Pengantar Bulan Juli 2014

Bulan ini, menyapa kita puisi Wiji Thukul dalam Para Jendral Marah-marah, Dedisyah dengan Sajak Perjalanan Pertama, S. Wakidjan dengan Pita Biru, Hr. Bandaharo dengan Aku Hadir di Hari Ini, Linus Suryadi Ag dengan Rumah Panggung, Samadi, -- penyair yang hilang dalam perang saudara (PRRI) di Sumatera tahun 1957-1958 -- dengan Senandung Hidup dan Ekohm Abiyasa dengan Malam Sekopi Sunyi. Salam puisi. Mohon maaf lahir batin.

Minggu, 23 Januari 2011

POTRET PEMBANGUNAN DALAM PUISI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Potret Pembangunan dalam Puisi
Penulis : Rendra
Cetakan : II, 1996 (cetakan I, 1993)
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Tebal : 104 halaman (26 judul puisi)
ISBN : 979-419-109-4
Pengantar : A. Teeuw
Disain cover : Jean Kharis

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Potret Pembangunan dalam Puisi



Aku Tulis Pamplet Ini



Aku tulis pamplet ini

karena lembaga pendapat umum

ditutupi jaring labah-labah.

Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk

dan ungkapan diri ditekan

menjadi peng-iya-an.



Apa yang terpegang hari ini

bisa luput esok pagi.

Ketidakpastian merajalela.

Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,

menjadi marabahaya,

menjadi isi kebon binatang.



Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,

maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.

Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.

Tidak mengandung perdebatan.

Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.



Aku tulis pamplet ini

karena pamplet bukan tabu bagi penyair.

Aku inginkan merpati pos.

Aku ingin memainkan bendara-bendara semaphore di tanganku.

Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.



Aku tidak melihat alasan

kenapa harus diam tertekan dan termangu.

Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.

Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.



Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?

Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.

Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.




Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.

Rembulan memberi mimpi pada dendam.

Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

            yang teronggok bagai sampah.

            Kegamangan. Kecurigaan.

            Ketakutan.

            Kelesuan.



Aku tulis pamplet ini

karena kawan dan lawan adalah saudara.

Di dalam alam masih ada cahaya.

Matahari yang tenggelam diganti rembulan.

Lalu besok pagi pasti terbit kembali.

Dan di dalam air lumpur kehidupan,

aku melihat bagai terkaca:

ternyata kita, toh, manusia!



Pejambon, 27 April 1978





Sajak Burung-burung Kondor



Angin gunung turun merembes ke hutan,

lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,

dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.

Kemudian hatinya pilu

melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh

yang terpacak di atas tanah gembur

namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.



Para tani-buruh bekerja,

berumah di gubug-gubug tanpa jendela,

menanam bibit di tanah yang subur,

memanen hasil yang melimpah dan makmur,

namun hidup mereka sendiri sengsara.



Mereka memanen untuk tuan tanah

yang mempunyai istana indah.

Keringat mereka menjelma menjadi emas

yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.

Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,

para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,

dan menjawab dengan mengirim kondom.



Penderitaan mengalir

dari parit-parit wajah rakyatku.

Dari pagi sampai sore,

rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,

mengapai-gapai,

menoleh ke kiri, menoleh ke kanan.

di dalam usaha tak menentu.

Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,

dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,

dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.



Beribu-ribu burung kondor,

berjuta-juta burung kondor,

bergerak menuju ke gunung tinggi,

dan di sana mendapat hiburan dari sepi.

Karena hanya sepi

mampu mengisap dendam dan sakit hati.



Burung-burung kondor menjerit.

Di dalam marah menjerit.

Tersingkir ke tempat-tempat yang sepi.



Burung-burung kondor menjerit,

di batu-batu gunung menjerit,

bergema di tempat-tempat yang sepi.



Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,

mematuki batu-batu, mematuki udara,

dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.



Yogya, 1973





Orang-orang Miskin



Orang-orang miskin di jalan,

yang tinggal di dalam selokan,

yang kalah di dalam pergulatan,

yang diledek oleh impian,

janganlah mereka ditinggalkan.



Angin membawa bau baju mereka.

Rambut mereka melekat di bulan purnama.

Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,

mengandung buah jalan raya.



Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.

Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.

Tak bisa kamu abaikan.



Bila kamu remehkan mereka,

di jalan kamu akan diburu bayangan.

Tidurmu akan penuh igauan,

dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.



Jangan kamu bilang negara ini kaya

karna orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa.

Jangan kamu bilang dirimu kaya

bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.

Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.

Dan perlu diusulkan

agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.

Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.



Orang-orang miskin di jalan

masuk ke dalam tidur malammu.

Perempuan-perempuan bunga raya

menyuapi putra-putramu.

Tangan-tangan kotor dari jalanan

meraba-raba kaca jendelamu.

Mereka tak bisa kamu hindarkan.



Jumlah mereka tak bisa kamu mistik jadi nol.

Mereka akan menjadi pertanyaan

yang mencegat ideologimu.

Gigi mereka yang kuning

akan meringis di muka agamamu.

Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap

akan hinggap di gorden presidenan

dan buku programma gedung kesenian.



Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,

bagai udara panas yang selalu ada,

bagai gerimis yang selalu membayang.

Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau

tertuju ke dada kita,

atau ke dada mereka sendiri.

O, kenangkanlah:

orang-orang miskin

juga berasal dari kemah Ibrahim.



Yogya, 4 Februari 1978





Nota Bene: Aku Kangen



Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,

indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.

Nyawamu dan nyawaku dijodohkan di langit,

dan anak kita akan lahir di cakrawala.

Adapun mata kita akan teus bertatapan hingga berabad-

     abad lamanya.



Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan

untukmu hidupku terbuka.

Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan.

Isyarat-isyarat getaran ajaib menggetarkan penaku.

Tanpa sekejap pun luput dari kenangan kepadamu

aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.



Kotabumi, 24 Maret 1978





Sajak Sebatang Lisong



Menghisap sebatang lisong,

melihat Indonesia Raya,

mendengar 130 juta rakyat,

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang,

berak di atas kepala mereka.



Matahari terbit.

Fajar tiba.

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak

tanpa pendidikan.



Aku bertanya,

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet,

dan papantulis-papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan



Delapan juta kanak-kanak

menghadapi satu jalan panjang,

tanpa pilihan,

tanpa pepohonan,

tanpa dangau persinggahan,

tanpa ada bayangan ujungnya.

…………………………………….



Menghisap udara

yang disemprot deodorant,

aku melihat sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya;

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiunan.



Dan di langit;

Para teknokrat berkata:



bahwa bangsa kita adalah malas,

bahwa bangsa mesti dibangun,

mesti di-up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor.



Gunung-gunung menjulang.

Langit pesta warna di dalam senjakala.

Dan aku melihat

protes-protes yang terpendam,

terhimpit di bawah tilam.



Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.



Bunga-bunga bangsa tahun depan

berkunang-kunang pandang matanya,

di bawah iklan berlampu neon.

Berjuta-juta harapan ibu dan bapak

menjadi gemalau suara yang kacau,

menjadi karang di bawah muka samodra.

…………………………………



Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.

Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,

tetapi kita sendri mesti merumuskan keadaan.

Kita mesti keluar ke jalan raya,

keluar ke desa-desa,

mencatat sendiri semua gejala,

dan menghayati persoalan yang nyata.



Inilah sajakku.

Pamplet masa darurat.

Apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkunga.

Apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.



19 Agustus 1977

I.T.B. Bandung



*Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaya.





Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon



Inilah sajakku,

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,

dengan kedua tangan kugendong di belakang,

dan rokok kretek yang padam di mulutku.



Aku memandang jaman.

Aku melihat gambaran ekonomi

Di etalase toko yang penuh merk asing,

dan jalan-jalan bobrok antar desa

yang tidak memungkinkan pergaulan.

Aku melihat penggarongan dan pembusukan.

Aku meludah di atas tanah.



Aku berdiri di muka kantor polisi.

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.

Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.

Dan sebatang jalan panjang,

penuh debu,

penuh kucing-kucing liar,

penuh anak-anak berkudis,

penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.



Aku berjalan menempuh matahari,

menyusuri jalan sejarah pembangunan,

yang kotor dan penuh penipuan.

Aku mendengar orang berkata:

“Hak asasi manusia tidak sama di mana-mana.

Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,

kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.

Mengatasi kemiskinan

meminta pengorbanan sedikit hak asasi.”

Astaga, tahi kerbo apa ini!



Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan?

Di negeri ini hak asasi dikurangi,

justru untuk membela yang mapan dan kaya.

Buruh, tani, nelayan, wartawan dan mahasiswa,

dibikin tak berdaya.



O, kepalsuan yang diberhalakan,

berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.



Aku mendengar bising kendaraan.

Aku mendengar pengadilan sandiwara.

Aku mendengar warta berita.

Ada gerilya kota merajalela di Eropa.

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,

seorang yang gigih, melawan buruh,

telah diculik dan dibunuh,

oleh golongan orang-orang yang marah.



Aku menatap senjakala di pelabuhan.

Kakiku ngilu,

dan rokok di mulutku padam lagi.

Aku melihat darah di langit.

Ya! Ya! Kekerasan mulai mempesona orang.

Yang kuasa serba menekan.

Yang marah mulai mengeluarkan senjata.

Bajingan dilawan secara bajingan.

Ya! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.

Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,

maka bajingan jalanan yang akan mengadili.

Lalu apa kata nurani kemanusiaan?

Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini?

Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi?

Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak?

Apakah kata nurani kemanusiaan?



O, Senjakala yang menyala!

Singkat tapi menggetarkan hati!

Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-

            bintang!



O, gambaran-gambaran yang fana!

Kerna langit di badan tidak berhawa,

dan langit di luar dilabur bias senjakala,

maka nurani dibius tipudaya.



Ya! Ya! Akulah seorang tua!

Yang capek tapi belum menyerah pada mati.

Kini aku berdiri di perempatan jalan.

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.

Sebagai seorang manusia.



Pejambon, 23 Oktober 1977





Sajak Seonggok Jagung



Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda

yang kurang sekolahan.



Memandang jagung itu,

sang pemuda melihat ladang;

ia melihat petani;

ia melihat panen;

dan suatu hari subuh,

para wanita dengan gendongan

pergi ke pasar …

Dan ia juga melihat

suatu pagi hari

di dekat sumur

gadis-gadis bercanda

sambil menumbuk jagung

menjadi maisena.

Sedang di dalam dapur

tungku-tungku menyala.

Di dalam udara murni

tercium bau kuwe jagung.



Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda.

Ia siap menggarap jagung.

Ia melihat kemungkinan

otak dan tangan

siap bekerja.



Tetapi ini:



Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda tamat SLA

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.



Ia memandang jagung itu

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.

Ia melihat saingannya naik sepeda motor.

Ia melihat nomor-nomor lotre.

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

Seonggok jagung di kamar

tidak menyangkut pada akal,

tidak akan menolongnya.



Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan hidupnya berasal dari buku,

dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak terlatih dalam metode,

dan hanya penuh hafalan kesimpulan.

Yang hanya terlatih sebagai pemakai,

tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.



Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,

atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”



TIM, 12 Juli 1975





Pamplet Cinta



Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.

Memandang wajahmu dari segenap jurusan.



Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.

Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.

Aku merindukan wajahmu,

dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.

Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.

Kata-kata telah dilawan dengan senjata.

Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.

Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan.

Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.

Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan

adalah penindasan.



Suatu malam aku mandi di lautan.

Sepi menjadi kaca.

Bunga-bunga ajaib bertebaran di langit.

Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.

Sepi menjadi kaca.



Apa yang bisa dilakukan oleh penyair

bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?

Udara penuh rasa curiga.

Tegur sapa tanpa jaminan.



Air lautan berkilat-kilat.

Suara lautan adalah suara kesepian.

Dan lalu muncul wajahmu.



Kamu menjadi makna.

Makna menjadi harapan.

… Sebenarnya apakah harapan?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.

Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.

Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.

Aku tertawa, Ma!



Angin menyapu rambutku.

Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.



Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.

Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.

Perutku sobek di jalan raya yang lengang…

Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.

Aku menulis sajak di bordes kereta api.

Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.



Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,

aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,

nongol dari perut matahari bunting,

jam dua belas seperempat siang.

Aku terkesima.

Aku disergap kejadian tak terduga.

Rahmat turun bagai hujan

membuatku segar,

tapi juga mengigigil bertanya-tanya.

Aku jadi bego, Ma!



Yaaah, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.

Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,

dan sedih karena kita sering berpisah.

Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankan kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?

Bahagia karena napas mengalir dan jantung berdetak.

Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.

Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.



Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,

memandang wajahmu dari segenap jurusan.



Pejambon, Jakarta, 28 April 1978.





Sajak Pertemuan Mahasiswa



Matahari terbit pagi ini

mencium bau kencing orok di kaki langit,

melihat kali coklat menjalar ke lautan,

dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.



Lalu kini ia dua penggalah tingginya.

Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini

memeriksa keadaan.



Kita bertanya:

Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.

Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Orang berkata: “Kami ada maksud baik.”

Dan kita bertanya: “Maksud baik untuk siapa?”



Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina

Ada yang bersenjata, ada yang terluka.

Ada yang duduk, ada yang diduduki.

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita di sini bertanya:

“Maksud baik saudara untuk siapa?

Saudara berdiri di pihak yang mana?”


Kenapa maksud baik dilakukan

tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya.

Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.

Perkebunan yang luas

hanya menguntungkan segolongan kecil saja.

Alat-alat kemajuan yang diimpor

tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.



Tentu, kita bertanya:

“Lantas maksud baik saudara untuk siapa?”



Sekarang matahari, semakin tinggi.

Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.

Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:

Kita ini dididik untuk memihak yang mana?

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini

akan menjadi alat pembebasan,

ataukah alat penindasan?



Sebentar lagi matahari akan tenggelam.

Malam akan tiba.

Cicak-cicak berbunyi di tembok.

Dan rembulan berlayar.

Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.

Akan hidup di dalam mimpi.

Akan tumbuh di kebon belakang.



Dan esok hari

matahari akan terbit kembali.

Sementara hari baru menjelma.

Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.

Atau masuk ke sungai

menjadi ombak di samodra.



Dari bawah matahari ini kita bertanya:

Ada yang menangis, ada yang mendera.

Ada yang habis, ada yang mengikis.

Dan maksud baik kita

berdiri di pihak yang mana!



Jakarta, 1 Desember 1977

* Sajak ini dipersembahkan kepda para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta” yang disutradarai Sumandjaya.





Aku Mendengar Suara



Aku mendengar suara

Jerit hewan yang terluka.



Ada orang memanah rembulan.

Ada anak burung terjatuh dari sarangnya.



Orang-orang harus dibangunkan.

Kesaksian harus diberikan.



Agar kehidupan bisa terjaga.



Yogya, 1974

Nb. puisi ini sebenarnya tak punya judul dan tidak termuat di daftar isi. Puisi ini adalah puisi pembuka dan diletakkan di bagian awal buku.





Tentang Rendra

Rendra dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Terkenal juga sebagai dramawan. Ia mendirikan Bengkel Teater dan mementaskan banyak karya teater. Kumpulan sajaknya Ballada orang-orang Tercinta (1957), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Disebabkan oleh Angin (1993). Kumpulan cerpennya



Catatan Lain

Tak ada catatan kapan aku beli buku ini, yang jelas belinya di toko buku Sari Ilmu, Yogyakarta, dengan harga Cuma Rp. 4000,-. Rasanya, waktu itu aku ingin nyari buku Rendra yang lain, yaitu Orang-Orang Rangkas Bitung. Ketemunya malah Potret Pembangunan. Tak ingat betul di mana toko buku Sari Ilmu ini, mungkin terletak di Shopping center? Kalau boleh jujur, bagi saya pribadi. Jika puisi-puisi Chairil Anwar yang menjadi penarik saya untuk memasuki dunia puisi, maka puisi-puisi Rendralah yang membuat saya tetap bertahan di dalamnya sampai saat ini.  


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar