Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 01 Oktober 2012

SUNGAI HITAM SEMESTA BERKABUT


Data buku kumpulan puisi

Judul : Sungai Hitam Semesta Berkabut
Penulis : Noor Aini Cahya Khairani
Cetakan : I, Oktober 2004
Penerbit : Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin.
Tebal : 39 halaman (36 judul puisi)
Penyunting : Micky Hidayat
Ilustrasi sampul : Oesman Effendi – Puncak I ‘77

Beberapa pilihan puisi Noor Aini Cahya Khairani dalam Sungai Hitam Semesta Berkabut

Di Hulu Kali Ini

di hulu kali ini
aku ingin menambatkan perahu
melepas beban dan pakaian. mandi sepi
lalu tenggelam di dasar waktu


Penyair Sepi

penyair yang lahir dari puisi mencari cinta
menelusur jalan sepi memikul beban semesta
tuhan terbaring di hatinya

sudah sampaikah perjalanan o, penyair
menawarkan kesepian dan rindu yang berdebu
pada cakrawala, sementara jejak terlupa

jalan kian sepi, hari menepi
dalam temaram angin membisikkan perpisahan
kasih yang pergi takkan pernah kembali

di perbatasan kegelapan menyempurnakan kesetiaan
pada cinta, penyair melepaskan beban semesta:
menuliskan kesepian manusia atas manusia
meninggalkan sejarah yang mesti sudah dan pergi
menuju misteri yang terbaring di hati



Kisah Sebuah Perjalanan

separuh usia mereka jalankan perahu dari tepi
ke seberang, terpandang: laut damai, alam permai, sesekali
angin mengundang badai. tapi perahu tetap ke depan
membawa anak cucu, menaklukkan gelombang
melepaskan penderitaan yang tak bosan mencengkeram
selebih ini sepi. langit menyembunyikan misteri

ya, betapa lama dan jauh sudah perjalanan mereka
di atas perahu: lahir, kawin dan mati. mereka
bagaikan adam dan hawa. turun dari surga, menjelajah dunia
berada di sini

keluasan laut seakan memaku perahu. sementara
mereka tertawan ruang biru dan waktu bisu
pada perjalanan ini seperti ada yang tiada:
kepastian cuaca dari apa ke bagaimana
mereka mengundang angin melepaskan capai
terlambat ingat: angin mengandung badai
ya, berapa nyawa ditenggelamkannya dalam perjalanan?
berapa masa depan dihempaskannya ke belakang?

separuh usia, separuh perjalanan, separuh percakapan mereka:
“jangan bertikai tentang badai, nanti di pantai segalanya
sampai. lihatlah semesta: seekor garuda dengan sayap terbuka
di dadanya terbayang tempat berangkat dan bertambat kita...!”


Mimpi Gemerlap pada Bumi Retak

menggali sepi dengan puisi
terlihat kepercayaan di dasar bumi
retak. sementara langkah memberat
di atasnya, manusia lelap dalam mimpi gemerlap

o, sepi dan puisi yang menjadikan manusia
di bawah langit, hidup betapa niskala
tapi bumi senantiasa mempesona
tapi mimpi senantiasa ada
               

Senja

terpukau kemilau matahari pergi
hari habis arti, kecuali sepi
merayap dari laut dan langit gelap
malam menyekap harap
betapa sia-siakah makna sebuah rahasia
manusia hanya melangkah dari pagi ke senja

mungkin ada yang hilang di dada: secarik catatan
ketika hari pergi dan malam datang membawa bulan
atau bintang turun kepadamu menawarkan rindu
pada sebuah ruang waktu tuhan jatuh cinta padamu


Cermin Kerinduan bagi Noor Aini Cahya Khairani

saudaraku, karena rindu malam selalu memburu matahari
namun waktu berdekatan malam menjauh dan hilang menjadi
siang yang terhuyung-huyung kesilauan dan memohon
“Tanggalkan kerinduan di jantungku biarkan aku langgeng dalam kelam”
Tapi karena malam masih di langit dan di bumi
ia senantiasa direjam kesia-siaan bagai kau
Kini demi kerinduan, harapan dan kesia-siaanmu
terimalah cermin ini, ia sesungguhnya lama memanggil
di sudut hati, menyuruhmu berkaca supaya kenal
wajah kasih asap rupa kita yang selalu terluka
namun hatimu yang tergenang rindu membuatnya
berlumut hingga kau lupa arah ke muara

Banjarmasin, 1984


Kediaman Kesekian

pada kediaman tiada dinding; sepi
menawarkan sekian rasa diri
menyayangkan semesta mencari laotse
merasakan luka menggali nietzsche

menghikmati sepi menaut jarak
laotse nietzsche membuat gerak
menarikan semesta di segala musim
mengiringi hati menyanyikan ingin


Masyarakat-masyarakat Majemuk

pada dunia yang tak lagi terbaca
nama tidak dibuat dari huruf
tapi air liur berbisa
orang-orang kembali jadi bayi
hak asasi kehilangan gizi
hari kemudian menayangkan sosok baru
siapakah penjajah?
orang?
sistem?
adakah tuhan?
di dalam penderitaan mukjizat pergi
di luar kitab suci nubuat berhenti
tapi, kita memang suka mengasuh anak kekuasaan
maka ketika ia sempurna jadi maha tak ada tempat buat yang lain
kita belum merdeka


Vignet Kalimantan

1
di atas sungai hitam
hutan dan gunung berjalan
menuju mantra kekuasaan

2
antara hutan larangan dan cerobong industri
membentang kabel-kabel kekuasaan
sementara krisis bergayutan di tengahnya
ratusan titik api mengepung bayi-bayi

3
di sini tak pernah unjuk rasa sebenarnya
karena penduduknya begitu berbakti
meski kekuasaan mengajarkan kecemasan
namun selalu ditelan bersama pil kb

4
kami naik dari perahu
karena sungai tak lagi biru
kami dipindahkan dari pedalaman
karena hutan kami yang menawan
kami kehabisan sungai dan bukit
dan tenggelam di langit

5
di sini matahari padam di timur
dan pulau tidak milik kami
maka ketika ia kehilangan pesona
flora dan fauna berderak tanpa arti


Mohon Doa Restu

mengisi ruang padat, waktu menjadi tua
pertanyaan mendesak tepi agenda
kertas, daun, pasir atau tanah liat
tak lagi mewujudkan impian
busa sabun tak berubah seribu bulan
tapi masih kukasihi diri, kukawini dunia
mohon doa restu pada bapak
memakan masa depan anak-anak
masuk sekolah bisnis anak pejabat betapa hebat?
bisa beli kota, hutan, gunung, laut, langit, negara
apalagi manusia
“akan kupikirkan, akan kupikirkan,” kata bapak
kukerjakan bimbingan test mereka dengan hati naif
pada test penerimaan aku menjawab benar dan dapat nilai 3
menjelang pengumuman aku makin pintar:
aku anak indonesia tertinggal beribu mil dari peta
barangkali tak punya hak asasi berkuasa
“indonesia kaya penguasa dan konglomerat nak,
berbahagialah sebagai seniman,” seperti kata bapak
suaranya tak mencapai piring kosongku
maka kumakan puisi

15 Februari 1996


Tentang Noor Aini Cahya Khairani
Noor Aini Cahya Khairani lahir di Banjarmasin, 10 Januari 1959. Menulis puisi, cerpen, esai sastra, kritik seni, sejak tahun 1980. Karyanya dimuat di al. Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Merdeka, Swadesi, Bali Post, Majalah Horison, Jurnal Seni. Sebagai penyair, ia membacakan puisinya di berbagai kota dan aktif mengikuti berbagai forum sastra di tanah air. Menerima hadiah seni bidang sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan tahun 1999. Meninggal pada 4 Agustus 2003.


Catatan Lain
Sama seperti Ajamuddin Tifani, saya tidak pernah bertemu dengan penyair ini. Tapi saya tahu berita kepergiannya dari puisi seorang penyair Jogja (semacam puisi in memoriam) yang dimuat di koran Bernas. Saya masih mengenangkan tempat di mana saya membaca koran dinding itu, tak jauh dari kos saya di Krapyak, Jogja. Saya lupa siapa penyairnya, entah Bambang Widiatmoko atau siapa. Dulu saya mengira Noor Aini Cahya Khairani ini seorang perempuan. Belakangan saya tertawa sendiri mengenang imajinasi keliru saya tentang penyair ini.
            Micky Hidayat, menulis dalam catatan penyunting, bahwa ia lebih melihat sosoknya sendiri itulah puisi. Ia telah menjadi saksi sejumlah sikap kepenyairannya, bahwa tugas seorang kreator adalah mencipta dengan sekian pilihan yang telah diyakini. Keunikan penyair ini, saya kira, juga terlihat dari keberaniannya memberi nama anak, yaitu: Seniman Gempur Tirani. Hehehe, unik bukan buatan.
            Di bagian akhir, ada komentar sejumlah kawan, seperti Y.S. Agus Suseno, Maman S. Tawie, Micky Hidayat, Sandi Firly, Jamal T. Suryanata. Y.S. Agus Suseno menulis begini:”Di awal kepenyairannya, NACK hadir dengan puisi yang agak berbeda dengan penyair lain yang sezaman. Puisinya tidak meledak-ledak, malah cenderung “dingin”, simbolik, diksinya amat diperhitungkan, dengan muatan filsafat yang kental. Namun, sekitar lima tahun sebelum kematiannya, puisinya berubah drastis. Karyanya tidak lagi religius dan filosofis, tapi kritis dan politis.   
            Mungkin, pernyataaan Micky Hidayat yang menyatakan bahwa sosoknya itulah puisi, menemukan rumahnya dalam komentar Sandi Firly: “Kabar kematian Noor Aini Cahya Khairani, ternyata tidak mampu menggugah rasa duka saya, justru yang saya rasakan adalah suasana “romantisme” kematian itu sendiri.” Kematian yang puitis memang tak meninggalkan duka.
            Penyunting menulis dalam catatannya, bahwa puisi-puisi di buku ini dipilih dari beberapa kliping koran, antologi bersama penyair lain, manuskrip koleksi penyair Maman S. Tawie, yang kemudian diberi judul “Sungai Hitam Semesta Berkabut” diambil dari dua ungkapan pada dua buah puisinya, yang oleh penyunting dianggap cukup mewakili dunia puisi Noor Aini.
            Buku yang saya pinjam dari Y.S. Agus Suseno ini, seingat saya, pernah dibedah di STIKIP PGRI Banjarmasin. Saya pernah baca beritanya di media massa. Ah, saya tak banyak punya kenangan. Saya undur diri secara perlahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar