Pengantar Bulan AGUSTUS 2017

Pengantar Bulan AGUSTUS 2017
Selamat menikmati puisi-puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Rabu, 02 Agustus 2017

Muhammad Daffa: TALKIN


Data buku kumpulan puisi

Judul: Talkin
Penulis: Muhammad Daffa
Penerbit: Teras Budaya, Jakarta Selatan.
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal: viii + 68 halaman (53 puisi)
ISBN: 978-602-1226-74-2
Desain cover: Teras Budaya Art

Beberapa pilihan puisi Muhammad Daffa dalam Talkin

PADA SEBUAH KEMARAU PUTIH

Tempiaslah kemarau dari robeknya musim hujan di penghujung
            suatu bulan
Tempiaslah musim dari udara tegak
Merapat pada cuaca di hari ini

Begitu putihnya ia, betapa putih kemarau itu mengayunmu ke
pelukan abadi
Tidak kunjung dilepasnya.

Pada sebuah musim lainnya, kau akan mengeja makna adanya
Tumbuh mengekang hari
Suara dari dunia lain yang terasing
Tak dikenal sebagai apa pun

Tempiaslah kemarau ke jantung
Lepaslah hujan dari sela-selanya

Betapa putih, betapa putihnya ia
Mengada ruang di tubuhmu, seketika bersimpuh
Mengingat dosa lama tak diampun Tuan

Tempiaslah segala
Dari kubangan kemarau

Tempiaslah; suara-suara

2016


TALKIN

Seseorang berdoa di sebuah mihrab. Ie mendengar bunyi asing
Mungkin angin, yang mengepak dekat jendela. Utas doanya
begitu putih dieja
Sumringah sewaktu melihat senyum terakhir simpul. Berduka
Ketika ada mata rabun diangsur-angsur kematian

Kemarin hari, di panggung bawah langit sana
Kata-kata yang disusunnya masih bening
Terucap dan dilantun sebagai nyanyi

Sebentar kau mengelana jauh
Singkat berjalan memanggul usia
Prahara mana mengelabuimu
Di ujung cerlang
Dan kedip ajal?

Usia gegas lenyap ke arah kesunyian paling rajah
Tergugup kau tengadah
“Duh, hamba yang sendiri. Berlalu kah ia mengalun langkah
Jauh melayar umur, tanpa disertaimu Baginda?’’

Kenduri kami dipenuhi sedu dan separuh isak tertahan
Lewat berapa lama tak sudah-sudah
Melalui berapa hari ke depan tak juga berakhir
Dikenang-kenang begitu lama kepergian
Begitu jauh kau kelana kesunyian
Mengalun langkah sendiri
Begitu singkat mekar usia

Esok kita pulang, esok kita pulang
Hari yang gersang
Terlepaslah terang

2016

Soni Farid Maulana: PARA PENZIARAH


Data Buku Kumpulan Puisi:

Judul: Para Penziarah
Penulis: Soni Farid Maulana
Cetakan: I, 1987
Penerbit: Angkasa, Bandung
Tebal: x + 74 halaman (59 puisi)
ISBN:  979-404-187-4
Rencana kulit: Joko Kurnain
Sketsa: Acep Zamzam Noor

Para Penziarah terdiri dari tiga bagian: Sebuah Album (26 puisi), Para Penziarah (21 puisi), dan Krematorium Matahari (12 puisi).

Beberapa pilihan puisi Soni Farid Maulana dalam Para Penziarah

ODE BANGKAI ANJING

Merasakan sunyi (anyir darah menguap dari tubuhmu)
Matahari menyala. Musik pengantar ke kubur
Hanyalah dengung lalat. O, jangan harap orang mengaji
Mereka lupa padamu
Dengan perkasa kau menangkap maling. Mungkin di tempat lain
Orang akan membuat patungmu!  ̶  Kuhikmati deritamu.

Hidup menempuh tebing. Menghancurkan tebing
(Di lamping) cengkrik bernyanyi. Kau berhadapan dengan Amarah
Dengan angan-angan. Dibangun: tulang dan tulang
(Masih tersisa sedikit sumsum) menggairahkan nafsu!

Aku tak tahu. Di manakah kehadiranmu dihormati orang?
Tembok yang kokoh. Pagar besi menusuk langit
Rumah-rumah tak menjawabku. Aku sampaikan salam atas bunga
Ingin copot dari tangkainya. Meneduhi tubuhmu
Dari sengatan waktu. Dari sengatan waktu!

1984


PROSA CINTA

         ̶– Nina Dianawati

Aku mendengarkan percakapan burung-burung
Di dahan hatimu. Embun yang bening dalam sebuah pagi
Mengabarkan dunia yang tak ada padaku
Setelah kerling matamu menyungkup langit jiwaku. Ah, matahari
Yang berkobar. Waktu yang melenggang lewat. Senja yang padat
Oleh guguran daun. Malam. Bintang-bintang. Suara-suara alam
Mengalir dalam keheningan semestaku. Mengaji kehadiranmu.
Setiap saat menyanyikan gairah kehidupan.
Tapi pada hening mata ular, cintaku. Kenangan menjulang!

1984

Kurniawan Junaedhie: SEPASANG BIBIR DI DALAM CANGKIR


Data buku kumpulan puisi

Judul: Sepasang Bibir di Dalam Cangkir
Penulis: Kurniawan Junaedhie
Penerbit: Kosa Kata Kita, Jakarta.
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: vi + 42 halaman (36 puisi)
ISBN: 978-6028966-177
Setting/layout: Danar Satria Kinantan
Desain sampul: Azalika Avilla Adinda
Proofreader: Betsyiela Bebi Bianca

Beberapa pilihan puisi Kurniawan Junaedhie dalam Sepasang Bibir di Dalam Cangkir

IKLAN KULKAS

Hidup dalam kulkas, menyegarkan. Persis seperti bunyi
iklannya: to be cool. Aku bisa bercengkerama bersama daging,
ikan segar, buah segar, sirup, dan telur ayam. Sementara di
luar kulkas, hidup sangat busuk. Suhu yang panas
menjungkirbalikan kata-kata dan benda. Gosip jadi meja,
malu jadi lidah, lalat jadi pisau, pispot jadi bibir, Kau jadi
miauww. Orang saling menggergaji dengan kaki dengan
tombak. Lidah berjuntai-juntai, dengan pinggirannya yang
tajam di mal, atau di kafe. Padahal hidup di dalam kulkas,
menyenangkan. Kita tak perlu mandi, atau berkumur. Hidup
jadi beku. Keindahan jadi abadi. Tak ada yang tumbuh liar.
Kita tak perlu bercukur kumis atau jembut. Aku bisa bikin
pesta sendiri bersama daging, ikan segar, buah segar, sirup,
dan telur ayam. Pesta kebun? Yups, yummy, kataku, seperti
iklan kulkas

2010


BUKAN SAMBAL TERAKHIR PERSEMBAHAN ISTRI

Adik makan rendang di depan komputer. Kakak main boneka
di dalam kamar. Di dapur, istri bikin sambal kesayangan
untuk Ayah tercinta. Ini sambal terakhir yang
kupersembahkan bagimu, kata istri di dalam hati sambil
mengulek terasi. Ayah terus mengetik. Ia sedang asyik
membuat puisi. Ketika tiba di bait terakhir, Ayah
mengernyitkan dahi, ”Aku mencium harum terasi dalam
sajakku,” serunya. Beberapa meter dari situ, istri juga
terperanyak. ”Puisi cinta siapa ini di dalam sambalku?’’
tanyanya. Tapi keributan itu tersimpan dalam plafon. Di
depan komputer, di dalam piring rendang, adik terus
memainkan sendok dan garpunya. Bersama boneka kakak
menyanyi di dalam kamarnya. Ini bukan sambal terakhir yang
kupersembahkan bagimu, kata istri sambil membaca puisi.

2-2-2011

Aprinus Salam: MANTRA BUMI


Data buku kumpulan puisi

Judul: Mantra Bumi
Penulis: Aprinus Salam
Penerbit: Gambang Buku Budaya, Yogyakarta.
Cetakan: II, Maret 2017 (Cet. I: Maret 2016)
Tebal: x + 122 halaman (80 puisi)
ISBN: 978-602-73786-2-9
Desain sampul: Yopi Setia Umbara
Desain isi: Mawaidi

Mantra Bumi terdiri atas Mantra Harian (4 puisi), Mantra Tubuh (6 puisi), Mantra Pekakas (7 puisi), Mantra Tempat (12 puisi), Mantra Profesi (14 puisi), Mantra Ketika (13 puisi), Mantra Mantan (11 puisi) dan Mantra Bumi (12 puisi).

Beberapa pilihan puisi Aprinus Salam dalam Mantra Bumi

MANTRA PERGI

Kekasih, apakah ini jalan
Jalan apakah ini

Termangu di kursi pinggir taman
Mengingat peta, tertulis namamu

Di atas kertas bergambar
Mengikuti garis coretanmu
Tak berpensil
Tak berpagar
Tak berpintu

Kekasih, bukan maksud menyusuri
Jika tak batas jalan setapak

Setiap langkah, menuju dirimu
Tak ada sesat


MANTRA MANTAN DEMONSTRAN

Kulawan kau setengah mati
Di jalan-jalan, bercucur keringat dan darah
Dan air mata

Kota itu milikmu
Desa itu milikmu
Pulau itu milikmu
Gedung itu milikmu
Uang itu milikmu

Di rumahku, bapakku buta, ibuku bisu
Adikku latah, dapurku basi
Ladangku kering

Usia menjelang, tubuh melapuk
Anakku tumbuh dengan miskinku
Pagi hari kuajari mengaji
Siang kuajari peluh keringat
Malam kuajari diam

Anakku tumbuh dengan pasrahku
Pagi kuajari berkata adanya
Siang kuajari puasa
Malam kuajari kejujuran

Anakku tumbuh dengan pasrahku
Pagi kuajari baca tanda
Siang kuajari rela
Malam kuajari cinta

Tuhan,
Kini aku berdiri di sini
Sambil membaca puisi mantraku

Afrizal Malna: KALUNG DARI TEMAN


Data Buku Kumpulan Puisi

Judul: Kalung dari Teman
Penulis: Afrizal Malna
Penerbit: PT Grasindo, Jakarta
Cetakan: I, 1999
Tebal: x + 158 halaman (85 puisi)
ISBN: 979-669-547-2
Kata penutup: Dami N. Toda
Penyunting penyelia: Pamusuk Eneste
Penyunting naskah: Djony Herfan & Tri Marganingsih
Desain Sampul: A. Kunta Rahardjo
Perwajahan isi: Suwarto

Beberapa pilihan puisi Afrizal Malna dalam Kalung dari Teman

Tanaman Tahun

Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Pohon tumbuh sendiri, sapi berjalan sendiri
Kemarin aku berjanji menjengukmu
Nonton bersama
Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Tak ada halaman lain pada tubuhmu
Waktu telah jadi bentangan kain
Potongan-potongan baju, ke Selatan ke Utara
Jam 10 malam, toko-toko telah tutup
Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Siapa yang mau menunggu di sini
Orang-orang berlalu
Halaman rumah belum disapu
Semua orang datang semua orang pergi
Besok aku berjanji menjengukmu
Tanpa dirimu lagi
Di situ

1983

Sabtu, 01 Juli 2017

Asep Sambodja: BALLADA PARA NABI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Ballada Para Nabi
Penulis : Asep Sambodja
Penerbit : Bukupop, Jakarta.
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : vi + 126 halaman (46 puisi)
ISBN : 979-1012-09-1
Perwajahan : Nanok K.
Gambar sampul karya Nadhifa Ditya Ardacandra

Beberapa pilihan puisi Asep Sambodja dalam Ballada Para Nabi

Pada Sebuah Kata

rahasia yang tak pernah terungkap
adalah kata
yang melahirkan kita ke bumi jelata


Ismail dan Sumur Zamzam

sarah, istri ibrahim yang cantik
dan setia
merasa kasihan pada ibrahim
karena mereka tak punya anak
meski usia senja

sarah izinkan suaminya
menikahi hajar, yang
selama ini membantu mereka

tak lama lahirlah ismail
anak ini demikian lucu
ibrahim sangat sayang padanya
hampir setiap hari
perhatian ibrahim tertuju pada hajar
dan anak semata wayang

sarah pun cemburu
ia minta ibrahim
menjauhkan hajar dan ismail
dari dirinya
ia tak tahan mendengar
tangis bayi

ibrahim, hajar, dan ismail
tinggalkan palestina
menuju ke sebuah lembah

di tengah gurun yang panas
unta yang mereka naiki
tak mau berjalan lagi
mungkin ini pertanda
hajar dan ismail
harus ditinggal di tempat itu
dengan berat hati
dan doa yang dalam
ibrahim pun kembali

di bawah terik matahari
ismail menangis
karena lapar
karena haus
kerongkongan kering

hajar tak bisa menyusui
karena susunya pun
kering

hajar berlari
dari bukit shafa ke bukit marwah
bolak-balik
hingga tujuh kali
hingga letih sekali
tapi air tak juga ditemukan
pada saat itulah
datang malaikat jibril membantu
dari bekas telapak kakinya
muncullah sumber air zamzam

air itu terus mengucur
para kafilah yang berlalu
di tempat itu
senantiasa mampir minum
dan banyak yang bermukim
di kota itu, makkah
begitu pun burung-burung
turun ke sumur
sekadar mampir minum

air zamzam itu terus mengalir
hingga kini