Pengantar Bulan OKTOBER 2017

Pengantar Bulan OKTOBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

33 Puisi Saya

Puisi-puisi ini saya ambil dari buku kumpulan puisi saya, yaitu:

1.      Jejak-Jejak Angin  (Olongia, Yogyakarta, 2007) bersama Hajriansyah,
2.      Parodi tentang Orang yang Ingin Bunuh Diri dengan Pistol Air (Tahura Media, Banjarmasin, 2008)
3.      Pewaris Tunggal Istana Pasir (Tahura Media, Banjarmasin, 2009)
4.      Buku Harian Pejalan Tidur (Tahura Media, Banjarmasin, 2011)

Jejak Angin
Pistol Air

Pejalan Tidur
Istana Pasir



GAMBUT (1)

Sungguh hijau
Tanah rawa ini
Air yang menggenang senantiasa
mengalir ke dalam jiwa
dan bau bangkai pokok kayu
yang terawetkan ini
keras memukul penciumanmu
Akar-akar itu saling terkait tanpa
ujung pangkal
membungkus tubuhmu yang jelata
Jeritanmu seperti irama
yang mengupas kulit kesedihanmu
Detik ini purba
Menit ini purba
Ucapan-ucapan ini lupa


ANAK-ANAK PERADABAN (2)

Dengan pakaian pelampung, masker tebal, seiris kutukan
ia nyebrang jalan
kesandung pengemis

Kota bagai hologram
Berlutut di eksofagus hitam

Butir kenangan terjun bebas
Ia mendengar: tawa ngakak membombardir
Ia mendengar: tangis, seperti lempeng tembaga yang tipis

Tapi ia terlanjur tak mendengar
Hanya kentutnya yang terasa abadi


SESAAT (3)

Dengan kepala yang tertembus peluru diserukannya
Maut yang tawar, sedikit berbau basi

Aku baru pulang dari sekolah
Setelah tawur dengan sepi

Mobil itu melaju dan ditembaki
Darah dan kenangan menghimpit jalan

Pasir masuk ke sepatuku
Juga beterbangan dalam mimpi

Sisa api di mobil itu tak bisa menghangatkan kami
di malam yang terbaring berduka


THAT’S ALL APPLESAUCE: TIBA-TIBA KITA HARUS MENGIGAU (4)

Tiba-tiba kita harus mengigau
pagi-pagi buta
udara bagai spon: sebelum dimangsa cahaya

Lalu kebencian jadi manjur
Kebencian berserakan sebagai telur tafsir-tafsir
yang melejit dari kerongkonganku
yang memuntahkan buah apelku
sebagai sisa omong kosong di surga
pertanda sebuah takdir telah dimulai


DI LUBUK TAK BERDASAR (5)

Di lubuk tak berdasar
di mana tak ada sepi kecuali sepi penuh rahasia
Kekagetan akan berbunga sia-sia
penuh cabang berisi luka-luka
Tak ada akar yang membelit kuat di waktu
maupun di keseharian tubuh vis a vis jiwa
Pertempurannya berakhir sebelum aku mencuci muka


FOKUS (6)

Buang semua yang kau tahu
yang menodai citramu, suatu
ketidakbecusan: ke rongga burung api

Bicaralah pada dirimu sendiri
Tertawa-tawalah, wahai Gerak yang menulisi diri
Takdir yang berkedip ini!

Dia yang masih kelimpungan oleh kata dan makna
merayap dari sirkuit kosong ke labirin air berpusar

Betah berlama-lama
dalam nujum bahasa

Ular-ular fiktif
yang didahar anakonda Musa

Benarkah kebenaran jauh tak tersongsong saat kini?
Anak yang terpisah ibunya pastilah dilanda kebingungan

Kabar baiknya, kita telah di sini dan
punya beberapa pilihan

Tetap hanyut ke laut kosong atau
membiarkan tangan baja Ramses menyibak kehidupan

Yang lampau, yang kemudian, yang kini
Saling berkejaran di kepala rapuh ini

Aku berdiri tegak
mencicipi


SAATNYA (7)

Sesekali kau perlu berdiri di tengah hujan
Hanya untuk mendengar
pesan kefanaan yang mereka bawa

Kamu tersentak ketika keningmu mendadak panas:
“Apa-apaan ini?”

Gemuruh menghangatkan hantu masa lalu
Di keluasan ketika tak satupun dapat terpantul

Saya sontak
melemparkan sepeda saya ke langit

Klakson kemurungan berdentang tiga kali


KOMA-NADA (8)

Apa yang bisa diperbuat sebuah koma?
Sebuah tempat jeda, semacam jendela yang menghadap
ke dalam. Jejak burung dapat dibaui sejauh
nyala pada ingatan
Bayangan tubuhmu melekat di rangka
menahan sempoyongan. Seekor kucing
mencuri dagingmu, menggondolnya dengan elegan
sebelum meloncat ke cermin. Hup!!

Kamu tertawa kecil. Malam gemercik di kali waktu

Apa yang kematian bisa ketuk-ketukkan di gamelan jiwa?
Sebuah nada, sebuah koma: yang belepotan di mana-mana


SELAMANYA (9)

Satu detik ke depan, gema lonceng tersaruk dalam batu
kalaupun ada kesadaran, pesonanya sudah padam
Kuziarahi semua keinginan yang pernah kumiliki &
kujentikkan jariku
Saat itu aku merasa sulbiku telah hancur

Aku hanya melihat sepasang boneka pengantin
membuntuti hidupku yang bagaikan dongeng
Tetaplah berdiri di pintu malam
yang telah dinodai kelembutan hatimu
Seakan dengan jengkel kusambar ketololanku
dan aku pergi: tanpa gerakan pinggul

Dagumu malam itu tertanam di atas piano
waktu kulejitkan lagu, lagu termanis yang
pernah melintas dalam syahwatku
Matamu kupandang
aku terperosok (tanpa sedikitpun berusaha
menghentikan pendarahan pada kangenku)


LANGIT VIOLET YANG HENING (10)

Langit violet yang hening
mengucurkan malaikat-malaikat pagi
Wahyu-wahyu purba sesekali tersangkut angin

Langit violet yang hening
menyelimuti hasrat manusia di dalam dan di luar
saat kautagih lagi janji-janji itu
kau dapati: tubuh yang khianat
memaksa lepas dari dirimu


PERTANYAAN (11)

Kapan terakhir kali
kau pelankan langkahmu?
Tidak berkata apa-apa, selain
mendengar percakapan dalam jiwa
Benda-benda angkasa masuk ke tubuhmu sebagai
butiran pasir
dan rasa kehilanganmu seperti
cahaya yang mencair
Kamu luluh lantak, kamu masih bersendawa
Begitulah, di tahta kosong itu kau mulai menatah nama
Alangkah genitnya!


FAL-DE LAL (12)

Jika harapan membekukanku tepat jam 11 siang
permintaan maafmu yang manis bahkan terasa cengeng
Kutatap kekosongan dalam kepalamu
nyaring mendengung juga di kepalaku

Semua akan baik-baik saja, katamu memelukku
Bahwa aku telah mondar-mandir dalam kegelapan
dan sekilas hujan memainkan musiknya yang monoton
dan bahwa kesunyian membelai terlalu pelan
“Pencemberut,” katamu dengan memikat
Yang menyebabkan aku berpikir ulang dengan
wajah memerah: kenangan itu

Di altar berdebu bunga magnolia
Teka-teki jelek itu kembali muncul
Kami berjanji untuk sebuah kekagetan yang konyol
tepat setelah ciumannya yang riang memercik seperti
kembang api
Ia memohon-mohon tanpa sungkan
: Nak, setulus apakah keluwesan yang kuperlihatkan?
Bahwa ia telah mengangkat tinggi-tinggi pisau itu dalam keremangan


SATWA YANG DILINDUNGI (13)

Ada satu satwa
Sangat dilindungi “Undang-Undang”
Satwanya sendiri sangat jenaka
penghibur keluarga

Dari hutan tak bertepi
Kini berkandang dalam manusia: korupsi


MASUK KE POHON OAK (14)

Ia belah pohon oak
lalu masuk ke dalamnya. Seluruh tubuhnya
masuk ke pohon oak! Damai menyergapnya segera
Ia merasakan sensasi, ia merasakan
sesuatu yang lebih brutal ketimbang sepi
Ia tambah merasakannya ketika
seorang pengendara mabuk menabrakkan
mobilnya: dalam sebuah perlombaan melintasi duka


BATAS PEREMPUAN (15)

I
Sekian lama memejam, di depannya kini pohon terlarang
Antara murung dan girang, ia sikat habis semua cemilan

Jari lentik dan jakun yang menantang
Hari baik dan menopause pikiran

Nyeri itu telah ia pisahkan
Lantaran bebal dan kutuk ranjang
Ia yang memeram rintik hujan
Sejauh ini, gagal menjinakkan kehilangan

II
Ada lelaki mengadu untung di kota
Ada niat baik terhalau saat gerhana
Rumput di sekitar rumah telah meninggi
Di dapur tidak tercium bau masakan
Berani disumpah pocong, aku sangat kemaruk
Jejak tubuhmu kian menggantang


TENTANG WANITA YANG MENGUAP DAN JAM TANGANNYA YANG SIALAN (16)

Wanita itu menguap tanpa punggung telapak tangan menempel di
mulutnya. Angin deras tapi nelangsa.
Berkali-kali ia melirik arloji, berharap lelakinya
muncul dari pintu itu: “Dasar jam tangan murah!” ia
keceplosan. Dia perempuan buta dan lelaki itu
torso yang mengigau di kotak kaca.


DI KOMPLEK DE PEPERKLIP (17)

Di komplek De Peperklip
Rotterdam: Masa kini di angkut jenazahnya
Seekor kerbau mengamuk dalam bayangan suram
Sekawanan badut terhipnotis pada tulang-tulang cahaya

”Monggo, Mas!” kata gadis itu sambil memelas
Aku sungguh tak tahu
tiba-tiba aku telah berada di atas bis yang meluncur
ke arahnya


POHON KEHIDUPAN (18)

Ia datang dengan birahi penuh
datang dari balik kabut

Diseretnya sebuah gambar porno
dari seekor hominid albino

Ia terus menggumam: Aku akan bertemu
kamu

Di depan toko swalayan ia ditegor satpam
”Mau mudik ya, Mas?”


DIKUTUK SELALU RINDU (19)

Menghiasi hidup dengan isak tangis dan tawa renyah
Seperti air yang lincah
yang menyembunyikan desir angin ke dasar kali
Langit berlutut, membasuh waktuku yang gemuruh
Sesungguhnya rumahku pada luka
dalam perih abadi
Bersenang-senang di tubir bayangan
Merasuki tubuh asing
dengan maut yang mengekor, dengan daun-daun bambu yang saling bergesek
Aku belum melupakan, saat kautumpahkan
cintamu ke kemejaku
Aku sudah memaafkan & aku dikutuk selalu rindu


LINGLUNG (20)

Mengerti kalau hidup cuma sekali
Mengerti kalau sesudah tikungan itu
mungkin garis akhir duduk menanti
Kita pura-pura tak kenal
berpikir mungkin ada yang tertinggal
dan berancang-ancang mengambilnya kembali
Katakanlah, unggunan api yang telah mati
atau perjalanan itu sendiri
atau CO2 yang pucat pasi

Terlambat. Musiknya sudah dimainkan
Riang, cepat, satir.


ILLEGAL MIND (21)

Jika aku terduduk di mulut harmoni
dan memandangmu seperti bandul yang tak kembali

Pahit di mulut menjalar bersama waktu yang pergi
Hei, hei, teriakku
Dan itu pun tak menahanmu


PENYAIR YANG TAK BAHAGIA (22)

Kataku pada isteriku: Biarlah cuma aku yang menyenangi puisi

Lantas kami lama terjaring hening

Dan setelahnya
tertawa ngakak


SINGKAT SAJA (23)

Wajah-wajah kosong dan sibuk
yang sangat rentan dan menyimpan trauma
yang begitu teguh dalam larutan lupa
menggapai-gapai Sepi tanpa cela
Ia yang sangat kasmaran menyulut luka
Bertanya ia, bagaikan maut yang nelangsa:
“Kekasih dalam diri, sejatinya tak lama menanti”

Wow, apa artinya ini
Tubuh yang lembek, rumah yang rapuh
Perjalanan di luar nalar


LELAH (24)

Menyaksikan anak-anak di bawah rembulan
hatiku akan berguguran seperti daun-daun pohon taru

Menjauhlah dari kerumitan kata-kata

Andaikan ini semata-mata gagasan
maafkan aku telah merepotkanmu

Bersusah payah mengisi jalan yang jauh
kitab cintanya akhirnya berdebu

Tak perlu segan bila nanti
aku melamarmu, kematian.


IKAN MENGGELEPAR (25)

Kamu merasakan
energi
yang hidup
menjaringmu
Kamu ikan menggelepar
dalam jaring-Nya

Setengah mampus kamu
ingin melarikan diri

Sepertinya kamu berhasil
keluar
sebagai pecundang!


DI PELIPISMU AKU MENGASAH RINDU (26)

Di pelipismu aku mengasah rindu
Kau harus kubunuh malam ini juga

Malam terang bulan
Maling-maling pada keluar menjemput buruannya
Aku keluar memaling kekasihku dari ajalnya

Aku membunuhmu hidup-hidup di hidupku
Luka yang rembes seperti mata air baru nemu
Sakit yang luruh pada lebar tawa
Mati yang lebur pada hidup luas menganga

Menggigil: “Kasihku, aku ingin terbakar api cemburu selamanya!”


SETIA (27)

Ini tarian yang kita butuhkan
lebih terasing dari cahaya bulan
Kabut merangkak di jantungku
bersama hak untuk menindasku

Inilah segelintir cerita
ketika ketahanan kami melemah
sebab kami telah berupaya
menyayangkan segalanya, termasuk cinta


PECAHAN BINTANG (28)

Dari sanalah aku berasal
Tanah airku pecahan bintang

Aku terhubung-tersambung oleh serat-serat
yang tak tertangkap mata materi

Hiruk-pikuk menjelma film bisu
Aku terpelanting dengan keras kepada Keabadian


ERO CRAS * (29)

Saya mendengar orang buta tergulung
di sana, pada bisik lemah air hujan
di sana, di balik keheningan dan rumput yang meninggi
dan nisan-nisan bodoh tempat  cumbu ditandai

*Besok  saya datang, ini bukan janji  kosong.


KEWARASAN (30)

Pulang dari tukang gigi
aku ngaso di sebuah karikartur
Langit menangkap
aku yang terkantuk

Belum apa-apa
Sudah mampir seekor ular
”Hole in one,” katanya menjelek-jelekkanku
Dan kucekik saja cintaku

Tapi apa sebenarnya aroma dosa
menarikmu ke pohon itu
Dicari: Pahlawan kesiangan
untuk membekuk lupa

Aku akhirnya pergi ke sungai yang sepi
Mengatakan padanya: Tak terjadi apa-apa
Benar, tak terjadi apa-apa
(Tapi aku tak bersumpah, sumpah itu sampah!)


CINTA SELURUHNYA PASTI (31)

kamu teguh berdiri
seperti boneka salju
dengan topi yang miring, syal yang juga membeku
kamu menanti di “luar” sana
Bintang-bintang menjadi putih
lampu taman menyorotmu
langit seluruhnya gelap
cinta seluruhnya pasti


SEPERTI YANG KAUKUATIRKAN (32)

Pastikan satu kecemasan
menghuni hatimu saat burung-burung pulang
Aku menghentikan mobilku tepat di pusaran bayang
Lalu melambaimu, mengejamu, sebelum cinta
Benar-benar pergi ke sarangnya yang baru
Telah kukuburkan hantu-hantu gentayangan ke dalam televisi
saat hp ku berbunyi: “Hallo sayang, apakah kau
masih utuh di sana?”
Aku telah gagap, aku tak hendak menjawab
Ketika mulutku terbuka dan mengucap: Seperti yang kaukuatirkan


TIKUNGAN (33)

Pikirku hanya lekuk
pada usia yang redup, waktu yang menggumpal
Inikah dehidrasi dalam rinduku?
Kadang terlihat ular yang idiot
mengapung di adonan pagi

Ah... aku tak akan bisa seserius ini lagi
Simpan sifat rendah hatimu sementara cinta
dengan hati-hati membakar waktu cuci mulutmu
Atau kau telah memastikan bahwa kiamat
adalah sepi yang sangat berat?



25 komentar:

  1. yg pejalan tidur sudah bisi ulun nh....

    BalasHapus
  2. Duhai Allah..Berilah kenikmatan Syukur dan kesabaran dalam setiap ikhtiar,dan do’a,, Jagalah hati ini dalam penantian panjang yang tak tau kapankah semua ini Engkau akan mengakhirinya untuk ku,
    Pernah ku dengar Sabda Baginda Nabi ” Iman itu setengahnya adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah syukur”

    BalasHapus
  3. Puisinya bagus2 nih mas. Benar2 jangan remehkan penyair
    ya
    Sebab tangannya bertuah

    Main ke blog saya boleh, di ibrohimhalim.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims, Halim. Puisimu juga bagus, dan orangnya juga keren. Jarang ada kombinasi semacam itu :)... Tangan bertuah itu semacam metafora saja. Metafora dari ketekunan. Hanya mereka yang tekun yang mampu menghasilkan sesuatu yang menakjudkan. Salam.

      Hapus
  4. semua puisi Pyan bagus...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. di atas langit, masih ada langit, Nai...

      Hapus
  5. Salam,
    Kumpulan puisinya sangat bagus sahabat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims, bro, saya tunggu kemunculan kumpulan puisimu...

      Hapus
  6. keren infonya gan :)

    berkomentar di blog saya juga ya http://cahsememi.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga ada waktu... makasih dah mampir

      Hapus
  7. Salam,

    Rumah puisi yang indah...
    semoga kita bisa bersua dan bisa ngangsu kwaruh sama panjenengan
    o ya, apakah rumahnya karanganyar-Jawa tengah?
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mas. Semoga suatu saat ada kesempatan bertemu. Rumah saya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ndilalah, jalannya jl. Karanganyar 2. Tapi cuma nama jalan thok. :D

      Hapus
  8. Salam kenal
    andai kenal sejak dulu ya Pak
    saya senang menelusuri isi blog ini...
    Bolehlah kapan-kapan bertukar buku puisi Pak ya.

    Salam, DP Anggi
    http://dpanggi.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Anggi, makasih dah jalan-jalan di sini. Telah saya kunjungi blogmu, yang saya suka, kamu berani menuliskan mimpi-mimpimu. Itu sesuatu yang luar biasa. Tentang bertukar buku, saya cuma dapat mengatakan: I like this idea...!! Sms-kan alamatmu ke nomor saya: 0813-48029470 atau ke email saya m.nahdiansyah.abdi@gmail.com. Biar saya yang memulai duluan. Salam takzim.

      Hapus
  9. assalamualaikum...
    saban hari melawat blog ini...
    saban hari juga hati melonjak baca puisi di rumah puisi ini.

    dari pembaca di Malaysia....
    http://mayasufi888.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Salam kenal Maya Sufi. Terima kasih sudah ikut belajar di blog ini. Salam persahabatan dari Indonesia....

      Hapus
  10. Bang, bbrapa antologiku yg sudah terbit bagaimanakah caranya biar bisa berkontribusi ke blogg KEPADA PUISI ini. salam. tjahjono widarmanto

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mas Tjahjono Widarmanto, saya merasa terhormat dikunjungi guru-dosen-penyair Ngawi. Mas bisa kirim sepilihan puisi yang disukai, berikut cover dan biodata buku seperti yang ada selama ini. Atau jika ada e-booknya, bisa mempercayakan kepada saya untuk memilih puisinya, sekalian saya belajar dari puisi-puisi sampeyan :). Kirim ke m(dot)nahdiansyah(dot)abdi@gmail(dot)com, atau kirim via facebook. Terima kasih. Salam puisi.

      Hapus
  11. Jalan-jalan di pinggir jalan
    Singgah sejenak membeli roti
    Meski telah tiba lebaran
    Semoga mulia Ramadhan tetap di hati

    #Selamat_Hari_Raya_Idul_Fitri
    #Mohon_Maaf_Lahir_&_Bathin

    BalasHapus
  12. Assalamualaikum wr wb

    Saya mengucapkan beribu-ibu terimakasih untuk bukubuku puisi koleksi anda. Selain menjadi acuan untuk bersastra bagi indonesia yang hampir bisa dibilang mati suri sastranya, anda menyajikan referensi sepenggal dari tuangan para maistro puisi......
    Saya suka blog seperti ini, dan saya berterimaksih juga untuk medsos yang memberikan jendela untuk membaca dan mengarang/menulis :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam wr wb. Sama2. Semoga blog ini ada manfaatnya, setidaknya buat saya yang lagi belajar nulis puisi. :) Terima kasih sudah mampir di sini...

      Hapus
  13. Terus mengoleksi buku, mendokumentasikan sejarah puisi Indonesia. Salam kenal dengan karya. Tabik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, oom. Makasih puisinya. Lanjutkan perjuangan membesarkan kedai sinau dengan hati. Salam takzim.

      Hapus