Selasa, 01 September 2015

Karsono H. Saputra: PURNAMA MENYENTUH STUPA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Purnama Menyentuh Stupa
Penulis : Karsono H. Saputra
Cetakan : I, Juli 2004
Penerbit : Wedatama Widya Sastra, Jakarta.
Tebal : vi + 42 halaman (36 puisi)
ISBN : 979-3258-23-3
Rancangan sampul : Soorjo Sani Santoso

Beberapa pilihan puisi Karsono H. Saputra dalam Purnama Menyentuh Stupa

Penari

aku ingin mengajakmu menari di atas pentas
tak usah pakai bedak, tak usah pakai gincu
bahkan busana pun apa adanya
keindahan tari kita bukan semata karena bedak dan
gincu, apalagi tata pentas, tetapi bagaimana kita
mengikuti irama, mengisi panggung, dan melakukan
gerak secara benar berdasar aturan.

sesekali kita harus melompat tinggi-tinggi, kadang-
kadang bergerak mendatar, atau bergulingan. sesekali
kita harus berpencar karena tuntutan pola lantai, bahkan
sesekali harus menyapa penari lain. yang pasti pentas
ini milik kita, berdua, karena kita pemeran utama.

dan, kau penari luar biasa, bukan semata setia mengikuti
tata tari, namun imajinasi dan improvisasimu mengisi
ruang-ruang kosong dan memperkaya matra. maka, aku
tak mau penari pengganti.


Yang Tak Wadag

suara itu menghentikan langkahku agar berpaling ke langit
bukan sekedar jeda
juga untuk berhitung
sebab hidup bukan hanya darah dan daging, tetapi juga roh
sebab hidup bukan hanya perhitungan, tetapi juga pengendapan
sebab hidup bukan hanya kemauan, tetapi juga kesadaran

suara itu mengingatkan kebesaran hu sang alfa-omega,
yang tiada awal tiada akhir, yang nyata meski tak wadag,
yang maha
suara itu menuntunku untuk tafakur



Kejujuran

aku lebih banyak tinggal di kepala kanak-kanak atau
bahkan orang bodoh

aku tidak suka orang pintar karena mereka lebih sering
mengejekku dengan manipulasi dan perekayasaan

aku lebih dekat orang miskin dan orang sederhana
karena mereka selalu menerima apa adanya

aku berada bersama rakyat jelata karena mereka tidak
bicara dengan mulut dan kepala tetapi bicara dengan rasa
aku mengindari para penguasa karena mereka tak
sama antara kata, rasa, kepala, dan cita

dulu sekali
aku sering menyelinap di hati nurani
tetapi, kini, makin sedikit orang yang memilikinya
maka, aku lebih banyak tersia-sia


Syak

buat apa bicara cinta, jika
pelangi sudah tidak memantulkan warna
dan angin selalu menebarkan bau busuk ketidakpercayaan
bukankah cinta itu panjang dan sabar dan setara
bukankah cinta itu rentangan tali yang selalu bergetar
dan bergerak sementara kita berada di antara
kedua ujungnya
memang, cinta tak selamanya putih. kadang jingga
kadang temaram kadang tawar. tapi kita
sepakat matahari tak harus membakar malam
dan bulan tak harus meniti pelangi


Nyanyian Desa

gemericik air, wangi lumpur sawah, lenguh kerbau
luruh terbengkalai

kanak-kanak telanjang
berlarian, tanpa ada panggilan karena
emak bapak mereka dipinang orang kota sebagai
pembantu tumah tangga, penjaga pintu, atau
penyapu jalan
dan orang-orang renta
sepi menanti sisa-sisa hari

tak ada lagi suara lesung, seperti juga parem dan
boreh yang diganti tahi mesin

nyanyian desa kini sumbang tertelan zaman


Selamat Pagi

selamat pagi. sudahkan tuan baca koran hari ini?
apa komentar tuan tentang banjir dan bah dan
tanah longsor dan gempa bumi di seluruh negeri?
kuasa alam, tuan bilang? dan musibah? alam
mahabijaksana, tuan tahu itu. kemarahan alam
karena semena-menaan. dan tuan selalu diam
karena tuan juga punya kepentingan. jadi, kini
tuan mau cuci tangan dan pura-pura jadi
pahlawan?

selamat pagi. sudahkan tuan baca koran hari ini?
apa pendapat tuan tentang penggusuran dan
penertiban, yang selalu dengan penindasan? di
mana kedudukan tuan? kepentingan apa dan siapa
yang tuan pertahankan?

selamat pagi. sudahkan tuan baca koran hari ini?
apa pendapat tuan tentang pencurian dan
penipuan dan penggelapan dan akal-akalan yang
dilakukan kelompok tuan? tuan tidak tau? atau
pura-pura tidak tahu? atau tuan malu karena diam-
diam tuan juga berbuat begitu?

selamat pagi. telalu banyak hal buruk yang
sebenarnya tuan ketahui tetapi tuan tak melakukan
apa-apa atau tak berani melakukan apa-apa
karena kepala tuan dan kaki tuan dan tangan tuan
bahkan juga kepala tuan tergadai oleh hasrat dan
keinginan tuan bahkan juga tindakan anak dan istri
dan keponakan tuan.

jadi? apa yang harus aku katakan? masihkah tuan
diperlukan di negeri ini


Prambanan (2)

senyum itu, seperti bukan yang pernah kulumat saat
bening opak memeluk purnama

mata itu, seperti bukan yang pernah kuseka saat
purnama menyentuh stupa

rambut itu, seperti bukan yang tergerai saat napas
terpaut di ujung senja

kau dan aku ternyata anak-anak bandung dan jonggrang
yang tertimpa kutukan


Mimpiku

mimpiku mengembara dari ujung malam ke ujung   
malam
sesekali mengusik nyenyak tidurmu
dan membawamu ke angkasa memetik bintang-        
bintang, di langit

mimpiku menyusuri sepi, menjemputmu di batas
harapan
adakah mimpiku bertaut dengan mimpimu
supaya besok di ambang fajar ada lorong baru yang
kita lalu bersama


Pengakuan

cobalah sejenak hening
luruhkan hatimu, supaya tak selalu diharu biru desah
angin
langkah kita sudah jauh ke depan
meninggalkan galur, jejak, dan tapak
sesekali langkahku terantuk bintang, memang
tetapi masih dalam batas kesadaran
tak ada luka, apalagi hilang
rumahku tetap di keteduhan matamu
dan bahagiaku tetap di lapang dadamu


Ragu

rindu yang kemarin kau kirim
terjuntai di ujung mimpi
ada ragu, karena matamu menyimpan prasangka
mungkin masih ada waktu tersisa
tetapi matahari sudah lelah menghela asa
bulan pun enggan berbagi rasa
cuma langit yang belum bicara
maka, tak perlu berpura
angin akan memilih:
menabur aroma atau jelaga


Puisi Kasih

kutulis puisi kasih di lengkung langit
agar kau bisa selalu melihat dan membaca
meski tak harus menerima
kutulis puisi kasih di awan
agar selalu bergerak mengikuti ke mana pun
langkahmu terayun
kutulis puisi kasih di bulan
agar pendar sinarnya menjaga nyenyak tidurmu
di sepi malam
kutulis puisi kasih, untukmu
karena cuma itu yang aku bisa


Desember

aku datang lagi, kali ini
tetapi tak kurasakan getar di nadi-nadi darah
karena altar berubah menjadi pentas datar
dentang lonceng sekedar penanda sekuen
pendar lilin bukan lagi terang kasih yang menyelinap
di keresahan jiwa lelah termakan dunia dan
keinginan
firman seperti tak lagi membasuh kepenatan

kucoba menyeruak di antara amsal dan mazmur,
sendirian
sendiri!
sementara suara di sekeliling seperti kumbang
mendengung tanpa roh dan tanpa makna
masihkan aku harus datang lagi, lain kali?


Kasih

cinta menggamit saat lenganmu melingkar ke
jantungku, menghangatkan tubuhku
kasih menghela saat jari-jemarimu membelai keping
hatiku, meneduhkan jiwaku
maka
kutuang senyum di bidang dadamu
sebagai persembahan kasih, permadani kehidupan
kita, berdua


Tentang Karsono H. Saputra
Tak ada biodata penyair di buku ini. Silakan bertanya ke mbah google. J


Catatan Lain
Di sampul belakang, ada kutipan puisi yang berjudul “Syak”. Kecuali tiga baris pertama, puisi itu dikutip utuh. Buku kumpulan puisi ini juga diapit oleh semacam “puisi”, yang baik depan maupun belakang dijuduli dengan judul yang sama, yaitu Purwawacana.

Berikut yang bagian depan (hlm. 1)

Purwawacana

puisi, kata orang,
merupakan dunia kata;
tetapi kata bukan dimaknai menurut
yang tersurat, melainkan melampaui
makna primernya. salah satu ciri puisi, kata
orang pula, tak hanya ada
satu makna; maka terserah
anda, para pembaca,
memaknai puisi-
puisi dalam
buku ini

Ini yang bagian belakang (hlm. 41)  

Purwawacana

terima kasih
untuk para pembaca
dan siapa pun yang
menghadirkan
ilham dalam
antologi ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar