Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 08 Mei 2017

Akhmad Nurhadi Moekri: SAJAK-SAJAK SARONEN NURHADI


Data buku kumpulan puisi

Judul: Sajak-sajak Saronen Nurhadi
Penulis: Akhmad Nurhadi Moekri
Cetakan: I, Agustus 2013
Penerbit: CV. Alif Gemilang Pressindo
Tebal: viii + 56 halaman (61 puisi)
ISBN: 978-602-7692-41-1
Penyunting: Tiana Hidayat
Desain Sampul: Bayu Hidayat
Tata Letak: Ahmed Ghoseen A.

Beberapa pilihan puisi Akhmad Nurhadi Moekri dalam Saronen

Munajat 1

Tuhan, tetap saja
aku tidak siap mati

Sumenep, 11 Juli 2011


Munajat 9

Tuhan,
baringkanlah aku
dengan alunan firman-Mu

Sumenep, 23 Juli 2011


Munajat 11

Tuhan,
berikan aku
kenikmatan gempa
dan musibah

Sumenep, 24 Juli 2011


Munajat 14

Tuhan,
berkahilah sarapan kami

Sumenep, 26 Juli 2011



Munajat 7

Tuhan,
kalau Kau lempar aku ke jurang neraka
aku bisa berbuat apa?
tapi Kau Maha Bijaksana

Sumenep, 20 Juli 2011


Munajat 17

Tuhan,
atas perkenan-Mu
terima kasih

Sumenep, 29 Juli 2011


Munajat 19

Tuhan,
tumbuhkan rumput
di kuburanku

Sumenep, 30 Juli 2011


Munajat 39

Tuhan!

Sumenep, 15 Agustus 2011


Munajat 44

Tuhan,
benarkah aku berpuasa?

Sumenep, 20 Agustus 2011


Munajat 51

Tuhan
pertemukan aku
dengan layla

Sumenep, 27 Agustus 2011


Saronen Nurhadi, 3

banyak yang kutangisi malam ini
-juga adikku dengan transplantasi dua kali-
rasa dosa endapan masa silam
-jembatan runtuh-. Keputusasaan
masa depan tidak menjanjikan apa-apa:
Ah, siapa yang bakar diri di depan istana?


Saronen Nurhadi, 5

tengah malam angin  melintasi jalannya sendiri seperti
mimpi tanpa harus dibebani arti hidup
biarkan menemukan takdirnya sendiri, lukisan
menemukan warnanya sendiri,
sajak menemukan tafsirnya sendiri, laut menemukan
gelombangnya sendiri, angin menemukan musimnya
sendiri, ajal menemukan kuburnya sendiri.
tengah malam angin  melintasi jalannya sendiri seperti
mimpi tanpa harus dibebani arti.


Saronen Nurhadi, 6

sederhana saja
makan nasi bungkusan
naik bus
tidur di emperan masjid
tanpa hutang
tanpa beban
tanpa belenggu
belenggu status
belenggu kursi
belenggu waktu


Saronen Nurhadi, 8

sepotong hujan
jatuh
tidak selesai
selalu tidak akan pernah selesai
juga kenangan
bahwa kita pernah bercinta
dan membakar kota Roma sambil tertawa
bahwa kita pernah bercinta
dan melahap khuldi sepuasnya
bahwa kita pernah bercinta
bahwa kita pernah bercinta
dan mengobarkan perang Troya


Saronen Nurhadi, 14

infus mengalirkan kenangan ke tubuhmu
jadi imun
sepertinya ada profil di sana
mengembara di layar proyektor
di layar syaraf di layar imajinasi
di layar televisi di layar perahu

huk huk...
akulah nelayan
yang membelah gelombang darahmu
kau kujaring
aku menikmati geleparmu

huk huk...
akulah penyadap nira
dari segar geliatmu
kau kuhirup
aku menikmati mabukku
dan bagai tawon aku meneteskan
madu puisiku

infus mengalirkan kenangan ke tubuhku
jadi imun
ada profilku di sini


Saronen Nurhadi, 19

pada waktunya
semua harus berakhir
juga petualangan ini

menyelamlah sendiri
bermain dengan ikan
menggoda gelombang

terbanglah sendiri
berkejaran dengan burung
menyapa topan

biar aku pulang
minum kopi
baca koran
dan tidur siang


Saronen Nurhadi, 21

berhiaslah untukku bianglala
karena sebentar lagi aku sirna
kembali dalam bayang hujan
semilir angin sebisik desah
berhiaslah untukku bianglala
tanpa duka


Sajak Lobster

anakku merengek-rengek
minta lobster
enak kata tv
dikira terjangkau

harga bbm naik
buruh demo
mahasiswa demo
lobster semakin
tak terjangkau

bbm naik
angkot naik
bawang naik
jengkol naik
petai naik

ongkos politik naik
ongkos demokrasi naik
ongkos birokrasi naik

tentu saja juga korupsi
korupsi politik
korupsi demokrasi
korupsi birokrasi

buruh demo
menyisakan sampah
di mana-mana
tuntutan mereka
jadi komoditas politik
karena sebentar lagi
pemilihan wakil rakyat
dan presiden

mahasiswa demo
dengan biaya sendiri
atau dibiayai
semangat mereka berceceran
di jalan
mereka latihan
mengelola sampah politik
mengelola sampah demokrasi
mengelola sampah birokrasi

anakku merengek-rengek
minta lobster
termakan provokasi tv
termakan iklan

sapeken penghasil lobster
untuk ekspor
untuk resto Jepang
Korea
Cina
bukan untuk papa
bukan untuk mama
bukan untuk kamu
bukan untuk buruh
bukan untuk mahasiswa

kepiting bukan untuk kamu
mutiara bukan untuk kamu
minyak bukan untuk kamu
gas bukan untuk kamu

untuk kamu limbah industri
untuk kamu polusi
untuk kamu bangkai
bangkai politik
bangkai demokrasi
bangkai birokrasi
bangkai

Sumenep, 1 Juli 2013


Tentang Akhmad Nurhadi Moekri
Akhmad Nurhadi Moekri lahir pada 16 November 1954 di kota pudak Gresik. Terbawa tugas dinasnya sebagai guru, ia pindah ke Sumenep sejak 1978. Kepala SMP, SMA, dan Sekolah Tinggi pernah dijabatnya. Menulis puisi sejak duduk di bangku SMP. Puisi-puisinya tersebar di banyak surat kabar, majalah, dan antologi bersama. Antologi bersama yang dihasilkan diantaranya: Potret Pariwisata Indonesia dalam Puisi (1991), Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan (2000), Wanita yang Membawa Kupu-kupu (2009), Karena Aku Tak Lahir dari Batu (2011), dan Dialog Taneyan Lanjang  (2012).

Catatan Lain
Buku ini saya beli dari web AG Litera. Terdiri dari 3 bagian: Munajat-munajat (39 puisi), Saronen Nurhadi (19 puisi), dan Keris, Kambing, dan Lobster (3 puisi).  Dalam bagian “Munajat-munajat”, puisi-puisi di bab ini diberi nomor 1 sampai 52, namun ada beberapa bagian yang tidak ada, seperti nomor 25, 29, 30, 31 dan sebagainya. Hal serupa juga tampak dalam bagian “Saronen Nurhadi”.
Dalam pengantarnya, penulis berkata begini: “Saronen, musik tradisional Madura, yang sering mengiringi kehadiran sapi karap (baca: sappe kerap) memasuki arena balapan,  mengundang passion tersendiri. Ia mempresentasikan kemaduraan: instrumen, kostum, personil, dan tentu saja irama yang dibangun. Bangunan Madura, sawah, ladang, keramahan, ketegasan, dan kesalehan.// Antologi Sajak-Sajak Saronen Nurhadi tentu saja belum mampu mencapai martabat musik saronen, tapi paling tidak gemanya. Gema itulah yang saya pungut secuil demi secuil di pantai, di laut, di hutan bambu, di pucuk cemara udang, dan di mana saja.”
Oya, tanpa sengaja saya menemukan 5 puisi penyair ini pada buku “Memandang Bekasi” terbitan Taresi Publisher. Di sini saya cantumkan 2 di antaranya:

Bumi Pahlawan

bumi pahlawan melahirkan pahlawan
pahlawan itu tukang mie
                           tukang batu
             tukang bakso
tukang becak
tukang kayu
tukang parkir
             kuli serabutan
                          kuli pasar
                                       kuli terminal

di bumi pahlawan tumbuh pahlawan
juga tumbuh tukang copet
                            tukang judi
              tukang palak
tukang mabuk
tukang tipu
tukang teror

di bumi pahlawan ternyata bisa tumbuh apa saja
dan tentu saja menjadi tanggung jawab bersama

Sumenep, 9 Mei 2015


Hujan Tinggal Sekali, Bekasi

hujan tinggal sekali saja
buka semua jendela rasakan dingin
tiang listrik basah
kawat-kawat basah
langit basah
apalagi sawah

hujan tinggal sekali saja
bekasi menerimanya dengan senang hati
tanpa luaran air
tanpa luapan emosi

hujan tinggal sekali saja
segala tersalur ke muara
juga duka

Sumenep, 10 Mei 2015


Kontributor: AHMAD FAUZI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar