Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 04 Mei 2015

MEMENTO


Data buku kumpulan puisi

Judul : Memento, Puisi 1993-2008
Penulis : Arif Bagus Prasetyo
Cetakan : I, April 2009
Penerbit : Arti Foundation, Denpasar.
(Diterbitkan dengan bantuan program Widya Pataka
 Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali)
Tebal : 116 halaman (76 puisi)
ISBN : 978-979-1145-30-5
Ilustrasi sampul : “Desktop Ash Cable” karya Ronald Wigman
Desain sampul : Made Sukla Yata
Pracetak : Nyoman Krining

Memento terdiri  dari 2 bagian, yaitu Jula-juli Pejalan Tidur (2008-2000; 17 puisi) dan Inferno (1999-1993; 59 puisi)

Beberapa pilihan puisi Arif Bagus Prasetyo dalam Memento

Manhattan Blues

Ditumbuhi sulur-sulur musim gugur
Aku turun dari firdaus lantai ketujuh.

Pelancong lancung. Gentayangan sepanjang tanjung
Menghela jam dan pohon-pohon yang berdentingan

Sebening kristal-kristal November yang termangu
Kekal, di etalase Lexington Avenue.

Raung klakson lengking sirine tikam-menikam
Berkilauan dihunus hujan tengah hari.

Tak terhingga manik mata, coklat-kuning
Terserak garing sepanjang jalan. Terbengkalai

Seperti sumur-sumur mineral yang ditinggalkan
Usai kafilah menguras teluk. Dan kabilah terhempas takluk.

Di ufuk gurun, di jazirah firdaus lain, aku lihat
Matahari membanting zirah perunggunya yang berkarat.

Menara api berderak runtuh. Jelaga menjilati mangsa.
Hujan abu mencekik kanal-kanal bahasa.

Debu kelabu angin kelabu flat-flat lengang yang kelabu
Mengembara di lorong-lorong belulangku.

Raut pucat seorang darwis yang menghilang dari balkon
Untuk sesaat menyeringai dalam arus kelam Hudson.

2003
 

Mcbride

Hanya telaga yang terisak ketika terik tak henti-henti menetak nadi
dan urat nadi berangsur hancur digerus badai yang mulai bangkit
menggugurkan daun-daunnya dan setapak jalan ajal daun-daun pun
tersibak. Kau berjalan menempuhnya dan langkahmu masih tegak
seteguh batu-batu cadas yang menahan hantaman martil musim
panas. Tapi inginmu tergelincir dari tubir agar debur dapat menjalarkan
debar ke sekujur kelenjar air. Dan sampan-sampan takkan
pernah menepi lagi dan yang berenang tak kembali dan tak ada
yang menunggu di ujung jalan setapak ini selain daun-daun gugur
dengan urat nadi hancur dan telaga yang teriak mengutuk terik
yang pernah tegak menetakmu semusim silam.

2003


Terra Incognita

Berdiri antara tonggak berlampu
Kudengar angin pun langsir
Terusir desir
: dingin itu telah runduk di muka pintu

Hujan pun perlahan turun
Makin hijau
Makin menderam deruMu dulu
: sebelum huruf-huruf jantungKu

senyap
tersekap setiap makna

dalam vakum cahaya

1993


Trembesi

Legam dan menjulang
Burung-burung menyusun sarang di keteguhan lengan-lengannya.

Puri agung bagi rangrang dan bengkarung
Arsitektur yang tumbuh dari bayang-bayangnya sendiri.

Hari segera akan runtuh. Sendi-sendinya yang rumpang
Kian ringkih dan terpiuh.

Digayuti biji-biji pahit karma
Ia belajar mencintai segalanya yang tak layak dicintai.

Bercakap dengan mambang sepanjang malam
Penghuni dunia bawah yang matanya terbasuh susu

Yang susunya pernah penuh menampung hujan Januari
Dan putingnya tegak teracung dijilati matahari.

Dulu pernah ia berjalan membenci bintang
Hanya melangkah membunuh jarak, melupakan mata angin

Berpikir takkan sampai di mana pun
Takkan masuk dalam surga siapa pun

Dan berseru pada mereka yang bertahan, berjatuhan
dalam Tuhan:

“Hidup kekal memancung tugu
Atau musnah memendam diri dalam tanah!”

Mereka murka dan mengutuknya untuk lenyap
Meresap ke kambium pohon hitam:

Raja bermahkota rangka layang-layang
Lingkaran tahun dan nubuat-nubuatnya.

Menara azan di kejauhan. Burung-burung berdatangan
mencucuk cahaya terakhir senja dengan kicau keemasannya.

Para peladang bergegas pulang meramu api dan berdoa
Seraut wajah, selarik rajah dari surah sederhana

Kutorehkan pada jasad yang mengerang dalam batang.

2000


Inferno

Menjelang ufuk mulai terbentuk, kau dan aku
akan takluk. Pinggul tumpur. Sumsum memasuki api
dengan lenguh lembu hitam.

Kau pun hangus aku arang.
Dan sesudah itu abu.

Upacara mencapai air. Berbulan-bulan
air. Aroma lumut membangun candi
dari puing-puing garam dan cahaya
tubuh mati.

Lalu teluh yang gemuruh semalaman akan kembali
merasuk tanah. Bersekutu. Dan segera tumbuh genta
yang gemanya menidurkan bunga bungur di pepucuk

perbukitan. Sehabis desis dan peluh punah
diterjang topan yang melesak dari Aras: tahta bengis
merah-ungu

Yang menumpas. Menghempaskan
kau dan aku, sekali lagi, pada padang

semut api. Buas. Bringas. Kudus.

KuasaNya!

Dia telah selamatkan nikmat ini, laknat ini,
berkali-kali, dari takut dan kiamat.

“Demi Yang Di Atas Sana. Untuk apa?”

1999


Caka 1920

Bahagia menjengukmu. Duduk diam, mengamati bintang bajak
tergelincir dari alur. Bagaimana aku tahan? Dari tanggul pelupukmu,
masih basah, kau menggeram menafsirkan jejak lumpur
yang tertinggal. Ke mana ia runtuh, untuk apa, bagaimana aku
tahan dan berharap kau meratap. Tapi tidak, “Dam-dam tahun
telah pecah di dadaku. Air gaduh bergemuruh hingga pinggang,
menggenangi ladang-ladang malam hari milik tuhan….”

Ladang-ladang milik tuhan. Radang-radang. Hujan hama telah
turun menjenguknya, bahagia, dalam desah akar-akar pepohonan
tercerabut dari tanah, berjuluran ke udara jadi lidah
merah bara yang menggulung bentang hari. Bulan pejam
menusukkan rerusuknya ke dadamu. Kau tersengal dan berguncang
mirip lonceng orang suci pada simpang jalan itu, yang
abadi memanggilmu waktu tidur, meraih ruh yang tersentak dari
tubuh.

Bahagia bahwa aku masih tahan. Dan sejuntai mantel basah
burung hitam yang bertengger di dadaku, sejak senja, tiba-tiba
berceloteh dengan derit pintu dapur, rangka bintang bajak tadi,
yang tersungkur menguburmu dalam hutan mantram ini.

1998


Mahasukka

Di pinggulmu selusin sayap ingin mengerjap, kunang-kunang terbang,
menikung, mengiang, membandang, terus, terus, cepat ringkus, remas,
hempas keras-keras jadi jerit bianglala yang terkulai di telaga, yang terberai,
terkapar menggapai-gapai akar darah si Teratai yang melepuh
dan terengah dan mengejang digerayang nyawa lekang nyawa datang
menggelombang melumat lutut yang mencelat dan berjingkrak dan
mengamuk meledak terpelanting berkeping-keping berpusingan pada
palung menggelegak.

1997


Api Sita

Lebur jasadku ke dalam nyala!

Sita memekik. Sebelum ambruk
ke sebalik semak asap yang menjulang. Hawa panas
dan gemertak busa lemak terbakar menembakkan meriam
kunang-kunang ke angkasa. Topan api memerahi lazuardi…

Bibir getir. Sejuta bola mata nanap menatap
mencabikku meraung-raung menjeritkan kutukNya.
Berdosakah aku?
Lengan kekar kelabu. Hasrat bejat.
Kerdip nasib yang kubenci. Dan musim bunga
cuma pintar mengajarku bercinta.

Tiada lagi ngeri. Perang suci yang percuma.
Juga revolusi. Tapi mengapa masih kudengar
revolver pecah di sela iga. Aroma amis gerimis
lepas. Ambyar terkapar dari pelukan
lelaki kasar yang telah jauh menebus rindu.
Berahi maut. Dan kelak bila elang-elang teluk
meliuk liar mencakari hantu-hantu serdadu,
laskar pembakar titisan dewa, percikkan
rohku dalam perihmu, Dasamuka.

Kita menjelma sepasang naga
memangsa bulan di cakrawala.

1996


Rubayat

Hutan gugur itu terus-menerus melepaskan daun-daunnya ke
arah
musim yang hampir mati.
Ada selembar: hampir, bisikmu.
Tapi lihat, hei! Dekat telaga aku menjelma selembar
daun yang kaulepaskan di luar musim: ada yang memintaku
pada pasir.

1995


Die Fanatiker Sind Mude

lahir dari api
seperti peri
ia tumbuh menjagai
mimpi

Mandi di keramat
Para danyang menabuh kendang.
Akar menyan, benih abu
Dingin. Tajam bagai tatapan
Pisau silet.
Dan orang-orang suci mendadak
mabok                         menggigil keras
tersungkur rebah ke tanah basah
minta bunga-bunga.

Pucuk gayam
Bulan tinggal sisik

Tapi masih tak mengerti. Tapi angin
makin dingin di sini dan kau tak mungkin lagi
berani memastikan:
Apa bencana segera reda
ataukah harus lunas segala duka
tersambar kilau liarnya!

Dendam kupu-kupu
Dupa
Langit yang hamil
Tua

“Bila aku nanti mati,
siapakah yang setia memercikkan air mawar ke penjuru
tubuhku beku?”

Kelahiran mengetuk pintu. Tapi
Tiada

Yang
Lebih
Pasti

Maka kaubayangkan orang-orang suci mulai menari
mendoakan awet umurmu agar kelak kau pun rindu
wangi air, gerak ikan yang tersentak tiba-tiba dan memekik lirih
saat kaumangsa
anak-turunnya.

1995


Mei

Cinta, sajak siapakah yang gemuruh dalam riuh jemariku yang jauh
Melepas deru beribu-ribu kereta hujan?

Sajak siapakah yang luruh dalam basah tubuh berdua yang fana
Dingin pada dinding museum, menara laut, lonceng surup, lalu pilu

Ah, segalanya, cinta. Biografi ini, kutahu, takkan
lengkap lagi terbaca. Tak akan mungkin lagi.

1994


Epilog Sebuah Pagi

Dalam kemuraman cahaya pagi
Kuterka daun-daun gugur dan menghijau
Kembali. Kemudian tik-tik gerimis
Suara gelap malam hari yang kerap runtuh
Menerpa tubuh-tubuh tak terjaga
Akan membentang laut di atas ranjangMu

Pun di antara desakan massa berseragam
Pernah kudengar bisikmu tertahan:
“Kami ingin berkemas untuk sebuah pantai yang tenang.
Lihatlah tangan kami berdarah setelah lama bertempur
Di hutan-hutanmu yang bagaikan peri
Menyihir lolong serigala jadi anjing penjaga!”

Kini kuterka lagi bila saatnya tiba
Dermaga hanya bisa mencintai satu musim seperti kami
Yakni ketika pasang terulur ke arah utara
Dan kanak-kanak turun berlari menyoraki
Seribu perahu sarat kepedihan
Terdampar di muka pintu rumahmu.

Namun semoga hanya pikiranku terlalu jauh menyusur laut
Hingga mataku tak lagi mampu bersembunyi
Dari setiap isyarat, kenangan, atau tanda bahaya.
Maka dengan sopan aku pun belajar menghikmati langit
Dengan cahaya bintangnya yang selalu rapi
Menyimpan degup jantungku.

1994


Perjalanan Ambang: Meditasi

Mendadak wajah kita penuh kabut
Terjatuh di antara tebing, riak air, dan
Tiang-tiang listrik yang gemetar
Menahan kekosongan langit.
Kita menggenang seperti lembaran musim panas
Rontok dibakar kemegahan lampu taman.
Dan kehijauan asap sampah saat membusuk pada selasar
Adalah perhentian masa kecil kita yang kembali
Diledakkan. Dan berhambur memenuhi jalan batu,
Kolam pasir, jurang-jurang
Dari kegelapan kenangan.
Tapi waktu senantiasa tahu:
Di depan pintu, kita telah jauh tengadah
Menatap sore hanya serangga
Sambil membayangkan malam nanti bintang-bintang akan lepas
Bertabrakan. Sebelum luruh, menghilang ke seberang sungai
Diserap bayang-bayangMu yang menghujan tiba-tiba
Di setiap reruntuh pepohonan.

1993


Bintang

Mataku lelah, tapi tak mau terpejam.
Bersikeras memandang bintang yang ingin padam.

Aku dan bintang saling pandang.
Bertukar tanda, luka, sehembus hasrat yang hampir hilang.

Jam-jam dingin.
Dinding menjalarkan angin.

Di jantung bintang aku tenggelam.
Mabuk mencucuki bibir memar malam.

Di jantungku bintang membayangkan hangus.
Gemetar, ingin padamkan cahaya firdaus.

4 pagi: matahari segera datang.
Dan sejoli burung malam akan pulang, menghilang.

Mataku basah, Bintang, basah.
Sehening daun-daun mapel menjelang rebah.

2008


Libretto Musim Gugur

(chit oo nyo & bounthanong xomxayphol)

Mississippi hanya ingin bernyanyi, ingin berbagi
seperti Chit yang sering menjelma jadi Rama

saat jauh dari pesing penjara Burma, dan menari
dalam hingar-bising rock ‘n roll, musik traktor

padang-padang jagung Iowa, di demam plaza
malam Sabtu, sehabis dua-tiga gelas dry tequila

dan Jim Beam yang berenang dalam darah Nong
menggerutu:

Bangsat. Tahu apa kalian semua tentang musik?
Tentang sungai yang budiman perangainya dan

suka mengalirkan uang biar semua orang senang
dan tak sudi lagi berperang.

Omong kosong. Whitman sudah lama mati
dan di pesisir Mississippi masih kaulihat sesosok saman

mengelebat di antara tonggak-tonggak cedar merah.
Lelaki-lelaki bersisik merah melepas lembing. Sementara

puak Meskwaki harus membeli tanahnya sendiri
dengan aib rumah judi.

Come on. Mendingan kalian melancong ke Mekong.
Tak ada demokrasi. Dan silakan sepuasnya

mengisap candu dan perawan!

(michael zeller)

Tapi siapa yang tak pergi, desah seorang lelaki kisut,
di geladak Mississippi. Matanya basah terbasuh Rhine:

Kita boneka jerami tua. Kuda celaka
yang kehilangan ladam dan penunggang,

terkutuk untuk pergi, sendiri, selamanya
mengusung beban yang tiada.

Dewa-dewa. Mereka juga telah minggat. Tapi jejaknya
yang bergelimang darah, memburuku sampai ke sini.

Lihat, Wagner mendekam di etalase Coralville Mall
- Music of The Gods. Digital Stereo. The Gold Collection. Made
in USA.

Gila. Aku selamanya pergi, tapi mereka
masih terhina, terluka parah:

‘Apa? Dari Eropa, kaubilang?’ seorang lelaki Polandia mencegatku
dan bersungut-sungut sengit, ‘Jadi sekarang kalian pikir

Eropa adalah Jerman!’

(narlan matos)

Yeah. Memang kacau. Ke manapun aku pergi
180.000.000 kanibal mengekorku.

Menabuh tambur-tambur leluhur
di kegelapan rimba-rimba Amazon.

Kita semua binatang bebal, akhirnya.
Air liur kita mencemari sungai-sungai.

Sini, kubaptis kau jadi batu jadi akik jadi emas
jadi kapal-kapal Portugis jadi Kristus jadi kadal. Dung-dung.

Mabuklah. Dung-dung. Ini belahan bumi utara. Dung-dung.
Dingin meretakkan rahang. Dung-dung. Tapi jangan

bakar aku dengan anggur atau wiski. Dung dung. Di Java House
ada kopi rasa puisi. Dung-dung. Konon pahitnya enak sekali.
Dung-dung.

Sayang tak ada orang Jawanya. Dung-dung. Ayo pesta dan bercinta
di jok mobil di bioskop di asrama dengan kondom ceri hutan

sambil mengunyah keripik kentang memamah pizza 3 menit
berjingkrak-jingkrak memekik-mekik kesetanan di jalan-jalan

di bangku-bangku lapangan futbol dan menggelar
bazar amal dan karnaval dan diwisuda dan

menguasai dunia. Dung-dung-dung….

(chorus)

Pergi. Pergilah, Mississippi. Sia-sia kau bernyanyi.
Gendang telinga kami pecah, melelerkan lumpur nanah.

Sungai-sungai malam hari di balik belukar dada kami
bergemuruh, gemeretak, dan gua-gua bawah tanah

menyerpih runtuh. Menyerpih runtuh.

2003


Jula-juli Pejalan Tidur

- Surabaya, suatu masa

Takkan kuputar sumbu tubuhmu
menyusuri jejak hangus kata-kata
yang tercecer sepanjang jam dan bulevar.

Aspal menggigil oleh influenza.
Plaza dan bank perlahan hilang.
Hilang, tenggelam dalam balsam.

Dingin mengasah lembing-lembingnya di udara.
Dingin berdenting. Udara merinding
Terkepung gaung dan bayang-bayang.

Kau terbaring di sisiku. Legam dan berkilauan.
Sungai telanjang pada ranjang keemasannya.
Di tepi sungai, sebuah ponten nyaris meluap.

Beberapa sejoli masyuk memarkir motor di kegelapan.
Serombongan laki-laki terhuyung masuk ke tenda rombeng.
Dengus mereka masih membekaskan panas di tengkukmu.

Menyentuhmu, terpesona ahli nujum kakilima
Gairahku membangun taman air mancur
dengan peri pelacurnya yang sehijau hujan pagi.

Di tepi taman, panglima perang dari perunggu
memandang dingin ke batalyon kupu-kupu
yang bertahan di selatan. Mereka terjebak

di sepetak taman lain yang lebih gaib. Lebih aib.
Tempat tugu bambu runcing, totem kejantanan itu
tegak memancung batang lehernya sendiri.

Kau tergetar. Getah tubuhmu mulai tercurah.
Angin purbani menggulung bayang-bayang taman.
Gaung berkubang dalam kilang-kilang darah.

Sekujur sungai terserang kejang.
Dam dan bangkai kapal selam berebut bangkit dari delta
Menghantui etalase yang dahulu sal-sal seram rumah sakit.

Dari lunglai belulangmu, dari ringsek rerusukku
Fajar kembali memecahkan cangkang-cangkangnya.
Nama-nama terjulai oleng. Simpang kehilangan lonceng.

Jam terbuat dari air dan tak bisa dipercaya.

2002


Holocaust Rumah Muara

sunyi
telah mati
di muaraku

Tapi, dekat pada malam, bersama dingin
dan pilar senja yang berjatuhan masih kaupanjatkan;
terus kaupanjatkan ringkik angin, deram ombak,
tiang-tiang kapal yang tengadah
ketika burung-burung hingar di udara, memekik-mekik!
(seperti ingin mencabik langit)

mesias,
tak kaulihatkah sayap-sayap camar itu terkoyak sudah?
(meluka, meluka)

Dan kembali: bertahanlah!
Berapa jauh air matamu menyentuh laut menjelmakan
darah. Menukar warna asin yang berkilauan
seperti hujan. Seperti pecahan karang yang menghambur
menyusun peta, lukisan nasib, atau penampakan musim
yang teramat
kelam.

badai, badai
kemana garis pantaimu kian melindap?

Sungguh,
padahal sudah lengkap cuaca: sudah kaukirimkan
gelap pada pasir (cintamu) sudah kaukirim banjir
kawanan hama, bangkai burung-burung yang berenang
dalam arus-darah itu
: memburu muaraMu!

1994


Tentang Arif Bagus Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo lahir di Madiun pada 30 September 1971, tumbuh di Surabaya, sejak 1997 menjadi warga Denpasar. Selain penyair, juga dikenal sebagai kritikus, penerjemah dan kurator. Alumni International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Pemenang I Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2007. Pemenang II Sayembara Kritik Seni (Bidang Seni Rupa) Dewan Kesenian Jakarta 2005. Bukunya yang lain: Mahasukka dan Epifenomenon.


Catatan Lain

Saya tak banyak komentar, halaman persembahan buku ini Untuk Pasha Renaisan, Ida Ayu Oka Rusmini & kalian yang mencintai. Tak ada kata pengantar, tak ada komentar, entah versi cetaknya. Terima kasih telah berbagi versi e-booknya. Belum banyak penyair yang punya keluasan hati untuk membagi seluruh puisinya dalam sebuah ebook gratisan. Sebuah sedekah puisi yang luar biasa. 

1 komentar:

  1. trimakasih infonya....
    sangat menarik dan bermanfaat....
    mantap...

    BalasHapus