Pengantar Bulan DESEMBER 2017

Pengantar Bulan DESEMBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 05 Februari 2017

M. Amin Mustika Muda : LAYANG-LAYANG RAKSASA SANGKUT DI ATAS POHON DURIAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Layang-layang Raksasa Sangkut di Atas Pohon Durian
Penulis : M. Amin Mustika Muda
Cetakan : I, Nopember 2016
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin.
Tebal : vi + 104 halaman (91 puisi)
ISBN : 978-602-8414-17-3
Penyunting : Hajriansyah
Tata Letak dan Desain : Ibnu T

Buku puisi ini dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan tahun penciptaan, yaitu 2002-2010 (13 puisi), 2011-2012 (58 puisi), dan 2013-2016 (20 puisi).

Beberapa pilihan puisi M. Amin Mustika Muda dalam Layang-layang Raksasa Sangkut di Atas Pohon Durian

DAWAI CINTA SUNGAI BARITO

Angin menyemilir sore ini,
riak-riak Sungai Barito
melantunkan dawai
cintanya, gemulai selendang
petang memberi warna
jala nelayan,
perahu motor lalu lalang
berlabuh,
pulang.

Dari depan wajahmu,
aku menatapmu, menatap keindahanmu, lalu
menembus relung
damaimu.

Hidup jangan seperti jalan di tempat,
yang kadang terlihat jelas,
kemudian samar,
jelas lagi,
dan kemudian samar
lagi.
Sudah saatnya kita
patahkan segala kebuntuan nasib, untuk waktu nanti
yang baik.

Mentari hari ini hampir terbenam,
senja kuning sudah mulai menyapa malam,
Oh Nusantara:
Dari Bumi Ijejela aku bersujud
di kakimu, masih banyak pertanyaan
yang mestinya kau jawab,
atau jawaban keliru yang
mestinya kau betulkan.

20 Mei 2010



DEMI KAU CINTA

Sore yang akrab
Sakitnya memerih dada
Seperti dihujam seribu pisau tajam
Aku bertahan demi cinta

Percakapan yang hangat
Bahagianya tenangkan jiwa
Seperti didongeng seribu malam gemintang
Aku menunggu demi cinta

Cabikan pisau akrab sakitnya
Buaian malam hangat bahagianya
Aku bertahan demi kau
Aku menunggu demi kau

4 Desember 2007


LAYANG-LAYANG RAKSASA SANGKUT
DI ATAS POHON DURIAN

Di pinggiran kota yang tertinggal. Orang muda pada siang
bolong. Pada sepersepuluh hutan kecil. Seperti mur dan baut,
yang saling melengkapi. Masih terpasang rapi dalam mesin
motor tua. Semangat hari esok yang edan. Layang-layang
raksasa bergambar artis terkenal, sangkut di atas pohon durian,
yang tumbuh di atas sekolahan mereka. Menonton kehidupan
dari dunia masa kini. Dunia maya. Sepasang buah durian jatuh.
Merusak atap sekolahan. Durinya membius dan memabukkan.
Bisa-bisa melukai masa depan. Sementara ada guru yang
lebih suka ngerumpi soal tunjangan daerah yang sudah cair.
Atau membicarakan persiapan dan syarat-syarat mengikuti
ujian sertifikasi. Dan kepala sekolah malah sibuk menghitung
beberapa proyek penambahan ruang kelas. Di pinggiran kota
yang tertinggal.

21 Mei 2011


HUKOO

Aku tersenyum dalam bayangan
Aku berdiri di atas mimbar luas
Tanganku melambai kearah ribuan manusia
Yang takjub melihatku
Yang berteriak merdeka
Yang berteriak “jayalah Indonesia”

Selamat malam…
Aku tertidur dan bermimpi
……………………………….
Selamat siang…
Aku terjaga dan sadar

Kulihat langit kamar dijaringi laba-laba
Seketika kuingat:
Kontrakan rumah yang habis bulan depan,
Tagihan listrik yang dua bulan belum terbayar,
Pipa ledeng yang akan dicabut petugas,
Uang sekolah adikku yang kian menunggak,
Ayahku yang baru saja di-PHK,
Ibuku yang sedang sakit-sakitan,
Abangku yang masih juga menganggur

Dalam kamar sempit ini nafasku sesak
aku sedang bermimpi rupanya

Bangun Hukoo! teriak ibuku
kenyataan teramat menyakitkan
aku yang hanya menyair di jalanan
mimpiku tinggalkah mimpi belaka?

13 Oktober 2004


MENULIS MIMPI

Seorang anak usia sekolah dasar sedang menuliskan mimpi-
mimpinya pada tubuh siang yang terik dan telanjang. Dalam
harapan-harapan yang setinggi langit, tetapi sang surya
mencumbui siang terlalu keras dan buas, hingga membakar
dan langit terkapar.

Waktu-waktu yang terlewati bagai masa tua yang bengis,
sadis dan beringas. Sepanjang hari, ia terus saja berlari-lari
dikejar terminal dan stasiun. Barangkali ia tak pernah tahu
tentang proses belajar dan bermain. Sebab ia telah tumbuh
di dunia yang sesungguhnya, dunia yang tua, dan kejam.

Barangkali nafasnya telah engah, bagai kondisi perutnya
yang kadang terisi dan kadang tidak. Ia adalah bus kota yang
terlalu cepat sampai tujuan sebelum waktunya. Puluhan
jumlah uang receh adalah lantunan merdu suaranya yang biru.

Seorang anak usia sekolah dasar sedang menuliskan mimpi-
mimpinya pada seorang tukang becak, buruh angkut,
pemulung sampah, pedagang eceran, kuli bangunan, preman
pasar, dan lain-lain. Dalam harapan-harapan yang setinggi
langit, dalam harapan-harapan yang seluas laut lepas.

14 Juli 2016


PENYAIR
untuk IA

“Kita harus terus berjuang melawan segala bentuk kezaliman.”
Penyair itu melantangkan sebait puisi untuk barisan telinga
yang mulai renta.
Barisan telinga itu, kemudian mendengarkan tanpa tahu
harus bagaimana, apalagi berbuat apa.

“Puisi bagai pistol yang kau tempelkan ke dalam mulut
orang-orang yang dihutani belantara kepalsuan.”
Dalam keperkasaan kelam, penyair itu memejamkan mata,
mengingat-ingat lagi tentang bait puisi, yang menyisakan
jeritan dan tangisan, di sebuah igauan malam.

“Sebab kita pejuang kata, maka kita berkata untuk berjuang.
Pun perjuangan, jalannya tak terukur waktu.”
Penyair itu mulai bicara dengan jenggot kebesarannya, yang
tumbuh subur seada-adanya, bagai sebuah nafas puisi.

12 April 2016


BULAN BERLAYAR KE PELOSOK KENANGAN

Ketika malam yang hitam adalah samudra, bulan membentuk
tubuhnya menjadi perahu, dan bintang-bintang telah bagai
percikan ombak, angin kemudian yang membawa bulan
pergi berlayar.

Berlayar ke pelosok kenangan, dan meninggalkan catatan-
catatan waktu, yang ditinggali sebagai bahan bacaan tentang
baik dan buruk, tentang benar dan salah, tentang pantas dan
tidak pantas, tentang suka dan tidak suka, tentang takdir dan
masa depan, hingga tentang akhir perjalanan.

Selayaknya hidup, waktu demi waktu menumbuh, dan kian
menumbuh sampai di penghabisan waktu. Seperti malam
yang masih menegakkan tubuhnya, untuk mencapai malam-
malam yang baik. Dan bulan tak kunjung habis melayarinya,
sepanjang nanti. Sepanjang aku masih akan mencarimu, ke
segala pelosok kenangan.

Di pelosok kenangan. Kukenang pula ketika kita saling
menangis? Dan kita menyadarinya, ketika air mata telah
menjelma kolam kenangan.
Kau adalah kolam kenanganku, sebaliknya juga denganku,
akulah kolam kenanganmu. Seperti pernah suatu ketika, kita
berenang dan menang di dalamnya, tetapi kemudian waktu
kita tenggelam. Tetapi gelombang-gelombang rindu, selalu
menyapa kenangan kita.

Kini aku mengenangmu, bersama bulan yang membawamu
berlayar ke pelosok kenangan.

17 November 2012 - 29 Juli 2013


MALAMMU DARI SEBERANG SINI

Memperhatikan malammu dari seberang sini,
memperhatikan pula kemilau lampu-lampu dermaga
menciumi aroma kelam. Bulan menitipkan sinarnya ke
jendela kamarmu, dan riak-riak Sungai Barito yang sedang
mengombakkan mimpi-mimpi, mencoba mendekati tidurmu.

Lama tak ada langit setenang ini. bintang-bintang saling
menari, angin membentuk celah-celah awan tipis. Tidakkah
kau mendengar? Akulah lelaki yang memanggil-manggil
namamu, di sepanjang malam itu.

Kau yang sempat membagi rindu di antara potongan malam
berkenang. Kau menjadi percikan api yang menghangatkan jiwa.

11 Mei 2016


PADA SEBUAH HUJAN

Warna dan warni waktu, tetapi bagai pula tak berwarna.
Kudengar samar-samar suara hujan yang mengetuk-ngetuk
pintu bumi, kulihat pula gerak-gerik pertanda, rumput liar
yang berbagi sajak rahasia, di antara pepohonan.

Barangkali sajaknya, adalah sajak yang gundah gulana.
Seumpama bulan tidak pernah mau lagi, menerangi malam-
malam sunyi, dan tak berbunyi.

Tetapi tidakkah sunyi ini berhias buah-buah segar di
musim hujan. Tetapi kenapa hujan telah menjadi hitam dan
kelam. Dan kenapa pula mesti lahir kata untung dan rugi.
barangkali hujan, pun takut tertimpa hujan.

31 Oktober 2012


KENANGAN BUAH SEMANGKA

Akhirnya wanita itu pulang membawa kenangan. Mungkin
kenangan manis, menurutnya. Mungkin juga kenangan
pahit. Tetapi kenangan itu diterimanya dari seorang pria,
yang baru pertama kali ditemuinya. Pria yang datang secara
tiba-tiba, mengendalikan hati dan pikirannya. Bak seorang
pangeran sakti mandraguna, pria itu muncul dengan pedang
panjang, dari balik isi kepala si wanita itu sendiri.

Barangkali wanita itu memang terlalu lama dilanda
badai kehampaan. Kenangan itu kemudian dirajutnya
menjadi sebuah memori kecil di pikirannya, kemudian
lagi dimasukkannya ke dalam buah semangka, yang
sempat dibelinya di pinggiran jalan kota kenangan. Kini isi
kepalanya menjelma menjadi buah semangka. Kenangan
buah semangka. Mungkin buah semangka yang telah sedikit
retak di dalamnya.

25 September 2011


TERMINAL

Di terminal ini,
langkahku masih juga pelan
dan samar suara-suara memanggil namaku,
lalu kudengar lagi jerit-jerit kecil
di antara doa dan harapan.

Adalah jerit yang merindu,
dan doa-doa yang mengkhusyu’
di kedatanganku.

O waktu,
telah pula kau jadikan aku sejarah,
di sunyinya jantung.

9 April 2012


LELAKI GEMURUH
untuk ASA

Setelah waktu yang berkali-kali menjadi sekian, akhirnya
aku berjumpa juga denganmu. Dalam papan catur, lelaki
bersenjatakan gemuruh itu tiba-tiba muncul bersama setangkai
kata, yang jauh-jauh sebelum lama, dipetiknya dari mata
gergaji yang telah dibungkamnya. Setangkai kata itu kemudian
ditanamnya, dan kemudian lagi tumbuh membibit-bibit menjadi
bertangkai-tangkai kalimat.

Dalam Bungkam Mata Gergaji, lelaki itu tampak seperti sedang
memaki. “Garis Telapak. Tentu saja nasib tidak harus selalu dalam
keadaan menyedihkan, terpuruk sakit dan dikungkung kemiskinan,
tentu saja tidak.”

Tatapan matanya sangat tajam, suaranya sangat lantang, meski
tanpa gemuruh dalam genggamnya. Barangkali dia sedang
bergumam. Saat itu, aku hanya menduga-duga.

12 Desember 2015


ILUSTRASI WARNA HIJAU

Yang indah adalah terpaksa
Balut-balut suka nestapa
Datang dan pergi lantas berlalu digendong angin

Yang cantik adalah benci
Jauh-jauh di antara tatap
Kesumat wajah muram ditendang kenyataan

Yang mesra adalah lantaran cinta
Puja-puja kelana buta
Sebagai distorsi sebuah penantian

Yang membosankan adalah tiada sampai
Puing-puing harap sisa
Tertunda, terhenti dan mati

Indah, cantik, mesra, membosankan
Terpaksa benci lantaran cinta tiada sampai
Suka nestapa di antara tatap kelana buta harap sisa

2006


DIA PERGI BERLALU

Dia tak akan pernah kembali lagi. Hujan telah membasahi
Rindunya. Tanah telah menghapus sisa-sisa kenangannya.

Dia pergi berlalu, tanpa mau lagi menoleh ke belakang. Melihat
masa lalu yang masih juga memanggil-manggil namanya.
Bahkan sempat melambai-lambaikan tangannya.

Melambaikan kemesraan yang sempat diwariskan. Kemesraan
di antara warna-warni harapan, di antara canda tawa mimpi.

Dan kini di taman ini, hanya ditumbuhi benih-benih sepi.

9 Juni 2011


BANGUNAN OMONG KOSONG

Pada sebuah senja
yang tertinggal.
Aku mandi
dengan air kopi,
sisa sore.
Perlahan gerimis datang
menciumi pohon mimpi,
di dunia
seberang kali lalu.

Pada gerimis
yang turun di akhir tahun.
Pelan
dan perlahan,
kaki-kakinya telah pula
memaksa manja,
menendang setumpuk kenangan
kemarin,
yang kemarin-kemarin.

Mengingatkanku
pada cinta yang tersisa pula.
Dan janji-janji manis, yang telah
menjadi bangkai
bagi mulut-mulut sesumbar,
di tanah yang kucinta.
Sementara sang pengumbar,
masih juga berteriak merdeka,
di bawah bangunan
bangunan
omong kosong.

31 Desember 2011


SUATU KETIKA DI MINGGURAYA
untuk GK

Suatu ketika di Mingguraya, suatu ketika di sebuah puncak
semangat muda. Orang-orang tampak sedang minum es teh
manis segar atau kopi hitam panas sedap. Sebuah pertanda,
jika hidup memang mesti dinikmati.

Kemudian seorang dosen kudengar lantang menerangkan
tentang teori gerak kepada sekumpulan kecil mahasiswa.
Dan sekumpulan kecil mahasiswa itu, mendengarkan dengan
seksama. Saking seksamanya, terkesan lebih  mirip berdoa.
Barangkali doa untuk sebuah dialektika.

“Bagi sang penakluk, mestinya tak ada gerak yang tak
mampu ditaklukkan oleh tubuh.” Dia menyulutkan api,
untuk sebatang rokok yang menempel, pada bibir yang
merekah.

Tetapi kemudian, tak ada yang betul-betul sadar, bila
sekumpulan asap rokok yang telah terhembuskan itu, tiba-
tiba telah membentuk sebuah formasi, siap bergerak.

“Kita harus bergerak, untuk segala sesuatu yang baik.”
Tetapi tiba-tiba sekumpulan kecil mahasiswa itu malah
menjabat tanganku. Tentu saja dengan senyuman menantang
masa depan.

“Mari dinikmati. Dan jangan pernah dibeban-bebani. Jika
kehidupan telah bagai komposisi tari. Maka menarilah
dengan jiwa yang bersih.” Barangkali mata yang mempesona
itu, telah sanggup menahan tatapan matahari.

Tetapi akhirnya, di tepi jalan kenangan itu, pandang mataku
telah lagi melihat sunyi.

14 Desember 2015


MASA DEPAN WAKTU

Sunyi yang telah kau resapi di kaki gunung, di antara rimbun
pepohonan, beberapa waktu berlalu itu, adalah bangunan
paling dasar atas pemikiran ini.

Tidakkah engkau ingat? Jika dalam sunyiku terdapat
hamparan indah tentang masa depan sebuah waktu, yang
tegak berdiri dalam kobaran idealisme.

Tentu saja rakyat harus memenangkan perang itu. Tetapi
kapan rakyat akan menang. Sementara lawan, menjadi
kian tak lagi terbaca. Penguasa-penguasa jahat, telah
pula menjelma rakyat yang baik hati. Jahat dan baik telah
menyatu dalam berangkai-rangkai bingkai peristiwa.

Lantas apa yang mesti ditunggu? Sebab kereta itu, pun telah
pula berlalu meninggalkan diskus-diskusi yang lazimnya
kita lewati, sepanjang hari di jalan ini. Maka seberapa lama
lagi kita mesti menunggu?

9 Mei 2016


Tentang M. Amin Mustika Muda
M. Amin Mustika Muda adalah salah seorang pendiri Sanggar Permata Ije Jela. Menyelesaikan Sarjana Ekonomi di Universitas Janabadra, Yogyakarta dan Magister Manajemen di STIE Pancasetia, Banjarmasin. Tinggal Di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel. Puisinya tersebar di berbagai media massa dan antologi puisi bersama.


Catatan Lain
Penyunting, Hajri, menulis 6 paragraf alias 2 halaman “catatan penyunting”. Daftar isi, tidak berisi rujukan halaman bagi puisi-puisi itu, tapi berisi kumpulan judul-judul puisi yang ditulis rata kiri-kanan. Dan dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu 2002-2010 (13 puisi), 2011-2012 (58 puisi), 2013-2016 (20 puisi). Itu kalau hitungan saya tidak salah, karena saya tidak menghitung ulang lagi. Hehe. Tapi sebenarnya yang diprotes isteri saya, adalah ketidaksesuaian antara judul dan gambar sampulnya. Jelas-jelas itu layangan sangkut di atas jembatan rumpiang. Hehehe…

2 komentar:

  1. Di seharusnya hari pada tanggal entry ini dibuat aku mampir hanya untuk sekedar mencari Wandira yang dirindukan oleh Segara...

    BalasHapus
  2. Pada bait ini aku menemukan jawapnya:

    Kini aku mengenangmu, bersama bulan yang membawamu
    berlayar ke pelosok kenangan.

    ---

    Terimakasih sang Penyair.

    BalasHapus