Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 03 Mei 2015

PUISI MBELING




Data buku kumpulan puisi

Judul : Puisi Mbeling
Penulis : Remy Sylado
Cetakan : I, Juli 2004
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta.
Dicetak : Percetakan Grafika Mardi Yuana, Bogor.
Tebal : xvi + 254 halaman (144 puisi)
ISBN : 979-91-0012-7
Desain sampul : Rully Susanto
Tata Letak : Wendie Artwenda

Kumpulan Puisi Mbeling terdiri atas empat bagian, yaitu Sebelum 1972 (21 puisi), Sepanjang 1972 (79 puisi), Setelah 1972 (27 puisi) dan Cerita-cerita Antara 1970-2003 (17 puisi).

Beberapa pilihan puisi Remy Sylado dalam Puisi Mbeling

Olahraga

olahraga
orang kota
mengangkat barbel
di fitness centre

olahraga
orang desa
memacul tanah
di sawah ladang

yang satu
mencari sehat
karena anjuran
yang lain
menemukan sehat
karena telanjur

1990




Dua Jembatan: Mirabeau & Asemka

Mengapa orang mau dengar Apollinaire
Yang berkisah tentang kebohongan dunia
- Et Sous le pont Mirabeau coule la Seine
- Et nous amours
- ?

Mengapa tak mau dengan Remifasolasido
Yang berkisah tentang kejujuran dunia
- Ning ngisore kreteg Asemka iku
- Akeh umbele Cino
- ?


Di Blok Apa?

Kalau
Chairil Anwar
binatang jalang
Di blok apa
tempatnya
di Ragunan?


Teks Atas Tao

yang mengerti
malah tidak bicara
yang tak mengerti
malah banyak bicara


Waktu Doa Ulangtahun

terimakasih tuhan atas hidangan ini

berhubung botty tiba-tiba kentut
terpaksa
amin kami ganti dengan
jancuk.


Cinta yang Pakai Reserve

sum
pah
de
mi

cin                   ta
cinta cin           ta cinta
cinta cinta cinta cinta cin
ta   cinta   cinta   cinta   cint
a cintacintacintacintac
intacintacintacintaci
ntacintacintacint
acintacintaci
ntacinta
ku

nanti malam
aku pasti datang padamu
walaupun bumi diguncang gempa
walaupun kota dihanguskan api

tapi
asalkan tidak hujan.


Seorang Prajurit Memulai Korupsi dengan Sumpritan Seharga Rp 200

satu prit
jigo

empat prit
cepek

delapan prit
kembali pokok


Yang Pernah Terjadi dalam Cerita dan Bisa Sekonyong Menjadi Derita

Sam Pek Eng Tay
menggebu cinta
Sakit pek-tay
terganggu cinta.


Dua Daya

motivator
berbicara tentang
memberdayakan rakyat

koruptor
berbicara tentang
memperdayakan rakyat


Masalah Menara Babil

ayam
di Tanjungpinang, berkokok
ayam
di Magelang, kluruk
ayam
di Sumedang, kongkorongok
ayam
di Amurang, bakuku
ayam
di Nankin, kukuyu
ayam
di Oxford, crow
ayam
di Nijmegen, kraaien
ayam
di Bonn, krahen
ayam
di Cordoba, cacareo
ayam
di Montpellier, chant du coq
ayamnya sama
kuping manusia yang salah urus

Bandung, 1974


Barang-barang Bekas

Untuk semua barang bekas di bawah langit
Kita mau memakainya dengan senang hati
Kita mau memakai baju bekas
Kita mau memakai celana bekas
Kita mau memakai sepatu bekas
Kita mau memakai isteri bekas
Kecuali satu barang bekas

Kita tak mau memakai tusuk-gigi bekas

1973


Anjing

kalau kau memujiku awet muda
kau menyamakan aku bagai anjing
sebab anjing dari kecil sampai tua
wajahnya hanya anjing dan tetap anjing


Generasi Penerus

Rumput dimakan sapi
Sapi memberikan susu
Susu diteteki anak
Anak didului bapak.


Sialan Banget

Sudah jatuh
            dihimpit tangga

Hendak berdiri
digonggongi anjing

Begitu lari terbirit
malah menginjak tahi.


Jargon Kepribadian

Dari Tokyo diberitakan
penemuan baru bidang otomotif
Dari Berlin diberitakan
penemuan baru bidang aerobisnis
Dari Paris diberitakan
penemuan baru bidang kemistri
Dari London diberitakan
penemuan baru bidang medical
Dari Washington diberitakan
penemuan baru bidang elektronik
Dari Jakarta diberitakan
penemuan baru bidang gastronomi:
oncom dalam singkong namanya comro.

Bandung, 1974


Intimidasi dalam Demokrasi

siapa berani
melebihi kepala
terhadap kepala
pasti
bakal
hilang kepala

1989


Lebih Baik Mati Muda

Jika usia menua kapan waktu
dan aku tak berani menulis puisi
dengan jendela yang dibuka lebar
melihat kenyataan di luar rumah
tentang kebusukan yang memerintah
tentang kesemenaan yang berkuasa
tentang korupsi yang memimpin
tentang penindasan hak asasi
Lebih baik aku mati muda

Jika puisi berhenti berpihak
pada keperkasaan hati nurani
yang lahirkan kemauan mengasihi
tapi hanya umpatan-umpatan kesumat
dan pernyataan-pernyataan benci
dan ungkapan-ungkapan palsu
dan kalimat-kalimat marah
dan sumpah-serapah culas
Lebih baik aku mati muda

Jika tiada lagi hakekat cinta
yang mukim dalam hati manusia
sebagai harta kekayaan rohani
sebagai rahim dari sejati puisi
apa guna memanjang-manjang usia
tanpa memberi warisan pekerti
kecuali hanya menggantang asap
berharap yang kemarin kembali
Lebih baik aku mati muda

Jika puisi kehilangan kesungguhan
dan tidak punya kepercayaan diri
untuk menyatakan cinta
untuk menyatakan peduli
untuk menyatakan hormat
untuk menyatakan syukur
untuk menyatakan maaf
untuk menyatakan iba
Lebih baik aku mati muda

1971


Resital Indo Nesos

Di semboyan globalisasi kau mengaku shock
Orang menjadi highbrow cuma karena T-shirt
Begitu ceritamu tentang perjalanan kemarin
Pada flight terakhir Jakarta-Schiphol
Kau duduk di sebelah orang Indonesia tulen
Ber-hoofddoek sambil menguping walkman Sony
HP di tangan kanan Coca Cola di tangan kiri
Harum menyengat dengan empat nama parfum
Nina Ricci di telinga Tocadilly di leher
Yves Saint Laurent di ketek Gucci di udel
Dan dia adalah tikus yang jatuh di tepung
Kulitnya legam janggi bedaknya putih kapur
Lo, apa kokofoni ini juga diramal Kartini
Menyongsong terang setelah gelap berlalu?

Musim tentang cermin keparat telah selesai
Dipecahkan sebab protes melihat wajah buruk
Orang sekarang adalah badak pada besok hari
Ramai menukar wajah lugu menjadi rai gedheg
Lantas mengganti warna jas dan safari-look
Tanpa diminta menembang “It’s now or never”
Mengambil alih top hit para oportunis
Berdiri di atas kaki orang lain lebih aman
Mungkin rasa malu sudah tidak punya magi
Sementara harga kemaluan ABG makin jatuh
Taufiq telah lebih dulu menyatakan malu
Lantas apakah partai-partai juga punya malu?

Uthak-athik mathuk mengikuti tradisi mbah
Telah meninggalkan aksioma dalam cendra sengkala
Orang yang mengantuk menemukan ular belang
Barangkali terjawab setelah kungkum tujuh hari
Mutih sepuluh hari merapal weda mantra
Toh misteri pada rasa percaya diri kian kabur
Adalah fulus telah menuntun ke perzinahan roh jiwa
Duh, siapa dapat menolong menjadi juru selamat?

Kau bilang yang salah Wilhelmus van Nassaouwen
Dulu membawa salib dalam simbol westernisasi
Aku bilang dari dulu gen kita adalah ulat
Sewaktu-waktu jadi wereng dan kutu loncat
Kita hanyut sebagai sampah Spread Eagleism
Anak laki pakai jeans belel menghayat punk
Rambut dipirangkan memilih agama rock
Jadi goblog belegug dalam shabu, ectasy
Tapi saban 17 Agustus paling Indonesia Raya
Apa yang salah dari kepala kita, Pertiwi?
Apa ada remedy yang mujarab, Pertiwi?
Ayo dong, mbok somebody say something!

Dalam komunikasi karena perbendaharaan kata
Aku ingat penghayal Volapuk, Esperanto, Ro, Ido
Merenung, jigana urang kudu balik deui ke awal
Memulai dari diri kita melalui diri kita
Kalau butut jangan pecahkan lagi cermin
Pecahkan saja kepala lihat isinya satu-satu
Siapa tahu ada di situ noktah loakan Sam Kok
Sudah berkarat tapi masih terus dipelihara

Kuingatkan kepadamu tahayul peninggalan oma
Soal gerhana bulan terjadi di sanat Zulkaedah
Jika terjadi rusuh, tong deng tong baku potong
Siapa berani berdiri tegak bagai D’Artagnan
Pasti belum sempat mendengar tragedi Erberveld
Aku memilih diam sebab konon silence is golden
Terlalu sering kita mencari kambing hitam
Tak tahu yang dicari ngumpet di diri sendiri

Tidak deh, kataku, ini bukan waktu marah
Rendra sudah marah lebih dari 30 tahun
Pengamen di bis-bis kota marah saban hari
Kalau kekuasaan adalah jenis pusaka karun
Kalau semua orang tiba-tiba menjadi Caligula
Dan di tengah orang terpercaya ada Brutusnya
Carikan perisai yang dilapisi kasih sayang
Sebab benci dan marah cepat bikin tua
Celaka orang beruban yang masih berteriak

Hallo, aku ingin betul melafazkan confession ayah
Menyesal, yang menyambut cuma answering machine
Nanti kalau kau kembali lagi dari Nederland
Aku akan menyuruhmu melihat tanah ladang
Di tengah padi yang ditanam dengan kesungguhan
Ada juga di sana ilalang yang tumbuh sendiri
Begitu bukan penjahat saja yang berpikir jahat
Tapi juga di akal-okol jaksa hakim yang curam
Di pengadilan tempat orang mementaskan keadilan
Atau di rumah sakit, tempat perizinan, bandar udara
Di semuanya yang mengatasnamakan kemanusiaan

Jiwamu meradang, ya, dan aku sesak nafas mendengar
Mauku biar kau habiskan dulu kembaramu di sana
Aku kenyang di sini oleh slogan-slogan tempe
Lantas istirahat sebentar, tidurlah dulu
Senandung ninabobo tetap menegangkan
Bila nanti terbangun dari mimpi singkat
Bicaralah lebih baik kepada limbah busuk
Ia masih bermanfaat buat tanah perkebunan

1985


Jangan Bergunjing
Ada Ini di Dinding





















Mencari Identitas Nasional
Sesat di Varietas Emosional





















Jurang Generasi



















Bandung, 1973


Tentang Remy Sylado
(lagi-lagi tanpa biodata). Jadi saya ambil biodatanya dari buku Grafiti di Tembok Istana, yang disunting oleh Kurnia JR (2014). Ada ditulis begini: Yapi Panda Abdiel Tambayong (atau Japi Tambajong) lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945. Nama penanya yang lain: Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Nama Remy Sylado sendiri diambil dari nada pembukaan lagu The Beatles “And I Love Her” yang menampilkan rangkaian nada “Re Mi Si La Do” atau dalam angka menjadi 23761. Pada usia belia hijrah ke Semarang. Sejak muda banyak menulis kritik sastra, puisi, cerpen, novel, esai sajak, roman popular, buku musik, dramaturgi, bahasa, teologi. Juga melukis. Pada dekade 1980-an produktif di bidang musik dan menghasilkan setidaknya 13 album. Beberapa karyanya al: Orexas, Siau Ling, Ca Bau Kan (1999), Kerudung Merah Kirmizi (2002), Kembang Jepun (2003), Parijs van Java (2003), Menunggu Matahari Melbourne (2004)


Catatan Lain
Di sampul belakang buku ini ditulis begini: “Inilah buku pertama yang memuat puisi-puisi mbeling karya Remy Sylado, pencetus gerakan puisi mbeling, dari 1971 sampai 2003. Dipilih sendiri oleh sang penyair, 143 puisi dalam buku ini akan membuat kita tersenyum, tertawa terbahak-bahak, atau merenung. Namun jangan salah sangka, di dalam kelakarnya Remy sebenarnya sedang bersikap serius. Dia menelanjangi sikap feodal dan munafik masyarakat kita, terutama di kalangan pemimpin bangsa.”
            Yang jadi masalah saya, hitungan saya ada 144 puisi. Bukan 143 seperti tersebut itu. Saya dua kali menghitung puisi lewat daftar isi. Ada 144 puisi. Nah?
            Oya, mengawali buku ini, ada ditulis sekapur sirih. Tak jelas siapa yang menulis. Namun dari sana bisa digali beberapa informasi. Misalnya ada kalimat seperti ini: “Namun memang demikianlah ciri-ciri utama puisi mbeling: berkelakar dan melontarkan kritik sosial”. Atau kalimat ini: “Apa yang hendak didobrak oleh gerakan puisi mbeling adalah pandangan estetika yang menyatakan bahwa bahasa puisi harus diatur dan dipilih-pilih sesuai stilistika yang baku. Pandangan ini, menurut gerakan puisi mbeling, hanya akan menyebabkan kaum muda takut berkreasi secara bebas. Bagi gerakan puisi mbeling, yang namanya diambil dari nama rublik ‘Puisi Mbeling’ di majalah Aktuil, bahasa puisi dapat saja diambil dari ungkapan sehari-hari, bahkan yang dianggap jorok sekalipun. Yang penting adalah apakah puisi yang tercipta dapat menggugah kesadaran masyarakat atau tidak, berfaedah bagi masyarakat atau tidak.”
            Tentang rubrik ‘Puisi Mbeling’ sendiri ada dijelaskan di catatan kaki bahwa rubrik ini hadir di Majalah Aktuil dari 1972-1973. Pada tahun 1974 nama rubrik ini berubah menjadi ‘Puisi Lugu’. 
             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar