Pengantar Bulan Desember 2014

Bulan ini, hadir menyapa kita sepilihan puisi Goenawan Mohamad dalam Don Quixote,Trio Chairil Anwar, Rivai Apin dan Asrul Sani dengan Tiga Menguak Takdir, Joko Pinurbo dengan Telepon Genggam, Rida K Liamsi dengan Tempuling, D. Zawawi Imron dengan Refrein di Sudut Dam, Mochtar Lubis dengan Catatan Subversif, Rahman Arge dengan Jalan Menuju Jalan, dan sebuket puisi pegiat sastra Minggu Raya, H.E Benyamine yang dicomot dari blog Borneojarjua. Salam Puisi.

Senin, 01 Desember 2014

SEBUKET SAJAK H.E. BENYAMINE



sumber foto: Facebook, Yudhist Wira
 
Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Menulislah Saat Kau Ada (sementara itu dulu, nunggu bukunya terbit. hehe..)
Penulis: H.E. Benyamine
Jumlah puisi: 84 judul puisi (belum termasuk  satu puisi di laman “Kata Tertulis”)
Kategori puisi: 65 postingan (Sebenarnya 71 postingan, antara Postingan 3 dan 4, ada postingan tak tercatat 6 buah)
Mulai postingan 17, 1 postingan = 1 puisi
Postingan 32 = Postingan 28, Judul puisi pun sama: Saat Ku Terbangun Yang Hanya Sesaat
Rentang penulisan puisi: 11 Februari 2003 sd 27 Januari 2014

Beberapa pilihan puisi H.E. Benyamine dalam blog Borneojarjua



Rindu Yang Kumau

Rindu yang kumau tak berujung
hingga waktu menyerah bersamaku

Sejak kau tanam dirimu di hatiku
teramat bebas kerinduan menjadi

Banjarbaru, 19 Agustus 2011




Anugerah Warna

Warna ungkap penampakan berbeda
hanya melukis saat cahaya ada
selebihnya kita adalah buta
hanya keyakinan menuntun jiwa
menuju adanya yang Maha Terang

Dalam gelap hilang yang berbeda
dimana kita hanya satu yang terikat
sama dalam harapan
rasakan anugerah perbedaan
membiarkan yang lain memilih warnanya

Banjarbaru, 9 Maret 2009


Gambut

Air berdaulat dalam kubangan
Menggenang membangun hutan
Keragaman yang memikat
Menyerap dan menyimpan karbon

Kerapuhan yang penuh warna
Hancur untuk tidak kembali

Banjarbaru, 1 Mei 2003

JALAN MENUJU JALAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Jalan Menuju Jalan
Penulis : Rahman Arge
Penerbit : Rumah Karya Arge, Jakarta Timur
Cetakan : I, 2007
ISBN : 978-979-16179-1-8
Tebal : xxvi + 324 halaman (213 judul puisi)
Isi dan ilustrasi : Zulfikar Yunus, Al Ilham Rahman, Agoesth
Sampul : Lukman, Agoest
Pra cetak : Kadri Ansyari
Prolog : Prof. DR Sapardi Djoko Damono
Epilog : Agus R. Sarjono

Jalan Menuju Jalan terdiri atas tiga bagian, yaitu Jalan Menuju Jalan (158 Puisi), Tentang Jepang (27 puisi) dan Tentang Bosnia (28 puisi).

Beberapa pilihan puisi Rahman Arge dalam Jalan Menuju Jalan

Mati Bersantan

Bila kelak engkau melayari nasibmu, anakku
Ingatlah,
Kelilingi tujuh kali dapurmu
Agar cahaya memancar dari hidupmu
Keagungan lelaki merengkuhmu

-          Lelaki dari segala lelaki
-          Peziarah tanah Makassar

Lelaki…
Lelaki dari tiga ujung:
-          Merendah tapi tajam kata-kata
-          Berdiri di kemuliaan perempuan
-          Yang mencabut badik jika tak ada lagi jalan

Maka jika kelak kematian hadir, anakku
Pilih mati,
Kematian bersantan*

----------
* Kematian bersantan = kematian yang mulia
Puisi ini merupakan terjemahan dari puisi berbahasa Makassar yang dibuat oleh penyair pada 7 Desember 1964. Berikut puisi itu:

Mate Nisantangi

Punna Sallang banusomballami sarennu, anakku
Urangi
Inroirong pintuju pallunnu
Sollanna nasingara tallasaknu
Appaenteng kaburakneang
-          Buraknena buraknea
-          Pasollekna butta Mangkasara
Appasiama Tallasaka na – Matea!
Inakke!
Burakne…

Burakne cappa tallua:
-          Alusuk na tarang kana-kananna
-          Ammentenga rikalakbiranna bainea
-          Ammukbuka badik punna tenamo takammana

Napunna battumi kamateanga, anakku
Allei matea, mate nisantangi

Makassar, 7 Desember 1964

CATATAN SUBVERSIF




Data buku kumpulan puisi

Judul : Catatan Subversif (Catatan harian selama dalam tahanan rezim orde lama)
Penulis : Mochtar Lubis
Penerbit : PT. Gramedia dan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Cetakan : 1987 (cet. I oleh Penerbit Sinar Harapan, 1980)
ISBN : 979-461-006-2
Tebal : viii + 408 halaman
Disain grafis : Umbu L.P. Tanggela
Tata letak : E. Y. Harry Gah

Beberapa gubahan puisi Mochtar Lubis dalam buku Catatan Subversif

Senyum

matahari
di dinihari
mencium bukit


Rindu

api bakar nyala
ditiup angin
cakrawala


Tangis

anak burung
jatuh
diterkam kucing
di basah
embun


Di Kuburan

tanah merah
lembab
melati putih
sedu tangis
istri
seru si kecil
mana bapa?


Tembak Mati

gemuruh tembakan
merah darah
berdetik jam tangan
hidup hanyut

REFREIN DI SUDUT DAM




Data buku kumpulan puisi

Judul : Refrein di Sudut Dam
Penulis : D. Zawawi Imron
Cetakan : I, Juni 2003
Penerbit : Bentang Budaya, Yogyakarta.
Tebal : xiv + 104 halaman (100 judul puisi)
ISBN : 979-3062-88-6
Perancang sampul : Buldanul Khuri
Gambar sampul : Alfi
Pemeriksa aksara : Trie Hartini
Penata aksara: Ari Y.A.

Kenyang memang sekejap/Tapi lapar yang lain/hadir tak kenal musim//Tuhan, mohon ijinkan/lapar hakiki ini kubawa ke mana-mana
(Sajak Makan, D. Zawawi Imron)
  
Beberapa pilihan puisi D. Zawawi Imron dalam Refrein di Sudut Dam

Sebuah Syal

Pada syal yang baru kubeli
kutitipkan leherku
Bayangkan, kalau tiba-tiba
syal itu menjelma ular
Ah, musim dingin! Musim yang dingin,
Bukan sekadar rindu di hati pohon poplar
Pada ujung jarum yang bisik
tersimpan segumpal gelegar


Refrein Den Haag Sore

Seorang anak kecil
menyemburkan udara kabut
dari mulutnya yang mungil
ke arah seorang kakek

Sang kakek membalasnya
dari bawah kumisnya yang tebal

Kabut-kabut itu menyatu
di udara dingin
pusat kota Den Haag
Kabut itu tiba-tiba menjelma
seorang bidadari
yang menyanyi tentang cinta yang fitrah
tentang kesinambungan denyut darah

Bahwa yang selain bunga pun harus mekar
tanpa menunggu musim panas yang segar

TEMPULING




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Tempuling
Penulis : Rida K Liamsi
Cetakan : II, Maret 2005 (cet. I: Juni, 2002)
Penerbit : Yayasan Sagang, Pekanbaru.
Tebal : xxiii + 94 halaman (29 judul puisi)
Ilustrasi dan kulit : Asnawi KH
Kata pengantar : Hasan Junus
Laman : www.erdeka.com

Beberapa pilihan puisi Rida K Liamsi dalam Tempuling

Ode X

Ada seribu mawar
seribu merah
seribu pagi
basah

Tapi aku mau pergi
dari satu ke lain malam
Luluhkan sukma dalam gaung gaib
gua resahku
Karena seribu bunga layu
dalam genggam ku
Karena aku tak bisa berikan selamat pagi ku
pada kupu-kupu

Mawar merah
pagi yang basah
Jangan berikan selama pagi mu
: Pada bumi
yang cemburu kupu-kupu
berikan bau peluh mu

1975

TELEPON GENGGAM




Data buku kumpulan puisi

Judul : Telepon Genggam
Penulis : Joko Pinurbo
Cetakan : I, Mei 2003
Penerbit : PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta.
Percetakan : Grafika Mardi Yuana, Bogor
Tebal : xii + 80 halaman (32 judul puisi)
ISBN : 978-979-709-074-4
Editor : P. Cahanar
Desain sampul & ilustrasi : Rully Susanto
Penata teks : Irwan Suhanda
Kata pembaca : Nirwan Ahmad Arsuka
  
Beberapa pilihan puisi Joko Pinurbo dalam Telepon Genggam

Selesai Sudah Tugasku Menulis Puisi

sebab kata-kata sudah besar, sudah selesai studi, dan
mereka harus pergi cari kerja sendiri.


Selamat Ulang Tahun, Buku

Selamat ulang tahun, buku. Makin lama kau makin kaya
saja. Tambah cerdas pula. Aku saja yang tambah parah
dan sekarang mulai pelupa.

Maaf, aku tidak bisa kasih hadiah apa-apa selain
sejumlah ralat dan catatan kaki yang aku tak tahu akan
kutaruh atau kusisipkan di mana. Sebab kau sudah
pintar membaca dan meralat dirimu sendiri.

Kau bahkan sudah tidak seperti dulu ketika aku
berdarah-darah menuliskanmu. Dan aku agak curiga
jangan-jangan kau (pura-pura) pangling dengan saya.

Selamat ulang tahun, buku. Anggap saja aku kekasih
atau pacar naasmu. Panjang umur, cetak-ulang selalu!

TIGA MENGUAK TAKDIR




Data buku kumpulan puisi

Judul : Tiga Menguak Takdir
Penulis : Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani
Penerbit : PT Balai Pustaka (Persero), Jakarta
Cetakan : III, 2010 (Cet. I: 1950)
Dicetak oleh : PT Temprina Media Grafika
Penyunting : Tim editor Balai Pustaka
Penyelaras Bahasa : Denny & Mirza
Penata Letak : Liek Sakun
Desain sampul : Dimas Nurcahyo
Ilustrasi : Hartono
ISBN : 979-690-680-5
Seri BP No. 1758
Tebal : xx + 92 halaman (27 judul puisi)
Kata pengantar : Maman S. Mahayana

Tiga Menguak Takdir terdiri atas tiga bagian tak berjudul, secara berurut, Chairil Anwar (10 judul puisi), Rivai Apin (9 judul puisi), dan Asrul Sani (8 judul puisi).

Beberapa pilihan puisi Asrul Sani dalam Tiga Menguak Takdir

Surat dari Ibu

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tak pedoman,
boleh engkau datang padaku

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”

DON QUIXOTE





Data buku kumpulan puisi

Judul : Don Quixote
Penulis : Goenawan Mohamad
Penerbit : Tempo. | pt. grafiti pers
Cetakan : I, 2011
Ilustrasi : Goenawan Mohamad
Rancang grafis : Cecil Mariani
ISBN : 978-602-99643-1-8
Tebal : 84 halaman (19 puisi)

Beberapa pilihan puisi Goenawan Mohamad dalam Don Quixote

Ia Menangis

Ia
menangis
                        untuk lelaki
di atas kuda kurus yang
akhirnya sampai pada teluk
di mana fantasi adalah hijau
hujan
yang hilang ujung
di laut asing

Ia menangis
dan lelaki itu
mendengarnya.

“Aku Don Quixote de La Mancha
majenun yang mencarimu.”

Tubuhnya agak tinggi, tapi
rapuh dan tua sebenarnya.
Ia berdiri kaku.
Cinta tampak telah
menyihirnya
jadi ksatria dengan luka
di lambung.
Tapi ia menanti perempuan itu
melambai
dalam interval grimis
sebelum jalan ditutup
dan mereka mengirim polisi,
tanda waktu,
kematian.

2007

Minggu, 02 November 2014

SUBURBIA




Data buku kumpulan puisi

Judul: Suburbia
Penulis: TS Pinang
Penerbit: TITIKNOL Project
Publikasi: 1,2011
Tebal: 24 Halaman (21 puisi)
Format buku : pdf

Beberapa pilihan puisi TS Pinang dalam Suburbia

Mistika Urbana

kami berjamaah di warung-warung kopi, di sudut-sudut layar
browser, mengaji ayat-ayat yang jatuh begitu saja dari ujung-ujung
jemari. di jalanan, wajah-wajah memancarkan elektron, kaki-kaki
bergegas secepat sms dan sinar pencerahan dari mesin pencari. kami
ingin mencari nama, mencari uang, mencari suaka dari fatwa-fatwa
ulama. kami berkelana di warung-warung koneksi, di antena-antena
jaring-jaring gelombang tinggi, di mana kata dan gambar kami saling
berpapas tanpa tubuh dan nafas. kami memecah raga dan jiwa kami
berlaksa berjuta kali, datang dan pergi sejauh ai-pi. kami menemukan
diri kami sendiri, terserak di sengkarut alam bayang pita-pita
frekuensi.

kami bersuci dari debu mikro asap solar bus kota dan noda timbal,
dengan air hujan penuh limbah mineral. zikir kami nama-nama
penghibur terkini, tasbih-tasbih digital di mana kami ungkapkan
ketelanjangan kami. tetabuhan dengan ketukan kian cepat
mengiringi ekstasi kami, dan kegelapan tak lagi menakutkan. jantungjantung
kami membuka, menghisap bergiga-giga bit data dari langitlangit,
dari kabel-kabel, dari nomor-nomor akses cepat, dari atmosfer
yang kami hirup begitu saja sebagai meditasi. pendar layar kristal
menyala-nyala di dalam kami. mungkin bukan tuhan, tapi kami
temukan detak hidup kami.

adapun tuhan, tak lagi kami cari-cari.

OBSESI




 Data buku kumpulan puisi

Judul : Obsesi
Penulis : Sutan Iwan Soekri Munaf
Penerbit : Angkasa, Bandung
Cetakan : I, 1985
Illustrator : Ernawan Rahmat Salimsyah
Tebal : 81 halaman (30 puisi)
Pengantar : Saini K.M. dan Beni Setia

Buku ini terdiri dari 3 bagian yaitu Kisah Cinta Iwan Soekri (19 puisi), Catatan Tahun-tahun Lepas (9 puisi) dan Obsesi (2 puisi panjang).

Beberapa pilihan puisi Sutan Iwan Soekri Munaf dalam Obsesi

Pendurhaka
pada roedy irawan syafrullah

malinkundang itu aku
sangkuriang itu aku
dari batu dan gunung kesombongan
tinggalkan rumah cari kedamaian
yang risi
si penduka itu aku
si perindu itu aku
yang berlayar dari kubang pilu
yang diantar mentari kelabu
ingin membunuh ayahnya juga mengaguminya
ingin kembangkan citranya juga mengurungnya
batas apa dari si penduka, o malinkundang wahai!
batas apa dari si perindu, o sangkuriang wahai!
pintu kelam senantiasa menghablur – satu
lewat suara gedincak, itulah suara lagu rintihku
lewat suara getaran, itulah suara tembang-tangisku
yang tak kenal bundanya tapi mencintainya
yang tak kenal dirinya tapi mengharapkannya
dari batu dan ombak suaraku menyibak
: akulah malinkundang itu! akulah sangkuriang itu
(bunda…
kemalangan beruntun tak terhindarkan
malinkundang itu pergi-pesta ke disco-disco
sangkuriang itu terjerat di bordil-bordil
itulah aku:
yang tersenyum hampa tapi larukan semangatmu
yang menjaga lautmu, yang meronai udaramu
(dan dari batu dan gunung keingkaran
kusebut nama: tuhan!)

1979