Pengantar Bulan Februari 2017

Pengantar Bulan Februari 2017
Bulan Februari 2017, menyapa kita sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 01 Oktober 2012

FRAGMEN MALAM


Data buku kumpulan puisi

Judul  : Fragmen Malam, Setumpuk Soneta
Penulis : Wing Kardjo
Cetakan : I, 1997
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
ISBN : 979-419-234-1
Tebal : 346 halaman (167 puisi, 88 sketsa/ilustrasi)
Gambar sampul : Haryadi Suadi
Ilustrasi : Abay D. Subarna, Jeihan, Haryadi Suadi, Kaboel Suadi, Karnedi, Nashar, Rini Joedawinata, Rudy Pranadjaya, Sipin Lim, T. Sutanto, Tisna Sanjaya, Wing Kardjo.

Beberapa pilihan puisi (soneta) Wing Kardjo dalam Fragmen Malam

Endless Tape

Seperti sekian lagu yang
berulang-ulang, seperti
sekian mimpi kembali
mengganggu.

Hidup lebih baik apakah itu?
Hidup lebih baik apakah
itu ketaatan mesin
pada program

Kau tak lebih
dari musik kamar
yang gemetar, telantar.

Menggelepar lapar
hidup, atau jadi
sekrup


Bukit

Bukan kebetulan hidup kaurisaukan
meski makan dan penginapan
sudah terjamin hingga
tahun depan

Dalam gelisah tidur, mimpi mendaki
bukit telur, kapan kapal pecah, laut
berdebur. Bagaimana bisa tekebur
hidup bisa begitu saja lebur.

Pentingnya hati terkunci di laci,
lahir sajak seperti arak,
yang terpendam dalam-

dalam, diperam
cahaya bulan.
Bulan.



Scheveningen

Laut, lautkah itu
yang kauberikan padaku
seperti yang kaujanjikan
dulu, sepi dan tak berarti

Laut, lautkah itu
gemerlap dan perak
di tiap ombak, pecah dan
bersatu dalam keluasan waktu

Laut
lautkah itu, yang
kauberikan padaku

dan
hanya itu
saat kau berlalu!


Bila Malam Hujan
Untuk Andy Djuandi

Bila malam hujan turun di halaman, aku ingat padamu, angin bertiup
daun-daun bergoyang. Ranting, dahan, batang, pohon semua kuyup.
Di dalam tanah, kau yang berselubungkan kain kafan kedinginan?
Tak bisa bergerak, tak bisa berteriak manja meminta selimut.

Air tetes dalam liang lahat. Semua basah dan lembab dalam tanah
bila hujan turun di halaman aku ingat pada yang tiada, daun-daun
bergoyang, pohon pisang, daun talas, kembang anggrek
dan semua tanaman yang dirawat ibumu.

Tapi kau tentu tak terkurung di bawah tanah
kesepian dan tanpa teman. Kau masih juga
menjinakkan kuda,

memacunya di bukit-bukit, di lembah ngarai,
di pantai landai, dalam udara terbuka
hawa selalu nyaman seperti sorga.


Surga

Ke Paris!
(menghindari
sipilis) Amsterdam
God damn!

Sementara
Iqra buka celana
aku menunggu depan
etalase kaca.

(yang tirainya
menutup dan membuka)

Aku sengsara, sengsara
bukan karena neraka
tapi surga di mana-
mana!


Sumber

Selalu kureguk sinar matamu
keyakinan menghargai hari
Tak sangka helai demi
helai daun turun

mengubur tubuhmu dengan
kelam. Begitulah matahari
terbaring, membakar
rumput kering.

Langit bernafas sunyi,
meniupkan lagu
kering. Kala

bel berdering, kukira kau
pulang, kubuka pintu,
angin melengos bisu.


Always in The Morning

1
Surat-surat apakah yang kautulis
pagi, malam, tak henti-henti pada dunia
mati, hingga alam kembali menciptakan
lagi dirimu dari tanah, air, api dan udara?

Siapa yang pertama
bangun dari tidur mimpinya? Eva
membuka mata, menyisihkan selimut,
menggeliat, matahari sudah setinggi hati!

Angin lembut, daun
hening, rambut terurai bening.
Kapan lagi kalau bukan kini?

Tahun demi
tahun lewat, kaukah
itu ibu dari segala rindu?

2
Siapakah anak yang hilang
tersesat dalam hutan dongeng,
bayi itu yang kautimang-timang,
kaujaga serta kaubesarkan dulu?

Surat-surat apakah
kauterima untuk mengganti
yang pergi, menghibur diri
dari yang alpa sekian tahun?

Potret-potret kabar apa
kaupandang pagi, siang, malam
bila lampu mulai menyala membakar

apa-apa yang fana menjadi
baka, kenangan yang berpusat dalam
diri, begitu pelan bicara dan hati-hati.


Piknik 55

Kereta terakhir menderit
di ujung stasiun. Telah habis hari ini
perjalanan bersama, senja di balik bukit-
bukit kelabu. Telah lalu umur hari, satu dari

panjangnya rasa. Jauh berbeda
udara pegunungan daripada kota
yang satu ketenangan, yang lain keriuhan,
ketekunan dalam kerja, kesibukan dalam nyala.

Dua-duanya sama-sama
menghidupi kelanjutan,
kehijauan tumbuhan

dan harapan. Masih luas
lapangan dan subur
turun keakanan.


Cafe de Flore

1
Mestinya kita jumpa lagi setiap petang
mestinya kita ketemu di bawah bintang
kita datang dan kita pulang
dengan keindahan kenang

Kita datang dan pulang, kita selalu cinta
lagu-lagu garang, cognac yang kuteguk
waktu kau pergi tak menghalau kau
yang selama ini membayang

Mari kita jelajahi bumi, tulang
daging, urat mimpi yang jalang
mari kita bercinta dengan
kepenuhan indra

sebab hidup hanya sehari
lalu terbang

2
Mestinya maklum, sajak-sajak yang kutulis
bukan permainan kata, tapi darah membusa
dalamnya bersinggasana, seperti
di wajahmu kecantikan bertahta.

Jangan sia-siakan harapan penyair
ia selalu setia, sebab hatinya cair
deras dan jernih bagai airmancur
jujur dan bebas dari dusta

Walaupun dalam dukana, lampu
membujur berjajar-jajar, kita
ketemu lagi esok dan lusa

Cinta tak terbatas pada kata-kata, meski
dunia dalam gerhana, benua kita
senantiasa mandi cahaya.


Le Lac Leman
Untuk Toeti Heraty     

bagai sebuah buku yang halaman-halamannya telah kaukenal, dan nomor-nomor urutannya
pun kauhafal, sebuah kalimat bisa berhenti pada satu tempat dan berlanjut pada
suatu peristiwa yang hanya terjadi dalam kepala, merentang bagai tabir
rahasia, dan sebuah sajak lahir sebab percakapan yang alpa.

1
Telaga basah dan burung
berterbangan, angsa
meluncur, angin
musimgugur.

Kau kedinginan dan angin melecut
bagai kebosanan. Terhenyak
di cafe, kau lelah antara
cangkir-cangkir kopi

dan cognac. Katamu kau ingin menyingkir,
tapi lelaki itu tak henti-henti bicara
tentang tanah hitam di selatan,

tentang hutan perawan, tentang hewan-
hewan liar di kawasan cadangan.
Begitu menjemukan!

2.
Gerimis terus turun, lewat kaca kautatap
taman, daun bertimbun. Tak sadar
terlontar ajakan,”Antarkan
aku ke penginapan!”

Telaga basah dan sampan berjajar
musim gugur bergetar, kala
terbuka segala cadar, hutan
pun di negeri selatan

(dan beberapa lembar catatan
harian) malam itu
terbakar.

Terang di dalam, terang
di luar dan menyala
lama sekali.
                       

Ah, Ombak Laut dan Darat
Hamparkan Hasrat, Biru, Kuning

1
Tahun-tahun hanya tinggal kenangan
Berjalan menyusur Sungai Themes,
memandang gedung, menara
serta jembatan. Merpati

terbang dan lonceng tua berdentang. Kesaksian
zaman masih juga berdiri, megah dan anggun,
sedang kita yang pernah menatapnya (Monet,
kau dan aku) mesti berlalu dengan waktu.

Lewat malam laut, ferry dan keretaapi terbukalah
pagi. Matahari musim semi layak mimpi.
Tapi yang dulu kujumpa di kapal,

antara Jakarta dan Genoa, berkata menyesal,
“Lupakan saja cinta (tak ada apa-apa antara
kita). Kujanjikan persahabatan yang kekal.”

2.
Maka London dengan taman-tamannya jadi alum.
Gerimis senja turun, lampu-lampu mulai benderang
hingga mesti kucari perlindungan dari sepi dan
hujan misalnya di sebuah bar remang di Soho.

Hanya tambah pedih saja luka. Perempuan-perempuan
begitu hanya pandai merentang jerat, kejam dan
jahat. Tahun-tahun hanya tinggal ingatan, samar
seperti senja. Percakapan tergantung di udara.

Dan rumahmu di luar kota, alangkah dingin! Alang-
alang dan rumputan. Lantas kita jalan lagi bagai
bayang-bayang ruh yang merindukan kepenuhan

lintas ruang dan waktu. Ah, tinggal ombak-ombak biru,
daratan kuning, hamparkan pula langit bening,
tempat jiwa berbaring.


Requiem

1
Sejak kau bernama perempuan
dan angan-angan, suaramu tinggal sunyi,
dataran padang dengan bulan redup, merekam
misteri manusia menuju kelam kematian. Wajahmu

tubuhmu, busuk dan hancur, masalalu yang pernah
rindu perlindungan, hangat bantal kemesraan
bercumbu dengan denyaran cahaya yang
menyusuri pelupuk, kehalusan kata

yang bersalin bisu, ke mana harus
kucari wajah kebenaran, selain
dalam penyerahan?

Hidup permainan dalam kelam
permainan sungguh
mencari cahaya.

2.
Kelam dan sinar bergumul, rasuk merasuk
dalam dunia materi, benda harum
dunia, sunyi dalam cermin pecah.
Boneka, surat tanpa alamat,

kartu bergambar, majalah hiburan, rambut,
parfum, malam bertemu malam, malam
siang tanpa batas, menyilaukan, sinar
luput dari genggaman, beriak

dan beriak atas kain kapan,
putih mengembang
langit bersih dan

sepi dari bisik-bisik gelisah, tak
tahu jemu melekat dalam
kemualan daging

3.
Dering tilpun memanggil dan menutup sejenak
lelaki seperti sekutu dan seteru yang tak
bosan-bosannya memberi dan menagih,
mengajak dan beranjak. Malam,

siang mengaduh bisu, keluh beku menghancurkan
jangat lambat-lambat. Malam rambut hitam
dan kau makin asing dari jagat mereka
yang dulu bersarang dalam rimbun

harum taman mawarmu. Burung-burung
bernyanyi pagi dan sepi dalam cahaya
tiada cahaya, sepi tiada api, sepi

perempuan di ranjang dengan duri-duri
dan lampu layu, bayangan hari
tiada hari, api tiada api.


Potret Soekarno oleh Hatta

Sebagai pencinta seni ia ingin memandang semuanya dalam keindahan,
dalam suasana harmonis, dalam kesatuan yang bulat. Jiwanya luka
melihat keretakan hingga persatuanlah yang menjadi pokok dan
akhir dari segala tujuannya.

Karena mementingkan garis-garis besar saja, ia tak menghiraukan
detail, sekalipun pasal yang menentukan. Ia mengira yang indah
dalam pikirannya adalah realitas. Itulah sebabnya ia terbentur
dalam kenyataan. Ada keretakan jiwa antara politikus

dan seniman. Sebenarnya aneh sebab sebagai arsitek,
sebagai seniman ia mampu melihat lukisan
sampai ke detail-detailnya. Ia tunjukkan

mana yang kurang, mana yang belum sempurna, dan
sering dengan petunjuk-petunjuknya ia menyuruh
melakukan perubahan dan perbaikan.


Mesin dan Robot

1
Mesin-mesin dan robot bekerja lebih baik daripada buruh
tak perlu makan, tak perlu minum, tak perlu tidur, bisa
bekerja penuh sehari-semalam dalam tempat terang,
dalam tempat gelap dengan irama yang tetap.

Hanya diperlukan tenaga ahli, tak banyak, sekedar
melayani mesin agar terus berjalan. Bukankah surga.
Tak ada lagi tuntutan, tak ada lagi keluhan,
ancaman mogok yang seperti momok.

Di zaman ini segala jalan, lancar seperti sekunar. Kekurangan
modal? Panggil kapital asing, sebentar tentu datang mengulurkan
tangan. Lantas bikin proyek, misalnya membuka tambang, dan

agar aman, undang tenaga luar. Toh, kita mampu bayar. Sedang
lahan milik negara, kita hanya minta bagian, persis seorang
calo. Praktis dan sederhana, peran kita sebagai bangsa.

2
Mesin-mesin dan robot tak punya istri, tak punya anak, tak
perlu takut pulang ke rumah tanpa bawa uang, tak perlu
kuatir dirongrong mertua dan sanak. Mesin-mesin dan
robot tak usah pulang ke rumah. Kalau nganggur tidur

di tempat kerja, tak baca koran di kantor, tak curi-curi waktu buat
main kartu. Majikan hanya menggerutu kalau kehabisan cerutu
atau bahan baku. Kewajiban pada negara? Sisihkan sekian persen
sebagai pajak, bisa kurangan kalau bayar uang siluman.

Pertanggungjawaban hanya dalam rapat persero, kalau perusahan terbatas.
Ini kan perusahaan keluarga, seperti tertera dalam undang-undang negara:
perekonomian berasaskan kekeluargaan? Karena dalam lingkungan

terbatas, tak perlu pengawas. Usaha masih nasional, tak merugikan
kepentingan sosial. Layanan dan barang hanya buat orang-
orang berada. Wah, mewah dan mahal.


Tentang Wing Kardjo
Wing Kardjo lahir di Garut, 23 April 1937. SD dan SMP di Tasikmalaya. Sma Katolik Garut, B-I Bahasa Perancis di Jakarta (1959). Sambil jadi guru di SMA Kanisius Jakarta, hendak melanjutkan kuliah di UI, tetapi jadi korban perpeloncoan hingga terpaksa masuk RSUP bagian syaraf. Setelah sembuh, Wing melanjutkan ke Unpad. Tahun 1977 ke Paris mengikuti program doktor. Ia memperoleh gelar “Docteur de Specialite en Etudes Extreme-Orientale” dari Universite Paris VII dengan disertasi Sitor Situmorang: la vie et l’Oeuvre d’un poete indonesien. Pernah duduk sebagai redaktur di Indonesia Express, Bandung dan Khatulistiwa / Indonesia Raya, Jakarta. Tahun 1984 hingga 1990 diundang ke Jepang sebagai guru besar di Tokyo University of Foreign Studies, dan sejak 1991 hingga sekarang sebagai guru besar di Tenri University, Tenri, Nara. Kumpulan puisinya Selembar Daun (Pustaka Jaya, 1974), Perumahan (Budaja Djaja, 1975). Juga menerjemahkan: Pangeran Kecil karya Antoine St. Exupery (1979) dan Sajak-sajak Perancis Modern dalam dua bahasa (1972).

















Catatan Lain
Di rak Hajri, buku ini telah lama saya ketahui, tapi saya tunda-tunda untuk meminjamnya. Sebab saking tebalnya. Memuat sekurang 167 puisi, atau lebih tepatnya soneta. Ditambah sketsa-sketsa sekitar 88 buah (juga sejumlah foto yang dapat dihitung jari). Terbagi atas 11 bagian, yaitu Pengantar (1 puisi), Sumber (18 puisi), Musim-musim (9 puisi), Sajak (16 puisi), La Chair, helas (12 puisi), Tanah Asing (22 puisi), Pertemuan (28 puisi), Peristiwa (12 puisi), Waktu (26 puisi), Penutup (1 puisi), dan Lampiran (22 puisi).

Satu-satunya puisi Wing Kardjo yang saya temukan waktu sekolah (dan juga yang bertahun-tahun menetap di benak saya) adalah salju. Ternyata saya juga menuliskannya dalam buku saya. Di sana ada keterangan: dari Selembar Daun. Meskipun begitu, saya yakin saya mengambilnya dari buku pelajaran sekolah. Versi berbeda juga ada dalam Fragmen Malam, keduanya akan saya tuliskan di sini.

Salju (versi Selembar Daun)

Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun

Ke manakah jalan
mencari lindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup

Ke manakah lari
mencari api
ketika bara hati
padam tak berarti

Ke manakah pergi
selain mencuci diri


Salju (versi Fragmen Malam)

Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun

Ke manakah jalan
mencari lindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup

Ke manakah
lari mencari
api, ketika bara hati

padam, tak
berarti. Ke manakah
lari selain mencuci diri


Sebagai pembaca, saya lebih menyukai versi yang pertama, versi yang selama ini hidup di kepala saya. Tapi sebagai pengarang, Wing Kardjo jelas memiliki kemerdekaan untuk “mengobrak-abrik” puisinya sendiri, demi mencapai tata harmoninya sendiri. Oya, tak banyak, saya kira, sastrawan yang sampai meraih gelar Doktor. Diantara yang sedikit itu adalah orang ini. Beberapa yang saya tahu, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., Faruk HT, Umar Kayam (?), Toeti Heraty (?), mungkin bisa ditambah sendiri ........       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar