Pengantar Bulan Juli 2014

Bulan ini, menyapa kita puisi Wiji Thukul dalam Para Jendral Marah-marah, Dedisyah dengan Sajak Perjalanan Pertama, S. Wakidjan dengan Pita Biru, Hr. Bandaharo dengan Aku Hadir di Hari Ini, Linus Suryadi Ag dengan Rumah Panggung, Samadi, -- penyair yang hilang dalam perang saudara (PRRI) di Sumatera tahun 1957-1958 -- dengan Senandung Hidup dan Ekohm Abiyasa dengan Malam Sekopi Sunyi. Salam puisi. Mohon maaf lahir batin.

Selasa, 01 Juli 2014

MALAM SEKOPI SUNYI





Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Malam Sekopi Sunyi
Penulis : Ekohm Abiyasa
Penerbit : Mozaik Indie Publisher, Malang, Jawa Timur
Cetakan : I, April 2013
Tebal : 102 hlm, (60 puisi)
ISBN: 978-602-17659-9-9
Layout dan Desain sampul : Yudhi Herwibowo
Gambar : Lucia Dwi Elvira
Pengantar : Ihwan Hariyanto

Beberapa pilihan puisi Ekohm Abiyasa dalam Malam Sekopi Sunyi

Malam

kopi, hujan, puisi dan mantra ajaib
menuju malam yang ghaib

Jakal KM 14 Yogyakarta, 03 November 2012 


Sekopi

sehitam kopi menjamahi malam
menuju kopi rindu yang hitam

Ruang Maya, 07 Juni 2012 


Sunyi

sunyi tak beratur ini
sepertinya masih ingin mempermainkanku saja
aku ingin membunuhnya
sekali saja
menuju kesunyian abadi

Karanganyar-Solo, 24 April 2009


Sepi Selalu Tahu Cara Mendengungkan Puisi
: Lucia Dwi Elvira

puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu

hujan yang bersendawa
menguliti rindu berkeping
di antara kesunyian mata kita
jiwa-jiwa terkikis beralaskan hening

dan datanglah para perangkai kata-kata, katamu

penabur sunyi
paling puisi

sepiku adalah sepimu
rinduku adalah rindumu
di gigir rona jingga berpadu
meruntuhkan dingin rindu beku
selama kita hening menuju

pada getir malam yang semakin mengendapkan ruang semu

puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu
sepi selalu tahu cara mendengungkan puisi, kataku

Ruang Maya,Jakal KM 14 Yogyakarta, 24 Oktober 2012

SENANDUNG HIDUP


 


Data buku kumpulan puisi

Judul : Senandung Hidup, Sajak-sajak 1935-1941.
Penulis : Samadi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Cetakan : II, 1975 (cetakan I: Medan, 1941)
Tebal : 70 halaman (48 puisi)
Gambar jilid : A. Wakidjan
Dicetak oleh Fa Aries Lima, Jakarta

Beberapa pilihan puisi Samadi dalam Senandung Hidup

Niat Hati
Kepada pemimpin rakyat

Kalau niat telah terbuhul,
Akan berkurban memimpin rakyat,
Tentu tuan tidak akan mundur,
Lantaran senang atau melarat.

Kalau hanya senang dicita,
Tidak sungguh akan berbakti,
Datang senang, bangsapun lupa,
Datang susah, tuanpun lari.

Niat hati laksana biji,
Apa ditanam, itu yang tumbuh,
Coba tanamkan biji kenari,
Tidak kan jadi sepohon sauh


Hanya ‘nak Tahu Bahwa tak Tahu

Selangkah maju ke padang ilmu,
Seribu kali bertambah dungu,
Habislah rambut mencari ilmu,
Hanya ‘nak tahu, bahwa tak tahu.


Hidup

Ketika lahir disambut ebang,
Ketika mati dilepas salat,
Antara azan dengan sembahyang,
Wahai hidup, alangkah singkat!

Datang ke dunia telanjang bulat,
Pulang hanya berkain kafan,
Jangan ke alam hati tertambat,
Alam tak dapat menolong badan!

RUMAH PANGGUNG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Rumah Panggung
Penulis : Linus Suryadi AG.
Penerbit : Nusa Indah, Ende, Flores, NTT.
Cetakan : I, 1988
Tebal : 161 halaman (108 puisi)
NI: 881412
Prolog : C. Bakdi Soemanto

Kumpulan puisi Rumah Panggung terdiri dari 3 bagian, yaitu Rumah Panggung (40 puisi), Malam Getsemane (30 puisi), dan Kwatrin-Kwatrin Alit (38 puisi).

Beberapa pilihan puisi Linus Suryadi AG. dalam Rumah Panggung

Kwatrin-kwatrin Pagi di Bali

(1)
Matahari bangkit di laut Jawa
Wahai! Matahari siapa pula?
Baru kemarin ia tenggelam di lepas Kuta
Sambil meliak-liukkan pohon-pohon kelapa

(2)
Mula-mula fajar cerah dingin di tanah
Membagikan uapnya ke pasir yang ramah
Tapi pantai belum terjamah kaki resah
Bocah bermain dan para turis yang singgah

(3)
Semalam laut mencucikan pantai riam
Kutahu, bangkai ayam & bunga korban
Tapi bau amis sampan & jala para nelayan
Tertambat di pasir. Angin mengusir ke pegunungan

(4)
Kau menguap melepaskan sisa kantuk
Pada riak-riak kecil air yang lengang
Kau merentak sia-sia. Kau gapai langit utara
Di batas matahari berkain sarung lurik-jingga

(5)
Merentang tangan ke laut yang terbuka
Tertangkap kepenuhan hidup dalam rasa
Tapi tak kita tahu, pisau-sunyi terbawa
Kelak, ia menggoresi tulang-tulang iga hampa

Kadisobo, 25 April 1987

AKU HADIR DI HARI INI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Aku Hadir di Hari Ini
Penulis : Hr. Bandaharo
Penerbit : Ultimus, Bandung
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : viii + 180 halaman (66 puisi)
Editor : Putu Oka Sukanta, Bilven
Desain sampul : Dhany A.
Desain buku : Bilven

Beberapa pilihan puisi Hr. Bandaharo dalam Aku Hadir di Hari Ini

Antara Dua Sungai
untuk Pai Yu-hua

I
Senja itu aku berdiri di tebing-beton Sungai Mutiara
Berapa lama sudah air ini bulak-balik ke laut?
Dia membawa duka dan suka dari muara,
derita berganti diusung dan dihanyutkan.
Kanton lahir dan tegak menjadi tua
bercermin air mengalir, pasang dan surut;
dia mengenal wajah sendiri dalam membisu
dia memikul beban tiada mengeluh.
Sudah berapa lama mesin-mesin menderu di sini?
Tanyakanlah pada air yang tak pernah membeda-bedakan,
lawan dan kawan didukungnya datang, didukungnya pergi.
Tanyakanlah pada Kanton yang membisu dan menahankan
pukulan dan hantaman sejarah yang membesarkannya.
Air sungai ini sejak dulu bercampur darah dan peluh
rakyat yang banting-tulang melanjutkan hidup diperas.
Pahlawan-pahlawan Pemberontakan Kanton sekali membalas
dan berdirilah komune selama tiga hari penuh.

Mungkin mayat-mayat pejuang pernah mengapar di sini
berkisar antara muara dan Kanton
menatap langit rendah musim rontok yang larut.
Di sini dimulai revolusi didukung dua kaki, kanan dan kiri
jatuh-bangun selama 38 tahun, akhirnya menang, tunggal dan merah.

Ketika malam mati di langit tak ada bintang
gumpalan-gumpalan awan bergerak berat menyimpan hujan
Sungai Mutiara seperti naga tidur membuntang
di sana-sini caya lampu membias di riak-air, membayang
seolah-olah sisik mengilatkan warna.
Kanton kelihatan bertambah tinggi tegak menegang
mendungak menupang langit yang akan runtuh.
Kapal-motor membawa barang kemalaman dari muara
mendengus kesaratan, sesekali menyentak menjerit panjang;
suara peluit itu terempas pada keterjalan kelam
menjadi serak dan pecah seperti lenguh sapi kelelahan.

PITA BIRU




Data buku kumpulan puisi

Judul : Pita Biru
Penulis : S. Wakidjan
Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah
Cetakan : I, 1979
Tebal : 56 halaman (30 puisi)
BP No. 2130

Catatan: Buku ini pernah diterbitkan Balai Pustaka, 1962, Djakarta. Gambar kulit oleh Mes’oet N. Joenoes

Beberapa pilihan puisi S. Wakidjan dalam Pita Biru

Ibu dan Bapak

Ada pangestu dalam sorot mata
dalam gerak bibirnya,
mengelus mesra sepanjang langkah.
Sekarang tulislah:
Kamus lengkap yang acap aku buka-buka!

Ini pengembara yang terus haus
nyeret kaki nurut bisik-bisik halus
tidak lewat di jejak kerjanya melulu,
cuma jadi tukang jual susu.

Dua manusia itu,
bagiku:
Bulan, matahari, pantai
juga lembah indah,
bisa bikin hilang lelah.

Nanti kalau uban sudah tumbuh
dan bentuk-bentuk itu sama luruh
apa mesti membisu di jalan panjang?
Tidak, tidak! Ini ada kaki untuk jalan melenggang…

SAJAK PERJALANAN PERTAMA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Sajak Perjalanan Pertama
Penulis : Dedisyah
Penerbit : Jejak Publising, Yogyakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : 99 halaman (29 puisi)
ISBN : 978-979-19552-0-1
Desain sampul : DS Priyadi
Lay-out : Abdul Jamil
Dicetak oleh : Fokusahaja Yogyakarta
Prolog : Tian Bahtiar

Beberapa pilihan puisi Dedisyah dalam Sajak Perjalanan Pertama

Aku Menuju Kepadamu

Kupu-kupu di puncak cemara,
terbang menuju panggilan cakrawala.
Langit di atas terbuka luas,
bumi diam tak terbatas.
Ratna,
tunggulah aku.
Tinggalkan masa lalu yang jauh itu.
Perjalanan adalah mencangkul jiwa
Perjalanan adalah mengolah sukma.
Seperti pasir-pasir yang gemerisik
berlarian ke teratak;
aku menuju kepadamu!

Parangtritis, Januari 2006

PARA JENDRAL MARAH-MARAH




Data buku kumpulan puisi

Judul : Para Jendral Marah-marah, - Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian -
Penulis : Wiji Thukul
Penerbit : PT. Tempo Inti Media Tbk, Jakarta (Suplemen khusus/bonus buku).
Cetakan : I, Majalah Tempo edisi 13 – 19 Mei 2013
Tebal : (49 puisi)
Ilustrasi : Yuyun Nurachman

Kumpulan puisi Para Jendral Marah-marah terdiri dari 3 bagian, yaitu Puisi Pelarian (21 puisi), Puisi Jawa (12 puisi), dan Puisi Lepas (16 puisi).

Beberapa pilihan puisi Wiji Thukul dalam Puisi Pelarian

Apa Penguasa Kira

apa penguasa kira
rakyat hidup di hari ini saja

apa penguasa kira
ingatan bisa dikubur
dan dibendung dengan moncong
tank

apa penguasa kira
selamanya ia berkuasa
tidak!
tuntutan kita akan lebih panjang
umur
ketimbang usia penguasa

derita rakyat selalu lebih tua
walau penguasa baru naik
mengganti penguasa lama

umur derita rakyat
panjangnya sepanjang umur
peradaban

umur penguasa mana
pernah melebihi tuanya umur batu
akik
yang dimuntahkan ledakan gunung
berapi?

ingatan rakyat serupa bangunan
candi
kekejaman penguasa setiap jaman
terbaca di setiap sudut dan sisi
yang menjulang tinggi

Minggu, 01 Juni 2014

GITANJALI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Gitanjali
Penulis : Rabindranath Tagore
Penerjemah : Anna Karina
Penerbit : Liris, Surabaya
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : xvi + 112 halaman (106 puisi)
ISBN : 978-602-95979-0-5
Editor bahasa : Sandiantoro
Desain sampul : Yoyok
Pemeriksa aksara : Agus Hidayat

Beberapa pilihan puisi Rabindranath Tagore dalam Gitanjali
(Puisi-puisi di buku tanpa judul, judulnya saya yang kasih, kebanyakan diambil dari baris pertama puisi)

Engkau Menciptakan Aku Tanpa Akhir

Engkau menciptakan aku tanpa akhir, itulah kesenanganmu. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi, dan kau isi selamanya dengan kehidupan yang segar.

Seruling buluh yang kecil ini kau bawa melintasi perbukitan dan ngarai, dan bernapas melaluinya kau hembuskan melodi yang selalu baru.

Pada sentuhan abadi tanganmu hati kecilku kehilangan batasnya dalam keriangan dan melahirkan ungkapan yang tak terkatakan.

Pemberianmu yang tak terbatas datang padaku hanya dalam tanganku yang sangat kecil ini. Masa-masa berlalu, masih kau tuangkan, dan di sana masih ada ruang untuk diisi