Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 08 Juli 2013

TARIAN MABUK ALLAH


Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Tarian Mabuk Allah, Kumpulan Puisi Tasawuf
Penulis : Kuswaidi Syafi’ie
Cetakan : III, Februari 2003 (Cet. I. September 1999)
Penerbit : Pustaka Sufi, Yogyakarta
Tebal : xx + 120 halaman (3 puisi beranak pinak @ 33 puisi)
Desain Sampul : A. Sobirin
Tata Letak : Razin
ISBN : 979-95978-14-4
Prolog : DR. Faruk

Beberapa pilihan puisi Kuswaidi Syafi’ie dalam Tarian Mabuk Allah

Tarian Mabuk Allah terbagi tiga yang merupakan satu kesatuan utuh, yaitu Dermaga (33 puisi), Samudera (33 puisi) dan Pulau Impian (33 puisi)

Beberapa pilihan puisi Kuswaidi Syafi’ie dalam Dermaga

1

Kekasih duhai Kekasih!
Ketika itu sendiri Engkau mengandungku
Saat waktu beku di telapakMu
Menggenggam “sejarah” dan “masa depan”

Tak ada air api tanah dan udara
Bahkan sunyi pun tak menjelma
Karena segalanya belum bermula

Hanya Kau bersemayam di atas ‘arsy sendirian
Mendendangkan lagu-lagu kasmaran



2

Tapi benarkah Engkau sendirian duhai Kekasih?
Sedangkah al-Khaliq yang Kau sandang
Tak akan pernah bisa ditelusuri awalnya
O di manakah letak semesta kala itu?

Bagai burung bangau yang bertapa di angkasa
Aku tak pernah sanggup memahami
Keluasan cakrawalaMu yang tak bertepi


3

Tapi baiklah duhai Kekasih!
Sembari merangkak di belantara rahasia
Aku coba mengapai-gapai dawuhMu:

“Di antara kaf dan nun
Kuciptakan rahaim bagi segalanya”
KuasaMu menggegar tak tertabiri apa pun

Tapi aku tak mungkin bertanya: “kapan?”
Karena engkau pasti menjawab:
“Tak ada “kapan” bagi af’alKu
Sebab Aku berada jauh
Di luar himpitan ruang-waktumu”


7

“Aku rindu wajahKu sendiri”
FirmanMu mempesona
“Karena itu Kuletakkan secuil jiwaKu
Persis di hadapanKu
Sebagai cermin agar tak pilu”


11

Ombak lautMu menderu-deru
Tak terbilang tahun tak terbilang abad
Ngungun dalam kemabukan cinta
Yang teramat indah sekaligus mengerikan

Kekasih duhai Kekasih!
Cintaku di situ menjelma kegilaan tak terkira
Hingga tak sanggup sadarkan diri
Karena asalku memang tiada


16

Sebagai setetes air
Aku juga ikut melambung
Menuju kebiruan dan kebeningan langit
O di manakah langitku duhai Kekasih
Jika tidak bertapa dalam diriMu?

Sejak semula mulutku suling firmanMu
Membelai lembah-lembah dan bebukitan
Dengan rinai syahdu suara Daud

Maka lembah menumbuhkan aneka bunga
Mengantar harumnya hingga ke Sidratil Muntaha
Sedang bukit senantiasa berdiri
Sebagai perlambangMu yang selalu tajalli


19

“Di dalam diriKu tak ada perbedaan
Api menyatu dengan air
Atas menggumpal dengan bawah
Dan merah sama dengan hijau”

Tak ada yang sepenuhnya mampu
Mengerti dawai firmanMu
Sebab sebelum sampai pada hakekat mengerti
Siapa pun akan hancur
Oleh limitnya sendiri


21

Kekasih duhai Kekasih!
Shalatku daim adanya
Jiwaku mekar tak pernah layu
Seluruh langkahku munajat semata

O siapakah yang mendalanginya
Jika bukan Engkau Kekasihku?
Sebagaimana matahari bulan dan bintang
Yang tak pernah punya sinar sendiri
Semuanya adalah tetenger nurMu semata


26

“Muhammad itu berarti terpuji
Maknanya shalat abadi
Dan madlulnya adalah gemaKu sendiri
Yang sejenak pun tak bakal mati!”

firmanMu esa duhai Kekasih!
Mengajariku agar tak beku


Beberapa pilihan puisi Kuswaidi Syafi’ie dalam Samudera

1

Kekasih duhai Kekasih!
Kini aku terlahir lagi
Entah yang ke berapa kalinya
Bermata buta
Bertelinga tuli
Bermulut bisu
Bernafas dungu
Tercampak di rimba hutan yang ultrahetrogen
Tak mampu lagi mengeja huruf dan sandi
Yang Kau tebarkan di 1000 penjuru mata angin


16

Kekasih duhai Kekasih!
Lalu kubangun suatu kepercayaan
Kepada konsepsi “jika maka”
Karena kukira kaidah hidup ini
Merupakan matematika murahan

Sebagai konsekuensi getirnya
Kumasuki gang-gang buntu
Kutabrak bongkahan batu dan kejenuhan
Hingga berkali-kali
Sampai kepalaku pecah
Dan sukma menunjukkan jalan yang lain


23

Oleh karena itu duhai Kekasih!
Kuundang topan yang menghantam perahu Nuh
Kupanggil kobaran api yang menjilat Ibrahim
Kuseru 20 tahun derita Ayyub
Kuingin selaksa kepedihan Ya’kub
Kudamba seluruh genangan airmata Isa
Karena telah kujelmakan hati sebagai padang rumput
Tempat segala hayawan digembalakan
Tempat segala telur kegetiran menetas
Menjadi untaian kalung-kalung rindu


24

Kekasih duhai Kekasih!
Telah Kau perlihatkan dunia tanpa jarak
Di mana sangsi berubah menjadi pembenaran
Dan segala petaka tegak sebagai taman bunga
O siapa masih menyimpan ruang gulita?

Segalanya adalah purnama
Dan langit merupakan payung kesejukan abadi
Bagi kafilah salik di lorong nurani


30

Kekasih duhai Kekasih!
Dalam keadaan berjubah gila
Kulebur kebahagiaan dengan dukana
Hingga ketiadaan dan kekosongan menganga
Mengisyaratkan adaMu semata
(Telanjang raga telanjang jiwa
Tercengang pada hakekat Mahanyata)


32

Agar erat dengan Kenyataan duhai Kekasih!
Kusebut kematian beribu kali
Sebagaimana al-Hallaj yang merindukannya
Karena kutahu ia adalah gerbang keramat
Bagi tergapainya kesempurnaan ma’rifat

Maka kutunggu kedatangan maut yang amat indah
Seperti sinar rembulan yang menyelusup
Di antara gesekan daun-daun bambu
Menjelang sang fajar tiba


Beberapa pilihan puisi Kuswaidi Syafi’ie dalam Pulau Impian

1

Kekasih duhai Kekasih!
Seluruh sembah puji kusampaikan kepadaMu
Yang telah sudi mengundangku
Ke keteduhan pulau impian
Di mana kupu-kupu dan bunga abadi
Dalam persandingan hakiki

Seluruh diam dan gerakku
Kujelmakan sebagai sujud syukur
Karena setitik debu pun
Tidaklah layak rasa kufur


4

Kekasih duhai Kekasih!
Di kesunyian jiwaku
Ada getar rindu yang tak mungkin berakhir
Ada mekar senyum yang tak mungkin beku
Ada gerlap cahaya yang tak mungkin redup
Ada taman kenangan yang tak mungkin sirna
Ada hutan cemara yang tak mungkin ranggas
Ada danau kelezatan yang tak mungkin surut
Aduhai amat merdu nyanyianMu!


9

Dalam demikian duhai Kekasih!
Aku bersujud pada absolusitasMu
Yang telah menetapkan batasan dan peta
Antara ruang yang satu dengan lainnya

Maka dengan kesabaran yang wangi za’faron
Kudaki jenjang-jenjang ke singgasanaMu
Meski betapa nyata pukauan jamaliyyahMu
Membuatkau seperti terlunta-lunta


20

Kekasih duhai Kekasih!
Walau begitu banyak kafilah pencintaMu
Kutahu cintaMu kepadaku
Tidak akan pernah terbagi
Karena hakekat keutuhanMu
Tak akan pernah terkurangi oleh apa pun

Maka hatiku selalu riang menari
Menikmati kesempurnaan tawajjuhMu


31

Dengan demikian duhai Kekasih!
Berarti seluruh hutangku kepadaMu
Telah kulunasi sepenuhnya

Kini aku tak lagi berdebar memandangMu
Kini aku tak lagi butuh mendekatMu

Inilah totalitas tawakkalku
Inilah totalitas keislamanku


33

Kekasih duhai Kekasih!
Setelah aku kembali ke persemedian semula
Tinggallah Engkau sendiri
Seperti halnya sejarah belum beranjak

Mungkin Engkau sedang kesepian
Mungkin Engkau sedang menyongsong
Episode drama yang baru
Atau entahlah sesuai kehendakMu


Tentang Kuswaidi Syafi’ie
Kuswaidi Syafi’ie lahir di Sumenep Madura di ujung 1971. Selama 13 tahun nyantri di Pesantren Nurul Islam karangcempaka, Sumenenp. Tahun 1992 menetap di Jogja, ngambil studi jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga. Saat buku ini disusun, melanjutkan studi di Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Program Studi Filsafat Islam. Juga menjadi staf editor di Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta. Bukunya yang telah terbit: Munajat Bukit Cahaya (kumcer, 2000), Pohon Sidrah (puisi, 2002), Tafakkur di Ujung Cinta (esai-esai sufistik), Berjumpa Tuhan di Mustawan (karya ilmiah tentang konsepsi insan kamil al-Jili) dan Menggenggam Batu jadi Permata: Relasi Allah dan Manusia dalam Puisi-puisi Muhammad Iqbal (karya ilmiah).


Catatan Lain
Dalam Catatan Penulis, yang dijuduli dengan Mimpi Seorang Salik, Kuswaidi Syafi’ie menulis begini: “Oleh karena itu, dalam buku ini saya coba mengajukan kembali suatu jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan krusial dan esensial dalam Islam. Yakni, dari mana sesungguhnya hidup manusia, juga makhluk yang lain, bersumber? Apa tugas pokok manusia dalam menjalani pengembaraan hidup di duni ini? Dan kalau suatu saat manusia disongsong oleh nasib kematiannya, ke manakah ia akan bermuara?//Sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, bagian pertama dari buku ini yang saya beri subjudul Dermaga menggambarkan tentang asal-usul manusia dan ke-kaffah-an “spiritualitasnya” ketika masih merupakan roh, sebelum menjadi makhluk jasadi, sebelum semesta ini menjadi kenyataan yang bendawi. Bagian kedua dengan subjudul Samudera melukiskan tentang estetika pengabdian manusia yang total kepada Allah hingga pada akhirnya bersatu denganNya dalam suatu istana keagungan. Pulau Impian yang merupakan subjudul bagian terakhir mengungkapkan tentang persandingan mesra antara manusia dengan Allah: suatu kesenangan, kebahagiaan, keindahan, dan kemabukan tak bertepi yang tidak dapat diuraikan dengan bahasa verbal.//Ketiga bagian itu merupakan suatu kesatuan, merupakan puisi utuh yang saya tulis saat kesunyian jiwa saya menganga mereguk alunan firman-firmanNya. Saya menulisnya baik di tengah keramaian maupun di belantara sepi….”

            Dalam prolog, yang dijuduli Kesendirian dan Kebersamaan, Dr. Faruk tidak terlalu menggubris puisi yang ditulis penyair, ia malah menyorot posisi penyairnya. “Bayangkanlah kehidupan petani, ujar Faruk memulai tulisannya. Dikatakan bahwa pertanyaan mengenai persoalan-persoalan abstrak tak akan lahir dari mereka yang kehidupan sehari-harinya harus berurusan dengan usaha penyediaan bahan makanan dan tempat berlindung. “Bagi para petani, sawah bukanlah keindahan seperti digambarkan oleh lukisan ‘Negeri Hindia yang elok’, laut tak memuat symbol apa-apa selain membayangkan berapa banyak ikan yang akan diperoleh, mesin-mesin tak menyimbolkan kekuatan kekuasaan peradaban modern selain keharusan untuk mengikuti ritmenya, bertahan untuk tidak sakit, agar upah yang diterima pada akhir minggu atau bulan dapat utuh,” tutur Faruk. Kata Faruk lagi: “Pertanyaan mengenai soal-soal abstrak itu mungkin hanya muncul pada anak-anak para tuan tanah di desa, anak-anak pedagang kaya di lingkungan pasar, anak-anak kiai di pesantren, para pelajar dan mahasiswa yang tergolong pengangguran terselubung” Hehehe… Lalu Faruk pun membuat metafora bahwa Kuswaidi tergolong Pangeran yang mengikuti jalan Sidharta. Oya, saya mendapatkan buku ini baru saja, sekitar bulan Juni 2013. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar