Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 08 September 2014

BANGSAL SRI MANGANTI





Data buku kumpulan puisi

Judul: Bangsal Sri Manganti
Penulis: Suminto A. Sayuti
Cetakan: I, September 2013
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Bekerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta
Tebal: vi + 89 halaman (60 puisi)
ISBN: 978-602-229-254-8
Editor: Dr. Wiyatmi, M.Hum dan Dr. Rina Ratih, M.Hum
Tata aksara: Dimaswids
Rancang Sampul: Haitamy el Jaid

Beberapa pilihan puisi Suminto A. Sayuti dalam Bangsal Sri Manganti

Kita pun Sampai

Kita pun sampai. Ketika salam rembulan menyapa pantai
Ketika salam rembulan menggandeng kelam. Menjadi
suluk ki dalang
Dengan iringan gending-gending kehidupan. Dalam irama
maskumambang
Juga eling-eling kasmaran. Sorga pun sampai ketika talu,
ketika tayungan
Lalu tancep kayon. Dan kita pun wayang di bawah
blencong kehidupan
Mencabut diri dari simpingan. Kanan dan kiri yang
berkelindan
Sorga pun sampai ketika salam pun rembulan

Yogyakarta, 2012


Pohon Trembesi, Pagi Songgoriti
- nita

Pagi pohon trembesi. Melangkah cahaya
Bersama rimbun daun-daun. Gemericik air
Aroma hidup pun mengalir. Lalu kabut
Sepanjang bukit. Sepanjang rindu yang bangkit.
Maka aku pun lereng. Pada perbukitan terjal
Menapaki jalan ajal. Menujumu
Menujumu. Kudekap sunyi
Kudekap dirimu. Serupa dekap hidup dan mati

Malang, 2011



Pada Suatu Waktu
- in memoriam Mas Kunto

Lalu gugur daun
Kita terperangah. Dalam hati ngungun
Cuaca berubah. Dalam dingin embun
Ada yang bergegas ke semak rimbun

Kita tak harus menyeka airmata
Biarlah mata kita bersih dan bercahaya
Seperti janji yang pernah terucap
Ketika jajar bilangan belum lagi genap
Pada saatnya kita pun akan segera berangkat
Seperti sudah ditulis dalam surat-surat
Yang kubaca, yang ditulis berabad-abad
Seperti sudah kautulis dalam sajak-sajak
Kapan saatnya segala akan segara beranjak

Ada yang bergegas ke semak rimbun
Bersama gugur daun: Ma’rifat Daun, Daun Ma’rifat
Seperti sajak yang kautuliskan, seikat demi seikat
Dulu seabad yang lalu
Suluk Awang-Uwung kembali kumandang
Dalam irama Ketawang
Menghantar kepergian dan kepulangan
: Selamat jalan!

Yogyakarta, Maret 2005


Syair di Pematang

seperti engkau lihat sendiri
segenggam benih sawi telah ditebar
lalu berkecambah di tanah gembur
dan akulah petani itu, menunggu dengan sabar
agar tumbuh dan berkembang, di sela-sela umur

berdiri di tengah pematang
kehidupan pun bermula
membaca bayang-bayang
diri pun tumpah di kubangan tanda

Kertodadi, 2004


Melintasi Kotamu
- sugeng tri wuryanto

antara parakan-magelang
temanggung terjaga
berkerudung jarik kawung
menggema kidung
kehidupan orang-orang gunung

ketika hari berangkat berhitung
dan angka-angka berkejaran
menjadi bilangan tahun
engkaupun bertanya: sampai di mana kita

lalu terminal demi terminal
dan tikungan-tikungan terjal
menyela-nyela di antaranya: harapan
kehijauan yang berwajah rampogan

lalu tanah miring, si gunung miring
sebelum kumandang lagon dan pathetan
jiwa teronggok di dasar jurang dalam
seperti gendhing sebelum jejeran

lalu perang kembang
: kita masih setengah jalan!

Yogyakarta, 2005


Siang Arafah

serupa kicauan burung kesayangan
semua kenangan menukik menghampiri
menukik ke timbunan daun kuning di hati
daun-daun yang menatap dan melengkung
penuh air sesal warna pucat keperakan
lalu mengalir dalam irama sendu
lalu hiruk pikuk pun dininabobokan
oleh kering angin dan panas cuaca
dan perlahan pepohonan pun henti
lalu tak suatu pun terdengar
tak suatu pun, selain suara bersama
mengagungkan Yang Tak Ada
tak suatu pun
tapi suara itu, istriku
ah – kenapa begitu parau
gagap dan merana!
senandung burung kesayangan, istriku
kembali menerawang
lewat mulut Kekasihku yang pertama
dan senantiasa seperti ketika Dia tiupkan jiwa
pada hari yang pertama
tak suatu pun …
selain suara mengagungkan Yang Tak Ada
tak suatu pun, tapi kenapa suaraku parau
dan begitu merana!
ya, ya
aku mungkin cuma sebuah panggilan
di luar sepotong doa
serupa seorang narapidana
menatap ke arah lubang angin
di kamar tahanan bawah tanah
dan keluasan cakrawala
cuma nampak lewat ciut celah jendela

tapi di manakah puncak gunung bergoa itu, istriku
aku pun paham mengapa pintu goa
selalu saja tanpa cahaya
karna bagaimana mungkin
belepot lembaran catatan harian
disucikan lewat kebohongan dan penipuan
Kekasih, inilah sajakku
Tolong, baca dan aminkan!

Makkah, 2004


Sebuah Goa di Puncak Bukit

di sebuah goa kecil
di puncak bukit
seonggok tubuh kerdil
menggapai-gapai langit

engkau mesti bersabar
menakar diri menakar hati
sebelum lakon digelar
ditabuh dulu si babar layar

jangan dulu bertanya
di mana dalang sejati sembunyi
sebelum diri selesai mendaki
sebelum puncak
sebelum goa terlacak

Makkah, 2004


Notasi Keseharian (1)

-   puting beliung
pekarangan batinku luluh lantak
diterjang puting beliung rindu
ada gejolak bersahut kehendak
tapi dirimu sedingin batu

-   kabut
geliat kabut di lereng Merapi. Gelegak sukma menahan diri
ada suara cangkul menghantam batu. Ada irama gendhing bertalu-talu
kata dan kalimat berebut tempat. Di hatimu

-   pagi
Selamat pagi. Matahari meruapkan hangat mimpi. Malam tadi
Lalu embun di daundaun. Lalu hati ngungun
Sisanya cuma rindu. Mengunggun.
Ayun-ayun pun Tanjung Gunung

-   ranggas
Tapi kini dedaun gugur. Dan tersisa ranting ranggas
Merak pun merenda umur. Di sela hari yang bergegas
Gebuk gendang pun sumbang. Lambai selendang tak sampai
Kecuali di hati. Kecuali di ladang cinta tak terperi…

-   batu
Serupa dedaun hutan. Musim tengah mengubahmu pelahan
Tapi aku yakin. Kau pun sebiji batu di bawah tanah
Sebiji. Tapi telah membuat rumah itu abadi

-   badai
Tapi angin pun bisa badai. Tapi jiwapun bisa sangsai
Ketika harap mulai retak. Dan tak sampai-sampai
Serupa kulit pohon sore hari. Hangatmu terasa juga sampai
Di sini. Walau dalam jarak. Walau…

-   sunyi
Tiap jejak punya tujuan. Tiap denyut punya teriakan
Tiap suara punya irama. Tiap sukma jeritkan perjumpaan
Tapi mengapa cuma dalam larikmu terpetakan
Sementara semua sirna dalam sunyi keseharian

-   gerah
Tanpa dirimu, kesunyian merebusku. Gerahpun memanjang
Lalu lengang waktu. Dalam proses menuju beku
Membuka lembar demi lembar. Memecaki kembali peta kenangan
Gelisah dan galau masa silam. Mencumbu bayang-bayang semu
Sebelum larik pertama, sebelum larik terakhir. Ada yang terasa mendesir.

-   mata
Kenapa matamu kini sepekat kematian
Ya. Kematian yang menjemputku sewaktu-waktu
Tidakkah kau lihat ruap tubuhku. Serupa dupa diapikan
Dan tubuhku pun sudah bau tanah. Kenapa matamu berpaling. Kini.

Aku buka lembar-lembar nota harian. Ada sisa isak
Dan cinta itu sudah membiak. Seperti tak pernah ada
Daftar rujukan sebagai kata akhir. Lalu
Di manakah desir ini ditambatkan.

-   Slamet – Merapi
Sungguh, aku telah hirup asap kepundanmu. Cukup lama
Dalam lambaian sunyi. Lalu aku pun kembali belajar mengeja
Huruf demi huruf yang membentuk namamu. Lalu terhampar kehijauan
Tempat diriku terbaring rebah. Melepas lelah
Lalu senandung cinta remaja. Denyar pun sampai kepadamu

Yogyakarta, 2010-2011


Syair Anjing

cinta itu bak anjing
salaknya tak henti
menembus belukar hati
menguntit hari-hari kita
menagih mimpi adam dan hawa

kekasih, dengarlah gonggongnya
menggema dalam rongga
rasakan lenguh dan dengus napasnya
jiwa tegak dan tatapan jauh
dalam diriku kamu ada!

Yogyakarta, 2005


Kidung Pengantin
- Sekar

harap dan damba yang kita tuju
ibarat terbukanya pintu yang selalu rapat tertutup
kecuali kerna angin senja
bersama gugur daun dan suara-suara ngungun
bersama pecahnya suasana
Kinanthi larikan pertama: Nalikane
Semua sahabat melempar ucap
“semoga tumbuh subur daun-daun cinta beranting setia”

Ada sepasang merpati dari arah Timur
mengirim seuntai bebungaan
harumnya tersebar ke segenap penjuru
ada sepasang kupu dari bumi Utara
mengirim sekeranjang dedaunan
rimbunnya menaungi raga
dua jiwa ditalikan benang kehidupan
menuju arah yang entah
ketika kedua mata kita pejam
ditimbang keluar masuknya nafas meruah

Pakem, 9-10 Juli 2005


Melepas Matahari

Kita lepas matahari yang lelah
Biarkan pundak ombak dan kangkang kaki langit
Jadi dipan istirah
Kita timbun bersama
Berlusin impian hari-hari kemarin
Dengan ikhlas dan yakin
Kita basuh kusut wajah dengan embun fajar esok hari
Dengan niat dan munajat
Menghangatkan diri dengan matahari lain
Membangun kemah hunian baru
Seperti pernah kita alami
Di padang luas berpasir
Tempat hati kita menambatkan desir
Seruan demi seruan, tetap kumandang
Panggilan demi panggilan menemu jawaban
Kita pun bukan kabilah sunyi
Kita pun barisan barzanji
Selamat menemu harapan dan tuju

Yogyakarta, 2009


Rumah Kata

Kembali ke rumah kata. Kembali ke rumah cinta
Siapa menunggumu. Putik kembang bertaburan
di pembaringan
Harum pun menyisir rambut. Semua yang teraba berbatas
ceruk
Tak terbaca. Kembalilah jiwa demi dahaga
Bersama matahari. Bias jingga. Sebelum berpaling muka.

Yogyakarta, 2012


Syair Embun Pagi

Hangat matahari. Kehendak pun tak pernah henti
Lalu, mata pun cucuk daun. Menghirup embun pagi
Jalan pun terbuka. Menuju cakrawala
Kugandeng tanganmu. Menyisir hari. Di sisa usia.

Yogyakarta, 2012


Syair Puncak

Jangan tanyakan puncak. Mendakilah terus ke Utara
Karna puncak tak pernah ada. Ialah kerendahhatian yang
diam tanpa suara
Maka kita pun dataran rendah. Sepetak sawah bagi petani
kecil
Sejengkal kolam bagi ikan-ikan mungil. Rimbun daun bagi
birahi sepasang burung. Secercah cahaya bagi pejalan
larut. Sebaris fatwa bermakna
Sebait puisi abadi. Tak ada puncak ketika di ketinggian
Tak ada puncak ketika kemah hunian kita dirikan dalam
diri

Yogyakarta, 2012


Secangkir Kopi
- bandi

Kita seduh hidup dalam secangkir kopi tanpa gula.
Sepiring krispi kangkung. Selusin tahu plempung.
Kumandang gamelan
Kumandang yang kembali. Sebelum tlutur dan palaran.

Surabaya, 2012


Tentang Suminto A. Sayuti
Guru Besar Ilmu Sastra pada Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1956. Selain menulis puisi, juga menulis esai dan buku teks kesastraan. Juga piawai menabuh gamelan jawa dan bermain wayang kulit.


Catatan Lain
Rasanya, sewaktu di Jogja saya pernah mendengar penyair ini bicara. Tapi saya lupa kapan dan di mana. Saya membuka-buka buku harian, juga tak ketemu. Saya cuma ingat bahwa saat itu hati saya bicara: ternyata kesan saya selama ini salah. Awalnya saya menduga orang ini kalem, bicaranya lembut. Tahunya sebaliknya, beliau bicara berapi-api, kutip sana-kutip sini sebagai tanda wawasan yang luas dalam sastra. Dan seingat saya, saya lalu membanding-bandingkannya sebagai mirip Faruk. Hanya itu kesan yang tertinggal.

2 komentar: