Pengantar Bulan OKTOBER 2017

Pengantar Bulan OKTOBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Rabu, 01 Agustus 2012

CATATAN SUASANA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Catatan Suasana
Penulis : Slamet Sukirnanto
Cetakan : I, 1982
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta.
Tebal : 80 halaman (55 judul puisi)
Rencana kulit : Hanung Sunarmono

Beberapa pilihan puisi Slamet Sukirnanto dalam Catatan Suasana

Jackpot

Hidup ini: adalah jackpot dimainkan
Logam demi logam masukkan. Tarik –
Sebatang kretek dinyalakan. Asap-asapmu
Berhari. Berbulan. Bertahun. Dan selanjutnya –
Sebelum. Dan sesudahnya selesai semua!

1970


Petani

Seorang bapa
meneteskan air mata
di pojok rumah.
Kandang kerbau kosong
Setahun sudah. Ia tabah
(lelaki jangan menangis)
Namun: kini
sampailah batas
memandam gejolak dalam
Meraih samar
Hari-hari tiada makar
Membuah dalam diri. Menyerah?
Ia menyatu hati
Dengan padas, batu dan besi
Kerikil hanyut –
di dasar arus hatimu!
Sambil mengacungkan golok bermata dua
Ia teriak ke penjuru angkasa
Gemanya memantul dinding langit
Ada dendam kukuh menggigit!
Pada ihwal yang datang
Ia berlarian sejak subuh
Langkah panjang menghentak lantai
menyilang menggapai
dari ujung ke ujung
dusun dan ngarai!
Ke mana tempat bertanya?
Belum usai luka –
ia kehilangan lagi
Rumput
semak
ilalang – dan padang tandus ini!

1976



Telah Aku Saksikan

            Laut
menyerahkan ombak
pada dada dan pundak
ketika panas siang
nafas arus menderas
menggetarkan jalan darah ini
Tuhan, di pantai ini juga
tapak kaki telah hilang
ketika angin rendah
mendorong gelombang
Telah aku saksikan
laut pasang naik
laut pasang surut
(tangis bayi)
asin garam membasahi kaki
(tangis anak-anak)
gemuruh air meninggikan ratap
(tangis pengungsi)
membasahi karang ini
pulang balik perahu cemas
tak mampu menyentuh daratan
bagai dirimu yang mabuk lautan!
Sungguh aku tak mengerti
betapa awan gelap
gelap apa; gelap siapa
kawasan memajang sepi
dihalau gemuruh zaman ini!

Tanjungkarang, Juni 1980


Kepadamu Kusampaikan

Kepak merpati terbang di jaring mentari
Putih-putih bagai berlayar mega megah abadi
Kepak gagak terbang di jaring mentari
Hitam-hitam bagai awan memendam duka yang dalam
            Sungguh, dik, hidup mesti begini
Tentang kasih, maut menagih
Memendam, di dasar hati, antara kau dan aku.

1967


Mahgrib Pun Sampai

Mahgrib pun sampai. Di luar jendela
Senja terbata-bata
Sebelum ayat-ayat terakhir
Sebelum sujud usai

Tuhan. Aku sendiri
Menggugurkan gelisah
Hari ini
Terimalah tutur fasih kami
(Di luar gugur
Daun trembesi)

Tuhan. Sudah sempurna
Angka-angka pada jari
Telah sempurna ayat-ayat suci
Tinggal aku sendiri. Di luar jendela
Semakin sunyi.

1969


Perbawati - Sukabumi

Karena mendung tergeser dari langit
Tundalah kantukmu barang sejam
Mari! Mengurai cahya terang di bukit
Tubuh menggigil dan dingin yang menggigit
Sebelum tiba saatnya
Api pendiangan bakal padam
Bakal kehilangan hangatnya bara
Sebab dalam kegelapan itu
Antara kita tiada mampu
Melahirkan kata-kata
Jiwa dan jiwa yang mengembara
Entah ke Sorga entah ke mana?
Bicaralah lidah yang arif
Adakah kau bawa dendam itu juga
Yang memberat dari pusat kota.
Di sini di antara dua bukit
Percakapan telah bangkit
Dari lembah yang dalam
Mengatas menggapai awan
Mengurai kisah dan peristiwa
Mengeja kembali yang lampau
Dan meraih yang remang
Yang bakal datang
Seperti udara dingin
Mendobrak tulang
Di tengah senyap malam
Ada yang tetap menggetarkan batinmu!
Bicaralah lidah yang arif
Adakah kau bawa dendam itu juga
Yang memberat dari pusat kota?

Perkemahan Budaya Perbawati – Sukabumi, 27 Oktober 1977


Katakanlah Padaku

Katakanlah padaku
Kalau hanya desau anginmu
Bicara sonder kata
Jam makin sarat memutar jarummu
Engkau pun tahu
Kehampaan sungguh pun mencari maknanya
Di luar dirimu, di luar diriku
Kemudian ulurkan tanganmu
Goreskan pada dinding masa lalu
Mari
Bergegas lewat
Tanpa tapak
Tanpa jejak

1968


Angin Sudah Lama Terhenti

Angin sudah lama terhenti
Derak gerbong-gerbong lenyap
Peluit kecil. Di kejauhan
Mencakar-cakar langit.
Percakapan terhenti
Pasangan-pasangan pergi
Debu-debu berteduh di kaki

1971


Perempuan

Bagaikan sungai
Ketika sampan menyusuri
Gaib mimpi –

Menderas ke hilir
Menembus kabut
Menggapai lemah
Dunia lain –

Hanyut dalam senandungmu
Menguraikan was-was
Atau cemas: masuk gerbang
Yang menggetarkan
Pilar-pilar batin
Petualang sesat
Kejantanan dirimu!
Juga yang tak terucapkan
Kegelapan dan samar.

Dataran enggan terang
Bulan mencelupkan wajahnya
Di dasar pusaran kali.
Hanya hati yang hendak
pergi! Meninggi
Namun tertahan
Melingkar –
Bolak-balik
Dan surut tenggelam
Dalam gelegak arus
Batinmu!

Lelaki:
bagaimana bakal dikabarkan kembali?

1974


Ayunan

Berayun, pelan, berayun, buyung
Ada saatnya kita mempermainkan waktu
Maju-mundur menyentuh ujung ruang
Mendesak kekosongan

Berayun, pelan, berayun, buyung
Sambil pejamkan mata barang sejenak
Nikmati sekilas kegelapan dan binar-binar temaram
Sebelum hapus oleh kilatan pijar terang

Berayun, pelan, berayun, buyung
Hirup puas udara segar lapangan
Sebelum angkasa menciut, racun gadus berdesakan
Membangun jasad tidur yang letih

Berayun, pelan, berayun, buyung
Andaikan sempat bertutur berkepanjangan
Tentang mengurai jiwa yang kusut
Bagaimana mengulur di arena keluasan?

Berayun, pelan, berayun, buyung
Adakah burung-burung akan singgah, seperti yang sudah
Menuturkan pengembaraan di alam tak bertepi
Dan sorga tinggal dijangkau setapak lagi

Berayun, pelan, berayun, buyung
Ke mana arah gema mencari pantulan
Janganlah lengah pengamatan jauh jauh
Dan alamat lengkap pusat sasaran

Berayun, pelan, berayun, buyung
Alun irama berturut tanpa suara
Perahu lepas mengarungi laut bayangan
Senandung ihwal pendaratan

Berayun, pelan, berayun, buyung
Susul-menyusul awan di dinding langit
Menebal pada cadar tirai tamasya
Membenahi gelombang gumpalan makna

Berayun, pelan, berayun, buyung
Tahankan dahaga meratapi dinding tenggorokan
Lukisan telaga sumber pusaran
Sekeping wilayah memancar kebeningan

Berayun, pelan, berayun, buyung
Pandanglah menatap, di balik segalanya
Panahlah dengan bijak kabut remang di sana
Dan tiliklah seandainya semesta memagar batas

Berayun, pelan, berayun, buyung
Suara-suara lirih tiada memantul gema
Ada yang meraih lepas
Menghambur wilayah terbuka

Berayun, pelan, berayun, buyung
Bila tiba di belakang, undurkan semusim lagi
Masa lampau yang lengkap dalam kuburnya mengerang
Menggapai, meraih detik-detiknya yang hilang

Berayun, pelan, berayun, buyung
Bila tiba di muka, ujung jari kaki menyentuh
Batas tepian dengan fana
Esok hari kan di sana, jika musim memberi pertanda

Berayun, pelan, berayun, buyung
Pegang kuat-kuat tambang-tambang keyakinan
Peganglah kuat-kuat tambang-tambang angan-angan
Balikkan ke empat penjuru, dengan mata menantang.

Berayun, pelan, berayun, buyung
Adakah yang tersisa dari bersit megah
Ketika cemas menikamkan ujungnya
Dan gontai melangkah harimau luka

Berayun, pelan, berayun, buyung
Bagaikan menyeberangi arus kali
Di sini kemudian reda melecut lepas
Bagian lain yang mengandung gaib

Berayun, pelan, berayun, buyung
Ada yang menggeser, bayangan terlempar jauh
Tanpa bekas di dataran ini
Adakah tragedi lakon menggelar bumi?

Berayun, pelan, berayun, buyung
Pagar kawat merantai tepi
Adakah gelegak getaran arus
Masuk ke dalam. Menembus

Berayun, pelan, berayun, buyung
Bagaikan dewa ruci melayang menjelajah samudra
Kadang menukik menggigir lembah ajaib
Melahap daun kering lantunan suci

Berayun, pelan, berayun, buyung
Tengok jam berapa sudah, hari masih tinggi
Dan nyanyian belum surut sudah
Mengajak bersenda mengayun waktu

Berayun, pelan, berayun, buyung
Sebenarnya dirimu tidak jauh dari bumi
Tetapi betapa sulitnya menapakkan kaki
Hanya sehasta jarak kita, hanya sehasta...

1972


Kidung Akhir Tahun

Seorang tua jalan sendiri
Meninggalkan gerbang duniawi
Tak ada yang lain, kecuali pergi
Lewat jalan akhir dan sunyi!

1966


Tentang Slamet Sukirnanto
Slamet Sukirnanto lahir di Solo, 3 Maret 1941. putra pelukis R. Goenadi. Pendidikannya di jurusan Sejarah Asia Tenggara Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dikenal juga sebagai tokoh demonstran 1966, menjadi Keuta Presidium KAMI pusat (1966-hingga bubar), anggota DPRGR/MPRS (1967-1971) mewakili mahasiswa. Tahun 1973 menjadi redaktur harian Sinar Harapan. Kumpulan puisinya: Kidung Putih (1967), Jaket Kuning (1967), Gema Otak Terbanting (1974), dan Bunga Batu (1979).


Catatan Lain
Menurut penerbitnya, PN Balai Pustaka, sajak-sajak dalam himpunan ini memuat sajak dalam suatu masa penulisan yang panjang. Sehingga tidak aneh jika akan ditemui sajak yang cukup beragam. Kata penerbit lagi, penyair tampak mempertanyakan hakikat hidup di dunia ini. Dia mendendangkan kesedihan, kesia-siaan, dan keputusasaan di samping cinta dan kejemuan. Juga digarisbawahinya, sebagaimana judul buku ini, bahwa sajak-sajak dalam kumpulan puisi ini merupakan sajak-sajak suasana, dikarenakan suasana atau kesanlah yang menonjol.   
            Kumpulan sajak Catatan Suasana terdiri enam sub judul, yaitu Catatan Suasana I (9 puisi), Catatan Suasana II (12 puisi), Catatan Suasana III (6 puisi), Catatan Suasana IV (14 puisi), Kidung Putih (8 puisi), dan Perjalanan(6 puisi). Total ada 55 puisi. Buku koleksi Alm. Eza Thabry Husano ini dibeli seharga Rp. 1000,- tak jelas kapan dibelinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar