Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 01 Juni 2014

TUGU BUNDARAN KOTA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Tugu Bundaran Kota
Editor : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru bekerjasama dengan Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru.
Cetakan : I, November 2010
Desain sampul : Binudi
Layout : Hery S
Tebal : iv + 218 halaman (169 puisi)

Beberapa pilihan “puisi anak” dalam Tugu Bundaran Kota

Kabar dari Lubang Galian

kabar dari lubang galian
kadang membawa kebahagiaan
kadang membawa kesedihan
bagi para pendulang intan
bila mendapat intan para pendulang
sangatlah senang
bila tidak mendapat intan para pendulang
sangatlah sedih
akan tetapi
mereka tak pernah putus asa
untuk menghidupi keluargaku

(karya Fitria Nurmussa’adah, lahir di Cempaka, 31 Maret 1998, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Di Balik Cempaka

menggali tanah yang dalam
tak peduli panas atau hujan
tetap mereka lakukan
untuk menafkahi keluarga

hasil yang mereka dapatkan
hanya membayar
sejumput kelelahan mereka

namun bagi mereka
itu hasil yang besar

andai aku bisa membantu mereka
aku tak akan mungkin berdiam di sini
membiarkan mereka

yah,
begitulah
di balik cempaka

Cempaka, 10 Desember 2009
(karya Aulia Azizah, lahir di Cempaka, 18 Februari1996, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Desa Cempaka

desa cempaka
adalah tempat kelahiranku
tempat aku menghirup udara
udara yang bersih dan sehat
aku senang tinggal di desa cempaka ini
akan tetapi
pada suatu hari aku menangis
karena aku harus meninggalkan desaku ini
tetapi sampai mati pun
aku tidak akan pernah
melupakan desa cempaka
selama-lamanya

(karya Fitria Nurmussa’adah, lahir di Cempaka, 31 Maret 1998, SDN Cempaka 2 kelas VI)



Pedagang Tua

ketika mentari muncul
engkau bersiap-siap
menjual daganganmu

siang dan malam
engkau bekerja
kerja dan kerja lagi

itulah pengabdianmu
wahai pedagang tua

(karya Reski Umami, lahir 1 November, SDN Cempaka 2)


Simpang Empat

simpang empat engkau penuh kedamaian
di situlah tempat keramaian
tempat orang bertahun baru
tempat bersuka cita

di situ ada tugu
besar megah indah
setiap hari orang ramai
hilir mudik mengitarimu

simpang empat
bundaran kota

(karya Jihan NF, lahir di Banjarbaru, 11 Oktober 1999, SDN Cempaka 2 kelas V)


Planet

oh planet
engkau ciptaan tuhan dari dulu hingga sekarang
tapi hanya ada satu yang bisa ditempati
oh planet
engkau jumlahnya ada delapan
yaitu merkurius, venus, bumi, mars, jupiter
saturnus, uranus, neptunus
terima kasih planet

(karya Hanifa MFR, lahir di Martapura, 5 September 1999, SDN Cempaka 2)


Senyuman Ayah dan Ibu

kau hadirkan seulas senyum
senyuman yang begitu indah
yang ingin selalu aku ingat
dalam hati dan jiwaku

senyuman ayah dan ibu
yang selalu membangkitkanku
dan aku jadi tahu tiada kasih
seindah kasih ayah dan ibuku

(karya Nor Abdillah, lahir di Cempaka, 11 Oktober 1998, SDN Cempaka 2 Banjarbaru)


Gunung

gunung kau menjulang tinggi
burung-burung berkicau
dengan merdu
banyak tumbuhan hidup
di atas gunung dengan subur dan segar
sumber-sumber air pun
mengalir dengan lancar
gunung kau menyerap air hujan dan
menahan banjir
kau membawa kesuburan dan
kemakmuran
wahai gunungku

(karya Julia, lahir di Sungkai, 20 September 1998, SDN Landasan Ulin Barat 3 kelas V)


Menuntut Ilmu

sekolahku
tempatku menuntut ilmu
setiap hari senin hingga sabtu
aku selalu hadir di tempatmu
di sekolah inilah
kubelajar berbagai pengetahuan
aku mengerti berbagai pelajaran
semuanya berguna jika aku besar nanti

menuntut ilmu
adalah perlu untuk semua orang
siapa pun yang ingin pandai
tuntutlah ilmu setinggi mungkin

(karya Julia, lahir di Sungkai, 20 September 1998, SDN Landasan Ulin Barat 3 kelas V)


Bunga Anggrekku yang Indah

bunga anggrekku
engkau bagai permata di jiwaku
engkau menyinari hatiku
seakan kuterbawa oleh keindahanmu
bila kumemandang terasa melayang jiwaku
engkau kurawat setiap hari
dan takkan pernah kulupakan
karena engkau memberi warna di hidupku
engkau adalah bungaku
yang indah dan menawan
aku akan selalu merawatmu dengan kesungguhan
hatiku

(karya Redo Hayati, lahir di Cempaka, 20 Januari 1997, SDN Cempaka 2)


Mawar yang Elok

Mawar
Kau begitu harum
Dengan warnamu yang elok
Sampai-sampai
Banyak orang yang menyukaimu

Aku pun
Sangat menyukaimu
Kau adalah bunga kesukaanku
Kau adalah bunga hatiku
Yang menghiburku di kala sedih

(karya Nur Rizki Helwiyani, lahir 30 September 1997, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Waktu

oh waktu
kau bergulir tak pernah henti
kau bergulir dari detik ke menit hingga ke jam

oh waktu
bunyi khas-mu yang sangat enak didengar

(karya M. Ansor, lahir di Cempaka, 17 Desember 1998, SDN Cempaka 2)


Sungai

sungai, banyak orang
membuang sampah di sungai
sehingga sungai itu berbau busuk

aku tidak dapat melihat sungai itu
karena aku tidak tahan menghirup
udara di sungai itu
tetapi orang-orang tetap saja
membuang sampah di sungai itu

(karya Putri Maulida, SDN Cempaka)


Halamanku

halaman kau sangat bersih
karena kuselalu membersihkanmu
kalau kau kotor akan kubersihkan
supaya kau selalu bersih
orang-orang bilang halamanku
sangat bersih aku sangat bangga sekali

(karya Gina Sonia, SDN Cempaka 2)


Banjarbaru Kota Idaman

banjarbaru kota pendidikan
di sana terdapat taman yang indah
lapangan yang terbentang
membuat kota banjarbaru semakin indah

hatiku semakin ingin berlari
dan berlari di tengah taman
yang indah itu

hatiku menjadi semakin ingin
menghirup udara segar di sela-sela pepohonan
banjarbaru kota idamanku

(karya Sri Wahyuni, lahir di Pengaron, 18 Februaari 1998, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Lagu untuk Sahabat

pagi baru menyapa
saat kulangkahkan kaki dengan doa
di tikungan jalan
kulihat anak menangis tersedan

di hatiku ada tanya
pelan kusapa ia
tertahan ia berkata
“Ibuku sakit dan ayah entah ke mana
Aku takut, sebentar lagi tahun ajaran
Apa sekolah bisa kulanjutkan?”
kurangkul ia dengan sayang
“Jangan takut sayang
Semua pasti ada jalan”

sebab kini
sekolah tak perlu ditakuti
semua telah dilengkapi
buku, tas, sepatu telah diberi
jangan takut kita bayari
karena semua telah dilunasi
oleh tangan yang peduli
pada nasib anak negeri

kobarkan api semangat
padamkan malas dan enggan berbuat
demi kita pewaris negeri
satukan asa negeri berseri
mari bangkit dan berdiri
agar pertiwi tak menangis lagi

(karya Nurhayati Naela Sanada Gustin, puisi ini dilombakan dalam Lomba Seni Cipta Puisi Anak tahun 2009 di Istana Bogor, digelar dalam rangka memperingati HUT RI ke 64 bersama Presiden SBY dan Ibu Negara, berhasil meraih peringkat 1 Nasional. Tahun 2010, Nada duduk di kelas VI SDN Binuang 6, Kab. Tapin, Kalimantan Selatan)


Beri Kami Udara

kala senja langit jingga
kududuk termenung
hatiku sedih hatiku pilu
terbentang luas di depanku
betapa hancur gunung-gunungku
bersama ratapan angin, ilalang dan dedaunan
tangis kanakku kusimpan perih

akulah pewaris bumi ini!
tapi apa yang kau wariskan wahai orang-tuaku?
gunungku yang kokoh kau kosongkan perutnya
pohon hijauku kau tebangi
hutan rindangku kau gunduli

kata ibu hutanku gundul karena illegal loging
kata ayah gunungku koyak karena illegal loging
kutanya
dan terus kutanya
kini kutahu itu semua
apa... yang tersisa untukku hai, orangtuaku?
debu
udara yang sesakkan nafasku
dan panas yang membakar ubun-ubunku

kami terlalu kecil untuk menghirup debumu selalu
ataukah kau biarkan kami sekerontang bumi ini
lalu kau saksikan kami
lesu kaku tak berarti bagai zombie

kami tak mengerti banjir
kami tak mengerti gempa
kami tak mengerti hama
tapi kami takut itu semua

duhai yang kucinta
jangan tebangi pohonku
jangan gali gunungku
beri… kami udara

agar paru-paru kami segar bernafas
sebab
kami ingin bermain bebas di bumi ini

Binuang, 5 Juni 2008
(karya Alif al-Faruq Gisananda, puisi di atas diikutkan pada Lomba Cipta Baca Puisi SD di Bandung, 21 – 26 Juli 2008. Saat itu ia duduk di kelas V SDN Binuang 6, Kab. Tapin. Lahir 5 April 1997. Melanjutkan pendidikan di Ponpes al-Amien, Prenduan, Sumenep, Jawa Timur)


Catatan Lain
Tiga puisi tentang Cempaka, yang saya pilih untuk membuka posting di blog ini, bagi saya pribadi sangatlah menyentuh. Pangkal hidung saya sampai sakit, menahan nyeri dan titik airmata.
            Anatomi buku ini seperti ini: 1. Puisi Kehormatan (2 penulis, 3 puisi); 2. Puisi siswa SDN Landasan Ulin Barat 3, Banjarbaru (10 penulis, 20 puisi); 3. Puisi siswa SMPN 11 Banjarbaru (9 penulis, 18 puisi); 4. Puisi siswa SDN Cempaka 2 Banjarbaru (42 penulis, 84 puisi). Di bagian ini, di daftar memang ada 43 nama disebutkan, namun setelah dihitung puisinya cuma ada 84 puisi. Dengan asumsi tiap penulis menulis 2 puisi, semestinya ada 86 puisi. Setelah ditelusuri, ternyata puisi Ulya Soraya sepertinya tertinggal; 5. Puisi siwa SMP Muhammadiyah Banjarbaru (22 penulis, 44 puisi); 6. Cerpen (3 penulis, 1 dari SMP 11 Banjarbaru, 2 dari SDN Cempaka 2); 7. Dramatisasi Puisi (1 penulis, SMP 11 Banjarbaru).

            Berbeda dengan buku sebelumnya, Bunga-bunga Lentera, buku kumpulan ini tak berkata pengantar atau pun berendorsemen. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar