Pengantar Bulan SEPTEMBER 2017

Pengantar Bulan SEPTEMBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 04 September 2017

Sus S. Hardjono: MELATI BERDARAH


 Data Kumpulan Puisi

Judul Buku: Melati Berdarah
Penulis: Sus S. Hardjono
Penyunting: Sosiawan Leak
Penerbit: Forum Sastra Surakarta, Solo
Cetakan: I, 2012
Tebal: 113 halaman (111 puisi)
ISBN : 978-979-185-367-5

Melati Berdarah ini ditulis untuk menghimpun beberapa puisi yang tercecer dan belum sempat dibukukan. Buku ini menghimpun puisi Sus S. Hardjono di awal karir menulis puisi, yaitu awal tahun 1990-an sampai tahun 2000-an.

Beberapa pilihan puisi Sus S. Hardjono dalam Melati Berdarah

SAAT KABUT TURUN

Burung burung berkicauan
Senyum beberapa wanita
Yang membawa bakul di pundaknya

Simfoni desa yang melewati gunung
Musim menggugurkan kabut
Bunga bunga tebu menjulai
Saat batang batang pagi
Mulai datang

Perempuan yang menyimpan daya
Pada kaki kaki perkasa
Dan akar akar yang menambat di nadinya
Buat merebut cinta kasih

Walau bulan enggan turun
Padahal gelombang telah
Lama datang datang menjemputnya
Kembali

Apakah dunia semanis orchestra
Lagu romantik anak remaja

Sragen, 26 Mei 1992

Dedet Setiadi: LIRIK SEBATAS HUJAN


Data Kumpulan Puisi

Judul Buku: Lirik Sebatas Hujan
(Sajak-sajak Dedet Setiadi  Tahun 2012-2017)
Penulis: Dedet Setiadi
Penerbit : Tuas Media, Kalimantan Selatan
Cetakan: Pertama, Juli, 2017
Tebal: 208 halaman (198 puisi)
ISBN: 978-602-7514-45-4

Beberapa pilihan puisi Dedet Setiadi dalam Lirik Sebatas Hujan

MERPATI BALAP

dengan kokoh cucuk hitamku
aku merawat bulu yang berwarna megan mangsi

bacaanku kitab terbang
hafal jurus pacu lesat kepak sayap-sayapku

aku merapal ilmu
yang mengajarkan terbang bagai peluru

bulu penjawat adalah kekuatanku
mata mengkilat adalah pelisir tuju ke arah titik jatuhku

aku bukan petarung
tapi kemenangan adalah hidupku

sebab kekalahan adalah petaka
dan itu tidak kumau!

aku bertarung untuk silsilah telor
bukan medali atau piagam penghargaan

Magelang, 2012
*dimuat di Kedaulatan Rakyat, 30 Sept 2012

Wawan Kurn: PERSINGGAHAN PERANGAI SEPI


Data buku kumpulan puisi

Judul: Persinggahan Perangai Sepi
Penulis: Wawan Kurn
Penerbit: Garudhawaca, Yogyakarta.
Cetakan: I, November 2013
Tebal: x + 102 halaman (86 puisi)
ISBN: 978-602-7949-13-3
Cover, lay out: Wawan Kurn

Persinggahan Perangai Sepi terdiri atas Membaca Mimpi-mimpi (30 puisi), Persinggahan Kata-kata (28 puisi) dan Dipimpin Puisi (28 puisi).

Beberapa pilihan puisi Wawan Kurn dalam Persinggahan Perangai Sepi

Suburlah

aku ingin membangun
pohon pencakar langit;
Mari menebang gedung-gedung
yang telah tumbuh subur
di kota kita masing-masing


Air Mata

Air mata tumbuh, tulus memandang langit
di pipimu bersandar waktu
dan mengalir akar-akar kehidupan
menyalakan matamu,
hujan memeluk air matamu

air mata jatuh, rindu kepada risau
di mata kekasih bertumpu harap
dan tumbuh akar dalam tanah
menghidupkan tubuh
langit memandang

Djoko Saryono: ARUNG CINTA


Data buku kumpulan puisi

Judul: Arung Cinta
Penulis: Djoko Saryono
Penerbit: Pelangi Sastra, Malang.
Bekerjasama dengan Kafe Pustaka Malang dan
Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Malang
Cetakan: I, November 2015
Tebal: x + 146 halaman (94 puisi)
ISBN: 978-602-73516-1-5
Penggambar sampul: Yulius “Benu” Nugroho Putra
Perancang sampul, penata letak: Alra Ramadhan

Kurangilah sifat bertanya-tanya: selalu rayakan cinta! (Makrifat Cinta, hlm. 65)

Beberapa pilihan puisi Djoko Saryono dalam Arung Cinta

JEJAK

kutatah rindu di hulu kenang bersamamu
kuukir syahdu di bayang ingat denganmu
dan kutemu jalan syahdu berjumpa dirimu

kulukis cinta di cawan cita bersamamu
kugambar asmara di gelas nikmat denganmu
dan kugapai jalan khusyuk bersatu dirimu

maka aku kini meniada di dalam dunia
lantaran dunia menjelma sebagai dirimu
maka aku kini mengada di dalam dirimu
karena dirimu juga merupa sebagai aku


KESADARAN

/1/
jikalau resah menyamun dada
tersebab gelegak nafsu dunia
sadarilah keberadaan raga
usaplah lembut sepenuh cinta
kau temukan diri sebagai sediakala

/2/
telah kemana saja kau cari sukacita?
kau paksakan raga mencari ke sudut dunia
kau kehendaki hati menanya tiap manusia
kau rumuskan begitu banyak cita-cita fana
kau pancang pengharapan tiada terkira
dan kau peroleh kesedihan semata

ingatlah, sukacita mukim di keheningan
cuma berkawan dengan kewelas-asihan
kenapa kau abaikan – kenapa tak kau tunaikan?

Malang, akhir Agustus 2012

Herry Gendut Janarto: GADO-GADO KREDO


Data buku kumpulan puisi

Judul: Gado-gado Kredo, 101 Puisi Humor
Penulis: Herry Gendut Janarto
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.
Cetakan: I, Agustus 2016
Tebal: xxiii + 156 halaman (101 puisi)
ISBN: 978-602-424-140-7
Penyunting: Candra Gautama
Perancang sampul: Wendie Artswenda
Penata letak isi: Leopold Adi Surya
Ilustrasi sampul dan isi: Agus Suwage
Ilustrasi sampul depan: Over Smilling (2000),
Cat minyak di atas kanvas, 100 x 100 cm.
Pengantar: Arswendo Atmowiloto

Manusia berpikir, Tuhan pun tertawa (Milan Kundera, hlm. ix)

Beberapa pilihan puisi Herry Gendut Janarto dalam Gado-gado Kredo

Asal Ngocol, 2

Semua orang tentu ingin bisa masuk surga
Namun baru masuk angin sudah mengeluh


Sepak Bola, I

Brasil sungguh gaya berjuluk Tim Samba
Argentina lihai amat ber-Tango ria
Italia dengan catenaccio berjaya
Jerman sang Panser perkasa
Spanyol top ber-tiki taka
Kita, teka-teki semata


Kerabat Dekat

Sesat sesaat itu nikmat
Nikmat sesaat itu sesat
Sesat dan nikmat memang kerabat dekat


Mandiri

Jalan sendiri
Berharap sendiri
Masuk ATM sendiri
Meringis sendiri
Bokek sendiri

Rabu, 02 Agustus 2017

Muhammad Daffa: TALKIN


Data buku kumpulan puisi

Judul: Talkin
Penulis: Muhammad Daffa
Penerbit: Teras Budaya, Jakarta Selatan.
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal: viii + 68 halaman (53 puisi)
ISBN: 978-602-1226-74-2
Desain cover: Teras Budaya Art

Beberapa pilihan puisi Muhammad Daffa dalam Talkin

PADA SEBUAH KEMARAU PUTIH

Tempiaslah kemarau dari robeknya musim hujan di penghujung
            suatu bulan
Tempiaslah musim dari udara tegak
Merapat pada cuaca di hari ini

Begitu putihnya ia, betapa putih kemarau itu mengayunmu ke
pelukan abadi
Tidak kunjung dilepasnya.

Pada sebuah musim lainnya, kau akan mengeja makna adanya
Tumbuh mengekang hari
Suara dari dunia lain yang terasing
Tak dikenal sebagai apa pun

Tempiaslah kemarau ke jantung
Lepaslah hujan dari sela-selanya

Betapa putih, betapa putihnya ia
Mengada ruang di tubuhmu, seketika bersimpuh
Mengingat dosa lama tak diampun Tuan

Tempiaslah segala
Dari kubangan kemarau

Tempiaslah; suara-suara

2016


TALKIN

Seseorang berdoa di sebuah mihrab. Ie mendengar bunyi asing
Mungkin angin, yang mengepak dekat jendela. Utas doanya
begitu putih dieja
Sumringah sewaktu melihat senyum terakhir simpul. Berduka
Ketika ada mata rabun diangsur-angsur kematian

Kemarin hari, di panggung bawah langit sana
Kata-kata yang disusunnya masih bening
Terucap dan dilantun sebagai nyanyi

Sebentar kau mengelana jauh
Singkat berjalan memanggul usia
Prahara mana mengelabuimu
Di ujung cerlang
Dan kedip ajal?

Usia gegas lenyap ke arah kesunyian paling rajah
Tergugup kau tengadah
“Duh, hamba yang sendiri. Berlalu kah ia mengalun langkah
Jauh melayar umur, tanpa disertaimu Baginda?’’

Kenduri kami dipenuhi sedu dan separuh isak tertahan
Lewat berapa lama tak sudah-sudah
Melalui berapa hari ke depan tak juga berakhir
Dikenang-kenang begitu lama kepergian
Begitu jauh kau kelana kesunyian
Mengalun langkah sendiri
Begitu singkat mekar usia

Esok kita pulang, esok kita pulang
Hari yang gersang
Terlepaslah terang

2016

Soni Farid Maulana: PARA PENZIARAH


Data Buku Kumpulan Puisi:

Judul: Para Penziarah
Penulis: Soni Farid Maulana
Cetakan: I, 1987
Penerbit: Angkasa, Bandung
Tebal: x + 74 halaman (59 puisi)
ISBN:  979-404-187-4
Rencana kulit: Joko Kurnain
Sketsa: Acep Zamzam Noor

Para Penziarah terdiri dari tiga bagian: Sebuah Album (26 puisi), Para Penziarah (21 puisi), dan Krematorium Matahari (12 puisi).

Beberapa pilihan puisi Soni Farid Maulana dalam Para Penziarah

ODE BANGKAI ANJING

Merasakan sunyi (anyir darah menguap dari tubuhmu)
Matahari menyala. Musik pengantar ke kubur
Hanyalah dengung lalat. O, jangan harap orang mengaji
Mereka lupa padamu
Dengan perkasa kau menangkap maling. Mungkin di tempat lain
Orang akan membuat patungmu!  ̶  Kuhikmati deritamu.

Hidup menempuh tebing. Menghancurkan tebing
(Di lamping) cengkrik bernyanyi. Kau berhadapan dengan Amarah
Dengan angan-angan. Dibangun: tulang dan tulang
(Masih tersisa sedikit sumsum) menggairahkan nafsu!

Aku tak tahu. Di manakah kehadiranmu dihormati orang?
Tembok yang kokoh. Pagar besi menusuk langit
Rumah-rumah tak menjawabku. Aku sampaikan salam atas bunga
Ingin copot dari tangkainya. Meneduhi tubuhmu
Dari sengatan waktu. Dari sengatan waktu!

1984


PROSA CINTA

         ̶– Nina Dianawati

Aku mendengarkan percakapan burung-burung
Di dahan hatimu. Embun yang bening dalam sebuah pagi
Mengabarkan dunia yang tak ada padaku
Setelah kerling matamu menyungkup langit jiwaku. Ah, matahari
Yang berkobar. Waktu yang melenggang lewat. Senja yang padat
Oleh guguran daun. Malam. Bintang-bintang. Suara-suara alam
Mengalir dalam keheningan semestaku. Mengaji kehadiranmu.
Setiap saat menyanyikan gairah kehidupan.
Tapi pada hening mata ular, cintaku. Kenangan menjulang!

1984

Kurniawan Junaedhie: SEPASANG BIBIR DI DALAM CANGKIR


Data buku kumpulan puisi

Judul: Sepasang Bibir di Dalam Cangkir
Penulis: Kurniawan Junaedhie
Penerbit: Kosa Kata Kita, Jakarta.
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: vi + 42 halaman (36 puisi)
ISBN: 978-6028966-177
Setting/layout: Danar Satria Kinantan
Desain sampul: Azalika Avilla Adinda
Proofreader: Betsyiela Bebi Bianca

Beberapa pilihan puisi Kurniawan Junaedhie dalam Sepasang Bibir di Dalam Cangkir

IKLAN KULKAS

Hidup dalam kulkas, menyegarkan. Persis seperti bunyi
iklannya: to be cool. Aku bisa bercengkerama bersama daging,
ikan segar, buah segar, sirup, dan telur ayam. Sementara di
luar kulkas, hidup sangat busuk. Suhu yang panas
menjungkirbalikan kata-kata dan benda. Gosip jadi meja,
malu jadi lidah, lalat jadi pisau, pispot jadi bibir, Kau jadi
miauww. Orang saling menggergaji dengan kaki dengan
tombak. Lidah berjuntai-juntai, dengan pinggirannya yang
tajam di mal, atau di kafe. Padahal hidup di dalam kulkas,
menyenangkan. Kita tak perlu mandi, atau berkumur. Hidup
jadi beku. Keindahan jadi abadi. Tak ada yang tumbuh liar.
Kita tak perlu bercukur kumis atau jembut. Aku bisa bikin
pesta sendiri bersama daging, ikan segar, buah segar, sirup,
dan telur ayam. Pesta kebun? Yups, yummy, kataku, seperti
iklan kulkas

2010


BUKAN SAMBAL TERAKHIR PERSEMBAHAN ISTRI

Adik makan rendang di depan komputer. Kakak main boneka
di dalam kamar. Di dapur, istri bikin sambal kesayangan
untuk Ayah tercinta. Ini sambal terakhir yang
kupersembahkan bagimu, kata istri di dalam hati sambil
mengulek terasi. Ayah terus mengetik. Ia sedang asyik
membuat puisi. Ketika tiba di bait terakhir, Ayah
mengernyitkan dahi, ”Aku mencium harum terasi dalam
sajakku,” serunya. Beberapa meter dari situ, istri juga
terperanyak. ”Puisi cinta siapa ini di dalam sambalku?’’
tanyanya. Tapi keributan itu tersimpan dalam plafon. Di
depan komputer, di dalam piring rendang, adik terus
memainkan sendok dan garpunya. Bersama boneka kakak
menyanyi di dalam kamarnya. Ini bukan sambal terakhir yang
kupersembahkan bagimu, kata istri sambil membaca puisi.

2-2-2011