan di antara dua air mata
kau dan dia...

Tangerang, 10.06.2014


Kembali ke Matamu

aku ingin kembali ke matamu
matamu yang rumah
tempatku tumpahkan semua gundah
tempatku datangi semua tuju

aku ingin pulang ke matamu
menyudahi segala tunggu
genapi rindu yang menggugu
dalam genangan semesta waktu

aku ingin kembali ke matamu
walau ‘ku tahu kini kau pergi ke lain kalbu

Ciledug, 11.08.2014


Malam Ini

malam ini aku kembali mengingatmu
membuka semua laci kenangan
foto-foto, setoples puisi dan beberapa buku
berlomba mengenang semua keindahan
tentang sosokmu

tak pernah ada yang salah
hanya terlalu banyak air mata
yang berulang kuseka
hingga hati pun bercelah
hancur, tercacah

adakah kau masih mengingatnya?

Tangerang, 7 April 2014


TentangNovyNoorhayatiSyahfida
NovyNoorhayatiSyahfida lahir di Jakarta pada tanggal 12 November. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di beberapa media cetak seperti Pikiran Rakyat, Suara Pembaruan, Sulbar Pos, Lampung Post, Haluan (Padang), Koran Madura, Harian Cakrawala (Makassar), Solopos, Majalah Islam Annida, Jurnal Puisi, Buletin "Raja Kadal", Majalah Sastra "Aksara", Buletin “Jejak”, Majalah Budaya “Sagang” dan Buletin “Mantra”. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012). Kumpulan puisi tunggalnya: Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung, 2012) dan Kuukir Senja dari Balik Jendela (Oase Qalbu, 2013). Pencinta buku, penulis puisi dan penyuka senja ini dapat dihubungi melalui: Novy Noorhayati Syahfida (facebook) / @syahfida (twitter) / syahfida@yahoo.com (email). Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta.


Catatan Lain
Buku ini datang ke rumah sakit jiwa sambang lihum bertepatan hari kesehatan jiwa 10 Oktober 2016. “sebab kehidupan adalah serangkaian lorong panjang yang berliku” ~ labirin/,” begitu kata-kata yang kita temukan begitu membuka halaman pertama buku. “Selamat menikmati,” tulis penyair menyapa saya, bersama sebuah emoticon tersenyum. Seandainya labirin adalah sebuah cemilan....

1 komentar: