Pengantar Bulan Februari 2015

Bulan ini, hadir menyapa kita sepilihan puisi Jimmy Maruli Alfian dari kumpulan Puan Kecubung, Iyut Fitra dengan Dongeng-dongeng Tua, Arahmaiani dengan Roh Terasing, Helwatin Najwa dengan Melintas Mega Jingga, Bambang Widiatmoko dengan Kota Tanpa Bunga, dan Frans Nadjira dengan Jendela Jadikan Sajak. Salam Puisi.

Senin, 02 Februari 2015

JENDELA JADIKAN SAJAK




Data buku kumpulan puisi

Judul : Jendela Jadikan Sajak
Penulis : Frans Nadjira
Cetakan : I, April 2003
Penerbit : Padma, Yogyakarta.
Tebal : 104 halaman (44 puisi)
Sampul dan isi: Aris Sunandar
Pengantar 1: Arif B. Prasetyo
Pengantar 2: Thomas M. Hunter Jr. (diterjemahkan oleh M. Bundhowi)

Jendela Jadikan Sajak terdiri atas 2 bagian, yaitu Jendela (23 sajak) dan Jadikan Sajak (21 sajak)

Beberapa pilihan puisi Frans Nadjira dalam Jendela

Ngigau

Gemerisik hujankah itu atau
sesuatu yang jahat mengintai
dari atap seng menaburkan pilu
mencabuti tali-tali transfusi?

Aku tak senang cara kau memandangku
dan berniat bersembunyi di balik punggungku.

          Beri aku air, beri aku api
          kuda liar dan kelewang para nabi.

Lihat,
          tanganku
          bagai tanah
          perawan-perawan menari di atasnya.

Lihat,
          ringannya
          melayang bagai kapas
          menjadi biri-biri dan gembala-gembala
          gembala-gembala tanah biri-biri kapas.

Aku tanah
Rohku kapas.

KOTA TANPA BUNGA



Data buku kumpulan puisi

Judul : Kota Tanpa Bunga
Penulis : Bambang Widiatmoko
Cetakan : I, 2008
Penerbit : bukupop, Jakarta.
Tebal : viii + 116 halaman (109 puisi)
ISBN : 978-979-1012-29-4
Perwajahan : Nanok K.
Rancangan sampul : Jeffry Surya

Beberapa pilihan puisi Bambang Widiatmoko dalam Kota Tanpa Bunga

Danau Tahai

Ada yang tak pernah berubah
Air danau yang hitam
Serupa bayangan matahari berpendar
Di atas jembatan kayu yang panjang
Terasa benar bedanya – alam terasa lapang

Air yang hitam mencipta keteduhan
Seperti bola matamu – terasa teduh
Karena belantara kehidupan telah kau tempuh
Dengan jiwa yang tak sempat mengeluh
Menghanyutkan diriku ke dasar danau
Dalam pusaran cinta – tapi terasa sia-sia


Taman Siring

Pusaran air sungai Barito
Begitu menakutkan
Seperti daya magis yang dipancarkan
Daun-daun tersedot entah menuju ke mana

Malam berjalan perlahan di Marabahan
Pucat cahaya bulan, pucat pula
Kehidupan dalam alunan sungai yang dalam
Entah bagi cinta, masihkan terasa sia-sia?

Malam ini aku tetap setia
Mempermainkan kata, mempermainkan
Pedang menancap sukma
Jika cinta bicara, angin ikut tertawa

MELINTAS MEGA JINGGA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Melintas Mega Jingga
Penulis : Helwatin Najwa
Cetakan : I, Januari 2015
Penerbit : Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) Kotabaru bekerjasama dengan 
SMKN 1 Kotabaru.
Tebal : xx + 96 halaman (80 puisi)
ISBN : 978-602-1048-08-5
Editor : Akhmad Sekhu (sekaligus menulis pengantar)
Photo cover : M.Z. Ambia Samawi
Desain cover & isi : Rony, Sosiawan Leak

Beberapa pilihan puisi Helwatin Najwa dalam Melintas Mega Jingga

Sebuah Sungai di Belakang Rumah

Sungai Benawa di belakang rumahku
Airnya bening tempat minum mandi dan cuci
Di kanan kiri tertambat lanting-lanting berjamban
Anak tangga berkelok menjadi jembatannya
Pohon lua dan rumpun bambu menghias tepinya
Kadangkala orang-orang dari bukit lewat membawa rakit
Berlapis-lapis penuh buah dan sayuran
Ada tapir di belakang rumahku penahan arusnya
yang keruh kala air di gunung meratus meluap
yang katanya membawa buaya besar dalam raba*nya

Sungai Benawa di belakang rumahku
Sesekali kotor oleh limbah pabrik getah dari hulu sungai
Namun aliran hitam dan bau itu tidak terasa mengganggu
Masih ada bagian lain yang tetap jernih untuk direnangi
Setiap hari aku mandi, bermain mencari udang di sela lanting
agar pandai berenang dan tahan menyelam
Sampai gemeletuk dagu dan bibir membiru
Sampai kakiku digigit buntal

Sungai Benawa di belakang rumahku
Kini engkau tak jernih lagi
Tak kulihat anak-anak berenang dan bermain di airmu
Lanting berjamban tak lagi penuh canda
Bergoyang lemah dalam riak sepimu
Lengkung mengering di atas airmu yang dangkal
Dihiasi sisa keramba yang koyak terdampar sunyi

Sungai Benawa di belakang rumahku
Apakah luapan air dari gunung sudah tak mampu lagi kau tahan
Hingga tebingmu tergerus arus sisakan tojolan akar-akar pohon lua
Dan rumpun bambu lirih senandungkan duka
Hutan munti hutan bungur tak lagi mampu menjagamu
Bahkan meratus pun tak peduli denganmu
Tapi wangi aroma lua’mu masih dapat kuhirup
Tali tambatanmu masih dapat kugenggam erat
Saat kakiku menapak tangga menuju lantingmu
Saat airmu sejuk membasuh wajahku
Saat aku sadar bahwa aku tetap cinta padamu

Barabai, Oktober 2008
* raba = sampah yang hanyut terbawa banjir

ROH TERASING




Data buku kumpulan puisi

Judul : Roh Terasing
Penulis : Arahmaiani
Cetakan : I, Februari 2004
Penerbit : Bentang Budaya, Yogyakarta.
Tebal : xx + 161 halaman (94 puisi)
ISBN : 979-3062-63-0
Perancang sampul : Buldanul Khuri
Gambar sampul : Arahmaiani
Pemeriksa aksara : Winarti
Penata aksara : Agus W.
Prolog : St. Sunardi

Roh Terasing terdiri dari  empat bagian, yaitu Meninggalkan Rumah (19 puisi), Dalam Perjalanan (29 puisi), Waktu Sendiri (26 puisi) dan Ketika Ingin Pulang (20 puisi)

Setiap kali kubuka mata/Selalu kulihat tanah di bawah sini, langit di atas sana/Setiap kali aku tertawa/Selalu diikuti tetes airmata

 (Sajak Daun Nangka dan Pintu-pintu Terbuka, Arahmaiani)

Beberapa pilihan puisi Arahmaiani dalam Roh Terasing

Komposisi

Tadi malam
Mentari musim semi
Menyusup ke dalam mimpi
Menyinari kamarku
Gelap berdebu

Sinar merayapi
Kelokan-kelokan renungan
Di relung-relung kokoh sejarah
Catatan peristiwa-peristiwa

Impianku memasung tubuh
Di ruang tak bertepi
Ingatan masa lalu
Terbang
Melayang
Lintasi Pasifik – Atlantik
Pentatonik – diatonik
Pagoda – piramida

Tubuhku tergeletak
Tak berdaya
Didera rindu
Berlumut dan berdebu

Jerit kereta malam di Amsterdam
Ciptakan satu komposisi
Nada sepi
Merobek lamunan
Tirai penglihatan

Amsterdam, 1992

DONGENG-DONGENG TUA




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Dongeng-dongeng Tua
Penulis : Iyut Fitra
Cetakan : I, Januari 2009
Penerbit : AKAR Indonesia, Yogyakarta.
Tebal : 138 halaman (70 judul puisi)
ISBN : 978-979-19004-3-0
Supervisi : Joni Ariadinata
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Setting : Adi Samawa
Desain cover : Nur Wahida Idris
Gambar cover : diolah dari lukisan “Yang Abadi”, (145x160), acrilik, 2007 dan Instalasi “lets come here to comfortable”, 2007 karya Dalbo Swarimbawa

sungguah cilako jalan basimpang/awak sairiang dipisahkannyo
(Sajak Palayaran, Iyut Fitra)

Beberapa pilihan puisi Iyut Fitra dalam Dongeng-dongeng Tua

Yang Berjalan ke Dalam Kelam

kelak, bila suaraku tak lagi kau dengar
di rabun malam. di jalan-jalan sebelum menempuh kota
hanya kan terlihat para pengemis kecil meringkuk. meminta
bulan jatuh
atau bintang
untuk selimut dari takdir yang gigil
dan aku, adalah penyair gagal membaca peta negeri ini

atau bila puisi-puisiku tak lagi menggetarkan jiwamu
karena sepanjang waktu kau lewati. hanya lagu-lagu muram
senandung bocah kehilangan angan. kehilangan rumah
dan harapan
tergadai dalam rusuh dan keruh
maka kata-kata
adalah serpih sesia teronggok di pinggir jalan

saat kesepian saja bisa kau baca
mungkin aku. atau syair-syairku tengah berjalan
ke dalam kelam

Payakumbuh, 2006

PUAN KECUBUNG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Puan Kecubung
Penulis : Jimmy Maruli Alfian
Cetakan : I, Februari 2009
Penerbit : KataKita, Depok.
Tebal : 100 halaman (49 puisi)
ISBN : 978-979-3778-54-9
Editor : Sitok Srengenge
Penyelia Aksara : Wikan Satriati
Penata Letak : Cyprianus Jaya Napiun
Perangcang Sampul : M. Iksaka Banu

Puan Kecubung terdiri atas 3 bagian, yaitu Sebelum Berangkat (7 puisi), Bukit Fatima (35 puisi) dan Jalan Pulang (7 puisi)

Beberapa pilihan puisi Jimmy Maruli Alfian dalam Puan Kecubung

Surat Buat Sulaiman

pada sebuah pokok jambu saya pernah melihatmu berbincang
dengan sekelompok semut sedang memintal sarang. Waktu
itu, matahari masih susup oleh kabut dan satu dua daun uzur
jatuh tersungkur karena lamur.

apa yang kalian bincangkan, Sulaiman? Mengapa tak mengajak
saya saja berdiskusi sambil nonton telenovela? Bila ingin, saya
mau sua di samping tangga taman gembiraloka

beberapa menit saja dari Jogja

oh ya, sebenarnya apa arti perang menurutmu? Sebab di
sana tak lagi ada kupu, bahkan banyak perempuan menangis
karena derap sepatu. Bayangkan, bulan memar kerena sepi
melebar dan rama-rama acap liar lantaran banyak anak terkena
sampar.

dan manakala nanti jatuh hujan januari, gigil makin berdenting
di jemari, maka kita harus jumpa, di samping tangga taman
gembiraloka

beberapa menit saja dari Jogja

2000

Kamis, 01 Januari 2015

BIUS DOA DI KM 48




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Bius Doa di Km 48
Penulis : Abdurrahman El Husaini
Cetakan : I, Desember 2013
Penerbit : Scripta Cendekia, Banjarbaru.
Tebal : xii + 116 halaman (98 judul puisi)
ISBN : 979-17199-9-3
Pengantar : Dewi Alfianti Pratama

Beberapa pilihan puisi Abdurrahman El Husaini dalam Bius Doa di Km 48

Tentang Pulang

Pulanglah kata-kata
Ke rumah kamus puisimu yang purba
Untuk mencari bisa sebuah makna
Pada bahasa-bahasa yang telah berkhianat dengan kejujuran
Pada kalimat-kalimat yang telah bersekutu dengan kemunafikan
Pulanglah kata-kata
Ke rumah kamus puisimu yang purba
Untuk mencari bisa sebuah makna
Pada laki-laki yang bernama: MUHAMMAD!


Petuah Jiwa

Wahai mata yang buta akan keindahan, melihatlah
Wahai telinga yang tuli akan kemerduan, mendengarlah
Wahai mulut yang bisu akan kebenaran, bicaralah
Wahai hati yang beku akan kejujuran, berbisiklah
Wahai tangan yang buntung akan ketulusan, merentanglah
Wahai kaki yang pincang akan kebebasan, melangkahlah
Sebelum kokok ayam
Sebelum matahari terbit
Sebelum perahu umurmu merapat di dermaga sunyi

AKU MENGUNYAH CAHAYA BULAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Aku Mengunyah Cahaya Bulan, 56 Puisi Pilihan (1974-2004)
Penulis : Dharmadi
Penerbit : bukulaela, Yogyakarta.
Cetakan : I, November 2004
Tebal : 103 halaman (56 puisi)
ISBN : 979-96590-26-4
Editor : Abdul Wachid B.S. (sekaligus menulis Epilog)
Prolog : Yudiono KS
Lukisan Sampul : Hadi Wijaya
Rancang sampul : Hief

Beberapa pilihan puisi Dharmadi dalam Aku Mengunyah Cahaya Bulan

Di Sisi Jenazah di Bibir Liang Kubur

diukur-ukur, direntang-rentang
dipotong-potong, selembar kain kafan
aku bayangkan; membungkus ragaku
dimandikan dengan ramuan wewangian

masihkan bisa menghapus dosa-dosa?

ruh telah pergi tak mau berpaling lagi
sendiri, tak lagi mau kembali
aku bayangkan; tentang jarak perjalanan
jauhnya, tak lagi terduga

di pundak pelayat jasad ditinggikan sesaat
di liang kubur jasad dikembalikan ke asal-usul

sepotong kayu atau selempeng batu
sebagai nisan hanya pertanda

di sini ada yang dikembalikan
ke balik bumi

aku pun kembali ke jalan sendiri
mencari hakekat hidup sehari-hari

sebelum mati

1995

99 PUISIKU




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : 99 Puisiku
Penulis : Ngurah Parsua
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : Lembaga Seniman Indonesia Bali (LESIBA), Bali.
Tebal : xvi + 132 halaman (99 judul puisi)
ISBN : 978-979-15268-2-1
Desain sampul dan buku : MDR, KT
Percetakan : Swasta Nulus
Prolog : Jiwa Atmaja
Epilog : Putu Arya Tirtawirya

99 Puisiku terbagi atas tiga bagian, yaitu Puisiku (2001-2004, 47 puisi), Puisiku Hari Ini (1999-2000, 38 puisi), Pada Puisi (1972-1998, 14 puisi)

Beberapa pilihan puisi Ngurah Parsua dalam 99 Puisiku

Pada Puisi

kepedihan luka, mengembara ke batas dunia
sayap tak pernah jemu dan layu
kepak pikiran, gairah, burung mungil terbang
dalam sunyi, pembicaraan dini hari

penghibur lelahku, diamlah duka, tidur saja
dalam puisi ini, rebahkan tubuh kering dan pahit kaku
tatap langit biru senandungkan isi hati
haru tergenang di kelopak mata
istirahat dari huru-hara

kutulis cermin sendiri, mengasah pedang
mesiu, memberi selamat kepada saudara
dendam dengki kasih sayangku, kebanggaan
dan kesombonganku
keserakahan, ketercelaan pikiran burukku
memberi selamat kepada derita
tabahlah, dunia kecil jatuh
ke tangan kesedihan

rebahlah, tidur paling nyenyak
esoknya mendaki pegunungan himalaya
pulang dan mengembara
menyeberangi selat malaka
teduhnya rumah sendiri
pada puisi

Denpasar, 1979

NOSTALGI = TRANSENDENSI




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Nostalgi = Transendensi
Penulis : Toeti Heraty
Cetakan : I, 1995
Penerbit : PT. Grasindo, Jakarta.
Percetakan : PT. Gramedia Jakarta
Perwajahan : Albertus Swandaru
Sampul depan : Kunta Rahardjo
Tebal : xiv + 123 halaman (78 judul puisi)
ISBN : 979-553-483-1
Kata pengantar : Budi Darma

Beberapa pilihan puisi Toeti Heraty dalam Nostalgi = Transendensi

Cocktail Party

meluruskan kain-baju dahulu
meletakkan lekat sanggul rapi
lembut ikal rambut di dahi
            pertarungan dapat dimulai
berlomba dengan waktu
dengan kebosanan, apa lagi
            pertaruhan ilusi
seutas benang dalam taufan
amuk badai antara insan

taufan? ah, siapa
yang masih peduli
tertawa kecil, menggigit jari adalah
            perasaan yang dikebiri
kedahsyatan hanya untuk dewa-dewa
tapi deru api unggun atas
            tanah tandus kering
angin liar, cambukan halilintar
            mengiringi

perempuan seram yang kuhadapi, dengan
garis alis dan cemooh tajam
            tertawa lantang –
aku terjebak, gelas anggur di tangan
tersenyum sabar pengecut menyamar –
ruang menggema
dengan gumam hormat, sapa-menyapa
dengan mengibas pelangi perempuan
itu pergi, hadirin mengagumi

mengapa tergoncang oleh cemas
dalam-dalam menghela napas, lemas
            hadapi saingan dalam arena?
kata orang hanya maut pisahkan cinta
tapi hidup merenggut, malahan maut
            harapan semu tempat bertemu

itu pun hanya kalau kau setuju
keasingan yang mempesona, segala
tersayang yang telah hilang –
penenggelaman
dalam akrab dan lelap
kepanjangan mimpi tanpa derita
dan amuk badai antara insan?
gumam, senyum dan berjabatan tangan

MAX HAVELAAR



  
Data buku

Judul : Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda
Penulis : Multatuli (adalah nama samaran dari Eduard Douwes Dekker 1820-1887, yang bermakna = aku telah banyak menderita)
Tahun terbit buku : 1860
Penerjemah: H.B. Jassin (langsung dari Bahasa Belanda)
Penerbit : Djambatan, Jakarta.
Cetakan : IX, 2005 (Cet. I: 1972)
Percetakan : Ikrar Mandiriabadi
Tebal : xxi + 359 halaman
ISBN : 979-428-586-2
Pendahuluan dan Anotasi : Dr. Gerard Termorshuizen

“Ya, aku bakal dibaca!//Jikalau tujuan itu tercapai, maka puaslah aku. Sebab aku bukan hendak menulis baik,… aku hendak menulis begitu rupa, sehingga didengar, dan seperti orang yang berteriak :’tangkap maling itu!’ tidak perduli gaya ia menyampaikan ucapannya yang spontan kepada publik itu, maka akupun tidak perduli bagaimana orang menanggapi cara aku meneriakkan: ‘tangkap maling itu!’.// Buku itu isinya aneka macam, tidak beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk, tidak nampak keahlian;…tidak ada bakat, tidak ada metode…. //Baik, baik,… semuanya itu benar,… tapi orang Jawa dianiaya!//Sebab, orang tidak bisa membantah maksud utama karyaku.”
(Multatuli, hlm 347)

Puisi-puisi dalam buku Max Havelaar karangan Multatuli alias Eduard Douwes Dekker

Kembalikan Dulu Ibuku Padaku

      Ibu, jauh memang tempat ku lahir,
Negeri tempat kulihat cahaya mentari,
Airmataku berlinang pertama kali,
      Kau besarkan aku dalam bimbingan;
      Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin
Penuh kasih sayang seorang ibu
Setia kau mendampingiku
      Kau angkat jika ku jatuh; –
Nasib kejam memutus hubungan kita
      Tapi hanya lahirnya saja…
Sendiri aku berdiri di pantai asing
      Seorang diri,… dan Tuhan…

Namun, ibu, apapun menggelisahkan hati,
      Yang menyenangkan maupun menyedihkan
Janganlah ragu cintanya beta
      Cinta puteramu di dalam hati!

Belum ada empat tahun yang silam
      Aku berdiri penghabisan kali nun di sana
      Tanpa kata di tepi pantai
Menatap jauh ke masa depan;
      Kubayangkan segala yang indah
Yang menunggu di masa depan,
Kelecehkan masa kini dengan berani
      Kuciptakan surga firdausi;
      Hatiku tak gentar menempuh jalan
      Melanda segala hambatan,
Yang melintang di depan mata,
Ku rasa dunia bahagia semata…