Pengantar Bulan OKTOBER 2017

Pengantar Bulan OKTOBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Peringatan Buku ke-100

6 (lima) buku puisi yang diposting di bulan Oktober ini menggenapkan menjadi 101 buku. Dan untuk menandainya, saya ingin menulis uraian singkat tentang blog ini, mengungkapkan kesan dan perasaan saya. Dan saya beri judul Peringatan buku ke-100.

Pencapaian 100 buku, barangkali tidak ada apa-apanya dengan jumlah buku puisi yang pernah terbit di Indonesia. Namun, bisa jadi mencengangkan, bagi diri saya pribadi, karena saya tidak memikirkan bakal melakukan kerja “sebesar” ini. Saya tak percaya, di tengah semangat yang turun naik, kesibukan lain, kebosanan, bahkan kecemasan, bisa mencapai angka 100. Awalnya saya tak merencanakan apapun. Hanya mengisi waktu senggang. Tahunya keterusan. Beberapa waktu sempat macet, stok buku di rak sendiri hampir habis. Tapi ini membuka langkah perburuan. Saya berburu ke toko buku, ke perpustakaan, ke tempat kenalan-kenalan. Rasanya, saya tak dapat menyembunyikan rasa terima kasih saya kepada para “pecinta puisi” yang berkunjung di blog ini, kepada mereka yang kemaruk dengan puisi sebagaimana saya. Merekalah yang sebenarnya meniupkan semangat baru, membakar-bakar gairah dan kecintaan baru, kepada makhluk yang bernama puisi itu. 

100 buku puisi yang ada di blog ini bukanlah representasi buku puisi di Indonesia. Ini hanya buku-buku yang selama ini terjangkau oleh mata dan pikiran saya, selama rentang waktu tertentu, tepat di tempat saya berpijak sekarang. Pemilihan puisi untuk ditampilkan pun tidak berdasarkan kriteria atau estetika tertentu. Kalau pun ada kriteria, maka lebih pantas disebut kriteria suka-suka. Suka-suka saya: kadang puisi dipilih karena ringkasnya, kadang karena panjangnya, kadang karena uniknya, kadang karena puisi itu sering dikutip atau dibahas orang, kadang karena lagi mood saja hingga puisi tertentu jadi dipilih, kadang pakai sistem cabutan/acak atau puisi itu memang saya suka.

Beragam kesan yang saya dapat dari buku-buku puisi yang saya buru. Ada buku puisi yang lancar-lancar saja ketika menuliskannya, ada buku yang membosankan, ada buku yang ingin membanting saja begitu membolak-baliknya sekilas, ada buku yang tak tersentuh-sentuh juga, ada buku yang bikin malas, ada buku yang berat ketika berusaha mengetiknya.

buku folio berisi tulisan tangan puisi-puisi
Tapi yang jelas, saya selalu berusaha untuk mengetik ulang puisi-puisi itu. Langkah yang melelahkan, tapi itulah cara saya untuk menginternalisasi diri ke dalam dunia puisi. Itulah cara saya belajar menulis puisi. Dulu, ketika saya SMP dan SMA, saya menulis tangan puisi-puisi yang saya sukai ke dalam buku folio bergaris. Saya menulis tangan puisi-puisi Chairil Anwar, Amir Hamzah, Taufik Ismail, Rendra, Goenawan Mohamad, Armyn Pane, Sanusi Pane, St. Takdir Alisyahbana, Ajib Rosidi, Moh. Yamin, Aoh Kartahadimaja, J.E. Tatengkeng, Anas Ma’ruf, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Hartojo Andangdjaja, Mansur Samin, Subagio Sastrowardojo, Ramadhan KH, Hamzah Fansuri, Toto Sudarto Bahtiar, Rustam Effendi, A Hasymi, dll penyair kontemporer dan terjemahan. Juga puisi-puisi dari orang-orang yang cukup “langka” menulis puisi seperti Usmar Ismail, Arifin C. Noer, Trisno Sumardjo. Puisi-puisi itu saya dapatkan dari buku pelajaran dan buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah. 

puisi sutardji berjudul rumput

Menjadi pemulung puisi, demikian saya menyebut kebiasaan gila yang sempat terhenti ini. Terima kasih kepada para sastrawan yang menyediakan sumber abadi bahan di blog ini. Mohon kerelaan dan keikhlasan tuan/puan membagi puisinya bagi kami yang dahaga kata-kata indah, bunyi-bunyi merdu huruf-huruf yang saling terkait, kepak indah sayap kebajikan, dan ruh yang membayanginya.

Ada satu ironi. Saat duduk di bangku SMP, saya menemukan buku Pamusuk Eneste, yang berlabel Leksikon itu. Saya suka terharu dan bahagia jika menemukan orang-orang yang berasal dari daerah saya. Pada laman Ahmad Fahrawi, misalnya ditulis karyanya al Jalan yang Ditebar (ks, 1981), Aku ingin Mencari Kata Dalam (ks, 1982) atau Bachtar Suryani yang disebut menulis karya al Puisi-puisi Nostalgia (ks, 1960), Kalender (ks, 1967), Dalam Perjalanan (ks, 1981), Pulang ke Kampung (ks, 1978), Keluar Malam-malam (ks, 1982). Atau Ajamuddin Tifani yang dikatakan sajak dan cerpennya banyak dimuat di majalah dan surat kabar. Atau Y.S. Agus Suseno yang karyanya dimuat dalam antologi bersama, Sahayun. Kesemua itu menimbulkan rasa penasaran. Saya tak menemukan puisi-puisi mereka itu. Tak satupun ada di perpustakaan. Buku-buku pelajaran pun sunyi dari memuat puisi mereka. Mungkin akibat saya yang kurang gaul. Tapi saya memang masih belia waktu itu. Baru saja memulai kecintaan terhadap puisi. Di dalam buku tulis folio saya, puisi penyair Kalsel dapat dihitung dengan jari. Ada puisi Bachtar Suryani (Dalam Perjalanan dan Prahara), Ajamuddin Tifani (Hangus), Ian Emti (Adakah Keindahan itu) dan Tariganu (Nyanyian Kandinsky).
puisi amir hamzah dan wing kardjo

Dalam blog ini, awalnya saya menyatukan penulis dari Banua dengan penulis lainnya. Namun akhirnya saya sendirikan, dan ini bukan berarti mengecilkan peran dan kiprah penulis-penulis itu. Saya sangat tahu, bahwa banyak di antara mereka yang namanya menasional. Kiprah mereka telah jauh melangkah keluar dari daerah ini. Sebutlah Arsyad Indradi, Ajamuddin Tifani, Hijaz Yamani, Micky Hidayat, Jamal T. Suryanata, Eko Suryadi WS, Ali Syamsudin Arsi, untuk menyebut beberapa nama saja. Pengelompokan dan pelabelan Kalsel (Kalimantan Selatan) hanya demi memberi identitas. Karena, sama seperti saya dulu, banyak pelajar atau mahasiswa yang tidak mengenal penulis dari daerahnya sendiri.   

Oya, saya juga menghadirkan entri popular. Meski popularitas tidak selalu berkaitan dengan kualitas, rasanya asyik saja menyaksikan buku tertentu lebih sering dikunjungi dibanding yang lain. Sebenarnya agak riskan juga, sebab buku-buku itu tidak diposting bersamaan, masing-masing memiliki start yang berbeda-beda. Namun saya mencatat ada beberapa buku yang melonjak hingga dalam tempo yang tak terlalu lama, sudah menyodok di 10 besar entri populer sepanjang masa, yaitu buku Ajib Rosidi dengan Pantun Anak Ayam-nya dan Sutardji Calzoum Bachri dengan O Amuk Kapak-nya. Belakangan kumpulan puisi Elegi Negeri Seribu Ombak karya Eko Suryadi WS juga melonjak kunjungannya. Elemen bawaan blogger ini juga saya pasang untuk kurun waktu bulanan dan mingguan. Berikut urutan laman yang paling sering dikunjungi (dilihat) dalam satuan pageviews hingga 30 September 2012. Total kunjungan laman sampai dengan tanggal tersebut 22.830 pageviews.

15 besar buku yang sering dikunjungi sampai 30 september 2012

  1. aku ini binatang jalang, chairil anwar – 1099 pageviews 
  2. pantun anak ayam, ajib rosidi – 833 pageviews
  3. o amuk kapak, sutardji calzoum bachri – 752 pageviews
  4. deru campur debu, chairil anwar – 673 pageviews
  5. kerikil tajam dan yang terempas dan yang putus, chairil anwar – 636 pageviews
  6. cahaya maha cahaya, emha ainun nadjib – 635 pageviews
  7. elegi negeri seribu ombak, eko suryadi ws – 540 pageviews
  8. buah rindu, amir hamzah – 464 pageviews
  9. asmaradana, goenawan mohamad – 435 pageviews
  10. air kata-kata, sindhuputra – 431 pageviews
  11. nikah ilalang, dorothea rosa herliany – 349 pageviews
  12. empat kumpulan sajak, rendra - 302 pageviews
  13. perahu berlayar sampai bintang, cecep syamsul hari – 276 pageviews
  14. puspa mega, sanoesi pane – 267 pageviews
  15. kolam, sapardi djoko damono – 230 pageviews

untuk puisi terjemahan, komposisinya sebagai berikut (sd 30 september 2012):
  1. ciuman hujan, pablo neruda – 248 pageviews
  2. kebun mawar rahasia, sa’duddin mahmud syabistari – 150 pageviews
  3. coret yang tidak perlu, hans magnus enzensberger – 129 pageviews
  4. detik-detik indonesia, martin jankowski – 108 pageviews

untuk puisi kalsel sementara komposisinya sebagai berikut (sd. 30 september 2012):
  1. elegi negeri seribu ombak, eko suryadi ws – 540 pageviews.
  2. pewaris tunggal istana pasir, m. nahdiansyah abdi, 195 pageviews
  3. pistol air, m. nahdiansyah abdi – 160 pageviews
  4. badai gurun dalam darah, ibramsyah amandit – 158 pageviews
  5. bungkam mata gergaji, ali syamsudin arsi – 155 pageviews
  6. di jari manismu ada rindu, hamami adaby – 152 pageviews
  7. lelaki kembang batu, eza thabry husano – 149 pageviews
  8. kebun di belakang rumah, maman s. tawie – 124 pageviews
  9. di batas laut, eko suryadi ws – 119 pageviews
  10. tiga kutub senja, arsyad indradi, hamami adaby, eza thabry husano – 116 pageviews
  11. hari sudah senja, d. zauhidhie – 109 pageviews
  12. meditasi rindu, micky hidayat – 109 pageviews
  13. debur ombak guruh gelombang – 102 pageviews


Tentu komposisi ini akan segera berubah dan tak dapat menjadi patokan. Komposisi ini akan berubah setiap jam, setiap hari. Tak ada yang tetap di dunia ini, kecuali perubahan. Demikian seorang filosof pernah berujar. 


M. Nahdiansyah Abdi


Adalah seseorang yang penuh energi kebaikan dan memancarkan aura kebahagiaan :D. Lahir di Barabai (Kalsel), 29 Juni 1979. Bekerja di bagian Psikologi Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Gambut, Kab. Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Bergiat di “Kilang Sastra Batu Karaha” Banjarbaru bersama penyair Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, dll. Saat ini tinggal di kota Banjarbaru. Karya puisinya dimuat dalam beberapa antologi puisi bersama, al:

1.      Lingkup Komunitas: Bumi Menggerutu (2005), Melayat Langit (2006), Kugadaikan Luka (2007), Malaikat Hutan Bakau (2008), Menggoda Kehidupan (2009).

2.      Lingkup Kalsel: Kau tidak akan Pernah Tahu Rahasia Sedih tak Bersebab (Aruh Sastra Kalsel III, Kotabaru, 2006), Darah Penanda (Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2008), Bertahan di Bukit Akhir (KSI Hulu Sungai Tengah, 2008), Tarian Cahaya di Bumi Sanggam (Aruh Sastra Kalsel V, Balangan, 2008), Konser Kecemasan (KSI Banjarmasin & Walhi Kalsel, 2010), Menyampir Bumi Leluhur (Aruh Sastra Kalsel VII, Tabalong, 2010), Manyanggar Banua, bunga rampai puisi dan cerpen bahasa Banjar (Aruh Sastra Kalsel VII, Tabalong, 2010), Seloka Bisu Batu Benawa (Aruh Sastra Kalsel VIII, HST, 2011).

3.      Di luar itu: Wajah Deportan (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2009), Kalimantan dalam Puisi Indonesia ed. Korrie Layun Rampan (Dialog Borneo Kalimantan XI, Samarinda, 2011)

11 komentar:

  1. keren.... keren....
    O ya mau tanya kalau mau ngirim naskah ke penerbit olongia cara dan syaratnya gimana ya ??? mohon di balas, Trims.

    BalasHapus
  2. Sori baru balas, kirim aja via email ke olongia@yahoo.com, tapi nego dulu sama orang-orang sana, telponnya (0274) 7877970 atau datangi langsung ke Jl. Kaper No. 305 A, Nitikan, UH VI Yogyakarta. Syarat dan perjanjian dibicarakan kemudian :)

    BalasHapus
  3. silaturahmi...saya suka sastra :)

    BalasHapus
  4. Zul, saya suka kamu yang suka sastra ;)

    BalasHapus
  5. salah horamat, para sastrawan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam takzim para pembaca budiman...

      Hapus
  6. Blog ini sangat bagus untuk sastra indonesia.

    Saya jadi tahu bahwa pujangga dari Kalsel juga banyak, selama ini hanya pujangga dari Minangkabau (sumatra barat) yang jadi perhatian publik.

    Semoga sastra Kalimantan Selatan tambah maju

    BalasHapus
  7. Terima kasih, Jimmy, sudah jalan-jalan dan menulis komen di sini. Tuntutan selanjutnya setelah kuantitas adalah kualitas... Yang banyak itu, biasanya akan tersaring dengan sendirinya, seiring berjalan waktu.

    BalasHapus
  8. Senang sekali berkunjung ke sini.
    Seperti menembus cakrawala pengetahuan puisi
    yang lebih terang..

    Salam takzim!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Kawan, dah main kemari. Ijinkan saya kutip satu puisimu di sini...

      di cangkir kopi yang kedua,
      aku terbelah.

      pagi belum juga menjadi apa-apa,
      aku sudah menjadi siapa-siapa.

      engkau boleh memanggilku: gelisah, panik, dan kosong.
      aku akan menoleh,
      dengan tubuh yang sama.

      (dalam puisi Perasaan-perasaan yang membelahku, Oddie-Sang Perahu Kayu).

      Salam puisi...

      Hapus
  9. Teramat sulit mencari jejak puisi, pada ramai ku bertanya, pada diam ia menjawap...

    BalasHapus