Pengantar Bulan Januari 2017

Pengantar Bulan Januari 2017
Bulan Januari 2017, menyapa kita sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 01 Oktober 2012

BUKU HARIAN PEJALAN TIDUR


Data buku kumpulan puisi

Judul : Buku Harian Pejalan Tidur
Penulis : M. Nahdiansyah Abdi
Cetakan : I, Januari 2011
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin.
Tebal : vi + 64 halaman (61 judul puisi)
Perancang Sampul : Hery S.
Foto jamban : M. Wiwin Rahmadani SH
Link : http://pejalantidur.blogspot.com

Beberapa pilihan puisi M. Nahdiansyah Abdi dalam Buku Harian Pejalan Tidur

Tentang Wanita yang Menguap dan Jam Tangannya yang Sialan

Wanita itu menguap tanpa punggung telapak tangan menempel di
mulutnya. Angin deras tapi nelangsa.
Berkali-kali ia melirik arloji, berharap lelakinya
muncul dari pintu itu: “Dasar jam tangan murah!” ia
keceplosan. Dia perempuan buta dan lelaki itu
torso yang mengigau di kotak kaca.

270210


Risiko

Ada yang slalu berpikir kalah-menang
maka jatuhlah korban-korban
Ada yang berpikir melulu cinta
ia pun repot juga

Limpahan cinta menyamar berupa-rupa
Ia dituntut ”dungu” sejak pandangan pertama

010510


Gemuruh

Wahai mimpi-mimpi besar
Visi-visi Agung
Biji di gelap tanah
Janin dalam kandungan

Wahai, hembusan ruh yang sejuk dan kudus
Yang menjamah segala yang mati dan yang berdenyut
Mukzijat yang bekerja di semua satuan waktu
di semua daratan dan khayalan

demikianlah, aku mengajukan pertanyaan yang tak ada
jawabannya: senantiasa
menyamar jadi kesintingan, kesurupan oleh alfabetMu!

121209/270310



Saatnya

Sesekali kau perlu berdiri di tengah hujan
Hanya untuk mendengar
pesan kefanaan yang mereka bawa

Kamu tersentak ketika keningmu mendadak panas:
“Apa-apaan ini?”

Gemuruh menghangatkan hantu masa lalu
Di keluasan ketika tak satupun dapat terpantul

Saya sontak
melemparkan sepeda saya ke langit

Klakson kemurungan berdentang tiga kali

191210


Harkat

Hidup damai dengan tikus di loteng rumah
Hidup bersahaja bersama kehilangan-kehilangan
yang niscaya terjadi
Meneguk saripati cinta dari setiap rasa sakit
Aku gemetar menggandeng tanganmu melewati televisi

Kamu tidak berusaha kangen pada janji
yang mudah tergumpal-terurai itu
Aku malu-malu mencicipi laut
Aku ingin batuk yang lebih dalam lagi saat mercusuar
menggigil di tebing yang jauh
Angsa bermain gelombang di malam tanpa suluh
bintang
Angin menggertak pantai!
Lalu tiba-tiba surut
dalam diriku

Kamu masih belum ngerti tapi menitikkan airmata
Kumparan waktu menyentakmu dari ketinggian:
Layang-layang oleng itu
masih kita pertahankan!

230110


Keseimbangan

Sebagaimana air
     selalu mencari tempat yang
                                                  r
                                                    e
                                                      n
                                                        d
                                                         a
                                                         h

Begitupun kehidupan ngalir
selalu ke arah keseimbangan

kadang terserap tanah, terbentur batuan
nguap oleh matahari

Mereka pikir telah tersesat sangat jauh
Tak sadar hanya berputar-putar dalam perigi

Tubuh reot ini telah menciptakan kepanikan
Ia berteriak-teriak pada langit yang dangkal

Aneh, sekonyong-konyong ia lebih membutuhkan
jawaban ketimbang cinta

221010


Mengamati diri

Perasaan yang menjelma seperti sebuah jebakan
harimau tua yang belum makan dari hari semalam

Tiba-tiba saya memperoleh tempat bergantung
dan sesisir pisang

Sungai meluap
begitulah saya ingin jatuh cinta

Saya merapatkan telinga:
’Luar biasa, saya pekak sepekak-pekaknya’

Saya bergumul
dengan yang lain itu

300310


Peran dan Jati Diri

Ketegangan dan kehampaan
hinggap di atas peran-peranku
bertelur cahaya
Kurasakan penderitaanku menetas
Jati diriku tertawa

Kulemparkan peran-peranku
Duhai, penderitaanku yang malang menghiba
sarang
Menciap-ciap
Angin penuh, ular menegak kepala

010410


Menyadari

Saya telah mati-matian untuk sampai kepadamu
Saya sprint, saya maraton, saya jalan kecapean

Sungguh, adakalanya saya merangkak
Atau pernah diam-diam tersungkur

Kadang seperti sangat jauh
Kadang seperti tak ada habisnya
Kadang begitu dekat dan memberi harapan

Saya lelah
Saya bengek

Sampai suatu saat
ketika saya terkaget sendiri dan garuk-garuk kepala
Saya telah lama Tiba!
Saya hanya perlu menyadarinya saja

010410


Salah Buru

Tak peduli seberapa jauh kau berjalan
Ini hanya soal menguak-membongkar lapisan
Kita telah sampai: tepat di tempat
kita berpijak sekarang
dengan udara yang itu-itu juga
dengan bunga semerbak yang meneduhkan mata
dengan kematian, kekejaman, kesesakan
Keindahan yang salah buru
Aku termenung di tepian kata, dalam
belantara bahasa: bersiul sandi-sandi Pramuka!

Luka itu baik
Kehilangan itu benua baru
Emosi itu ketukan angin di jendela
Tapi akar apa ini yang bertiup dari kegaiban?
Sebuah ruang, perabot kenangan, hampir-hampir
tak kuasa untuk menyebutnya: Rumah
ketika dari mataku sesuatu menitik seperti getah

280410


Fokus

Buang semua yang kau tahu
yang menodai citramu, suatu
ketidakbecusan: ke rongga burung api

Bicaralah pada dirimu sendiri
Tertawa-tawalah, wahai Gerak yang menulisi diri
Takdir yang berkedip ini!

Dia yang masih kelimpungan oleh kata dan makna
merayap dari sirkuit kosong ke labirin air berpusar

Betah berlama-lama
dalam nujum bahasa

Ular-ular fiktif
yang didahar anakonda Musa

Benarkah kebenaran jauh tak tersongsong saat kini?
Anak yang terpisah ibunya pastilah dilanda kebingungan

Kabar baiknya, kita telah di sini dan
punya beberapa pilihan

Tetap hanyut ke laut kosong atau
membiarkan tangan baja Ramses menyibak kehidupan

Yang lampau, yang kemudian, yang kini
Saling berkejaran di kepala rapuh ini

Aku berdiri tegak
mencicipi

040410


Stambul Nafas

Dalam penderitaan, hati saya senang
saya memiliki alasan untuk bertahan
Memandang keindahan yang prismatis ini
cahaya membias melalui saya

Saya menerima kegelapan; sisi tersuram yang melankolis
seperti saya mengagumi malam
Ketika tiba-tiba saya menyudahi mimpi
cahaya telah membenih di dalam

Hidup dengan prinsip, yang menanggung risiko
Langkah mundur, kekalahan paling telak, koma:
tak  mampu  membendung
desakan paling murni dari visi penciptaan
Hidup yang muncrat ke segala arah!

240610


Hymne Peziarah

Peziarah, selamat datang di jalan melingkar ini!
Perjalanan yang jauh demi kembali ke asal
Mainan hujan dan panas, etnis dan geografi
Kendaraan yang payah: ngos-ngosan kini

O jiwa muda belia di tubuh renta pengelana
Burung-burung bangkai mencecap daging manisku dan
meninggalkan kesenangan setimpal: hasrat yang
muncrat berterbangan menuju hembusanMu
Maha Nafas Cinta & Kedalaman









Atau tidak sama sekali, tidak menunggu atau mencari
Dia yang berkenan mengecup keningmu tiap pagi
Membukakan matamu hari ini
meniupkan semangat dan sesekali sepi
memainkan hidup mati
Hip-hip hura, sejak tadi Dia di sini!

060110


Mencintai

hujan membasahi blog
di dashboard bangkai filsuf menguap
jangan sebut-sebut Realitas di sini,
cinta yang terkutuk menyiram kesumat:
entitas terakhir nubuat

jika si penyendiri tawar menawar kegilaan
sayap yang ia pikirkan ia bakar dengan api imajinasi
ruang kosong yang bernalar ini, tahu
dengan cinta yang bagaimana harus melarutkan diri

kegembiraan
atau puisi
atau orang-orang yang mengeluh itu
yang mengerang didera rindu
wajah-wajah penuh bedak
menginginkan bangun dengan kesal

lupakan terbang, selama ada di dalam
kematian yang liar yang bangkit sebab mencintai

240210


Mimpi

Percayakah engkau akan mimpi?
Serupa bintang terang terbenam di kening

menguak gelap pekat yang berpijar dalam batin
Pintu-pintu keliru menganjurkan masuk

keluar. Aku ada di dalam sejak awal
Dosa itu mobil

yang kukebut menuju Kamu
Bukan buah terperam di dada

Taman kehidupan mengejawantahkan warna
Semua warna yang pernah dan belum pernah meng-Ada

“Hei, Mimpi memimpikan Aku kiranya...
di tempat yang tak terduga dekatnya.”

170210


Bernafas dengan Kematian

Aku janji
tak akan mengatakan apapun tentang cinta

Orang-orang itu lumpuh dari membuatku
bahagia atau menderita

Cinta yang memilikiku menyala
melebur berhala-berhala

Sungguh aku dungu
tapi ingin iseng: Menunggu!

Aku benar-benar hidup
di atas kematian ini

Irama kematian masuk dan menyembur
dalam nafasku

Namun aku telah berjanji
tak akan mengatakan apapun tentang cinta

170210
           

April Mop

Perjalanan, pencerahan, kesejatian
Keadaan terjaga!
Apa itu penting?

010410


Tentang M. Nahdiansyah Abdi
M. Nahdiansyah Abdi lahir di desa Durian Gantang, Kab. Hulu Sungai Tengah, pada 29 Juni 1979. Tertatih-tatih menyelesaikan S1 Psikologinya di UGM, Yogyakarta (1998-2003). Tinggal di kota Banjarbaru. Bekerja di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Gambut, Kalimantan Selatan. Puisinya tersebar di media massa lokal dan antologi puisi bersama di Kalimantan Selatan. Kumpulan puisinya al. Jejak-Jejak Angin  (Olongia, Yogyakarta, 2007) bersama Hajriansyah, Parodi tentang Orang yang Ingin Bunuh Diri dengan Pistol Air (Tahura Media, Banjarmasin, 2008) dan Pewaris Tunggal Istana Pasir (Tahura Media, Banjarmasin, 2009) dan Buku Harian Pejalan Tidur (Tahura Media, Banjarmasin, Februari 2011). Saat ini sedang mengumpulkan puisi untuk antologi puisinya yang akan datang: dari edan, oleh edan, untuk Eden.


Catatan Lain
Saya menerbitkan buku ini dalam kesunyian, tanpa publikasi, tanpa iringan komentar, tanpa peluncuran. Seperti juga nuansa sunyi dalam sajak-sajak di buku ini, hening, mengalir, mempertanyakan eksistensiku sendiri di tengah hiruk-pikuk yang tak berkesudahan. Saya sebarkan buku ini ke beberapa teman, sebagian dibagikan saat acara pembacaan puisi di Taman Minggu Raya, Banjarbaru, tanpa saya pernah menghadirinya. Sehabis diopname di Rumah Sakit, kadar “menyendiri” saya meningkat tajam. Minat saya terhadap keramaian turun drastis. Dengan sendirinya, itu memberi waktu bagi saya untuk lebih serius mengisi blog ini, tentu di tengah kesibukan pekerjaan di rumah sakit. Puisi menghindarkan saya dari sakit jiwa yang akut. Terima kasih kepada Hajriansyah, dialah yang berada di belakang saya selama ini, sejak Jejak-jejak Angin tahun 2007. Bahkan mungkin jauh sebelum itu, sejak mula perkenalan kami di Asrama Mahasiswa Pangeran Antasari, di Samirono Baru, Yogyakarta tahun 1998 lalu. Waktu itu, di kalangan terbatas mahasiswa Banjar, Hajri telah dikenal dan dipanggil pula dengan sebutan “penyair”. Sedang saya hanya menulis tangan puisi-puisi saya dari buku ke buku, untuk menghajar kesunyian saya sendiri.     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar