Pengantar Bulan Februari 2017

Pengantar Bulan Februari 2017
Bulan Februari 2017, menyapa kita sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 04 April 2011

NIKAH ILALANG



Data buku kumpulan puisi

Judul : Nikah Ilalang
Penulis : Dorothea Rosa Herliany
Cetakan : 1995
Penerbit : Yayasan Pustaka Nusatama
Tebal  : viii + 133 halaman (104 judul puisi)
ISBN  : 979-8628-51-9
Epilog : Afrizal Malna
Lukisan cover  : Entang Wiharso


Beberapa pilihan puisi Dorothea Rosa Herliany dalam Nikah Ilalang


Nikah Ilalang

engkau nikahi ilalang. berumah di negeri
semaksemak. diamlah dalam kemerisik angin
yang mengecoh cakrawala.

tapi orangorang lalu melayat padamu. terasa
kelam perkawinan dan pesta syahwat. engkau
butuhkan bunga-bunga ditaburkan. doadoa
penghabisan, dan ziarah bertubitubi.

engkau nikahi ilalang. luas kebun luas bumi
luas langit luas jagat batinmu. engkau
nikahi kesunyian yang ditinggalkan abadabad
nanti. berkumur cabikan tanah kering dan
pestisida. berkumur jagat hewankecil yang
mencari rumahrumah dalam tangis dan sekarat.

1992



Tidur Berdiri Di Sebuah Plaza

bunga yang kutanam dalam tidurku, tumbuh
dalam potpot yang takjadi kulukis. daundaunan
mengembang. halaman semaksemak telah berubah
taman. rumahku dalam etalase.

berpasangmata mengancamku! kemudian seseorang
mengguyurkan hujan dari sebotol vodka. mabukmu
mendidih. mengucapkan katakata sampah, dan berubah
peradaban!

1993


Perahu Nuh

perahu yang ditinggalkan Nuh tersesat
dalam mimpiku: benihbenih siap dibiakkan
juga silsilah yang terceraiberai menjadi
tunas yang akan membuahkan pertentangan
demi pertentangan. benangkusut dan ujung
yang takpernahbisa ditemukan

tanah tempat kita pulang? rumah dan bencana,
tangis dan keprihatinan, isyaratisyarat bertebaran.

perahu yang ditinggalkan Nuh tersesat
dalam mimpiku: isyaratisyarat yang tak
padampadam berbiak jadi syairsyair
kesedihan, dengan notnot yang tak bisa
dinyanyikan.

1994


Kereta Berangkat

rel ini lurus dan panjang. gerbonggerbong
bergerit bagai keranda. mengusung tubuhtubuh
dan ruh yang diam. stasiun demi stasiun: kita
menunggu entahapa.

suarasuara yang gaduh: para penunggu yang setia.
para penunggu yang setia. kaudengarkah? orangorang
ingin tahu, ke mana meraka akan dikirimkan.

rel ini lurus dan panjang. kita berderetderet
sampai tepian ...

1994

  
Tanda

bunga yang tumbuh telah
kujadikan tanda (atau kubur)
: kita pun selalu gagal
berduka.

kali ini, subuh begitu singkat
dan selalu tersisa sesuatu yang
tak pernah rampung diucapkan.

dan masih juga terasa belum
usai menangis. antara getar dan
gigil: puisi pun gagal dibacakan.

1993


Narasi Hari Tua

antara daundaun dan musim kering, kausodorkan
wajahmu yang dulu juga. seekor kupukupu bangkit
dari kepompongnya.

ini tahun kesekian dalam usiamu. hampir datang
musim yang kautunggu.

tapi, kaudatang atas nama sunyi. kekekalan ajal
dan cuaca yang selalu gagal. mestikah kita
berduka?

1994


Kota Asing

kutempuh perjalanan menembus hutanhutan
kabut. kutempuh perjalanan melewati ganggang.
tak seletih menyusuri jalan lurus dalam syair
yang kaunyanyikan.

kutempuh perjalanan luka sepanjang jalan pikirku.
tanpa doa – dalam jagat batinku. sepi, alangkah
kekal. ibadahku bertubi: pada mimpi.

di kota asing itu, syairsyair kebimbangan
melemparkanku ke luar bingkai!

1987


Tentang Dorothea Rosa Herliany
Lahir di Magelang, 20 Oktober 1963. Menulis puisi, cerpen, esai, resensi buku dan kritik seni. Kumpulan puisinya Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nyanyian Rebana (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), Kill the Radio (2001, dwibahasa), Para Pembunuh Waktu (2002), Santa Rosa (2005). Kumpulan cerpennya Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996), Perempuan yang Menunggu (2000-an), Cinta tak Tumbuh di Sembarang Tempat (2005).


Catatan Lain
Buku puisi Nikah Ilalang ini saya beli waktu masih Sekolah Menengah (tergolong buku-buku puisi terawal yang saya punyai), di Gramedia Banjarmasin. Di cover belakang buku masih tertempel daftar harganya, Rp. 6.450,- Belinya bareng dengan kumpulan puisi Radhar Panca Dahana, Lalu Waktu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar