Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Selasa, 01 Juli 2014

RUMAH PANGGUNG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Rumah Panggung
Penulis : Linus Suryadi AG.
Penerbit : Nusa Indah, Ende, Flores, NTT.
Cetakan : I, 1988
Tebal : 161 halaman (108 puisi)
NI: 881412
Prolog : C. Bakdi Soemanto

Kumpulan puisi Rumah Panggung terdiri dari 3 bagian, yaitu Rumah Panggung (40 puisi), Malam Getsemane (30 puisi), dan Kwatrin-Kwatrin Alit (38 puisi).

Beberapa pilihan puisi Linus Suryadi AG. dalam Rumah Panggung

Kwatrin-kwatrin Pagi di Bali

(1)
Matahari bangkit di laut Jawa
Wahai! Matahari siapa pula?
Baru kemarin ia tenggelam di lepas Kuta
Sambil meliak-liukkan pohon-pohon kelapa

(2)
Mula-mula fajar cerah dingin di tanah
Membagikan uapnya ke pasir yang ramah
Tapi pantai belum terjamah kaki resah
Bocah bermain dan para turis yang singgah

(3)
Semalam laut mencucikan pantai riam
Kutahu, bangkai ayam & bunga korban
Tapi bau amis sampan & jala para nelayan
Tertambat di pasir. Angin mengusir ke pegunungan

(4)
Kau menguap melepaskan sisa kantuk
Pada riak-riak kecil air yang lengang
Kau merentak sia-sia. Kau gapai langit utara
Di batas matahari berkain sarung lurik-jingga

(5)
Merentang tangan ke laut yang terbuka
Tertangkap kepenuhan hidup dalam rasa
Tapi tak kita tahu, pisau-sunyi terbawa
Kelak, ia menggoresi tulang-tulang iga hampa

Kadisobo, 25 April 1987



Gubug Sampan

Di pantai ada gubug. Di gubug ada sampan
Dan kita duduk di bawah gubug, bersampan
Dan kita pandang gelora ombak pantai Kuta
Terpandang jauh di sana. Pulau Nusa Penida

Kadisobo, 29 Maret 1987


Selat Bali
di atas Ferry Kintamani

Dari Ketapang ke Gilimanuk
Matahari menyibak langit fajar
Kita berdiri di atas ferry
Mengunjungi pulau yang kawentar

Gundukan-gundukan bukit Bali
Rapat berselimut kabut tebal
Putih transparan di kejauhan
Tapi kita tahu, sebentar juga pudar

Sunyi dan kantuk masih terbawa
Bergayut di lengan-lengan kita
Dan selat tetap saja bergelora
Bagaikan hati tersimpan di balik dada

Di celah-celah bukit dan lembah
Bersemayam sisa kegelapan malam
Dinda, pernahkah kau berdiri
– guyah –
Kapan sangsi hadir tanpa kawan?

Kadisobo, 25 Maret 1987


Pulau Bali

Bagimu pulau Bali pulau pesiar
Bagiku masa lampau yang terhampar
Baginya jagad utuh tak tertawar
Tapi bagi siapa: hidup kembali segar & mekar?

Tak perlu spanduk model seminar
Jargon penjual jamu di pasar-pasar
Hidup cantik yang terawat baik,
Berujar: “Welcome to Bali. Anda tak kesasar!”

Kadisobo, 2 April 1987


Tampak Siring

Bukit-bukit bertahan. Bukit-bukit
ilalang
Bukit-bukit menjadi tangga-tanah
pertanian
Rumpun-rumpun kelapa. Rumpun bunga
sepatu di sana
Mengantar kita ke pintu gerbang
semesta pagi pula

Kadisobo, 31 Maret 1987


Penyair

Dia serahkan irama hidup antar
desa & kotanya
Selama menyeberangi arus deras
sungai ke hilir
Selama jiwa di dalamnya membuka
isyarat rahasia
Bahwa penyair berdiri dan bersaksi
di pinggir

Kadisobo, 30 April 1987


Lanskap

Dengan tustel dan tele di tangan
Kita pun membidik langit Besakih
Satu-dua cerecah segar kutilang
Terbang-hinggap. Luput dan tersisih

Hadir berpasangan. Kita terkesima
Tapi tanpa sesaji megah dan langka
Tanpa upacara akbar bagi para dewa
Seperti ketika hari raya Eka Dasa Rudra

Dan semua hiruk pikuk di kota besar
Tawar. Prasangka yang tak terlontar
Terhisap lagi ke dalam rahim purbani
Sunyi: asal mula kehidupan di bumi

Maka di balik pegunungan berjurang
Memutih awan. Horison yang hilang
Bagaikan kabut puncak gunung Agung
Turun. Dia selimuti buah-buahan dan kebun

Kadisobo, 23 Maret 1987


Bunga Nirwana
Pura Besakih

Di Jawa ketemu candi. Di Bali ketemu pura
Betapa hidup penuh dengan upacara-upacara!
Tapi jika tak ketemu seorang yang kau cinta
Kenangkanlah peristiwa lama, sebentar saja:

Di emas-rambutmu pernah ada seorang pria
Yang menyuntingkan sekuntum bunga Nirwana

Kadisobo, 23 Maret 1987


Gunung Es

Kadang saya berpikir; benarkah tuan Eliot
Penciptaan puisi dan teori katalist, berbobot?
Hanya karena selembar surat, ya ucapan selamat
Gunung es pun cair. Si Tolol pun terkesiap

Kadisobo,1 April 1987


Rumah Panggung

Rumah-rumah upacara bagai panggung
Beratap ijuk. Sunyi. Tak terlindung
Rumah-rumah upacara di kaki gunung
Ah, kita di Besakih. Di kaki gunung Agung

Kadisobo, 23 Maret 1987


Beberapa pilihan puisi Linus Suryadi AG. dalam Malam Getsemane

Dua Pria

Kusaksikan 2 pria kembar
Mengusir iblis
Makhluk bertanduk
Dalam mimpiku

Pria kembar yang tampan
Berambut ikal
Berjubah lurik. Bagaikan malaikat
Dalam hidupku

Lalu tampaklah padaku
Seorang wanita muda
Jalan menggelosot. Bagaikan ular
Mencari sesuatu

Orang-orang pun menyingkir
Pergi menjauh
Aku bersaksi
Dalam kediaman penuh

Dan 2 cahya kuning terbias
Di atas tembok. Elok
Di waktu subuh
Dalam jagaku

Kadisobo, 27 Maret 1987


Dari Gunung Sion
Prosesi

Jika dari gunung Sion
Ke jantung kota Jerusalem
Arak-arakan yang panjang
Pada rangkaian hari Pondok Palem

Bagaikan pergi ziarah
Ke kubur-kubur di bukit
Dalam gaung-gema nyanyian
Menyibak kesunyian batu granit

Para putri ngapu rancang
Betapa jauh iringan
Betapa terjal jalan
Dengan sekelumit doa pengharapan

Jika saja musim balau
Dari puing-puing bayang
Kita pun usah mengigau
Berlindung di bawah Tiang Berpalang

Kadisobo, 10 April 1987


Alpha - Omega

Jika Bapa adalah Alpha dan Omega
Di bentangan jagad dan metajagad
Manusia bergerak bagai pendulum
Menggapai-gapai titik tumpuannya

Kadisobo,18 April 1987


Kapal di Pelabuhan

Bertambatan kapal-kapal di pelabuhan
Buang sauh. Bongkar barang muatan
Dan para kelasi bongkar kerinduan
Tapi nakoda tak mau meninggalkan anjungan

Di kota pantai. Di kota yang permai
Di kota jutaan redup neon menggapai
Gereja dan night club berjajar, damai
Tapi jiwa rindu tak lagi bisa santai

“Itulah sebabnya, kenapa aku tinggal
Tak turun, ” gumam sang nakoda kapal
Di beranda hotel dan di geladak sial
Kesunyian hitam jadi setru yang bebal

“Lebih baik pergi mandi. Mencuci diri
Dari angin bergaram dan peluh matahari”
Nakoda itu balik ke anjungan, berdiri
Meneropong mainan camar senja dan pelangi

Kadisobo, 24 April 1987


Buruh Musiman

Biji gandum ditabur ke ladang
Tumbuh suburlah tanaman
Ladang diketam pada musimnya
Rumput & disianginya jawan

Hujan jatuh dari gudang langit
Ke hektar-hektar ladang
Bagai kasih hidup yang terbit
Menyehatkan jiwa & badan

Tapi kapan musim panen tiba
Si empunya ladang heran
Ujarnya: “Ladang panenan berlimpah
Kenapa buruh pemetiknya sedikit?”

Sang Penabur, Sang Budi Luhur
Biar jauh datang berasal
Tapi jika Kau berkenan
Izinkan aku menjadi buruh musiman

Kadisobo, 10 April 1987


Pagi

Dan pada pagi kebangunan dunia
Langit bersulam kain tembaga
Tapi langit anganmu merah saga
Ketimpa gelombang polusi abad tua

Di atap rumbia. Di tembok lumutan
Berjatuhan debu-debu cuaca
Udara sumpeg penyakit asma
Getaran-getaran suara tanpa rupa

Kau pun bangun dari mimpi buruk
Di samodra tidur tanpa bintang
Merenangi air hidup gelap butek
Keletihan dalam tempo yang panjang

Jika demikian apa yang tinggal
Napas hari yang menggosong dada
Dan hati pun kehilangan rasa iba
Parau suaramu bikin aku ketawa

Kadisobo, 12 April 1987


Kadisobo

Tiap fajar tiba dan senja turun

Selalu terlihat ratusan bangau
Bercanda sambil berayun-ayun di ranting
Dan cabang-cabang bambu petung

Tiap fajar tiba dan senja turun

Selalu terdengar ratusan burung
Bercinta sambil lincah berloncatan
Di dahan-dahan pohonan rimbun di kebun

Tiap fajar tiba dan senja turun

Ular, katak, jangkrik, gansir, walang
Dan serangga malam yang ria ketawa
Menyapa alam semesta dengan santun

Tiap fajar tiba dan senja turun

Kapan kaum tani santai di dusun
Tanpa pestisida dan tanpa racun
Tapi itu terjadi sudah 30 tahun

Tiap fajar tiba dan senja turun

Kadisobo,15 April 1987


Gambar Mimpi

Seandainya gambar mimpi terbakar
Dari langit-langit angan
Kau tak perlu bimbang:
Buat apa bangkit dari kejatuhan?

Seandainya hidup tanpa kelakar
Hanyut dalam arus sial
Kau tak perlu sungsang:
Buat apa merangkaki tebing curam?

Kehendak hidup tersepuh
Sinar matahari sunyi
Tubuh mandi keringat
Jiwa dalam pergolakan itu lagi

Di lembah sangar & terjal
Dalam rasa sudah bebal
Apa tanya perlu kau buat:
Langit pagi tinggal sejengkal?

Kadisobo, 8 April 1987


Beberapa pilihan puisi Linus Suryadi AG. dalam Kwatrin-Kwatrin Alit

Purwokerto

masih risik belalang, lampu-lampu merkuri
suaramu menembus lengang pagi
serasa mendekam kabut dinihari
serasa kugenggam: gabaklah hati!

1973


Prambanan

(1)
menjulang bagai raksasa
bayangan pun ngungun jua
bukan epos, semata bukan chaos
pada rasa, pada mulanya: sepi aksara-aksara

(2)
berserak batu-batu, sayang
menyilang hening purbani
berserak angan, sayang
jagadmu, o, bayangmu bukan abstraksi!

(3)
pohon-pohon ketapang menyayup
menggapai puncak. masih abadi
pohon-pohon ketapang mencipta jarak
sunyi. bernaung di bawahnya kita, di sini

1973


Jalan Lengang

kabut menembus lengang jalanan
melintas masuk hutan
engkau jabat saat-saat senyap
di tubir, di bibir: habis cakap

1973


Gloria

Cintamu ibarat bintang berpijar
Yang jauh, ia menerangi jagad raya
Yang mengusap roman indah gemetar
Di antara kelam dan remang cuaca

Cintaku ibarat bintang berpijar
Yang jauh, ia menerangi jagad raya
Yang mengusap roman indah gemetar
Di antara kelam dan remang cuaca

Cintamu dan cintaku saling berpadu
Dan tergetarlah langit dan samodra
Ah, jika jauh kelak kita ingin bertemu
Bayangkan, bintang-bintang bercahaya!

1976


Hari Esok

Akan kudukung hari-hari esokmu
Dengan wajah sebagaimana semula
Letih lesu kini tengah mengabu
Dan bangkit jiwa seorang raksasa

Dan di balik punggungku lautan
Kekal mengombak kenangan hidup
Engkau dan aku pernah tenggelam
Dulu: kini memanggil-manggil sayup

1976


Nazareth

Dengan gitar tunggal di tangan
Aku pun bernyanyi tengah malam:
“Ini bulan Desember. Tahun Masehi
Abad 20 kan habis sebentar lagi”

Dengan lilin-lilin di tangan
Berkibaran kain-kain satin
O, para putri gunung Sion
Mengiring Sang Bijak berjalan
Turun, menyibak kegelapan

Siapakah kamu, kau bertanya:
Yohanes Pembabtis?
Penyair Matheus?
O, siapakah kamu:
Seorang patriot?
Yudas Iskariot?

Kucari terang di dalam gelap
Tapi yang kutemu jutaan bintang
Kucari terang di dalam terang
Tapi yang kutemu jutaan kunang-kunang

Siapakah kamu, aku bertanya:
Pontius Pilatus?
Simon Petrus?
O, siapakah kamu:
Seorang pembelot?
Raja berjenggot?

O, putra Nazareth
Yang mandi di tepian bengawan Yordan
Yang kramas diri dalam air kehidupan
Yang menyebar benih permaafan
Cinta kasih dan kasih sayang

Dengan gitar tunggal di tangan
Aku pun bernyanyi malam lengang:
“Ini bulan Desember. Tahun Masehi
Siapa lahir dengan jiwa tercuci”

Yogya, 1979


Yerusalem

Langit dan bumi bertangkupan
Pegunungan-pegunungan diam
Cuaca dingin. Udara pun basah
Bisik-bisik berkabar maut singgah

Lalu derap langkah kuda Zanggi
Derap ladam kaki. Derap tangan besi
Berderap menggegarkan jantung insani
100.000 serdadu bangsa Romawi

Tapi bayang Herodes di pusat malam
Belum beres. Di timur ada bintang
Dan seruling malaikat berkumandang
Kado: “Gloria in Exelsis Deo”

Yogya, 1980


Lanskap

(1)
Siapa yang Anda inginkan?
Seorang kekasih dan hidup kekal
Percumbuan jiwa-jiwa bergairah
Dalam desah. Tanpa sesal?

(2)
Apakah yang Anda inginkan
Sebidang tanah dan rumah tinggal
Wilayah pengembaraan tanpa tuan
Seluas jagad. Tak dikenal?

(3)
Kepada siapa Anda tanyakan?
Raga ada rasa. Rasa ada jiwa
Jiwa ada sukma. Sukma ada Dia
Bebas. Dalam percakapan lepas?

(4)
Bagaimanakah Anda mendapatkan?
Dalam kulit ada daging. Otot-otot
Dalam tulang ada sumsum. Darah
Rekah. Dari gelisah dan gairah?

(5)
Dengan apa Anda mencapainya?
Perahu waktu tak pernah aus
Jiwa dan hati menjalin pagi
Dan layar. Berkibar terus!

(6)
Bagaimana Anda bisa tahan?
Ia mengalir bagaikan air
Dalam putaran tanpa akhir
Berkisar. Tersingkap tabir!

1979


Tentang Linus Suryadi AG
Linus Suryadi AG lahir 3 Maret 1951. Di Kadisobo, Yogyakarta. Menulis puisi dan esai sejak 1970. Menerima hadiah dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1984. Mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA. Baca puisi di beberapa kota dan perguruan tinggi di Michigan, Washington, San Fransisco, dan Sydney.


Catatan Lain
Buku puisi ini disebut-sebut oleh penyairnya sebagai: “kumpulan puisi untuk Stephanie”. Dalam kata pengantar, yang ditulis oleh C. Bakdi Soemanto, dan bertanda: Yogyakarta, 3 Januari 1988, disebut: Siapa Stephanie? Penulis merujuk kepada Stephanie Moffett. Seorang yang dikenal saat Bakdi Soemanto mengajarkan dan mengenalkan sastra Indonesia melalui terjemahan bahasa Inggris di Oberlin College, Negara bagian Ohio, USA. Stehphanie pernah tinggal setahun di Indonesia mempelajari seni pedhalangan di Kartosura, di bawah bimbingan Ki Naryo Carito. Dan entah bagaimana ceritanya, ia kenal dengan Linus dan banyak bercerita tentang dia. Linus dianggap banyak membantu studi dan membuka cakrawala , terutama tentang seni tradisional Jawa khusunya seni karawitan dan pedhalangan. Stephanie kemudian melanjutkan perjalanan ke Cina, Australia dan beberapa Negara lain sebelum akhirnya tinggal di Inggris untuk belajar seni acting. Saya hanya ingin mengutip akhir dari tulisan itu:”Penyair dan sejarah berhadapan; dia terlibat tetapi tak sekedar terbawa. Sebab penyair mampu diam dan memberi arti baru kepada yang sudah lalu.
            Oya, harus jujur dikatakan, bahwa akhirnya puisi-puisi yang muncul di sini adalah puisi terpilih yang subjektif. Kadang-kadang ada halangan besar untuk menampilkan puisi-puisi tertentu, walaupun itu menarik. Sesuatu yang normatif sifatnya. Dua hal yang saya rasakan agak membatasi adalah soal keyakinan beragama dan soal erotika. Banyak puisi-puisi Linus yang bertutur tentang ajaran Kristiani, pun puisi-puisi Sindhunata. Nah, inilah soalnya. Rasanya tak dapat menampilkan sesuatu apa adanya tanpa harus terlibat atau merasakan sebuah tanggung jawab pribadi. Singkatnya, ada hal-hal yang saya fanatiki dan ada wilayah yang saya dapat bertoleransi dan berkompromi. Pun saya terhalang untuk menampilkan puisi-puisi yang terlalu vulgar. Saya berpikiran, itu tidak bagus buat semua orang walaupun bagus bagi sebagian orang. Jadi, untuk mendapatkan gambaran utuh, beli atau pinjamlah bukunya. Dan mungkin, tak cukup hanya satu buku, atau bahkan satu hidup dari penulisnya. Berendah hatilah dalam menilai dan mem-vonis orang demi orang. Salam puisi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar