Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 01 Desember 2014

DON QUIXOTE





Data buku kumpulan puisi

Judul : Don Quixote
Penulis : Goenawan Mohamad
Penerbit : Tempo. | pt. grafiti pers
Cetakan : I, 2011
Ilustrasi : Goenawan Mohamad
Rancang grafis : Cecil Mariani
ISBN : 978-602-99643-1-8
Tebal : 84 halaman (19 puisi)

Beberapa pilihan puisi Goenawan Mohamad dalam Don Quixote

Ia Menangis

Ia
menangis
                        untuk lelaki
di atas kuda kurus yang
akhirnya sampai pada teluk
di mana fantasi adalah hijau
hujan
yang hilang ujung
di laut asing

Ia menangis
dan lelaki itu
mendengarnya.

“Aku Don Quixote de La Mancha
majenun yang mencarimu.”

Tubuhnya agak tinggi, tapi
rapuh dan tua sebenarnya.
Ia berdiri kaku.
Cinta tampak telah
menyihirnya
jadi ksatria dengan luka
di lambung.
Tapi ia menanti perempuan itu
melambai
dalam interval grimis
sebelum jalan ditutup
dan mereka mengirim polisi,
tanda waktu,
kematian.

2007



Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat Buat Isterinya

“Telah kuikuti seorang
yang murung, Teresa,
ke dalam hutan panjang
sebelum Murcia: ia
yang menorehkan
pedangnya
ke pohon-pohon
di batas ngarai.

“Aku tahu ia terbujuk
soneta yang sedih
dan kecewa
pada repetisi sungai.

“Berhari-hari ia berjalan
seperti ksatria Amadis
menyimpan kesetiaan
dan serenade
yang 10 baris.

“Seakan-akan ada
khayal dan kata
yang menghukumnya.

“Tapi ia tak mengacuhkannya.

“Tiap pagi ia lafalkan
nama seorang gadis
yang dikenalnya
dalam kaligrafi
di porselen yang berakhir pada X –
X yang tak diketahui,
atau X dari ‘Xin,’
X yang berarti ‘hati.’

“Dan ia ucapkan itu, Teresa,
dengan jurang
di matanya.

“Sementara Maut orang Mur
mengejarnya
dari pantai,
hitam dan tajam,
seperti sabit tua,
meskipun ajal itu
pernah berkata,
‘Surga telah melupakanmu, Don Quixote
neraka tak mengenalmu.’”

2007


Ke Arah Balkon

Ke arah balkon itu Don Quixote de La Mancha
Bertanya, “Ke manakah jalan ke kastil yang
Dulu ada dan kini tidak?”

Seorang perempuan menengok ke bawah
Sebentar. Rambutnya yang lurus, hitam,
Membuat bayang pada langsat pipinya.
Matanya kecil, mengingatkannya pada punai
Yang terbidik.

“Engkau ketakutan!”

Dan laki-laki yang merasa dirinya gagah itu
pun turun dari kudanya.

Ia berjalan mendekat. Ia melihat, sekilas,
tangan Peri Kesepian
mengangkat tubuh rapuh itu ke dalam sebuah
gumpalan mega,
di mana setiap perempuan akan ditinggalkan.

“Jangan!”

Don Quixote menghunus
pedangnya yang retak. Tapi
semua bergerak pelan.

2007


Duduklah di Tempat Ini

Duduklah di tempat ini, Sancho. Di pulau imajiner ini
waktu adalah gurau. Orang-orang berbincang tentang apa arti
soka bila ditanam di dekat tanjung, apa arti ranting
yang disunting dengan sajak, apa arti korsase
yang disematkan pada topi – dengan kata lain, mereka ingin
berkata, hidup terkadang tak sia-sia, ada kerja, ada politik,
dan sedikit amal ketika tuhan tampak dari lobang langit
dan sorga seperti lantai sehabis dipel, hijau, hijau, hijau…

Duduklah di tempat ini, Sancho.

2007


Dari Gurun Orang Tartar

Dari gurun orang Tartar,
apa yang diharapkannya?
Dari luas yang mengancam,
apa yang dikhayalkannya?

Di Entah itu, Sancho Panza
kita cuma nunggu.

Jangan, jangan mengeluh.
Berdirilah kau
di dekatku.

Sebab para ksatria hanya tanda:
angan-angan dan epilepsi
yang tak ingin selesai

2008


Di Kastil Terakhir
– cerita untuk Dulcinea

Ia menghitung umurnya
dari cermin
pada pintu kastil terakhir,
lalu menetakkan pedangnya
ke permukaan yang
menakutkan itu.

“Selamat tinggal.”

Kaca itu pun menghilang. Dan ia
melangkah ke luar.

Di bentangan ladang gandum, ia lihat gulungan jerami
telah disusun, berjajar,
seperti nisan ke arah bukit.

Waktu itu belum terasa matahari.
Hanya pagi yang merayap
di pohon-pohon gabus.

Pagi adalah depresi yang dingin, Dulcinea,
juga ketika daun menahan kegaduhan burung
pada ulat mati: rangsang-rangsang yang tak akan
kekal,
seperti ingatan makin pendek
yang menyentuh kita.

“Kau harus pergi,” laki-laki itu bergumam,
“kau harus pergi dari sini.”

Ia mungkin lelah. Ia semakin tahu cinta yang tak
pernah jelas telah ditahbiskan jadi mimpi, dan mimpi
telah ditahbiskan jadi dosa, dan ia takut, atau mungkin
malu, untuk kembali ke kastil itu.

Ketika matahari mulai
tampak, ia pun bersandar
pada perisainya yang tak
lengkap. Ia dengar sarapan
disiapkan. Bukan untuknya.
Ia ingin tidur.
Ia bayangkan di kedai itu,
seseorang mengoleskan selai
pada roti dan pada serbet
meja terbentuk huruf sisa
negasi dinihari.

2010


Justru

Justru karena tenung, telah
diselamatkan kita dari jemu zaitun
dan warna tua pohon-pohon encina.
Memang masih ada sore yang hanya
itu dan dusun yang tak berubah.
Tapi ternyata hari bisa berkelindan
dengan mimpi, dan kau dan aku
lahir kembali, tercengang dalam
cinta yang fiktif, percaya pada harap
yang tak bersungguh-sungguh.

Justru karena tenung, aku tak akan
membebaskanmu.

Kemarin kucambuk sendiri tubuhku, sakit, agar bangun,
tapi apa yang terjadi? Mimpi itu hanya berubah sedikit:
balur di kulit itu jadi garis biru, seakan huruf pertama Sayid
Hamid, sang pencerita yang membuat kita ada. Sejarah memang
bisa seperti luka gores. Tapi lihat, hidup adalah tenung:
aku milik sahibul hikayat, engkau kisah Cervantes.

Dan kita berbahagia. Dan kita berpura-pura.

2007


30 Menit Sebelum Sayid Hamid

30 menit sebelum Sayid Hamid Benengeli
menghentikan hikayatnya, Don Quixote telah merasa
sesuatu tengah terjadi.

Senja mencegatnya di jalan turun ke utara, setelah
San Cristobal. Duduk gontai di punggung Rocinante, ia
melihat ke langit, mencari arah. Tapi bintang tampak
kembung, bimasakti keruh, dan di belakangnya, tak
ada lagi rasi salib selatan.

Dataran kering di bawah itu seakan-akan negeri yang
tak pernah memanggilnya.

Ia merasa letih sebenarnya, setelah Sierra Morena.
Ia berbisik, seperti berdoa: “Jika aku boleh memilih,
Sayid, aku tak ingin di sini lagi.”

Tapi malam adalah monolog pohon-pohon. Bahkan
di tebing Guadalen yang hitam, suara arus ikut
mengambil alih percakapan.

Barangkali kita hanya sebuah
parodi, ia ingin berkata lagi,
tapi ia tak yakin kepada siapa,
Sancho, teman yang setia itu,
hanya memandangi gerak
sungai. Ia mungkin telah
merasa, hari tak akan lagi
berani sia-sia: Dulcinea adalah
cinta yang gagu, tuanku,
imajinasi adalah kabut pagi.

Dan selebihnya sunyi.

Don Quixote mengerti. Pada saat itulah Sayid Hamid
Benengeli mulai membuat tanda terakhir dengan
dawat di kertasnya, seperti sebuah titik, seperti
melankoli. Meskipun yang ingin ditulisnya sederet
epilog yang berbahagia: “Dan Don Quixote pun
melihat, pahlawan terakhir itu telah direnggutkan
jantungnya.”

“Ya, di jurang gua.”

2007


Rocinante

Rocinante
                  , Tukang cukur
dan padri dusun
mendengar alarm itu:
luka waktu,
pada ringkikmu,

jerit yang panjang,
dari sunyi sierra,
tiga jam nasib
sebelum ajal tiba.

Ada seseorang yang menengok ke luar
dan berbisik, “Padri,
kulihat rambut suri
yang rembyak gelap.”

Itu rambutmu, Rocinante,
seperti ilalang bukit
yang basah merah
karena darah.

Tapi katakan, apa sebenarnya
yang telah kukalahkan?
Bintang, batu karang, mimpi manusia,
atau kesedihan? Aku takut.

Maka jika esok aku mati,
dengan kaki tetap di sanggurdi,
bawa aku ke laut, Rocinante,
dari kegilaan ini.

2007


Tentang Goenawan Mohamad
(NB. Sebenarnya di buku ini tak ada biodata GM, saya mencarikannya di arsip saya sebelumnya). Goenawan Mohamad lahir di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Mengikuti pendidikan di Fakultas Psikologi UI (1960-1964), di College d’Europa, Brugge, Belgia (1965/1966), juga mendapatkan fellowship di Universitas Harvard, AS (1989-1990). Karyanya: Parikesit (kump. Puisi, 1971), Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (kumpulan esai, 1972), Interlude (kump. Puisi, 1973), Seks, Sastra, Kita (kumpulan esai, 1980), Catatan Pinggir. Menerima hadiah sastra ASEAN (1981). Saat ini menjadi pemimpin redaksi majalah Tempo.


Catatan Lain
Buku ini tak memiliki daftar isi dan biodata pengarang. Dibuat tidak seperti kebanyakan buku konvensional. Banyak bertebaran ilustrasi dari GM sendiri. Penulisan puisi tidak seragam, kadang ada satu bait dalam puisi dengan ukuran huruf yang lebih besar dari yang lain, atau warna huruf yang berbeda. Warna kertas pun tidak melulu putih, kadang ada coklat, biru tua, atau abu-abu. Tak satu pun puisi yang habis dalam satu halaman, semua terpenggal-penggal ke dalam beberapa halaman. Kadang ada judul memakan satu halaman. Bahkan ada satu puisi pendek yang memakan tempat berhalaman-halaman, yaitu Doa Padri Dusun. Puisi yang hanya beberapa baris itu memakan 13 halaman, dari judul hingga tanggal pembuatan. Jika dituliskan, dengan tanda “/” sebagai ganti baris dan tanda “//” sebagai ganti halaman, sebagai berikut:
Doa Padri Dusun//Tuhan//pada rimbun zaitun//titahkan/bukit jadi dingin//titahkan/para pahlawan//mati//di sepanjang lereng//beri aku//dongeng,//di mana aku//tak bersembunyi.// Tidak lagi.//2010
            Oya, sebelum parade puisi, ada sedikit catatan dari GM. Dan catatan itulah yang ditulis kembali di sampul belakang buku. Bunyi catatannya seperti ini:

CATATAN

1.
Cervantes mengatakan ia mendengar kisah Don
Quixote pertama kali dari Sayid Hamid Benengeli,
seorang Mur. Tak harus dipercaya. Tapi seperti
banyak orang, saya percaya kepada Don Quixote
dan cintanya kepada Dulcinea, siapa pun dia. Saya
percaya kepada kesetiaan Sancho Panza.

2.
Pernah seseorang mengatakan, baginya Don Quixote
adalah cerita sedih. Sajak-sajak ini saya dedikasikan
kepadanya.

G.M.

------------
Buku ini saya pinjam dari Zian Armie. Sudah lama sebenarnya pengen pinjam, baru terealisasi saat Zian praktek kerja Nurse-nya di RS Sambang Lihum. Trims sekali. Terus terang saya tak bisa atau tak tahu bagaimana mengeja Don Quixote secara benar, bahasa paling mudah ya Don Kisot. Barangkali ada yang tahu?

1 komentar: