Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 08 Agustus 2016

MENDAKI KANTUNG MATAMU




Data buku kumpulan puisi

Judul : Mendaki Kantung Matamu
Penulis : Bode Riswandi
Cetakan : I, Februari 2010
Penerbit : Ultimus, Bandung
Tebal : xvi + 84 halaman (63 puisi)
ISBN : 978-602-8331-17-3
Gambar dan desain sampul : Nazarudin Azhar
Pengantar : Prof. Jakob Sumardjo

Beberapa pilihan puisi Bode Riswandi dalam Mendaki Kantung Matamu

MENDAKI KANTUNG MATAMU
                                   
: buat WS. Rendra

Mendaki kantung matamu rakyat dengan darah selabu
berlari tak tentu. Siapa lagi yang terbunuh? Darah kami
tinggallah selabu. Rumah kardus, bayi-bayi yang resah
amuk pemuda di jalan raya, dan babu-babu pribumi
dipalu ketakutan yang tak perlu. Seberapa samodrakah
luas kantung matamu? Menampung resah dari juru-juru
Ia memberikan tuhan bagi mereka seperti yang di langit
atau yang di dada.

Lemak-lemak bolamatamu kau gembalakan di cakrawala
menampar setiap gebalau suara-suara yang menuju renta
Kita tidak boleh tua sebab dera juga manisan maut apapun
tapi lahir seruncing gigi anjing tanpa majikan manapun

Mendaki kantung matamu rakyat menghangatkan darah
saban waktu. Matanya tungku dan hatinya cahaya api
Jika kelam tiba mereka khatam nyulut tubuh sendiri
jadi fajar atau matahari: bumi dan langit milik kita
untuk ditanami jagung atau padi.

2009


TENUNG RINDU

(1)

Selalu lewat jendela aku memahamimu dan selalu rindu
yang minta ditulis dengan darahmu. Hari-hari berpendar
ke rumah yang lain, ke dasar dada dan kebun-kebun jiwa
Engkau jadi seperti alamat tenung atau serupa kemuskilan
yang diciptakan, tapi melulu aku bertamu saban waktu

(2)

Saban waktu aku mendatangimu dengan tubuh yang pucat
Tapi kau menulisnya ketika darah badan tinggal segurat

2009



PEMBERANGKATAN

Tuhan tak suka bertamu atau singgah lama-lama
Juga basa-basi. Ia cukup datang sekali waktu
Tersenyum atau tidak sama sekali.

Tuhan tak datang ke bangsal atau ke kamar-kamar
Tak duduk manis di ruang tunggu juga kursi kayu
Ia suka hadir sesaat dalam sekejap percakapan

Yang menyapamu? mungkin Ia. Atau mungkin yang lain
Serupa Izroil dan makhluk-makhluk semacamnya, sayang
yang mengendap dan memicing mata di tabung oksigen
Mengintai bola matamu baik-baik

Tuhan tak datang jadi pengamen talkin, juga pembesuk
Siapa yang renang dan bertahan di labu infusan?
Mungkin yang lain, atau seseorang dengan kuda kayu
Membawamu berkelana ke gurun-gurun waktu.

2002


ANTARKAN MAYATKU SAMPAI RUMAH SEPI, KEKASIH

Kematianku meninggalkan darah di kelopak matamu
Bunga-bunga waktunya kau tabur
Di batu nisan – di dadamu

Antar mayatku sampai rumah sepi, Kekasih
Musim jadi guguran daun, bulan berkubur
Dan matari seonggok cuaca yang diamiskan

Ini setubuh tanahku, setubuh batu-batu
Ada yang melambai di pohon
Ada yang menanti riang di akar

Antar mayatku sampai rumah sepi, Kekasih
Kubur tumbuh jadi akar kamar yang syahdu

2001


TASIKMALAYA, 1

Kampung apa yang ada dalam dadamu?
Hidup dari batang padi dan suluh kayu
Petani-petani berangkat ke hulu-girang
Membaca petak-petak tegal dan ladang
Ada yang bernapas di lumpur dan tanah
Mungkin waktu atau semacam rahasia

Angin dan hujan runtuh ke dasar huma
Ke dasar dadamu. Di pekarangan, urat
Seribu petani jadi matahari. Bagi yang
Tiba dan yang pulang, hulu atau girang
Adalah rumah sakal yang mengkatami
Tujuh lapis musim kawin sendiri-sendiri

Pahala atau mukzijatlah dalam dadamu?
Bocah lahir dari tanah dengan harapan
Menjulang ke cakrawala. Langit serupa
Taman bermain untuk memekarkan usia
Di mana akar rumput juga padi tumbuh
Dengan seratus ranting-ranting raksasa

2009


AUBADE
                                    -kepada KP

atas dasar mimpi yang dijabarkan
aku merasakan laut yang telah pasang di punggungmu
ribuan kuda yang dilahirkan angin dari ombak
meringkik memaknai percakapan yang tertangkap
mengambang di udara

adakah matamu yang membangun keriuhan ini
ketika matahari menyusut di jari-jariku
dan sajak menjelma kolam tanpa ikan
bagi hari yang tak mudah terkelupas
seperti itulah adanya

adakah matamu yang menajamkan kecemasan itu
sejak di lenganmu muara tiba-tiba menjelma kupu-kupu
dan pohon yang tengah tumbuh di ujung tebing hatiku
mengenangkan daun-daun ganjil
dalam seratus tembang mijil

aku tawaf dalam muara yang diciptakan wajahmu
lantas gerimis amat kerap dalam dada
dan laut terus pasang di punggungmu
musim pun berloncatan dari langit
yang patut dikenang

percakapan kita kali ini, adalah air
yang menegaskan muara bagi seluruh sungai
tempat lebur segala kecemasan
yang dilayarkan ke selat macapat

atas dasar kemenangan
yang menyembur dari kedalaman senyummu
: kini aku adalah pengungsi resmi
yang mendiami matamu

2005        


SUNYARAGI

amsal pusara: tubuhnya ilalang luka
angin susut ke daun jendela
seseorang dengan kelebat rindu
hinggap dari pintu ke pintu
dan jika engkau masih di sana
aku tak pinta segara darimu

amsal pusara: tubuhnya ilalang rerumputan
ia merambat dan menarik celana orang-orang
dan jika engkau masih tetap tinggal
aku ingin jadi seseorang

2004


CIREBON

bulan sabit, satu lesatan tombak matamu di kejauhan
angin tirus menugar empat matahari
yang menjelapat dalam peta perjalanan
ini pesta kembang api di kegelapan
pucuk-pucuknya belingsatan
mencangkul kening para bohemian

Cirebon, sulur angin laut
petikan perigi di telikung kata
seusai menggarami sunyi, malam sulutkan hujan
pada sayap-sayap cakrawala

bulan sabit, satu lesatan tombak matamu makin mendekat
tujuh langit merapat ke tepi alis lengkung
di sini Cirebon aku lukis menjadi angsa
yang mencelupkan setengah badannya di tepi danau

rimbun daun-daun kerinduan
menjuntai ditiupkan sabit yang pucat
beterbangan seperti kunang menggendol seribu lampion
dan aku seperti sulut-sulut kecil
lebih kecil dari lingsatan pucuk kembang api

codot dan pelesit di lampu remang
memegang cawan dan sedikit bersulang
diseduhnya sebotol udara dari tengkuk angin semilir
lantas bersijingrak mengikuti langgam
gelombang di tenggorokanku yang tak naik pun turun

bulan sabit, satu lesatan tombak matamu makin merapat
Cirebon, melukisku berkisar yang pandai melompat
sesudah itu aku pun pandai membaca nyamur
dan belajar kembali membuka tingkap langit

2004


DANGA BAY, MALAYSIA

Seperti menemui jalan pintas ke arahmu, dua kelokan
Sebelum daun-daun senja melebarkan tulang-tulangnya
Aku akan sampai pada gelombangmu. Tentang kapal layar
dan laut berwarna bulan. Aku terpejam menikmati aroma
kepedihan. Kau menarikku dalam keasinan, dan keasinan
menarikku sampai tawar

Aku terpejam menikmati hujan, sambil kufasihkan
Sebuah kota kecil yang memiliki langit paling kusam
Pikiranku bergulingan sepanjang waktu di terowongan
Dan waktu tak pernah berhenti memintal setiap kelokan

2005


DI VIETNAM CAMP

Banyak yang bercerita lewat angin, semacam dingin
Atau isyarat yang licin. Sepi serupa kembang muda
Yang tumbuh di ranting rahasia. Kuncup ia satu-satu
Lalu jatuh ke dasar tanah. Musim bisa cepat berganti
Di sini, tetapi kabut lebih cepat bertelur di barak ini
Jadi bayangan yang remah di rumput, atau jadi rindu
Yang dipahat di bangku katedral yang berlumut

Aku tak dapat melihatmu melambai dari jendela barak
Atau membaca bayanganmu dari serambi dan geladak
Aku cukup mengimbangi isyarat lain, membayangkan
Sebutir mata sipit dari segala arah membalut teriakan
Yang memanggil-manggil dari lubuk sejarah

Banyak yang bernyanyi di sini, semacam bunyi-bunyian
Juga siulan. Gerimis yang tiba kebetulan, serba bau aspal
Yang mengerak di jalan jadi bagian riwayat kemalangan
Tahun-tahun banyak terlewatkan. Hujan dan angin runtuh
Saling bersahutan. Kesepian tumbuh di plafon, senyapnya
Merambat pada akar pohon. Aku mendengar seruan pelesit
Di balik daun kamboja, suara-suara sepi yang dipantulkan
Angin di ujung gapura. Siapakah kamu?           

Siapakah kamu? Aku bertanya pada dinding waktu
Pada keloneng genta yang ditarik seorang pendeta
Pada katedral dan barak-barak yang renta. Tak satupun
Jawaban datang kecuali gema suaraku yang terdengar
Nyaring berulang-ulang, kecuali bayang wajah-wajah
Pendatang dengan dada dan kakinya yang telanjang

Banyak yang mengintai di sini, angka-angka di nisan
Adalah misteri tersendiri. Dan bulu-bulu ilalang yang
Terhempas ke bumi adalah gema paling keras di sini
Aku hanya menunggumu datang menunjuk satu arah
Jalan pulang

2009


SEMUA MENGHITUNG

Dalam sholatku laut menghitung rakaat
Dalam rakaatku langit menghitung kejanggalan
Dalam kejanggalan cakrawala menghitung kubur
Dalam kubur para kekasih menghumuskan tanah wirid
Sementara di sini, dalam dada yang kegelapan
Tuhan dan bulan jadi semacam lapak untuk mengadu
Keberuntungan atau penumbalan.

2002


BULAN LUWUNG BATA

BULAN SEMPURNA: dan aku bicara padamu bersilang mata
Tanpa harus lari, dirimu selalu mengejar dan tiba lebih awal
Rumah labuh ke dalam tubuhmu. Tahun-tahun kusam tumbuh
di pintu jati. Daun jendela dengan gordin hijau muda juga atap
dari rumbia mengekalkan dirinya di pucuk ibun

“Di cakrawala, aku rindu hujan benar-benar turun dari langit
yang tanak” ucapmu. Dunia jadi tak selebar dadamu, ia berlari
ke ranting waktu dan selalu sampai di ranting yang baru
Dirimu cukup tanak untuk merangkum segala peristiwa rupanya
Di mana kelak mereka yang terbiasa memalingkan punggung
pasti kembali ke kampung halamannya. Sendiri-sendiri

Aku bicara padamu dengan bolamata yang terbang dari kelopaknya
Sunyi tak reda dan tanganmu yang hijau memainkannya bagai pion
catur yang dijatuhkan satu-satu. Tinggallah dua pion dengan warna
sepasang, kau dan aku sepakat jadi bagian sunyi yang kita mainkan
di dalamnya.

Aku mencintai dirimu dengan setumpuk kecemasan dengan rindu
yang menguap ke mana suka. Biar kukenang semesta dengan terang
bolamata.

BULAN SEKERAT: dan aku bicara padamu dengan bahasa tanak
Tentang jalan berlobang dan bayang-bayang pemuda kampung
yang menolakkan punggung. Ke mana mereka pergi? ketika bulan
jadi lempeng-lempeng tembaga dan langit jadi rumah madu di sini
Wahai lebah, jadilah kamu keringat mereka yang tertanam di tanah.

BULAN HABIS: dan aku bicara padamu ketika segalanya tinggal
gema

2009


SEKUNTUM SAJAK BUAT WILLY

Aku tengah menulis puisi untukmu dengan lumpur juga tanah
Kata-kata kuharap jadi kerbau atau kuda jantan dari bukit-bukit
Tapi seseorang jadi kelebat angin atau sehampar dingin padaku
Kemudian pergi. Kerbau dan kuda jantan itu hanya bayangnya
Yang datang berderap dari bukit.

Aku tengah keras menulis puisi untukmu dengan cinta dan darah
Berusaha memeras keringat jadi batang logam atau bubuk timah
Ruang, waktu, nama-nama, wajah-wajah, dan pakan-pakan maut
Memeras palung dan sumur-sumur kehidupan dalam semesta diri
Tubuhmu jadi rumah: barangkali seseorang singgah sekejap mata

Dirimu bertolak dari pintu membaca firman yang membumbung
Di udara. Bukit-bukit tinggal gemuruh yang menulis jejak derap
Kerbau dan kuda jantan yang beranak pinak jadi bayang-bayang
Tubuhmu hutan hujan: belantara ternak bagi sekuntum sajak

2009


HARBOUR BAY

Aku akan menyebrang. Bertolak dari tubuh telanjang
Merasakan kebebasan sekaligus menabung kesedihan
Cukup panjang. Aku akan belajar menyetir diri sendiri
Dengan sihir jemarimu yang dilambaikan ke arahku
Sampai tak terlihat tubuhmu terpancang di pelabuhan
Selain kabut juga bangunan yang sama-sama menjulang
Dan patung dewi Kwan Im yang diguyur warna terang

Gelombang kecil menarik tubuhku. Rambut matahari
Yang menjulur dari angkasa jadi pecahan kaca di laut
Kapal peti kemas dengan seratus kelasi datang dan pergi
Dengan ribuan kubik pasir besi di punggungnya
Di perbatasan ini, kamulah satu-satunya wajah angin
Yang tegas menepuk-nepuk pundakku dengan hari-hari
Naas. Aku telah melewati perbatasan dengan ombak kecil
Yang sama, melewatkan kenaasan sekaligus menyambut
Hukum karma.

Aku melewatkan kebahagian, memancing kecemasan
Meraba suara di balik gema, adakah yang berdiam
Di perbatasan memadamkan mataku dari bau garam
Yang bertelur di pantai dan lautan?

2009


AUBADE, 2

Di dalam hatimu, kau meminta
Puisi yang melengking seperti anjing.
Tak ada yang lain lagi, selain matahari
Yang terbenam selamanya.

Aku berikan puisi sebagai hutan bagi anjingmu,
Bagi sepetak rumah di hatimu.
Tak ada yang lain lagi, selain taman
Yang membentang selamanya

Di dalam hatimu, kau meminta
Puisi yang deras seperti hujan.
Tak ada yang lain lagi, selain awan
Yang gelap selamanya.

Aku berikan puisi sebagai sungai bagi hujanmu.
Bagi sumur dan kolam kecil, juga taman di hatimu.
Tak ada yang lain lagi, selain danau
Yang menggenang selamanya.

Aku kenang engkau sebagai anjing
Di taman itu. Dan kau mengenangku
Sebagai lengkingannya.

2006


DI LAUT
NASIB DITULIS DENGAN GARAM

*
Ke tengah laut aku dilayarkan
Tanpa tafsir hidup
Tanpa perbekalan sunyi yang reda
Pundakku memberat dengan kemarahan yang sia-sia
Tempurungku diarangkan iman yang diapikan

Ke tengah laut aku dilarungkan
Dengan sesaji yang diharamkan
Perahu-perahu keropos matahari yang keropos
Seperti nelayan dan tetua adat
Melepasku dengan doa-doa berkarat

Di kedalaman laut
Aku menghirup asap kemenyan
Asap dari segala wewangian
Dan seribu ikan dengan mata sepi
Menatapku dari dekat

Sampai di dasar laut
Segalanya melebur
Terumbu-terumbu jadi ibu
Bagi anak-anak manis pemilik seratus sumur
Pasir dan palung jadi bapa bagi kenyataan yang papa

Di laut
Nasib ditulis dengan garam
Keyakinan dan iman hanyalah arus
Serta gelembung-gelembung kecil
Yang menyeret nasib dan menawarkannya kembali

Di laut
Keyakinan dan iman adalah air
Tubuh adalah sungai dan muara
Yang ditempeli musim yang mekar sendiri
Lalu mengalir hingga ke laut. Sampai di laut

**
Demi terumbu-terumbu yang jadi ibu
Bagi anak-anak manis pemilik seratus sumur
Telah kulupakan laut pasang di punggungmu
Waktu dadamu terbelah menjadi mataair
Kemudian tujuh sungai ngalir dari hulu ke hilir
Menggenang dan bermuara
Di mata orang-orang tercinta

Demi pasir dan palung yang jadi bapa
Bagi kenyataan yang papa
Telah aku kenang kesakitan semesta
Telah aku pintal airmata
(Tengah aku harap: Engkau membutakan kedua mata
Kemudian aku berjalan dengan tongkat Musa
Membelah laut. Ya, membaca kabut)

Demi yang menangis di sepanjang abad ini
Udara seperti mata bayi yang kesad
Kemudian larva-larva ditetaskan bumi yang baru
Dari sperma waktu yang menderu
Dan muncullah bayi baru yang sibuk memburu klenik
Sehabis bergelas-gelas mabuk musim paceklik

2007


LETUPAN-LETUPAN

Ada yang luput kucium dari tubuhmu;
Sisa bising kendaraan dan jejak para pejalan
Mereka jadi embun yang nempel di daun
Jadi kerikil yang terlempar dari alam lain

Ada yang luput kusapu dari tubuhmu;
Bulir keringat dan letupan-letupan isyarat
Mereka tumbuh jadi bahasa tanpa tabiat
Walau seteru kita berjalan kian hebat

Ada yang luput kubelai dari tubuhmu;
Semacam rambut serta pekat kabut
Tubuhku terlempar jauh jadi musafir
Yang tak cukup nyali masuki hutan tafsir

Ada yang luput kubasuh dari tubuhmu;
Luka dan debu kota yang menggaris di lehermu
Pintu-pintu toko terkatup, jentik embun meletup
Dan sepi membiarkan dirimu sejenak hidup

Ketika tak ada lagi yang luput dari perburuan;
Aku cukup memandangmu dalam remang
Merasakan sunyi yang pecah ke dinding dan tiang
Menanti jejak mencekik lehermu lebih tak karuan

Ketika tak ada lagi yang luput dari perburuan;
Aku telah cukup nyali merambah hutan tafsir
Dirimu akan tinggal sendirian, atau tubuhku
Yang diburu bergantian

2009


KATUMBIRI

Di rumah-Mu, aku melukis suasana yang tak pernah ada
Mencium kembali kelahiran dari catatan-catatan silam:
tentang gurun, kuda dan kilatan pedang

2003


Tentang Bode Riswandi
Bode Riswandi lahir di Tasikmalaya, 6 November 1983. Mengajar di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi Tasikmalaya (Unsil). Bergiat di Komunitas Azan, Sanggar Sastra Tasik (SST), Rumah Teater, dan Teater 28. Menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah drama. Karyanya tersebar di banyak media massa dan antologi bersama, anata lain Biografi Pengusung Waktu (RMP, 2001), Dian Sastro for Presiden #2 (2003), Tsunami, Bumi Nangroe Aceh (2008), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009). Mendaki Kantung Matamu adalah antologi puisi tunggalnya yang pertama.


Catatan lain
Di halaman ii ada 3 endoresemen, yaitu dari Ahmad Syubbanuddin Alwy (alm), Faisal Kamndobat dan Wayan Sunarta. Di sampul belakang buku, muncul 5 nama, yaitu Prof Jakob Sumardjo, Acep Zamzam Noor, Saut Situmorang, Nenden Lilis A, dan Ahda Imran. Prof Jakob Sumardjo menulis Metakosmik Puisi Bode sepanjang 7 halaman. Saya mau ngutip bagian akhir saja: Selamat berkarya, Anda masih muda./Jangan sampai ars brevis vita longa./Dan jangan lekas puas dengan apa yang Anda telah capai./Seorang pencari tidak pernah merasa menemukan./Bandung 10 Desember 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar