Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 01 Februari 2013

MALAM CAHAYA LAMPION



Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Malam Cahaya Lampion (hard cover)
Penulis : Tan Lioe Ie
Penerbit: PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I, Mei 2005
Tebal :xv + 106 halaman (63 puisi)
Penata aksara : Heppy L. Rais
Perancang sampul : R.E. Hartanto
ISBN : 979-3062-57-6

Beberapa pilihan puisi Tan Lioe Ie dalam Malam Cahaya Lampion

Burung Pematuk Biji Mata

Burung apa yang bertengger di kepalamu?
Sementara kau terus berdoa
sambil menghitung biji-biji tasbih
dari waktu yang batu.

Tiba-tiba terserap kau ke dalam pintu
Membuka dan menutup diri
Menjadi tua dan lapuk.

Aneh, meski keras kau guncangkan kepalamu
burung itu tak juga pergi
menunggu saat mematuk biji-biji matamu.

Lalu ruh angin datang
       menerbangkan
ruhmu ke peniupnya

Dan kau pun tahu
Mata yang padam
Tak menyimpan cahaya



Hu

Sediakan tubuhmu
Dewa hendak masuk
Hirup berbatang asap dupa
Dengarkan mantra pelupa
Menari dan torehkan pedang sakti
Guratkan tuah aksara dari alam dewa-dewi
Jadilah Hu! Lidah darah dewa
Mengawal pintu-pintu
Bersama Sin Touw dan Ut Lui
Menangkal jurik, demit, setan pengganggu
Menangkal segala yang jahat

Tapi, iblis dalam diri
       dapatkah ditangkalnya?

Hu. Bunga bintang timur
Mengetuk pintu langit
Mengetuk pintu bumi
Mengawal pintu-pintu
Bersama Sin Touw dan Ut Lui

Tapi, masih ada yang masuk
Ke bilik-bilik rahasia
Mencuri sebagian diri anak-anak
Mencuri sebagian diri kita
Hu, tak menangkalnya
Sin Touw dan Ut Lui membiarkannya

Apa sifatnya?

Keterangan:
-        Hu : jimat penangkal “kekuatan” jahat
-        Sin Touw dan Ut Lui, adalah dua dewa pintu


Kupu-kupu Sampek Engtay

sungai mati, tak mengalir
di atasnya perahu melaju

Tubuh terkubur
Cinta tidak. Maka
     retak nisan
Dan sepasang kupu-kupu
     terbang dari celahnya.

Tak angin, tak hujan dapat menghadang
Di daerah antara, ia hidup
Abad-abad terbang
yang disangga suka kita

Kita suka yang kita hindari. Jalan
samar yang tak hendak kita lalui.

Di daerah antara
risik daun berbisik:
     “kupu-kupu pertanda maut
     kupu-kupu pertanda tamu.”                                                                                                                                                          
Maut, tamu bersayap
Tak pernah lelah menerbangkan arwah.


Cing Bing

Sepasang kupu-kupu
       menerbangkan khayal alam
       Sampek Engtay
Benih yang ditanam
telah tumbuh
Berpijak di bumi
menggapai langit

Untuk Giam Lo Ong
dibelah semangka merah
Sebab tertulis di langit:
       Belah semangka merah
       Tak putus garis turunan

Di depan Bong Pai
Anak-cucu bertanya-tanya:
       Santapan tersaji
       bagi lapar ruh
       atau lapar daging?

Sepasang kupu-kupu mendekat
membaca tanya
berkata:
       Santapan kasih
       bagi ruh
       bagi daging

Sepasang mata uang
       berwajah beda
Sepasang kupu-kupu
       terbang ke sayap silam
Batang-batang lilin leleh
       dari cahaya ke cahaya

Ket:
-        Cing Bing, upacara bersih kubur
-        Giam Lo Ong, raja akhirat
-        Bong Pai, batu nisan


Puisi

Kantuk adalah kutuk
     bagi mata yang enggan pejam
Mata setajam mata elang
     menyambar segala
            yang jadi puisi
nafas penyair
     di mana kata-kata
menggeliat hidup

Bahkan setelah kau pejam
     oleh kantuk yang memberat
            tak tertahankan
masih saja kata-kata itu
     menggeliat
            menjadi dirinya
            menjadi dirimu


Mata yang Tak Takut

Saat lelah
Langit leleh ke laut

Tubuh kebas
Menolak sentuh

Ikan-ikan menggigil
Seakan asing dari laut

Dan senja menebar kabut
Bagi mata yang tak takut


Anggur Langit

Kita abaikan
Singa bersayap
Yang bersemayam
Di atas cawan anggur

Bersulang kita bersulang
Melenggang kita di depan nasib
Jala yang terayun di udara
Diintai binatang pengerat

Bumi jadi perahu
Melaju ke bulan dan bintang
Yang menari
Seirama siul lembah
Dan nyanyian bunga-bunga
Begitu riang. Begitu riang

Kalian yang di remang senja
Di gelap malam
Mari ikut bersulang
Anggur ini dicurahkan langit
Untuk kita
Yang tak jemu meramu hidup
Telapak dengan sekawanan jari
Yang tak mengenal tikai

Singa bersayap jadi lumpuh taring
Oleh anggur langit ini

Begitu riang. Begitu riang kita
Serupa kanak-kanak
Kekasih Tuhan


Malaikat Biru Kota Hobart

Musim gugur mencopot daun-daun. Malaikat
biru yang tabah di segala musim
menyanyikan nina bobo bagi gunung
penjaga gerbang kota
Burung-burung laut, merpati-merpati
mendekat saat ditembangkannya ayat-ayat hidup
Maka keriangan bagi semua

Tapi siapa meratap di kejauhan? Malaikat-
malaikat baru telah lahir
dari legam tubuh hangus. Musim gugur
yang lain melekatkan daun telinganya ke pasir

Kau katakan ratap itu karena
bayang-bayang dalam diri tak sepatuh
bayang-bayang di luar diri
Bukan kawan. Bukan. Legam itu
sungguh bukan bayang-bayang

Terbanglah. Bacakan ayat-ayat hidup
bagi yang tenggelam oleh duka
Terbang dan lihatlah
orang-orang membakar separuh dirinya
menjadi separuh manusia

Sesaat gundah juga hatimu
menangkap deru angin yang tak kau kenal
dari musim gugur yang lain
Tapi sayapmu tak cukup kuat
untuk terbang jauh, katamu
Maka kembali kau nyanyikan
nina bobo dan ayat-ayat hidup
bagi gunung dan kotamu

Dan keriangan bagi semua


Malam Cahaya Lampion

Lampion. Tarian naga bersayap
       di tanah ini. Tanah hidupku
Tempat angin pertama menyentuh.

Matamukah setajam silet
       mengulitiku. Kesurupan
Atau mabukkah kau? Benamkan
kepalamu. Bayangkan
       kita dikuliti bumi
Dan semut-semut bersarang
       di liang mata

Tubuh tak kekal
Jiwa diterbangkan naga
       di malam cahaya lampion
       di waktu
tak terbaca telapak nasib.


Dewa Dapur Chao Kung

Rasa malu mengantar tubuh
Jadi abu. Maka dewa dapurlah ia
Bermata api bertubuh asap
Menyelinap di anglo dan panci
Bersiul teko, berdendang dandang
Mengendap-endap di antara lengkuas, jahe, cabai
Sepanjang tahun menyusun laporan rahasia
Tentang penghuni rumah berdapur
Bisa sepedas cabai, bisa segurih gulai
Bisa semanis gula, bisa sepahit pare
Bisa pula sejernih air atau segelap jelaga

24 Cap Ji Gwee, asap tubuhnya menjadi awan
Membumbung ke istana langit
Melapor kepada kaisar langit. Perempuan
Masih saja perempuan yang banyak dilaporkan
Lalu lelaki? Dan yang tak berumah, tak berdapur?

4 Cia Gwee, bersama angin barat
Menukik ia melintasi naga ekor api
Pilar penyangga langit
Kembali ke dapur-dapur
Menyusun laporan baru
Berkah bagi si baik, hukuman bagi si jahat

Tapi si busuk hati, penguasa tamak
Pandai berkelit
Tahta darah berlimpah harta
Mencuri lebih mahir dari tuyul
Banyak yang dikelabui
Pun Chao Kung

Musim berganti
Dapur beralih rupa
Chao Kung semakin uzur
Mata api meredup
Saatnya diganti dewa muda
Yang tak dapat dikelabui
Menjaga alasan memuja dewa
Dan berkah bagi si baik, hukuman bagi si jahat

Ket.
-        24 Cap Ji Gwee = tanggal 24 bulan 12 Imlek
-        4 Cia Gwee = tanggal 4 bulan 1 Imlek


Lagrima

Air mata siapa begitu merdu?
Berdenting lewat gitarmu

Air mata tak berkelamin
Dan kau tak percaya
Tangis tabu bagi lelaki
Maka kau lantunkan lewat gitar

Kau puja air mata
Karena keindahan
Dan untuk keindahan

Melacak jejak air mata
Kau temukan pemburu air mata
Menguras kering kantung air mata
Bukan karena keindahan
Bukan untuk keindahan

Kau lagukan pula hidup
Yang melodi dan irama
Bertambah cepat dalam accelerando
Melambat dalam ritardando
Mengeras lewat cresendo
Lalu sayup dan senyap

Air mata siapa berkilau indah?
Menutup lagumu.


Tentang Tan Lioe Ie
Tan Lioe Ie lahir di Denpasar, menamatkan SD hingga SMA di kota yang sama. Pernah kuliah di fakultas teknik arsitektur Universitas Jakarta (tidak tamat). Menyelesaikan studi S1 Manajemen di Universitas Udayana. Selain menulis puisi, juga melakukan musikalisasi puisi, menulis cerpen dan artikel. Pernah aktif di Sanggar Minum Kopi (SMK).  Tahun 2003 mengikuti Tasmanian Reader dan Writer Festival, serta menjadi Writer in Residence di Tasmania, Australia. Kumpulan puisinya yang lain adalah Kita Bersaudara (diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dr. Thomas Hunter Jr, We Are All One)

Catatan Lain
Waktu saya bilang meminjam buku ini ke penyair Y.S. Agus Suseno, ia menyebut dengan lirih nama Yoki, sebagai nama panggilan Tan Lioe Ie. Ia kemudian bercerita pendek tentang Sanggar Minum Kopi, tempat ia dan penyait Ie mula berinteraksi. Dalam pengantar yang dijuduli Puisi pun Memanggil, Tan Lioe Ie menulis: “Tahun 1989. saya bertemu sekelompok anak muda dari Sanggar Minum Kopi (SMK) di tempat tinggal penyair Frans Nadjira, meminta saya untuk jadi juri lomba baca puisi yang akan mereka selenggarakan. Mulanya saya menolak dengan mengatakan saya tak memiliki latar belakang sastra. Namun, mereka mengatakan tak apa, karena mereka perlu juri pembanding dari “disiplin” lain. Setelah juga diberanikan oleh Frans Nadjira, maka akhirnya saya menyanggupi permintaan itu.// Pada saat lomba yang diikuti ratusan peserta, serta menggunakan puisi-puisi pemenang lomba cipta puisi SMK yang diadakan sebelumnya, selama sekitar tiga hari sampai babak final, saya berulang-ulang mendengarkan puisi dibacakan peserta.// Saya pun memberikan penilaian yang cukup banyak bersifat intuitif, namun ternyata hasil penilaian tersebut tak berbeda banyak denga juri lain di lomba tersebut. Dan saya juga mulai merasakan pesona puisi yang hadir lewat pembacaan peserta... semakin hari semakin mendekatkan saya pada puisi. Pada akhir tahun itu juga puisi pun memanggil dan saya mulai menulis puisi// sejak tahun itu saya kerap terlibat dalam kegiatan SMK dan baru pada tahun 1991 bersama beberapa teman, antara lain: Putu Fajar Arcana, Warih Wisatsana, memutuskan masuk sebagai anggota SMK...”
            Tak kurang dari 80 penyair diabsen dalam kata pengantar Tan Lioe Ie, sahabat-sahabatnya. Dua di antaranya dari Kalsel, yaitu Y.S. Agus Suseno (disana ditulis Ys. Agus Seseno) dan Ajamuddin Tifani (Alm.).
      Oya, bagian ini juga menarik dari pengantar itu, saya sepakati, Lioe Ie menulis: Yang menyenangkan bagi saya dalam menulis puisi adalah ketika saya sebagai penyairnya pun kadang dibuat “terkejut” oleh munculnya kata atau metafora yang sebelumnya tak terduga. Ketakterdugaan ini, saya kira, di samping atmosfer kreatif yang saya sebutkan di atas, juga ikut menjaga semangat untuk menggeluti puisi. Karena tanpa itu, dalam arti, jika segalanya sudah terduga, maka menulis puisi rasanya tak lagi menjadi tantangan kreatif.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar