Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Kamis, 01 Januari 2015

NOSTALGI = TRANSENDENSI




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Nostalgi = Transendensi
Penulis : Toeti Heraty
Cetakan : I, 1995
Penerbit : PT. Grasindo, Jakarta.
Percetakan : PT. Gramedia Jakarta
Perwajahan : Albertus Swandaru
Sampul depan : Kunta Rahardjo
Tebal : xiv + 123 halaman (78 judul puisi)
ISBN : 979-553-483-1
Kata pengantar : Budi Darma

Beberapa pilihan puisi Toeti Heraty dalam Nostalgi = Transendensi

Cocktail Party

meluruskan kain-baju dahulu
meletakkan lekat sanggul rapi
lembut ikal rambut di dahi
            pertarungan dapat dimulai
berlomba dengan waktu
dengan kebosanan, apa lagi
            pertaruhan ilusi
seutas benang dalam taufan
amuk badai antara insan

taufan? ah, siapa
yang masih peduli
tertawa kecil, menggigit jari adalah
            perasaan yang dikebiri
kedahsyatan hanya untuk dewa-dewa
tapi deru api unggun atas
            tanah tandus kering
angin liar, cambukan halilintar
            mengiringi

perempuan seram yang kuhadapi, dengan
garis alis dan cemooh tajam
            tertawa lantang –
aku terjebak, gelas anggur di tangan
tersenyum sabar pengecut menyamar –
ruang menggema
dengan gumam hormat, sapa-menyapa
dengan mengibas pelangi perempuan
itu pergi, hadirin mengagumi

mengapa tergoncang oleh cemas
dalam-dalam menghela napas, lemas
            hadapi saingan dalam arena?
kata orang hanya maut pisahkan cinta
tapi hidup merenggut, malahan maut
            harapan semu tempat bertemu

itu pun hanya kalau kau setuju
keasingan yang mempesona, segala
tersayang yang telah hilang –
penenggelaman
dalam akrab dan lelap
kepanjangan mimpi tanpa derita
dan amuk badai antara insan?
gumam, senyum dan berjabatan tangan



Nostalgi = Transendensi

Nostalagi sama dengan transendensi
betul, ini permainan kata
lagi-lagi kata asing
tapi apa sih yang tidak asing
tapi itu hanya ilusi
kembali pada nostalgi
berarti kehilangan
yang dulu-dulu dibayangkan
hanya tidak mencekam lagi, karena
lembut dengan ironi

saat kini yang berkilas balik
siapa tahu nanti …
kini – dulu – nanti, teratasi
bukankah itu transendensi?


Siapa yang Mengatakan

Siapa* yang mengatakan:
            “bagai kuncup terkulai di tangan”
            yang menyanjungnya
dasar perempuan,
berterima kasih dalam-dalam
karena takdir telah menyentuhnya
takdir? bahwa dunia merekah dan
dupa keramat melingkari dengan mantra
mantra abadi?
dengan senyum pada pandang karena
sendiri tidak berdaya, pada pergelangan tangan
mesra menghelanya ke taman hakiki
hati padat-penuh kekaguman akan
manusia jantan, semacam dewa!
siapa pula yang mengatakan:
“ikatan restu antara dua
insan dewata”

lazim,
sebagai halnya tanda rahasia ditimbulkan
pretensi-pretensi sewajarnya
kuncup berduri, geli dan kesal
taman hakiki

---------------------
* Dalam mitos phallus menurut D.H. Lawrence dalam Lady Chatterley’s Lover


Doa

Jalanlah dalam terang
jalanlah dengan lapang
jangan terusik oleh sesal
terlambat dilepas oleh
mereka yang tertinggal
tanggalkan relung-relung kenangan
kisah yang setengah ingat
harapan yang setengah dapat
maafkan, bila telah lalai, kita
mendampingi, membisikkan
bekal untuk perjalanan
yang sangat jauh

jalanlah dalam terang
jalanlah dengan lapang
ke istana mimpi dalam kekal
ketiduran
dengan cita rasa harapan
dengan cinta sempurna
dalam renungan
yang paling dalam

satu tetes air mata
menutup sejarah
yang tidak terungkap lagi
kedalamannya – penjabarannya
yang terpadu, jadi terurai
yang terikat cerai-berai
yang mantap berserakan
yang tangguh tak dapat lagi
diharapkan

lupakan saja
tali-temali melekat
yang tidak ikhlas melepas
hanya membiarkan
simpul-simpul semakin menjerat
hiruk-pikuk
huru-hara kehidupan –
semakin sesat dalam lengang
sepi dan hampa
yang belum kentara, belum bermakna
tapi akhirnya
merangkul pergi

relakan kita-kita ini
yang kurang setia, kurang mesra
kurang peduli mencinta
hanya mampu menata
kenangan semakin indah
menutup sejarah
yang tidak terungkap lagi
yang telah gagal kita rengkuh
telah sampai pada
kelengkapan yang paling utuh
jalanlah dalam terang,
jalanlah dengan lapang,
dalam kelengkapan
tujuan


Perempuan Kesurupan
untuk Betsi

rambut terurai bergelombang mencuat
mencumbu lekuk pinggang yang
lembut melengkungi pangku, tapi
ia,
membelakangi aku
bersandar ringan
terhempas memanjang
ia,
menengadah dunia

tiba-tiba berpaling
matanya hampa!
bibir terkatup melemas
melepaskan kutukannya

matanya hampa
hampir-hampir tak percaya
kulepaskan harap
kulepaskan kewarasannya

matanya hampa
matanya hampa
aku terpaku menatapnya


Surat dari Oslo

Sudah kuterima surat undangan
Terima kasih, jadi anakmu akan menikah?
Baru ini kali terima berita, ah, ternyata
anak-anak kita telah merasa cukup dewasa.
Katakan saja sebagian tugasmu selesai sudah
dan tentu selamat saya ucapkan, terbayang, kalian
mendampingi penganten “jejer-jejer ngagem sinjang
tak sempat terharu barangkali, terlalu sibuk
semua harus berlangsung sesuai rancangan.
Pasti kalian juga merasa sangat dekat, – saat itu
terikat lagi oleh peristiwa khidmat, – lebih dari biasa –
Bagaimana, apakah memang jadi
menikah dengan yang dulu itu pacarnya?
Sayang, aku tidak dapat hadir apalagi membantu
meringankan dalam kesibukan yang meriah
sekaligus mengukuhkan suatu keberhasilan.
Bukankah orang tua ikut mencetak nasib anaknya
meski Khalil Gibran agak berbeda pendapatnya.
Aku ingat sekali waktu masih kecil,
ia berbaju biru kotak-kotak, dengan rambut tebal
dikepang dua, sehat, bulat dan manja –
ikut bertamu dengan ibunya, menarik-narik baju
berbisik merengek: “mama pulang!” –
Apa masih tetap manja, apa mereka dengar nasehat,
bahkan masih mau menurutinya
Lalu kini, siraman air kembang dahulu, midodareni
sebelum esok menghadap penghulu –
Tarub, janur, gamelan dan gending kebo giro
penganten bertemu, berlempar sirih, wijidadi,
sindur ibu, pangkon ayah, dulangan, kucar-kucur
sesuai adat upacara Jawa.
Aku mohon pada yang Maha Kuasa supaya
terkabul semua keinginan mereka, dan …
Aku sendiri, dahulu sesudahnya merasa sangat kehilangan
Waktu anak gadisku menikah, kemudian diboyong pergi
Di rumah lengang, kamarnya kosong tak tega kujenguk
di meja makan setiap kali, setahun lamanya
piring-gelas tetap tersedia
Lalu apa kerja kita selain tenang menjadi tua
sedangkan tenang itu soal kepuasan, tetapi
merasa waswas dituntut terus, entah oleh siapa –

Sementara itu hidup sehari-hari berlangsung terus
di Norwegia cuaca mulai dingin, dan kesibukan biasa
untuk membuat manisan frambos, arbei, tak berhenti
memburu waktu mengejar musim dingin dengan cuaca keruh
beda jauh dengan kesibukan kita di Indonesia
Lalu, aku akan melukis pandangan alam salju
tapi dengan pancaran terang aneka kembang tropika
teriring hampa mendambakan kehangatan khatulistiwa…

Kami telah terima undangan, terima kasih, sedangkan
lukisan hadiah untuk penganten akan dikirim segera
dengan doa selamat bahagia, serta maaf, tak dapat
mengunjungi pernikahannya.

Iowa, 1985


Geneva Bulan Juli
untuk J.H.

akhirnya
pasrah kepada musim
dan hidup jadinya seperti buku
(yang tidak terlalu tebal tentu)
dengan halaman berurut
untuk dibalikkan satu per satu

bila tidak
tiba-tiba gadis di Ganeva itu
menyeberang jalan begitu saja
sambil berlari tidak peduli tapi
hati-hati membawa bunga di tangannya

memang kuingat
perempuan tua berkerudung hitam
dengan keranjang mawar melewati meja
dan kau bertanya sederhana:
“apakah suka bunga-bunga?”

seperti biasa
kujawab dengan kebimbangan panjang
dengan jari
pada daguku kau palingkan mukaku penuh
kepadamu

janji pun
terkalahkan oleh musim yang
rebah-rebah pada hari tanpa angin
mawar pun
tinggalkan debu, malam Geneva hangat nafsu
akan tinggalkann kantuk dan terlalu penat nanti

sedangkan
gelisah, terganggu risau tak pasti lagi
siapa engkau siapa aku ini

mungkin sekali
engkau dalam kereta antara Paris
dan Geneva menutup jendela, janganlah
angin mengganggu rambutku

atau waktu
pernah suatu kelancangan telah terjadi
turun dari kereta api, sekali lagi kau
rayu singgah di kota tanpa nama
untuk menikmatinya bersama-sama

mengembara
adalah menanggalkan nama, melepaskan bumi
benda-benda kemilau dipermainkan angin

dan sangsi
mana pula yang lebih nyata, berjalan
merunduk karena angin kencang, atau
gemerlapan lampu di Amsterdam

bunga, malam, dan kota-kota
tersisip antara  yang sengaja dikenang
merata, seperti kata-kata di hari senja
meski
semakin menjurang ruang antara
ucapan yang bertumbukan

bila tidak
tiba-tiba kelepak sayap angsa putih
berlima perlahan terbang menyongsong bulan
tinggalkan danau menggenang sunyi
kita terdiam
sejak dahulu memang, yang
tidak terucapkan, lebih berarti

1968


Terbangun

nah, mimpi itu telah selesai
telah kujelajahi:
– ruang kosong itu –
ternyata di situ saja
mencari-cari
atau pilih saja karena lebih suka
ragu berjalan meraba-raba:
– dalam lengang-padat
rumah jenazah – beribu keong
akan terjaga

lebih baik bangun, bangkit dan segera dekati
anjing baru tergilas mobil tetangga
masih sempat lari ke rumah, di depan
tangga robohnya

anak-anak berdiri mengelilinginya sepi
mudah-mudahan saja ada yang ingat membelai
dan menyebut namanya


Bayangan Wungu

bayangan wungu di sana-sini
pada tubuhnya
adalah tanda-tanda bahwa ia
hidup karena derita
tertunduk karena dewasa
pilu meluapkan cinta

mengecup dengan bibir
bayangan-bayangan wungu
adalah menghirup dupa rahasia
yang menggetarkan kelepak burung-burung malam
dan budak memanggil binatang kesayangan
dengan nada-nada panjang
merayu

pilu meluapkan cinta, ia
adalah kekasih dan ibu


Saat-Saat Gelap

saat-saat gelap pertemuan
– yang keramat –
membenam dalam pangkuan
senyap sunyi, titian yang harus dilewati
curam sunyi, semesta yang menjadi saksi
hari cipta terulangi

bukan, ini bukannya pertemuan lagi
tetapi
iba tergetar menyingkirkan diri
– dari kesaksian –

manusia yang menyerah pada keangkuhan tunggal
tetapi diam-diam menikmati
jari membelai, meneguk
dari sumber kehidupan

Nb. Sajak ini pernah terbit/dipublikasikan di bawah judul “Post-coitum”


Cintaku Tiga

cintaku tiga, secara kanak-kanak
menghitung jari
kusebut satu per satu kini
yang pertama serius dan dalam hatinya
tidak terduga
bertahun-tahun ku jadi idaman
mesraku membuat pandangnya sayu mungkin
ia merasa iba padaku
ingin aku membenam diri, melebur
dalam mesra rayu, iba dan sayu
pandangnya yang begitu sepi, tapi
ia paling mudah untuk dikelabui –

yang lain, berfilsafat ringan dan kesabaran
tak pernah kulepas ia dari pandangan
petuah orang, – lidah tidak bertulang –
tak kupedulilkan karena ia
kata-katanya tepat untuk setiap peristiwa
sesudah akhirnya mengecap bibirnya
ia tinggalkan aku dan sesudah itu?
ah, biasa saja, tak ada sesuatu terjadi
memang ia tidak begitu peduli –

perlu kusebut yang ketiga, bukannya
lebih baik dirahasiakan saja, karena
ia datang hanya malam hari, engsel pintu pun
telah diminyaki
suaranya tegang, berat, menghela
ke sorga tirai-ranjang
pandang pesona tajam memaksa, akhirnya
menghitung hari setiap bulan

meskipun itu urusan nanti
ketiga cinta yang aku miliki
kapan kujumpai pada satu orang?


Siklus

sejenak pun tak akan kubiarkan
hiruk-pikuk pikir dan getir
merasuki hati
hutan belalang yang tak terseberangi lagi
karena kau telah resmi minta diri

resmi bersikap menunggu memberi waktu
untuk berkemas
melemparkan diri dalam api, ah janda
setia dan perawan suci
tidak diharapkan
hanya ketulusan untuk berjabat tangan
tersenyum ringan

harapan-dahulu, penyesalan kini
merupakan larangan, hanya menghela napas
karena berlomba dengan waktiu
menghitung bulan dan hari, pula
membuang kesempatan, karena terlalu segera
sudah sampai di sini saja

menghilang dari hidupku, melepaskan
dekapan bersyarat di atas pulau
terdampar oleh gerak harapan akhir
bertumpu erat
dengan pertimbangan-pertimbangan getir

di perbatasan, lambaian tangan dan
diam-diam mulai menanggapi tanda-tanda
penuh arti, suatu bukti
bahwa telah kau redakan pencarian peran
yang enggan menambatkan diri pada usia
antara manusia

karena kau belai dengan kata, hangati
dengan berahi, membuahi
hati dengan nikmat madu dan pelangi
lembut jari mencari, menjelajahi
bukankah segala ingin kau ketahui?

segala ingin kau ketahui
karena asing, mungkin tersayang
seperti maut tampak demikian, tidur
membawa mimpi di peraduan
paduan, dengan yang mesra, dengan kedahsyatan
yang masih asing, yang baru lampau,
yang telah hilang


Ke Pelabuhan

benarkah setiap senja
matahari masih terbenam juga
kasihku?

pernah kupelajari, sudah sekian waktu
yang lalu, bahwa bulan mengitari
dunia, dan dunia mengitari matahari –

bulan, yang bagai mangga kemuning
menyandarkan diri pada awan-awan
yang bergerigi
dan matahari terbakar merajai hati
sewaktu mobil menyusur kali dan kali
mengalir ke laut, lautan luas –
benarkan setiap senja?

karena sebelah kiri hanya tampak
nyala jingga langit merenggut-renggut lambaian
bendera dan cakrawala dirembeti gubuk-gubuk,
rapuh dan kelabu –

benarkah begitu, bahwa
suatu saat matahari dan lautan
akan bersentuhan, dan berjanji

bagai kedahsyatan yang menghilang
dan akan kembali lagi


Dua Wanita
untuk Dewi Rais

silakan-silakan masuk
senyum ringan dan berat isyarat
– ada topeng di dinding belakang
rumah ini rumah terbuka, terbuka hatiku
lihatlah segala kembang-kembang di meja
– telpon berdering, putuskan saja –
luas nyaman, kita dapat berdamai di sini
dekat anak-anak yang bermain di lantai
tanggalkan senjata perlengkapan hidup
– keriuhan kota di luar pagar –
di sini luas, nyaman dengan hidangan di meja
dan saling terbuka dimulai pertaruhan kata
hidupmu, hidupku, warna meriah dalam
corak kelabu dan endapan-endapan
lambayung-hitam dikibaskan dari baju
dan kabut wangi meliputi adegan
lingkaran berwarna meluncur, berputar antara
cetusan, ungkapan, renungan
terpapar di meja, antara cangkir, kunci mobil
dan rencana yang tak jadi dilaksanakan
– keriuhan kota di luar pagar –
rencana-rencana yang harus dikejar
sejam, sehari, nukilan hidup
yang diperas sebentar …

ah, sandiwara ini pun
sudah terlalu lama, bila
dua wanita bicara


Catatan 1956
untuk Frans

pasar malam terang, keriuhannya!
balon aneka warna, lepas satu meluncur
ke langit
manusia mencari, menjulurkan leher
berdesakan di atas tumit
gelisah mimpi, hidup ibarat pelita
nyamuk pun enggan menyentuhnya

pagar rotan berpindah tangan, selendang leher
yang ketinggalan
beberapa buku berjejer di papan, salah satu
ajarkan manusia
bagaimana seharusnya ia hadapi mautnya
keriuahan pasar di malam hari, tersesat hati
bagaimana temukan cinta kembali

perahu layar bergetar meriah, arah tujuan
belum pasti
angin pun tak sabar, (di karang mana terdampar nanti)
terbangun dari mimpi, – esok tak dapat dielakkan lagi –
kuseka air mata dari pipi


Sajak-Sajak

sambil erat-erat berpegang
menjenguk dalam kelam
hidup remang-remang
merenggut merjan atau bintang
diusap, ditimang, dironce, ditebarkan

pulang-pulang ada yang menyusup
dalam degup, deras menggetar
sampai ke puncak-puncak
sekilas tertahan jadi kemilau
yang rebah-rebah dalam dekapan


Manifesto

aku tuntut kalian
ke pengadilan, tanpa pihak yang menghakimi
siapa tahu, suap-menyuap  telah meluas menjulang
sampai ke Hakim Tertinggi
siapa jamin, ia tak berpihak sejak semula
karena dunia, semesta, pria yang punya

sejak saat itu – sejak Hawa jadi Bunda
ah, sudah lama sebelumnya
kecut hatimu menyaksikan kebesarannya
Induk Agung, yang melejitkan turunan
makhluk-makhluk kecil, buta, telanjang –
putus digigitnya tali pusar, dijilat bersih
disusukan saksama, kemudian
dijajarkan di seantero jagad raya
begitulah mamalia dipersiapkan
bagi Darwin dengan pertarungan hidupnya

perkara kecil membelenggu wanita dengan
tetek bengek yang malah disyukuri olehnya
secara serius, dungu dan syahdu –
sementara itu – karena memang kerdil, takabur
dalam kelicikan – kau menggigil kekhawatiran
lalu
tanda jasa – status ayah – kau sematkan di dada
tanpa ditunjang fakta biologis barangkali
tidak apa, demi warisan, ego dan
kelangsungan evolusi

kemudian kau dekritkan: wanita itu pangkal dosa
sebungkah daging, segumpal emosi
sekaligus imbesil dan bidadari
dilipat jari kaki, dikunci pangkal paha
dicadari, gerak-gerik dibebani menjadi
tali lemah gemulai
ia tertunduk karena salah, gentar, patuh
mengecam diri
dan akhirnya boleh juga, ia dimanja
sekali-kali

lalu seperti anak-anak keranjingan, bukankah
bahaya dan pengganggu telah disingkirkan
kau sibukkan diri dengan permainan:
sepak bola, biliar, gulat dan perang jihad
ilmu, teknologi karena bebas kreatif
perang, polusi, proton, neutron
pingping antara Moskow, Peking dan Washington

gemetar tak sabar, ingin perang-perangan
sementara menunggu saat saling memusnahkan
laut dikuras, sungai-danau diracuni
lapisan ozon digerogoti, sampah konsumen
ke mana dibuang – percuma,
itu urusan para antariksawan
bumi ini kue enersi yang halal dibagi-bagi
pada pesta ulang tahun, dengan lilin yang nyala
– sumbu bencana –
lalu menyanyi panjang usianya
memang, upacara memberi khidmat, seperti
diplomasi, jadi sandi-sandi
yang semakin sulut untuk dipahami

kepada anak-anak ini
berbaju seragam, bertanda bintang, berjubah hitam
dengan wejangan, retorik, agitasi
telah kita percayakan nasib bumi

makhluk-makhluk kerdil, diburu kecemasan kastrasi
hanya kenal satu bencana riil: impotensi
membusungkan dada lewat psikoanalisa, karena
solidaritas mafia dengan Bapa di Sorga
akhirnya merestui emansipasi wanita

aku tuntut kalian
sekali lagi, – saatnya mungkin terlambat sudah
perang telah berkecamuk, ekosistem telah buyar
pengungsi di mana-mana, menipu, lapar, terkapar
dan diplomasi jadi lawakan, yang sungguh
tak lucu lagi
sementara
kami telah diam cukup lama, berkorban demi
egomu dan sekian banyak abstraksi
apa wanita kini harus selamatkan dunia
tiba-tiba pembangunan jadi urusan kami juga!

kalian telah kehilangan gengsi
seperti badut yang tunggang langgang lari
dalam bencana akhirnya panggil ibu juga
tapi – demi anakku laki-laki,
tuntutan aku aku tarik kembali
dan jadi pengkhianat – atau –
memang karena sudah terlambat

September ‘80


Tentang Toeti Heraty
Toeti Heraty lahir di Bandung 27 November 1933. Meraih sarjana muda kedokteran dari Universitas Indonesia (1955), sarjana psikologi dari Universitas Indonesia (1962), sarjana filsafat dari Rijks Universiteit, Leiden (Belanda) dan doctor filsafat dari Universitas Indonesia (1979). Pernah menjabat sebagai Ketua Jurursan Filsafaat UI, Ketua Program Paskasrjana UI bidang studi filsafat, Rektor Institut Kesenian Jakarta. Tahun 1994 dikukuhkan menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra UI. Karyanya: Sajak-sajak 33 (1971), Mimpi dan Pretensi (1982), Aku dalam Budaya (disertasi, 1984), Wanita Multidimensional (1990).


Catatan Lain
            Budi Darma menulis di bagian pengantar, diantaranya seperti ini: “Sementara itu, sajak bukan dunia praktis. Sajak bukan gontokan pendapat sekian banyak pihak, namun antara penyair dengan dirinya sendiri. Monolog atau solilokui, itulah hakikat sajak.// .. Justru karena sajak adalah arena pertempuran antara penyair dengan dirinya sendiri, kita bisa melihat apakah seorang penyair benar-benar punya tulang punggung, bukan hanya seonggokan daging. Sekali lagi, di bawah langit tidak ada apa pun yang benar-benar murni. Shakespeare berutang budi kepada Christopher Marlowe, sementara T.S. Eliot berutang budi kepada Shakespeare.//Memang sastra adalah sejarah, sastra adalah tradisi. Penyair hari ini tidak mungkin lepas dari penyair masa lampau. Karena di bawah langit tidak ada apa pun yang benar-benar baru, kepribadian penyairlah yang akan memberi ciri khas kepenyairan seseorang.//Toeti Heraty sanggup menjadikan sajak-sasjak dia benar-benar menjadi miliknya sendiri. Sebagai penyair dia merupakan sosok tersendiri.”
            Tentang kenapa sajak yang ditampilkan pertama adalah sajak “Cocktail Party”, ya karena sajak itu yang menjadi pokok bahasan Prof. Dr. A. Teeuw dalam buku Tergantung pada Kata. Ringkasnya, itulah sajak pilihan A. Teeuw. 

2 komentar:

  1. saya menyukai puisi-puisi yang anda posting di sini. Terimakasih sudah berbagi. Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga karena dah mampir dan ngasih komen... Tetapkan hati tuk terus nulis, meski pun jalannya sunyi sekali. Salam kenal :)

      Hapus