Pengantar Bulan Juli 2014

Bulan ini, menyapa kita puisi Wiji Thukul dalam Para Jendral Marah-marah, Dedisyah dengan Sajak Perjalanan Pertama, S. Wakidjan dengan Pita Biru, Hr. Bandaharo dengan Aku Hadir di Hari Ini, Linus Suryadi Ag dengan Rumah Panggung, Samadi, -- penyair yang hilang dalam perang saudara (PRRI) di Sumatera tahun 1957-1958 -- dengan Senandung Hidup dan Ekohm Abiyasa dengan Malam Sekopi Sunyi. Salam puisi. Mohon maaf lahir batin.

Selasa, 06 Maret 2012

PUSPA MEGA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Puspa Mega
Penulis : Sanoesi Pane
Cetakan : III, 1975 (cet. I: 1927, cet. II. 1971)
Penerbit : Pustaka Jaya, Jakarta.
Tebal : 43 halaman (34 puisi)
Desain sampul : Mardian

Beberapa pilihan puisi Sanoesi Pane dalam Puspa Mega

Sajak

Di mana harga karangan sajak,
      Bukanlah dalam maksud isinya,
Dalam bentuk, kata nan rancak
      Dicari timbang dengan pilihnya

Tanya pertama keluar di hati,
      Setelah sajak dibaca tamat,
Sehingga mana tersebut sakti,
      Mengikat diri di dalam hikmat.

Rasa bujangga waktu menyusun
Kata yang datang berduyun-duyun
      Dari dalam, bukan nan dicari,

Harus kembali dalam pembaca,
Sebagai bayang di muka kaca,
      Harus bergoncang hati nurani.



Air Mancur

Air mancur jatuh kuat keras,
Berdebar deru ke atas batu,
Bersimbah buih putih selalu,
Mengalir terus teramat deras.

Keras deras, bersorak berseru,
Mendesah desing, berdengung deruh
Air mengalir membawa batu,
Menggulung-gulung dengan gemuruh.

Gemuruh guntur di tengah rimba
Membuat terasa hening tenang
Di dalam hutan bertambah terang.

Ditekannya berat dasar jiwa,
Dibuatnya hati rindu dendam,
Tetapi tujuan hanya kelam.


Kematian Anak

Bagai mengambil mutia bagus
      Dari indungnya, bersukacita,
Datang malaikat, perbadan halus,
      Memetik jiwa anak tercinta.

Dibawa gaib ke dalam surga,
      Disuruh bermain di taman sari,
Di tengah bunga antakesuma
      Bersukaria sepanjang hari.

Siapa gerangan jadi cemburu
Dari lumpur terpungut mutu
      Dengan menangis sebagai ini?

Bukan anak yang jadi tangisan,
Ia meratap, iba kasihan
      Kepada badan diri sendiri.


Menumbuk Padi

Dalam caya bulan purnama,
Anak dara menumbuk padi,
Alu arah lesung bersama,
Naik turun berganti-ganti.

Badan ramping tunduk berdiri
Dengan gerak manis selalu,
Muka cantik berseri-seri;
Berat kerja mengangkat alu.

Datang berombak suara salung,
Cinta berahi cinta kandung,
Hendak mengambil hati perawan.

Sebentar berhenti anak dara
Menumbuk padi, mendengar suara,
Tersenyum simpul memandang kawan


Menanti Kata

Aku duduk diam semata,
      Membuat batin hening tenang,
Menanti-nanti timbul kata
      Dari dalam, bercaya terang.

Hendak direka jadi karangan
      Tidak terbanding dengan indahnya,
Akan diberi kepada tunangan,
      Penunjuk betapa cinta besarnya.

Berapa datang, semua masih
      Tidak sepadan dengan kekasih,
      Tidak sampai indah permainya.

Akh, ratuku, pabila gerangan
      Mendapat kata yang sepadan
      Dengan cantik paras adinda.


Candi

Engkau menahan empasan kala,
Tinggal berdiri indah permai,
Tidak mengabaikan serangan segala,
Megah kuat tidak terperai.

Engkau berita waktu yang lalu,
Masa Hindia masyhur maju,
Dilayan putra bangsawan kalbu,
Dijunjung tinggi penaka ratu.

Aku memandang suka dan duka
Berganti-ganti di dalam hati,
Terkenang dulu dan waktu nanti.

Apa gerangan masa di muka
Jadi bangsa yang kucinta ini?
Adakah tanda megah kembali?


Di Lereng Salak

Gunung berleret, mulanya hijau,
      Lenyap membisu jauh di sana.
      Padi menguning bagai kencana,
Sampai di lereng redam berkilau.

Sebelah Selatan dapat ditinjau
      Sebagian kecil Lautan Hindia
      Laksana tasik dipandang dia
Di bawah perak membiru silau.

Di rumput halus bagai beledu,
      Aku guling memandang s’orang,
            Bagai minum keindahan alam.

Teringat kota aku tersedu;
      Takut kembali ke tempat orang,
            Tak mengenal perasaan dalam.


Ke pantai

Ombak berdesir
Di pantai pasir
Suka lagu
Dicium syamsyu

Mari gerangan adindaku sayang
Mendengar laut memuji cinta,
Waktu datang buat terbayang,
Kalau Laksmi mengikat kita.

Permainan mata,
Ratna permata,
Bunga melati,
Si jantung hati,

Dengar laguku di tepi pantai,
Diayun gelombang cinta kalbu,
Dari kata kuatur rantai,
Mengebat engkau pada jiwaku.

Adindaku mari,
Meriangkan hati,
Melihat mega
Berwarna neka.

Mendam berahi aku memandang
Ke dalam mata mimpi hidupku;
Di tepi laut teduh tenang
Sukma kita menjadi satu.

Desik berdesik,
Bisik berbisik,
Daun kayu
Memuji syamsyu

Berikan daku seperti ‘alam
Memuji tungangan dalam ribaan,
Penawar rengsa, sakit di dalam,
Beri gerangan, gadis pilihan.


Rindu

Lambat laun lara rohani
Disembuhkan penawar waktu
Luka terbuka hati nurani
Akan ditutup sudah tentu.

Rasa risau bertukar damai,
Kalau wajah hilang di mata,
Kenangan-kenangan indah permai,
Hanya tinggal semata-mata.

O, harapan tidak berguna.
Rindu bertambah sebalik kurang,
Cinta mendalam semakin hari.

Tinggal aku bermuram durja,
Serasa burung kehilangan sarang.
Tak berhasil buangan diri.


Kenangan

Kenangan timbul pelbagai warna, pelbagai rupa,
Membuat keluar keluh kesah dari dadaku,
Teringat aku dirundung malang bukan salahku
Terkenang kehilangan suluh, kehilangan puspa.

Mengapa bunga sebelum kembang terpetik gerangan,
Belum sampai memuaskan hati, menyenangkan mata,
Mengapa aku baharu muda dapat petaka,
Habis harapan berbagia di sisi tunangan?

Di dunia bayang, tidak ada jadi penglipur
Jiwa adinda duduk terpaku mengingat untung,
Menangisi kita tidak diberi menjadi satu.

Seperti aku sampai sekarang setiap waktu,
Awan kedukaan hitam muram jadi kelubung
Hidup lelah, sebelum mati telah berkubur.

Seorang diri mengembara aku selalu,
Di dalam lembah tempat beta pertama kali,
Dipaksa waktu melahirkan cinta berahi
Merasa badanmu pada dadaku hilang malu.

Membawa ke seberang sungai engkau kuangkat,
Memeluk engkau aku lupa akan diriku.
Engkau kucium tidak insyap akan fi’ilku.
Seperti gelora cinta terikat.

Pergi ke lembah menyayat hati melemahkan tulang,
Membuat daku tidak sanggup bekerja selalu
Membuat kenangan tak dapat dihapuskan waktu.

Akh, adinda, mengapa tuan sudah berpulang,
Sebelum rumah kita pilih serta hiasi,
Tempat kita berangan-angan, kita diami?

Aku meminta kepada rupa bayang bengis
Membawa ke negara sana, ke sebelah kubur,
Tempat adinda selalu duduk hanya tepekur,
Menanti daku supaya sama meratap tangis.

Atau barangkali tak ada kehidupan baka,
Bersua kembali hari kudian hanya mimpi,
Pendapatan saja supaya ada bujukan hati,
Supaya ada jadi penawar malapetaka?

Permainan gerang kehidupan dibuat Dalang,
Jadi periang hati sendiri, bukan membela
Mengatur semua tak tetap, bermaraja lela.

Jikalau benar tidak kepalang rundungan malang
Harapan habis akan bersua sekali lagi,
Apa gerangan gunanya hidup walaupun mati.

Sinar bermain di lereng gunung,
Di dalam lurah, di atas padang.
Dengan girangnya suara burung,
Di dalam kebun, di atas ladang.

Sunting bunga menghiasi sanggul
Selendang di bahu melambai-lambai,
Diiringi pemuda bawa cangkul,
Perawan ke sawah tertawa ramai.

Keadaan beredar dengan pagi:
Malam hilang digantikan siang.
Setelah masgul alampun riang.

Tidak dapat dibimbangkan lagi:
Mimpi buruk kehidupan sekarang,
Dalam akhirat bagia datang.


Tentang Sanoesi Pane
Sanoesi Pane (1905-1968) dikatakan mula-mula menulis sajak-sajak yang dimuat dalam majalah-majalah di Jakarta dan Padang. Buku pertamanya Pancaran Cinta (1926), disusul Puspa Mega (1927), dan terakhir Madah Kelana (1931). Juga mengarang buku Sandyakala Ning Majapahit, Kertadjaja dan Manusia Baru.

Catatan Lain
Gembira bukan kepalang menemukan buku klasik ini di Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Buku yang diadakan sebagai buku proyek pelita II tahun 1976/1977 ini mulai pertama kali dipinjam dan dikembalikan sejak 31 Maret 1977, dan sampai terakhir saya pinjam ada sekitar 12 kali peminjaman. Terakhir, sebelum saya,  tanggal pengembalian 12 Februari 1996, artinya buku ini sudah tidak pernah dipinjam selama 16 tahun! Oya, sejak 1 Maret 2012, saya terdaftar menjadi anggota di Perpustarda Prov. Kalsel dan langsung pinjam buku ini dan buku puisi Iwan Simatupang. Pengembalian buku lumayan longgar: 2 minggu, cing! Kecuali puisi Ke Pantai, seluruh puisi dalam buku Puspa Mega mengambil bentuk soneta dengan berbagai variasinya, termasuk puisi terpanjang: Kenangan yang menggabungkan 4 buah soneta. Kesulitan dalam menyajikan puisi-puisi lama, saya kira, dalam penggunaan kosakata lama. Sering bingung. Ini salah cetak atau kata itu memang benar-benar ada dalam khazanah kosakata orang zaman dahulu. Contoh, dalam puisi Di Lereng Salak, ada baris seperti ini: “Di rumput halus bagai beledu”. Kata beledu belum pernah saya dengar, kalo beludru, pernah. Tapi mengingat bait setelahnya, maka beledu akan sekait dengan tersedu. Tapi entahlah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar