Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 01 Februari 2013

JALAN MENUJU CINTA




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Jalan Menuju Cinta
Penulis : Jalaluddin Rumi
Penerjemah : Asih Ratnawati
Judul asli : In the Arms of the Beloved oleh Jonathan Star
Cetakan : I, Mei 2000
Penerbit : Terompah, Yogyakarta
Tebal : 250 halaman (59 puisi, 5 cerita)
ISBN : 979-9323-01-0
Disain cover : Wenk Mohan

Beberapa pilihan puisi Jalaluddin Rumi dalam Jalan Menuju Cinta

Yang Seribu dari Jiwaku

Wahai Tuhan Pemilik Keindahan, Pemilik Anugerah
Masukilah jiwaku
sebagaimana kau masuki kebun yang penuh bunga

Hanya sebab kerling-Mu batu berubah jadi manikam
Satu isyarat dari-Mu telah cukup untuk
mencapai setiap tujuan

Datang, datanglah. Engkaulah kehidupan dan pembebasan manusia
Datang, datanglah. Engkaulah mata dan cahaya Yusuf
Eluslah kepalaku. Sebab sentuhanmu mencahayai kegelapan tubuhku

Datang, datanglah. Engkau menganugerahkan keindahan dan rahmat
Datang, datanglah. Engkau penyembuh seribu jenis penyakit
Datang, datanglah. Meski belum pernah kau tinggalkan aku
tetaplah kemari dan dengarkanlah puisiku
sebab Engkaulah yang seribu jumlahnya dari jiwaku

Pergilah dan bawa serta kerinduan masa lalu
Engkaulah Kekasihku

Jika Raja tidak bersemayam di singgasana dunia ini
Yang ada hanya kegelapan dan kegamangan

Engkau bergembira dan hidup dengan napas-Nya
Engkau bergerak karena kekuatan yang mengalir dari cinta-Nya
Sekarang saatnya, seperti seniman, Engkau mencipta
Sekarang saatnya, seperti pelayan, engkau menyapu

Setiap yang Kau sentuh akan menuju
dan terbang bersama sayap-sayap bidadari
Namun, ingatlah, sayap-sayap itu tak cukup kuat
membawamu terbang menuju Tuhan
Sama seperti seekor kuda bagal yang dikendarai Nabi
Hanya cinta yang akan membawamu kembali menuju Tuhan



Awan Hitam

Luluhkan dirimu
Luluhkan dirimu dalam cinta
Ketika kau luluhkan dirimu dalam cinta
akan kau temukan segalanya

Luluhkan dirimu
Luluhkan dirimu
Jangan takut kehilangan
Karena engkau akan bangkit dari atas tanah
dan memeluk surga abadi

Luluhkan dirimu
Luluhkan dirimu
Larikan dirimu jauh-jauh dari bentukan tanah
Sebab tubuhmu adalah belenggu
maka engkau narapidana
Lemparkan dirimu keluar dari tembok penjara
dan berjalanlah bersama para raja dan pangeran

Luluhkan dirimu
Luluhkan dirimu di telapak kaki Raja yang mulia
Ketika kau luluhkan dirimu di hadapannya
engkau akan menjadi Raja

Luluhkan dirimu
Luluhkan dirimu
Berlarilah dari awan hitam yang menyelubungimu
Akan kau lihat cahayamu sendiri
bersinar seterang cahaya purnama

Sekarang masukilah kesunyian
Inilah jalan yang paling bisa kau percayai
untuk meluluhkan dirimu ...

Seperti apakah hidupmu, seperti apa? - Bukan apa-apa
selain perjuanganmu melawan seseorang
Bukan apa-apa, selain pelarianmu dari kesunyianmu

Siapa yang mengatakan bahwa yang abadi telah mati?
Siapa yang mengatakan bahwa Cahaya hidup telah redup?
Musuh matahari tinggal di atas atap
Dengan mata terpejam ia berteriak lantang,
"Matahari yang terang benderang telah mati!"


Seperti Ini

Jika seseorang bertanya
"Seperti apakah keindahan yang sempurna itu?"
Tunjukkan wajahmu padanya, lalu ucapkan
Seperti ini

Jika seseorang bertanya
"Seperti apakah bentuk bulan purnama?"
Panjatlah atap tertinggi, lalu berteriaklah lantang
Seperti ini

Jika seseorang bertanya
"Seperti apakah sayap bidadari itu?"
tersenyumlah kepadanya
Jika ia bertanya tentang aroma surga
Peluklah ia rapat-rapat, biarkan wajahnya
membusai rambutmu,
Seperti ini

Jika seseorang bertanya
"Bagaimana Isa menghidupkan orang mati?"
Jangan ucapkan apa-apa kepadanya walau
hanya sepatah kata --
Ciumlah pipinya dengan lembut,
Seperti ini

Jika seseorang bertanya
"Bagaimana rasanya terbunuh cinta?"
Pejamkan matamu, lalu sobeklah bajumu
Katakan padanya,
Seperti ini

Jika seseorang bertanya tentang rupaku
Tengadahkan wajahmu, lalu pandanglah
angkasa dengan matamu lebar terbuka
Seperti ini

Sesungguhnya jiwa memasuki satu jiwa lalu
jiwa lainnya
jika ia masih meragukannya pula
Masuklah dirimu ke rumahku
lalu ucapkan selamat tinggal kepadanya
Seperti ini

Kapan pun seorang pencinta mengisakkan tangisannya
Ia kisahkan kembali cerita kita
Dan Tuhan menekurkan kepala-Nya
mendengarkan
Seperti ini

Aku seperti gudang penyimpan harta berharga
Aku serupa dengan kepedihan pengingkaran pada diri
Agar kau bisa melihatku, arahkan
pandangmu lebih rendah, ke tanah
Lalu pandanglah surga
Seperti ini

Hanya angin sepoi saja yang mengetahui
rahasia penyatuan
Dengarkanlah suara lembutnya
membisikkan satu lagu bagi setiap hati
Seperti ini

Jika seseorang bertanya
"Bagaimana seorang pelayan akan dapat
meraih rahmat Tuhan?
menjadi lilin yang bersinar hingga terlihat setiap orang?"
Seperti ini

Aku juga ditanya tentang aroma tubuh Yusuf
yang memperjalankannya dari satu kota ke kota lainnya
Itulah aroma tubuhmu
yang ditiupkan Tuhan dari dunia-Nya yang sempurna
Seperti ini

Aku ditanya lagi tentang aroma tubuh Yusuf
yang membuka mata dan penglihatan yang buta
Itulah tiupan-mu
yang menyapu kegelapan dan menjernihkan
pandangan mataku
Seperti ini

Mungkin Syams akan lebih dermawan
Mengisi relung-relung hati kita dengan cinta
Mungkin ia akan menaikkan satu lengkung alisnya
dan melempar kita dengan satu lirikannya
Seperti ini

Jangan lagi kita percakapkan malam!
Pada lintasan hari-hari kita malam tak pernah singgah
Pada agama Cinta kita
tak ada agama dan tak ada cinta
Cinta ialah lautan Tuhan yang tak bertepi
Namun, alangkah mengherankan,
Ribuan jiwa tenggelam dalam lautan itu dan
berteriak lantang
"Tuhan tidak ada!"

Wahai mata, gosokkan kemejamu dalam darah
Wahai jiwa, gantungkan baju-bajumu pada
roda kehidupan dan kematian

Wahai lidah, biarkan Pencinta menyanyi
Wahai telinga, mabuklah oleh nyanyian-Nya


Yang tercinta

Ada sebuah tempat di mana kata-kata
menjadi sunyi
di mana bisikan-bisikan hati muncul dan
tak tertabiri

Ada sebuah tempat di mana suara
menyanyikan keindahanmu
sebuah tempat di mana setiap nafas
memahat dirimu
di jiwaku


Wahai Kekasih, Dekap Aku dalam Cintamu

Asap yang menari bersama cinta –
Wahai Kekasih, dekap aku seperti asap yang menari itu
Panas yang membakar dalam api
Wahai kekasih, dekap aku seperti panas membakar api

Lilin cintaku terbakar oleh rasa kangen
Seperti lelehan lilin ia menangis
Seperti sumbu lilin yang terbakar habis
Wahai kekasih, dekap aku seperti lilin yang
meleleh karena sumbunya terbakar api

Saat sekarang kita berjalan bersama menyusuri jalan cinta
Tak dapat kita tidur lagi malam-malam
Di rumah penginapan pemusik menabuh genderang dan drum –
Wahai Kekasih, dekap aku seperti pejalan dan pemusik itu

Malam gelap, para pecinta tak terlelap
Jangan ganggu mereka dengan keinginan untuk tidur sejenak
Satu yang mereka inginkan, di sini bersama kita
Wahai Kekasih, dekap aku seperti para pencinta luapkan cinta

Penyatuan diri bagaikan sungai yang mengalir dengan
sepenuh godaan menuju laut
Malam nanti bulan akan mencium bintang-bintang
Majnun menjelma Laila –
Wahai Kekasih, dekap aku seperti mereka

Tuhan adalah segalanya
Ia menganugerahi kebaikan bagi penyair itu
Segala yang kusentuh dan kulihat berubah menjadi nyala cinta
Wahai Kekasih, dekap aku dalam pernyataan cinta yang serupa

Pada hari cintamu menyentuhku
Aku menjadi gila hingga kawanan orang gila
menjauhiku dan lari dariku

Kata-kata dari sang pujangga tak kan pernah menawan
mantra yang kau sorotkan ke jiwaku lewat gerak alis mata


Penghinaan Suci terhadap Tuhan

Berangkatlah dan belajarlah
Arah jalan yang ditempuh para pecinta
berlawanan arus dengan arah yang bukan pecinta
Kebohongan Sahabatku
tetap terasa lebih jujur daripada kejujuran
dan kebaikan hati teman-temanku

Bagi Dia
Yang mulanya serasa tak mungkin digapai
menjadi biasa-biasa saja
Mudah saja
Hukuman menjadi hadiah
Tirani menjadi keadilan
Cacian menjadi pujian
Kekasaran sikapnya terasa lembut
Penghinaannya terasa tulus suci
Darah yang menetes dari luka tusukan duri Kekasih
lebih merah dari merahnya kuntum-kuntum mawar dan basil

Saat wujud-Nya pahit, nyatalah lebih manis terasa di lidah
daripada warung penjual manisan dan gula-gula
Saat Dia memalingkan wajah, terasa hangat peluk ciumnya
Saat Dia mengucapkan, “Demi Tuhan, cukup sudah
kedekatan kita di sini.”
Nyata kurasakan ucapannya itu bagai sumber air abadi yang
mengalirkan air kehidupan

Sepatah kata “Tidak” yang meluncur dari bibirnya,
serupa seribu patah “Ya”
Pada lorong yang meniadakan kehadiran diri
Ia berlaku bagai seorang asing
padahal sesungguhnya ia Sahabatmu yang
paling kau sayangi

Pengingkaran pada janji itulah tanda kesetiaan
Batu-batu di genggamannya itulah permata
Tuntutan pengembaliannya itulah tanda pemberian
Kekejamannya itulah kemurahan hati

Engkau boleh menertawakanku dan mengolokku
“Lorong yang kau tempuh penuh kelokan dan simpangan!”
Benar sekali – sebab pada lengkung alis-Nya
Aku memperniagakan cinta dalam jiwaku!

Lorong yang melengkung itu membuatku
benar-benar mabuk
Ayolah, hatiku yang mulia, tamatkan bait
syairmu dalam kesunyian

Wahai Syams, Pangeran dari negeri Tabriz,
Kemanisan apa lagi yang akan kau tuangkan ke dalam hidupku –
Yang sungguh-sungguh perlu kukerjakan ialah membuka
mulut lebar-lebar dan melagukan semua nyanyianmu 

Setiap hari hatiku menjeritkan tangis ratapan
Setiap malam hatiku menjadi batu

Kisah cintaku tertulis rapi di wajahku dengan tinta darah
Kuminta Kekasihku membacanya
Ia memintaku untuk melupakannya seolah
tak pernah ada

Gundukan khayalanmu yang menggunung
tak lebih dari sekedar tumpukan remah-remah roti
Kedatangan dan kepergianmu
tak lebih dari sekedar permintaan maaf basa-basi
Dalam sesaat
kau dengarkan cerita hatiku
Bagimu tak lebih dari cerita karangan hantu


Roti Mesir

Puisiku seperti roti Mesir –
Jika tak habis disantap dalam semalam, ia akan basi
Ambillah sebagian dari puisiku selama ia masih segar
Sebelum puisiku mengering terkena udara terbuka

Kata-kataku muncul dari kehangatan hati
Mereka menghilang oleh sebab dinginnya dunia
Seperti ikan yang berada di tanah kering tandus
Menggelepar sebentar lalu mati

Jika kau ambil kata-kataku tanpa kau cerna
Engkau sendirilah yang harus memberikan
warna pada setiap kebenaran
dengan pikiran dan anganmu
Wahai manusia, engkau minum dari cangkir yang kosong
sedangkan anggur yang amat berharga
mengalir lewat saluran tong
Engkau minum langsung dari sumur khayalanmu
seraya kau semburkan kata-kata yang manis dan bijak ini

Jika tetap kau makan roti yang sudah basi
karena kau anggap roti itu masih baik
yang kau rasakan tetap sama: sakit perut


Ia Memberiku Anggur Agar Aku Turut Mencicipi Rasanya

Jangan berputus asa jika Kekasih mengusirmu
sebab bila Ia mengusirmu hari ini
berarti Ia akan menghampiri dan
merangkulmu lagi esok hari

Jika Ia membanting pintu saat kau permisi di ambangnya
Jangan pergi dulu, tunggulah sebentar –
engkau akan segara dapat berdiri menyisi-Nya
Jika Ia memasang sekat pada lorong-lorong rumah
Jangan kehilangan harapan –
Sebab Ia ingin menunjukkan padamu sebuah
jalan rahasia yang tak seorang pun tahu

Tukang jagal memotong kepala seekor domba
untuk disembelih dan disantap dagingnya
Bukan untuk dibuang!
Ketika domba itu telah kehilangan semua nafas hidupnya
Si tukang jagal meniupkan nafas hidupnya untuk si domba
Wahai, Hidup sebagai apakah yang dibawa
oleh nafas Tuhan kepada-mu!

Namun keserupaan harus berhenti di sini –
Sebab kedermawanan Tuhan jauh lebih dari
kedermawanan tukang jagal itu
Tiupan nafas Tuhan tidak pernah
membawa pada kematian
Ia anugerahkan kekayaannya kepada Sulaiman
untuk disampaikan kepada seekor semut kecil
Ia berikan semua harta yang tersimpan di dua dunia
kepada siapa pun yang meminta dari-Nya
Ia memberi dan akan selalu memberi
Namun kemurahannya tak menyentuh sebuah hati

Aku telah memperjalankan langkah ke semua tepian bumi
namun tak kutemukan seorang pun yang serupa dengannya
Siapa yang akan sesuai menjadi pasangan-Nya?
Siapa yang akan mampu memegangi lilin kemuliaan-Nya?

Kesunyian!
Ia telah memberi kita anggur untuk kita cicipi
tidak untuk kita perbincangkan bagaimana rasanya …

Ia memberi untuk kita hirup
Ia memberi untuk kita cicipi
Ia memberi untuk kita nikmati

Saat kita terikat begini. Ia tambahkan belenggu lagi.
Saat kita menderita, Ia tambahkan keluhan
Saat kita tersesat di dalam rumah kaca
Ia putarkan kita melingkar dan melingkar
tak putus-putus
Lalu ditambahkannya sebuah cermin lagi

Wajahku memucat karena marah – jangan tanya mengapa!
Airmataku mengalir seperti biji delima – jangan kau tanya mengapa!

Siapa yang mempedulikan apa yang terjadi dalam rumahku?
Ada tetesan darah di ambang pintunya – jangan tanya kenapa!


Nyanyian Rumput Gelagah

Dengarkanlah nyanyian rumput gelagah
Dengarkan sungguh-sungguh ratapan
kesedihan berpisah dari sang Kekasih

“Semenjak aku direnggut dari kayu ranjang tidurku
Lagu dukaku menyentuh hati setiap lelaki
dan wanita, mereka meratap bersamaku
Kucari hati yang terluka pedih karena perpisahan
Hanya merekalah yang paham akan rasa
luka sebab rasa rindu yang menggebu
Siapa pun yang meninggalkan tanah kelahiran
akan merindukan suatu hari untuk kembali pulang
Di tengah orang-orang yang berwajah gembira maupun sedih
Aku lantunkan nyanyian ratap tangis
Setiap orang boleh mengartikannya dengan
makna masing-masing
Tak seorang pun pernah menyelidiki rahasia
dalam diri ini
Rahasiaku ada di ratapanku
yang diketahui oleh mata dan telinga yang
mempunyai cahaya saja”

Gemerisik suara gelagah berasal dari api
bukan dari angin yang menggoyangkan rumpunnya
Apalah arti hidup manusia tanpa api?
Api cintalah yang mengantarkan musik
kepada gelagah
Aroma cintalah yang memberi rasa pada anggur
Nyanyian gelagah meneduhkan luka jiwa
karena hilangnya cinta
Nadanya menabiri hati
Apakah racun yang terasa lebih pahit
Ataukah gula yang terasa lebih manis
semanis nyanyian rumpun rumputan gelagah?
Untuk bisa mendengar lagu rumpun gelagah
Tinggalkan semua yang pernah kau tahu dan
pelajari dalam hidupmu


Di Kesunyian

Seorang penuntun telah memasuki hidup ini
diam-diam
Pesannya terdengar hanya dalam sunyi

Hiruplah anggurnya
Luluhkan dirimu
Jangan kau hinakan kebesaran cintanya
Sebab ia meringankan mereka yang menderita
dalam sunyi sepi suara

Beningkan permukaan cermin dengan tiupan nafasmu
Pergilah bersamanya, tanpa kata-kata
Ia mengetahui seluruh amalanmu
Dia adalah seseorang yang memperjalankan
roda suara
dengan diam sunyi kata

Setiap pikiran yang terkubur di hatimu
Akan diperlihatkannya padamu satu demi satu
dengan diam

Ubahlah setiap bentuk pikiranmu menjadi seekor burung
Biarkan mereka terbang ke bagian bumi yang lain
Yang satu burung hantu, satunya burung elang,
satunya lagi burung gagak
Masing-masing berbeda satu sama lain
Namun dalam sunyi mereka hakikatnya sama

Agar bisa memandang Bulan yang tak
terlihat mata telanjang
Arahkan pandanganmu ke dalam batinmu
Lihatlah dirimu
dalam diam

Di dunia ini dan dunia berikutnya
Jangan kau perbincangkan ini dan itu
Biarkan ia yang akan menunjukkan
semuanya kepadamu
gemerlap satu …. dalam diam


Tentang Jalaluddin Rumi
Tak ada biografi Rumi di buku ini. Tapi di bagian pengantar ada keterangan berikut: Rumi hidup dalam kemasyhuran. Ia menjabat sebagai rector pada sebuah Universitas di Anatolia, ibukota Konya (sekarang Turki). Pada usia tiga puluh empat tahun ia mempunyai ratusan murid setia, raja pun termasuk muridnya. Hal yang paling tak bisa dilupakan dan tercatat dalam sejarah hidup Rumi ialah sebuah peristiwa yang menandai perubahan dalam keseluruhan hidup Rumi selanjutnya. Yaitu, pertemuannya dengan seorang darwis pengembara yang bernama Syamsi Tabriz.

Catatan Lain
(Berdasarkan keterangan di sampul belakang buku) Rumi disebut-sebut sebagai tokoh sufi abad ke-13. Reynold A.J. Arberry, orientalis Inggris, menyebut Rumi sebagai penyair mistik terbesar sepanjang zaman: Pada diri Rumi kita masuki sebuah dunia milik para pujangga besar dunia. Kedalaman pikirannya, penguasaannya terhadap bahasa, mengukuhkannya sebagai seorang yang luar biasa jenius di dunia mistisisme Islam. Paus Yohanes XXIII, pada tahun 1958, pernah menulis pesan khusus: “Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala penuh hormat mengenang Maulana.”
            Saat ini pengikut Rumi, para maulawi, termasyhur di Barat dengan sebutan The Whirling Dervishes (para darwis yang menari).
            Oya, di dalam buku ini, semua puisi Rumi format penulisannya di tengah-tengah. Saya jadikan rata kiri semua. Pemenggalan katanya pun ada yang saya sesuaikan dengan selera saya. “Tanggung,” demikian pikir saya. Buku ini juga memuat daftar istilah dan simbolisme terkait sufisme di bagian akhirnya. Inilah sekelumit kisah dari buku yang teronggok di rak Hajri ini.




































6 komentar:

  1. Tidak tau, saya pun pinjam punya teman...

    BalasHapus
  2. Bicara Rumi pastinya bicara
    tentang cinta, ya sobat.
    Syair yang dahsyat, tidak
    mudah mengerti awam.
    Bila syair diatas dirasa
    kurang, tidak ada salahnya
    sobat mengunjungi: http://
    pebriscreamo.blogspot.com/2014/02/
    siapa-di-pintu-ku.html
    Atau lebih lengkapnya:
    http://
    pebriscreamo.blogspot.com
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blog sampeyan bagus, ngiri saya. (sembari mikir kaya gimana cahaya tanpa warna :)

      Hapus
  3. Bicara Rumi pastinya bicara
    tentang cinta, ya sobat.
    Syair yang dahsyat, tidak
    mudah mengerti awam.
    Bila syair diatas dirasa
    kurang, tidak ada salahnya
    sobat mengunjungi: http://
    pebriscreamo.blogspot.com/2014/02
    /siapa-di-pintu-ku.html
    Atau lebih lengkapnya:
    http://
    pebriscreamo.blogspot.com
    Terima kasih

    BalasHapus