Pengantar Bulan Agustus 2014

Bulan ini, ada serangkum sajak dari Sujiwo Tejo dan Agus Noor, kemudian ada Nanang Suryadi dengan Biar!, Muhammad Syamsuddin dengan Percakapan: Antara Hujan dan Daun, Isnaini Shaleh dengan A, syair-syair gubahan Nizami Ganjavi dalam buku klasik Laila & Majnun, Acep Zamzam Noor dengan Tulisan pada Tembok dan Jamal T. Suryanata dengan Kitab Cinta. Salam puisi.

Selasa, 05 Agustus 2014

KITAB CINTA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Kitab Cinta (Sajak-sajak 2003-2013)
Penulis : Jamal T. Suryanata
Cetakan : I, Mei 2014
Penerbit : Skripta Cendekia, Banjarbaru
Tebal : x + 124 halaman (88 puisi)
ISBN : 979-17092-5-4

Beberapa pilihan puisi Jamal T. Suryanata dalam Kitab Cinta

Tahajud Cinta

ingin kutulis tentangmu seribu kali lagi
lalu kulafalkan namamu hingga tak ada
yang berubah kecuali kebutaanku sendiri
yang kian nanar memandangi tubuhmu
seperti kata para pemuja, wahai kegilaanku

pedang mabukku masih terhunus tajam
untuk menusuk dalam-dalam ke jantungmu
tapi diammu lebih kupilih sebagai kawan
aku ingin berteduh dalam damai senja ini
mengapa tak kita biarkan hati bernyanyi?

dan tikar sembahyang itu sudah terhampar
menyediakan mimpi bagi jiwa yang lelah
tapi penawaran surga-neraka silih berganti
mendatangi kita di beranda-beranda sunyi
bukankah iblis bersumpah tak pernah mati?

maka biarlah aku terus memuja cintamu
lalu menepi di setiap rindu menyapa sepi
aku tahu, engkau selalu memanggilku
dan tak pernah menolak keluh keliaranku
karena kasihmu mendahului murkamu

2013

TULISAN PADA TEMBOK




 Data buku kumpulan puisi

Judul : Tulisan pada Tembok
Penulis : Acep Zamzam Noor
Cetakan : I, Oktober 2011
Penerbit : Komodo Books, Depok
Tebal : 108 halaman (87 puisi)
ISBN : 978-602-9137-10-1
Foto sampul : Orlando Lienasas
Desain sampul : Tugas Suprianto

Beberapa pilihan puisi Acep Zamzam Noor dalam Tulisan pada Tembok

Tulisan pada Tembok
Buat Padwa Tuqan

Semuanya belum juga menepi. Kapal-kapal di samudera
Pesawat-pesawat di udara, panser-panser di jalanan
Di medan-medan pertikaian. Dan abad-abad yang bergulir
Tahun-tahun yang mengalir, musim-musim yang anyir
Entah kapan berakhir. “Dilarang kencing!” seekor anjing
Menyalak pada dunia. Langit nampak masih membara
Hujan bom di mana-mana. Terdengar tangis bayi
Jerit para pengungsi. Tak henti-henti –
Bukankah seratus Hadiah Nobel telah diobral
Dan seribu perundingan digelar? Tapi di manakah
Perdamaian? Masih adakah perdamaian itu? Semuanya
Belum mau menepi, belum mau melabuhkan diri

Lalu kapan menepi? Kapan akan melabuhkan diri? Kapal-kapal
Kehilangan pelabuhan, pesawat-pesawat kehilangan landasan
Panser-panser kehilangan terminal. Peluru-peluru berdesingan
Berita-berita berhamburan, pidato-pidato tak terbendung
Maklumat-maklumat, fatwa-fatwa, slogan-slogan
Konferensi-konferensi, seminar-seminar
Meledakkan udara. Membakar seluruh cakrawala
Tapi kekuasaan terus berderap seperti sepatu
Seperti langkah waktu. Kekuasaan semakin menderu
“Dilarang kencing di sini, bangsat!” seekor anjing
Kembali menyalak pada tembok-tembok kota
Yang sering dikencingi polisi dan tentara

LAILA & MAJNUN



 

Data buku

Judul : Laila dan Majnun
Penulis : Nizami Ganjavi
Versi Arab : Qays bin al Mulawah, Majnun Layla
Versi Inggris : Laili and Majnun: A Poem
Disadur bebas oleh : Sholeh Gisymar
Penerjemah Arab : Ust. Salim Bazmul
Penerjemah Inggris : Manda Milawati A.
Pewajah Cover : Salim
Pewajah isi : Narto A.
Cetakan : II, Februari 2008 (cet. I: 2007)
Penerbit : Babul Hikmah, Surakarta
Tebal : xvi + 180 halaman
ISBN : 978-979-16131-2-5

Penuhi cawanmu dengan cinta yang tidak pernah berubah. Penuhi ia dengan cinta abadi. Cinta yang dimurnikan dengan penderitaan duniawi, sebab kelak akan mendapat berkah cahaya abadi.”
(Paragraf penutup Laila & Majnun)

Beberapa pilihan puisi (syair-syair) gubahan Nizami Ganjavi dalam buku Laila dan Majnun

Berlalu Masa

Berlalu masa, saat orang-orang meminta pertolongan padaku
Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan
mengabarkan rahasia jiwaku pada Layla?
Wahai Layla, Cinta telah membuatku lemah tak berdaya
Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak
memiliki harta
Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan
Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,
berserak bagai pecahan kaca
Begitulah cinta yang engkau bawa padaku
Dan kini hatiku telah hancur binasa
Hingga orang-orang memanggilku si dungu yang suka
merintih dan menangis
Mereka mengatakan aku telah tersesat
Duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan
Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan
diterpa panas mentari
Bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak
bisa memejamkan mata
Remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta?

(Bab II, hlm. 10, situasi ketika nyala api asmara dalam hati Qays mulai berkobar dan kebiasaannya kini hanya melamun dan merangkai syair)

A





Data buku kumpulan puisi

Judul : A
Penulis : Isnaini Shaleh
Publikasi : I, Desember 2010
Penerbit : self publising
Tebal : 18 halaman .pdf (29 puisi)
 
Beberapa pilihan puisi Isnaini Shaleh dalam A

Amandit

Sungai amandit
Meliuk seperti ular
Berwarna kopi susu
Melewati hijau daun
Membentur batu terjal
Membelah jantung kota Kandangan
Membawa bangkai hutan


Terbalik

Atas jadi bawah
Bawah jadi atas
Baik jadi buruk
Buruk jadi baik
Penjahat ingin jadi pejabat
Pejabat malah jadi penjahat
Binatang ingin jadi manusia
Manusia malah jadi binatang
Karena nurani jadi nafsu

BIAR!




Data buku kumpulan puisi

Judul : Biar!
Penulis : Nanang Suryadi
Penerbit : Indie Book Corner, Yogyakarta
Cetakan : I, 2011
Tebal versi ebook : 88 halaman pdf (83 puisi)

Beberapa pilihan puisi Nanang Suryadi dalam Biar!

Burung Kata-Kata

jutaan kata melesat ke angkasa
terbang tak tentu sampai ke mana

(jutaan burung kata-kata menyerbu langit mencari arah pulang menabrak mega-mega menabrak atmosfir menabrak bulan menabrak bintang menabrak nebula menabrak meteor menabrak asteroid menabrak lubang hitam)

--- di mana tahta Sang Raja kata-kata?


Seekor Naga

seekor naga, mengamuk
menggeliat deras di dalam dada
waktu bergoncang-goncang
di moncong uap panas sembur api ludahnya

panasnya tak henti mendidihkan semesta
menderaskan airmata api
mempuingkan segala ingin, hingga arang, hingga abu
dalam diri

dalam diri, seekor naga mengamuk
meminta sesaji puisi

PERCAKAPAN: ANTARA HUJAN DAN DAUN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Percakapan: Antara Hujan dan Daun
Penulis : Muhammad Syamsuddin
Publikasi : I, 2014
Penerbit : -
Tebal : 123 halaman .pdf (100 judul puisi)

Catatan : merupakan kumpulan puisi yang pernah dipublikasikan di Kompasiana antara 16 Januari 2014 s.d. 8 Mei 2014

Beberapa pilihan puisi Muhammad Syamsuddin dalam Percakapan: Antara Hujan dan Daun

Percakapan dengan Tarian Sufi

tarian, ini gerakan melingkar jenis apa lagi?
o, aku butuh akurasi kecepatan berputar tanpa henti
agar aku rela terlepas dari tarikan gravitasi diri.

Bandung, 6 Februari 2014


Percakapan dengan Hujan

hujan, apa kabar?
seperti biasanya kau hanya tersenyum,
dan secara rahasia kau tebarkan harapan.

Bandung, 7 Nopember 2013


Percakapan dengan Angin

angin, kemana lagi arah hembusan ritualmu?
o, entahlah, aku hanya menyempurnakan
sisa hitungan tasbihku.

Bandung, 26 Januari 2014

SERANGKUM SAJAK AGUS NOOR



 


Data buku kumpulan puisi

Judul : [Bukan] Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan
Penulis : Agus Noor
Cetakan : -
Penerbit : -
Tebal : -
ISBN : -

Beberapa pilihan puisi Agus Noor dalam blognya

Delapan Kwatrin Kelopak Bunga

1
kau melihat kelopak bunga mengapung
di selokan rumahsakit.
“aih,” katamu,” ia bagai nyawa bayi yang dibuang,
dan menjerit.”

2
malam hari, dalam mimpimu,
kelopak bunga itu tumbuh berkilauan, bersih seperti
wajahmu semasih bayi.
kau, juga tiktok jam itu, perlahan saling tersedu.

3
kau petik bunga  yang tumbuh dalam mimpimu itu,
iseng kau tanggalkan kelopaknya, satu per satu.
kau dengar ada yang mengaduh,
ketika kelopak itu runtuh

4                    
lalu kau bayangkan: alangkah tenang
kelopak bunga itu melayang,
seakan jatuh dari ketiadaan,
kemudian mengapung di selokan

5
tiba-tiba, kamar dipenuhi guguran kelopak
bunga. ada harum yang menyebar
bersama angin yang menyelusup masuk,
dan membuatmu gemetar

6
hanya ada kau, Aku dan kelopak bunga
di kamar. tapi kau yakin: ada
yang sedang diam-diam menatap kita
dengan pandangan berkaca-kaca

7
seperti kau dengar – nun di luar kamar sana
ada yang bersabda: jadilah. maka tumbuhlah
sekuntum bunga. kau berkata: gugurlah,
maka runtuhlah seluruh duka

8
pada pagi saat kau melihat kelopak bunga
mengapung di selokan rumahsakit, kau pun merasa:
                                                      waktu telah tiba.
tergenapkanlah duka

2012

PUISI-PUISI SUJIWO TEJO




Data buku kumpulan puisi

Judul : Takon Wong (hehe…bercanda)
Penulis : Sujiwo Tejo
Penerbit : -
Cetakan : -
Tebal : -

(catatan: Saya tak ngerti hakikat lagu, tapi kadang merasa ada lirik-liriknya yang terasa puitis. Dan untuk merayakannya, lirik-lirik puitis itu saya hadirkan di sini sembari dengan bodoh mengatakan bahwa itu juga puisi!) 

Beberapa pilihan puisi Sujiwo Tejo

Dhandanggula Sidoasih

Permintaanku wahai kekasih
Selalu bersama-sama
Di ruang dan waktu
Tak berjarak meski cuma sehelai rambut
Kalau jauh dekat di hati
Kalau dekat berpandangan
Begitu sejatinya asmara
Seperti mimi dan mintuno
Ayo bersama melakukan panggilan sosial
Cinta kita berdua tak bermakna jika tak menjalarkan cinta pada sesama

Selasa, 01 Juli 2014

MALAM SEKOPI SUNYI





Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Malam Sekopi Sunyi
Penulis : Ekohm Abiyasa
Penerbit : Mozaik Indie Publisher, Malang, Jawa Timur
Cetakan : I, April 2013
Tebal : 102 hlm, (60 puisi)
ISBN: 978-602-17659-9-9
Layout dan Desain sampul : Yudhi Herwibowo
Gambar : Lucia Dwi Elvira
Pengantar : Ihwan Hariyanto

Beberapa pilihan puisi Ekohm Abiyasa dalam Malam Sekopi Sunyi

Malam

kopi, hujan, puisi dan mantra ajaib
menuju malam yang ghaib

Jakal KM 14 Yogyakarta, 03 November 2012 


Sekopi

sehitam kopi menjamahi malam
menuju kopi rindu yang hitam

Ruang Maya, 07 Juni 2012 


Sunyi

sunyi tak beratur ini
sepertinya masih ingin mempermainkanku saja
aku ingin membunuhnya
sekali saja
menuju kesunyian abadi

Karanganyar-Solo, 24 April 2009


Sepi Selalu Tahu Cara Mendengungkan Puisi
: Lucia Dwi Elvira

puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu

hujan yang bersendawa
menguliti rindu berkeping
di antara kesunyian mata kita
jiwa-jiwa terkikis beralaskan hening

dan datanglah para perangkai kata-kata, katamu

penabur sunyi
paling puisi

sepiku adalah sepimu
rinduku adalah rindumu
di gigir rona jingga berpadu
meruntuhkan dingin rindu beku
selama kita hening menuju

pada getir malam yang semakin mengendapkan ruang semu

puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu
sepi selalu tahu cara mendengungkan puisi, kataku

Ruang Maya,Jakal KM 14 Yogyakarta, 24 Oktober 2012

SENANDUNG HIDUP


 


Data buku kumpulan puisi

Judul : Senandung Hidup, Sajak-sajak 1935-1941.
Penulis : Samadi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Cetakan : II, 1975 (cetakan I: Medan, 1941)
Tebal : 70 halaman (48 puisi)
Gambar jilid : A. Wakidjan
Dicetak oleh Fa Aries Lima, Jakarta

Beberapa pilihan puisi Samadi dalam Senandung Hidup

Niat Hati
Kepada pemimpin rakyat

Kalau niat telah terbuhul,
Akan berkurban memimpin rakyat,
Tentu tuan tidak akan mundur,
Lantaran senang atau melarat.

Kalau hanya senang dicita,
Tidak sungguh akan berbakti,
Datang senang, bangsapun lupa,
Datang susah, tuanpun lari.

Niat hati laksana biji,
Apa ditanam, itu yang tumbuh,
Coba tanamkan biji kenari,
Tidak kan jadi sepohon sauh


Hanya ‘nak Tahu Bahwa tak Tahu

Selangkah maju ke padang ilmu,
Seribu kali bertambah dungu,
Habislah rambut mencari ilmu,
Hanya ‘nak tahu, bahwa tak tahu.


Hidup

Ketika lahir disambut ebang,
Ketika mati dilepas salat,
Antara azan dengan sembahyang,
Wahai hidup, alangkah singkat!

Datang ke dunia telanjang bulat,
Pulang hanya berkain kafan,
Jangan ke alam hati tertambat,
Alam tak dapat menolong badan!