Pengantar Bulan Juli 2014

Bulan ini, menyapa kita puisi Wiji Thukul dalam Para Jendral Marah-marah, Dedisyah dengan Sajak Perjalanan Pertama, S. Wakidjan dengan Pita Biru, Hr. Bandaharo dengan Aku Hadir di Hari Ini, Linus Suryadi Ag dengan Rumah Panggung, Samadi, -- penyair yang hilang dalam perang saudara (PRRI) di Sumatera tahun 1957-1958 -- dengan Senandung Hidup dan Ekohm Abiyasa dengan Malam Sekopi Sunyi. Salam puisi. Mohon maaf lahir batin.

Kamis, 03 November 2011

MALAM CINTA

-->

Data buku kumpulan puisi

Judul  : Malam Cinta
Penulis : Wayan Sunarta
Cetakan : I, Desember 2007
Penerbit : Bukupop, Jakarta
Tebal : viii + 104 halaman (85 judul puisi)
ISBN : 978-979-1012-22-5
Prolog : Puisi, Ular Kundalini dalam Diri (Wayan Sunarta)


Beberapa pilihan puisi Wayan “Jengki” Sunarta dalam Malam Cinta

Bali, Beri Kami Rumah

mereka bicara hal yang sia-sia
tak sadar malam mengepungnya
malam adalah hutan keramat
yang menyungkup jantung kita

sebongkah tengkorak purba
telah kau siapkan di depan altar tua
mari sempurnakan perjamuan
sebelum hutan, sawah dan kebun kita
jadi isi ensiklopedia dunia

“bali...bali...bali
beri kami rumah agar kami bisa kembali!”

pembawa warta letih
sejenak minum dari alas daun
kabar dari jauh
mengelupas selapis demi selapis
kulit dalam jiwa kita


Laron

tuhan, sampai kapan kau
meminjami aku sayap?

 
Lirik Untuk Pengigau

walau kau terus susuri malam
aku tak tahu sampai kapan
ruhmu menuju kilau abadi bintang
igau yang kekal serupa ajal
hembuskan kata-katamu di ujung lidah

wilayah mana tak kau jelajah
istana musim semi menutup gerbangnya
siapa mampu meraba arah waktu
alur yang melingkar serupa ular tidur
tapi peta telah kau buka
saat senja mati rasa di jiwamu
apakah arah, apatah tuju
nujumanmu tak lagi bermakna
amsal pun lupa ihwal kata


Kupu-kupu

kupu-kupu kecil itu
tersesat ke dalam kamarku
di antara hiasan tanduk rusa
dan rak-rak buku ia meliuk-liuk
seperti tak tahu arah berpijak

sebuah potret masa muda
dalam pigura hitam yang tua
rnenatap fana padaku
kupu-kupu kecil itu menari
di atas huruf-huruf kaku mesin ketik
keningku membentur almari
saat aku ingin menyentuh
warna-warni sayapnya

keindahan di sebuah kamar
terbuka seperti taman musim semi
daun-daun bunga bungur
diam-diam gugur ke dalam belukar
malam mengendap di balik tingkap
sebentuk bibir di kaca jendela

kupu-kupu kecil itu menguap
ke senyap yang tiba-tiba lindap


Ode Untuk Penunggang Kuda

usiamu makin mendera, kuda tua
rneringkik letih di jalanan berbatu
begitu dungu kau di atas pelana
usir mimpimu sebelum tiba pagi

lelahkah kau berpacu
arak menunggu kau reguk
namamu terpahat di guci tua itu
di antara relief-relief purba
utas tali kekang pun putus kau hentak

pejamkan sejenak rindu-dendammu
            agar kau mampu pahami
rahasia lubuk-lubuk puisi
agar kau bisa dendangkan sendiri
nyanyi anak-anak di jalanan desa
girang, girangkan hatimu selalu
gemakan siulmu di tebing-tebing cadas
iringi senja yang kembali ...


Sarang Capung

kau memasuki sarang capung
peliharaan peri hutan
lebat tetumbuhan pakis
dann percik air terjun bagai butiran tepung
batu-batu di sepanjang sungai bernyanyi
lumut-lumut menguapkan harum tanah

aku terkurung dalam sarang capung
kembali bocah itu menawariku kalung
untaian butir-butir kerang
yang dipungutnya di pasir sungai

letih telah membawaku menjauh dari waktu
tak mampu lagi kugurat kata
pada batu-batu sungai
kata-kata yang akan mengabarkan kisahku
sejauh waktu menenun sarang laba-laba air

peri-peri hutan
mengantar ruhku ke tengah sungai
dari mana perjalanan baru kumulai
kudengar merdu nyanyi serangga hutan
kulihat bocah itu melambai
:selamat tinggal bumi!


Campuhan, Ubud
  - bersama phutut ea-

mengapa jalanku tiba-tiba buntu
ketika senja menjelma
bunqa alang-alang
yang tumbuh di tebing karang

di bawah, ricik air bagai mantra purba
yang dilantunkan para pendeta
atau mungkin baris-baris aksara
yang digurat sang kawi

mengapa jiwa serupa angin
mengalun dari buluh-buluh bambu

pada akhirnya kau pergi
aku pergi
mereka pergi
tapi hanya jalanku
vang tiba-tiba buntu
disumbat gumpalan masa lalu
yang tidak juga enyah


Parangkusumo

tapak kaki kuda, pasir-pasir, bunga pandan
dan sampailah pada hamparan biru
yang berwaktu-waktu kuburu

ibu parangtritis, bapa merapi, putera keraton
satu garis sunyi menggebu dalam seru angin
pada pagi pada malam pada jam-jam siangku
membawa birahi dari kucuran peluh, terik doa
dan tandas airmata
mengharap kau tiba dengan kereta kencana
menapak udara
campuran pasir, laut dalam diri
simpang siur wajahmu, sayup-sayup rambutmu
seribu kuda putih meringkiki detik-detik sunyiku

waktu waktu kuburu pencarianku kuburu
sampai ruhku menemumu


Tentang Wayan Sunarta
          
wayan sunarta pada tahun 1992
Wayan Sunarta, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. menyelesaikan studi Antropologi di fakultas Sastra Udayana. Sempat studi seni luki di ISI Denpasar. Kumpulan puisinya, Impian Usai (2007) dan Pada Lingkar Putingmu (2005), kumpulan cerpennya, Cakra Punarbhawa (2005), Purnama di atas Pura (2005) dan Perempuan yang Mengawini Keris (2011). Meraih Krakatau Award 2002 dari Dewan Kesenian Lampung dan dianugerahi penghargaan Widya Pataka 2007 dari Gubernur Bali.


Catatan Lain
Buku Malam Cinta oleh Wayan Sunarta ini kubeli saat di Samarinda, di bazaar buku Dialog Borneo Kalimantan IX, tanggal 15 Juli 2011. Harganya Rp. 20.000,-  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar