Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 05 Oktober 2014

LAILA




 Data buku kumpulan puisi

Judul : Laila
Penulis : Sumasno Hadi
Penerbit : Indie Book Corner, Yogyakarta
Cetakan : II, Februari 2013 (cet. I : Januari 2013)
Tebal : xv + 108 halaman (80 puisi)
ISBN : 978-602-7673-54-0
Penyunting dan tata letak: Anne Shakka
Desain sampul : Sumasno Hadi
Prolog : Timur Sinar Suprabana dan KH. Amin Maulana Budi Harjono al-Jawi
Epilog : A. Kohar Ibrahim

Beberapa pilihan puisi Sumasno Hadi dalam Laila

Matinya Bunga Cempaka

cempaka muda menyembur kedukaan
bukan lagi kenanga dan kamboja
cempaka tumbuh dari keluarga tertinggi
bunga-bunga surga zaman ini
bunga-bunga segar lalu layu
ujungnya mati mengering
cerita bungaan mengendap
di sanubari luas

sebelum pergantian wajah skeptis ini, zaman mandek ini
suatu perjalanan sangat panjang menceritakan likunya
pada aroma-aroma putik cempaka
kenanga dan kamboja menyerahkan titipan
kehormatan perasaan sebangsa, setaman
ada aroma lembut
meluncur cepat di antara canda dan tawa kepolosan
siapapun mengikuti aroma-aroma bunga
menjadi waktu
mekar

aku adalah waktu yang menerjang
menjadi hidup dan melahirkan
bunga ranum wangi berparas dewi
oh, ini masih sekitaran pengabdian
tugas dalam kemuliaan
taman sari kehidupan
ada keheningan dan hampa sepi
hewan-hewan kecil di malam menghibur taman
kehampaan alur pikiran sudah datang 
entah, kau pergi memperlihatkan tikungan tajam
menuju kebersamaan keadaan perasaan

perasaan rerumputan sekitar taman
bukan gunung-gunung keras angkuh
hanya beberapa di seberang taman
mengangkang dengan letusan
tiada mengganggu
di dalam rumah penghuni keghaiban
menyendiri keindahan taman
cempaka berguguran
menyampaikan kemuliaan
pada kenanga dan kamboja
cempaka mati di taman

(Yogya, 22 Desember 2010)



Aku Walang

aku binatang Walang
kadung berkumpul di rerimbun angan-angan
biar lagu rayu membakar kupingku,
kekek-ku tetap renyah
biar gemuruh mesin membuat tangis sehutan,
aku masih menclok di dahan malam

orang tua menebang pohon
sudah kelelahan
tapi, tak sepadan linu ini
bocah ingusan menimpuk dahan-dahan
kemudian jadi luka,
di segenap sendi

aku bukan anak singa,
yang lincah di rerumputan
karena angan cuma menatap sayu
aku diam di sepanjang desah angin lengang
aku Walang
yang hampir terbang

(Sribhawono, Lampung: 12 Desember 2011)


Sungai Cinta

shalawat puisiku masih ngiang
ia menipu mata sebagai kekalahan
ia halus, ia lembut
ingin aku bergerak mengikuti jejaknya
sebagai kepasrahan pada cerita

tiada duga atau pikiran kepala
hanya tanya, hanya tanya
pantaskah aku menatap wajah bulanmu?
berujung permohonan kepada pemilik tabir suci
tuliskanlah puisi segala rahasia

tauhidkanlah ia
lekas akan kugelar sajadah darimu
di permukaan sungai cinta yang basah
sungai yang dipeluk para warna
butiran bunga-bunga

(Kayutangi, 8 Oktober 2012)


Revolusi Kentut

perubahan tak mungkin diingkari
evolusi menjadi bentuk
cara bertahan
dari sederhana sampai yang rumit
dari bau kentut hingga gelombang elektromagnetik
selalu muncul kebaruan
kehidupan kembali padanya
kembali berevolusi

ini bukan tentang teori evolusi dalam biologi
ini adalah revolusi bau kentut
orang berteriak-teriak revolusi
tapi suara teriakannya membuat keresahan
bising dan gaduh
yang teriak tak tahu apa yang diteriaki
kepada siap teriakan itu diteriakkan?

karena hanya kentut saja
baunya tak akan bertahan lama
bau kentut busuk digilas aroma wangi parfum
olahan pabrik negeri sebelah

(Sribhawano, 12 Januari 2012)


Dongeng Menang dan Kalah

kalau ini nanti jadi puisi, silakan
kalau pada akhirnya kata-kata jadi kentut, terserahlah
karena pembelaanku tidak berharga dalam nilai apapun
tidakku mengiya
tidaklah padaku menyangkut di dahan perasaan
menepi dari arus pikiran kebenaran
dari senyuman, tangisan, atau keadaan yang direncanakan
bukan, bukan mereka itu, bukan apapun di sana
satu kesimpulan dari dua pilihan, gelap dan cahaya
sisi yang jelas berbinar-binar di sini, kepadaku saja
yang bukan harus menidak
di sini, buta
dalam dongeng menang dan kalah
di tengahnya itu menyerah 
pecah
runtuh
rusak
kalau ini nanti jadi apa, biarlah

(Yogya, 29 Februari 2011)


Padang Rumput

arah angin
dia terlalu lembut untuk digenggam
terasa dingin ketika aku telanjang tanpa dendam
hanya hamparan kejujuran

arah angin
membawa beberapa kabar dari seberang
yang terukir indah nan menawan di dua insan
berpadu menggelora bara rasa

angin pagi yang lalu telah membuat aku sejenak terlupa
menutup buku catatan
masuk semakin dalam
melewati ruang-ruang keindahan

merebah di atas padang rumput hijau
lepas belenggu hilang kepenatan
bersama angin pagi berpeluh nada suka
menjelang cahaya

(Yogya, April 2011)
Versi facebook:
Baris 8 : berpadu menggelora tentang cinta
Baris 10 : dan menutup buku catatan
Baris 15 : bersama angin pagi berpeluh cinta


Puisi Biru

Aneka macam musimnya yang tak sepasang. Di antara aneka macam musim yang paling indah itu, adalah saat sisi kanan dan sisi kiri perjalanan telah semi dan mekar. Keluarga-keluarga yang hangat kemudian berdendang, menyanyikan lagu balada. Di mana-mana, kerumuan kegairahan semakin banyak ditemui. Pesta dan kemegahan berkumandang, di balik tembok megah istana. Pangeran-pangeran serta putri-putri berdarah biru semakin mengharu biru dalam kenikmatan. Kenikmatan yang biru. Dan pada suatu sore yang mendung, di luar tembok istana Kerajaan Biru, di tepi telaga biru, Ratu Permaisuri sang Raja seperti kebingungan mencari bunga mawar birunya yang hilang. Sang Ratu tiada tahu jalan pulang... Kebingungan yang biru...

dia mengenakan kain biru di tubuhnya
tak ada yang mengerti
tak ada yang pernah melihatnya seperti itu
dia telah memetik setangkai mawar biru
dibawa pulang ke istana
tapi kemudian terbang melayang
aku melihatnya, aku meraihnya
aku menggenggam helainya
aku merobeknya menjadi seribu
menjadi butiran cerita

sesaat jadi sulaman dalam harapan
semua sorot mata berbinar-binar memandangnya
tapi tak satupun perasaan dapat menyentuhnya
aku mencabiknya menjadi serpihan
menjadi kepingan
menjadi pecahan
menjadi udara
menjadi kata

dia menyingkap kebiruan hati yang padam
segenap nyawa mengaliri sungai yang kering
seluruh jiwa menghempaskan kedamaian
menjadi hidup yang berjalan
penuh kenangan
sepasang
beberapa pasangan
sekelompok hati
sejumlah kehidupan
satu tujuan
melewati air mata dan kepedihan
melukiskan cerita kelam di kain yang biru

hei, pemilik hati!
hei, pelukis hati!
hei, perajut tangisan!
kenakanlah kain birumu kembali
biarkan seperti adanya
biarkan saja menjadi seperti adanya
aku menutup mata menahan sakit kelaparan
aku berlari mengejar rasa lapar yang tak padam
aku menjadi penyingkap keelokan

aku kemudian merebahkan kekuatan
di antara denyut kelelahan
kulihat dia mengenakan lagi kain biru
telah sembab dan lebam

biru yang sama
bekas tikaman dan bekas cabikan itu masih terlihat
kain yang sama di birunya keadaan
kulihat biru yang sungguh-sungguh sama
jalan ini memang sama adanya
beberapa waktu pernah kulalui
tiada beda tiada warna
biru yang sama
rajutan benang dengan pola yang sama

sesekali ada tegur sapa di sana
dari pelajaran dan bimbingan
mengajarkan dan mengingatkan
tentang segala arah tujuan dan harapan
jika bukan karena ingatan, semuanya menjadi kehilangan
karena ingatan, lahirlah keindahan
jika tidak ada keheningan, musnahlah pikiran
karena keheningan, berjuta pikiran muncul menjadi keramaian
dalam pikiran, dia mengenakan kain biru
yang tak seorangpun pernah memandang
dalam keheningan, dia terus menyulam
menyulam benang bunga
mawar biru harapan
kebiruan ini bersemayam

(Yogya, 11 Mei 2011)


Mabuk Kopi

          duhai kopi,
     kamu mengerti
     aku memuja hitammu
     bukan pekat kegelapan
     tapi hitam tempaan keringat
     dari kilau-kilau merah ranum
     suntingan jemari cakatan
     aromamu selalu menari
                   duhai kopi,
              aku menggilaimu
              pada segala daya cuaca
              bila engkau panas, aku cerah
              lalu kuseruput bibirmu yang ranum
              desah-desahku jadi pelangi gairah lelaki
              bila engkau dingin, aku jadi kanak-kanak
              yang merengek minta kecap nikmat
              gula-gula di dalam lembutmu
     duhai kopi,
kepastian matahari membakar biji hati
meracik kepulan warna
bunga surgawi
duhai, kesetiaan purnama
bulatan cinta melengkapi mata-raga
seperti temaram sore yang jingga
aku mau mabuk kopi seperti ini, setiap hari

(Kayutangi, 2 Oktober 2012)


Berbagi Angin

jam satu
jarum panjang di angka satu
malam-malam hening
jadi pendorong orang-orang suci untuk bergemuruh
untuk menyuarakan munajatnya
melagukan rindu-cinta bagi kekasihnya

kalau Mbah Kakung,
pasti sedang mendoakan cucu-cucunya,
agar kelak jadi orang
bukan doa di atas sajadah,
tapi di atas lincak bambunya
sembari membakar tembakau dalam papir lintingan

karena malam,
angin seolah memeluk bumi
dengan berbagai cerita yang tak berkesudahan
mengabarkan janji dari pucuk cakrawala
tapi tidak padaku
aku malah gerah sendiri

pintu rumah kecil yang dibangun Bapak telah rapat
seperti biasa,
semenjak fajar sudah pamitan
sang angin harus mengetuk pintu satu-dua kali
kalau mau membagi kesejukan
semua telah ada persyaratan

keheningan malam yang ini
televisi di ruang tengah edan sendiri
aku menggamit remote tipi
lalu kucampakkan di atas tikar
aku bersemangat
untuk membagi
keheningan

lalu, pintu kubuka kunci grendel-nya
menuju kolam belakang
aku lihat belasan gurami menyembul di permukaan
mereka berkecipakan di bawah rembulan yang tak bundar
kubiarkan saja pintu tetap menganga
angin masuk dengan perlahan

(Sribhawono, 28 Agustus 2012)


Pencuri-Pencuri Malam

pencuri-pencuri malam itu datang lalu-lalang
pernah dengan ramai menguras milikku
semuanya, seketika
kemudian kukais lagi harapan
di taburan gemintang yang seribu
kugapai satu
gelap menyongsong dengan rayuan
menawarkan kepekatan paling manis
membuat kerlipku lenyap mereka pendam
pencuri-pencuri malam mengulurkan tangan
lalu seorang mendekat dan tersenyum
berkata padaku,
"akulah teman dalam kesombonganmu
akulah pencuri yang akan menyelamatkan angkuhmu!"
lalu seorang lagi menepuk bahuku seperti sang ayah
dan sekejab mereka lenyap menjadi kekosongan
milikku telah mereka rebut semuanya
segala perasaanku juga mereka rantai dengan kokoh
mereka itu pencuri-pencuri malam
aku tersungkur mengucurkan darah kekalahan
merangkak dengan keringat tanda kelemahan 
kepastian pada mereka yang akan kembali merenggut
mereka yang memeras dan menguras
tapi aku masih punya bibir untuk tersenyum
akan kubuka sekuat nyawa hingga mereka insaf
hingga membunuhku
pencuri-pencuri malam
jemputlah aku

(Yogya, 27 November 2010)


Tergenang

tentang puisi
pada mulanya adalah kata
aku yang mengaku telah melipatgandakan
jumlah kelap-kelip kesementaraan
menjadi keheningan
diam

permulaan di dalam kataku telah menyongsong
memeluk sejuta cakrawala
sehabis membasuh muka loyo
segelas air hitam berkelindan pada gula manis
perempuan tergenang
diam

melanjutkan daya untuk siapa saja
sesak dan lapang
seperti kemungkinan lemparan dadu 
seperti sambal bawang
meremas pedas tenggorokan
payah bernyanyi tersengal

aku terus melotot kencang
menendang perhitungan
aku ambruk sendiri
mati
mati
diam

                                                                tentang kata berjumbuh nada gelora        
                                                                   aku bukan saja berlaku sebagai aku         
                                                                                    mendaku tamparlah daku        
                                                                 segenap alam, hentikan pengakuanku
                                                                         hentikan untuk melayang-layang
                                                                              campakkan sisa nyawa di sini

                                                                            padanya yang daku
                                                                        tenggelamkanlah aku
                                                     selipkan di tumpukan kertas puisi
                                                                                    sajak hidupku
                                                                                 hidup seluasnya
                                                                              sedalamnya hidup

(Papringan, 26 Agustus 2011)


Bebauan di Penghujung Malam

bau anyir mulai mengoyak keheningan 
deru angin panas jadi memburu 
matahari hilang ingatan 
dan lalu-lalang di sekeliling makin tak beraturan
tapi alam masih bertahan
tetap alami di tengah-tengah ceritanya
yang tragis

di sana,
ada manusia yang melantunkan lagu doa
ada yang membaca tulisan lama 
ada yang menari, 
tapi tak bergerak tubuhnya
juga ada yang menelpon ibunya, 
sembari meminta ampun atas perilakunya
di sini,
aku berbodoh ria mengenang dosa

suatu senja,
terdengar negeri yang berbanjir darah
padang rumputnya menjadi genangan merah
sisa peperangan antara anak dan bapak
rumah-rumah menjadi kepulan asap
sisa lempar-lemparan api,
antara adik dan kakak
gedung sekolah dan tempat ibadah rata dengan tanah
sisa pertempuran tak seimbang
pertempuran saudara
gunung-gunungnya muntah serapah
beringin tua tercerabut akarnya 
melayang-layang di udara
laksana hujan petaka
senja dan malam merobek nyawa

tiada,
tiada sanggupku untuk mendengar
kabar selanjutnya
selain dosa-dosa,
yang terus berdatangan dalam ingatan
di penghujung malam,
tangan kananku bergerak perlahan
lalu menutup hidung
dari bebauan
dari bebauan

(Kayutangi, Banjarmasin: 11 Februari 2012)


Cinta dalam Angkutan Umum

cinta dalam angkutan umum
datang-pergi, hilir-mudik
mencari penumpang hati
namun ujung cinta kembali lagi
masuk terminal kedamaian
romantisme di jalanan cinta akan bising dan menyesakkan
asap hitam janjian, keluar dari cerobong kebohongan
cinta terlalu sering membuat jadi panik
pusing
bingung
marah dan menangis
tak terduga
cinta terombang-ambing oleh pengemudi tak bijak
tiada arti berputarnya roda cinta di jalanan jiwa
tiada ngerti apa-apa tanpa kesabaran 
cinta dalam angkutan umum,
nanti aku jadi pengendara
atau aku jadi penumpangnya?

(Yogya, 19 Desember 2009)


Alamiah

kugoyang-goyang dua kaki
menjadi beberapa, dan ribuan
lagi, dan teramat banyak langkah-langkah
ini-itu yang menandakan

penjelasan adalah berfikir untuk berproduksi
alamiah tak mencari bentuk-bentuk
alamiah tidak berdebat indah dan kumal
alamiah tidak mengukur pantas dan kurang etis

cinta alami yang alamiah
kapan? saat ketakpahaman diakui adanya
saat anak-anak dibiarkan menulis
atau, saat menulis buah kejujuran

segala yang dilumrahkan bukan yang alamiah
bukan ini-itu, semua ini-itu cinta
cinta yang berjalan alamiah begitu saja
jujurlah, semua dalam perjalanan

(Yogya, 22 Desember 2009)


Melodi-melodi

pada tanah Sribhawono
aku ditancapkan di kebun singkong
oleh mereka berdua
pada jalan raya, papan tulis, dan gedung kuno Yogya
aku dipertontonkan keadaan, oleh kejadian
pada riak-riak kota seribu sungai, aku naik prahu jukung
dengan memeluk sebuah gitar bolong
untuk belajar lagi lagu lama yang hampir terlupa
padaku, niat mengarungi melodi-melodi
mungkin dapat menjadi bekal
menjadi kekuatan
ketika bersandar di pulau masa depan
di sanalah kudirikan
rumah harapan
bersama kekasih

(Kayutangi, 22 Maret 2012)
Nb. Di buku, puisi Melodi-melodi memakai eksperimen tipografi


Tentang Sumasno Hadi
Sumasno Hadi lahir Di Metro (Lampung), 8 Maret 1983. Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Seni Musik. Paska Sarjana di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dengan mengangkat tesis pemikiran-pemikiran Cak Nun. Laila adalah kumpulan puisinya yang pertama. Saat ini penulis tinggal di Banjarmasin, mengajar musik di Sekolah Musik Senada Musika Indonesia, Prodi Sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Dan terakhir (ini tak tertulis di buku) mengajar filsafat di IAIN Antasari, Banjarmasin.


Catatan Lain
Saya ketemu dengan penyair ini saat peluncuran novel Sekaca Cempaka karya Nailiya Nikmah JKF di aula Perpustarda Kota Banjarbaru, beberapa waktu lewat. Namun sudah lebih dulu mengenal dan membaca beberapa esai/artikel-nya di Koran lokal. Makanya tak heran , puisi pertama yang dimunculkan adalah sesuatu yang tak jauh dari Cempaka, yaitu Matinya Bunga Cempaka. Bagi saya pribadi, puisi-puisi Sumasno tergolong “rumit”, susah dimengerti atau butuh berpikir dan hening sejenak untuk menangkap maksud dan suasana puisi-puisinya. Jika julukan bagi penyair masih ada, seperti penyair burung merak untuk Rendra, atau penyair clurit emas untuk D. Zawawi Imron, atau penyair burung gelatik untuk Micky Hidayat, maka saya mengusulkan julukan penyair Walang untuk penyair ini. Hehe : aku binatang Walang/kadung berkumpul di rerimbun angan-angan/biar lagu rayu membakar kupingku,/kekek-ku tetap renyah
biar gemuruh mesin membuat tangis sehutan,/aku masih menclok di dahan malam (puisi Aku Walang).
            Oya, sebagian besar puisi di sini merupakan puisi pilihan yang dipajang si penyair di facebooknya, namun saya sesuaikan dengan bukunya. Ada beberapa puisi yang mengalami perubahan, namun rujukan utama tetap buku si penyair. Ada empat nama di sampul belakang buku, 2 nama menyumbang tulisan singkat di prolog dan epilog, yaitu Timur Sinar Suprabana dan A. Kohar Ibrahim. 2 nama lagi yang murni menulis endorsemen, yaitu Soe Tjen Marching dan Sainul Hermawan. Oya, karena facebook ambil peranan besar, saya kutipkan satu puisi lagi yang tak ada di buku Laila, yaitu Imaji Merah Flamboyan. Selamat Menikmati. Dan kepada penyair, ribuan maaf dan terima kasih.    

IMAJI MERAH FLAMBOYAN

dan aku tak tahu rupamu
yang seringkas kilat sinar
rogoh kantuk pada malam
jaga tertawan keresahan

tapi-tapi tak kalau-kalau
kau pun merupa sukamu
tapi kalau tak kalau tapi
mauku memburu imaji 

terangkanlah begitumu padaku
kerena tak tahu menyebab duka
duka mendukaiku mendukaimu
datang yang tak bisa dimengerti

seperti pecah tawa bocah afrika 
saat bangsanya perang saudara
serasa bernada lembut di telinga
begitu merupa tersaji dunia nyata

keharuman berujung di tanah 
tersapa sesuara nyanyi Bimbo 
"senja itu, flamboyan berguguran
berjatuhan, berserakan..."
  
dan tubuhku redup warna
tapi kalau tak kalau tapi
begitumu memang gulita
tapi-tapi tak kalau-kalau

flamboyan merah entah
begitu kataku merupa
dunia memerah darah
dari jiwa-jiwa serakah

Kayutangi, Banjarmasin: 23 November 2012

3 komentar:

  1. Apa persyaratan agar buku puisi saya dapat terposting di blog ini, Mas? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke penyair, pertama-tama makasih sudah berkunjung :) Saya senang dikasih pertanyaan ini. Biasanya saya secara fisik menemukan dan membaca langsung bukunya, memilih-milih mana puisi yang saya senangi. Tapi format ebook pun tak masalah. Terserah mau format .doc atau .pdf atau rtf. Kirim ke email saya atau via akun facebook. Saya akan sangat berterima kasih karena sampeyan mau berbagi puisi di blog ini. Ditunggu :)

      Hapus
  2. Saya sudah kirim naskahnya via Facebok, Mas :)

    BalasHapus