Pengantar Bulan September 2014

Bulan ini, hadir di tengah kita terjemahan bebas Serat Joko Lodang oleh Pujangga Jawa Ronggowarsito, Migrasi Para Kampret oleh F. Rahardi, Bangsal Sri Manganti oleh Suminto A. Sayuti, Telimpuh oleh Hasan Aspihani dan Sepucuk Pesan Ungu oleh Ready Susanto. Salam Puisi.

Senin, 01 Oktober 2012

TIRANI DAN BENTENG


Data buku kumpulan puisi

Judul : Tirani dan Benteng; dua kumpulan puisi
Penulis : Taufiq Ismail
Cetakan : I, 1993
Penerbit : Yayasan Ananda, Jakarta.
ISBN : 979-8424-00-X
Tebal : xxix + 172 halaman (72 puisi + 48 foto)
Kulit muka : Nur Fadjar
Vignet : Zaini
Foto-foto : Suroso Soerojo, Kantjono, Erijono Wijono, Rushdy Husein, Marzuki Arifin, DA Peransi, Ed Zulverdi.

Buku ini merangkum 3 kumpulan puisi, yaitu Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng (32 puisi), Tirani (18 puisi) dan Benteng (22 puisi)

Beberapa pilihan puisi Taufiq Ismail dalam Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng

 

Oda pada Van Gogh

 

Pohon sipres. Kafe tua
Di ujung jalan
Sepi. Sepi jua

Langit berombak
Bulan di sana
Sepi. Sepi namanya.

1964


Dengan Puisi, Aku

 

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.

1965



Potret di Beranda

 

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar sulaman ibuku
Dibuatnya tatkala masih perawan

Di dapur rumah nenekku, nenekku renta
Tergolek drum tua pemasak kerupuk kulit
Di atasnya sepasang tanduk hitam berdebu
Kerbau bajak kesayangan kakekku

Kerupuk kulit telah mengirim ibuku
Sekolah ke kota, jadi guru
Padi, lobak dan kentang ditanam kakekku
Yang disulap subur dalam hidayat
Dijunjung dan dipikul ke pasar
Dalam dingin dataran tinggi
Karena ibuku yang mau jadi guru

Dan ibuku bertemu ayahku
Yang dikirim nenekku ke surau menyabit ilmu
Dengan ikan kolam, bawang dan wortel
Di ujung cangkul kakekku kukuh
Yang kembang dan berisi dalam rahmat
Terbungkuk-bungkuk dijunjung di hari pekan
Karena ayahku mau jadi guru

Maka lahirlah kami berenam
Dalam rahman
Dalam kesayangan
Dalam kesukaran

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar buatan ibuku
Disulamnya tatkala masih perawan.

1963


Almamater

 

Di depan gerbangmu tua pada hari ini
Kami menyilangkan tangan ke dada kiri
Tegak tengadah menatap bangunanmu
Genteng hitam dan dinding kusam. Berlumut waktu
Untuk kali penghabisan

Marilah kita kenangkan tahun-tahun dahulu
Hari-hari kuliah di ruang fisika
Mengantuk pada pagi cericit burung gereja
Praktikum. Padang percobaan. Praktek daerah
Corong anastesi dan kilau skalpel di kamar bedah
Suara-suara menjalar sepanjang gang
Suara pasien yang pertama kali kujamah

Di aula ini, aula yang semakin kecil
Kita beragitasi, berpesta dan berkencan
Melupakan sengitnya ujian, tekanan gurubesar
Melepaskannya pada hari-hari perpeloncoan
Pada filem dan musik yang murahan

Ya, kita sesekali butuh juga konser yang baik
Drama Sophocles, Chekov atau ‘Jas Panjang Pesanan’
Memperdebatkan politik, Tuhan dan para negarawan
Tentang filsafat, perempuan serta peperangan
Bayang benua abad dahulu lewat abad yang kini

Di manakah kau sekarang berdiri? Di abad ini
Dan bersyukurlah karena lewat gerbangmu tua
Kau telah dilantik jadi warga Republik Berpikir Bebas
Setelah bertahun diuji kesetiaan dan keberanianmu
Dalam berpikir dan menyatakan kebebasan suara hati
Berpijak di tanah air nusantara
Dan menggarap tahun-tahun kemerdekaan
Dengan penuh kecintaan

Dan kami bersyukur pada Tuhan
Yang telah melebarkan gerbang tua ini
Dan kami bersyukur pada ibu bapa
Yang sepanjang malam
Selalu berdoa tulus dan terbungkuk membiayai kami
Dorongan kekasih sepenuh hati
Dan kami berhutang pada manusia
Yang telah menjadi guru-guru kami
Yang membayar pajak selama ini
Serta menjaga sepeda-sepeda kami

Pada hari ini di depan gerbangmu tua
Kami kenangkan cemara halamanmu dalam bau formalin
Mikroskop. Kamar obat. Perpustakaan
Gulungan layar di kampung nelayan
Nyanyi pohon-pohon perkebunan
Angin hijau di padang-padang peternakan
Deru kemarau di padang-padang penggembalaan
Dalam mimpi teknologi, kami kini dipanggil
Untuk menggarap tahun-tahun kemerdekaan
Dan mencintai manusianya
Mencintai kebebasannya.

1963


Pekalongan Lima Sore

 

Kleneng bel beca
Debu aspal panggang
Sangar jalan pelabuhan
Terik kota pesisir
Tik-tik persneling Raleigh
Bungkus sarung palekat
Sungai kuning coklat
Nyanyi rumah yatim
Pejaja es lilin
Riuh Kampung Arab
Jembatan loji karatan
Genteng rumah pegadaian
Keringat pasar sepi
Kumis Raj Kapoor
Sengangar lilin batik
Deru pabrik tenun
Bal-balan Bong Cina
Harum tauto Tjarlam
Sirup kopyor dingin
Gorengan kuali tahu
Percikan minyak kelapa
Sisa bungkus megono
Panas teh melati
Tik-tok kuda dokar
Dengung DKW Hummel
Peluit sepur bomel
Klakson Debu Revolusi.

1961


Adalah Bel Kecil di Jendela

Sebuah bel kecil tergantung di jendela
Di bulan Juni
Berkelining sepi

Daun asam dan cericit burung gereja
Keletak kuda andong-andong Yogya
Kota tua membentang dalam debu
Sepanjang gang ditaburnya sunyi itu

Sebuah bel kecil tergantung di jendela
Di bulan Juli
Berke-
li-
ning

Sepi.

1965


Beberapa pilihan puisi Taufiq Ismail dalam Tirani

Sebuah Jaket Berlumur Darah

 

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai ke mana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atap bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN!

1966


Karangan Bunga

 

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

‘Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.’

1966


Dari Catatan Seorang Demonstran

 

Inilah peperangan
Tanpa jenderal, tanpa senapan
Pada hari-hari yang mendung
Bahkan tanpa harapan

Di sinilah keberanian diuji
Kebenaran dicoba dihancurkan
Pada hari-hari berkabung
Di depan menghadang ribuan lawan.

1966


Depan Sekretariat Negara

 

Setelah korban diusung
Tergesa-gesa
Ke luar jalanan

Kami semua menyanyi
‘Gugur Bunga’
Perlahan-lahan

Perajurit ini
Membuka baretnya
Airmata tak tertahan

Di puncak Gayatri
Menunduklah bendera
Di belakangnya segumpal awan.

1966


Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya

 

“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka

Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.

1966


Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini

 

Tidak ada pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku?”

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus.

1966


Arithmatik Sederhana
Menyimak Adham Arsyad

Selama ini kita selalu
Ragu-ragu

Dan berkata:
Dua tambah dua
Mudah-mudahan sama dengan empat.

1966


Beberapa pilihan puisi Taufiq Ismail dalam Benteng

Benteng

 

Sesudah siang panas yang meletihkan
Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas
Dan kita kembali ke kampus ini berlindung
Bersandar dan berbaring, ada yang merenung

Di lantai bungkus nasi bertebaran
Dari para dermawan tidak dikenal
Kulit duku dan pecahan kulit rambutan
Lewatlah di samping Kontingen Bandung
Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana
Semuanya kumal, semuanya tak bicara
Tapi kita tidak akan terpatahkan
Oleh seribu senjata dan seribu tiran

Tak sempat lagi kita pikirkan
Keperluan-keperluan kecil seharian
Studi, kamar-tumpangan dan percintaan
Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam
Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.

1966


Dari Ibu Seorang Demonstran

 

“Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada
Atau gas airmata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian
Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Tapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(Ibu itu tersedu sesaat)

Ibu relakan
Tapi jangan di saat terakhir
Kauteriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walaupun betapa zalimnya
Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah
Di atas bumi kita ini
Sebelum kalian melangkah setiap pagi
Sunyi dari dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta Rasul kita yang tercinta

Pergilah pergi
Iwan, Ida dan Hadi
Pergilah pergi
Pagi ini.

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta
Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
Dan berangkatlah mereka bertiga
Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata).

1966


Memang Selalu Demikian, Hadi     

 

Setiap perjuangan selalu melahirkan
Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
Jangan kau gusar, Hadi

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, Hadi

Setiap perjuangan yang akan menang
Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
Dan para jagoan kesiangan

Memang demikianlah halnya, Hadi.

1966


Beberapa Urusan Kita

 

Tentang nasib angkatan ini
Itu adalah urusan sejarah
Tapi tentang menegakkan kebenaran
Itu urusan kita

Apakah cuaca akan cemas di atas
Hingga selalu kita bernaung mendung
Apakah jantung kita masih berdegup kencang
Dan barisan kita selalu bukit-batu-karang?

Berjagalah terus. Berjagalah!
Siang kita bila berlucut laras senapan
Malam kita bila terancam penyergapan
Berjagalah terus. Berjagalah!

Mungkin kita tak akan melihat hari nanti
Mungkin tidak kau. Tidak aku. Siapa bisa tahu
Tapi itu urusan Tuhan
Masalah kemenangan, ketenteraman tanpa tiran

Tentang nasib angkatan ini
Itu urusan sejarah
Tetapi tentang menegakkan kebenaran
Itu urusan kita.

1966


Refleksi Seorang Pejuang Tua

 

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan
Setelah mereka menyimak deru sejarah
Dalam regu perkasa mulailah melangkah
Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dari kalbu yang murni
Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali dua puluh tahun yang lalu

Mahasiswa telah meninggalkan ruang-kuliahnya
Pelajar muda berlarian ke jalan-jalan raya
Mereka kembali menyeru-nyeru
Nama kau, Kemerdekaan
Seperti dua puluh tahun yang lalu

Spiral sejarah telah mengantarkan kita
Pada titik ini
Tak ada seorang pun tiran
Sanggup di tengah jalan mengangkat tangan
Dan berseru: Berhenti!

Tidak ada. Dan kalau pun ada
Tidak bisa

Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dimulai dari sunyi
Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali duapuluh tahun yang lalu.

1966


Tentang Taufiq Ismail
(Baca biodata Taufiq Ismail di sini http://taufiqismail.com/tentang-taufiq-ismail). Taufik Ismail dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak. Semasa kuliah aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962). Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan '66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain. Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia(Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)

Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Lain-lain
Taufiq Ismail memberi kata pengantar di buku ini dan dijudulinya Sehabis Jam Malam di Setasiun Gambir. Dibuka dengan pernyataan ini: Puisi-puisi dalam buku ini saya tulis dalam masa sekitar 6 tahun, antara 1960 dan 1966 di Pekalongan, Bogor, Yogya dan Jakarta. Yang ditulis pada hari-hari demonstrasi 1966 disiarkan dalam Tirani dan Benteng, sedangkan puisi-puisi sebelumnya tidak seluruhnya pernah dipublikasikan.

Dikatakan bahwa Tirani telah 3 kali terbit, mula-mula dalam bentuk mimeograf atau stensil. Pertama oleh Gema Psychologi Universitas Indonesia (masih dengan nama samaran Nur Fadjar), cetakan 2 oleh Pengurus Besar Peladjar Islam Indonesia (PII) dan ketiga oleh Biro Penerangan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Pusat. Adapun Benteng dua kali terbit, pertama oleh Gema Psychologi kemudian oleh Penerbit Faset.

Meskipun bicara ke mana-mana, saya pikir Sehabis Jam Malam di Setasiun Gambir bicara tentang peristiwa kehilangan bungkusan batik dan ransel yang juga berisi naskah puisi tulisan tangan Taufiq Ismail. Hari-hari demonstrasi telah memberinya banyak inspirasi dalam menulis puisi, setumpuk puisi itu dikumpulkan dalam sebuah map. Al kisah, penulis bercerita, salah satu tempat berkumpul menjelang atau sesudah demonstasi adalah di Fakultas Psikologi UI, yang terletak di Jalan Diponegoro, seberang Rumah Sakit. Penulis dikatakan biasanya jalan bersama Arief Budiman (Soe Hok Djin), DA Peransi, Salim Said, dll. Suatu saat terlihatlah setumpuk puisi tersebut. Ditulis oleh pengarang sebagai berikut: “Sejumlah puisi tulisan tangan saya baru selesai saya ketik dan nampak oleh Arief Budiman. Dia senang sekali membacanya. “Hei Fiq, biar aku terbitkan puisi-puisimu ini, ” bujuknya. “Tunggu dulu, “jawab saya “jangan cepat-cepat. Biar aku endapkan dulu dan aku biasanya revisi. Ini kan ditulis masih seperti snapshot saja, belum diamplas. Belum sempat dihaluskan. Biar aku bawa dulu ke Pekalongan. Besok aku mau pulang ambil batik dagangan.” Arief tidak mau melepaskan puisi-puisi saya itu dari tangannya. Dia berkeras menerbitkannya sebagai edisi khusus majalah Gema Psychologi. Akhirnya saya mengalah. Saya tidak tahu bahwa paksaan Arief ini membawa hikmah yang luar biasa.  

Dan demikianlah, setumpuk puisi Taufik Ismail raib ketika sedang tawar menawar becak di Setasiun Gambir sepulang mengambil batik dagangan di Pekalongan. Sebagian yang terselamatkan adalah yang sempat terketik dan dirampas pula oleh Arief Budiman. Taufik menulis begini: Jadi, empat puluh puisi yang anda baca di buku yang anda pegang ini dalam Tirani dan Benteng, adalah yang ‘dirampas’ Arief dari tangan saya di lobi Fakultas Psikologi itu. Inilah jasa besar Arief pada kesusastraan Indonesia. Saya sangat berterima kasih kepada sahabat saya ini dan kekurangan kata-kata untuk mengucapkannya!.

Saya temukan buku Tirani dan Benteng di rak buku Y.S. Agus Suseno. Sesungguhnya puisi-puisi dalam buku ini mengembalikan ingatan saya ke zaman sekolah dulu. Di buku-buku pelajaran sekolah banyak bertebaran puisi-puisi Taufiq Ismail. Apalagi saat membicarakan penyair angkatan ‘66. Penyair inilah yang disebut-sebut sebagai pelopornya. Meskipun dikatakan bahwa itu merisaukan. Sebab label ini dapat membunuh kreatifitas. Perjalanan penyair ini di masa tuanya tak selalu mulus, ia banyak punya “musuh”, terutama sejak menulis buku putih bersama D.S. Moeljanto dan berada di barisan depan penentang Gerakan Syahwat Merdeka. Terakhir dia dituduh menulis puisi plagiat namun ujian itu pun bisa dilewatinya. Kesibukan terkini penyair ini saya kira, berkutat di sekitar upaya-upaya untuk menggalakkan melek baca buku sastra di kalangan pelajar. Beliau juga mendirikan dan mengelola Rumah Puisi di tanah kelahirannya, Sumatera Barat.    

Oya, terkait banyaknya foto itu buku itu, Taufik Ismail menulis begini: “Visualisasi demonstrasi 1966 dan puisi saya saling memperkaya. Foto itu tidak harus menerang-jelaskan puisi di sebelahnya, dan puisi itu bukanlah pula bertugas sebagai teks gambar tersebut. Masing-masing berdiri sendiri, tapi tolong dengarkan meraka bercakap bersahut-sahutan, mungkin lirih dan mungkin juga gemuruh. Mereka sama-sama berteriak memanggil atau barangkali berduet menyanyi. Mereka memang lahir pada masa yang bersamaan. Dan menyaksikan zaman itu.” Jakarta, 19 Desember 1992. Pungkas penyair yang kini kerap terlihat berpeci dalam penampilannya.   

6 komentar:

  1. Salam kenal,
    Puisi adalah untaian kata penuh makna

    BalasHapus
  2. Saya adalah pecinta puisi tapi saya belum bisa menciptakan puisi yang baik dan indah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal, puisi yang baik dan indah itu adalah puisi yang kita bisa merindunya. Suatu saat pasti kesampaian juga jika berusaha terus. Tapi, bukankah hidup yang baik dan penuh cinta adalah puisi juga...

      Hapus
  3. Terima kasih, :)Puisi adalah kita ya? Heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kita. Semakin kita menyelami kata, semakin tergali keindahan diri kita.

      Hapus
  4. Terima kasih sudah berbagi informasi menarik dan bermanfaatnya
    Tetap semangat untuk share info yang lainnya!!!!

    BalasHapus