Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 01 Maret 2015

GEMURUH, PUISI DARI KALIMANTAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Gemuruh, Puisi dari Kalimantan
Penulis : Ali Syamsudin Arsi
Cetakan : I, April 2014
Penerbit : Framepublishing, Yogyakarta.
Tebal : xxii + 164 halaman; 13,5 x 20 cm (74 puisi)
ISBN : 978-979-16848-9-7
Penyelia akhir : Raudal Tanjung Banua
Desain isi dan cover : Frame-art
Gambar cover : Darvies Rasyidin
Ilustrasi : Moses Oyes
Catatan apresiasi : Dimas Arika Mihardja dan Sumasno Hadi

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi dalam Gemuruh, Puisi dari Kalimantan

Hutan Kalimantan

anak-anak riang ceria
di arena sebuah lomba

kita sekarang menggambar kembali:

hutan kita yang hilang

/asa, banjarbaru, 14 juli 2013


Sungai di Kalimantan

wahai sungai, mengalirlah sebagaimana kalian mengalir sejak lama seperti yang aku pahami dalam kekinian dan pengertianku sendiri tentang sejarah masa silam, wahai sungai, meliuklah sebagaimana engkau meliukkan badan dalam jeram-jeram dalam tebing-tebing dalam hutan-hutan, wahai sungai, di atas riakmu pula ada banyak kabar dari satu titik ke titik lain dan ketika pecahan riak menuju gelombang maka saksikanlah bahwa kecipak ikan-ikan dengan ekor selalu bergerak dari satu hentak ke hentak lainnya, wahai sungai dalam rimba belantara wahai hutan dalam gelombang dan wahai sungai dalam pijar dendam membara-bara, wahai sungai keruh yang kian membuncah-buncah, wahai sungai, atas dasar berpasir batu dan kulit kerang juga tanah liat tanah lempung campuran lumpur serta batu-batu, wahai sungai; meluaplah, meluap sampai keluh kesahmu naik di puncak ramai sampai ke pucuk tugu dan tiang-tiang bendera, wahai sungai; saksikan olehmu keangkuhan menara dan banyaknya tiang-tiang istana, istana rapuh yang ditancapkan di mana-mana atas dasar apa, wahai sungai, sampai di mana diam kita bila semua arus telah dengan sengaja disumbat di mana-mana

/asa, banjarbaru, desember, 2013



Gumam dari Garis Paling Depan

Penyair, selangkah engkau maju maka terkoyaklah kain
bajumu, di garis depan engkau memang selalu berseru
terlebih dahulu sebelum yang lain menyebutkan satu-persatu

Penyair, kepal tangan di pucuk daun pinus tajam-setajam
belati menghunus, engkau mengarahkan sorot mata dengan
kata-kata, tak terbilang dalam banyaknya hitungan bahwa
di telapak kakimu telah memijar jejak-jejak merah menyala-
bara, engkau terkepung; lancipnya menusuk punggung
sementara telunjuk di depan orang-orang menelingkung

Penyair, lejitlah ke tiang awan-gemawan; saksikanlah
olehmu seperti dirimu yang telanjang, tapi kibaskanlah
hawa sejuk itu dalam buai-buai merona, mesra dalam
dekap; padahal semua itu demi keseimbangan belaka

Penyair, di mata entah engkau dalam keadaan mabuk
dan gila

Penyair, sendiri berdiri di batas paling sepi

/asa, banjarbaru, 18 Juli 2011


Di Tanah-tanah Retak

bukan sawah ladang
ternyata mimpi kita terlalu jauh menjulang

di bulan-bulan redup perjalanan
malam dipenuhi kunang-kunang

kita tangkap cahaya remang
akhir waktu, sulit menuju pulang

sampai di sini, di persimpangan
menancapkan tanda agar sesat jalan
melepas arah telunjuk ke depan

/Banjarbaru, April 2009


Kereta Panjang Kalimantan

Bunyi kereta itu mulai terdengar, datang
dari tempat yang jauh, jauh sekali, bahkan
senyap di gumpalan embun; kita nikmati lenggoknya
gemulai di liuk-liuk bukit dan ngarai

Perjalanan kereta itu, lesap
di antara tebing-tebing curam, hutan-hutan
lebat pohonan, sesekali menghilang dan
jantung berdebar; kita sambut lambai tangan orang-orang
di dalam, orang-orang yang meluncur bersama
– membuka mata – pada ketinggian

Dermaga kereta itu telah pula bergelantungan; inilah
rumah kami, rumah dari
kereta panjang Kalimantan

/asa, banjarbaru-samarinda, 18 Juli 2011


Engkau Dahulu Perahu

ombak yang ditawarkan kepada gelombang adalah
engkau dahulu perahu
badai yang ditawarkan kepada angin adalah
engkau dahulu perahu
pantai yang ditawarkan kepada pasir adalah
engkau dahulu perahu

itu aku
betapa senyap
laut luas membiru
sendiri aku
dalam ombak dalam badai dalam pantai

itu engkau
perahu

/asa, banjarbaru, juli 2012


Lukisan Wajah Berbingkai Cahaya

adalah harum semerbak bunga
menjadi penawar tubuh penuh luka
dari jasad terbaring di medan laga

adalah anak tangga pelangi
mengantarkan roh-roh suci
ke tempat paling tinggi

adalah bulan sebagai saksi
ketika malaikat mengucapkan salam selamat datang
mereka menyambutnya dengan puji-pujian

(alam redup disaput awan saat hujan turun tipis-tipis
di kanvas cuaca melukis raut-raut wajah berbingkai cahaya
lukisan wajah berbingkai cahaya

/1999


Kepompong Waktu

“semuanya tinggallah menunggu, juga aku
di barisan yang sebelah mana pada stasiun yang mana
kapan-kapan, akan menjadi biasa saja,”
sebutir pasir tengadah ke langit biru
bergunduk ia di tepisan jemari halus siput-siput pantai
“ke satu titik kita terus saja kembali
mengatas-nama desau dan gelombang pasang
ada saja kabar dari daun bakau
kering dan gugur bergaram di tanjung pulau,”
sekelompok ikan menyerbu karang
masuk ke celah melayang pergi ditingkah
arus bawah hamparan
laut tak pernah sepi

“berputar menari-nari
hilang datang lalu pergi lagi
melingkar-lingkar di satu pusaran,”
kepompong waktu

Banjarbaru, juli 2007


Bulu Mata Galuh Cempaka

(bila harum dan subur bunga-bunga sekelilingku 
hanya melahirkan duka lara  
maka  engkau datang percuma saja;  bertahun sudah 
gumpalan sakit  berpuluh sakit
sampai ke anak-pinak,  tetaplah meredam sakit, 
engkau berduyun datang  
di penghujung waktu  aku tetap saja terkepung )

ternyata harum bau tanah  ternyata subur lapisan
bawah tanah
tak jua menghilangkan rasa percuma
gegap-gempita,  hanya untuk sorak-sorai  
orang-orang yang datang
dari kejauhan
melangkah pasti
sampai ke batas-batas kepunahan
di sini  tetap sebagai rumpun-rumpun ilalang yang mati

(bila kemilau dan  fuah - rahasia itu  tak mampu menuntunku  
ke wilayah-wilayah capaian  maka amarah pun membara
sampai ke bulu-bulu mata,
akulah si Galuh Cempaka,  lahir dari mitos-mitos
perkampungan  
di tanah-tanah lubang pendulangan; akulah yang melagukan
derap di keheningan hutan-hutan, akulah yang melagukan
pikuk di gamang-gamang harapan, akulah yang melagukan
riwayat-riwayat perjalanan, akulah yang melagukan
kematian raja-raja  
sampai berlapis-lapis turunan, akulah;  laguku lagu kemilau  
di lingkaran mahkota raja-raja, laguku lagu cahaya
di anggunnya suri-suri penguasa,
laguku lagu darah yang membasah di anak tangga setiap istana;
akulah yang melagukan, akulah, akulah itu  sebagai lagu  
si Galuh Cempaka)

ternyata  kemilau itu  tak jua sampai kepada harapan,
orang-orang di lingkaran lubang-lubang galian
ternyata  f u a h  - rahasia itu telah ditangkap
sebelum harapan,  orang-orang dengan peluh setajam tirak  
tetap saja berdiri kaku  diam tak bergerak
ternyata  riwayat dari mitos itu selalu saja 
menggelinding menjauhi,
orang-orang  dengan kepal mengeras  di linggangan waktu pun
tak pernah berpihak
ternyata banyak riwayat perjalanan tak pernah menuntaskan,
orang-orang terjebak di dalam sulung-sulung bertingkat
ternyata  perjalanan darah itu adalah sejarah, 
orang-orang saling menatap  di bibir  lubang surut – lubang dalam
jebak lumpur kepunahan

(bila garis lurus ditarik dari  Ampar Tikar  Riam Kanan 
Mandikapau  Tiwingan
Rantau Bujur  Rantau Alayung  sampai
kepada  Gompong  Sungai Besar  
dan bertemu titik di  Awang Bangkal 
maka  adakah geriap di setiap ucap  
zikir mereka,  padahal ada geliat Trisakti, melewati batas
benua, ada Galuh Cempaka, sebagai wujud dari beragam
legenda,  ada Galuh Bulan, bermuasal mimpi kapala lubang  
ada Galuh Badu, selain bermimpi di arus bening tanah
Bati-bati,
ada yang kini terkesima dengan  si Putri Malu mimpi
yang terputus
dalam igau tidurmu,  wahai para pendulang  yang duduk
termangu,  dari dahulu
sampai sejarah berulang kini,  tetap duduk termangu 
bila musim hujan datang
menerjang sepi  lingkaran linggang-linggang  melepas
goyang goyang di riak
pemisah batu lumpur dan kemilau  sampai berharap  sampai
berangan menjauh tangkap di lunas kaki berpijak; sampai
desauku di pelepah dahan  
sampai risauku di rimbun daun,  sampai galauku di rimbun
tulang;  akulah si Galuh Cempaka  asal pungkala  sebab
darahku meriap sampai di bulu-bulu mata)

lagu hujan  di lubang-lubang galian
lagu sampai para pendulang
sejarah batu melepas mimpi
berangan-harap  sampai  di gigil tulang
lubang-lubang merekah  lubang-lubang  luas menganga
sulung-sulung waktu itu  melinggis darahku,  darah si Galuh Cempaka
nasib yang bertali beban
pundak dan langkah terseret dirunduk ngilu
pusara pusara pusara,  tak mampu  menepis enyah
pusaka pusaka pusaka,  tak mampu menipis resah
lagu-lagu di turunan hujan itu selalu saja
melempar lambai  anak-anak gemulai
lagu-lagu di tikungan hujan itu  sama saja
menolak lambai  wanita-wanita penunggu belai
lagu-lagu hujan itu,  sebagai penanda
riwayat sedih datang berulang
lagu-lagu hujan itu

(bila harum dan subur bunga-bunga sekelilingku 
hanya melahirkan duka lara
maka  engkau datang percuma saja;  bertahun sudah 
gumpalan sakit  berpuluh sakit
sampai ke anak-pinak,  tetaplah meredam sakit,  engkau
berduyun datang  
di penghujung waktu  aku tetap saja terkepung )

bulu mataku  bulu si Galuh Cempaka
tiris atap rumahku
tak sebanding kilau  melepaskan cahaya

(bila harum dan subur bunga-bunga sekelilingku 
hanya melahirkan duka lara  
maka  engkau datang percuma saja;  bertahun sudah 
gumpalan sakit  berpuluh sakit
sampai ke anak-pinak,  tetaplah meredam sakit,  engkau
berduyun datang  
di penghujung waktu  aku tetap saja terkepung )

/asa, banjarbaru, 21 desember 2008


Kalimantan, Biarkan Kami yang Bicara

berharap yang lain bicara, tak ada suara
orang lain di luar sana telah bicara dengan lapisan hutan
daun rindang
belantara, sementara
kita di dalam raya kata raya aroma raya cuaca raya langit
hijau warna
masih saja, ya masih saja mencoba lepaskan gerah
dan kering cahaya
hiruk-pikuk di gamang-gamang lapisan subur berkubang
jejak lubang,
lubang-lubang sampai ke batas nganga, dan nganga itu
telah pula
hadirkan rupa-rupa wajah pendatang, sementara kita
melepas jerat saja tak mampu di cercah gelak dan tawa,
senyum kita  terkunci,
terkunci oleh kebodohan diri sendiri, tak tak  tak,
 – tak mampu menepis buta,
buta bahwa kita masih dilena dalam kungkung dan buai
morgana, morgana
dalam sekap-sekap pendar cahaya

di puncak pucuk daun kerontang kita lihat ujung monas
yang tajam,
tajam menghujam,
dan kisah rimba raya, kisah hutan-hutan penuh misteri;
lenyap tanpa cerita
kalimantan, biarkan kami yang bicara
bicara di antara debu dan degup jantung berpacu

berharap yang lain bicara, tak ada suara, dan sungguh,
tak ada suara
kalimantan, biarkan kami yang bicara
bicara dengan senyum terkunci

ketidak-adilan itu tetap saja ada di sini

/asa, banjarbaru, 14 Juli 2013


Durian Gantang, Suatu Pagi

Embun masih segar di telapak daun
tengadahkan wajahnya ke arah terbit matahari

Dingin masih suntuk menimbun
suara pikuk  piaraan kerja-mengejar menghampiri

Durian gantang, suatu pagi
pohon-pohon masih segar berdiri

/asa, banjarbaru, 13 januari 2011


Jendela yang Kita Baca

susunan papan berkeping luruh itu semakin lusuh
di hamparan pasir
engkau dan teman-teman lainnya menenggelamkan
kapal di tengah
lautan semakin bergelombang semakin gemuruh;
pasir bergelora
sudah kita rangkai sejumlah kata, dalam catatan sejarah usang
atas nama peristiwa yang semakin bergejolak, jendela
patah penyangga
jendela berlubang-lubang, tembus cahaya pagi siang sore
juga malam

ada banyak riak atas gelombang, ada banyak memang
ada yang tak pernah tuntas kita renungkan,
ada banyak memang

maaf, bila hanya sekedar mewakilkan kalian
di satu wilayah yang tak seharusnya kalian tempati
karena ucap dan laku tak ubahnya luka berkepanjangan

jendela yang kita baca, seperti kobaran api di sekam-sekam

/asa, banjarbaru, desember 2013


Gugat: Diang Ingsun

selembar harapkah yang terbayang ketika restumu
membuka jalannya
menuju harum tanah, tanah seberang
Segumpal salahkah yang membentang ketika badai itu
merintang langkahnya
menuju diam, diam sediam batu

seperti kabar telah disampaikan bahwa kedatangan putramu
mengetuk daun-daun pintu, sebelum terbuka
   lantaran angin menderu
engkau telah bertahun-tahun penantian; rumah
   tak lagi berpintu,
jendela, perintang cahaya pagi, terbuka selalu
mata lusuh sampai ke batas-batas kelu
alas bantalmu, alam bantalmu; adalah wajahnya
   yang engkau tunggu

naluri seorang ibu, harum baju dan lambai kerena restumu
dahulu, sejarah yang itu menuju kekosongan waktu
ujung jemari yang kian gemetar, tegak melurus lidi sapu

“… anakku anakku, ia yang berdiri itulah anakku
singkirlah ke tepi, dermaga ini telah lama mati
selaksa hari yang memenuhi hari-hari
hanya menanti, tak ada yang lain, hanya menanti
biji-biji kapuk di bantalku bertumbuhan daun-daun
air mataku telah menghumuskan pembaringan
antara gerai rambutku yang terselip di sela-sela bayangmu
pelupuk mata ini tak dapat berpejam sebelum hadir
aroma tubuh kecilmu, teramat kukenal selalu …”

di langit, elang mengepak berputar-putar
kulik-kuliknya menyambut putramu di balik bukit perahu

di sini, di rerimbun daun dan gemericik air di batu-batu
sejarah, entah dalam catatan siapa, telah terbaca
   beragam aksara
tentang hebatnya gemuruh samudera
dari gigil yang dilontar, dalam tengadah

“… anakku anakku, ia yang berpaling itulah anakku
singkirlah ke tepi, dermaga ini telah lama mati!!!”

/asa, banjarbaru, 12 januari 2011


Surat Putih Seberang Selat

bagimu cinta bukan hayalan

bersoal di ujung ranting, cintamu datang sangat tiba-tiba
kita bicara masa dahulu merajut benang-benang asmara
berpantun kita berdua dalam gerimis di tudung senja
senyumlah wahai, kakanda di kanan sebelah adinda

bagiku kasih satu untuk berdua

semenjak ombak bergulung datang
menerpa di rongga-rongga dada
semenjak tombak menghalang rintang
bersua kita di tuba-tuba cuaca

pasir bagimu adalah muara

telanjang kaki menyusur pantai di batas laut warna biru muda
bersama buih di pucuk-pucuk ombak gemuruh
terselip mimpi waktu bertemu saling menawarkan makna
namun dekapmu jarak merentang jauh

manara bagiku jemari kita

suratmu lenyapkan kata, terbaca jelas ketika tiba
kuhapus segara, datang bertubi berganti rupa
apa yang harus kita ulangi lagi membaca
hampir punah aksara di lembar-lembar sejarah buta

/banjarbaru, juli 2007


Orang-orang Tambilahan
(tentu saja kita boleh bermimpi)

redup bola matamu, kita tentu saja bukan menjarah
saudara sendiri
turun kakiku dari anak tangga panggung malam, selimut
telah mengulurkan
tapak tanganmu menjadi hangat dalam genggam; bukan perih
tetapi tentu saja aku boleh bermimpi

ketipak gendang, rancak bertingkah dari derap
   ke penghujung derap
engkau tidak sendiri, berkawan senyum ramah
   di sudut pertemuan
aku ingin berlari, tetapi ada jerat dalam kerinduan
tentang kampung halaman
bukan hanya aku
tetapi engkau juga tentu boleh bermimpi

siapa di antara kita yang pantas disebut nenek moyang?

berjejer sudah lembar-lembar catatan sejarah
hanya sebatas mimpi, tentang kembali pada kampung halaman,
bertahun sudah
bertahun seperti yang kalian ceritakan padaku malam itu
malam usai pembacaan sajak, jabat tangan kalian
bertambah hangat

siapa pula di antara kita yang menjadi tamu
di tanah-tanah jauh?

entah kembali kepada entah
entah di batas keturunan mana ketika pertemuan itu
menjerat, tetapi tidak harus menjebak
karena kita
tentu saja boleh bermimpi; tentang rindu tentang diriku-dirimu
orang-orang Tambilahan
orang-orang tanah rantauan

dari redup bola matamu
cermin sahaja
wajah dan tatap mata
kerinduanku di tanah-tanah jauh
engkau tiba-tiba saja menjadi abadi
tentu saja kita boleh bermimpi
tanda bahwa masih ada harapan di setiap pertemuan
tentang kabar kampung halaman, di penghujung pembacaan
sajak kita terkenang
karena kita
orang-orang pahuluan

/banjarbaru-asa, 15 juli 2008 (sepulang dari Jambi)


Gumam dari Istana Daun Retak

telunjuk mengarah pada satu titik, istana daun retak
bertahun sudah mencoba membangun
lembar-lembar daun, dari yang berserak kepada menghimpun
telunjuk itu membuka garis-garis di telapak

lihat, ini pasukan cicak di belantara
rimbun daun dan jejak-jejak
dengar, suara-suara gemeretak
dari helai-helai daun yang mulai retak
kering, lusuh-lapuk menuju lenyap

sebagaimana hikayat dari bangunan sebuah istana
pasir-pasir menjadi perih di tempias ujung kelopak
buih-buih dari berjuta akan selesai bila telah berucap
ternyata tidak segampang itu ternyata tidak semudah itu
ternyata tanah tempat bangunan istana itu
terbuat dari serak-serak rerimbun daun-daun retak
runtuh pun mengancam di puncak
mahkota mahkota, ya mahkota dari cuaca terkuak
tak jua tak tak memperjelas gerak tak

lihat, ini pasukan manusia kelas paling miskin
berduyun berjejal terinjak-injak
dengar, gemuruh di dapur-dapur lusuh dan sakit
pasukan perut yang selalu melilit

setelah ini, siapa lagi tampil mendaftar
istana daun retak

banjarbaru, 19 januari 2010
saat di luar gerimis tipis mengepung sepi


Tafsir Rindu

Mendamai hati dalam gaduh-gemuruh;
darah untuk Yahya, sembahyang terakhir
dan ngilu tubuh batang pohon, gergaji perih
tubuh Zakaria
tetapi tetap bernyanyi. Nyanyian semakin tinggi
membelah malam, menembus siang
ke tingkap langit, lewat dingin api Ibrahim, tenang
Mendamai hati dalam gaduh-gemuruh;
damai, damai, damai, Perindu, Perindu, Perindu
getar kilat pedang Ibrahim, Ismail terlentang, Wahai
langkah tenang, kata-kata tenang
Perindu mengenang mata tajam, Muhammad tenang
pelayaran di atas riak gelombang, laju deru layar Nuh
Mendamai hati dalam gaduh-gemuruh;
damai Yusuf dingin dasar bumi
Yakup melangkah di terang jalan, aroma jauh
dalam kebutaan
ngingir kuman di tubuh Ayub. Sendiri dan sendiri
sendiri Yunus dalam lendir perut ikan
para nabi, para rasul bernyanyi dan bernyanyi
Menanti putusan terakhir di peraduan telanjang;
bagai tanah retak mencium bau gerimis
di ujung musim kemarau. Hujan, datanglah hujan
datang, datanglah datang
bukan hanya gerimis di siang. Bukan hanya bayang
ditempa sudah, diperam sudah, dicambuk sudah
Menjadi diri-sendiri ditempa diam Wahai;
Perindu membentuk-dibentuk, memusnah-dimusnah
dalam diam segala diam. Dalam diam ternyata
ada Wahai
ada gerak memahat jiwa, melukis sukma
o, Perindu menatap rembulan, perlahan menghilang
kemudian terbit siang. Mengerti adanya pergeseran
Mendoa di segala sikap;
ya, Wahai, tak ada yang dilupa untuk Wahai
segala dari Wahai. Tubuh ini, jiwa ini
segala dari Wahai. Langit ini, bumi ini
segala dari Wahai. Perputaran ini, tata surya ini
ya, Wahai, tak ada yang dilupa, selalu doa
Mengekalkan nama di pasir berombak;
Perindu merebahkan tubuh di hamparan pasir
menulis nama Wahai, di sana, datang ombak
datang laut. Tulisan lenyap tak dikehendak
menulis lagi. Sebuah nama hapal dieja
datang ombak, datang laut. Tulisan lenyap. Tulis lagi
Merajut serat-serat benang Kekasih;
benang-benang merah memulun hati, bergumpal
mencari pangkal, menangkap ujung
bergumul-menggumul. Perindu, penenun abadi
mencipta kain, tak tampak helainya
sebab untuk jiwa, siapa yang dapat menatapnya?
Merenungi lingkup kaki langit;
mengerti kecil, paham yang besar
mengerti buta, paham akan pengertian
siapa di dalam, silahkan keluar
siapa di luar, silahkan masuk, tetap menunggu
Perindu menggenggam keyakinan hakikat kaki langit
Mendulang ke dasar bumi, merabuk batu murni;
menembus lapisan demi lapisan. Cakar dibuka-bentang
tangkap membayang bagai sayap mengembang
mata tajam menembus sinar terang
sambil berzikir, bercakap pada sumber
oh, perindu, tak kenal lelah, bebatuan, dasar lautan
Menyelam ke dasar lautan;
meraih debu laut, bagai ganggang melayang
tertangkaplah jejak kerang. Mutiara di dalam
dari debu, pasir, mengeras gerah, Wahai
membatu berselimut cahaya
di dasar, Perindu, tersenyum menatap ingin
Melangit harap terhampar di bumi bergulung;
tak ubah tangis bayi, tangan mengulur pinta
semuanya harus tercipta. Perindu membayang angan
enggan berganti, enggan membagi, enggan berbagi
dengan langkah lain pun sukar mempercayai
sebelum dapat Wahai dalam pelukan
Mengulur timba sampai ke pucuk-lunas;
terasa ada yang tersisa. Masih
bila hanya mengukir di tepi-kali-luka, di luar
ke dalam menghirup sari pati
puncak segala puncak, pucuk segala pucuk
yakin bahwa dalam biji masih ada lembaga dan jiwa
Membilas wajah di bening telaga-danau;
di zaman debu
walau mengepul asap mengatas deru
hutan dunia menjadi ladang berburu
keruh segala keruh, lusuh segala lusuh
di gersang zaman debu. Setelah dapat mati tak apa
Berwudhu kumpulan embun, mencair di telapak;
manusia menghisap darah manusia
selain Perindu, Wahai, dan Kekasih
adalah mengental nanah dimamah, akh
Perindu berwudhu
membayang kerabat celaka, menimpa jauh dari Wahai
Berhembus ketika diam bunga;
rumput kering di muka, api di tangan membara
terkejut. Diam seketika. Kagum bertatap tiba-tiba
Kekasih. Datang, selalu datang
dan kemilau salam, gemamu tertangkap di taman
pertemuan tak terduga. Musim hujan, bunga
Menyibak kabut, mengurai benang kusut;
ketika badai mengamuk, bergelombang, bersahut
dengan cahaya membelah gumpalan hitam.
Darah siapa
selain duri dan debu
ternyata luka hari pun mengikuti
dan waktu selalu memburu. Bahkan di muka
ia menyeru
Mengisi lapar dengan batu kali-jalanan;
mengerti lapar tak kenal lapar
menggelepar. Wajah dipajang. Kotak kaca, oh, kejam
mulut menganga, membuih senyum berkembang
tengadah. Kaki bersila di tikar. Basah dari atas puja
tak ada yang lain, hanya Wahai Kekasih
Menggurun langkah-kaki telanjang;
mengerti panas, tak kenal panas
pasir batu lembah sumur kering haus duh duh
menyingkirkan asap dupa. Tak ada siapa-siapa
Perindu, gila dalam kesendirian. Alfa untuk yang lain
bebas menyiksa. Batin termakan bisa, memakan bisa
Menepis waktu;
bila sudah begini, Perindu tak dapat dikekang
walau waktu. Hari-hari pun lepas dari pandang
sepi bergelut. Sendiri, sampai sendiri
tak kenal tepi. Menangkap untuk segera berhadap
Perindu selalu lekat, tak lepas dari dekap
Membunuh raga, menyalakan jiwa;
darah dari jantung, menetes luka, bukan apa-apa
segalanya untuk Wahai. Berseru, mencipta gema
memantul di setiap sudut, untuk Wahai
Perindu menyeru, memanggil deru
enyahkan serpih-serpih debu, untuk Wahai
Bergumam dalam mimpi;
datang, datang, datang. Tak jauh, tak pergi
Perindu tidur nyenyak dihembus angin
hanyut dalam badai, tak kenal badai
hangus dalam api, tak kenal api
akh, mari, ke sana- ke mari, untuk, dan … aakkhhh
Menembus batas-jalan kawat berduri;
dalam perang, Perindu tertembak, luka, limbung granat
lalu tertusuk panah, membiru, bercecer
darah di pundak
datang pedang membabat, mencencang tulang
luka demi luka belum kering, perindu berucap:
“Bertemu di sini, Kekasih,” tersenyum
menatap Wahai
Menyimak suara-suara dalam tangis bayi;
“Oh, janjiku pada dunia. Berwarna, bersilang
setujuku berarti hidupku. Dari Wahai aku ada
perjanjian hidupku adalah tanggung-jawab diriku
aku, bagaimanapun juga akan menuju sendiri
yang lai adalah udara untuk napas-hidupku.”
Menyimak suara-suara dalam tangis bayi;
“Oh, tatapku yang pertama, tangisku, air mata luka
jalanku di dunia. Jalan harapku di sana, Wahai
jalan yang berliuk-garis. Lekuk-melekuk, Wahai
bercabang, beranting. Lurus, meliuk, melingkar
tak terduga, samar pada mata terbuka-telanjang.”
Menyimak suara-suara dalam tangis bayi;
“Oh, biarkanlah aku melangkah ke diriku yang aku
setiap engkau adalah dermaga yang sementara
begitu pula dermaga-dermaga yang lain
di ujung perjalananku, di sana, bersama Wahai
ada aku yang setia menunggu, sampai aku tiba.”
Menata diri dalam dekap sepi;
di tempat yang sepi, diriku berdiri, sendiri
berbenah dan menata bekal, menuju peristiwa diri
untuk sebuah jaringan perjalanan, bulat-berbelit
setiap langkah adalah lingkaran
setiap buhul adalah istirahat yang tidak kekal
Menyusun kata di dinding angin;
ia adalah saksi setiap perjalanan
ia adalah bukti adanya kehidupan
tak akan hilang. Abadi. Ya, abadi
karena angin selalu ada. Bergerak. Ya, derap
penyampai pesan antara bumi dan langit
Melayang di arus tata surya;
alam bunga, alam bunga, alam bunga. Zikir ditata
simaklah dengung nurani bergema. Cahaya
bersimpuh. Mata terkatup, duh, Kekasih
putar-berputar. Bagai gabus, tenang di muka air
hanyut bersama cahaya matahari dan bulan
Berselimut dingin cuaca;
dalam kamar remang, telanjang diri, bercakap sepi
membuang cakar, enggan berbagi
oh, dingin. Perindu membaca diri
pada cermin masa lalu
yakin tak kuasa, tapi menguasai-dikuasai
memeluk Wahai. Oh, matahari di kamar ini
Meneguk duri sari bunga;
tak bertanya di mana kini. Mabuk, mabuk cuaca
mata-angin pun tak peduli, siapa
melingkup kelopak bunga, memamah durinya
seteguk bertambah teguk untuk mabuk.
Racun diteguk
Perindu duduk-bersila, mengucap zikir,
sebut-menyebut
Menangis bahagia, kuntum teratai;
maaf menghapus dusta, teratai
air mata menjelma bening danau. Tampak dasar
berbatu, perindu membungkam keruh.
Tenanglah teratai
berkuncup putih, kuning sinar di tengah
daun melebar mengundang datang, Wahai
Berulang menatap rupa di telaga;
tanpa menyentuh permukaan, bening dan tenang
menikmati riak kecil gelombang, ditiup angin
sehelai daun jatuh melayang, pelan
tanpa mengusik keasyikan. Malam dan siang
mengenal sampai ke lekuk-lekuk. Rupa demi rupa
Menata debu, pasir dan batu, seakan bisu;
membayangkan berdirinya istana dan menara di sana
sinar lampu di puncak. Tinggi menyebar bunyi
apa, siapa, mengapa, di mana, untuk apa, dari mana
Perindu bekerja sendiri, lalu sendiri, seakan bisu
Perindu membuta sekeliling, semua dianggap gila
Menantang maut di jalan sepi;
menolong sudah, ditolong sudah
berdiri di titik kosong. Ada yang ditunggu, datang
petuah sudah, nasihat sudah
tegak, pasti. Tak akan berpaling, datanglah
juga tak akan undur, walau selangkah
Tafakur dalam setiap ruang-waktu;
dari sendiri kembali sendiri
dalam pikuk pun tetap di tengah sepi
mengerti gaduh, tak kenal gaduh
mendengar lalu menyimak, mencari lalu menangkap
berzikir tentang diri, sadar akan kembali
Berdesir membisik angin;
Wahai, Perindu di sini, tak berbilang kata untukmu
di luar dan di dalam sama. Rata diputar cuaca
menyimak titik-titik embun
membercik ke lantai kamar gerimis
sebelum hujan. Salam untukmu, Wahai, Perindu di sini
Menabur benih di ladang;
sebagai tempat berhadap. Di taman, Perindu datang
semua warna ada. Jangan tinggalkan, Wahai
bisik desau di dahan
kembang kuncup merekah semai
Perindu akan segera menuai
Melingkar jalan di titik putar;
sapa dan salam, bermula dari jauh, untuk sampai
bentangan harap sudah panjang, sejak mengerti
ketika lupa arah semula. Kembali ke pangkal
bayangan tak lepas, sinar dan cahaya
pertanda Perindu paham di mana sumber
Menolak bias jalan hujan keabadian;
Perindu menadah lurus jalan. Dari atas ke bawah
bukan percik yang diraup
langsung ke sumber, inti pati, jatuh, lurus
tegak dari atas ke bawah. Bukan dari tangan lain
sejuk Wahai Kekasih. Tak ada yang lain,
walau bayang sendiri
Bertolak dari jauh menuju dermaga istana Wahai;
riak demi riak, mendekat
ombak demi ombak, mendekap
dermaga, istana Wahai, menggapai-gapai
mesra menyambut. Samar-samar tertawa
mengecup duh senyum tanah pijak, tanah harap
Menyusun tulang-belulang sendiri di pusara;
di tengah ruang sempit ini, ya, pusara
tak ada yang dapat melepaskan pengikat jiwa
kulit hancur, daging hancur
tinggallah tulang-belulang tersebar, sementara
kemudian disusun ke aslinya. Lalu lenyap juga
Meniti di tangga tingkap langit biru;
satu-satu dilewati-melewati
sampai ke batas puncak paling tinggi
di sana bernyanyi, mengucap salam
Perindu datang, sendiri-sendiri
Wahai membalas salam, membalas nyanyi

/Durian Gantang 1989 awal tulisan,
penyelesaian di daerah Sebamban 1991


Tentang Ali Syamsudin Arsi
Ali Syamsudin Arsi lahir di Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan. Kini tinggal di kota Banjarbaru, Prov. Kalsel. Pendiri dan Ketua Forum Taman Hati, diskusi sastra dan lingkungan, bersama M. Rifani Djamhari. Pendiri dan Pembina Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru. Menerbitkan 7 buku ‘Gumam Asa’ yang berjudul: 1. Negeri Benang Pada Sekeping Papan (Tahura Media, Banjarmasin, Januari 2009). 2. Tubuh di Hutan Hutan (Tahura Media, Banjarmasin, Desember 2009). 3. Istana Daun Retak (Framepublishing, Yogyakarta, April 2010). 4. Bungkam Mata Gergaji (Framepublishing, Yogyakarta, Februari 2011). 5. Gumam Desau (Scripta Cendekia, Desember 2013). 6. Cau Cau Cua Cau (2A Dream Publishing, Juni 2014), 7. Jejak Batu Sebelum Cahaya (Framepublishing, Yogyakarta, Oktober 2014).
Bersama Balai Bahasa Kalimantan Selatan menjadi narasumber agenda “Bengkel Sastra” bagi siswa dan juga bagi guru di banyak kota dalam provinsi Kalimantan Selatan.
Tahun 1999 menerima hadiah sastra dari Bupati Kabupaten Kotabaru. Tahun 2005 menerima hadiah seni bidang sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan. Tahun 2007 menerima hadiah sastra bidang puisi dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin. Tahun 2012 menerima penghargaan pada acara Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra, Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Pariwisata, Budaya dan Olah Raga. Pada malam Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra tahun 2014 kembali mendapat penghargaan sastra oleh Pembko Banjarbaru melalui Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, penilaian berdasarkan standar kekaryaan dan aktifitas bersastra.
Alamat rumah: Jalan Perak Ujung nomor 16, Loktabat Utara, Banjarbaru, 70712. Hp : 081351696235 (sumber: facebook yang bersangkutan :D)


Catatan Lain
Di belakang buku ini, ada bagian yang disebut sebagai catatan apresiasi. Yaitu catatan oleh Dimas Arika Mihardja yang dijuduli Gemuruh Puisi Ali Syamsudin Arsi (hlm. 147-151), Sumasno Hadi dengan tulisan Luka-luka Menganga Bumi Kalimantan: Sebuah Peta Awal Menuju Kenyataan Kita (hlmn 152-156), juga separagraf catatan kecil Sainul Hermawan dan Jo Prasetyo. Saya hanya akan mengutipkan pernyataan Sainul yang “lucu” itu: “Sekitar tiga tahun terakhir Ali lebih memilih mendahulukan penerbitan gumamnya. Sungguh saya lebih bahagia menyambut kehadiran buku ini daripada gumamnya. Beberapa puisi dalam buku ini pernah saya nikmati pertunjukkannya baik dari penyairnya sendiri maupun dari kelompok pecinta puisi di Kalimantan Selatan. Selamat datang di jalan terang, baik dan benar: jalan puisi.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar