Pengantar Bulan Desember 2014

Bulan ini, hadir menyapa kita sepilihan puisi Goenawan Mohamad dalam Don Quixote,Trio Chairil Anwar, Rivai Apin dan Asrul Sani dengan Tiga Menguak Takdir, Joko Pinurbo dengan Telepon Genggam, Rida K Liamsi dengan Tempuling, D. Zawawi Imron dengan Refrein di Sudut Dam, Mochtar Lubis dengan Catatan Subversif, Rahman Arge dengan Jalan Menuju Jalan, dan sebuket puisi pegiat sastra Minggu Raya, H.E Benyamine yang dicomot dari blog Borneojarjua. Salam Puisi.

Senin, 04 April 2011

MATA UNTUK MAMA



Data buku kumpulan puisi (dan cerpen)

Judul : Mata untuk Mama
Penulis : Sainul Hermawan
Cetakan : I, Juni 2009
Penerbit : Scripta Cendikia, Banjarbaru
Tebal : xviii + 155 halaman (21 judul puisi & 14 cerpen)
ISBN : 979-17099-2-0
Prolog : Aprinus Salam
Epilog : M. Faizi
Ilustrator :Nauka Nayana Prasadini dan Sandi Firly
Gambar Sampul: Film Festival 2008 Diunduh dari http:/
/www. humanitarianchronicle. com/wp-content/uploads/
2008/05/hrff2008.jpg (pada 27 Maret 2009)
Desain sampul : Sainul Hermawan


Beberapa pilihan puisi Sainul Hermawan dalam Mata untuk Mama


Capricorn

setunas jagung dan sekantong kacang
sudah kau bakar di sudut-sudut lembab
tanpa sebab hingga kau perlu minta maaf
pada hati yang mungkin sembab
sepanjang masa pencarian
sepanjang perjalanan
menuju kesejatian
tanpa ketakutan
meski
rahasia tetaplah bukan untuk langit yang menganga
kau seperti menghitung biji-biji tasbih
atau memandang masa lalu yang lucu
yang meminta satu jawaban dan
melarang jawaban lain dan
kau temukan jawaban sendiri
bukan dari masa depan
dari masa lalu yang setia
masa lalu yang melahirkan cahaya di wajah senja
maka terimalah ini capricorn
sebagai persembahan pertama dan utama
dan kau pasti memaksa
dan aku pun pasrah
untuk menjadikan semuanya sekali ini saja

8 Juli 2007



Oase Belitung Selatan

hujan deras
halaman banjir
haruan berkecipak di bawah rumah
keran air PDAM padam sepanjang hari
air begitu dekat
bersih beningnya begitu jauh

29 Maret 2006


Tebak Siapa Saya

Berkatalah guru Nauka:

Anak-anak, simpan buku kalian dan siap-siap
bermain coba tebak siapa saya!

Senanglah kawan-kawannya
Mata mereka membelalak siap menebak

Berkatalah guru Nauka:
Saya masuk paling pagi, pulang paling sore
paling capek sendiri, tapi paling sedikit digaji

Serentak mereka teriak: Ibu guru!

Berkata lagi guru Nauka:
Saya paling rajin, jarang bermain
disiapkan jadi mur dan baut industri

Serentak mereka teriak: Murid ibu guru!

29 Maret 2006


Suku Kata

Cinaku, ciumlah Arabmu tepat di titik hitam di dahinya
dengan mata terbuka agar kau bisa mengerti caraku
menjadi Jawa.
Arabku, lepaskan Jawamu agar kau mampu menuntun
lidah Maduraku mewarna langit dengan tajwid tanpa
dengung tanpa pantun.
Kita telah lama disekap klausa dengan suka kata tanpa
cinta, menyekam bara dalam tasbih dan doa puji puja.

20 Juni 2008


Banjarmasin

di mata Nauka
anakku yang belum lima tahun
kota ini seperti orang yang baru pindah rumah
yang tak pernah selesai menata perabotannya

tapi di mata mamanya
kota ini seperti orang yang selalu salah pindah rumah
inginnya ia pindah ke rumah dengan banyak jendela
tapi didapatnya rumah dengan satu jendela saja
yang tak pernah menyambut matahari terbit
dan tak bisa berterima kasih pada matahari tenggelam

di mataku
kota ini seperti orang yang selalu ingin menjual rumahnya
karena mau pergi jauh saja dari bau ketika sungai pasang
dari gerah ketika kemarau datang
dari kemunafikan yang kian telanjang

29 Maret 2006


Rumah Penyair

di rumahnya yang sederhana
dia selalu menyusun kata
seperti menyusun bata-bata untuk rumah barunya
di udara

tempat dia bercinta dengan seseorang
kadang dari sorga, kadang dari neraka, dan kadang dari entah
tempat dia menjadi yang paling suci
kadang dari goa, dari tempat-tempat ibadah,
dan dari entah pula

dipujalah dia dalam udara kosong
orang-orang yang melihat kata sejijik tinja
yang mesra bercinta dengan tabung-tabung kaca
sambil mengunyah firman dan sabda

maka kata-kata indahnya menjadi burung-burung muda
dipanggang sebelum tua
sebagai hidangan istimewa mereka
yang hidup tak butuh kata
cuma perlu bahasa isyarat, menjerat peradaban hingga sekarat

di rumahnya yang sederhana
kini dia jarang menyusun kata
meski sesekali dilakukan juga
seperti mengorek luka

30.9.07


Tentang Sainul Hermawan
Lahir di desa Brakas, Pulau Raas, Kab. Sumenep, Jawa Timur. Alumni FKIP Univ. Islam Malang (1997), Pascasarjana sastra UGM Yogyakarta (2004), dan mengambil program Doktoral di Univ. Indonesia (sejak 2010) dengan tesis tentang Lamut. Mengajar di FKIP Unlam dan STKIP PGRI Banjarmasin. Bukunya, Tionghoa dalam Sastra Indonesia (Ircisod, 2005), Teori Sastra dari Marxis sampai Rasis (FKIP Unlam, 2006), Maitihi Sastra Kalimantan Selatan (Tahura Media, 2007), Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel (Tahura Media, 2009), Belajar Menulis Puisi dan Cerpen (Scripta Cendekia, 2009), dan kumpulan cerpen Pelajaran bahasa (Scripta Cendekia, 2010)


Catatan Lain
Saya memutuskan untuk menulis buku ini karena menghormati puisi yang ada di dalamnya. Sedianya ini adalah buku kumpulan cerpen (14 buah) dan puisi (21 buah), yang oleh M. Faizi dalam epilognya, menyebut penggabungan ini sebagai “pekerjaan kurang kerjaan”. Hehe. Saya punya buku Mata untuk Mama ini dua buah, seingat saya, satu dikasih Hajri atas “perintah” Sainul, satunya lagi didapat sebagai bingkisan sewaktu menjadi salah satu pembicara Kumcer Pelajaran Bahasa di lantai 3 perpustakaan Unlam Desember 2010 lalu. Sebuah pengalaman yang aneh. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar