Pengantar Bulan November 2014

Bulan ini, hadir menyapa kita sepilihan puisi Lazuardi Anwar dalam Pelabuhan, Sapardi Djoko Damono dengan Hujan Bulan Juni, Remy Sylado dengan Kerygma & Martyria, Sutan Iwan Soekri Munaf dengan Obsesi dan TS Pinang dengan Suburbia. Oya, dalam bulan kemarin, saat berkutat dengan puisi-puisi itu, saya banyak ditemani lagu di samping. P Ramlee - Nak Dara Rindu. Salam Puisi.

Minggu, 03 Juni 2012

SEGALANYA TETAP MEMBERI MAKNA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Segalanya Tetap Memberi Makna
Penulis : Tarman Effendi Tarsyad
Cetakan : I, April 2012
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin
Tebal : viii + 54 halaman (50 puisi)
ISBN : 978-602-8414-14-2
Sampul dan layout : Hery S

Beberapa pilihan puisi Tarman Effendi Tarsyad dalam Segalanya Tetap Memberi Makna

Karena Rindu

setiap suara serasa menyebut namamu
setiap pandang serasa menatap wajahmu
setiap gerak serasa mendekat padamu
aku sirna dalam cahaya kasihmu


Perjalanan tanpa Batas

pada saat menjelang keberangkatan
mengapa tidak sepatah kata pun kau ucapkan
hanya pandangmu menatap ke atas
sebuah perjalanan tanpa jarak. Perjalanan tanpa batas

ruang tanpa kata; begitu hening
ada airmata; menetes bening
Kemudian kulihat matamu rapat terpejam
setelah itu menyebar bunga. Wanginya begitu tajam



Kau Entah di Mana

kau entah di mana waktu kutatap langit
seseorang datang menyeru sehabis mengarungi laut
kemudian bercerita tentang pelayarannya mencarimu
tapi selalu saja terasa buntu

kau entah di mana waktu kutatap awan
seseorang datang mengadu sehabis menembus hutan
kemudian bercerita tentang pengembaraannya mengejarmu
tapi selalu saja terasa semu

kau entah di mana waktu kutatap kabut
seseorang datang menggerutu sehabis menuruni bukit
kemudian bercerita tentang pendakiannya menjangkaumu
tapi selalu saja terasa silau

kau entah di mana waktu kutatap rumput
seseorang datang membisu sehabis tafakur tanpa tempat
kemudian tak ingin bercerita tentang taharahnya mencapaimu
sebab hal itu baginya wahyu


Sepotong Bulan Sepotong Semangka

sepotong bulan sepotong semangka
bulan di cakrawala
semangka di atas meja
diam tak punya kata

kita duduk menghadap meja
bulan merah membara
semangka merah menyala
kita tak saling menyapa

ketika malam susut warna
bulan lenyap tak terbaca
semangka habis tak tersisa
kita terpejam memendam prasangka


Sungai Martapura

kaulah sebuah perahu yang mendayung tidurku
mimpi mengigau
dan angin memungut bayangan lampu
darahku mengalir ke laut biru


Ketika Aku Berjalan Menyisir Pantai

ketika aku berjalan menyisir pantai
tiba-tiba aku pun mengerti
mengapa ombak senantiasa memukul karang
kemudian memencar ganggang

tiba-tiba aku pun mengerti
mengapa surya senantiasa menyerap air
kemudian menebar hujan: tiada henti
kasihmu terus mengalir


Ketika Aku Berjalan Mengarus Sungai

ketika aku berjalan mengarus sungai
sebuah biduk meluncur
mengalir melaju mengikut alur
air bening mengaca: memantul sepi

seekor burung hinggap di atas baru
menenggelamkan kepalanya ke air
langkahku terhenti seketika. Kau menabikku
perjalanan tak pernah berakhir


Ia

ia langkahkan kaki
ombak membuai angin membelai
tapi lelaki tak mengerti
mengapa benci mengunci

ia hanyutkan janji
kerang menggarami kiambang meracuni
sebab lelaki tak mengerti
mengapa dendam mematri

ketika langit pucat pasi
ia tak perlu ditangisi
biarlah gerimis menebar rinyai
sepanjang pantai


Mengapa Kau Berdiri di Ambang Pintu

mengapa kau berdiri di ambang pintu
bukankah senja telah lama berlalu
atau barangkali kau masih terus menunggu
seseorang menyampaikan pesan saat keberangkatanmu

tapi bukankah hanya angin berkesiur
bukankah hanya daun gugur
kemudian lampu minyak di teras itu
padam kehabisan sumbu


Aku Memang Berdiri di Ambang Pintu

aku memang berdiri di ambang pintu
tapi tidak untuk menunggu
seseorang menyampaikan pesan untukku
sebab saat keberangkatan itu sudah kutahu

kini aku kembali berdiri di ambang pintu
dan kudengar kau berkata sendu
mengapa kau masih berdiri di ambang pintu
bukankah senja telah lama berlalu


Sungai Angin

sungai angin mengalir
mengalir sejuk semilir
taman dalam lubuk hatiku
mekar sayap kupu-kupu


Segalanya Tetap Memberi Makna

segalanya tetap memberi makna
aneka bunga mengering di halaman. Pohon mangga
cabangnya berjatuhan bila angin menerpa
pecahan kaca bagai kristal. Berserakan di beranda

segalanya tetap memberi makna
sepasang kursi kaki besinya berkarat. Tanpa meja
lemari hias mengelupas luntur warna
kamar tidur pengap. Bagai gua

segalanya tetap memberi makna
keramik kusam berdebu. Sarang laba-laba
membalut lukisan seorang wanita
kalender tak lagi terbaca. Berguguran bersama cerita


Tentang Tarman Effendi Tarsyad
Tarman Effendi Tarsyad lahir di Banjarmasin pada 29 Oktober 1961. Pendidikan terakhirnya, Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Lambung mangkurat. Saat ini mengajar di Politeknik Negeri Banjarmasin dan dosen tamu di STKIP PGRI Banjarmasin. Tahun 1999, menerima Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel. Tulisannya tersebar di beberapa penerbitan local dan nasional. Buku yang sudah diterbitkannya: Bahasa dan Gaya Puisi Sapardi Djoko Damono (Analisis Stilistika) (2009), Pengkajian Puisi: Teori dan Aplikasi (bersama Endang Sulistyowati, 2009), Aneka Kajian Prosa Fiksi (bersama Endang Sulistyowati, 2011), Teori dan Sejarah Puisi Indonesia (bersama Endang Sulistyowati, 2011), Warna Lokal Banjar dalam Puisi (2011), Kajian Stilistika Puisi Sapardi Djoko Dampno (2011). Forum sastra yang pernah diikuti: Puisi Indonesia 87 (Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1987), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Baca Puisi 4 kota: Ujung Pandang, Banjarmasin, Lampung dan Pekanbaru (Pekanbaru 1996), Cakrawala Sastra Indonesia (TIM, Jakarta, 2005) dan Dialog Borneo-Kalimantan XI (Samarinda, 2011)

Hal Lain

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar