Pengantar Bulan April 2017

Pengantar Bulan April 2017
Bulan April 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi. (Halah, belepotan)

Jumat, 01 Juni 2012

SURAT DARI LANGIT


Data buku kumpulan puisi

Judul : Surat dari Langit
Penulis : Eza Thabry Husano
Cetakan : I, 1985
Penerbit : Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Prov. Kalimantan Selatan
Tebal : 45 halaman (40 puisi)
Sampul : M. Muchtar AS
Pengantar : Hijaz Yamani

Beberapa pilihan puisi Eza Thabry Husano dalam Surat dari Langit

Aku ingin jadi Seruling Bambu

Aku ingin jadi seruling bambu
bersiul tiap mengerling
Melepas kusut segala benang
di pintalan sang matahari

Seruling sekedar suara
menampar ke batas bunyi
meremas dinding kaca
yang mengurung segala luka

Aku ingin jadi seruling
yang berangkat dari rumpun bambu
mengalir di lorong waktu
deru menderu atas nama Mu.

1983



Kuala

Pada kuala mesti melaut
Katakan pada air dan perahu
Namaku mengalir
Dari bukit ke pesisir

Di punggung bukit
Angin merengkek jadi kuda
Menerjang bulu-bulu mata
Dari gerimis semesta

Pada kuala mesti melaut
Kabarkan pada air dan perahu
Namaku bertambat di pesisir
Menggergaji duri-duri pasir

1984


Surat dari Langit

Tiba tiba mata tertutup selimut Salju pun turun menyisir rumput
Dingin musim. Langit berlumut
Kuterima surat dari sang Kekasih
dalam sekian kutub percintaan
Telah kubaca selesai. Tanda zaman
hingga titik koma dari hulu
ke muara tulisan tangan alit
                        : surat dari Langit

1984


Siklus

Kukenali daun dalam putikku
Di kerimbunan pohon menjulang
Di ganggang sekian masa
Menatap keluasan langit tiada tara

Dari putik tumbuh melebat
Menelusuri tangkai dan daun
Memikul makna batang, akar-akar
serta segumpal tanah
Pucuk-pucuk pun berseri

Pengembaraan pohon menjulang
Tumbuh kemudian tumbang
Dari wajah tanah roboh ke tanah
Ciptaan keluasan langit tiada tara

1985


Rakit Bambu

rakit hanyut
di sukma sungai dari bukit
bangkit dari jeram ke jeram
terhempas di riam

rakit hanyut
mengalir miang kulit bambu
mengayuh bayang dari hulu
memantul di alir dan batu-batu

rakit hanyut
rakit hanyut

merakit riak-riak rindu
untuk menambat rakit bambu
ini. Pada tiang pantai Mu.

1982


Seketika Aku Terkepung Sepi
Engkau Ada di Situ

Langkah siapa itu menyisir sepi
Sepi siapa itu menyeret langkah siapa
Lelaki siapa ini terkepung sepi mengapa
Mengap di sini sepi siapa
Akukah ini?
Yang melangkah ke tebing jurang
dan ENGKAU ada di situ

1980


Sajak Selembar Daun

Selembar daun luruh
mengetuk pintu berkabar duka
tentang ranting yang tak kuasa
mempertahankan kampakan angin

Ia masih berwarna daun
seperti guratan selembar daun

Di halaman tadi sore terdengar
daun luruh selembar selembar
lepas tangkai sangsai. Terkulai
dingin. Sunyi

1983


Tidurku Melompat

Tidurku melompat
ke mimpi lagi
bintang pisuh memisuh
ketika hujan runtuh
sampai pagi. Aku masih sendiri

Sungai-sungai malam
bintang-bintang berlabuh
pasti ke situ. Mengalir mimpiku

Mimpi membara api melompat
dari sebilah korek api
yang telah kugarit. Mati!

1984


Maghrib

Telapak kaki ini sudah di maghrib
Lorong waktu yang tersisa
Menyembah Yang dan menulis puisi
Tegar amali tanpa memaling muka
Mendayung janji ukhrawi
Lepas ke arah pintu langit

Mega-mega mengatup
buku kumpulan puisi dan kerikil duka
harum mawar dan bau getah
yang merekat pada jantera hari
tikungan hakekat manusiawi

1980


Hujan Putih

pundak ini telah kita sediakan
memikul tombak runcing hujan
yang perlahan-lahan
mencompang-camping daun-daun
                                                perjalanan
awan tirai kasa, kuaklah!
di luar tampak kabut sejuta aksara
catatan tentang kelopak rekah kaki
kita yang ungu. Adakah saat jungkiran
                                                            waktu
memetik menyiul suara
merangkai hujan putih
pada Yang Maha

1981


Darah Malam

Apa maunya malam
menggunting jalan-jalan
hingga terompahmu
tersita darahnya
royak telapaknya

darah malam
lepuh mendekam

Malam kotakpos kelam
surat cinta dari rembulan
mengalir perlahan-lahan
ke terompah kita
: tak henti-henti Nya

1981


Tentang Eza Thabry Husano
Eza Thabry Husano lahir di Kandangan, 3 Agustus 1938. Meninggal, 15 Juli 2011(?), saat saya dan beberapa sastrawan Kalsel menghadiri Dialog Borneo-Kalimantan XI di Samarinda. Buku antologi puisi yang sudah diterbitkannya Banjarbaru Kotaku (1974), Dawat (1982), Rakit Bambu (1984), Kuala (1984) dan Lelaki Kembang Batu (2009?). Bukunya yang terakhir itu memuat 99 puisi. Tahun 1985, ia menerima Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel. Tahun 1987, menerima Piagam Penghargaan Seniman Terbaik dari Bupati Barito Kuala. Tahun 2004, Piagam Penghargaan Seniman Sastra Terbaik dari Walikota Banjarbaru.


Hal Lain
Hijaz Yamani yang memberi pengantar di buku ini, mencatat, adanya perubahan-perubahan kecil pada beberapa buah puisi yang tadinya termasuk dalam buku puisi sebelumnya, yaitu Dawat, Rakit Bambu, dan Kuala. Namun masih dianggap berpijak pada warna dasar dan tema semula. Hal-hal semacam ini (merubah-rubah puisi), menurut Hijaz, juga biasa dilakukan penyair kenamaan, karena pengembangan imaji penyair, sesuai dengan pendalaman dan kompleksitas pengalaman batin.
Hijaz juga mencatat bahwa dalam usia perjalanan penyair yang menuju posisi senior di Kalsel, Eza Thabry dipandang sebagai satu-satunya sosok dari angkatannya yang masih produktif setidaknya jika dilihat sampai lima tahun terakhir. (sebagai catatan, sang penyair telah mulai mempublikasikan puisinya sejak 1959, waktu ejaan masih ejaan lama, coy). Jadi karena itulah Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalsel memutuskan untuk menerbitkan buku ini. Hijaz Yamani menuliskan akhir Oktober 1985 untuk menandai pengantarnya.
Saya pernah melihat buku ini di perpustakaan kota Banjarbaru. Tapi kondisinya sudah memprihatinkan. Sampul luarnya seperti luntur. Saya akhirnya meminjam langsung ke rumah penyairnya, meminta ijin membongkar-bongkar koleksi buku milik almarhum. Ternyata sama saja, dari sekitar 20-an buku Surat dari Langit yang masih tersimpan, kesuraman warna sampul luarnya tak bisa dikelabui. Oya, kenapa saya memilih puisi Aku ingin jadi Seruling Bambu menjadi puisi yang tampil pertama, karena puisi itu pernah dimuat Abdul Hadi WM dalam ruang Dialog di harian Berita Buana. Saya berkesempatan melihat kliping puisi itu yang disusun oleh penyairnya sendiri.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar