Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 02 Oktober 2016

BILA IBU BOLEH MEMILIH




Data buku kumpulan puisi

Judul : Bila Ibu Boleh Memilih
Penulis : Ratih Sanggarwaty
Cetakan : III, 2009 (cet. I: 2004, II: 2005)
Penerbit : PT. Dian Rakyat, Jakarta
Tebal : xiv + 98 halaman ( puisi)
ISBN : 979-523-700-4
Disain cover : Nurahman
Foto cover : Roy Genggam
Busana : Sang Saqina & Al-fath
Lay out : Mien AZ
Kata Pengantar : Taufik Ismail dan A. Mustofa Bisri

Beberapa pilihan puisi Ratih Sanggarwaty dalam Bila Ibu Boleh Memilih

AKU TIDAK PEDULI

Masih jelas dalam ingatanku
Aku melihat tas itu di Etalase sebuah toko di
Rue Saint Honore kota Paris
Jatuh cinta aku dibuatnya
Aku lihat pintu toko tertutup
Hatiku ragu untuk masuk,
Meski aku yakin toko itu buka
Walau tidak ada label “Open” di depannya
Ragu aku… takut aku…
Yang kutahu…. jangankan membeli
Masuk kedalam tokonya saja
Dilihat dari ujung rambut sampai ujung kaki
Pantaskah atau tidak seseorang masuk ke
   dalam toko itu

Aku mulai gelisah….
Tapi rasa ingin memiliki tas itu mendesak-desak
   terus
Akhirnya… aku angkat daguku, agar terlihat
   angkuh
Aku tegakkan kepalaku, agar terlihat pantas
Aku tegapkan dadaku, agar terlihat sombong
Dan… benar… usahaku tidak sia-sia… ketika
   pintu dibuka…
Pelayan toko menyambutku dengan
   sumringah…
Dan mulutnya terucap dengan mata berbinar
   “bonjour madame…….”
Maqom egoku terangkat, kelas status sosialku
   meningkat…..
Password “Bonjour Madame” adalah kata
   kunci,
Bahwa anda tidak layak meninggalkan toko itu
   tanpa membeli….

Aku menuju display tas yang kumaksud
Pramuniaga yang necis di bagian tas itu, hanya  
   melirikku….
Hatiku ciut……….. minderku mulai merebak,
Dan dengan nada yang dingin dia berkata
   dalam bahasa Inggris
“The Price of This Bag is $5000, And We Will
   Send to You After 6 Months”

Wow…….5000 Dollar……. Kalkulator di
   kepalaku melayang-layang menghitung
   puluhan juta dalam rupiahku tercinta….
Itupun aku belum dapat membawanya pulang
   sekarang
Itupun…….. Aku harus pesan dahulu dengan
   membayar lunas,
Dan baru 6 bulan lagi tas akan dikirim……….


Aku ingin mundur pelan-pelan
Aku ingin mengabaikan seluruh keinginanku
Aku ingin cepat-cepat keluar dari toko itu
Tapi……… tapi……. nada dingin itu … lirikan
   penghinaan itu…
Menyodok-nyodok harga diriku
Aku tidak ingin dia tahu, kalau aku ragu-ragu
………………………….. aah…………………………………
Aku gengsi…………aku mampu……….aku bisa
   membeli……….
Akhirnya………….
Aku keluarkan lembaran-lembaran ratusan
   dollarku……..
Aku bayar tuntas lima ribu dollar aku bayar
   lunas
Aku bayar lunas lima ribu tanpa aku peduli

Harga itu dapat untuk membangun sebuah
   kelas……
Bahkan satu sekolah di dusun yang telah porak
   poranda
Aku bayar tuntas lima ribu dollar tanpa aku
    peduli
Harga itu dapat menyantuni puluhan bahkan
   ratusan anak yatim
Aku bayar tuntas lima ribu dollar tanpa aku
    peduli
Harga itu dapat menyembuhkan satu bangsal
   anak-anak yang
terkapar tanpa daya karena
tidak ada biaya
Aku tidak peduli
Aku tidak peduli……..
Aku tidak peduli……..
Sekalipun aku tahu, aku tidak akan
   membawanya bersama kafanku nanti
Bahkan aku tidak peduli

Kalau pada suatu hari “nanti” aku harus
   mempertanggung jawabkan dari mana uang
aku dapatkan. Kemana saja rizki
Aku kemudikan

Jakarta, 2 Oktober 2003


PADANG MAHSYAR

Aku tidak tahu dimana aku berada
Meski banyak manusia disekelilingku
Namun aku tetap merasa sendiri dan
   ketakutan
Aku bertanya-tanya tempat apa ini… dan …
Untuk apa semua manusia dikumpulkan

Rasa takutku makin menjadi-jadi…
Tatkala seseorang yang tidak kukenal
   menjawab pertanyaan hatiku
“Inilah yang disebut padang Mahsyar”
Aku menggigil, tubuhku terasa lemas mataku
   tegang mencari perlindungan dari seseorang
   yang kukenal

Kusaksikan langit menghitam
Sesaat kemudian bersinar kemilauan
Dan terdengar suara menggema
Aku baru sadar, inilah hari penentuan
Hari dimana semua manusia akan menerima
   keputusan akan balasan amalnya selama
   hidup didunia

Aku semakin takut… aku semakin ciut…
Namun ada debar dalam dadaku, mengingat…
Amal-amal baikku didunia
Aku dan semua manusia masih menunggu…
Menunggu keputusan dari yang menguasai hari
   pembalasan
Tak lama kemudian terdengar lagi
Suara menggema tadi yang mengatakan
   bahwa…
Sesaat lagi akan dibacakan daftar-daftar
   manusia yang akan menemani Rasulullah
   saw di surga yang indah
Lagi-lagi dadaku bergetar, aku yakin namaku
Termasuk dalam daftar itu…
Mengingat banyaknya infak yang aku
   sedekahkan
Mengingat banyaknya zakat yang aku berikan
Mengingat ibadah-ibadahku dan perbuatan
   baikku lainnya

Akhirnya nama-nama itu disebutkan…
Dalam daftar itu, Muhammad Rasulullah
   tersebut
pada urutan teratas
sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa…
“Tidak satupun jiwa yang  masuk surga
   sebelum Muhammad saw”

Setelah itu tersebutlah para assabiqunal
   awwalun
Kulihat Fatimah az Zahra dengan senyum
   manisnya
Melenggang bahagia, sebagai perempuan
   pertama yang ke surga
Diikuti para istri dan keluarga rasul lainnya

Para nabi, rasul Allah, para sahabat, para
   syahid dan syahidah, para sahabat muhajirin
   dan anshor, para mukminin terdahulu dan
   para syuhada dalam berbagai perjuangan
   pembelaan agama Islam
Mereka dengan bangga melangkah ketempat
Dimana Allah akan membuka tabirnya… yang
kutahu… salah satu kenikmatan yang
diterima para penghuni surga adalah melihat
wajah Allah…

Sementara itu dadaku berdegup keras
   menunggu giliran…

Aku terperanjat melihat anak-anak yatim…
Dengan riang menikmati kesegaran telaga
   kautsar
Beberapa dari mereka tersenyum padaku
   sambil melambaikan tangannya, sepertinya
   aku kenal mereka…?

Ya Allah… mereka anak yatim disebelah
   rumahku
Yang tak pernah aku perhatikan
Anak-anak yang selalu merintih kelaparan di
   malam hari
Sementara sering kutimbun makanan yang tak
   habis kumakan…
Didalam kulkas berhari-hari lantas membusuk
   dan kemudian kubuang

Subhanallah… itu si Parmin tukang mie dekat
   kantorku…???
Aku terperangah melihatnya melenggang ke
   surga…
Permin pernah bercerita, sebagian besar hasil
   dagangannya ia kirimkan untuk ibu dan biaya
   sekolah 4 adiknya
Parmin yang rajin shalat itu, rela berpuasa
   berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya
   dikampung tidak kelaparan

Tiba-tiba orang asing disampingku berkata
   lagi…
“Parmin penjual mie, lebihbaik dimata Allah, ia
   bekerja untuk kebahagiaan orang lain”

Lalu berturut-turut lewat depan mataku, mbok
   Darmi penjual pecel yang kehadirannya
   selalu kutolak.
   “maaf mbok Darmi aku tidak doyan pecel”
   juga pengemis yang setiap hari lewat dan
   mendapatkan kata tolakkan dariku.
   “maaf tidak ada uang receh”
Orang disebelahku menjawab kebingunganku
   “mereka ikhlas, tidak sakit hati serta tidak
   memendam kebencian meski kau tolak….”
Kemudian si Tarman pemulung sampah itu, dia
   bahkan menghormat padaku seolah-olah
   minta ijin untuk lebih dulu meniti jalan
   kesurga… aku kebingungan… serta merta
   orang disebelahku berkata…
“Dalam bekerja dia berniat menyingkirkan
   barang-barang yang membuat bumi ini
   semakin rusak dia hidup dari buangan-
   buangan barangmu yang ikut andil dalam
   kerusakan bumi Allah”

Aku semakin penasaran… dan terus menunggu
   giliranku dipanggil…
Seiring dengan itu antrian makin panjang…
Aku mulai kesal… aku ingin segera bertemu
   Allah dan berkata

“Ya Allah…didunia aku banyak bersedekah,
   aku melakukan ibadah,
Banyak melakukan bakti sosial, ijinkan aku
   surgaMu

Orang asing yang wajahnya bersinar itu
   berbicara lagi
“Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata
   untuk kepentinganmu mendapatkan surga
   Allah, sodaqohmu sebatas untuk
   memperjelas status sosialmu, dibalik bakti
   sosialmu tersimpan keinginan mendapat
   penghargaan dari orang lain, bahkan ketika
   bumi Allah dalam kerusakan kau tidak
   bergegas untuk perduli “bergetar hatiku,
   menggigil tubuhku mendengarnya”

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, si
Tarman, pengemis itu dan masih banyak lagi
   orang yang sering kuanggap tidak lebih baik
   dariku, mereka lebih dulu ke surga
Padahal aku sering beranggapan surga adalah
   balasan yang pantas untukku atas infak
   yang kuberikan, bakti sosial yang aku
   lakukan dan ibadah yang aku kerjakan
Ternyata aku “ tidak lebih tunduk daripada
   mereka,
Tidak lebih ikhlas dalam beramal daripada
   mereka,
Tidak lebih bersih hati dari mereka, dan
Aku tidak lebih peduli daripada mereka,
   sehingga
Aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka”


MERENUNG

Terima kasih… Ya Allah
Engkau menciptakan kami sebagai perempuan

Terima kasih… Ya Allah
Engkau takdirkan kami mempunyai Rahim

Terima kasih… Ya Allah
Engkau percayakan air kehidupan di dada kami

Terima kasih… Ya Allah
Engkau syahidkan kami, bila dalam melahirkan
   kami mati

Terima kasih… Ya Allah
Engkau melepaskan surga-Mu di telapak
   kami
Kami merasa termuliakan dengan itu
   semua…… Ya Allah

Tetapi, maafkan kami… Ya Allah
Bila sering merasa iri pada para pria,
Padahal mereka yang seharusnya iri kepada kami

Maafkan kami… Ya Allah
Bila kami pernah mendzolimi Rahim kami
Padahal Rahim kami itu suci, yang dilahirkan dari
   rahim kami adalah bayi-bayi suci
Maafkan kami… Ya Allah
Bila kami sengaja lalai untuk menyusui anak
   kami
Padahal kau ciptakan air kehidupan di dada
   kami dengan nutrisi yang sempurna

Kami lalai, bahkan kami malas menyusui karena
   takut payudara kami rusak karenanya.
Padahal perubahan bentuk badan kami bukan
   karena menyusui
Tapi karena kehamilan…

Kami ingin mengandung, kami ingin punya
   anak,
Tapi kami tidak menginginkan perubahan
   bentuk badan kami…
Ah…naifnya kami…ah…bodohnya kami

Maafkan kami… Ya Allah
Bila kami tidak ingin melahirkan dengan cara
   partus normal
Padahal kandungan kami dalam keadaan baik
   dan sehat
Kami takut sakit… kami takut mati…
Sementara… kematian seperti itu adalah
   seperti kematian di medan perang dengan
   pedang terhunus untuk mempertahankan
Agama-Mu… Ya Allah
Dan seharusnya kami tidak boleh merasa
   “Kasihan” pada seorang
Ibu yang mati dalam melahirkan, semestinya
   kami berbahagia
Mendoakan agar kesyahidannya sempurna di
   mata-Mu

Maafkan kami… Ya Allah
Kami telah menjauhkan surga dari telapak kaki
   kami sendiri
Dengan perbuatan kami…

Kami telah menjauhkan surga dari telapak kaki
   kami sendiri
Dengan tingkah laku kami…

Maafkan kami Ya… Allah… maafkan kami Ya
   Allah…

Engkau telah muliakan kami
Tapi kami lupa akan kenikmatan-kenikmatan
   kami

Engkau telah memberi kami kenikmatan
Tapi kami lupa akan kewajiban-kewajiban kami

Engkau telah memberi kewajiban pada Kami
   tapi kami lupa
Di balik kewajiban itu terhampar ridho-Mu.

Maafkan kami Ya Allah…Maafkan kami Ya
   Allah…
Kembalikan surga kami Ya Allah…
Kembalikan surga kami di telapak kaki kami Ya
   Allah
Kembalikan Ya Allah…

Jakarta, 13 Februari 2003


LEMARI

Duhai lemari…engkau menjadi saksi
Betapa aku menghabiskan hampir
Sepertiga hidupku untuk menyesakkanmu
Kuhiasi dirimu dengan bordir dan renda yang
   sangat menawan
Kupenuhi rak-rakmu dengan tumpukan-
   tumpukan yang melimpah
Kujejali leher gantunganmu dengan warna-
   warna yang aduhai
Warna-warna itu sangat memicuku untuk
   menjadi seorang pelukis profesional
Oh…warna merah akan bagus dan serasi
di kulitku
Tentu saja dengan bordir yang sesuai
Setelah warna merah sudah ada..
Tapi warna biru belum punya ya?
Maka kuupayakan seluruh konsentrasiku,
Uangku, waktuku dan tenagaku.. untuk mencari
Warna biru yang sesuai dengan keinginanku…
Kususuri Mayestik dengan khusyuk dan teliti
Untuk mencari warna biru yang kuinginkan
Didalam kanvas lemariku
Begitu terus aku melengkapi lukisanku dengan
Warna hijau
Warna jingga
Warna lila
Warna kuning
Aku tebarkan payetkeseluruh permukaannya
Hingga tampak berkilau menakjubkan… sangat
   menakjubkan…lemari aku tahu
Engkau selalu tersenyum melihatku ketika aku
Memantas-mantas diriku di cerminmu

Dan engkau hampir muntah setiap aku
Menambah koleksiku dan menjejalkan ke
   dalam
Perutmu yang sudah membuncit

Engkau berduka ketika ada bencana kebakaran
   kebanjiran atau kemiskinan,
Yang aku keluarkan dari perutmu hanya sedikit

Engkau menangis ketika berulangkali aku
   memasukkan kembali isinya yang sudah aku
   keluarkan dengan dalih…
“Yang ini tidak cocok diberikan kepada orang
   miskin”
“Yang ini punya kenangan tersendiri”
“Yang ini belinya di luar negeri”
“Yang itu masih bagus, besok-besok masih bisa
   dipakai lagi“
Padahal sudah bulanan bahkan tahunan waktu
   aku tidak memakainya
Dan engkau tahu itu,
Itu yang membuatmu menangis
Itu yang membuatmu berduka
Disela tangisanmu engkau ingin bertanya untuk
mengingatkanku
“Hai…mana busanamu untuk akhir hayatmu”
   yang sangat sederhana…hanya kain putih
   5 meter tidak perlu bordir, tidak perlu
   direnda, bahkan engkau tidak perlu mencari
   payet yang sesuai untuknya…”

Mana busana akhir hayatmu?... Mana?
Itu pertanyaan yang tak pernah terucap
   olehmu,
Padahal pertanyaan itu aku perlukan untuk
Mengendalikan kesia-siaan penghamburan
uangku

Mana busana akhir hayatmu?... Mana?
Itu pertanyaan yang tidak sempat kau
Lontarkan padahal pertanyaan itu aku perlukan
Agar biaya aku alokasikan untuk amal-amal
Sholeh yang dapat menolongku nantinya.

Oh lemariku…ucapkan pertanyaan itu…
Oh lemariku…lontarkan pertanyaan itu…
Agar aku tidak terjebak
Agar aku tidak merugi
Agar aku dapat tertolong
Ucapkan pertanyaan itu… lontarkan
   pertanyaan itu.

Jakarta, 24 Desember 2002


LADANG AMAL

Hai… Para pria metroseksual
  Yang setiap saat sadar akan penampilan
Cobalah menjadi kami
   Yang setiap saat, baju kami berlumuran
      darah
   Para penderita luka peperangan

Hai… Para gadis beranting di pusar dan di
   puting
Cicipilah tugas-tugas kami
     Yang setiap saat menggendong para
     jejaka
     Yang syahid mempertahankan kebenaran
     dari Allah

Hai… Ibu-ibu arisan
Kunjungilah medan tempat pekerjaan kami
     Dan sesekali kocoklah arisan-arisan itu
di tengah desingan peluru
     Kemudian setorkanlah hasil arisan itu pada
       korban desingan peluru itu

Hai… Para pelanggan butik
Mampirlah ke butik-butik kami di Sahara Laga
     Disana tersedia baju koyak penuh bercak
        merah
     Dan berbagai perban pakai ulang
     Ya… perban pakai ulang…
       karena perban yang baru kadang tak
       terbeli oleh kami

Ya… Ya… ditempat yang tidak ada dalam
     Peta pergaulanmu itulah kami bekerja
    Tanpa kami tahu siapa kepala
        personalianya
    Dan siapa direktur keuangan yang akan
        menggaji kami

Ya… Ya… ditengah darah dan kesengsaraan
   Itulah kami beribadah, tanpa memilah – milah
   Siapa musuh siapa kawan kami

Ya… Ya… diantara tanah longsor, bom, dan
   peluru itulah
      Tempat kami beramal
      Karena kami yakin dengan mengamalkan
         tenaga dan keikhlasan kami inilah kami
         menapaki tangga Ridho Allah

Jakarta, 2 Juli 2004


RASA DHUAFA

Ketika orang-orang yang akan berangkat haji
   sibuk mengadakan
Ratiban……..
Ketika orang-orang sibuk berpesta untuk
   mengantarkannya
Sanak kerabatnya berhaji
Maka kami sibuk mempersiapkan mental dan
   perasaan kami untuk
Menyambut datangnya daging merah di perut
   kami……

       Ah…. daging merah itu…. yang terakhir
       kami rasakan tahun lalu…. begitu
       menggiurkan
       Ah…… daging merah itu…… kami ingin cepat
       melahapnya….. setelah setahun penuh
       kami hanya mengisi perut kami dengan
       nasi encer dan sedikit tempe tahu.

Masih segar dalam ingatan pada hari berkorban
   pada tahun lalu
Kami mendapatkan banyak daging….
Tapi kami bingung…. Memasaknya pakai apa?
Panci presto kami tidak punya…. apalagi kompor
   gas.
Dan dengan susah payah kami
   memasaknya… di hari ketiga daging kami
   busuk semua, kami sengaja memakannya
   sedikit-sedikit agar kami dapat menikmatinya
   lebih lama…. tapi kami lupa… kami tidak
   punya kulkas…. kami tidak punya freezer

Akhirnya kami buang… daging merah itu
   dengan perasaan menggigil
Kami pandang lama-lama dengan perasaan
   sendu
Sampai jumpa lagi tahun depan…. wahai
    daging yang lezat.

Dan sekarang ingin kami berteriak

Cepatlah datang… hari berkorban
Aku merindukanmu selama setahun ini.

Cepatlah datang… hari berkorban
Tanpa dirimu…. mereka lupa untuk berbagi
   dengan kami.

Cepatlah datang… hari berkorban
Agar mereka tertolong tertunaikan
   kewajibannya pada kami.

Cepatlah datang… hari berkorban
Agar mereka terhindar dari azab Allah
Karena lalai akan nasib kami.

Cepatlah datang… hari berkorban
Sebagai kekasih Allah dan Rasulullah kami
   merasa mulia atas kedatanganmu

Dan kami bermimpi…
Andai hari berkorbantidak hanya setahun
     sekali.

Andai hari berkorban datang setiap hari,
Maka mereka juga akan bertemu Allah dan
   Rasulullah setiap hari.

….. Setiap hari dan setiap saat …….

Jakarta, 31 Januari 2003


MENYEMUT RINDU

Seusai shalat subuh di masjid Nabawi–mu
Kami tidak hendak beranjak
Kami menunggu waktu dibukanya pagar
     menuju Taman Surga

Sesaat… terdengar pintu bergeser
Dan… bagai magnet kami menyemut
     mendekati pagar itu
Ada diantara kami melambaikan tangan
     kearah mu
Ada juga yang tak henti meneteskan airmata
Padahal… pintu pagar itu baru bergeser
Ya… ya… hanya bergeser… belum terbuka
Dan… kami sudah memadati... kami berdiri
     berdesak-desakan

Sebenarnya… kami lelah tak terkira.
Perjalanan yang sangat jauh dari negeri kami
Mata kami pun hanya terpejam sesaat di pesawat
Tapi…
Entahlah… mengapa semangat kami begitu
     menggelora
Seolah takada kelelahan
Seolah kami baru terjaga dari tidur panjang

Tiba-tiba…
Diantara kami bersorak kegirangan
Aku sangat yakin… pintu pagar itu telah dibuka
Ah… bukan… bukan pintu pagar itu yang telah
     terbuka
Tapi kubah megah masjid mu lah yang terbuka

Subhanallah …
Karena begitu besar cinta kami pada mu
Melihat kubah masjid mu terbuka saja
Kami seperti melihat diri mu berkhotbah dan
     tersenyum

Gumaman shalawat pada mu terus terdengar
Kami beribu menyemut di sekitar pagar
Mendengarkan lengkingan suara Asykar
Nada suara Asykar itu sangat tinggi
Layaknya amarah di telinga kami
Banyak yang disampaikannya
Hanya sedikit yang kutangkap

Kami tidak boleh meratap di depan makam-
     mu… Haram katanya
Kami tidak boleh merengek ketika sujud di
     Taman Surga mu … Haram katanya
Kami tidak boleh memegang tiang dan dinding
     seraya menangis di dekatnya … haram
     katanya
Ya Rasulullah
Bagaimana kami tidak meratap pada Allah atas
     syafaat melaluimu
Kalau untuk urusan dunia saja kami kerap
     meratap

Ya… Rasulullah
Bagaimana kami tidak merengek di Raudhah
     mu
Ketika kami ingin sesuatu yang sepele saja…
Sering kami merengek-rengek…
Ini Taman Surga mu… ya Rasul … di Taman
     Surga mu

Ya…  Rasulullah
Bagaimana kami tidak memegang tiang
     dengan kencang
Hempasan ribuan umat mu seolah
     merobohkan kami
Kami bukan menangisi tiang itu… ya Rasulullah
Kami tidak meratapi kerpet hijau keabuan itu…
     ya Rasulullah

Tapi…
Kami merengek untuk pertolongan mu pada
hari akhir nanti

Ya… ya… untuk pertolongan mu atas ampunan
     Allah pada hari akhir nanti
Ya… hanya…itu

Madinah, Nabawi, 26 Oktober 2004


AKU AKAN PULANG

Jika engkau menjengukku
Dalam keadaan yang lemah
Dan kau mengatakan padaku : “Sabar ya…”.
Maka aku akan tersenyum
Dan mengatakan : “Engkau yang harus
     sabar...”

Betapa tidak…
Aku akan segera bertemu dengan Allah Sang
     Penciptaku
Dengan Rasul Sang Kekasih…
Akan menjemputku bersama malaikat maut
Dengan senyumNya
Sedangkan engkau… entah kapan peristiwa
Besar itu akan datang padamu…

Ketika engkau menjengukku
Dalam keadaanku yang pasrah
Engkau mengatakan padaku : “Istighfar yang
     banyak…”
Maka aku akan berterima kasih
Dan mengatakan : “Istighfar Mu harus lebih
     banyak…”

Betapa tidak…
Aku akan meninggalkan dunia yang kotor ini
Dalam hitungan waktu sudah hampir pasti
Tapi bagaimana dengan engkau…
Kau tidak tahu kapan akan meninggalkan
     dunia ini

Kau selalu berpikir…bahwa kau masih lama
     akan hidup
Dan masih punya kesempatan bertobat serta
     beramal sholeh
Karena itu… Engkau dengan gampang
     menunda
Perbuatan-perbuatan baik itu

Kalau peristiwa besar itu datang
Dan engkau sedang dalam penundaan amal-
     amal sholehmu
Maka penyesalanlah yang engkau dapatkan

Ketika engkau tidak tega melihatku…
Dan mengatakan dalam hati : “Kasihan sekali
     dia…”
Tentangku
Maka aku mohon…jangan…
jangan akau kasihani aku
Karena nikmat sakit ini
Aku rasakan sebagai rasa cinta Allah padaku
Karena Allah tidak mau membayar dosa dan
     kesalahanku
Nanti di “sana”
Karena anugerah derita ini
Aku artikan sebagai penuntasan kesalahan-
     kesalahan orang tuaku
Saat terlintas di benakmu…
Ketika nanti aku “pulang”
Dan rumahku hanya tanah selesar 1x2 meter
Maka engkau perlu membersihkan benakmu
Aku memang akan pulang
Kita semua akan pulang
Dan mungkin aku yang akan lebih dulu pulang
Ragamu memang berumah petak 1x2 meter itu
Tapi… rohku…
Rohku akan menuju istana Allahku …
Dengan batu permata ikhlasku di dindingnya
Dengan marmer berkilau ibadahku di lantainya
Dengan kaca cahaya tobatku di atapnya

Bersihkan benakmu
Dari pandangan tentang penderitaan
Bersihkan benakmu
Dari pandangan tentang vonis kematian

Kita akan pulang…aku mungkin yang lebih dulu
     akan pulang…
Aku akan segera menuntaskan kerinduanku
     pada Allahku
Dan…sekali lagi aku katakan padamu
“Engkau harus lebih sabar”
“Engkau harus perbanyak Istighfar
“Kasihan sekali engkau…”

Engkau sudah melihatku dalam ketidak
     berdayaanku.
Di ambang kematianku
Dan masih erat menggenggam
Dunia dan jabatan yang pasti akan kau
     tinggalkan
Ketika engkau menyusulku “pulang”

Jakarta, 19 Juli 2003


TITIPAN

Seringkali aku berkata, ketika orang memuji
     milikku, bahwa :
Sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku
     hanya titipan-Nya
Bahwa rumahku hanya titipan-Nya, bahwa
     hartaku hanya titipan-Nya
Bahwa putraku hanya titipan-Nya.
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa
     Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus
     kulakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang
     bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika
     titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai
     musibah
Kusebut sebagai ujian, kusebut sebagai
     petaka,
Kusebut sebagai panggilan apa saja
Untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa kuminta titipan yang cocok
     dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak
     mobil
Lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas
Dan…ku tolak sakit, ku tolak kemiskinan
Seolah semua “DERITA” adalah hukuman
     bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya, harus berjalan
     seperti matematika
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita
     menjauh dariku
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan dia seolah mitra dagang
Dan bukan KEKASIH
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai
     dengan keinginanku

“GUSTI”…, padahal … tiap hari ku ucapkan
     hidup dan matiku
Hanyalah untuk beribadah

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
     keberuntungan sama saja”
Adalah anugrah


Tentang Ratih Sanggarwaty
Sebenarnya tak ada biodata penulis di buku ini. Tapi di dalam sekapur sirih yang ditulis penyair ada sedikit bocoran. Bahwa ia telah akrab dengan puisi sejak lama. Misal, tatkala ikut pemilihan Remaja Indonesia Majalah Gadis tahun 1980, dimana ia memenangi kategori Putri Fotogenik, ia membaca puisi pada sesi penampilan bakat. Ia juga sempat bergabung dengan teater Remy Silado dan tahun 1999, ikut pementasan teater bersama teater Renny Djajusman membawakan lakon “Ketika Jane Aspari Menari” karya Radhar Panca Dahana.


Catatan Lain
Ada empat nama yang menghiasi endoresemen di sampul belakang buku, berturut-turut: Seno Gumira Ajidarma, H.M. Nasharuddin Anshory, Danarto, dan Prof. Dr. Komarudin Hidayat.
            Ada 33 puisi di buku ini. Namun, hanya 23 yang merupakan puisi sang penyair, 10 sisanya adalah “puisi tamu”. Yaitu puisi-puisi yang sering dibaca oleh si penyair dan banyak memberi inspirasi. Puisi-puisi itu al. karya D. Zawawi Imron, Motinggo Boesye, Camelia Badr, Jaluddin Rakhmad, Aa Gym, Husni Djamaluddin, Abu Nawas, Sayyidah Fatimah r.a., dan MT. “Fathiyatul Huda”. Puisi-puisi itu sebagiannya dikutip dari buku O, Muhammadku karya Miftah F Rakhmad (lihat hlm. iv). Berikut ditampilkan puisi-puisi tamu tersebut

MT, “Fathiyatul Huda”
Andai Al-Quran “Berbicara”

Waktu Engkau masih kanak-kanak, kau laksana
     kawan sejatiku kau sentuh aku dalam
     keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dankau pelajari

Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun
     keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku
     mesra

Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi
     kepadaku…
Apakah aku bacaan usang yang tinggal
     sejarah…?
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak
     menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil
     yang belajar ngaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali,
     hingga kadang engkau lupa di mana
     menyimpannya.
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar
     engkau dianggap bertakwa.
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam
kesendirian dalam kesepian.
Di atas lemari; di dalam laci, aku engkau
     pendamkan.

Dulu… pagi-pagi… surat-surat yang ada padaku
     engkau baca beberapa halaman.
Sore harinya, aku kau baca beramai-ramai
     bersama teman-temanmu di surau…

Sekarang, pagi-pagi sambil minum kopi…
Engkau baca Koran, atau nonton berita
Waktu senggang… engkau sempatkan
     membaca buku karangan manusia.

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang
     datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan
engkau lupakan…

Waktu berangkat kerjapun, kadang engkau
     lupa baca kata pembuka surat-suratku
     (Basmalah).
Di perjalanan engkau lebih asik menikmati
     musik duniawi.
Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang
     terdapat padaku di laci mobilmu.

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca
     sebelum kau mulai kerja.
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatku kadang
     kau abaikan.
Yang kau simpan E-mail yang berisi gambar tak
     wajar atau kalimat-kalimat kasar.
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah
     benar-benar melupakanku.
Bila malam tiba engkau tahan berjam-jam
Menonton Liga Italia, film, dan sinetron laga

Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin
     kusam dalam lemari.
Mengumpul debu, dilapisi abu, dan mungkin
     dimakan kutu.
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau
     membacaku kembali, itupun hanya beberapa
     lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu
     dulu.
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar
     lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, teve, radio, computer, dapat
     memberimu pertolongan?
Bila engkau dikubur sendirian menunggu
     sampai kiamat tiba. Engkau akan diperiksa
     oleh malaikat.

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada
     padaku engkau dapat selamat melaluinya!
Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…!
Dan akhirnya kubur senantiasa menunggu
     kedatanganmu…!
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu
     sewaktu-waktu,
Apabila malaikat maut mengetuk pintu
     rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau
     hayati…
Di kuburmu nanti…
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan
     tampan.
Yang akan membantu engkau membela diri,
     dan senatiasa setia menemani dan
     melindungimu.
Dalam perjalanan di akherat nanti.

Peganglah aku lagi… bacalah kembali aku setiap
     hari. Karena ayat-ayat yang ada padaku
     adalah ayat suci. Yang berasal dari Allah,
     Tuhan Yang Maha Mengetahui. Yang
     disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad
     Rasulullah saw.

Sentuhlah aku kembali…
Bacalah… dan pelajarilah aku lagi.
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu…dulu sekali…
Jangan aku engkau biarkan sendiri…
Dalam bisu dan sepi…


Motinggo Boesye
DALAM NUR MUHAMMAD

Sekiranya tidak ada Nur Muhammad
Niscaya dunia akan gelap gulita
Empat puluh hari aku melangkah di siang
            terang
Empat puluh malam kutembus malam remang
Ruhku pun terbang
Melayang menembus tujuh batas cakrawala
Dengan tujuh pintu-pintunya
Lepas dari tubuh fana
Kami bercakap-cakap
Batas pun raib
Empat belas tonggak berdiri
Itulah para imam
Yang kuyakini
Kata orang
Bagai orang gila aku menyeru namamu,
            Muhammad
Muhammad ya Muhammad
Muhammad wahai Muhammad
Namamu masuk dalam darahku
Menjalar dari ubun-ubun kepalaku
Kedalam lidah
Hingga ke ujung kaki
Dan kembali lagi ke ubun-ubun kepalaku
Muhammad wahai Muhammad
Mencuat keluar angkasa
Naik terus keatas
Sampai ke Arasy
            O, Muhammad kekasihku
            Butir cahaya gemerlap
            Sekejap,
            Memandikan diriku
            Tiap detik membersihkan daki-daki dosaku
            Bersama tangis ke kelopak mata
            Mendidih perih
O, Muhammad
Berputar-putar namamu dalam benak
Dan urat darah
Menggeliat dalam lidah
Menggetar di kaki ketika melangkah
Muhammad Muhammad Muhammad

Aa Gymnastiar
BERCERMIN DIRI

Tatkala kudatangi sebuah cermin,
Tampak sosok yang lama kukekanl,
Dan sangat sering kulihat.
Namun aneh, sesungguhnya aku belum
     mengenalnya,
Ya, sesungguhnya aku belum mengenal
Siapa yang aku lihat di dalam cermin

Tatkala kutatap wajah, hatiku bertanya,
Apakah wajah ini wajah yang kelak akan
     bercahaya
Bersinar indah di surga sana.
Ataukah wajah ini akan hangus,
Legam dalam jahanam.

Tatkala kutatap mata… nanar,
Hatiku bertanya.
Mata inikah yang akan menatap penuh
     kelezatan,
Penuh kerinduan menatap Allah,
Menatap Rasulullah,
Menatap kekasih-kekasih Allah kelak.

Ataukah mata ini yang akan terbeliak melotot,
     meleleh, menatap wajah jahanam.
Akankah mata atau nikmat nan penuh maksiat
     ini akan menyelamatkan.

Wahai mata…
Apa gerangan yang kau tatap selama ini?
Tatkala kutatap mulut,
Hatiku bertanya
Apakah mulut ini yang kelak akan berdesah
     penuh keridhoan mengucap:
“Lailahaillallah Muhammadrasulullah”,
Saat malaikat maut datang menjemput.

Ataukah menjadi mulut menganga dengan
     lidah menjulur,
Dengan lengking jeritan pilu yang akan
     mencopot sendi-sendi setiap pendengaran

Ataukah mulut ini menjadi pemakan buah
     Zaqqum jahanam yang getir,
pemakan, penghancur setiap usus.

Apakah gerangan yang kau ucapkan wahai
     mulut yang malang,
Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan
Berapa banyak hati yang remuk dengan pisau
     kata-katamu, yang mengiris tajam
Berapa banyak kata-kata manis, semanis
     madu yang palsu yang engkau ucapkan
     untuk menipu?

Betapa jarangnya engkau jujur,
Betapa langkanya engkau menyebut nama
     Tuhan mu dengan tulus.
Betapa jarangnya engkau syahdu memohon
     agar Tuhanmu mengampunimu.
Tatkala kutatap tubuhku. Hatiku menjerit,
Apakah tubuh ini yang kelak akan penuh
     cahaya, bersinar, bersuka cita,
     bercengkrama di surga…

Atau tubuh yang akan tercabik-cabik,
Hancur mendidih dalam lahar membara
     jahanam,
Terpanggang tanpa ampun, derita yang tanpa
     pernah akan berakhir,
Naudzubillah…

Wahai tubuh,
Berapa banyak maksiat-maksiat yang engkau
     telah lakukan,
Berapa banyak orang-orang yang engkau
     dzalimi dengan tubuh ini,
Berapa banyak hambamu, hamba-hamba Allah
     yang lemah, yang engkau tindas dengan
     kekuatanmu,
Berapa banyak perindu pertolongan yang
     engkau acuhkan, tanpa peduli, padahal
     engkau mampu,
Berapa banyak hak-hak yang telah engkau
     rampas,

Ketika kutatap haiii….tubuuuuuh, seperti apakah
     gerangan isi hatimu,
Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu,
Ataukah seburuk daki-daki yang melekat di
     tubuhmu
Apakah hatimu segagah ototmu, ataukah
     selemah daun-daun yang mudah rontok
Apakah hatimu seindah penampilanmu,
     ataukah seburuk kotoranmu

Betapa beda apa yang tampak di cermin dan
     apa yang tersembunyi.
Dan betapa aku tertipu.

Aku tertipu…
Aku tertipu oleh topeng.
Betapa yang kuhias selama ini adalah topeng.
Betapa pujian yang berhambur hanyalah
     memuji topeng.
Sedangkan aku hanyalah seonggok sampah
     busuk yang terbungkus
Aku adalah calon mayat

Aku tertipu…aku tertipu…aku tertipu
Maafkan aku ya Allah, selamatkan aku ya
     Allah…
Maafkan aku ya Allah, selamatkan aku ya
     Allah…
Amin, amin ya Rabbal alamin


D. Zawawi Imron
KELAHIRAN NABI TERCINTA

Pada dini hari yang sepi
Para malaikat Allah
Dengan membawa harum-haruman surga
Datang ke sebuah rumah
Dekat jantung kota Mekah

Dengan khidmat diambutnya
Kedatangan seorang bayi
Yang indah bagai sinar subuh
Pada matanya mengerjap
Mutiara dan yakut taman surga

Dari seluruh lingkaran cakrawala
Sampai sebutir debu yang terbang
Menyanyikan serangkum kata :

Sang bayi telah datang
Sang Nabi telah datang
Untuk menghampar permadani
Bagi kelembutan seluruh nurani

Ya Nabi salam padamu
Ya Rasul salam padamu
Kekasih salam padamu
Shalawat selalu untukmu


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar