Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 06 Januari 2017

H. Amang Rahman Jubair : SAJAK PUTIH




Data buku kumpulan puisi

Judul : Sajak Putih
Penulis : H. Amang Rahman Jubair
Cetakan : I, 2001
Penerbit : Pustaka Adiba, Surabaya.
Tebal : 60 halaman (22 puisi)
Percetakan : Lutfansah Mediatama
Penggagas : Yusron Aminulloh, Henry Nurcahyo, Yunus Jubair
Editor : Henry Nurcahyo
Sketser : D. Zawawi Imron
Desain cover : Ahmad
Prolog: Rusdi Zaki
Epilog : Henry Nurcahyo

Beberapa pilihan puisi H. Amang Rahman Jubair dalam Sajak Putih

Percakapan

Pro : Drs. Sujarwadi

Ketika aku berkaca
ada sebuah tanya
Ke mana hilangnya muka kanak-kanakku
yang lucu

Ketika daun-daun mulai menguning
Ada sebuah tanya
Ke mana perginya warna hijau kemarin dulu

Ah,
Ke mana perginya “tadi”
dan
Darimana datangnya “nanti”

- 1984 -



Toraja

I
Gua garba
tempatku datang

Gua Londa
jalanku pulang

II
Kucari keliling Toraja
tak kujumpa di mana Sa’dang bermuara
Di lereng-lereng bukit terjal
kujumpa muara ajal

III
Berpuluh ekor kerbau belang
berbaris di awang-awang
sedang yang berbulu kumbang
beratus di belakang

Yang paling depan
aku tidak tahu
mungkin aku sendiri
tapi
mungkin juga kau

- 1981 -


Akukah Itu?

Lelaki umbaran
saba rerumputan
saba pegunungan
saba lautan

Lelaki umbaran
tidur di awang-awang
tidur di ranjang
tidur di pangkuan

rindukan tembang
rindukan timang

Lelaki umbaran
ketika senja
bersila di pinggir rahim mimpi
tak diucapkannya doa
tak diucapkannya kata
tak diucapkannya mantra
tak diucapkannya pinta

Dirinya adalah seluruhnya

- 1979 -


Suatu Saat, Suatu Ketika

Tanah yang ramah
saat itu akan tiba jua
liang lahat akan digali
gelap dan pengap
seperti guha garba

Hiasi regolnya dengan janur lengkung
hamparkan permadani tiada ujung
taburi kembang dan segala uba rampenya
siapkan sebaris tempat duduk yang empuk
untuk para arwah leluhur, para malaikat dan bidadari
yang akan mengelu-eluku

Adakah akan kumasuki dengan langkah-langkah
gagah
berselempang kebijakan dan kebajikan
atau
merunduk redup
menanting dosa

Apapun
akan kulewati
seperti memasuki rahim ibu kembali

- 1979 -


Sajak Putih

I

Putih – putih
kembang melati

Putih – putih
setiap hati

Bisakah esok pagi
perang berhenti?

II

Ada orang menembang
tentang kembang

Ada orang berperang
melawan orang

III

Ia datang
pamit berangkat perang

Jadinya:

Perang belum dilarang, sayang?

- 1972 -


Tentang Diri

Disapanya setiap bulu
Dirabanya setiap sudut rasa
sejuknya
sejuk sekali

Aku tahu
kau adalah ajal

Kalau saatnya tiba
datanglah di segala waktu
di siang – di malam –
kalau dapat pagi

Ucapkan salam
kemudian bisikkan:
“Selamat pagi!”
”Selamat  pagi!”

dan
aku akan merebahkan diri
bukan karena menyerah – sayang
tapi pasrah

- 1972 -


Puisi Satu

Ketika daun daun itu jadi kuning
ada satu tanya:
Darimana
datangnya warna kuning ini
Ke mana perginya warna hijau tadi
Oh
Darimana datangnya esok pagi
ke mana
perginya tadi

1991


Surat untuk Anakku

Sudah dua pucuk kembang
Kau tanam di jantungku
Akarnya menyeruak sampai ubun-ubun

Terasa
Pernah kukenal baunya
Pernah kukenal warnanya
Pernah kukenal bentuknya

Karena
Mereka adalah cucuku

Sby. 1984


Untuk Anakku

Anakku
tadi malam
dalam tidurmu
kau mengigau
menanam kembang
di halaman

Esok paginya
bermekaran
di hatiku

- 1975 -


Bulan

Bulan terhimpit
antara dua batu

Dari keningnya
mengucur peluh
satu-satu

- 1975 -


Tentang H. Amang Rahman Jubair
Tak ada biodata di buku ini. Namun ada cuplikan-cuplikan kecil yang bisa kita ambil dari prolog dan epilog yang ditulis. Misal di halaman 5: “Begitulah harapan penerbitan buku kumpulan puisi karya H. Amang Rahman Jubair (1931-2001) yang wafat 40 hari lalu ini. Senyampang selama kariernya sebagai penyair almarhum Amang Rahman belum pernah menerbitkan puisi-puisinya dalam satu buku tersendiri.”  
            Begitupun di bagian epilog (hlm 50):  “Meski dikenal sebagai pelukis, perjalanan kesenian Amang Rahman sesungguhnya bermula dari sastra. Sejak masa mudanya Amang memiliki obsesi menjadi sastrawan. Ia rela menjadi pesuruh di kantor penerbitan sebuah majalah (tahun 1952) supaya bisa bersama Toha Mochtar dan Trisnoyuwono dalam satu kamar kontrakan. Pergaulan intens bersama dua sastrawan itu bagi Amang ibarat masuk dalam kamp petinju, karena setiap malam dia bisa belajar serius mengenai sastra.”
            Demikian seterusnya. Nah, berhubung di halaman identitas buku tidak ditemukan tahun terbit, maka saya berasumsi berdasarkan tulisan prolog di atas bahwa buku ini terbit tahun 2001. Hanya ada kemungkinan yang kecil buku ini terbit tahun 2002. 


Catatan Lain
Di sampul belakang buku ada sketsa Amang yang dibuat oleh D. Zawawi Imron dan testimoni dari HB. Jassin.
Di bagian kedua buku ini ada Sajak-sajak buat Amang Rahman, yaitu puisi-puisi tamu yang ditulis oleh Jil P. Kalaran, Dik Munthalib, Nurman S, Rachmat Djoko Pradopo, Triyanto Triwikromo, dan SE. Palupi. Berikut 2 puisi tamu itu, yaitu Membaca Biografi Amang oleh Triyanto Triwikromo dan Lukisan Mimpi oleh Rachmat Djoko Pradopo:

Membaca Biografi Amang

Bagi: pelukis itu

aku melihatmu menanam bunga
di langit. Aku tak melihatmu
memanah rusa di Kurusetra
aku mendengar warna-warna sembahyang
di Padang Masyar
aku tak mendengar
kau melukis alif
di sajadah perih

“aku masih punya akar segala air,
engkau punya apa?” katamu sambil melukis
kabut dan bunga biru

Padang, 9/12/97
(Triyanto Triwikromo)


Lukisan Mimpi

Kepada Amang Rahman

samodra hijau
samodra biru
menenggelamkan diriku
dalam mimpi menderu

anak-anak yang berderet riang ria
gadis yang hanyut dalam angin bercanda
menyatu dalam kesatuan
yang penuh pesona

Kayutanam, 11-12-1997
(Rachmad Djoko Pradopo)


Sebenarnya ada satu puisi Amang yang tak termasuk ke bagian utama. Ia diberitakan dalam epilog yang ditulis oleh Henri Nurcahyo. Puisi tersebut dibacakan HB. Jassin dalam kata akhir sambutannya saat pameran lukisan di Jakarta (1990) dan merupakan sajak Amang Rahman pada lukisan “Berita Kahir Tahun” (nb. nah, di buku tertulis Kahir, bukan Akhir?). (hlm. 56-57). Berikut puisinya:

Berita Kahir Tahun

Di batu-batu  yang terjal
Kujumpa muara ajal
Kalau kau datang,
Datanglah lewat depan,
Kuucapkan ‘Salam’
Lalu aku akan terbaring

1991

Tidak ada komentar:

Posting Komentar