Pengantar Bulan Juli 2014

Bulan ini, menyapa kita puisi Wiji Thukul dalam Para Jendral Marah-marah, Dedisyah dengan Sajak Perjalanan Pertama, S. Wakidjan dengan Pita Biru, Hr. Bandaharo dengan Aku Hadir di Hari Ini, Linus Suryadi Ag dengan Rumah Panggung, Samadi, -- penyair yang hilang dalam perang saudara (PRRI) di Sumatera tahun 1957-1958 -- dengan Senandung Hidup dan Ekohm Abiyasa dengan Malam Sekopi Sunyi. Salam puisi. Mohon maaf lahir batin.

Kamis, 07 Juni 2012

BALLADA ORANG-ORANG TERCINTA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Ballada Orang-orang Tercinta
Penulis : Rendra
Cetakan : VII, 1993 (Cet. I, 1957)
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta (mulai cet. II, 1971)
Tebal : 52 halaman (19 judul puisi)
ISBN : 979-419-004-7
Gambar jilid : Jean Kharis

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Ballada Orang-orang Tercinta

Ballada Lelaki-lelaki Tanah Kapur

Para lelaki telah keluar di jalanan 
dengan kilatan-kilatan ujung baja 
dan kuda-kuda para penyamun 
telah tampak di perbukitan kuning 
bahasa kini adalah darah.

Di belakang pintu berpalang
tangis kanak-kanak, doa perempuan.

Tanpa menang tiada kata pulang 
pelari akan terbujur di halaman 
ditolaki bini dan pintu berkunci.

Mendatang derap kuda
dan angin bernyanyi :
-'Kan kusadap darah lelaki 
terbuka guci-guci dada baja
bagai pedagang anggur dermawan 
lelaki-lelaki rebah di jalanan
lambung terbuka dengan geram serigala!

O, bulu dada yang riap! 
Kebun anggur yang sedap!

Setengah keliling memagar 
mendekat derap kuda
lalu terdengar teriak peperangan 
dan lelaki hidup dari belati 
berlelehan air amis
mulut berbusa dan debu pada luka.

Pada kokok ayam ketiga
dan jingga langit pertama 
para lelaki melangkah ke desa 
menegak dan berbunga luka-luka 
percik-percik merah, dada-dada terbuka.

Berlumur keringat diketuk pintu.
- Siapa itu?
- Lelakimu pulang, perempuan budiman!

Perempuan-perempuan menghambur dari pintu 
menjilati luka-luka mereka 
dara-dara menembang dan berjengukan 
dari jendela.

Lurah Kudo Seto
bagai trembesi bergetah 
dengan tenang menapak 
seluruh tubuhnya merah.

Sampai di teratak
istri rebah bergantung pada kaki
dan pada anak lelakinya ia berkata: 
- Anak lanang yang tunggal!
kubawakan belati kepala penyamun bagimu 
ini, tersimpan di daging dada kanan.



Tangis

Ke mana larinya anak tercinta
yang diburu segenap penduduk kota? 
Paman Doblang! Paman Doblang!

la lari membawa dosa
tangannya dilumuri cemar noda 
tangisnya menyusupi belukar di rimba.

Sejak semalam orang kota menembaki 
dengan dendam tuntutan mati 
dan ia lari membawa diri. 
Seluruh subuh, seluruh pagi.

Paman Doblang! Paman Doblang! 
Ke mana larinya anak tercinta 
di padang lalang mana
di bukit kapur mana
mengapa tak lari di riba bunda?

Paman Doblang! Paman Doblang! 
Pesankan padanya dengan angin kemarau 
ibunya yang tua menunggu di dangau.

Kalau lebar nganga lukanya 
mulut bunda 'kan mengucupnya.

Kalau kotor warna jiwanya 
ibu cuci di lubuk hati.

Cuma ibu yang bisa mengerti 
ia membunuh tak dengan hati.

Kalau memang hauskan darah manusia 
suruhlah minum darah ibunya.

Paman Doblang! Paman Doblang! 
Katakan, ibunya selalu berdoa. 
Kalau ia 'kan mati jauh di rimba 
suruh ingat marhum bapanya 
yang di sorga, di imannya.

Dan di dangau ini ibunya menanti 
dengan rambut putih dan debar hati.

Paman Doblang! Paman Doblang! 
Kalau di rimba rembulan pudar duka 
katakan, itulah wajah ibunya.


Perempuan Sial

la terbaring di taman tua
pestol di tangan dan lubang di jidatnya

Mereka menemuinya tanpa dukacita 
dan angin bau karat tembaga.

Mulutnya menggigit berahi layu 
bunga biru dan berbau.

Matanya tidak juga pejam 
lain mimpi, lain digenggam.

Ah, tubuhnva! Ah, rambutnya! 
Tempat tidur tersia suami tua.

Bunga bagai dia diasuh angin 
oleh nasib jatuh ke riba lelaki tua dingin.

Nizar yang menopangnva dari kelayuan 
perempuan bagai bunga, lelaki bagai dahan.

Lelaki muda itu bertolak tinggalkan dia 
tersisa jantung dan hati dari timah.

la terbaring di taman tua
pestol di tangan dan lubang di jidatnva.

Suaminya yang tua berkata:
- Farida, engkau ini perempuan sial!


Ada Tilgram Tiba Senja

(Ada tilgram tiba senja 
dari pusar kota yang gila 
disemat di dada bunda).

(BUNDA, LETIHKU TANDAS KE TULANG
ANAKDA KEMBALI PULANG).

Kapuk randu! Kapuk randu! 
Selembut tudung cendawan 
kuncup-kuncup di hatiku
pada mengembang bemerkahan.

Dulu ketika pamit mengembara 
kuberi ia kuda bapanya 
berwarna sawo muda 
cepat larinya
jauh perginya.

Dulu masanya rontok asam jawa 
untuk apa kurontokkan air mata? 
cepat larinya
jauh perginya.

Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
menghunjam ke rimba dan pusar kota.

Tinggal bunda di rumah menepuki dada 
melepas hari tua, melepas doa-doa 
cepat larinya
jauh perginya.

Elang yang gugur tergeletak 
elang yang gugur terebah 
satu harapku pada anak
ingat 'kan pulang 'pabila lelah.

Kecilnya dulu meremasi susuku 
kini letih pulang ke ibu 
hatiku tersedu
hatiku tersedu.

Bunga randu! Bunga randu! 
Anakku lanang kembali kupangku.

Darah, o, darah
ia pun lelah
dan mengerti artinya rumah.

Rumah mungil berjendela dua 
serta bunga di bendulnya 
bukankah itu mesra?

Ada podang pulang ke sarang, 
tembangnya panjang berulang-ulang 
- Pulang ya pulang, hai petualang!

Ketapang. Ketapang yang kembang 
berumpun di dekat perigi tua 
anakku datang, anakku pulang 
kembali kucium, kembali kuriba.


Balada Ibu yang Dibunuh

Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan
harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
oleh lengking pekik yang lebih menggigilkan
pucuk-pucuk daun
tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang meski rampas rejeki hariannya
ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur
pula dedaun tua.

Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin
Tenggara.

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa
tanpa dukungan satu dosa. Tanpa.


Gerilya
 
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan.

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau 
bendungan keluh dan bencana.

Tubuh biru
tatapan mata biru 
lelaki terguling di jalan.

Dengan tujuh lubang pelor 
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda 
melepas kasumatnya.

Gadis berjalan di subuh merah 
dengan sayur-mayur di punggung 
melihatnya pertama.

la beri jeritan manis 
dan duka daun wortel.

Tubuh biru
tatapan mata biru 
lelaki terguling di jalan.

Orang-orang kampung mengenalnya 
anak janda berambut ombak
 ditimba air bergantang-gantang
 disiram atas tubuhnya.

Tubuh biru
tatapan mata biru 
lelaki terguling di jalan.

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam 
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya


Ballada Lelaki yang Luka
 
Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, Mama! 
Akan disatukan dirinya 
dengan angin gunung. 
Sempoyongan tubuh kerbau 
menyobek perut sepi. 
Dan wajah para bunda 
Bagai bulan redup putih.

Ajal! Ajal!
Betapa pulas tidurnya
di relung pengap dalam! 
Siapa akan diserunya? 
Siapa leluhurnya? 
Lelaki yang luka
melekat di punggung kuda.

Tiada sumur bagai lukanya. 
Tiada dalam bagai pedihnya. 
Dan asap belerang 
menyapu kedua mata.
Betapa kan dikenalnya bulan?
Betapa kan bisa menyusu dari awan? 
Lelaki yang luka
tiada tahu kata dan bunga.

Pergilah lelaki yang luka
tiada berarah, anak dari angin. 
Tiada tahu siapa dirinya 
didaki segala gunung tua. 
Siapa kan beri akhir padanya? 
Menapak kaki-kaki kuda 
menapak atas dada-dada bunda.

Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, Mama! 
Meratap di tempat-tempat sepi. 
Dan di dada:
betapa parahnya.


Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut burni
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para 
mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu 
surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

Segenap warga desa mengepung hutan itu
dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo 
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang 
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya 
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal! 
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. 
Majulah Joko Pandan! Di mana ia? 
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang 
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang.

- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala.

- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan 
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam 
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ke tiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka 
pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang 
la telah membunuh bapanya.


Ballada Gadisnya Jamil, Si Jagoan

Begitu ia masuk ke dalam kali 
perawan dengan dada-dada pepaya. 
Sebab kedua matanya 
telah ia tatapkan pada bulan 
dan terkaca pada segala 
hidup bukan lagi miliknya.

- Jamil! Jamil!
Bahkan pandang terakhir
tiada aku diberinya. 
Punahlah sudah punah 
lelaki yang hidup dari luka. 
Kerbau jantan paling liar 
memberi gila di dada berbunga.

Begitu ia masuk ke dalam kali 
ikan larikan kail di rabunya 
di pusaran putih
segala tuba.

- Jamil! Jamil!
Amis darah di mulutnya
kukulum keraknya kini. 
Jamil! jamil! 
Bersuluh obor
mereka mengejarnya 
setelah ia bunuh
anak lurah di pesta.
Dan tikaman paling dendam 
melepas dahaga hitam 
pada tubuhnya yang capai.

Si dara menatap bulan di air 
didengarnya bisik arus gaib. 
Begitu ia masuk ke dalam kali.

Tiada kemboja di sini
dan gagak-gagak dilekati timah 
pada mata-matanya.

Lala! Nana!
Tembang malam dan duka cita! 
Angin di pucuk-pucuk mangga. 
Tapi siapa 'kan nyanyi untuknya?


Ballada Sumilah
 
Tubuhnya lilin tersimpan di keranda 
tapi halusnya putih pergi kembara.

Datang yang berkabar bau kemboja 
dari sepotong bumi keramat di bukit 
makan dari bau kemenyan.

Sumilah!
Rintihnva tersebar selebar tujuh desa 
dan di ujung setiap rintih diserunya 
- Samijo! Samijo!

Bulan akan berkerut wajahnva
dan angin takut nyuruki atap jerami
seluruh kandungan malam pada tahu
roh Surnilah meratap dikungkung rindunya
pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka 
begini mulanya:
Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan
ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya
dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama 
malam muntahkan serdadu Belanda dari Utara.

Tumpah darah lelaki
o kuntum-kuntum delima ditebas belati 
dan para pemuda beribukan hutan jati 
tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

Demi hati berumahkan tanah ibu
dan pancuran tempat bercinta
Samijo berperang dan mewarnai malam 
dengan kuntum-kuntum darah
perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

Terkunci pintu jendela
gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada 
ngeri mengepung hidup hari-hari

Segala perang adalah keturunan dendam
sumber air pancar yang merah 
bebunga berwarna nafsu
dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja 
reruntuklah sernua merunduk 
bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu 
dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai 
kerna musuh tahu benar arti darah 
memberi minum dari sumber tumpah ruah
nyawanya kijang diburu terengah-engah.

Waktu siang mentari menyadap peluh
dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Ali 
di satu semak menggumpal daging perawan 
maka diserunya bersama derasnya darah: 
- Siapa kamu?
- Daku Sumilah daku mendukung duka!
Belanda berbulu itu membongkar pintu
dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia. 
- Duhai diperkosanva dikau anak perawan!
- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi! 
Takutku punya dorongan tak tersangka 
tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur. 
- O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah 
koyak-moyak bajumu muntahkan dadamu 
lenyaplah segala kerna tiada lagi kau punya
bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra, 
- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri 
di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya.

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri 
noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati 
lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya 
dan Samijo kerahkan segenap butir darah 
lebih setan daripada segala kerbau jantan.

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih 
antara bebatang jati dengan rambut tergerai 
Sumilah yang malang mendamba Samijonya
menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

Satu tokoh menonggak di tempat luang
dan berseru dengan nada api nyala: 
- Berhenti! Sebut namamu!

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah: 
- Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku. 
Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu. 
- Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati! 
- Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

Bulan keramik putih tanpa darah
warna jingga adalah mata Samijo 
menatap ia dan menatap amat tajamnya.

- Padamkan jingga apimu. Padamkan! 
Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

Bulan keramik putih bagai pisau cukur 
sayati awan dan malam yang selalu meratap 
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

- Samijo, ambil tetesan darahku pertama
akan terkecap daraku putih, daramu seorang 
Batang demi batang adalah balutan kesepian 
malam mengempa segala terperah sendat napas 
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

- Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu
kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada. 
Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam.

Wama pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata: 
- Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu, 
jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa 
aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan 
lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati 
tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

Sedihlah yang bercinta kerna pisah
lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya 
dan segalanya itu tak 'kan padam.

Kokok avam jantan esoknya bukanlah tanda menang 
adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang 
karena warga desa jumpai mayat Samijo
nemani guguran talok depan tangsi Belanda.

Merataplah semua meratap
kerna yang mati menggenggam dendam
di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia.

Kerna dendamnya siksa airmatanya terus kembara 
menatap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya
dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa 
gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

Sumilah! Sumilah!
Tubuhnya lilin tersimpan di keranda 
tapi halusnya putih pergi kembara 
rintihnya tersebar selebar tujuh desa 
dan di ujung setiap rintih diserunya: 
- Samijo! Samijo!
Matamu tuan begitu dingin dan kejam 
pisau baja yang mengorek noda dari dada 
dari tapak tanganmu angin napas neraka 
mendera hatiku berguling lepas dari rongga 
bulan jingga, telaga kepundan jingga 
ranting-ranting pokok ara 
terbencana darahku segala jingga 
Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!


Tentang Rendra
Bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun. Pendidikan  SMA St. Josef, Solo.  Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967). Kumpulan puisinya antara lain Ballada Orang-Orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Sajak-sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak, Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, Pamphleten van een Dichter, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Disebabkan Oleh Angin, Orang Orang Rangkasbitung, Rendra: Ballads and Blues Poem, State of Emergency. Penghargaan yang pernah diterima : Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996), Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Hal lain
Sebagaimana ada yang pertama, maka ada yang terakhir. Maka saya ingin juga menyajikan puisi yang oleh banyak pihak disebut-sebut sebagai puisi terakhir Rendra. Puisi ini tak diberi judul. Ditulis tangan saat dirawat karena penyakit jantung koroner di RS Mitra Keluarga Depok pada 31 Juli 2009. Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009). Berikut puisinya:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga




3 komentar: