Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 05 Oktober 2014

DJERAM




 Data buku kumpulan puisi

Judul: Djeram, Tiga Kumpulan Sadjak
Penulis : Ajip Rosidi
Tjetakan : I, 1970
Penerbitan: P.T. Gunung Agung, Djakarta
Tebal : 74 halaman (45 puisi)
Gambar kulit & dalam: Popo Iskandar

adapun penjair lahir/membangkitkan kematian para penjihir/lalu dengan mantra kata-kata/mendjelmakan kehidupan manusia
(Petikan sajak Penjair, Ajip Rosidi)

Djeram terbagi 3 bagian, yaitu Sadjak-Sadjak Hijau (15 puisi), Kakilangit Lain (20 puisi), dan Satu Saat dalam Sedjarah (10 puisi)

Beberapa pilihan puisi Ajip Rosidi dalam Djeram
(catatan: penulisan menggunakan ejaan lama, sesuai buku)

Memandang Kehidupan

Memandang relung2 kehidupan
Aku tak tahu pasti
Apakah mungkin mendjadi
Seorang tua jang tenang batja koran
Di tengah ribut dunia kebakaran?

Kusaksikan diriku dan kawan2
Sambil makan katjang dan asinan
Memperbintjangkan nasib negara
Sengit berdebat
Penuh semangat memberi perintah
Menentukan haluan dunia.

Tidakkah lebih baik kita tenggelamkan
Segala rumus dan perhitungan di warung kopi
Selagi matahari belum tinggi
Atau kupilih sadja ketenangan kursi gojang
Saban pagi semangkuk susu dan setangkup roti?

Masih pula merasa kuatir
Akan kepastian hari esok: Bukan tak mungkin
Tuhan tiba2 bertitah: Berhenti!
Maka planit2 bertubrukan, bintang2 padam.
Lalu apa jang masih dapat ditjapai?

Sedangkan bumi tak lagi pasti.

Jang tinggal hanja angan2 jang pandjang
Dan kelam. Sedang
Angan-anganpun
Membutuhkan suatu landasan.

Kuteliti tanganku: urat-uratnja, tulang-tulangnja …
Bisa sadja lenjap tiba2. Tak satupun kupunja.
Selain do’a.

1968



Sadjak Buat Sebuah Nama

Telah kausiram bumi pertiwi
dengan darahmu jang merah: Maka kini
kaulihat pemimpin-pemimpin besar tjakap
tak lebih dari para pemain sulap
jang bersumpah atas nama Tuhan
hanja untuk pangkat dan kedudukan.

Telah kauberi tjontoh keiklasan berkurban
terhadap tanahair, bangsa dan Kebenaran
jang selama ini hendak dipalsukan
di bawah kebuasan nafsu dan kesewenang-wenangan.

Dan telah kaubuktikan bahwa dari apapun
lebih kautjintai Kemerdekaan. Kehidupan
manusia-budak jang bergelimang kemewahan duniawi
kautolak dengan tegas dan pasti. Lalu setjara sederhana
kaupilih Keadilan – jang lama telah dilupakan
meski para pemimpin tak kundjung henti
mendjadjakannja dalam setiap upatjara
dengan berbagai pidato berapi api
dengan berbagai slogan dan sembojan
jang tak satupun punja arti
bagi kehidupan rakjat sehari-hari.

1967


Pedjalan Sepi

ia tembus kesenjapan dinihari
sepatunja berat menundjam bumi
menempuh kota jang lelap terlena
dalam pelukan tjahja purnama

ia tembus kedinginan pagi
siulnja njaring membelah sunji
membangunkan insan agar bangkit
dalam pertarungan hidup jang sengit

di sebuah djembatan ia berhenti
dihirupnja udara sedjuk dalam sekali:
bulan jang mengambang atas air kali
adalah gambaran hatinja sendiri!

1954


Lagu Kerinduan

wadjahmu antara batang kelapa langsing
menebar senjum dan matamu mendjadikan daku burung piaraan
semua hanja bajangan kerinduan: kau jang nun entah di mana
mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana

kudjalani kelengangan hari
sepandjang pagar bajangan: wadjahmu menanti
langkah kuhentikan dan kulihat
hanja senjummu memenuhi djagat

1954


Mata Derita

ada jang datang bermata derita
pagi berwarna olehnja

ada perawan bermata derita
berselendang angin remadja

ada jang memandang ke dalam hatiku
bumipun djadi biru

ada jang memantjar: kebeningan hening
dan segalanjapun tak teraba lagi –

1954


Penjair

1
adapun penjair lahir
membangkitkan kematian para penjihir
lalu dengan mantra kata-kata
mendjelmakan kehidupan manusia

menjanjikan kelahiran tjinta
atau menangisi kematian bunda
melagukan kesia-siaan rindu, kaupun tahu
segala jang beralamat duka

2
siapa mendjeladjahi pagi
mendapat pertama sinar mentari

lagu kunjanjikan kini
akan dimengerti nanti

lagu kusadjakkan kini
suara lubuk hati

jang selalu sunji

1954


Djalan Lempeng
sebuah lukisan S. Soedjojono

Burang gagak, burung gagak! Biarkan dia berdjalan!
Biarkan dia berdjalan, membungkuk pada kejakinannja
Bertolak dari bumi kehidupan lampau, begitu ia melangkah
Pasti dan jakin. Karena ada mimpi di balik gunung itu:
Lembah hidjau hidup segar. Karena di sini batu mentjair
Gurun mati. Tandus dan sepi.

Burung gagak, biarkan dia berdjalan. Di ruas2 langkahnja
Menjala dendam pada bumi lampau. Di dadanja padat kesumat
Pada dunia kehidupan jang mati di sini.

Burung gagak, sampaikan salamku padanja. Salam bagi
Jang sudah melangkah atas kejakinan. Salam bagi
Jang sudah berani bikin perhitungan tandas sekali.

Gunung2 jang membatu, gersang dan kering,
kan takluk pada tapaknja.
Satu demi satu kan dilewatinja. Ia terdjang dunia mati.

Burung gagak, kini ia berdjalan. Melangkah dengan gagah
Ia tahu di balik gunung ada mimpi, ada lembah
Tidak tjair meleleh seperti bumi jang menggolak ini.
Semua kan tunduk kepadanja.
Semau kan menjerah pada langkahnja. Karena ia berdjalan
Atas kejakinan.

Biarkan dia berdjalan!

Gunung dari lembah sana, gaung dari mimpi diri.
Burung gagak, ia dengar njanji itu. Dan ia menudju ke situ.
Pohon2 mati dan sepi. Padangpun mati dan sepi
Batu2 mentjongak ngeri, tadjam dan mengantjam
Tapi ia melangkah menudju lembah2 mimpi.

Ia sendirian. Batu2 dan alam geram.
Gunung mendinding di udjung. Langitpun kan menerkam.
Dan ia melangkah dengan pasti: Batu tjair djadi beku.

Langitpun djadi membiru, mengutjapkan selamat djalan
Menempuh kehidupan.

Burung gagak, burung gagak, biarkan dia berdjalan
Sampaikan salam jang erat dan hangat. Ia jang jakin
Ada mimpi di balik gunung batu, ada lembah hidjau dan lembut
Kehidupan tenang, sawah-ladang, padang rumput …

Djangan kauganggu!

1955


Tjinta dan Kepertjajaan

Dalam hidup ‘kan kupertahankan
Nilai hubungan antar-manusia, didasarkan
Atas tjinta dan kepertjajaan.
‘Kan kupertahankan kehangatan
Gamitan dua tangan, menjampaikan
Kehangatan rasa dua djiwa.

Tjinta adalah bunga tumbuh
Atas kesuburan tanah kasih, berakarkan
Hati mau mengerti, saling membagi.
Dan kepertjajaan, landasan
Kerelaan dan kemesraan.
Pertalian dua hati.

1960


Ibunda

Ia terbudjur
Bumi subur
Lembah-lembah dan gunung
Terlentang tenang
Tangannja mengusap sajang
Perut mengandung.
Matanja njalang
Langit-langitpun hilang
Karena langit penuh bintang
Dan pahlawan menjandang pedang
Naik kuda hitam zanggi
Adalah masadepan si-djabang
jang dalam rahim
Menggeliat geli.
Ia memedjam
Menahan njeri.
Lalu terbajang
Bundanja tersenjum di ambang
,,Tidakkah dahulu
Kusakiti djuga bundaku?”
Keringat bermanik bening
Atas djidat, kening.
Waktu sekali lagi
Menggerundjal kentjang,
Ia mengerang
Dan malam jang lengang
Mendengar lantang
Teriakan si-djabang.

1961


Harituaku

Pabila harituaku tiba, kelak suatu masa
Katjamata tebal atas hidung, bersenandung
Menembangkan lelakon lama. Lalu tersenjum
Memandang bajangan atas katja djendela
Jang putih warnanja, sampaipun alis, bulumata …

Maka namamu ‘kan kusebut, dengan bibir gemetar
Bagai ajat kitab sutji, tak sembarang boleh terdengar
Namun kala itu jang empunja nama entah di nama
Apakah lagi menjulam, duduk bungkuk atas kursi rotan
Ataukan sedang menimang tjutju, mungkin pula telah lama
Aman berbaring dalam tilam penghabisan.

Dan pabila giliranku tiba, terlentang
Dengan kedua belah tangan bersilang
Sebelum Sang Maut mendjemput
Sekali lagi namaku ‘kan kusebut, lalu diam. Mati.

1963


Kepada Penjair

Penjair. Kaulah pradjurit terahir
Jang meski dengan pena patah, mesti menegakkan Kebenaran
Karena dunia
Tak boleh kaubiarkan tenggelam
Dalam lautan fitnah dan taufan pengkhianatan

Kaulah jang takkan berdiri
Di fihak pemimpin palsu dan penipu. Tak perlu mendjilat
Karena kau tak bakal kehilangan pangkat. Tak perlu takut
Karena kau tak nanti membiarkan bangsamu makan rumput.
Kau ‘kan
Tegak di depan si ketjil jang lapar menggigil.

Kaulah pembela si lemah
Jang tak habis-habisnja diobral dan didjual
Oleh si pembual dari rapat ke rapat. Namun tak pernah
Sekalipun ia teringat: rakjatpun hidup dan mampu melihat
Segala kepalsuan jang hendak ditutupi
Dengan sembojan dan djandji.

Penjair! Asah pena, sihirlah
Kebenaran dan Keadilan bagi si ketjil
Jang tak pernah djemu berkurban, sabar dan rela
Demi tjita-tjita jang mulia.

1965


Djeram

Air beterdjunan dalam djeram
Buihnja memertjik ke tebing tempat kami berbaring
Dan ia mengelaikan kepala
Dengan mata meram terpedjam
Atas tanganku jang mentjari-tjari
Arah manakah burung gagak hinggap
Jang suaranja njaring
Memetjah ketenangan hutan
Sehabis hudjan

Air beterdjunan dalam djeram
Djeram gemuruh dalam darahku
Dan dalam mimpi keabadian jang njaman
Kubisikkan kata-kata bagaikan desir angin
Mengeringkan keringat atas kening
Sedang mataku memandang tak jakin
Air berbuih jang menghilir
Entah apakah ‘kan tiba
Di muara

Air beterdjunan dalam djeram
Kata-kata beterdjunan dari mulutku
Sungaipun tahu arti muara
Jang tak sia-sia menunggu.

Burung gagak berteriak entah di mana
Dan ia bersenandung entah mengapa
Karena dalam kesesaatan tak terdjawab tanja lama
Jang sudah lama hanja tanja: Hingga mana? Pabila? Mau apa…?
Dan dengan djari-djari gemetar
Kujakinkan hatiku sendiri: Segalanja
Berlaku pertjuma serta sia-sia

Dan perempuan ini ‘kan mati dalam kepingin
Karena angin hanja angin

Kerena djeram beterdjunan dalam diriku
Jang tak mengenal musim kemarau

Air beterdjunan dalam djeram
Dan djeram beterdjunan dalam darahku.

1962


Tentang Maut

I
Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati
Menerima atau menolak, tak peduli
Dengan tangan dingin namun pasti
Sang Maut datang dan tiap hidup ia ahiri.

Kuperhatikan perempuan sedang mengandung
Wadjahnja riang, mimpinja menimang si-djabang
Namun kulihat Sang Maut aman berlindung
Dalam rahim sang ibu ia bersarang

Kuperhatikan baji lahir
Dan pertama kali udara dia hirup
Dalam tangisnja kudengar Sang Maut menjindir:
,,Djangan nangis, kelakpun hidupmu kututup”

II
Jang kukandung sedjak hidup kumulai
Takkan kutolak, meski ia kubentji
Tapi kalau hidupku nak dikuntji
Datang Tuhan menawari:
,,Sukakah kau hidup semenit lagi?”
Kudjawab pasti: ,,Suka sekali!”

III
Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri
Karena tak berketentuan, bisa njergap sesuka hati
Membajangi langkah, mengintip menanti saat
Dan bagi kesadaran djadi beban paling berat.
Kupertentangkan ia dengan Hidup jang seolah ‘kan dia rebut
Kupilih fihak: Karena pada siksa neraka aku takut;
Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati
Nafasnya menghembus dalam tiap hidup jang fana ini

1960


Aku Terdjaga Tengah Malam

Aku terdjaga tengah malam, hening dan tentram
Gunung kelabu samar membatu
Elahan nafas alam jang berat mengembus pelan
Dan dengan nafas sendiri tertahan
Kusimakkan tenaga gaib tersembunji
Mengadjak bangkit, menempelak, meludah penuh dendam
Mengajunkan kepalan, mata merah, terbakar amarah
Karena terlalu lama dirinja terlupakan
Dalam pesta pora kesewenang-wenangan
Karena terlalu lama dirinja didjual
Dalam berbagai pidato dan penipuan
Karena terlalu lama dirinja didjagal
Dalam berbagai pemerasan berkedok kemakmuran
Karena terlalu lama dirinja diindjak
Dalam berbagai upatjara kemerdekaan

Kini tenaga penuh semangat gaib
Kusintakkan seperti lahar dalam perut gunung
Bangkit, menggemuruh tiada tertahan
Melanda segala penghalang
Mengatjungkan tangan ke muka
Menerdjang segala perintang

Tapi malam hening sepi, detak djantung sendiri
Dalam tentram bumi lelap, suara hati ingin diam tetap:
Tidakkah sia-sia dendam mengangkat tangan
Tidakkah sia-sia pembunuhan menghantjurkan pemerasan
Tidakkah bentuk baru ‘kan muntjul: Di mana pesta berulang
Sedang si ketjil, makin bungkuk dan renta
Diindjak dan diperas tenaga?

Tidak. Semangat akan harapan dalam impian
Memberi keremadjaan pada darah dan urat kendur
Memberi unggun dingin api berkobar
Bah membandjir dalam kali gersang
Banteng melihat kain-merah mengibar

Tidak. Semangat selalu meremadjakan. Mereka
Puas terbaring dengan senapang di tangan
Tak ketjewa mati sedang berdjuang
Tak pertjuma derita buat harapan masadepan
Karena hidup manusia selalu dipersembahkan
Pada haridepan redup di djauhan
Bagi ketentuan jang tak berketentuan
Karena tenaga dikerahkan
Untuk memutuskan belenggu
Demi kebebasan.

Tiada hentinja sepandjang djaman
Perdjuangan manusia, selalu terlibat kembali
Dari belenggu ke belenggu baru
Dari pemerasan ke pemerasan lain
Namun tiada djemu, berontak harapkan impian
Tiada bosan, melawan harapkan kemerdekaan

Tiada damai dalam diri manusia
Meluap dan menggelegak, tiada tara

Manusia selalu melawan terhadap takdir
Tak pertjaja terhadap ketentuan azali
Karena pertjaja akan tenaga sendiri
Tersimpan di balik mata redup atau tjeli
Larut dalam urat kendor atau tegang
Sembunji di balik badju bertambal dan rombeng
Menjala dalam dada tipis kerempeng

Tiada ‘kan habisnja. Setiap djaman. Dan manusia
Mendengar, melihat, menjaksikan dan menjimakkan
Pemberontakan manusia terhadap kekuasaan
Jang dalam mentjengkam diri

Dan kala aku terjaga tengah malam
Kudengar pula semangat gaib bangkit tak tertahan
Bagai lahar dalam perut gunung berapi
Semangat perdjuangan mengamang tindju ke depan
Karena harapkan kemerdekaan dan kedamaian
Bagi haridepan jang redup di djauhan

Berulang dan ‘kan berulang lagi
Manusia memberontak terhadap diri

Tjihideung, 20 Mei 1960


Diriku

Diriku samudra
Dilajari kapal, perahu, badjak
Tiada djedjak

Jang sementara
Berasal dari Tiada
‘Kan lenjap dalam
Tiada.

1961


Kau! Kau Jang Bitjara!

I
Apa artinja sadjak
Kalau setiap saat manusia dapat ditembak
Hanja lantaran bedil tersandang
Dan hatimu meradang?

Apa artinja puisi
Kalau pintu pendjara terbuka
Hanja lantaran merasa kuasa
Dan hatimu memendam bentji?

Kutulis sadjak ini
Karena penjair
Terhindar dari takdir djadi beo jang latah
Puisipun harus menembus
Hidup-aman-dalam-bungkaman
Ditindas kesewenang-wenangan

Penjairlah jang bitjara
Menjampaikan hasrat-kodrati manusia:
Kemerdekaan!

II
Kau. Kau bitjara tentang hak
dan orang lain kaukurniai hak-bajar-padjak
Kau bitjara tentang kewadjiban
tapi dirimu sendiri litjin bagai kantjil,
memilih kewadjiban-memberi-perintah, memetik-hasil.

Kau. Kau bitjara tentang kemakmuran
sedang petani-petani tak kaubiarkan makan nasi
tenang mengerdjakan sawah dan ladang
dan pedagang-pedagang tak kaubiarkan lunas dari utang
dan guru-guru kauharuskan turut memburu
beras dan gula, minjak tanah dan peda
dan pengarang kauperas hingga tulang
sumsumnjapun hendak kauhisap, agar diam.

Kau bitjara tentang kemerdekaan bitjara
sedang suara jang hendak kau dengar hanja ,,Setudju!”
kalau ada jang berbunji lain, alismu mengernjit
kaukutuk dia: ,,Penghianat bangsa!”
karena hanja kau pahlawan – tiada dua.

Ah, manusia ini hanja debu, kautahu?
dan antara debu dengan debu
tiada tuhan, tiada pahlawan
kalau satu dewa jang lainpun dewa pula.

III
Tidakkah pernah dalam tengah malam sunji
Selalu kau terlentang
Mendengarkan suara nurani
Berbitjara lantang?

Dari hidup manusia, dialah jang tak pernah dusta
Dari diri manusia, dialah jang paling murni
Sepuhan, pakaian, tiada guna, lantaran dia
paling mesra dengan hati.

Kau. Bitjaramu selalu tinggi
Mimpimu selalu hidjau
Atas segala kata, atas segala mimpi
Apakah telingamu tuli, ataukah
nuranimu bisu bagai batu tak bertatah?

Kau. Hatimu jang selalu pura-pura
Tidakkah kepada dirimu sendiri kau tak kuasa
Kendati hanja sepatah dusta?
Setelah membatja sadjak ini,
pedjamkan matamu, lalu hening
dalam malam jang tentram; merenung
menjelam ke dalam relung
rongga-rongga dasar djiwamu: Kenalkah kau
kepada mata kuju yang kausuruh makan batu?
Kenalkah kau kepada tubuh-tubuh begung
jang tak djemu kausuruh menanggung?
Kenalkah kau kepada dada gambang
jang dikerahkan dari satu ke lain rapat
untuk bertepuk tangan, menarik urat, memuaskan hatimu
jang tak djemu disandjung?

Hidup ini di atas bumi fana
segalanjapun fana. Sadjak ini
menolak kefanaan, dia menjadarkan
manusia jang riwan
mimpi djadi tuhan.

Bumi fana, menampung hidup fana.

IV
Kau. Kau jang selalu bitjara
sekali ini dengarkan, dengarkanlah
suara orang jang mungkin
dengan suaramu sendiri berlain.

Kau. Kau jang selalu bitjara
sekali ini dengarkan, dengarkanlah
suara jang adalah suara paling dalam
keluar dari hatimu sendiri
dalam malam hening sepi.

Karena sadjak ini bukan mimpi
remadja merindukan tjinta, tapi
mengadjak kau mendjenguk nurani
jang telah lama kaudjauhi – kauhindari.

Karena sadjak ini bukan lamunan
penjair tak tentu kerdja, melainkan
membangunkan kau jang gamang
terumbang ambing di pinggir djurang.

Karena sadjak ini ‘kan djadi bungkus roti
kalau petani mampu menjanji malam hari,
tenang mengerdjakan sawahnja lagi,
lepas dari intipan takut, gelisah, bimbang;
kalau pedagang senang menembang sepandjang hutan,
selagi mendjadjakan beras, gula, garam;
dan kalau segala mimpimu bukan lagi
hanja onggokan kata dan kertas, tertumpuk tinggi,
tapi telah mendjadi hidup manusia sehari-hari.

Djatiwangi, November 1961


Tentang Ajip Rosidi
(Tak ada biodata penyair di buku ini). Ajib Rosidi lahir 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Sejak SMP Ajip sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955). Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); Pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971); Menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981). Ajip yang tidak pernah menamatkan pendidikan SMA-nya itu pernah menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran, Bandung (1967); Pengajar tamu di Osaka Gaikokugo Daikagu, Osaka, Jepang (1981); Guru Besar Luar Biasa pada Tenri Daigaku, Nara (1983-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku, Kyoto (1983-1996). Saat meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Unpad, Ajip Rosidi berujar, "Memajukan Kebudayaan Sunda Bukan Provinsialistis". Untuk melihat daftar karya-karyanya, silakan baca postingan “Pantun Anak Ayam”. J

Catatan Lain
Rasanya, ini pertama kalinya saya menuliskan dua tanda baca yang tak lazim, maksudnya sebelumnya belum pernah saya lakukan, yaitu angka 2 dibelakang kata yang berulang (contoh kawan2 untuk kawan-kawan) dan pemberian tanda petik di bawah atas (,,”) dan bukan atas-atas (“”) seperti sekarang. Nafas puisi dalam kumpulan ini kadang bersifat individualistis, dan beberapa berupa kritik sosial yang khas tahun 1960-an. Oya, karena umur buku ini (dicetak tahun 1970) lebih tua dari usia saya. Maka boleh dong kita panggil dia sebagai kakak. Semacam kakak buku. Hehehe. Bercanda.     

1 komentar:

  1. salam hangat dari kami iijin menyimak dari kami pengrajin jaket kulit

    BalasHapus