Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 01 Februari 2013

PINANGAN ORANG LADANG



Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Pinangan Orang Ladang
Penulis : Esha Tegar Putra
Penerbit: Frame Publishing, Yogyakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal :123 halaman (76 puisi)
Penyunting : Nur Wahida Idris
Tata Letak : Indrian Koto
Desain Cover : Nur Wahida Idris, diolah dari Tree Monkeys karya Harings
ISBN : 978-979-16848-2-8

Beberapa pilihan puisi Esha Tegar Putra dalam Pinangan Orang Ladang

Tukang Puisi

beberapa gelitik lagi kau akan sampai
pada tempat yang bernama sakit
sekian mantera, bakal tuah
penebar fitnah ke daging, telah mengapung
dalam sumur. aku cuma ingin kau bermandi
dengan sumpah gaek yang cair
sungguh sebegitu tajamnya jangkrik berbunyi
tapi ini malam adalah kuasa ucapku
lecut aku berpuluh kata umpat
maka berkali-kali lipat kata pengikat
bakal lesat dan menghuni serat dagingmu
maka sebelum pengikat itu bergetah,
berlendir, dan pecah dalam badanmu
sumpahlah dengan sebaris kalimat:
karibkan aku dengan lembab puisimu!

Kandangpadati, 2007



Tali Hujan

di hari yang paling pucuk,
tali-tali hujan putus
dan cuaca berupa diam yang paling rahasia

manakala sajak menggulung jadi kepompong
basah di punggung daun
sebuah suara dalam lembut bahasa menggema
dari ladang, dari rangkap musim, dari leburan
gabuk pohon dan urat tanah.

mungkin dirimu,
“sesuatu yang berkarib dengan genangan air,
genangan laju mirip sungai,”
barangkali kau
“sesuatu yang dikutuk
untuk cuma jadi gema ladang”

kaukah seruan liar itu,
bakal membuat tali-tali hujan
menyambung diri dengan genangan air?
barangkali kau cuma seekor kecebong,
atau mungkin kunang-kunang sepi
yang mengetuk tiap pintu pohon
untuk bertamu
dan bertemu kekasihmu

Jalan Tunggang, 2008


Duri dalam Kopi

masokhis. sebut aku duri dan kau akan menemukanku
sebagai lelaki tanpa mata hati, lelaki di gulungan ombak
lelaki yang berseluncur lewat matamu. sebab hari telah
lain, sayang, rinai telah membenamkan pulau-pulau kita
dan kau berdayung dalam diri yang amuk. tetap aku duri
menusuk waktu dengan lirikan yang runcing

sadistik. menemukan lurah berbatu, kita. matamu yang lain
menelan jejak di sepanjang jalan. dedaun itu remuk
dan sisa kopi dalam plastik tinggal dedak, juga bayangan silam
lurah telah mengubahku jadi maut, sayang, dan percakapan
akan kutelan sebagai lengah yang tertinggal

Kandangpadati, 2007


Tidur Tanah

semalamam kuurai cara pucuk daun tersumbul
untukmu. lewat puisi yang gemetar berucap aksara.
kelak, di sesak kamar yang tak berjendela ini
seketika lafalanku fasih
tentang akar sampai pucuk batang
kan kubentangkan tubuh rimba
dengan aroma daun dingin
di tidur tanahmu yang padat

Padang, 2007


Selepas Bertemu

kau lepas lembah arau kau lepas lembah anai
ingatanmu gumpal di lekuk tebing di landai pantai

*
kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan
sajak harum bakal orang mencium titip di tiap kelokan
dan bunyi saluang dan tuah dendang bawalah
agar kau ingat pada ranah tempat raja pernah bertitah

*
di bukit jirek nan penuh jejak sepatu orang-orang bersenapan
kau ceritakan muasal sakit nasi kapau dalam tiap suapan

kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan
tentang tuan yang merebus daun kopi agar dibiarkan

dan bunyi ketipak terompak kuda penarik bendi
suatu kali bakal jadi gaungan lindap dalam setiap diri

*
agar kau nikmat agar kita bersua di lain masa
simpan dulu pandangan lama lepas dulu kedipan mata
isyarat pecah bulan dan terserak di batang kuranji

kulantunkan itu dendang agar kau tak memutus tali
kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan
dari penyeberangan bakal tersiar kabar persuaan

dan melupa dulu melupalah dulu tiap kelokan yang diingat
biar mengurung itu rindu lalu jadi buncah yang teramat

Kandangpadati, 2008


Gaung di Badan

sekiranya suara itu tak menggaung dalam badanku
suara yang himbau-menghimbau, menjagakan tidur
bahkan membuat geletar di lamunanku – geletar emak
yang menyauk gelegak air nasi, tersebab tangisku
lengking di kering air dadanya – takkan jadi ini puisi

bukankah aku tualang di tajam lidah hikayat berpisau
mematah risau yang memucuk tumbuh cerita baru?
kuraut batang bermiang, rindu berkasih. juga tubuh
berminyak air ini kugulai sebagai hidangan, peneman
para tuan dan nona di lepau, sambil bergelak-tawa
aku tak bersilat lidah di nasibku yang tidak
cuma merindu, tentang kampung, lalu lalang
orang orang bingung di jejalanan, koridor dan
ruang kelas. di mana percakapan mengenai waktu
selalu digenangi kopi dan keripik ubi

sekiranya suara tak menggaung dalam badanku
puisi tak akan mau berkekasih

Kandangpadati, 2007


Setusuk Sajak

aku akan datang padamu, sebagai pemikat balam, atau
sebagai pemanggul kayu hutan yang senantiasa berdiri setia
di belakang guyuran hujan. meski waktu berlalu serupa
nasib yang gagal menyusun kusutnya benang kenangan
aku akan tiba padamu menyerupai bentuk kayu, batu
atau sayap kecil yang baru ditumbuhi bulu

kuberikan bahasa, sebagai pengirim pesan yang berkabar
lewat bunyian. kuberikan makna, agar kau selalu tahu
hendak ke mana jalur angin mengantarkan basah air
yang hilang dari gerai rambut panjangmu

barangkali kau akan hafal sudut kecil dari lukisan abadi
yang setiap saat selalu kukuaskan padamu. “si pemikat balam
atau si pemanggul kayu hutan. lihatlah, agar suatu kali kau
sadar bahwasanya apa yang telah dibenamkan waktu, sulit
untuk dihela kembali.”
maknailah. aku sendiri tak tahu, apa harus saat ini datang
jalan ini terlalu lapang. sebagai apakah aku harus menemuimu?

2008


Penari Piring

berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar
saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. di mana rahasia
kejadian lama disurukkan? di salempang induk beras, di kopiah
tuan kopi, atau di saku baju para penggetah burung rimba?

dan masih suara piring diketuk kulit damar, tingkah-bertingkah
dendang tanjung sani dinyanyikan. tapi alamat diri tetap hilang
terbuang di panjangnya jalan. jalan yang bertarian dua badan
nan dipisah antara rantau dan kampung. apakah itu
bayangan laut tempat pecahan piring diserakkan?

Kandangpadati, 2008


Orang Ladang

tujuh petang menukak punggungnya, di bukit
ingin mencakau alang-alang. niat tinggal kalimat
tujuh petang gigih menikam, menyansam,
mirip ragam umbi yang ditanak dalam periuk
teruka ini tinggal batas, tinggal jejak, sebab di bukit
ia tumbuh dan menyusup ke dalam lempung tanah

tujuh petang menukak punggungnya, di ladang
ada yang tak pernah hafal desau biola, segelas anggur
atau niat untuk membangun rumah pasir di tepi pantai
sebab ia orang ladang. ia lesap ketika mengejar tupai dan beruk,
dia rapal musim petik kopi
dan ketukan yang berkali pada pintu dangau
ia tahu siapa yang tiba

maksud hanya menukak tanah lalu tanam. menanam
lalu petik. tapi sepi berkuasa terlalu dalam
ia ingin bertuju pada sebuah jalan batu, simpang
dengan udara masam, ilalang kering merabuk
ke sebuah tempat di mana tupai dan beruk berdamai,
bersamanya. mereka akan berkejaran di bukit
dalam botol anggur,
lalu mereka akan lelap di desau biola

tujuh senja adalah ia yang ingin berladang
pada sebuah tanah yang bernama puisi
yang berlari, yang terhenti, ia tetap orang ladang

Kandangpadati, 2008


Garis Ladang

di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut
tali puisi. ladangku rumpang ladangmu lempang. hah,
jadinya aku cuma bertanam rumput gajah. biar dijarah
perempuan malang yang di pinggangnya terselip sebilah sabit
(aku tahu ia bakal merambahnya secara diam-diam bila
seminggu saja aku tak berkunjung ke ladang) sebab matamu
merah apel, dan di sini aku tak bisa membibitnya. tapi bakal
kusayat dalam perih, kuiris dengan tajam. sebab jemarimu
telah biasa menujah pucuk kopi dan kulit manis
di tiap musim bertukar

dalam manis tebu, dalam pahit empedu, di mana garis
ladang bakal bertemu dengan lagu yang menandakan
dinginnya suara gunung? orang kata cuma di silungkang
tempat bertenun adalah mengasah waktu, tempat perempuan
berparas kelabu dan senyum yang makin batu. di sanalah
cerita dingin yang teramat dijahitkan. dengan benang ragu

tapi bukankah di air lembah, dingin juga menujah? biarlah
lurah bersuara tentang puisi yang direbut malang. tentang
peristiwa sunsang, peristiwa yang berlainan perut, peristiwa
yang saling menikamkan usus. dan semua itu berupa tali puisi
yang dipintal secara pasi, dengan tangan masih disusup gabuk
aku jadi si peragu, jadi gugu, di lambungku tertanak batu. sebab
kita dua ladang yang bersahutan garang. dan cuma di puisi
beradu suara. sebab matamu merah apel dan aku telah
bertanam rumput gajah. mengingat ulah seorang perempuan
yang di pinggangnya terselip sebilah sabit. tapi tak apalah,
tali puisi bakal memanjang
biar diulur dan ditarik setiap kali bersahut diri

Kandangpadati, 2008


Cangkang

begitu desau biola lembab itu
disapu habis bulan yang basah
maka terlantar pohon-pohon
untuk melebarkan daunnya
di luar masih basah,
lembab juga belum tentu
bakal menetaskan
telur-telur ingatan kita

yang terpaut dalam cangkang cuaca
yang makin asing bermain selimut.
aku menginginkan sepi yang dulu,
bahkan berkali-kali sepi
berikanlah,

tapi bukan sepi telur
dalam cangkang di musim basah.

Kandangpadati, 2008


Jalan Puisi
fragmen 6

—daun
jemariku angin, tak kuusap pipimu yang daun
kumasuki pokok tanpa mengetuk helaimu
ah, kularikan sajalah hijaumu.

—pantai

tepianmu yang pantai kujejaki
seiring laut menipu dengan pasangnya
adakah gelombang memberi tanda?

—jalan puisi

jalan puisi. yang menyebut kedalaman
kekasih yang menjemput puisi. bak urat bakau melembab
dan getah pekat yang menyekat hari


Yang Bersahutan dari Tanjung

sepasang kekasih
saling berebut maut di ujung tanjung
sepasang kekasih
saling menghela kalut dari arah laut
sepasang kekasih
saling menikam sayang dengan tajam kerang
sepasang kekasih
tak jadi berpadu sebab malam dipasung badai

tapi siapakah gerangan yang berani bersahutan dari
ujung tanjung? (tempat para hantu
menanggalkan kepalanya)

kulihat ada seseorang yang ketakutan, ia menyuruk di balik
rimbun rumpun betung sambil memanggul pisau panjang
yang karatan. ia menatap ke arah angin datang dan
berseru, “hei tuan yang berparas hantu, raja para rompak
dan bandit, dimanakah si sayang dimakamkan setelah kau
selesai berucap: kumaling jantungmu!”

Harau, 2008


Tentang Esha Tegar Putra
Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Besar di Nagari Saniangbaka, nagari kecil di tepian Danau Singkarak. Puisinya tersebar berbagai media nasional dan daerah. Buku puisinya berjudul Pinangan Orang Ladang (2009). Studi di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang.

Catatan Lain.
Saya tuliskan komentar Arif Bagus Prasetya di sampul belakang buku, saya pikir ini komentar yang mewakili: "Esha, membaca syair-syairmu, aku bersua dengan bahasa yang sekarat dalam nikmat. Tidak, kau tidak menghidupkan bahasa, hanya membuat sakitnya tertanggungkan. Seperti cinta. Karena cinta." Buku yang saya beli via Koto per tanggal 23 Juni 2011 ini seharga Rp. 25.000,-. Oya, saya juga ingin kutipkan satu sajaknya yang tak ada di buku ini, puisi yang saya dapatkan di laman penyairnya, Kandangpadati.wordpress.com berjudul (sepertinya) Setumpuk Sajak Pembuka Sekodi Pantun. Ini dia...

/setumpak sajak/
darimanakah rima pantun berbunyi bersibantun
kalaulah bukan orang jauh yang melantun
duh, tubuh dipisah serupa ubi patah di tampuk
bilamana peristiwa lama tinggal gaung batang berlubang
—malanglah kita semua, yang lupa berpantun berseloka.
sungguh kita tak sedang memisahkan garam dari air laut,
tak sedang meremas asam di atas talam tembaga,
tak berusaha meminang unggas betina untuk si jantan.
aduhai berpantun…. memasang sunting-pasang kopiah
bagi nada ingatan yang hendak berpiuh dendang lama.
hei, orang jauh. dihela juga hendaknya kisah malang si anak dagang.
sambil menyeruput kopi dan rokok sebatang, mari mengingat
pulau pandan jauh di mata dan batang cempedak di tepi bandar
yang ditanam anak orang bukittinggi. agar pertalian lama terkebat erat
dan kalimat di gelanggang tak sekedar riuh persabungan ayam
pantun bakal menari, berpiuh setumpak sajak, berdekap kuat gurindam.
inilah pantun si anak dagang, menumpang di biduk rumpang
menyeberangi teluk, merenangi selat, agar beralamat
pada lengang kampung:
/sekodi pantun/
ke pulau perca membeli lada
lada dibeli pencampur gulai
mulanya pantun hendak direnda
dari bismillah kita memulai
anak bincacak anak bincacau
pandai menggesek rebab pesisir
kalaulah tuan hendak meracau
janganlah pantun ini dicibir
pinang merebah ke parak orang
batang bergabuk digurik kumbang
perihal cinta minta diulang
berkalang tanah badan di petang
berkulik elang bukit langkisau
pertanda hujan segera datang
kalau direntang si benang risau
tak bakal terpijak tanah kampung
tuan kopi pergi ke padang
membeli baju corak melayu
mengapa dinda berdiri seorang
ingin rasanya kanda merayu
bujang pariaman pergi merantau
menggoda gadis sambil menggalas
dalam badan angin menghalau
sebab di kampung kenangan tumpas
disuruh ke surau mengaji nahu
malah rebana ramai ditepuk
ini derita siapa yang tahu
sebab di badan sakit menumpuk
parang dibeli di pasar lereng
bikinan orang tanjungbarulak
jikalau datang sakit meradang
diberi obat jangan menolak
pisang setandan masak didulang
peneman duduk kita di lepau
inilah pantun pengiring dendang
untuk diingat bujang di rantau
teluk bayur di pantai padang
labuhan olanda dan orang siam
janganlah buruk pantun dipandang
bakal peredam rindu yang dalam
tuan datuk makan di lepau
rendang dipesan dendeng yang datang
dalam mimpi dinda menghimbau
makin memuncak rinduku kampung
kapal merapat di bandar muar
kapiten berdiri di ujung geladak
hendak dengan apa rindu dibayar
di rantau dagang belumlah tegak
membeli kambing di muarapanas
pasarnya ramai alangkah riuh
kiranya cinta dimana bertunas
biarlah rasa menunjukkan arah
anak ayam main di semak
diintai musang berbadan legam
dalam hujan ingatan merebak
dinda seorang bisa meredam
di tengah sawah angin merendah
layang-layang tak jadi terbang
di badan rasa sudah terdedah
harapan dagang bakal menghilang
bunga tanjung tumbuh di tepian
harumnya diarak angin gebalau
apalah arti di rantau sendirian
kesana-kemari tak ada menghirau
induk beras pergi ke pasar
membeli kemeja lengan panjang
dagang belumlah cukup besar
masih terkejut dihardik orang
berliku jalan ke bukittinggi
di lembah anai singgah dahulu
jangankan dagang terbang meninggi
di rantau masih menahan malu
tegak menjulang gunung merapi
kokoh merentang gunung singgalang
jikalau dagang tidak menepi
alamat badan benar menghilang
ke bakauheuni kapal disauh
dari merak kita menumpang
inilah pantun si orang jauh
bakal pengobat rindukan kampung

Jalantunggang, 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar