Pengantar Bulan September 2014

Bulan ini, hadir di tengah kita terjemahan bebas Serat Joko Lodang oleh Pujangga Jawa Ronggowarsito, Migrasi Para Kampret oleh F. Rahardi, Bangsal Sri Manganti oleh Suminto A. Sayuti, Telimpuh oleh Hasan Aspihani dan Sepucuk Pesan Ungu oleh Ready Susanto. Salam Puisi.

Selamat Hari Puisi Indonesia

(Melanjutkan informasi dari http://infosastra.com/2012/11/hari-puisi-indonesia-pada-26-juli/ dan dari akun facebook penyair Micky Hidayat. YAP, Selamat Hari Puisi, kawan!)

Sebanyak 40 penyair Indonesia telah menandatangani prasasti Deklarasi Hari Puisi Indonesia di Anjungan Idrus Tintin Pekanbaru, Riau, Kamis malam, 22 November 2012. Sebelum ditandatangani, teks tersebut dibacakan oleh presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Prasasti dari marmer tersebut kemudian diserahkan kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Riau untuk disimpan di dalam museum daerah setempat.

Deklarasi tersebut merupakan puncak dari serangkaian acara Pertemuan Penyair Indonesia (PPI) I yang diawali dengan Musyawarah Penyair Indonesia (MPI) pada siang hari mulai pukul 13.30 hingga 16.00 wib, dan ditutup dengan pertunjukan baca puisi oleh semua penyair dari berbagai daerah di Tanah Air, dari Aceh hingga Papua. Gubernur Riau, HM Rusli Zainal, juga ikut tampil membacakan sajak “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar.


DEKLARASI HARI PUISI INDONESIA

Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis
secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah
tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda.
Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi
dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan
dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia,
mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan
...
sebagai bangsa yang merdeka.

Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis.
Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis
dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata
ikut membangun kebudayaan Indonesia.
Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental
pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan
berhasil meletakkan tonggak utama
tradisi puisi Indonesia modern.

Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa
yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan
kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan
kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini,
kami mendeklarasikan
tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli,
sebagai Hari Puisi Indonesia.

Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia,
maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi
untuk memajukan kebudayaan Indonesia
yang modern, literat, dan terbuka.

Pekanbaru, 22 November 2012

Penyair Indonesia


Para penyair yang tampil membaca sajak dan ikut menandatangani prasasti tersebut, antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta), Rida K Liamsi (Riau), John Waromi (Papua), D. Kemalawati (Aceh), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Kazzaini KS (Riau), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Pranita Dewi (Bali), Bambang Widiatmoko (Jakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Agus R Sarjono (Jakarta), dan Jamal D Rahman (Jakarta), Chavcay Syaefullah (Banten), Husnu Abadi (Riau), Hasan Albana (Sumatera Utara), Hasan Aspahani (Riau), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Marhalim Zaini (Riau), Pandapotan MT Silagan (Sumatera Utara), Jefri Al-Malay (Kepulauan Riau), dan Samson Rambahpasir (Kepulauan Riau).

Puncak acara PPI I juga ditandai dengan peluncuran buku Antologi Hari Puisi Indonesia yang berisi karya-karya para penyair yang hadir, dan dimeriahkan pemutara video sejarah Hari Puisi Indonesia, serta pertunjukan musikalisasi puisi dan puisi multi media. Menurut koordinator acara, Asrizal Nur, penyelengaraan PPI I dan Deklarasi Hari Puisi Indonesia ini dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Provinsi Riau bekerjasama dengan Yayasan Sagang dengan sponsor utama PT Riau Pos, serta didukukung oleh Yayasan Panggung Melayu (YPM), Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Majalah Sastra Horison, dan Jurnal Sajak.

Sejarah deklarasi

Menurut salah seorang inisiator acara ini, Rida K. Liamsi, keinginan untuk memiliki Hari Puisi Indonesia muncul ketika dia dan Agus R. Sarjono menghadiri Hari Puisi Nasional Vietnam. Gagasan tersebut kemudian ditularkan kepada Asrizal Nur dan Kazzaini KS, lalu dibincangkan secara lebih serius dengan Maman S. Mahayana dan Ahmadun Yosi Herfanda saat mereka bertemu di Seoul dan Hansan, Korea Selatan. Sepulang dari Korsel mereka membentuk Tim Perumus yang disebut “Tim Tujuh” di Jakarta yang bertugas menggodok ide tersebut agar dapat segera diwujudkan. Tim Kurator juga dibentuk untuk memilih penyair-penyair yang pantas diundang.

Konsep dan pemilihan tanggal Hari Puisi Indonesia awalnya disiapkan oleh Maman Mahayana di Korsel, kemudian dimatangkan oleh Agus Sarjono, Ahmadun YH, Asrizal Nur dan Jamal D. Rahman di Jakarta. Sementara itu, Rida K. Liamsi dan Kazzaini KS menyiapkan pelaksanaan PPI I di Pekanbaru. “Sesuai hasil kesepakatan Tim Perumus, yang kami pilih sebagai Hari Puisi Indonesia adalah tanggal 26 Juli, yakni hari lahir penyair Chairil Anwar, peletak tonggak utama tradisi puisi modern Indonesia,” katanya.

Setelah dideklarasikan, kata Rida K Liamsi, direncanakan mulai tahun depan Hari Puisi Indonesia akan diperingati secara besar-besaran di Jakarta. Diharapkan, peringatan serupa juga akan diadakan di daerah-daerah oleh para penyair yang hadir. Dengan demikian, diharapkan, puisi akan makin dicintai dan diapresiasi dengan baik oleh masyarakat. [RLS]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar