Pengantar Bulan Juni 2015

Bulan Juni ini, hadir menyapa kita sepilihan puisi dari tahun 1950-an, yaitu dari penyair Harijadi S. Hartowardojo dari kumpulan Luka Bayang, Tri Astoto Kodarie dengan Hujan Meminang Badai, kumpulan puisi bertiga Rustam Effendi, Sukrani Maswan dan A. Rasyidi Umar dengan Jejak Cermin Suatu Senja, Medy Loekito dengan In Solitude, Irma Agryanti dengan Requiem Ingatan, Anjani Kanastren dengan Pesan Lewat Daun, Arini Hidajati dengan Sembahyang Karang, dan Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno dengan Puisi-puisi Revolusi Bung Karno. Oya, ini menjadi penanda dari postingan buku ke 300. Saya mungkin akan menulis lagi untuk mengenangnya. Salam Puisi.

Senin, 01 Juni 2015

PUISI-PUISI REVOLUSI BUNG KARNO




Data buku kumpulan puisi

Judul : Puisi-puisi Revolusi Bung Karno, buku pertama
Penulis : Soekarno
Cetakan : I, Juni 2002
Penerbit : Yayasan Seni dan Budaya Gema Patriot, Jakarta.
Dicetak oleh : Fitroh Art’s Printing, Jakarta
Penyunting : Maman S. Tegeg
Pracetak : Fakhri S. Antoni, Awal Tresnajaya, Amsar A. Dulmanan
Desain cover : Fikri Susilo W.
Tebal : xii + 127 halaman (94 puisi)
Pengantar : Hj. Rachmawati Soekarnoputri

Beberapa pilihan puisi Ir. Soekarno dalam Puisi-puisi Revolusi Bung Karno

Sejarahlah yang Akan Membersihkan Namaku

Dengan setiap rambut di tubuhku
aku hanya memikirkan tanah airku

Dan tidak ada gunanya bagiku
melepaskan beban dari dalam hatiku
kepada setiap pemuda yang datang kemari
aku telah mengorbankan untuk tanah ini

Tidak menjadi soal bagiku
apakah orang mencapku kolaborator
Aku tidak perlu membuktikan kepadanya
atau kepada dunia, apa yang aku kerjakan

Halaman-halaman dari revolusi Indonesia
akan ditulis dengan darah Sukarno
Sejarahlah yang akan membersihkan namaku

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 304)


Aku Melihat Indonesia

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan
Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut
menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

(dari buku “Bung Karno dan Pemuda”, hlm. 68-107)

SEMBAHYANG KARANG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Sembahyang Karang
Penulis : Arini Hidajati
Cetakan : I, Juni 2003
Penerbit : Putra Langit, Yogyakarta.
Tebal : 92 halaman (74 puisi)
ISBN : 979-9373-10-7
Pra cetak : Agus Salim
Cover : Haitami El Jaid

Beberapa pilihan puisi Arini Hidajati dalam Sembahyang Karang

Kemiskinan II

Aku adalah perempuan miskin, yang lahir dari rakyat
kecil, dan dilahirkan oleh sejarah yang miskin. Aku
lahir diantara ribuan mereka yang lahir, di bale-bale
yang keras, di dalam gubug yang berlobang,
disebabkan oleh ayahku yang papa, yang suatu malam
mendatangi ke peluk perempuan ibuku yang miskin.
Aku tumbuh di tengah-tengah mereka yang makan
dari belas kasih matahari dan minum dari air hujan.
Aku tumbuh di tengah-tengah ladang yang kering dan
tandus yang andalkan tanah sempit tegalan bersama-
sama tengadahkan tangan rindukan hujan, membasahi
rumput-rumput dan tenggorokan. Aku hidup dalam
akar yang gersang, kutanami dan kutuai buah-buah
kesengsaraan dan penderitaan. Aku tumbuh menjadi
tetesan embun yang tak berarti, yang hidup dalam
ketakutan akan gunjangan angin, atau gerak
dedaunan. Aku hidup bersama perjalanan hari-hari
dan berputarnya bumi, dalam kemiskinan yang
semakin mengoyaklaparkan tubuhku yang dahaga.
Tapi dalam kemiskinan, aku hanya ingin bicara cinta,
karena ialah rahasia penyelamatan jiwaku, dan
mengayakan diriku dalam kasihNya, menggapai lewat
doa, mencapai kesejatian pengabdian, harap bisa
menikmati wajahNya.

Yogyakarta, Februari 1998


Anggur Kebijakan

Aku belajar menulis puisi, dari desauan angin yang
menerpa, dari panasnya mentari, dari nyanyian
burung, dari tangisan bayi, dari desahan nafas
penderitaan, dari kesendirian yang mengiris kalbu,
dari seluruh gerak dan diam alam, kutuang dan
kutuang, setetes demi setetes, dalam cawan anggur
kebijaksanaan, untuk kupersembahkan padaMu,
meskipun kutahu, Kau tak perlu itu.

Yogyakarta, Oktober 1996

PESAN LEWAT DAUN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Pesan Lewat Daun
Penulis : Anjani Kanastren
Cetakan : I, Juli 2009
Penerbit : Pinus Book Publiser, Yogyakarta.
Tebal : 124 halaman (105 puisi)
ISBN : 978-602-8533-09-6
Penyunting : Ab. Asmarandana
Penyelaras akhir : Faiz Ahsoul
Desain sampul dan isi : Bhuana Agiz
Ilustrasi isi : Rr. Niken Kartika
Model sampul : Rr. Kusuma Indriani
Prolog : Acep Zamzam Noor

Beberapa pilihan puisi Anjani Kanastren dalam Pesan Lewat Daun

Bukan Impian Semusim

Gadis kecilku adalah mimpi-mimpiku
Adalah kesejukan menemu diri
Langkah kecilmu masih mesra dalam ingatanku
Masih mampu membuatku menangisi masa lalu

Gadis kecilku adalah bisik-bisik yang mengajakku pulang
Dari lelah pengembaraan batin
Ah, aku tersadar
Kau bukan impian semusim dalam hidupku

2009


Tangga Cahaya

Kalau ada yang hilang, itu bukan hatiku
Kalau ada yang pulang, itu juga bukan hatiku

Itu semata tangga cahaya
Sisi batin yang gelisah
Tak berbentuk
Tak bernyali

1993


Teka Teki Puisi

Derit cemara, angin semilir
Aku sedang bersandar
Kubuka suratmu
Kubaca
Isinya puisi semua

Aku terbuai
Aku melayang
Derit cemara dan angin semilir
Jadi saksi ketika kurangkai puisi jawaban
Kukatakan
Aku pun sedang tergila-gila

1982

REQUIEM INGATAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Requiem Ingatan
Penulis : Irma Agryanti
Cetakan : I, Juni 2013
Penerbit : Komunitas Akar Pohon, Mataram.
Tebal : 64 halaman (35 puisi)
ISBN : 978-602-1599-02-0
Penyunting : Kiki Sulistyo
Rancang sampul dan tata letak : Tjak S. Parlan
Pengantar : Bandung Mawardi (Puisi Bermata)

Beberapa pilihan puisi Irma Agryanti dalam Requiem Ingatan

Layang-layang

hanya jika kau datang ke rumah ini
mereka akan bermunculan

tubuhnya buluh bambu
bergambar awan, berekor panjang
dengan sayap bulan agustus

tentu ia akan setinggi siang
sebab cuma kau yang mahir
menggelas temali
lebih kuat dari jambang nabi

sesekali dibiarkan ia hinggap
ke pohon jambu
tempat sepasang ari-ari dikubur
pengikat raga paling nujum

kukira kau tak lagi datang
sejak kita takut menulari wajah masing-masing
saling melepas biar
seperti layang-layang
dan ingatan pada nama kecilmu

2011

IN SOLITUDE




Data buku kumpulan puisi

Judul : In Solitude
Penulis : Medy Loekito
Cetakan : I, 1993
Penerbit : Angkasa, Bandung.
Tebal : 63 halaman (41 puisi)
ISBN : 979-547-242-9
Ilustrator : Karel
Kata Pengantar : Korrie Layun Rampan, Rusli Marzuki Saria

Beberapa pilihan puisi Medy Loekito dalam In Solitude

Kampung Naga

di sini keindahan bernyanyi
tanpa ada telinga yang mendengar
dan keramaian merebak
tanpa pandang yang terengah
tangga tanah basah
adalah lambaian petani tua pada anak cucu
berapa lamakah sebuah bangsa
akan bertahan
ketika sang penerus
lari menukar warisan dengan keserakahan
mungkinkah padi tumbuh
tanpa ada yang menabur benih

1992


A Commemoration

betapa indah awal sebuah petaka
tatkala cinta dan berahi tak lagi punya batas
dan segumpal nilai seketika hilang makna
tidaklah menolong air-mata terburai
atau merutuk gemawan yang terhentak seribu kaki kuda
hingga senja taklah lebih dari layar koyak
dendam perjalananmu membuatku terpana
namun pada akhirnya adalah tiada
dan tiba-tiba kutakut rindu

1992

JEJAK CERMIN SUATU SENJA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Jejak Cermin Suatu Senja
Penulis : Rustam Effendi, Sukrani Maswan  dan A. Rasyidi Umar
Cetakan : I, 1989
Penerbit : Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Komisariat Kalimantan Selatan.
Tebal : xii + 64 halaman (57 puisi)

Jejak Cermin Suatu Senja adalah kumpulan puisi bertiga, secara berurut, Rustam Effendi (18 puisi), Syukrani Maswan (15 puisi), A. Rasyidi Umar (24 puisi). Judul puisi diambil dari puisi masing-masing penyair, yaitu Jejak karya A. Rasyidi Umar, Cermin karya Syukrani Maswan dan Suatu Senja karya Rustam Effendi.

Beberapa pilihan puisi Rustam Effendi dalam Jejak Cermin Suatu Senja

Suatu Senja

Langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
kuning tembaga di atasnya

langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
ada segumpal putih
terbirit ke sana

langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
kadang tak terperi

langit yang bagai cungkup
mengurung hamba di sini
kenapa hamba baru mengerti

HUJAN MEMINANG BADAI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Hujan Meminang Badai
Penulis : Tri Astoto Kodarie
Cetakan : I, Maret 2007
Penerbit : AKAR Indonesia, Yogyakarta.
Tebal : xxviii + 124 halaman (115 puisi)
ISBN : 978-979-9983-88-6
Supervisi & Desain Sampul : Joni Ariadinata
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Desain isi : Dhien
Ilustrasi sampul : Entang Wiharso
Produksi : Aida Idris
Prolog : Maman S. Mahayana

Beberapa pilihan puisi Tri Astoto Kodarie dalam Hujan Meminang Badai

Perahu Layar Lewat Jauhan

angin yang basah di pagi mendung
gulungan ombak-ombak di fatamorgana
terayun-ayun nelayan di tengah nasibnya
menunggu matahari kembara
dan perahu layar lewat di jauhan
hendak menjala mimpi
atau menghanyutkan kerinduan?

parepare, 1986-1987


Potret Nelayan Adalah Tembang Jiwa Kami

jauh amat, perahu-perahu pinisi nembus kegelapan
hitam cakrawala hitam nasib hitam ketaktentuan
kelap-kelip lentera berpendar
terangi kecemasan gelombang
kibar-kibar layar dihempas kesiur angin yang bimbang

o, adakah kedamaian memintas cakrawalamu?

menatap hidup menatap nasib keterlanjuran hakekat
saat ditempuhnya usia di dalam hati yang pekat
tapi tak pernah sangsikan keyakinan yang erat
meskipun masa lalu telah tumbang dan sekarat

o, nelayan-nelayan perkasa yang menaklukkan kejemuan
masihkah melagukan gelegar gelombang?

parepare, 1988

LUKA BAYANG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Luka Bayang, kumpulan sajak-sajak 1950-1953
Penulis : Harijadi S. Hartowardojo
Cetakan : I, 1979
Penerbit : Proyek Penerbitan Buku Bacaan, dan Sastra Indonesia dan Daerah.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Keterangan : Diterbitkan kembali seijin PN Balai Pustaka. BP No. 2131 (1964)
Dihiasi 2 gambar dan vignet oleh Wied Suroso
Tebal : 95 halaman (39 puisi)

Beberapa pilihan puisi Harijadi S. Hartowardojo dalam Luka Bayang

Pengembara

Pengembara bisu mendukung kasih cinta
dalam dirinya ia lihat wujud cinta
remang dan gerimis sediakala

Cinta menghantu di hatinya
harapannya lembut
mengapung dalam panas api neraka
Dalam langkah yang dilangkahkannya
Dalam lagu yang didendangkannya
bersinar caya cemerlang
Agung dalam kekerdilannya!

Pengembara bisu
mendukung kasih cinta
dalam wujud cita
remang dan gerimis sediakala
Kanak-kanak di jalanan
menyorakkan hidup di hatinya

Ke marilah segala dosa
daki debu di tubuh manusia
Pengembara bisu terima bujukan cinta
semenjak Tuhan hilang bayangan

Senin, 04 Mei 2015

MEMENTO


Data buku kumpulan puisi

Judul : Memento, Puisi 1993-2008
Penulis : Arif Bagus Prasetyo
Cetakan : I, April 2009
Penerbit : Arti Foundation, Denpasar.
(Diterbitkan dengan bantuan program Widya Pataka
 Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali)
Tebal : 116 halaman (76 puisi)
ISBN : 978-979-1145-30-5
Ilustrasi sampul : “Desktop Ash Cable” karya Ronald Wigman
Desain sampul : Made Sukla Yata
Pracetak : Nyoman Krining

Memento terdiri  dari 2 bagian, yaitu Jula-juli Pejalan Tidur (2008-2000; 17 puisi) dan Inferno (1999-1993; 59 puisi)

Beberapa pilihan puisi Arif Bagus Prasetyo dalam Memento

Manhattan Blues

Ditumbuhi sulur-sulur musim gugur
Aku turun dari firdaus lantai ketujuh.

Pelancong lancung. Gentayangan sepanjang tanjung
Menghela jam dan pohon-pohon yang berdentingan

Sebening kristal-kristal November yang termangu
Kekal, di etalase Lexington Avenue.

Raung klakson lengking sirine tikam-menikam
Berkilauan dihunus hujan tengah hari.

Tak terhingga manik mata, coklat-kuning
Terserak garing sepanjang jalan. Terbengkalai

Seperti sumur-sumur mineral yang ditinggalkan
Usai kafilah menguras teluk. Dan kabilah terhempas takluk.

Di ufuk gurun, di jazirah firdaus lain, aku lihat
Matahari membanting zirah perunggunya yang berkarat.

Menara api berderak runtuh. Jelaga menjilati mangsa.
Hujan abu mencekik kanal-kanal bahasa.

Debu kelabu angin kelabu flat-flat lengang yang kelabu
Mengembara di lorong-lorong belulangku.

Raut pucat seorang darwis yang menghilang dari balkon
Untuk sesaat menyeringai dalam arus kelam Hudson.

2003

KUKENAL KAU LEWAT MALAM


Data buku kumpulan puisi

Judul : Kukenal Kau Lewat Malam
Penulis : Yunis Kartika
Cetakan : I, Januari 2005
Penerbit : bukupop, Jakarta.
Tebal : vii + 64 halaman (62 puisi); 10,5 x 15,7 cm
ISBN : 979-99943-2-2
Perwajahan : Radite C. Baskoro
Gambar sampul: Legito

Beberapa pilihan puisi Yunis Kartika dalam Kukenal Kau Lewat Malam

Teratai

teratai mengapung sendiri di telaga
seperti aku,
sendiri menikmati dini hari
dalam gelapnya kamar ini


Tunggu

sayang,
aku akan tiba di kota biru

sebelum pagi habis
meluncur di ujung gelas kopimu

Minggu, 03 Mei 2015

TELUNJUK SUNAN KALIJAGA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Telunjuk Sunan Kalijaga, Puisi-Puisi Maiyah.
Penulis : Mustofa W. Hasyim
Cetakan : I, 2013
Penerbit : Gress Publising, Yogyakarta.
Tebal : 130 halaman (44 puisi)
ISBN : 978-602-96826-7-0
Desain sampul : S. Arimba
Tata Letak : Siswanto
Pracetak : Anes Prabu

Beberapa pilihan puisi Mustofa W. Hasyim dalam Telunjuk Sunan Kalijaga

Mata Rantai Cinta yang Buntu

Truk angine mati, Kang Gareng uripno
Truk angine mati, Kang Gareng uripno

Orang Yogya mencintai Yogya
Yogya mencintai Jakarta
Jakarta mencintai Washington
Washington mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Rakyat mencintai pemimpin
Pemimpin mencintai isterinya
Isterinya mencintai rekening bank
Rekening bank mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Buruh mencintai mandor
Mandor mencintai juragan
Juragan mencintai juragan besar
Juragan besar mencintai saham
Saham mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Pedagang mencintai pasar
Pasar mencintai mantri pasar
Mantri pasar mencintai Dinas pasar
Dinas pasar mencintai kantor perdagangan
Kantor perdagangan mencintai menteri perdagangan
Menteri perdagangan mencintai impor
Impor mencintai komisi
Komisi mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Petani mencintai benih, pupuk dan racun hama
Benih, pupuk dan racun hama mencintai pedagang
Pedagang benih, pupuk dan racun hama mencintai pabrik
Pabrik mencintai direkturnya
Direktur mencintai sekretarisnya
Sekretaris mencintai atm
Atm mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Cem cempe cem cempe undangna barat gedhe
Tak upahi duduh tape
Cem cempe cem cempe undangna barat dawa
Tak upahi banyu klapa

2011

KESIUR DARI TIMUR




Data buku kumpulan puisi

Judul : Kesiur dari Timur
Penulis : Timur Sinar Suprabana
Cetakan : I, Januari 2012
Penerbit : Katakita, Yogyakarta.
Tebal : 144 halaman (84 puisi)
ISBN : 978-979-3778-67-9
Editor & desain artistik : Sitok Srengenge
Penata letak & aplikasi desain : Cyprianus Jaya Napiun
Lukisan cover : Markaban

Beberapa pilihan puisi Timur Sinar Suprabana dalam Kesiur dari Timur

kata

kata Datang kepadaku. bertanya
: tahukah kau. o. Siapa menghuni tanda baca
justru ketika kau mengembarai huruf-huruf
yang kekal
yang selalu gagal melupa Cinta

tahukah kau
o, Siapa?


tanpa rasa Pedih

telah kuhapus kau dari mengapa aku mencintaimu
barangkali dengan perasaan seperti bagaimana guru
membusak soal-soal uraian di papan tulis dalam kelas
menjelang berganti jam pelajaran dari sastra ke matematika

telah kuseka dengan telapak tangan gemetar
menggenggam penghapus dengan sisa tenaga penghabisan
yang memucat lunglai di lengan yang tiba-tiba tak bertulang
kerna betapapun jauh kutempuh tiada yang bakal tergayuh

telah kuhapus
telah kuhapus
sebelum benar-benar pupus
kerna terhadapmu aku ini Cinta yang tak sanggup jika mesti layu

seperti selada di piring gado-gadomu yang Dulu