Jumat, 08 Desember 2017

Tariganu: MENGHADAP MATAHARI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Menghadap Matahari, sajak sajak 1981
Penulis : Tariganu
Cetakan : I, November 1982
Penerbit : Yayasan Bengkel Seni 78, Jakarta.
Tebal : 44 halaman (37 puisi)
Gambar kulit dan illustrasi : Delsy Sjamsumar

Beberapa pilihan puisi Tariganu dalam Menghadap Matahari

MENGHADAP MATAHARI

Lekuk-lekuk jalan tanah impian
Liuk-liuk tulisan meracun hakiki
Santuk-santuk galungan ganggu timbangan
Jeluk-jeluk pikiran kuperangi

Mari kemari banting kemudi
Berdiri tegak di tanah pertiwi!

Angguk-angguk kepala bukan kepribadian
Berguk-berguk kembali kutempelengi
Benguk-benguk duduk musuh pembangunan
Langguk-langguk tinggi diri apa lagi.

Mari kemari banting kemudi
Ikut aku menghadap matahari!



KESERASIAN

Keserasian menabuh dalam rasian serasi
Menanggap retak dalam mimpi mimpi
Keserasian berimbuh dalam toleransi
Disemai ditumbuh di seluruh negeri.

Keserasian bersimpuh di Bimasakti
Dalam gaya bergerak tiada henti
Keserasian mengguruh di dalam diri
Seluruh nadi menembang gesuri.


PESAN

Kepadamu aku tak kan bicara tentang baik buruk
seperti setiap kali teman teman datang
ke pondok kita kau suguhkan kopi Sidikalang
dan “aduhai” meloncat dari mulut mereka
: harum kopi melebihi Robusta Arabica
Maka setiap kata dalam sajakku sudah kutimbangtimang
yang tercermat tepat kupahatkan untukmu.

Di balik kabut remang si lumang
kau kan lihat wujudku kuat mencuat
Dadaku yang lapang, bahuku yang kekar
mengayun tanganku menggemulai
menarikan tumbuk-lada kata, sembari mataku main
bagai mata Bagong mengawasi jemari anak penari
Terang benderang Perhitungan & Pemikiran.

Mengatas segala kau kan lihat di celah celah kalimat
Aku ku tegak bertanggung jawab kepada tanah air
bangsa dan diri sendiri dengan mandi Cahya
menggaul Suasana. Dan kini tiba saat kusampai pesan:
Bekerjalah lebih keras, belajarlah lebih banyak.


SEBUAH SAJAK PANJANG

Bagai sungai Lahai mengalir bagai sungai Tiwai milir
Taboyan di hulu tingkahan riam menyapa sungkai sungkai
di sepanjang pesisir membelai dusun dusun, kampung kampung
menuju muara Montalat menyatu dengan Witu;
Bagai sungai Barito mengalir menyampai salam semilir
kepada batang batang, lanting lanting dan pos pos cukai
bermula dari Hulu yang tak pernah kujangkau
membelah kota kecamatan Puruk Cahu yang landai
tanah gunung Muara Tewe yang halai balai, Buntok yang montok
Marabahan yang risihan sampai Banjar yang masin
menerima penggabungan Martapura mengalir, dan mengalir
terus ke ambang muara, ke laut menyatu gelombang.
Demikian sebuah sajak panjang berdesir mengalir
berkelir-kelir menari mentas ke atas kertas. Tak kutebas!


SEBUAH SAJAK KECIL

Sebelum ia menari di depanmu
Berpuluh malah beratus kali sudah
Kusobek ia berulang kusalin kembali.


SALAM PAGI

Kau berjalan kaki melintas alam, melintas rawa
melintas ngarai dan lembah, sungai dan gunung
kaki-kakiMu telanjang mencium menghidung Bumi
Bumi menengadah merasakan lembut telapak
dalam setengah mengantuk mengerling Matahari
Matahari tersenyum menyampaikan salam pagi:

beri kesempatan kepada mereka pejalan kaki
karena melalui telapaknyalah Rohmu
menjadi mesra safi arifi
tubuhmu akan melayang bersamaKu tanpa berpijak
di Bumi; kaku membeku bersama Bumi tanpa Aku
sirkulasi arus Gaib ini misteri dibalik Misteri.


DATANG KAU

datang kau datang kau datanglah kau
wahai junjungan tempat pujiku datang
datang kau datang kau datanglah kau
wahai junjungan tempat sembahku datang
sembahku sembah sembah sepuluh jari
sembahku sembah sembah seputih melati
sembahku sembah sembah seharum pertiwi
datang kau datang kau datanglah kau
wahai junjungan ayunan manjaku datang
datang kau datang kau datanglah kau
wahai junjungan tumpuan rinduku datang
manjaku manja semanja kukang datang
rinduku rindu serindu dendam datang
datang kau datang kau datanglah kau
wahai tanah malai malai tanah datang
tanggunganelang elangtanggungan datang
datang kau datang kau datanglah kau
datang kau datang kau datanglah kau
wahai kerakyatan rakyat datanglah kau
pembaharuan baru datang datanglah kau
“Stoooooop !!!!!! Cium pipiku !!!!”


MABUK AKU…..

Mengandika lara tuak tua melunjak duka
di gelas sunyi. Mengandika kesentosaan
maha sempurna sirna di tengah pembangunan
kini menggelepar cemar. Si ngiang-ngiang
rimba mempercepat ucap selamat jalan.

Nanarlah senja berputar berganti tikar
malam mengepak sayap melacak kelam
Bersahabat cinta, lapar dan derita
geram ulah memeranginya. Si miang-miang
tumbuh menjamur di pasungleherku.

Menggejolak tanah dan air bangkit berombak
diseling tari tari ayan merindu madu di gua
Kunyanyikan garuda, sejarah dan angkasa
ketilang, murai cicarua menggigil di sarangnya
Akanan memukau kucarikan kalung doa.

Menembus mega sebelum tiba di putus asa
Kau an aku mengerling tanah tumpah darah
dari atas sana penuh cinta penuh cerita
penuh amanat. Si riang-riang tuak tua
membentang layar kendi mengembali semangat.


HEBAT KAU

Kau tumbuhkan panitia setelah raker raker
Kau adakan team team setelah rapim rapim
Lupa ketuyung* santapan lezat pencegah kanker
Menyembunyikan diri dari tanggung jawab
kekhawatiran rasa resah dan kekecewaan
Lupa kerja keras adalah istirahat sesungguhnya
melepas lelah kerja keras sebelumnya, dan
menyerahkan segala kecemasan kepadaNya.
Maka dini aku datang berdiri di hadapanmu
mengusir alpalupa mengetuk pintu hatimu:

Kau hebat maka hebat kau    hebathebathebathebat

Hanya orang yang hebat arif dan bijaksana
berdiri bagai kelabang mengendali diri
Menelusuri alur mawas diri setiap hari
membentang layar menjelajah Galaksi
mengayun pedang jenawi kata sampai ke hakiki.

Kau hebat maka hebat kau    hebathebathebathebat

Hanya orang yang hebat arif dan bijaksana
beraksara kura menuju keselarasan sempurna
Mengenal baik dan buruk berdiri dan duduk
kedondong menggiur liur perempuan ngidam
condong ke kanan ke kiri merusak keseimbangan
Angkara murka mengacaubalau keselarasan
menyarung pedang jenawi kata tanprana tansuara

Kau  hebat  maka  hebat  kau   hebathebathebathebat
Kau  hebat  maka  hebat  kau   hebathebathebathebat

*ketuyung = sejenis siput laut juga disebut kol nenek


KALAU MAU MUDA KEMBALI

Kalau mau muda kembali
Kembangkan layar tarungi gelombang
Datang kemari.

Kalau mau muda kembali
Tinggalkan kamar siul berdendang
Cipoki pagi.

Kalau mau muda kembali
Pergi ke pantai turun berenang
Melindang birahi.

Kalau mau muda kembali
Dada bidang hati cindang
Seimbang emosi.

Kalau mau muda kembali
Langkah gayang mesti dibuang
Sandang pertiwi.

Kalau mau muda kembali
Tak perduli siapa jauhi kimbang
Kendalikan diri.

Kalau mau muda kembali
Lalu landang pribadi cerlang
Kundang pertiwi

Kalau mau muda kembali
Kembangkan layar tarungi gelombang
datang kemari.


PERANG IRAN IRAK BAGI DUNIA KETIGA

Tebu manis sudah di keba*
Mengapa petir bersaung adu
Merebut buah si mala kama?

*keba = rangsel, terbuat dari rotan.


SIR

cengar  cengir


RIMBA KATA

Ada waktunya hantu jenggala tiba
menggoda menawarkan kata merimba
Kuberi ia gunting belalang
                        sambar elang
dua jurus berkelebat cepat
Dan ia menghilang ke umangumang.*

Umang= sejenis mahluk halus berwujud kabut
                (dalam cerita rakyat Karo)


MINGGAT

Rambutmu ikal terbang bergerai
Menyapu wajahmu lembut kemelut
Menggelugut tubuhku mengejar ke pantai.

Gemulai langkahmu memburai duka
Memancar luka melemah langlai
Aku berandai kau membena baka.

Mengapa langkahmu semakin lengai
(kusapa tidak kusapa tidak kusapa tidak
kutangguh sapa tidak kusapa) tiba-tiba
Kau hadap gelombang mengilai…..

Wahai rangkai kasihku apa salahku
Bersajak tak perlu cinta kerapai
Dan kau pergi ingin jauh dariku.

Maafkan daku menotokmu terkelampai
Karena cinta membuai tingkah kolokan
Kupapah kau harus laklakan sangsai

Bangun manis rangkai kasihku
            kubuatkan kau mahligai
Kita akan tuan di rumah sendiri
            sejahtera dan anggun
Dalam kerja dan cinta nusa nusa
            indah-indah kita belai.

Rambutmu ikal terbang bergerai
Menyapu wajahmu kemelut melembut
Tersenyum aku memapahmu dari pantai.


‘Sajak Pembukaan’

Seribu memikiri ku ribak retak
Satu aku Kau ingatkan telak
Seribu lingar mengharap ku nanar
Satu aku Kau mekarkan segar


Tentang Tariganu
Tariganu lahir 9 Oktober 1938. Tahun 60-an puisinya muncul di majalah Sastra yang dikomandoi H.B. Jassin. Selesai studi fakultas Sastra UI (1965) ia menggeluti dunia bisnis. Pernah mengelola beberapa perusahaan crumb rubber seperti PT Hevea Kalimantan, kuasa usaha PT Angkasa Raya Jambi, direktur PT Insan Bonafide dan terakhir sebagai direktur PT Pembangunan & Industri Yakin Maju Jaya. (Biodata penyair ada di sampul belakang buku dan di bawahnya tertulis Jumri Obeng, BMF Berita Minggu). Menghadap Matahari (1982) mungkin kumpulan puisinya yang pertama.


Catatan Lain
Ada 36 ilustrasi (vignette) di dalam buku ini, dan itulah yang dipuji Hajri sebagai sekelas anak ISI. Daftar isi ada di halaman belakang (hlm. 44).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar