Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 04 Maret 2012

KEBUN MAWAR RAHASIA



Data buku kumpulan puisi

Judul : Kebun Mawar Rahasia
Penulis : Sa’duddin Mahmud Syabistari
Cetakan : I, Agustus 2001
Penerbit : Risalah Gusti, Surabaya
Tebal  : xvi + 154 halaman; 17,5 cm (72 puisi)
ISBN : 979-556-044-1
Penerjemah dari Bahasa Inggris : Ribut Wahyudi
Perancang sampul : Mas Ong
Judul asli : Gulshan-i-Raz (bahasa Persia), diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Florence Lederer menjadi The Secret Rose Garden.

Beberapa pilihan puisi Sa’duddin Mahmud Syabistari dalam Kebun Mawar Rahasia

Anggur Pesona

Anggur, yang terbakar oleh cahaya
dari wajahnya,
menyemburkan gelembung-gelembung
sebagaimana dunia materi dan dunia-jiwa
yang muncul laksana selubung-selubung
bagi para wali
Nalar semesta yang menyaksikan
begitu terheran
Jiwa Semesta runtuh ke penghambaan

Teguklah anggur! Karena mangkok itu
sesungguhnya wajah Sahabat.
Teguklah anggur! Karena piala
adalah matanya, yang mabuk dan
melayang-layang oleh anggur.
Teguklah anggur! Dan lepaskan
diri dari bekunya kalbu,
karena seorang pemabuk lebih baik
dari sang pemuas-diri


Seluruh dunia adalah kedainya
piala anggur jantung setiap atom,
akal budi mabuk, malaikat-malaikat mabuk,
jiwa mabuk, udara mabuk, bumi mabuk,
surga mabuk.
langit pusing oleh aroma uap anggur
melayang ke sana ke mari;
para malaikat, mengecap anggur suci
dari gelas-gelas piala,
menuangkan semua sampah ke dunia;
lepas dari godaan sampah ini
manusia naik ke langit
Mabuk oleh tegukan, sifat-sifat manusiawi
berjatuhan ke air dan api.
Menangkap bayangan, tubuh yang
lemah menjadi sebentuk jiwa,
dan jiwa yang membeku oleh panasnya
mencair dan ada.
Duniawi masih melayang, karena
menjauh dari rumah dan keluarga.

Seseorang dari bebauan sampah
menjadi seorang filsuf,
seseorang dari warna anggur menjadi
seorang penghubung,
seseorang yang meneguk menjadi religius,
seseorang yang minum semangkok
penuh menjadi seorang pecinta,
ketika yang lain meneguk anggur
dari gelas-gelas piala, kedai,
pembawa-piala, dan pemabuk
dia menenggak semuanya,
tetapi mulutnya masih terbuka


Dua Jejak Perjalanan

Perjalanan para musafir adalah
dua langkah dan tidak lebih:
Satu langkah keluar menjauh
dari keakuan diri,
dan kedua menuju Kesatuan mistis
bersama Sahabat.


“Jauh” dan “Dekat”

Jika Dia memancarkan
Cahaya-Nya ke wajahmu,
kau menjadi dekat dengan-Nya
dan menjauh dari keakuanmu.
Karena berdekatan dengannya
berarti menjauh dari dirimu.

Keuntungan apa yang tersisa untukmu
dalam keadaanmu yang hampa itu?


Bayi dan Anak Muda

Seorang bayi kecil dalam ayunan
berdiam dekat ibunya,
tetapi ketika dia tumbuh besar
dia berjalan bersama ayahnya.
Jadi tetaplah bersama ibumu,
unsur-unsur duniawi,
sampai kau bergabung dengan Sang Ayah
di puncak tinggi sana.


Yang Hakiki dan Yang tak Hakiki

Imajinasi melahirkan bayang-bayang
yang tak memiliki wujud hakiki,
dunia ini pun tiada memiliki realitas sejati,
tetapi hadir sebagai panggung pertunjukan.

Semua khusyuk oleh Sang Mutlak
dalam maha kesempurnaanNya

Ada banyak angka, namun hanya
Satu yang terhitung


Cermin

Matamu tidak punya cukup kekuatan
untuk menatap langsung mentari
yang membakar,
tetapi kau bisa melihat cahayanya
yang gemerlapan dengan menatap
biasnya yang tercermin dalam air.

Jadilah bayangan Sang Mutlak
yang dapat dilihat dalam cermin Tak Wujud
karena ketidak-adaan,
yang berbeda dengan Hakikat,
mampu menangkap pantulannya seketika itu.

Pahami dunia dari ujung ke ujung
dalam sebuah cermin;
pada setiap atom seratus
matahari tersembunyi.
Jika kau belah hati dari setetes air,
darinya kan mengalir seratus lautan jernih;
jika kau lihat dengan sungguh-sungguh pada
setiap noda debu,
di dalamnya ‘kan kau lihat seribu makhluk,
seekor agas dalam tungkainya
seperti seekor gajah;
setetes air menyerupai Nil,
di jantung sebuah ladang gandum
tersimpan seratus panen,
dalam sebutir benih padi
tersimpan sebuah dunia,
di balik sayap seekor serangga
terdapat sebuah lautan kehidupan,
sebuah nirwana tersembunyi
di balik manik mata,
bagian inti dalam pusat hati begitu kecil,
tetapi Tuan dua dunia akan masuk
ke dalamnya.


Manusia sempurna

Bukan sebagai warisan,
manusia sempurna hanyalah seorang budak
dan melakukan kerja budak
Hukum adalah hiasan luarnya,
namun hiasan dalamnya jalan spiritual.
Ia termasyur karena ilmu dan kebaktiannya,
tetapi ia jauh dari semua ini,
karena ia suntuk dalam
perenungan Sang Tunggal.
... Ketika ziarahnya sempurna
ia menerima mahkota Khalifah.


Masjid dan Biara

Jika “yang lain” dan “orang-orang lain”
berada di depan matamu,
maka sebuah masjid tidaklah lebih baik
dari biara Nasrani;
tetapi ketika selubung “yang lain”
tersingkap olehmu,
biara berubah menjadi masjid.


Tak ada Kebahagiaan Sempurna di Sini

Siapa yang kau lihat di seluruh semesta ini
siapa yang pernah mendapatkan
kesenangan tanpa penderitaan?
Siapa yang dalam meraih segala hasratnya,
tetap pada tingginya kesempurnaan?


Tentang Sa’duddin Mahmud Syabistari
Sa’duddin Mahmud Syabistari lahir di Syabistar, dekat Tabriz, sekitar tahun 1250 Masehi. Gulshan-i-Raz atau Kebun Mawar Rahasia, dikatakan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh seorang doktor Sufi bernama Dmir Syad Hosaini. Dia jua menulis dua risalah lain tentang Sufisme yaitu Haqqul-Yaqin dan Risala-i-Shadid. Gulshan-i-Raz mulai diperkenalkan di Eropa oleh dua pelancong sejak tahun 1770. Tahun 1821, muncul terjemahannya dalam bahasa jerman oleh Dr. Tholuck dari Berlin. Ke dalam Bahasa Inggris, diterbitkan bersamaan dengan teks persia oleh Mr. Whinfiels pada tahun 1880.

Catatan Lain
Buku ini saya pinjam di Perpustakaan Kota Banjarbaru, dan harus kembali tanggal 25 Februari 2012. Lumayan banyak yang pernah pinjam buku ini. Tidak kurang dari 17 orang berdasarkan jumlah stempel di belakang, ada juga yang tercatat melakukan perpanjangan. Meski itu tak bisa dijadikan patokan, sebab bisa jadi yang minjam orangnya itu-itu saja. Hehe. Kesan saya terhadap puisi-puisi yang digolongkan sebagai puisi sufi ini: asyik. Penuh simbolisme, dan jika tak ada keterbukaan hati untuk memahaminya, bakalan meradang.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar