Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 04 Oktober 2013

BANTALKU OMBAK SELIMUTKU ANGIN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Bantalku Ombak Selimutku Angin
Penulis : D. Zawawi Imron
Cetakan : II, September 2000 (Cet. I, 1996 oleh Ittaqa Press)
Penerbit : Gama Media, Yogyakarta.
Tebal : ix + 155 halaman (59 judul puisi)
ISBN : 979-9193-56-7
Lukisan cover : D. Zawawi Imron
Penyunting : Abdul Wachid B.S
Editor : Suningcih S.Pd
Olah cover : A. Sidarta
Tata letak : Evi E. dan Giyanto

Bantalku Ombak Selimutku Angin, terbagi atas empat kumpulan sajak dalam rentang 1963-1995, meliputi: Semerbak Mayang (24 sajak), Madura, Akulah Lautmu (11 sajak), Tembang Dusun Siwalan (17 sajak), dan Bantalku Ombak Selimutku Angin (7 sajak)
  
Beberapa pilihan puisi D. Zawawi Imron dalam Semerbak Mayang

Ibu

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku

1966



Musim Labuh

jatuh gerimis musim labuh
wahai, manis!
pada wangi tanah siwalan
ada bau sendu menikam
kutatap sepi
paras ladang yang merangkum merah membasah
hanya seorang petani
menghayati hakekat sepi
di kaki bukit

ada nyanyi pilu bening
hasrat yang biru memburu wangi ke puncak bukit
cuaca dingin
mengabur bersama warna
rindu yang ungu

gerimis kembali jatuh
di sini, manis!
ada hakekat baru tumbuh
yang kurengkuh

1966


Pelayaran

Sehampar pantai disebut bandar
serasa menyimpan telur-telur kelam
pada bibirnya yang lengang
ombak menyisir kenangan

gairah yang lama
tak menemukan aroma mayang
di sini
mencoba mengalih pandang
ke lokan-lokan di laut karang

kemudian layar
dikembangkan angin
lalloooo
kilau mata bunda
bermunculan di ombak-ombak

senja

madura melindap di bawah jingga
si bujang diam
hatinya menyelam
ke kedalaman laut yang hitam

selintas di kakilangit
kelihatan
tanah malam
terbakar

1965


Semerbak Mayang

Saat kaudatang dalam hatiku
bumi berbisik selembut lagu,
--    di pangkuanku sejalur jalan
      ke puncak gunung biru
      restuku semerbak mayang
      bila engkau dan dia
      mau datang ke sana

kucintai engkau
gadis manis sedap garam
lantaran engkau
kasur busa yang lembut lunak
tempat jiwaku tertidur nyenyak
engkau tanah yang paling baik buat kubajak
tempatku menampung benih-benih anak

--    aduhai, aduhai!
      restuku semerbak mayang

bermimpilah!
tentang anakku tentang anakmu
anak kita berdua
ketika kaupangku dia
aku menciumnya
aduhai!

wajahmu yang menyimpan milikku
kasih keibuanmu yang biru
memanggilku selalu
--    teruskan, teruskan
      restuku semerbak mayang

1966


Beberapa pilihan puisi D. Zawawi Imron dalam Madura, Akulah Lautmu

Pelaut Muda

Pelan-pelan perempuan itu
mengguncang tubuh lakinya
berbetulan terompet lokan
ditiup orang di gardu bandar

kasih sayang tanpa aksara
diterima bekal dari isterinya
disandang bahu kekarnya
ditinggalkan rumah kecil berhalaman laut
oi
alangkah dingin dinihari!

gairah yang tergelar bersama kibaran layar
menatap bulan setengah lingkaran
oramba orambe
ombak pun berdeburan
oramba orambe
embun pun berjatuhan

jauh
teluk biru kembali bisu
mendekap lambaian hati
kembali ditatapnya bulan setengah lingkaran
saksi atas kemenangan
menyanding gadis teluk itu
olle ollang
mendesir angin segara
olle ollang
Madura hilang ditelan gulita

kepergiannya setiap kali
ninggalkan debur gelombang
di laut dada isterinya
seperti ia tak kan kembali
kalau pun kembali
pasti berangkat ke laut lagi

1969


Padang-padang Kejantanan

      Laporan

Redup paras Pangeran Lor, awan pun
melesi pamor bala sentana
Alangkah dalam lautan

Mayang yang mengeram dalam seludang
tak terduga, dan
sepi adalah pendapa tanpa suara
Segenap telinga pun pada dipasang

--    Semalam singgah padaku
      sebuah impian, aku dan kalian
      mandi di laut darah

Makna belum terjawab
tergopoh datang Syahbandar Lapa
menghadap tanpa tatakrama,
--    Paduka!
      Unjuk periksa
      Datang musuh dari seberang
      Memantai di pinggir siring
      Sepanjang Jurangan ke Gersikputih
      Bertingkah persasat orang gila
      Rakyat kecil pada dibunuh,
      Gadis-gadis pada diboyong

Letakkan telur mentah di dada raja
akan masak sekejap mata
Gemertak gigi akan melumat kerikil batu,

      Hai patih Wangsadumitra!
      Bunyikanlah bende perang
      bende pusaka nenek moyang
      Biar hatiku bertambah mekar
      menyongsong musuh dari seberang


      Padang Sang

Persasat bondongan semut
orang-orang mengalir ke alun-alun
keris dan golok di pinggang-pinggang
Mereka sudah pamit pada isterinya
Mereka sudah mencium pipi anaknya
untuk tidak kembali pulang
lantaran tak ada dalam sejarah
orang Madura takut bermandi darah
Lalu langkah-langkah membanjir
dari punuk-punuk sapi kerapan
Mereka turun
dari baling-baling musim penghujan

Maka datanglah
Pangeran Batuputih
berbusana serba putih
menunggang kuda putih
di bawah kibaran bendera putih
berpengiring tombak
pedang

--    Duh, Pengeran Lor!
      mestika orang Sumekar
      Nanda tak usah turun ke medan!
      Biar paman yang mangsu perang
--    Paman!
      Nanda adalah raja
      Negara dan rakyat adalah saya
      Rakyatku pergi berperang
      nanda tak boleh tidur di ranjang

      Demi anak putu!
      yang mungkin disebut orang
      keturunan laki-laki tak berempedu
      sarang serangga tidak bermadu

Burung gagak dari utara
Menyambar jatuh kuluk Sang Raja
Apa gerangan maknanya?


      Padang Kaduwang

Dua utas dodot sutera
diikat kuat tak mungkin lepas
pertanda sehidup semati
gusti dengan kawula

Gemuruh bunyi senjata
Pukul-memukul tangkis-menangkis
padang Kaduwang adalah padang orang-orang gila
Sorai topan di laut
mengamuk batukarang
Matahati merah kesumba
melihat mayat bertumpang tindih

Alangkah deras darah
yang mengalir dari jantung-jantung menyala
Segar dada dan segar langkah Pangeran Lor

--    Hai, orang seberang,
      Jangan hanya mengadu rakyat!
      raja dan menteri jadi penonton
      Keris dan tombak di dalam perang
      bukan semata barang hiasan

Ubun jengkerik telah disengat kembang rumput
Gusti Pemecut turun ke gelanggang
baling-baling tombak jadi perisai
Majulah Pangeran Lor
Segagah Brawijaya, setenang Puteri Kamboja
Dua jantan ayam sabungan
berkelebat bagai bayangan
bergilir tebas dengan tangkis

Walau tombak musuh menembus lambung
Langeran Lor tidak terhuyung
Macan yang lapar
garang dan lahap
dan sempatlah
keris pusaka berpamur janur setangkai
bersinggah di dada musuh

Maut tanpa suara
Burung gagak terbang ke arah utara
Mengaduh tanah Braji,
--    Hai, perempuan-perempuan di atas bukit!
      Kabar amis bagimu
      Sediakan daun widara
      dan rautlah kayu cendana!

dodot = ikat pinggang


      Padang Katelong

Bergoyang kuda putih
gempita padang katelong
Bergerak satria putih
mayat-mayat bergelimpangan

Kebowaju agul-agul tanah seberang
mekar alisnya bagai duri
kumis sebelah sekepal tangan
Mengamuklah si celeng hitam
mandi keringai air cabai
Di pusat ladang
mereka bertemu dalam nyala
runtasan dengan runtasan
Kelopak langit memuntahkan asap kemenyan
mengaburkan wajah siang
Keris satria putih terjatuh
Aduh, direbut oleh musuh
ditikamkan ke dada yang punya
Semburat darah putih
Tubuh rebah mencium bumi
Karena bumi adalah ibu

Ketika musuh akan memenggal lehernya
malaikat tak tega menyaksikannya
Satria putih lenyap entah ke mana
Ke manakah ia dibawa?
Sari podak harum menembah rimba


      Padang Duplang

Telah sembunyi matahari
ke laci bumi,
tinggal padang mayat-mayat yang sunyi
Gelang kaki menyentuh batu
melengking menuduh langit
Di tangan gadis desa obor menyala
parasnya redup senja
Duh, tubuh harum bedak mangir!
baru seminggu melepas jamang
melangkah di atas bangkai
membalik mayat-mayat orang
Lalu sebuah jeritan panjang
disahut suara langit
menemukan takdir azali
Lelaki muda terlentang
terpecah pada kepala

--    Aduh abang lakiku lanang!
      Mengapa tidur di padang?
      Mari pulang, marilah pulang!
      Adik tidurkan di atas ranjang

Haus rongga rasa
tak bertumbal apa pun jua
Dikucuplah luka lakinya
bagai mengucup air semangka
Lalu digotong laki tercinta
langkah bagai tak nginjak tanah
karena bumi menjelma bara

Hening menyaput
Gugur kembang kemboja
Harum menyingkap langit


      Padang Landak

Alangkah indah katil
diusung ke pemakaman
Mulut-mulut bedil
mewakili perasaan
Daun-daun lunglai
menunduk ke arah lubang

--    Terimalah bumi
      persembahan kami!
      Peluklah
      bagai bunda mendekap bayi

Salam-salam kapas
awan yang melayang bebas
Rerumput dan kolam hijau
berpadu dalam imbau
angin yang mendesau
Karena sekawan bangau
telah hinggap di pohon bakau


      Padang Landing

Padang landing perjalanan teramat panjang
dari Demak ke Batang-batang
Menggelegak lahar
haus hangat darah musuh
pembunuh kakak kembarnya

pertapa dari gunung Muria
dengan ilmu Walisanga
mangsu perang ke Batang-batang
Hati lidas, cadas-cadas bukit Rabunan
tapi memeram butir-butir bintang


      Padang Parapat

Raja musuh dari seberang
membangun teratak di Batang-batang
darah rakyat dipestapora
nyawa seharga sampah

Mentari tampak
Tampaklah Pengeran Wetan
adik kembar Pangeran Lor
Derap kuda, derap hati
menapak bebatu kapur
datang membawa daun nanas bertangkai
Langit matang biru
restu seluruh ibu
sorak berguling di atas dataran

Gemertak rahang beruang
dalam campuh perang kembang
Bumi yang direngkah kemarau
meminum lahang merah

Dua pasang mata bertatapan
Kebowaju gemetar,
- Musuh yang mati hidup kembali?

Sekali ayunan tombak
menembus dada bidangnya
Rebah andalan orang seberang
luka tanpa darah
Musuh lari terbirit-birit
Awan yang kocar-kacir
tak tahu tempat menghilir


      Padang Terakhir

Aduh beratnya menunggu dalam debaran!
Mata sunyi kedupan
Tak ada gagak terbang
berkabar tentang kejadian

Penat kelabu merapuh tulang
Senja pun datang atas nama bulan
Subur sawah dan ladang
Di bawah langit perada emas
Ada gemuruh di kejauhan
adakah lagi kecemasan?

Perempuan-perempuan yang mencium pusar suami
Berita dari padang lalang
Mayang kembali akan diperah
Boleh merambat kacang-kacangan
berbunga kupu-kupu

Dilepas cerita
Lompat demi lompat
di padang kejantanan
Mekar bunga di sanggul perempuan

Pangeran Wetan tertegun
Telaga bening di palung jiwa
Gua maha gua
Ditatapnya ujung tiang menjunjung bulan
angin perlahan nimbulkan kibaran-kibaran

-     Hai, benderaku!
      Demi makna nyiur melambai
      Demi arah duri-duri ujung tangisan!
      Jangan sekali-kali engkau berkibar
      menantang musuh!


      Padang tak Terjangkau

Akan datang dari padang
Akan pergi dari padang
padang di pundak kemarau
padang di jantung musim penghujan
Ada lagi padang
jauh dan tak terjangkau

1975


Beberapa pilihan puisi D. Zawawi Imron dalam Tembang Dusun Siwalan

Sepasang Mempelai

Bulan sembunyi
mendengar sunyi memintal hati
Di bawah bubungan bertanduk sapi
detik-detik menunggu kelanjutan
sabda leluhur yang agung:
selaput yang akan pecah

Ranjang dipesan dari Karduluk
dicat perada emas, coklat dan hijau jeruk
Kalaras pun seakan mengerti
tidak berbisik tidak bergoyang

Di puncak pohon polai
Kiai Poleng yang bijaksana
bersiap dengan gong untuk ditabuh

Nyiur gading nyiur bulan
mereka tak pernah kenalan
Maka sunyi pun bertanya
Langit juga bertanya

Kepolosan biji siwalan muda
menyepuh warna dunia
Terbukalah sebuah telaga
lahang pagi berlaru mimpi
bekal sangu ke alam sorga

Sentuhan yang pertama
di ubun-ubun batu ampar
mengeliat anak kijang di atas rumputan

Kiai Poleng mengidung di atas bubungan,
--    Cung-kuncung konce
      Wadon mutamat lanang sejati
      telah diminum getah jarak
      telah dikunyah pinang muda
      Yang genap telah ganjil
      Yang ganjil telah genap

Di serambi menanti sanak pamili
Pintu terbuka, menyembahlah menantu lanang
disambut mayang lepas seludang
pertanda semua tak punya hutang

Kepasrahan yang diterima bulan
tubuh tergolek di atas ranjang
digaibkan beburung malam
masa depan yang panjang

Air bunga pun disiramkan
bumi pingsan yang kini siuman
berjanji kepada pagi
kekalnya butiran mimpi

1974
polai = nama pohon besar yang dianggap angker
kiai poleng = tokoh yang dianggap penjaga pulau madura sejak dahulu kala


Lagu Petani

Pada tekstur tanah tegalan
sehabis ayun cangkul musim penghujan
ada corak hati menyimpan nyanyian
kini yang dekat adalah pantai

di pantai
yang padanya tak tiba rindu
setangkai seludang
merangkum buliran mayang

dan mayang
akan setia
mengharumkan keringat segar
sampai jauh ke padang mahsyar

dalam doamu, sahabatku!
kulihat kupu-kupu akan hinggap
ke kembang randu. oh, tuhanku!

1971


Tamu

Pohon siwalan melambai kabut
karena angin tak mungkin memanggil senja
dan siang
tak seteduh lagu seruling itu

yang masih hanya ayun kembang buncis
di penghujung kokok ayam terhamparlah laut
oi, ada perahu melempar sauh
membongkar muatan bunga-bunga subuh

1976


Madura, Akulah Darahmu

di atasmu, bongkahan batu yang bisu
tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
biar berguling di atas duri hati tak kan luka
meski mengeram di dalam nyeri cinta tak akan layu
dan aku
anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
bahwa aku sapi karapan
yang lahir dari senyum dan airmatamu

seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
sebasah madu hinggaplah
menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua

di sini
perkenankan aku berseru:
--    madura, engkaulah tangisku

bila musim labuh hujan tak turun
kubasahi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan air matamu

aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku

di ubun langit kuucapkan sumpah:
-- madura, akulah darahmu

1980


Beberapa pilihan puisi D. Zawawi Imron dalam Bantalku Ombak Selimutku Angin

Di Gumuk Candi

Di sini selembut salam
sesendok garam meresap ke lalap semanggi
ke dalam rempeyek teri
oleh tangan Si Minah perawan sunti
Lantaran gunung biru berbalut kabut
menyimpan seberkas janji

--    mBok Randa Dadapan
      Ingin kutanyakan kepadamu
      letak kolam jernih berpagar rindu
      Karena bila ketemu
      cundrik di sanggul Sayut Wiwit itu
      aku ingin bercermin di sana

--    Duh, anak dari pulau seberang
      Aku mengerti seperti daun semanggi
      Di balik tapak sepatumu setahun lalu
      kembang kopi gugur jadinya
      Bila nanti malam
      di paras bulan sehabis gerhana
      Kaulihat seorang wanita
      menggali kubur di bawah pohon kemadu
      Ia sedang mencari bayang-bayangmu

1976


Dialog Bukit Kemboja

Inilah ziarah di tengah nisan-nisan tengadah
di bukit serba kemboja. Matahari dan langit lelah

Seorang nenek, pandangnya tua memuat jarum cemburu
menanyakan, mengapa aku berdoa di kubur itu

“Aku anak almarhum,”
jawabku dengan suara gelas jatuh
Pipi keriput itu menyimpan bekas sayatan waktu

“Lewat berpuluh kemarau
telah kubersihkan kubur di depanmu
karena kuanggap kubur anakku.”

Hening merangkak lambat bagai langkah siput
Tanpa sebuah sebab senyumnya lalu merekah
seperti puisi mekar pada lembar bunga basah

“Anakku mati di medan laga, dahulu
saat Bung Tomo mengipas bendera dengan takbir
Berita itu kekal jadi sejarah: Surabaya pijar merah
Ketika itu sebuah lagu jadi agung dalam derap
Bahkan pada bercak darah yang hampir lenyap.”

Jauh di lembah membias rasa syukur
pada hijau ladang sayur, karena laut bebas debur

“Aku telah lelah mencari kuburnya dari sana ke mana
Tak kutemu. Tak ada yang tahu
Sedang aku ingin ziarah, menyampaikan terimakasih
atas gugurnya: mati yang direnungkan melati
Kubur ini memadailah, untuk mewakilinya.”

“Tapi ayahku sepi pahlawan
Tutur orang terdekat, saat ia wafat
jasadnya hanya satu tingkat di atas ngengat
Tapi ia tetap ayahku. Tapi ia bukan anakmu.”

“Apa salahnya kalau sesekali
kubur ayahmu kujadikan alamat rindu
Dengan ziarah, oleh harum kemboja yang berat gemuruh
dendamku kepada musuh jadi luruh.”

Sore berangkat ke dalam remang
ke kelepak kelelawar

“Hormatku padamu, nenek! Karena engkau
menyimpan rahasia wangi tanahku, tolong
beri aku apa saja, kata atau senjata!”

“Aku orang tak bisa memberi
padamu bisaku cuma minta
Jika engkau bambu, jadilah saja bambu runcing
Jangan sembilu,
atau yang membungkuk depan sembilu!”

Kelam mendesak kami berpisah. Di hati tidak
Angin pun tiba dari tenggara
Daun-daun dan bunga ilalang
memperdengarkan gemelan doa
Memacu roh agar aku tak jijik menyeka nanah
pada luka anak-anak desa di bawah
Untuk sebuah hormat
Sebuah cinta yang senapas dengan bendera
Tidak sekadar untuk sebuah palu

1995


Senja yang Merah

batu-batu, rumputan gersang
dan pohon siwalan di punggung bukit
pada tengadah ke atas langit

lalu sunyi dipecah talu salampar
yang memantul ke ceruk lembah
orang-orang kampung seperti hapal
seorang lelaki sedang memanjat pohon siwalan
menyadap nira
buat diminum istri tercinta
dan dua orang anaknya

turun memanjat di bawah pangkal pelepah
salampar putus, waktu pun tersentak
doa terbang mengetuk surga
nira tergenang di tanah
bercampur darah
tanah pun jadi jingga
dijilati lidah senja

--    sampaikan kepada dua harapanku
      bahwa bulanku yang kini ungu
      buat mereka selalu –

jengkerik-jengkerik seperti mengaji
teriring sayup kejauhan
melengkapi guram menjelang malam
lancur ayam bersepuh bara
bergantung di pipi senja

      (ping pilu’
      awal sebait kidung madura
      barangkali maknanya
      berkeping-keping hati yang pilu)

sebatang pohon siwalan
tegak dan diam, tugu alam yang memberi dahaga
tapi nanti seorang ibu
di bawah teratak beratap ilalang
akan menunjuknya
dengan jari ranting gaharu,

--    anakku, tumpuan harapanku
      wangi hati ayahmu
      dimulai di pohon itu

1974


Tentang D. Zawawi Imron
D. Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, ujung timur pulau Madura. Setamat Sekolah Dasar ia nyantri di pesantren. Mulai terkenal sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki tahun 1982. Kumpulan puisinya: Semerbak Mayang (1977), Madura, Akulah Lautmu (1978), Derap-derap Tasbih (1993), Bulan Tertusuk Lalang (1982), Nenekmoyangku Airmata (mendapat hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura, Akulah Darahmu, Kujilat Manis Empedu, Refrein di Sudut Dam, Celurit Emas (1986). Sajak-sajaknya ada yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda, dan Bulgaria.


Catatan Lain
Beberapa kali penyair D. Zawawi Imron datang ke tanah Banjar, seingat saya, waktu Aruh Sastra III di Kotabaru bersama penyair Sutardji Calzoum Bachri, juga di Aruh Sastra sebelumnya, di Kandangan atau Tanah Bumbu. Juga pernah mampir di Minggu Raya, lewat sms yang pernah saya terima. Tapi saya benar-benar belum pernah bersitatap dengan penyair ini. Mungkin suatu hari nanti. Di buku ini, di bagian akhir, ada wawancara proses kreatif oleh Abdul Wachid B.S. dengan judul, D. Zawawi Imron: Vitalitas dari Alam. Dari sana bisa diketahui bahwa puisi “Dialog Bukit Kemboja” pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh ANTeve dan sempat diolok-olok oleh K.H.A. Mustofa Bisri sebagai “sajak termahal di dunia” lantaran hadiahnya yang mencapai tujuh juta lima ratus ribu rupiah di akhir tahun 1995. Juga terungkap, judul buku ini, terinspirasi dari peribahasa Madura ‘abantal ombak, asapok angen’ yang berarti berbantal ombak berselimut angin. Oya, dibuku milik penyair Y.S. Agus Suseno ini juga ada tanda tangan Zawawi Imron, di bawahnya ada tulisan tangan: Jambangan 25/Batang-batang/Sumenep, Madura. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar