Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 02 November 2012

SULUK TANAH PERDIKAN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Suluk Tanah Perdikan, Kumpulan Sajak 1987 - 1993
Penulis : Bambang J. Prasetya
Cetakan : I, Oktober 1995
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tebal : xvi + 62 halaman (52 judul puisi)
ISBN : 979-8581-33-4
Pengantar : Bakdi Soemanto

Beberapa pilihan puisi Bambang J. Prasetya dalam Suluk Tanah Perdikan

Nyanyian Zabil

Kau kandung api
pijaran samadiku
muara sajak-sajakku
yang mengilhami pencarianku
di kota mati

Seperti lukisan sunyi di padang bumi
nyanyian malam menderai pagi
lalu engkau mengketuk-ketuk rahim ibumu
mengibarkan bendera zabil
di taman bunga
yang disiram sembilan purnama
sepuluh malam
Seribu mata panah
kau sayatkan pintu garba
sampai luka terbuka
perih pedih
masih kau seret petir
lewat mulutmu

1992


Gumam Jejak Duka

Bau kuburan di plataran rumah-Mu
menyesatkan kesangsian
melacak jejak nabi-nabi

Rembulan berlayar
menggigil kabut
menawar kembali gairah meruak-ruak sepi
beri nama apa
waktu berwajah jelaga ini?
Juga sajak yang tak mampu
menampung gema yang mendengung


Kembali ke rumah darahmu
kembali memadamkan magma
yang meradang dalam rongga semadi
Jika sangsi tiba kembali
biarlah mati menjaga pintu misteri

1993


Interlude Lazuardi

Jika angin yang berhenti
usaplah wajahmu!
Pada langit kamar
dan dingin merapat
di matamu

Desah kerinduanmu
meninggalkan pecahan kaca di sprei
melukai jerit bocah-bocah malam
dibalut kabut

Tinggallah di sini, kekasih
merenda sunyi jadikan bebatuan
lalu taburkan bunga melati
biar aroma mulutmu mengusir resah
di timbun bercak lazuardi

1993


Di Rumah Rindu

Hujan tak pasti
memagar malam
sebentar tiba kemudian kembali
ada yang ditinggalkan
butiran air menyapu atap
lenyap meresap di pelataran
rumah pendapa

Angin masih seperti dulu
ketika bertemu camar menyapu beku
ditarikannya beberapa lagu
dan daun cemara menari-nari
mengusik tiang dermaga
meski tak goyah
cemburu badai
berwajah asmara bermulut petaka
seperti mendung taburkan kremun
sebentar juga basah
seperti hidup kita
tak terasa menampung laknat

1992


Seserpih Sepi

Angin resah
Senja terbang
Lalu darah membeku

Siapa yang datang?
Menyeret buih dera
Memanah rembulan jingga
meninggalkan gerimis putih
di Sahara kering

Sepi!

Maut berpangku tangan
Menjulurkan lidah birahi

1992


Kamuflase

Jangan ganggu aku menjaring misteri
di awang-awung berloncatan malaikat
kepaknya senandung keabadian
air pegunungan membasuh resah

Kutangkap senyap
senja lenyap didekap gelap
sisakan sesak bumi
yang penuh kerak hati

mengendarai duka terbang di awang-uwung
menuju rimba semu
rumput-rumput hijau berbunga pisau
menggores ruh purba
berpijar lukanya

1992


Sunyi

Kabut terpaku di bukit
juga wajah-Mu
hilang di semak
atau
aku lupa
memberi tanda
pada setiap pertemuan
ruhku

1993


Lanskap

Di pelabuhan kecil
Remang bulan sepotong
Mengasingkan kebebasan kelelawar
menggambar langit membendung janji
Laut mati
Malam berkarat
Ikan-ikan damai
dalam lukisan baru

Angin kelabu selatan
menulikan kesadaran
kembali kita kanak-kanak
menawar-nawar dera
akan diapakan senja?
jika teramat jauh
langit mensetiai warna biru

1992


Ekstase Malioboro

Di sudut kotamu yang sendu
tempat ruh nenek moyang menjaga pertempuran
melahirkan bocah telanjang
dekil dan bau kemenyan
matanya silau nyanyian masa depan

Bulan selimut dingin
bertengger di atas jemuran
payung keemasan raja-raja
bocah tumbuh dalam dekapannya
diteteki ketika menangis
lewat alunan sungai yang diaduk-aduk polusi
disuapi ketika lapar
dari puing-puing sampah

Di bawah jembatan ia lahir
besar di jalanan Malioboro
ketika peluit kereta api menjerit
dan derit angkot, bercampur bau tlethong
saat toko-toko berubah jadi plaza
pedagang kaki lima tak lagi bersahaja

Bising kotamu
mengeraskan lengking aleman sinden jalanan
Binar kotamu
mengencangkan senar pemetik sinden jalanan

Senja tak berbentuk
bocah terpaku bermain kartu
lepaskan penat sehari kerja
meski siang jadi tukang sapu
membersihkan labirin pasar beringharjo
yang sepi bau susur aroma dubang
juga sengat ampek keringat petani desa

Bocah pinangan zaman yang terbuang
asing di tengah deru merci
dan kelap-kelip sorot lampu mercuri
keluguannya balik menipu
karena semua sudah membisu

1993


Suluk Tanah Perdikan
(perjalanan metarual sepasang elang)

Sepasang elang hitam terbang
menembus cakrawala
kala langit kelam dan matahari tenggelam
meninggalkan wewangian misteri senja

”Kami sepasang elang pengabdi kata hati
mata hati
kami manjakan dengan tafsir kebenaran
berubah selalu menjadi prasangka
yang mensia-siakan
namun kesia-siaan itupun menjadi karib
karena setiap kenyataan
kami sandarkan pada kesadaran”

Sepasang elang hitam terbang
tak hirau angin berarak mendung
guntur menggemuruh badai

”Sampai letih sayap mengepak gairah
Singgah di bibir pantai
Menunggu kembali sang mentari
Mengeringkan keringat keletihan jiwa kami”

Sepasang elang hitam terbang
dari pucuk-pucuk ke tangkai kering
dari hutan ke rimba
dari matahari ke bulan
dari bintang ke malam
dari ujung cahaya ke kelam
dari kesangsian ke-tidak pastian
dari peradaban ke-biadaban
terbang!
terbang!
dan terbang!

”Angkasa raya
adalah gurun sahara ketabahan
yang ditumbuhi duri-duri warisan purba
yang menggoreskan luka
luka kami abadi
lukisan dewa-dewa
yang diwarnai mazmur suci”

seperkasa siang menerjang
tinggalkan ruang singkirkan waktu
mencari jalan pintu abadi
diikutinya lenggok tarian sungai
berlabuh di jaman suci
yang disangga tiang berhala kertas
bertumpukan di rongga batok kepala

”Keheningan itupun melahirkan keriuhan
dalam bahasa senyap batin kami
bahasa diam adalah gemuruh laut
menggulung setiap gairah kentalkan semangat

Terbang!
terbang!
terbang dan terbang!!

Kami terbang!!!
bersayap harap
Kami terbang!!!
memerdekakan diri
tak terikat oleh kata
tak terikat oleh bentuk

Kami terbang!!!
mengibarkan bendera
kami punya jiwa

Kami terbang!!!
melintas-lintas kerakusan iman
kami terbang!!!
terbang!!!!

Kami sepasang elang hitam
terbang!!
meninggalkan geram serigala di rimba kota
yang meninabobokan kenyataan
bagai barisan Kurawa
mendendangkan lagu kematian
di padang Kurusetra
tidak ada Janaka dan Werkudara
apalagi Yudistira berharap mencuci dendam

Genderang telah bertalu
merentangkan tangan membuka
seribu jalan matahari
Gendewa telah siap
kami tak punya warastra
kami tak tahu mesti berperang
melawan apa?
melawan siapa?”
Musuh tak berwujud
dendam tak berbentuk
patahkan saja anak panah
jika seruas keberanian pun sirna
mulailah mengibarkan bendera duka cita
di ladang sawah para petani
sebelum padi-padi menguning
sebelum jagung-jagung berbiji
dan burung, tikus, ular, wereng
berpesta pora
di tengah ruwatan jagad

”Nestapa membakari mega-mega
menyilaukan mata kami perih
ketika pasukan berangkat
menyebrangi batas
berbekal omong kosong semata
kami lelah menunggu monumen kepalsuan
kami ingin terbang!!!”

Seperti langit dan warna biru
sepasang elang hitam terbang
membiarkan senja menepi
tak berlabuh
dan dingin mengatup air laut
perjalanan ini pun jadi dermaga

1993


Tentang Bambang J. Prasetya 
Bambang Jaka  Prasetya atau kadang disingkatnya Bambang JP, lahir di Yogyakarta 28 Oktober 1965. Menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia jurusan teater. Antologi puisinya al. Kado Buwana dan Jejak. Bekerja di TVRI stasiun Yogyakarta.


Catatan Lain
Saya belum pernah mendengar nama penyair ini, pun sewaktu mukim di Jogja antara tahun 1998 – 2005. Buku ini koleksi alm. Eza Thabry Husano, berdasarkan catatan yang ada di buku, mungkin dibeli pada 27-VII-96 itu, pada sampul belakang buku masih ada barcode TB. Gramedia, Rp. 2.750,- Saya pikir, Bambang JP adalah sedikit di antara penyair Jogja yang memang orang “Jogja”. Jogja sering menjadi tempat persinggahan para penyair. (Jogja adalah juga pusat, demikian saya pikir). Seringkali penyair “asli Jogja” kalah menggema dibanding penyair pendatang - mereka yang tumbuh dan menggali kreatifitas di salah satu pusat kebudayaan Jawa ini. Persoalan identitas, itulah masalahnya? Sekarang siapa sosok yang benar-benar merepresentasikan penyair Jogja? Mungkin bisa dihitung jari. Beberapa orang mungkin tidak menghiraukan hal ini, namun beberapa yang lainnya merasa identitas sebagai kebutuhan, semacam perasaan keberakaran. Entahlah.       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar