Pengantar Bulan Mei 2015

Bulan ini, hadir menyapa kita sepilihan puisi Remy Sylado dari kumpulan Puisi Mbeling, Timur Sinar Suprabana dengan Kesiur dari Timur, Mustofa W. Hasyim dengan Telunjuk Sunan Kalijaga, Yunis Kartika dengan Kukenal Kau Lewat Malam dan Arif Bagus Prasetyo dengan Memento. Salam Puisi.

Senin, 04 Mei 2015

MEMENTO


Data buku kumpulan puisi

Judul : Memento, Puisi 1993-2008
Penulis : Arif Bagus Prasetyo
Cetakan : I, April 2009
Penerbit : Arti Foundation, Denpasar.
(Diterbitkan dengan bantuan program Widya Pataka
 Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali)
Tebal : 116 halaman (76 puisi)
ISBN : 978-979-1145-30-5
Ilustrasi sampul : “Desktop Ash Cable” karya Ronald Wigman
Desain sampul : Made Sukla Yata
Pracetak : Nyoman Krining

Memento terdiri  dari 2 bagian, yaitu Jula-juli Pejalan Tidur (2008-2000; 17 puisi) dan Inferno (1999-1993; 59 puisi)

Beberapa pilihan puisi Arif Bagus Prasetyo dalam Memento

Manhattan Blues

Ditumbuhi sulur-sulur musim gugur
Aku turun dari firdaus lantai ketujuh.

Pelancong lancung. Gentayangan sepanjang tanjung
Menghela jam dan pohon-pohon yang berdentingan

Sebening kristal-kristal November yang termangu
Kekal, di etalase Lexington Avenue.

Raung klakson lengking sirine tikam-menikam
Berkilauan dihunus hujan tengah hari.

Tak terhingga manik mata, coklat-kuning
Terserak garing sepanjang jalan. Terbengkalai

Seperti sumur-sumur mineral yang ditinggalkan
Usai kafilah menguras teluk. Dan kabilah terhempas takluk.

Di ufuk gurun, di jazirah firdaus lain, aku lihat
Matahari membanting zirah perunggunya yang berkarat.

Menara api berderak runtuh. Jelaga menjilati mangsa.
Hujan abu mencekik kanal-kanal bahasa.

Debu kelabu angin kelabu flat-flat lengang yang kelabu
Mengembara di lorong-lorong belulangku.

Raut pucat seorang darwis yang menghilang dari balkon
Untuk sesaat menyeringai dalam arus kelam Hudson.

2003

KUKENAL KAU LEWAT MALAM


Data buku kumpulan puisi

Judul : Kukenal Kau Lewat Malam
Penulis : Yunis Kartika
Cetakan : I, Januari 2005
Penerbit : bukupop, Jakarta.
Tebal : vii + 64 halaman (62 puisi); 10,5 x 15,7 cm
ISBN : 979-99943-2-2
Perwajahan : Radite C. Baskoro
Gambar sampul: Legito

Beberapa pilihan puisi Yunis Kartika dalam Kukenal Kau Lewat Malam

Teratai

teratai mengapung sendiri di telaga
seperti aku,
sendiri menikmati dini hari
dalam gelapnya kamar ini


Tunggu

sayang,
aku akan tiba di kota biru

sebelum pagi habis
meluncur di ujung gelas kopimu

Minggu, 03 Mei 2015

TELUNJUK SUNAN KALIJAGA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Telunjuk Sunan Kalijaga, Puisi-Puisi Maiyah.
Penulis : Mustofa W. Hasyim
Cetakan : I, 2013
Penerbit : Gress Publising, Yogyakarta.
Tebal : 130 halaman (44 puisi)
ISBN : 978-602-96826-7-0
Desain sampul : S. Arimba
Tata Letak : Siswanto
Pracetak : Anes Prabu

Beberapa pilihan puisi Mustofa W. Hasyim dalam Telunjuk Sunan Kalijaga

Mata Rantai Cinta yang Buntu

Truk angine mati, Kang Gareng uripno
Truk angine mati, Kang Gareng uripno

Orang Yogya mencintai Yogya
Yogya mencintai Jakarta
Jakarta mencintai Washington
Washington mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Rakyat mencintai pemimpin
Pemimpin mencintai isterinya
Isterinya mencintai rekening bank
Rekening bank mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Buruh mencintai mandor
Mandor mencintai juragan
Juragan mencintai juragan besar
Juragan besar mencintai saham
Saham mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Pedagang mencintai pasar
Pasar mencintai mantri pasar
Mantri pasar mencintai Dinas pasar
Dinas pasar mencintai kantor perdagangan
Kantor perdagangan mencintai menteri perdagangan
Menteri perdagangan mencintai impor
Impor mencintai komisi
Komisi mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Petani mencintai benih, pupuk dan racun hama
Benih, pupuk dan racun hama mencintai pedagang
Pedagang benih, pupuk dan racun hama mencintai pabrik
Pabrik mencintai direkturnya
Direktur mencintai sekretarisnya
Sekretaris mencintai atm
Atm mencintai uang
Uang mencintai dirinya sendiri

Cem cempe cem cempe undangna barat gedhe
Tak upahi duduh tape
Cem cempe cem cempe undangna barat dawa
Tak upahi banyu klapa

2011

KESIUR DARI TIMUR




Data buku kumpulan puisi

Judul : Kesiur dari Timur
Penulis : Timur Sinar Suprabana
Cetakan : I, Januari 2012
Penerbit : Katakita, Yogyakarta.
Tebal : 144 halaman (84 puisi)
ISBN : 978-979-3778-67-9
Editor & desain artistik : Sitok Srengenge
Penata letak & aplikasi desain : Cyprianus Jaya Napiun
Lukisan cover : Markaban

Beberapa pilihan puisi Timur Sinar Suprabana dalam Kesiur dari Timur

kata

kata Datang kepadaku. bertanya
: tahukah kau. o. Siapa menghuni tanda baca
justru ketika kau mengembarai huruf-huruf
yang kekal
yang selalu gagal melupa Cinta

tahukah kau
o, Siapa?


tanpa rasa Pedih

telah kuhapus kau dari mengapa aku mencintaimu
barangkali dengan perasaan seperti bagaimana guru
membusak soal-soal uraian di papan tulis dalam kelas
menjelang berganti jam pelajaran dari sastra ke matematika

telah kuseka dengan telapak tangan gemetar
menggenggam penghapus dengan sisa tenaga penghabisan
yang memucat lunglai di lengan yang tiba-tiba tak bertulang
kerna betapapun jauh kutempuh tiada yang bakal tergayuh

telah kuhapus
telah kuhapus
sebelum benar-benar pupus
kerna terhadapmu aku ini Cinta yang tak sanggup jika mesti layu

seperti selada di piring gado-gadomu yang Dulu

PUISI MBELING




Data buku kumpulan puisi

Judul : Puisi Mbeling
Penulis : Remy Sylado
Cetakan : I, Juli 2004
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta.
Dicetak : Percetakan Grafika Mardi Yuana, Bogor.
Tebal : xvi + 254 halaman (144 puisi)
ISBN : 979-91-0012-7
Desain sampul : Rully Susanto
Tata Letak : Wendie Artwenda

Kumpulan Puisi Mbeling terdiri atas empat bagian, yaitu Sebelum 1972 (21 puisi), Sepanjang 1972 (79 puisi), Setelah 1972 (27 puisi) dan Cerita-cerita Antara 1970-2003 (17 puisi).

Beberapa pilihan puisi Remy Sylado dalam Puisi Mbeling

Olahraga

olahraga
orang kota
mengangkat barbel
di fitness centre

olahraga
orang desa
memacul tanah
di sawah ladang

yang satu
mencari sehat
karena anjuran
yang lain
menemukan sehat
karena telanjur

1990



Minggu, 05 April 2015

SEPILIHAN PUISI UMBU LANDU PARANGGI



Umbu Landu Paranggi (foto: agus wiryadhi saidi, 2012)


Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : -
Penulis: Umbu Landu Paranggi
Penyunting : Wayan Sunarta
Jumlah postingan : 38 posting puisi (37 judul puisi, total 42 puisi dengan memasukkan berbagai versi)
Periode penulisan puisi: Yogyakarta (30 puisi), Bali (8 puisi)

Beberapa pilihan puisi Umbu Landu Paranggi dalam blog http://umbulanduparanggi.blogspot.com

Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
duka derita dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
korban, terima kasih, restu dan ampunan
dengan tulus setia telah melahirkan
berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

(1965)
Sumber : Tonggak 3 : Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 244). Puisi ini diambil dari Manifes, Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.

PAREWA

Data buku kumpulan puisi

Judul : Parewa
Penulis : Rusli Marzuki Saria
Cetakan : I, 1998
Penerbit : PT Grasindo, Jakarta.
Tebal : 116 halaman (148 puisi, 33 puisi di antaranya tanpa judul)
ISBN : 979-669-327-5
Desain sampul: Yusrizal KW, Padang

Parewa terbagi atas 6 (enam) bagian/kumpulan, yaitu Pada Hari Ini Pada Jantung Hari (21 puisi), Tanpa Judul (18 puisi tanpa judul), Tema-tema Kecil (45 puisi), Sendiri-sendiri Sebaris-sebaris dan Sajak-sajak Bulan Pebruari (18 puisi), Ada Ratap Ada Nyanyi (40 puisi), Ketemu Umbu Landu Paranggi (6 puisi)

Bila senja hitam ibu terisak dan menangis/Kutekurkan kepala dan ingin berbagi duka/Ibu menciumku dalam berbisik: engkau anak laki-laki perasa
(dari Sajak Terkenang Kembali, Rusli Marzuki Saria)

Beberapa pilihan puisi Rusli Marzuki Saria dalam Pada Hari Ini Pada Jantung Hari

Mereka Bawa Getah Nangka dan Senjata

hunjamkan ke hulu hati parewa lembing tajam
ketika kemarau meretak ekor kerbau, cabutlah!
di pintu rumah gedang bunda silangkan
kapur sirih tigakali

air mata duka tetes satu-satu
bunda kenangkan kepergian anak laki-laki buah rimbang
tengadah ke langit dan gerutu:
“mereka bawa getah nangka dan senjata.”

1965
Parewa: menurut KUBI, penjahat – perusuh. Dalam masyarakat Minangkabau, parewa artinya yang positif, pembawa pembaruan, lebih inovatif dan penantang arus.

SUARA KESUNYIAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Suara Kesunyian
Penulis : Korrie Layun Rampan
Cetakan : I, 1981
Penerbitan khusus : Budaya Jaya & Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta
Dicetak : Mitra Srangenge, Bandung
Tebal : 92 halaman (75 judul puisi)
Gambar jilid : Nana Banna

Suara Kesunyian terbagi atas 3 (tiga) bagian, yaitu Lagu Impian (29 puisi), Lagu Bathin (16) puisi dan Wajah Puisi (30 puisi).

Beberapa pilihan puisi Korrie Layun Rampan dalam Suara Kesunyian

Bertahan Kita dalam Ayunan Waktu

Terayun kita dalam saat, dalam terban hari
Dingin pun memekat, membasuh jasmani
Sejuta makna terlepas dari jari, raib
Menghunjam khayalmu ke wilayah ajaib

Pekik gema pun menampar ruang, rintih yang sedih
Tikaman mata belati, sayap-sayap Kasih
Engkau membayang di hati, pijaran Kata-Kata salih
Menyadarkan kita dari mimpi tidur yang letih

Bertahan kita dalam ayunan Waktu, menganyam duka Kasih
Berjalan dalam luka hari. Dalam kibaran dendam rindu

(1975)

PICNIC




Data buku kumpulan puisi

Judul : Picnic
Penulis : Karno Kartadibrata
Cetakan : I, Muharram 1430 H/Januari 2009
Penerbit : PT Kiblat Buku Utama, Bandung.
Bekerjasama dengan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS)
Tebal : 42 halaman (27 puisi)
Nomor : 289/KBU-U/2008
Gambar kulit muka : The Language of Birds karya Feeroozeh Golmohammadi

Beberapa pilihan puisi Karno Kartadibrata dalam Picnic

Corat-Coret di Tembok Kusam

“kau akan mati
di hutan sendirian
ditemani suara burung di kejauhan”

2007


Lagu Sesal

saudaraku yang sekarang tinggal nisan
kita semua tutup usia
hanya berbekal penasaran
angin membisu
surat tidak berbalas

2003

ROMANSA PERJALANAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Romansa Perjalanan
Penulis : Kirjomulyo
Cetakan : II, 2000  (cet. I, 1979)
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
Tebal : 160 halaman (73 puisi)
Gambar jilid : Amrus Natalsja
ISBN : 979-419-266-X

Romansa Perjalanan terbagi atas tiga bagian, yaitu Romansa Perjalanan I (19 puisi), Romansa Perjalanan II (11 puisi) dan Romansa Perjalanan III (Bali) (43 puisi)

Beberapa pilihan puisi Kirjomulyo dalam Romansa Perjalanan

Angin Pagi

I
Yang pertama kuingat
dan terakhir kulupakan
adalah kau Ibu

Berkali kubuat dosa dan noda
tidak kuterima
selain cinta dan air mata

Berkali ku menatap kerut Ibu
berkali jadi ngeri
bertanya dalam diri

Dengan apa menebus segala itu?

II
Yang pertama kukenal
dan yang terakhir kutinggalkan
adalah kau alam

Tak dapat ku menyebut
dengan kata apa tentang kau
tapi kaulah temanku yang terdekat

Seluruh kepunyaanmu, jiwamu sekali
melahirkan sesuatu
memimpin hati dan mimpi

Memberi sesuatu semacam cinta

Minggu, 01 Maret 2015

TANDA-TANDA YANG BIMBANG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Tanda-tanda yang Bimbang
Penulis : Ook Nugroho
Cetakan : I, Juli 2013/Sya’ban 1434 H
Penerbit : PT Kiblat Buku Utama, Bandung.
Tebal : 93 halaman (53 puisi)
ISBN : 978-979-8002-41-0
Gambar kulit muka : lukisan karya Salim “Kesepian Mawar” (2001)
dari buku Salim Pelukis Indonesia di Paris (Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, 2003)

Tanda-tanda yang Bimbang terbagi atas empat kumpulan, yaitu Separuh Puisi (18 puisi), Jagal Jumat (7 puisi), Tema Insomnia (19 puisi) dan Lampiran: Pelajaran Dasar Bermain Bidak (9 puisi)

Beberapa pilihan puisi Ook Nugroho dalam Tanda-tanda yang Bimbang

Separuh Puisi

Sebagus-bagus sajak kau tulis
Itu barulah separuh puisi, katanya

Separuhnya lagi tertahan oleh sunyi
Yang mendekapnya di hulu waktu

Kelak jika musimmu telah muara
Diaruskannya sempurna mencapai hilir

2010

MATA YANG MEMBERI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Mata yang Memberi
Penulis : Azhar
Cetakan : I, September 2005
Penerbit : Bukupop, Jakarta.
Tebal : vi + 54 halaman; 11 x 17,7 cm (53 puisi)
ISBN : 979-99370-8-6
Perwajahan : Radite C. Baskoro
Rancangan sampul : Yonas Sestakresna

Beberapa pilihan puisi Azhar dalam Mata yang Memberi

Siul Hujan

Aku pun bersiul menahan dingin hujan
Tapi sesaat kerna gubuk-gubuk
memantulkan kepedihan
Lalu kucumbu kesan rumahku
yang kena gusuran
dan kubur saudaraku
yang hilang bagi jalanan

hujan senja pun berhenti perlahan-lahan
Dan kunikmati wajahmu pada mataku
Tapi peluit kereta menyulutkan sendu
dalam riuh suara-suara
di dalam dan di atas gerbong tua

GEMURUH, PUISI DARI KALIMANTAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Gemuruh, Puisi dari Kalimantan
Penulis : Ali Syamsudin Arsi
Cetakan : I, April 2014
Penerbit : Framepublishing, Yogyakarta.
Tebal : xxii + 164 halaman; 13,5 x 20 cm (74 puisi)
ISBN : 978-979-16848-9-7
Penyelia akhir : Raudal Tanjung Banua
Desain isi dan cover : Frame-art
Gambar cover : Darvies Rasyidin
Ilustrasi : Moses Oyes
Catatan apresiasi : Dimas Arika Mihardja dan Sumasno Hadi

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi dalam Gemuruh, Puisi dari Kalimantan

Hutan Kalimantan

anak-anak riang ceria
di arena sebuah lomba

kita sekarang menggambar kembali:

hutan kita yang hilang

/asa, banjarbaru, 14 juli 2013


Sungai di Kalimantan

wahai sungai, mengalirlah sebagaimana kalian mengalir sejak lama seperti yang aku pahami dalam kekinian dan pengertianku sendiri tentang sejarah masa silam, wahai sungai, meliuklah sebagaimana engkau meliukkan badan dalam jeram-jeram dalam tebing-tebing dalam hutan-hutan, wahai sungai, di atas riakmu pula ada banyak kabar dari satu titik ke titik lain dan ketika pecahan riak menuju gelombang maka saksikanlah bahwa kecipak ikan-ikan dengan ekor selalu bergerak dari satu hentak ke hentak lainnya, wahai sungai dalam rimba belantara wahai hutan dalam gelombang dan wahai sungai dalam pijar dendam membara-bara, wahai sungai keruh yang kian membuncah-buncah, wahai sungai, atas dasar berpasir batu dan kulit kerang juga tanah liat tanah lempung campuran lumpur serta batu-batu, wahai sungai; meluaplah, meluap sampai keluh kesahmu naik di puncak ramai sampai ke pucuk tugu dan tiang-tiang bendera, wahai sungai; saksikan olehmu keangkuhan menara dan banyaknya tiang-tiang istana, istana rapuh yang ditancapkan di mana-mana atas dasar apa, wahai sungai, sampai di mana diam kita bila semua arus telah dengan sengaja disumbat di mana-mana

/asa, banjarbaru, desember, 2013