Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 02 Oktober 2016

TAMPARLAH MUKAKU!




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul: Tamparlah Mukaku !
Penulis: Acep Zamzam Noor
Cetakan: 1, 1982
Penerbit: ?
Percetakan: CV Adi Agung, Bandung
Tebal: 56 halaman (50 puisi)
Kulit muka: Acep
Sketsa: Tisna
Pengantar: Drs. Saini K.M.

Beberpa pilihan puisi Acep Zamzam Noor dalam Tamparlah Mukaku !

LAGU IBUNDA

yang melambai dari semesta jiwa
kekasih puteri derita
yang memanggil tanpa daya

yang menyerahkan kasih
tanpa kata-kata
yang menaburkan setia

yang menanam cinta
dari rahimnya
yang melahirkan tunas kehidupan

yang menyodorkan dunia
melepaskanku menggembala
yang membekali dengan doa

1981


DALAM KEASINGAN YANG LINDAP

dalam keasingan yang lindap, aku rindu
ingat pandangmu, hening, menyapu trotoar berdebu
menikamku, pening, hasrat yang kembali tersedu

dalam kegamangan yang hinggap, kau tahu
aku rindu bisikmu, bening, menggoyangkan sang waktu
melenakanku, angin, melayang, menderu

1981



NASIB
(kepada Diro Aritonang)

harus kita apakan hidup
terlanjur masuk

1981


NYANYIAN

Aku siap
Melayani hidup ini
Asalkan Engkau bantu
Terima-kasih, Tuhan
Bahwa aku masih bisa mengingatMu

Biarpun kelu
Untuk bernyanyi dengan merdu
Tapi ini jemari
Belum bosan memetik dawai gitar
Yang Engkau sodorkan kepadaku
Dan dengan suara parau
Aku mencoba mendendangkan kehidupan

Aku juga siap
Menjalani mati nanti
Tapi beri aku waktu berbenah diri
Terima-kasih, Tuhan
Bahwa aku masih bisa bersujud di kakiMu

1980


KITA HANYA BERHADAPAN
(buat H)

matamu masih berbinar meskipun hari berangkat malam
sedang gelap bagaikan kelambu tua yang berjuntaian
kita masih bertatapan meskipun dalam diam
sedang gerak hanyalah rambutmu yang memainkan

matamu masih menatapku
dan mataku masih lekat menatapmu
kita hanya berpandangan saja
meskipun waktu lewat berabad-abad

kita hanya berhadapan, bertahan
di depan adalah Tuhan
kita hanya bersatu pandang
tak pernah bersatu-tubuh!

perempuanku, matamu menelanjangiku
dan mataku kini menelanjangimu
anak-anak kita adalah sepi yang senantiasa berjaga
di sekeliling ranjang kita

1981


PENJARA

aku ngembara
keluar masuk sepi
sepiku sepimu
yang fana

aku ngembara
keluar masuk hati
hatiku hatimu
yang sunyi

dalam penjara gelap
aku tersesat!

keluar masuk sepi
keluar masuk hati
ke manakah jalan
ke Matahari?

ke Diri?

1981


RINDU

yang nyala dalam jiwa
kemudi dalam hidup

yang melambai dalam sesat
pelita dalam gelap

yang wangiMu semerbak
kucium dalam sajak

1981


KOLAM

sewaktu berkaca di air bening kedamainan
di kolam jiwamu yang tenang dan sepi gelombang
kulihat betapa kumuhku, rupa debu di jalan
terbakar dan menggeliat

kulihat wajahku bukan lagi wajahku
kulihat sebuah komposisi yang rumit dan berbelit
dengan garis-garis liar, warna-warna kusam
bertumpuk dan berjejalan

sewaktu aku berdiri menatapmu, kekasihku
kulihat di matamu sebuah kolam kesalihan jiwa
aku ingin sejenak berteduh dari kehidupanku yang mendera
mencuci semua luka
dan belajar mencintai

1981


SEMBAHYANG MALAM

Antara gelap dan terang
Cahaya gemerlap dan lampu yang lelap
Padamkan saja!
Kamar ini biarkan jadi malam seterusnya
Untuk pertemuan

Pertemuan antara Kau dan aku
Antara aku dan Kekasihku
Gelap!
Lelap!
Dalam sujud malam ini
Kita berpeluk dalam kerinduan
Tubuhku menggigil dan gemetaran

Kekasihku, tidurkah aku mimpikah aku?
Dekatlah selalu di sampingku
Mana tanganMu?
Tolong rabalah ini luka-lukaku
Dekatlah selalu dan dekaplah erat-erat aku!
Dalam gelap dalam syahdu malam begini
Cinta-KasihMu menyala di ini hati

1980


TERNYATA AKU YANG TERDAMPAR ITU

Ternyata aku yang terdampar itu
Lantaran menyerah, tak bisa menjawab
Pertanyaan-pertanyaan yang seakan siap menerkamku
Yang siap memburu dan mengusirku

Aku terengah
Terseok sepanjang emper-emper trotoar
Sepanjang gang, kehidupan berserak bagai kardus
Aku lelah, kantukku semakin berat saja
Semakin tak kuasa kakiku menyeret langkah
Tak kuasa lagi berlama-lama
Ingin segera menghadapMu, bermuka-muka
Membeberkan derita, luka demi luka dan putus-asa
Aku ingin segera pergi tidur, rindu

Tapi Tuhan
Di manakah aku bisa segera menemuiMu
Sepanjang jalan hanya debu yang mengepul
Deru kendaraan dan lalu lalang orang-orang
Sepanjang gang, rel kereta dan kampung yang padat
Terjepit dalam bis kota, bau keringat
Dan desakan para penumpang kini semakin menidurkanku
Semakin melenakanku

Ternyata akulah yang terdampar itu!
Dengan borok penuh lalat-lalat
Ternyata akulah yang kalah itu, sebagai Adam
Yang terkucil, tersesat dan terlempar dari sorgaMu

1981


KELUH

I
dari dasar jurang
kupandang Cakrawala
betapa jauh!

ini hati sungsang
kusandang seharian
betapa keluh!

II
dari kegelapan
tak bisa kupandang apa dan siapa
selain selaput mataku

dan dari balik itu
kukagumi kebesaranMu
betapa terbatasnya aku
betapa terbatasnya waktu

III
dari keterbatasan
jarak semakin mendekatkanku
kepadaMu

1981


AKU MENCINTAI-MU, KEKASIH
TAMPARLAH MUKAKU!

aku mencintai-Mu. Janganlah pergi
jangan tinggalkan aku sendiri
di belantara ini

jangan pergi. Jangan perjelas sepi
tak sanggup lagi aku Kauperdaya
aku tak bisa berbuat apa-apa

tak bisa berkata-kata. Jangan menjauh
aku takut melangkahkan kaki
terlalu banyak jalan bersimpangan di sini

aku bego. Tamparlah mukaku
tunjukkan padaku sebuah tempat
di mana seharusnya aku mesti Kaududukkan

aku tak tahu. Di mana seharusnya aku
mesti menempatkan diri
dan di mana seharusnya aku mesti berdiri

aku mencintaiMu. Janganlah pergi
jangan tinggalkan aku sendiri
hutan ini sangatlah mengerikan dan sepi

aku takut, takut melihat ke depan
takut menoleh ke belakang
takut diam

tamparlah mukaku, Kekasih
lemparkan aku ke sebuah tempat
di mana seharusnya aku mesti berbaring

sungguh tak tahu, Kekasih
bagaimana mungkin aku sampai ke sebuah Rumah
tanpa Kau yang menunjukkannya

1980


MENGAPA SELALU KUTULIS SAJAK

Mengapa selalu kutulis sajak
Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku
Mengapa harus sajak, Tuhanku, mengapa harus ia
Yang mampu kupersembahkan kepadaMu

Seandainya ini sebuah tugas
Maka aku terima ia sebagai tugas
Akan kujalani sampai nanti nyawaku terlepas
Seandainya ini sebuah sembahyang
Maka akan kuusir segala bayangan yang datang
Yang selalu mencoba mengaburkanMu

Mengapa selalu sajak yang kutulis itu
Apabila pertanyaan-pertanyaan datang menyerbuku
Selalu sajak, Tuhanku, mengapa selalu ia
Yang mampu kuberondongkan kepadaMu

Atau barangkali karena aku tahu
Engkaulah Penyair itu
Yang begitu mempesonaku
Yang telah membelenggu hidup dan matiku
Dengan segala keasinganMu

1981


KUHITUNG DETAK JAM

kuhitung detak jam
berlari
sedang kata-kata belum juga menepi
menetak harap
kuusung ke pusat hari

kenapa kenang
diam-diam mampirkan sangsi
kenapa sepi
padaku seakan menagih janji

sedang kata-kata belum juga menepi
sedang kata-kata belum juga bisa kuakhiri

1981


KEPADA RIA SOEMARTA

menggapai tepi cakrawala
menggoretkan namamu di udara

melepaskan hari senja
ketika bintang-bintang memasang nyala

sepi semesta jiwaku
meniti perjalanan puisi

hari-hari yang lusuh
jatuh bersama keringat di tubuh

kata-kata tanpa makna ini:
untukmu hidupku terbuka

1981


SAJAK HARI KELAHIRAN
(Catatan 28 Pebruari)

Kota pun jadi basah
Lantai pun jadi bersih
Hari ini
Adalah duapuluh tahun silam

Akukah Adam?
Sementara letih ini terduduk
Angin merunduk
Sesaat memandang cemas
Langkah-langkah lama yang bergegas

Langkah-langkah dulu yang pernah mengejar
Yang merangkak sepanjang duka dan gemetar
Ketika dingin ini mengusir, pelahan
Hujan sepanjang jalan

Akukah Acep?
Berjalan lewat usia, dari rindu ke rindu
Dan menunggu, setia menunggu
Sebelum sampai ajalku
Sebelum selesai seluruh waktu

1980


BANDUNG

I
Aku menggelinding
Hanya debu
Tertiup dari sudut ke sudut
Terseret-seret irama kota yang riuh
Hanya debu aku
Melayang-layang, lalu jatuh, lalu luluh
Lalu turun hujan menggemuruh

Aku kuyup!
Hanya debu, sekedar debu
Dikibas kendaraan lalu
Dan deru anginMu


II
Aku menggeliat
Matahari tenggelam
Selamat malam!
Kesenyapan dan kegelapan
Tubuhku pecah, tubuhku bongkah-bongkah
Dalam perang brubuh

Aku dikocok-kocok kegaduhan kotaku
Yang redam dan geram
Aku dibanting-banting, dibentur-bentur
Pada dinding-dinding lingkunganku
Diguyur hujan yang lebat
Sia-sia melawan
Sia-sia jadi Pahlawan

III
Tak kutemui kamu
Tak kutemukan jua aku
Hanya debu, hanya debu
Menitahkan hidupku

Di manakah kamu
Di manakah jua aku
Hanya debu, hanya debu
Setiap waktu angin menderu

Setiap waktu aku lupa padaMu

1981


SANUR

berdesingan angin pantai
dan buncah ombak
dalam dadaku

kapankah aku sampai
dalam bisu pesona
semesta jiwa

o, cakrawala jauh
inilah deru rinduku
kepadaMu

1981


Tentang Acep Zamzam Noor
Acep Zamzam Noor laahir dengan nama Muhammad Zamzam Noor Ilyas pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang kyai yang cukup terkemuka di daerahnya, sedang ibunya guru madrasah. Masa kanak-kanak dan remajanya dihabiskan dalam lingkunngan keagamaan di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. SD dan SMP diselesaikannya sambil nyantri di sana. Lalu melanjutkan SMA ke Jakarta, juga sambil nyantri di Perguruan As-Syafi’iyah, Jakarta Selatan. Tahun 1980 setamatnya dari SMA sempat tercatat sebagai mahasiswa STSRI “ASRI” Yogyakarta, tapi kemudian mengundurkan diri. Pernah kuliah di Departemen Seni Rupa ITB, jurusan seni lukis. Mulai menulis sejak masih SMP, melulu puisi. Puisinya tersebar di berbagai media seperti Pikiran Rakyat, Sinar Harpan, Pelita, AB, Salemba, Bandung Pos, Aktuil, Q, Hai, dan lain-lain.


Catatan Lain
Dalam pengantarnya, Saini KM mengatakan: “Buku yang Anda buka ini ditulis oleh seorang penyair muda. Dengan penuh gairah dan kerinduan, harapan dan kesenduan, ia bertanya tentang sumbersegala persoalan dan jawabannya, yaitu tentang Tuhan. Mengapa ia terus-menerus merenungkan persoalan itu? Bagaimanapun juga, sadar atau tidak sadar, ia tahu, bahwa tanpa memiliki persepsi yang mantap tentang yang Maha Mutlak itu, ia tidak akan dapat menghadapi kehidupan yang fana ini dengan ajeg.// Mungkin pula justru sajak-sajak ini akan membawa Anda untuk termenung, untuk menjalani suatu pengembaraan rohani yang memperkaya batin Anda sendiri. Itu bukanlah suatu hal yang mustahil. Apalagi penyair ini adalah seorang yang sederhana. Ia mempergunakan bahasa dengan bersahaja, tanpa hiasan-hiasan yang tidak perlu apalagi mengaburkan. Itulah sebabnya ia tidak akan menyesatkan Anda.”
Ucapan terima kasih pada buku yang entah siapa penerbitnya ini ditujukan kepada Bapak K.H. Moh. Ilyas Ruhiat; Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung. Dan pada halaman 2 ada tulisan begini: “Kepada seorang perempuan yang pernah melahirkan saya”.
Di bawah biografi Acep yang dicetak di cover belakang, Sutan Iwan Soekri Munaf menulis begini: “TAMPARLAH MUKAKU !  adalah kumpulan puisinya yang pertama diterbitkan. Sedang kumpulan-kumpulan puisi lainnya masih numpuk di bawah kasur tempat tidurnya, menunggu sponsor yang mau menerbitkannya. Ia menulis puisi karena gelisah. Ia gelisah karena menulis puisi.”

(Ahmad Fauzi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar