Selasa, 27 Februari 2024

Surachman R.M.: SERIBU KEKUPU

 

Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Seribu Kekupu
Penulis: Surachman R.M.
Penerbit: PT. Dunia Pustaka Jaya, Bandung, bekerjasama dengan
PT. Kiblat Buku Utama, Bandung.
Cetakan: I, Oktober 2012
Tebal: 88 halaman (62 puisi)
Perancang kulit muka: Tim kreatif Kiblat
Gambar kulit muka: lukisan karya Salim
“Wanita di Balkon” 1993,
dari buku Salim Pelukis Indonesia di Paris
(Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, Jakarta, 2003)
ISBN: 978-979-8001-23-9 (PDF)
 
Sepilihan puisi Surachman R.M. dalam Seribu Kekupu
 
GUGURITAN LANGIT
 
Lantaran langit, manisku, gebyar gemerlap dan
pengembara malam berlayar ke ujung larut
tataplah butiran jenuh cahaya. Intan berlian,
mirah delima, safir biru, akuamarin, dan zamrut
Untaian-untaian anggur, dari cemerlang
hingga samar, tersingkap tirai penghalang
Sang pohon tak terduga di mana pucuknya
dan reranting tak tersentuh di mana tampuknya
Semua disajikan bagi segenap penghuni
di bentangan semesta dan di lazuardi luas ini
Apa boleh buat jika umur sangat terbatas
kurang dari sekejap sukma pun tumpas
 
Lantaran langit, manisku, mulai pijar
dan baru saja ia mempersembahkan fajar
Apa salahnya menghirup alam teramat jernih
dengan wajah penuh kasih senantiasa bertasbih
Dari tepi daun usia, kita tadah embun subuh
biarpun setetes buat benang hayat yang rapuh
Berkafilah sebagai musafir di gurun waktu
manusia berkendara abad menafsir jejak
Mewarisi garapan dari peradaban lalu
beban amanah biar buana tambah semarak
Begitulah sejarah mengajarkan. Sejak bahari
kita cuma bersentuhan ujung-ujung jari
 
 
MEMBACA JEJAK
 
Kutemukan, di balik kerutan waktu, setumpuk
sajakku paling tua. Jejak suara
dialirkan darah. Gemuruh
deras. Meluap di aorta belia
 
Dengan harapan sederhana
mencoba menyapa dunia. Lewat kata
yang ditempa menyampaikan salam tulus
 
Kukenali, di balik sajak-sajakku paling tua, wajah
teman-teman lama. Kuhitung satu per satu
bertegur canda bertukar cerita
tentang sayap cinta atau cakrawala biru
 
Penanggalan hari ini merujuk
bilangan windu. Sejak awal memilih kata
Entah pabila sempat menuai mestika makna
 
 
MENATAP LUKISAN
 
          Hutan tak bertanda. Gunung tak bernama
Lembah yang baka dan rahasia. Begitu lirih adalah
angin merayu dunia. Dan bujuknya, ‘Kekalkan pasti
sembunyimu di balik hati yang paling sunyi…’
 
          Jam-jam semakin larut. Apa lagi yang mau
kaugali di pusaran malam yang jenuh?
Sebutir angan cukuplah. Sebagai
pencahar rindu yang tak kunjung usai.
 
 
DI ATAS SUNGAI HAN
 
< Diceritakan kembali
   ke Sabar Hulu >
 
Pepohonan sudah tidak lagi
berbunga. Musim gugur masih belum tiba
Sungai Han laju menghilir
membelah dada kotamu
Bening kulit kristalnya merekam nyala
Nyala mawar langi. Tenggelam—
dalam kian dalam
 
Satu jembatan dilewati. Jembatan
demi jembatan menghapus
sepanjang usiamu usiaku
Boleh jadi sedang bercumbu
sekian ribu pasang ikan
di bawah lunas kita
 
Kapal yang menghulu itu
mendekat, mendekat, dan berpapasan
Seorang bocah lugu tak berdosa
melambai-lambai dari buritan
Sepertinya mendamba bau lautan,
benua-benua, kota-kota…
 
Sekawanan burung berpencar
sebelum saatnya nanti
melintasi negeriku di selatan
Di atas gugusan gedung dan
puncak-puncak menara
mega-mega pun menarikan tari kipas
di pusat pentas anganku
 
Sungai Han laju mengalun
Muaramu muara kenanganku juga
 
Seoul, 1987
 
 
NAMAMU
 
< membaca Tsuboi Shigeji
    dan Richard Brautigan >
 
Maafkan aku. Selalu tak mudah
menghafal nama-nama
Kau siapa ya?
 
Tunggu
O ya. Namamu adalah
mosaik yang hilang
 
Namamu adalah
sajak tak selesai
yang disimak berulang-ulang
 
Banyak namamu aku tahu
 
Namamu
adalah burung yang meninggalkan
kawanan
 
Juga bunga matahari. Menyala
Membakar. Mekar
 
Atau surat-surat lama
yang sayang bila dibuang
 
Atau nada-nada
yang menggantung pada larasnya
 
Dan apa lagi ya?
 
Namamu adalah
naluri kijang sedang diincar
 
panah. Namamu
itulah rinduku
 
 
SUATU HARI DI NIKKO
 
1.
 
Yang besar menjulang itu
cemara raksasa. Di bawah rimbunmu
aku turut mendaki tangga sejarah
Ke-shogunan-an Tokugawa
 
Kedap segala pengaruh dan racun
bahaya. Terlindung. Kurun demi kurun
 
          Agak jauh dari mausoleum, sahabatku berkata,
‘Kerap ku mimpi dalam mimpi dan
mimpinya selala bertatawarna.’
          ‘Benarkah? Hitam putih mimpiku. Tapi
mimpiku dalam tiga bahasa. Dan
yang keempat, itulah bahasa mimpi.;
 
          Masih terbayang juga
sisa-sisa salju yang setengah beku
 
2.
 
          Inilah jejak akhir kejayaannya
Lebar terbuka pintu pembaharuan itu
mengundang dunia dan siapa saja
 
Kunikmati hawa sejuk pegunungan
Air terjun Kegon, Danau Chuzenji,
sambil merenungkan makna tersembunyi
di balik “ukiran sang kera tiga” (Tutup
rapat telingamu. Juga mulut dan matamu:
 
          Jangan asal nguping
          Jangan asal ucap
          Jangan asal intip.)
 
Tapi bisakah?
 
Tanpa terasa
senja hampir tiba…
 
1982
 
 
MELARUNG, MALAM PURNAMA*
 
For Siska
 
Meninggalkan dermaga, pelan berlayar dari hulu
membaur atau menyelinap di antara para tamu
Mengakhiri petang, langit tanpa hiasan awan
Di atas anjungan, malam dilengkapi bulan
 
Lupakanlah segala duka karena semua bersukahati
Lepaskanlah segala beban karena ada di pusaran pesta
Tari dan nyanyi silih berganti. Kita nikmati
minuman makanan yang eksotis nama dan rasanya
 
‘Tengok! Di atas tengok, tuh!’ desakmu
Balon-balon lentera kertas bertebaran di udara
Letupan kembang api berbiak: merah, hijau, dan biru
Riuh sorak sorai penonton dengan gema di rongga dada
 
Ada sembilan kuil agung di tepi sungai
yang satu dibungkus kemilau cahaya hijau
‘Itu Wat Arun,’ aku giliran bertutur
‘Dan komplek emas itu… Istana Dinasti Chakri.’
 
Saat berlabuh, peluang pun diberikan
melarung lilin, bunga, dan dupa. Bergantian
menghembuskan keinginan yang diperam hati
Tapi kekal jadi misteri
 
Nah, kapal balik haluan. Armada lilin seribu
mengalun ke hilir. Bersama bunga, doa, harapan,
armada lilin seribu menuju teluk. Menuju laut
Meninggalkan kita di buritan
 
Hanya ratu purnama yang tahu
nyala api larungan siapa melintas mulut muara
atau padam di palung jiwa. Karam,
dalam badai untung-malang kita.
 
Chao Praya River, Bangkok
November 2009
 
* Festival Loy Krathong berlangsung di purnama ke-12 dalam penanggalan tradisi Thailand. Sungai-sungai, kanal-kanal, dan danau-danau di seluruh negeri di malam tersebut semarak dengan cahaya llilin dalam krathong (wadah dari daun pisang) yang dilarung.
 
 
UPACARA PEMAKAMAN*
 
< teringat
    Rusman Sutiasumarga >
 
Dalam upacara pemakaman
aku bertemu dirinya
          tidak kusangka
Wajahnya yang setengah baya
melukiskan potret kenangan
Agak memudar bagai baju kebayanya
 
‘Aku sudah punya cucu
Anakmu berapa?’
Aku cuma ketawa tertahan
Lebih dari 20 tahun
cukup lama dalam umur manusia
 
Ketika upacara berakhir
ia berkata pula
          ‘Apa?’ desakku ingin jelas
‘Tak bakal ketemu lagi
Masa muda
          tak bakal ketemu lagi.’
 
----------
* Versi Sunda diumumkan dalam Majalah Mangle (terbit di Bandung) dengan judul “Basa Ngurebkeun” (Saat Pemakaman). Ajib Rosidi menerjemahkan versi tersebut ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Di Kuburan” dan dimuat dalam antologi Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa (Pustaka Jaya, 2001). Sedangkan puisi dalam Bahasa Indonesia versi penyair seperti tertulis di atas, dijuduli “Upacara Pemakaman”.  
 
 
KERETA PENGHABISAN
 
Mengemudikan kereta listrik ini
sang masinis, terampil sekali bukan?
Stasiun-stasiun yang disinggahi
          Semua ada di luar kepalanya
 
Jembatan dan tiang-tiang
gedung-gedung dan pepohonan
seperti memburu menyergap kita
          Kemudian terpelanting ke belakang
 
Mestinya listriknya mati tiba-tiba
kita terperangkap lama sekali
Atau kereta ini terus saja
          melingkar-lingkar mengitari bumi
 
Sungguh tak kusangka. Masinis
inilah yang memisahkan kita
sehabis hanya dua tiga kali berhenti
          Untuk selama-lamanya?
 
Sebaiknya aku jadi anak kecil dan
kereta kita jadi kereta-keretaan
berputar-putar bagai ular. Lalu kamu
          mengingatkan. ‘Nak, makan dulu ya.’
 
(Turun di Stasiun Shibuya,
Lewat Pintu Hachiko)
 
 
SAJAK
 
< teringat Ayatrohaedi >
 
Bagaikan jin, hantu dan siluman mambang
Tanpa ketukan di pintu atau pura-pura batuk
masuklah ia ke rumah. Kemudian duduk
di atas sofa dengan bantal bersulam kembang
 
Rasa kenal rasa tak kukenal, kutundukkan
kepala. Segan menatap anggun wajahnya
Di luar penghayatan betapa asal kejadiannya
ia pun merangkul-rangkul dan menyusup ke pangkuan
 
Sambil kembali lolos aku tak coba menyidik
dorongan apa mendesak kedatangannya tiba-tiba?
Persoalan semenjak bayang tampangnya musnah:
apa arti komat-kamitnya tadi lewat jalan bisik?
 
 
LEMBAH KALBU
 
Kepada Ajip Rosidi
 
Di ceruk lembah kalbu berselimut lumut
ada tempat tersembunyi untuk bersunyi. Hening
tak terganggu oleh waktu. Tenteram mengenang Kasihku.
 
Lima ratu telapak tangan permukaan batu itu. Tikar
persimpuhan buat melumat gelisah
Bersujud. Diam. Menghadap-Mu
 
Di naungan cabang-cabang dahan kemboja
Dari balik sudut paru, lapuk sarat karat
terpancar air tanah, penawar tenggorok kering
 
Hari ini bening sekali. Lain hari kumuh keruh
Kuakui jiwaku mulai berontak. Bebal. Alpa
Jiwa dina ini tanpa satu pendirian
 
Suka memuja godaan. Mengubah arah tujuan
Kasihku, ah Kasihku. Sering batin-
ku letih. Lesu terkuras tenaga
 
 
SERIBU KEKUPU
 
          Untuk Tuty, Mia, dan Firdaus
 
Kini aku tahu tentang rahasia madu
yang dilahap dari sumbernya oleh seribu kekupu
Terus telur-telur kehidupan itu bertebaran
dan berlabuh di antara anak dahan, dedaunan
 
Ada yang menari-nari. Ada yang dalam merenung
menafsirkan firasat – saat kematian itu
mustahil luput. Menggelar batik-batik sayapnya
sebelum melesat dari landasan fana terhina
 
Selaksa ulat di sudut taman tenteram sekali
merayap, melalap lembar demi lembar daun
Mengerti satu hari diri semadi. Menyepi
dalam sel waktu, sisa usia menurun.
 
Di relung insektarium aku pun ikut-ikutan
mengamati aneka kekupu. Tersemat kaku –
hijau, kuning, dadu, biru, ungu…
Siapa haru di mana ruh-ruhnya berkeliaran
 
Butterflya Farm
Penang, Malaysia
 
 
DI PROVINSI UTARA, SORE HARI
 
Daun entah keberapa puluh kali
berjatuhan lagi
Musim entah keberapa ratus kali
gonta-ganti kemudian rujuk kembali
Sejak Slauerhoff menikmati
berskating menyusur es di selokan ini
Sejak Slaurhoff tarik jangkar
menjelajah kutub puisi. Berlayar
ke luar bendungan kata dan lamunan.
 
Dataran utara maha luas, lautan maha
kering. Ditambak bukan oleh angan
Melayung mataharinya. Setia membuntuti
Semakin besar tapi semakin lesu
Begitulah aku lolos dari jejaring
kabut Groningen. Balon baja membara itu
menurun disambut ufuk yang purba. Antara Assen
dan Leeuwarden
 
          Jadi relakan saja sekali lagi
aku melukiskan flora fauna
atau peristiwa fana
Dan kilasan sekelebatan
khazanah ingatan sang pengembara
 
Seekor belibis melesat tergesa
dari balik pimping rindang
Dan nyanyian kembang-kembang tulip
hanya di taman khayali
 
 
Tentang Surachman R.M.
Kumpulan puisi Surachman R.M. antara lain Di Balik Matahari (Budaya Jaya, 1974), Seribu Kekupu (2012), Buat Sebuah Nama (manuskrip) dan Di Negeri Hirota Koki (manuskrip). Kumpulan puisi dalam bahasa Sunda Surat Kayas (Balai Pustaka, 1967), Basisir Langit (Balai Pustaka, 1976), Di Taman Larangan (Kiblat Buku Utama, 2012) dan Basa Ka Olivia (manuskrip). Puisinya juga ditemukan dalam antologi bersama seperti Tonggak 2 (ed. Linus Suryadi AG, 1987), Angkatan 66, prosa dan puisi (ed. H.B. Jassin, 1988), dll. Puisinya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Rumania. Pernah menjabat sebagai pimpinan Lembaga Negara Ombudsman RI (2008-2011), menjadi anggota perhimpunan Profesor Hukum Sedunia (World Association of Law Professors). Di buku ini, tak dijelaskan kapan dan di mana penyair lahir. Juga di mana ia menyelesaikan pendidikan.
 
 
Catatan Lain
            Nama Surachman R.M. telah lama saya mengenalnya. Sejak saya pelajar. Mungkin dikenalkan oleh Ajip Rosidi, entah melalui tulisan atau buku apa. Di dalam ingatan saya, nama penyair ini selalu terhubung dengan “Surat Kayas”. Hanya kata itu saja. Bukan dengan puisinya. Saya tak mengingat satu pun puisi dari penyair ini. Begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar