Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Kamis, 03 Februari 2011

DEBUR OMBAK GURUH GELOMBANG


Data buku kumpulan puisi

Judul : Debur Ombak Guruh Gelombang (Sajak-sajak 1993-2002)
Penulis : Jamal T. Suryanata
Cetakan : I, Oktober 2009
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin
Tebal : xvi + 94 halaman ( 80 puisi)
ISBN : 978-60284140-3-16
Pengantar : Maman S. Mahayana


 Beberapa pilihan puisi Jamal T. Suryanata dalam Debur Ombak Guruh Gelombang

Dengan Sajak

dengan sajak kutitipkan rindu
laut pada pantai yang menggaramkan buihnya

dengan sajak kudedahkan cinta
bunga pada angin yang menyerbukkan putiknya

dengan sajak kularutkan mimpi
embun pada awan yang merelakan hujannya

dengan sajak kutadahkan pinta
perahu pada sungai yang menyisir arusnya

dengan sajak kutorehkan luka
hutan pada kota yang merabuk kepurbaannya

dengan sajak kudendangkan puisi
agar setiap kata menjelma semesta doa

dengan sajak kutarikan zikir
hingga segalanya merabuk dalam ketiadaan

2002




Pada Akhirnya
  
akhirnya kita tinggalkan pantai itu
dengan diam yang menghapus peristiwa
tanpa jejak tanpa segores sejarah

ada yang tetap tersembunyi di situ
bait-bait puisimu masih bisikkan cinta
pada angin yang selalu memburu gelombang

ada yang tetap tak terungkap di situ
meski bahasa telah lahirkan berjuta kata
untuk menerjemahkan tanda-tanda

akhirnya kita tinggalkan pantai itu
dengan bisu laut kekalkan jagat samudera
suara ombak yang selalu membentur di dada

maka simpanlah rindumu di pantai itu
pada kedalaman laut yang sembunyikan cinta
sebelum pasang kembali menyisir segala

2001




Sungai  Embun   
     
akhirnya harus kusudahi kertuk dayung ini
kayuh perahu sang fakir zikirkan malam
sebelum laut pasang membingkai gelombangnya

akhirnya mesti kulunaskan rindu daunan ini
pada peluk embun yang gigilkan kelelatu
selepas terbangnya memburu bising kota
sebelum maut datang bekukan dunia raya
           
akhirnya kusebut sungai embun —firdausku
dari lepas tangkap menyusuri beribu sungai
taman cinta yang selalu wangikan langkah
para zahid menuju puncak damai pengembaraan
sebelum malam kembali melingkup rahasianya
                                                             
1993


Aforisme Sekuntum Mawar

  
pada duri yang menjaga tidurmu
kupinjamkan sebait sajak cinta
dunia kata yang menerbangkan mimpi
menuju keasingan demi keasingan
kota yang membawamu ke puncak peradaban

“aku hanya ingin menjadi diriku
selalu terjaga di antara duri-duri
rahasia yang tak perlu kaupahami
maka sudahilah,” katamu dengan mata nanar
seakan menyangsikan keakanan yang jauh

sekarang tak lagi kutulis sajak cinta
tapi kerinduan itu telah menghanguskan segala
bahkan mantra pun telah kehilangan tuahnya

“aku hanya ingin menjadi diriku
selalu terjaga di antara duri-duri,”
ulangmu sekali lagi dengan galau di dada

kalaupun tak lagi kutulis sajak cinta
cahaya rindumu sudah terpantul di situ
pada damai suara keilahian
  
1995

Lagu Gelombang

gemuruh yang senantiasa getarkan dada 

apungkan kapal-kapal mimpi hingga korona

selepas perih saat kelasi angkat sauh



gelombang yang selalu geram memukul dunia  
menepis zikirku hingga ke batas sunyi
pada damai pantai yang mengatas keniscayaan

o, keabadian yang terus merajut kisah cinta
yang meluluh sujudku dalam rindu berkepanjangan
debur ombakmu menggema sampai ke bising kota
seperti lagu gelombang yang tak sudah terbaca

seperti lagu gelombang yang tak sudah terbaca
sampai jua syahadatku mendampar di sunyi pantaimu
badai rindu yang terus menggelorakan api cinta
laut yang senantiasa terjaga dalam rahasia
  
1995
  


Kubah Hijau

di sinilah kulihat rumi menari-nari
mengitari titik damai sambil pejamkan mata
seperti laron tak jemu-jemu memuja cahaya
berputaran mengukir zikir sebagai hamba

di sinilah kutemukan rabi’ah bersunyi-sunyi
meneteskan airmata dalam kehangatan cinta
seperti balam biduan nyanyikan lirik rindu
tak sudah-sudah membentang sayap zahidnya

di sinilah kukenang al-hallaj dengan jubahnya
menunggu maut dalam senyum rela semata
seperti ismail memandangi kilat pedang ibrahim
yang segera mengayun menembus batas syahadat

di sinilah hafizh, zunnun, sa’di, sana’i
para pencinta yang mengatas ruang waktu
dari segala zaman dari segala peristiwa
menyatu dalam kata, keagungan asmaul husna

kunamai dia sebagai kubah hijau, rumahmu
ruang pertemuan segala makhluk segala rupa
bukan di sana karena ia ada di mana-mana
tapi di sini, di kedalaman hati para pencari

2002


Tarian Hujan
siapa lagi yang menoreh sepi di dada ini
ketika langit tak cukup ramah membaca senja

siapa lagi yang terkubur di pintu luka
kalau angin pun selalu mengendap bisu

dingin hujan masih setia mengulum embun
yang tersisa di daunan selepas kuncup pun
bermekaran menyongsong keniscayaan malam

di sini, kau pun berasa giris menatap  
gurat-gurat wajah sendiri di bayang musim
dan pada mungil bibir yang kehilangan kata
wahai, masihkah cinta membelai semesta?

dalam rinai hujan yang gigilkan dunia raya
untai tasbihmukah terdengar kelu mengucap rindu?

1994 



Perjalanan Kesunyian 
  
telah kutafsirkan namamu, wahai diam
dalam gaduh bunyian yang tabuhkan maut
dari kemersik daun-daun bersahut rindu
desah angin yang senantiasa berzikir
menyapu gelombang di keluasan lautmu

telah kubaca nun dari sunyi ke sunyi
puncak syahadat yang gigilkan peradaban
galau dunia dalam ketelanjangan malam
melepas dekor-dekornya menuju ketiadaan
wahai diam, segala kupulangkan padamu

ya, inilah kisah perjalanan sunyiku
biduk cinta sang fakir memikul mimpi
melukis kota-kota dalam dingin tahajjud
sebelum nafasku kehabisan ghirah-nya

inilah untaian gurindam sang perindu
selalu bernyanyi dalam gelora cinta
mengekalkan keindahan sunyi demi sunyi
lalu segala bermuara pada keabadianmu

2001


Mengarungi Samudera



lihatlah, sayang, betapa lengang bidukku kini

setelah lelah memandangi pantai yang jauh

pertukaran abad yang terus dikunyah usia

seperti permen karet —kehidupan, kematian
berganti tangkap nyanyikan sawang di langit senja
mengiring burung-burung pada sarangnya

alangkah sunyi, wahai, alangkah kian sendiri
dalam debur ombak, guruh gelombangmu
meski empasan tajam memuncak amuk
tak terasa —ya, sungguh tak terasa
maka sekalian saja kurangkul segala cinta
ingin kusudahi rindu beribu rindu di dada
tanpa kerumitan filsafat dan matematika

kembalilah, ya, burung makrifatku
pengembaraan jiwa mengitari cakrawala
masuklah ke dalam sangkar damaiku
dalam biduk sunyi yang terus kukayuh
mengarung keluasan samudera tak berbatas
pelayaran panjang menuju puncak tiada

mengarungi samudera, rahasia al-fatihahmu
duhai, betapa dingin, betapa dinginnya

 2002


Prosa Setangkai Anggur
(yang masih bernyanyi di lengang malam
adalah kepak asing beribu kelelawar
yang berkelebatan di taman anggur
bising menangisi kepergian senja raya)

“kamilah penjaja mimpi sepanjang malam
selalu memeluk gelap dengan airmata,”
bisikmu giris dari sebuah lorong sunyi
tapi malam hanya menyeringai tanpa kata
bungkam dalam kegamangannya sendiri

“sudahlah, tinggalkan isak tangismu
dan bernyanyilah bersama kami,”
pinta ribuan kelelawar yang menari berputaran
sambil mengunyah renyah ranum anggur
dalam kegelapan yang kian pekat

(setangkai anggur telah lepas dari tangkainya
merenungkan perjalanan malam yang kian hitam
wahai, keniscayan yang mematikan bahasa cinta)

1995

Metamorfosa
menuliskan tangismu, batu
orang-orang menekuri sejarahnya sendiri
pada kepompong yang sunyi

“bukankah kami cuma batu saja?” katamu
—bahasa menjadi satu-satunya dunia
untuk terbangkan mimpi beribu mimpi
menuju ketinggian antena-antena televisi
yang luluh meleleh di batas cakrawala
dan senantiasa ada yang tak terungkap
hingga terus membeku dalam rahasia

membaca detak jantungmu, batu
seperti setiap orang menikmati surat cinta
yang terlempar dari tangan anak sekolah

“tetapi cuma batu yang terbaca,” katamu
—gairah pun kian mengering di sini
o, peradaban yang membangun tugu-tugu
di mana bibir dunia tak lagi mampu bicara
tentang pasir yang terhampar di pantai ini
setelah ombak tenggelamkan kapal-kapal mimpi
terkubur dalam sunyi matahari yang sendiri

menggelar kehidupanmu, batu, batu
aku bermimpi menjadi manusia
di sini, cuma batu saja yang terbaca

1995


Negeri Cinta

akulah anak sungai yang terus mengalir
dari celah batuan menderas menuju muara
damai keilahianmu yang selalu merindu
gelora cinta berjuta musafir yang dambakan
kesudahan lelahnya di kedalaman lautmu

akulah burung perindu yng terus mengepak
terbang memburu keindahan semesta cintamu
mengarung cakrawala mengorak sayap doa
sambil membaca tanda-tanda di kerlap dunia
memahat langit mengekalkan rindu di dada

engkaulah negeri cinta tempatku bermuara
engkaulah negeri cinta tempatku berpinta
arusku membeku dalam dingin laut cintamu
kepakku luruh dalam kehangatan rindumu
wahai, negeri cintaku, ujung kesudahanku

1996


Merenungkan Kematian

kematian itu, katamu dalam bahasa rindu
seperti burung yang mengepak di cakrawala
dengan sayap meluruhkan bulu-bulunya
menuju kesangsian semesta

kematian itu, katamu dalam bahasa cinta
adalah jalan sunyi sebuah kota keabadian
yang redup dinaungi cahaya senjakala
matahari yang lepaskan canda dunia raya

tapi, katamu lagi dalam senyum dan airmata
kematian itu adalah bayang keniscayaan
yang kadang menjelma jadi riak-riak sungai
gelombang laut yang setia menyisir pantai
atau sekadar mimpi buruk anak-anak zaman
yang kehilangan dunianya —api, nyala bernyawa
bara, panas yang kehilangan daya hangusnya
seperti tafsir kemerdekaan yang kian redup
dalam pesona iklan-iklan ketelanjangan

kematian itu, katamu lagi dengan rasa giris
sebagai tebasan beribu mata pedang
perih torehan silet, hunjaman mata kapak
atau tusukan belati tanpa kesudahan

kematian itu, ya kematian itu, kekasih
sebentuk damai cinta yang kita jelang

1997


Gurindam Perjalanan
seperti awan tebal yang terus berarak
mengusung ribuan abad menuju keakanan
kita masih gairah menyusuri pantai ini
imbangi gerak jarum jam memburu waktu
tak tahu sampai di mana kesudahannya

kita baca setiap huruf mengeja kata
gurindam perjalanan yang membelah dunia
sambil renungkan luruh daun kemboja
yang terus riuh zikirkan nyanyi semesta
usai hujan menyapu debu di kota-kota

barangkali kita harus belajar kembali
mengeja tanda-tanda dengan dingin airmata
karena tuhan pun telah kita pertaruhkan
dengan wangi bungaan kehilangan mahkota
atau jerit burung-burung menekuri kepaknya

apalagi yang tak mungkin terkata di sini
batu-batu berdebu digerus jadi permata
hantu dan peri terusir dari sarangnya
kubur-kubur keramat ketiadaan sakralnya
semua pergi melukis sangsi semesta

1999


Menangisi Sajak-sajakmu
seperti sekawanan camar yang beterbangan
selepas kepak terakhir mengitari awan biru
dan laut keniscayaanmu yang tak berhingga
aku bersimpuh, luruh dalam gigil tahajjud
bibir yang kelu mengucap zikir padamu

“mari, kekasihku!” kauseru kegamanganku
yang menggantungkan senyum di arasy-mu,
“kita tatap kembali silau rembulan itu, o
akankah sejarah masih setia menuliskan
setiap percik dari ombak yang terus memburu
sebelum pantai kembali memagut sunyinya?”

tapi kucium peluh kesangsian di sini
yang mengalir dari sungai masa lalu
irama jantung yang mengiris-iris kenangan
titik-titik hitam —kabut yang kian mendinding
bias cahaya keilahianmu selunas tangisku

“kemarilah sekali lagi, wahai!”serumu
dengan senyum yang menggetarkan rinduku,
“mari kita cumbu kembali pergantian musim
yang berlarian menuju kedamaian cinta
sebelum ombak kembali memecah di pantai ini
sebelum maut membekukan segala pinta!”

menangisi sajak-sajakmu, samudera alifmu
yang terus membuih dalam figura bahasa
serasa sujudku tak sudah-sudah mengalirkan
dingin airmata yang terus mengeja rahasia
mengekalkan rindu ombak pada pantainya

1999

Seloka Burung Kertas
seribu tahun aku menatapmu dari langit senja
dari desah angin pantai yang memburu sunyi
kepakmu selalu meluruhkan bulu kepasrahan

sepuluh abad aku terus menafsirkan rindumu
kerinduan yang selalu membarakan api cinta
terbangmu merajut mimpi melipat masa silam

“tak usah pedulikan galau risauku,” katamu
sambil terus mengepak menggaris cakrawala
melampaui persenggamaan abad dan jagat

“aku ingin jadi pengembara saja,” ucapmu lagi
tanpa perlawanan pada badai kabut limbubu
yang mengentalkan danau syahadat di kakimu

burung kertas yang membentang zikir langit
meretas langkah menuju jejak keabadian
adalah burung pendaki di tikar sembahyangku

burung kertas yang senandungkan lagu cinta
mengorak sayap menuju puncak ketiadaan
adalah burung perindu dalam sunyi tahajjudku

burung kertas, kuhela engkau menuju sunyi
kulepas engkau dengan rindu sehabis rindu
kugiring engkau menuju langit keilahian

2000



Tentang Jamal T. Suryanata
Jamal T. Suryanata dilahirkan pada 1 September 1966 di Kandangan, Kalimantan Selatan. Menyesaikan pendidikannya di STKIP PGRI Banjarmasin, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, dengan skripsi berjudul “Sajak-sajak Ajamuddin Tifani dalam Sentuhan Sufistik: Hermeneutika Kerohanian Sebagai Titik Tolak Pengkajian” (1999) dan di Program Pascasarjana FKIP Unlam Banjarmasin dengan mengangkat tesis tentang “Cerpen Banjar 1980-2000: Tinjauan Struktur, Isi, dan Konteks Sosialnya” (2004).
Mulai menekuni dunia penulisan sejak akhir dekade 80-an, tetapi merasa kian serius baru sejak awal 90-an. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, kritik dan esai sastra, serta artikel umum lainnya pernah dimuat di Banjarmasin Post, Media Masyarakat, Radar Banjarmasin, Bali Post, Koran Tempo, Kompas, Swadesi, Wanyi, Ceria Remaja, Al-Zaytun, Matabaca, On-Pff, Gong, Matra, Basis, Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Kebuadayaan Kandil, dan Dewan Sastera (Kuala Lumpur, Malaysia).
            Sejumlah puisi, cerpen, dan esainya ikut disertakan dalam beberapa buku antologi bersama seperti Festival Puisi Kalimantan (1992), Tamu Malam (1992), Bosnia dan Flores (1993), Batu Beramal 2 (1995), Kebangkitan Nusantara II (1995), Antologi Puisi Serayu (1995), Jendela Tanah Air (1995), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Wasi (2000), La Ventre de Kandangan (2004), Dian Sastro for President! (2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (2005), Perkawinan Batu (2005), Jendela Terbuka: Antologi Esai Mastera (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Sastra Banjar Kontekstual (2006), Tongue in Your Ear: Indonesian Poetry Festival (2007), dan sajaknya ”Datanglah Sang Cahaya” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal —dimuat dalam buku Antologia de Poeticas: Antologi Puisi Indonesia—Portugal—Malaysia (2008).
Selain menulis dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Banjar. Buku-bukunya yang sudah diterbitkan adalah Untuk Sebuah Pengabdian (Balai Pustaka, 1995), Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (Adicita Karya Nusa, 1998), Di Bawah Matahari Terminal (Adicita Karya Nusa, 2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Adicita Karya Nusa, 2003), Galuh: Sakindit Kisdap Banjar (Cerpen bahasa banjar, Radar Banjarmasin Press, 2005), Penyesalan Sang Pemburu (Pabelan Cerdas Indonesia, 2005), Bulan di Pucuk Cemara (Cerpen, Gama Media dan LPKPK, 2006), Bintang Kecil di Langit yang Kelam (Cerpen, Tahura Media, 2009) dan Debur Ombak Guruh Gelombang (Puisi, Tahura Media, 2009)


Catatan Lain
Ini buku gratisan dari Hajri. Tapi sama penulisnya emang dikasih. Waktu itu ketemu di Taman Budaya Banjarmasin, akhir Desember 2009, waktu peluncuran kumpulan Cerpen Bintang Kecil di Langit yang Kelam. Saat itu yang jadi pembicara Zulfaisal Putra. Selesai acara, pas dia mau masuk ke mobil, kusambangi. Hingga akhirnya, Kang Jamalnya bilang, kurang lebih kayak gini, ”Kau ambillah di tempat Hajri, di sana banyak kutinggal buku buat teman-teman.” Yah, terima kasih banyak. Hehe.

3 komentar:

  1. Waw, makasih banyak donk, teman. Kamu udah 'jual kecap' buat buku puisiku yang masih semata wayang itu. Moga aja ada yang berminat membacanya. Salam kreatif, JTS.

    BalasHapus
  2. Trims sudah bajanguk di lampau sederhana ini. Bisa berancak menjinguki "lasmin papadaan" ni.. :)

    BalasHapus
  3. Lengkap sekali kumpulan puisinya.

    BalasHapus