Pengantar Bulan Maret 2017

Pengantar Bulan Maret 2017
Bulan Maret 2017, menyapa kita sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 06 Januari 2017

Aesop : KUMPULAN FABEL AESOP



 

Data buku kumpulan puisi

Judul : Kumpulan Fabel
Penulis : Aesop
Penerjemah : Nurul Hanafi
Diterjemahkan dari : Aesop’s Fables, Barnes & Noble Classics, 2003
Cetakan : I, September 2016
Penerbit : Kakatua, Yogyakarta.
Tebal : 176 halaman (150 fabel)
ISBN : 978-602-73284-2-6
Penyunting : Gita Kharisma
Perancang sampul dan Penata letak : Gita Kharisma
Pemeriksa aksara : Maya Yulita
Illustrasi disadur dari buku Aesop’s Fables,
George Routledge and Sons, 1875

Beberapa pilihan fabel Aesop dalam Kumpulan Fabel Aesop
           
LEMBU JANTAN DAN BATANG AS

Sepasang lembu jantan tengah menarik sebuah gerobak
penuh muatan berat. Setelah cukup jauh menarik beban
sekuat tenaga seperti itu, batang as pun mulai merintih dan
mengerang keras-keras. Si lembu jantan tak tahan men-
dengarnya dan dengan menahan kesabaran, ia berpaling
dan berkata, “Halo, kau yang ada di sana! Mengapa gaduh
begitu? Semua pekerjaan ini hanya kami berdua yang
jalankan!”
            Mereka yang mengeluh justru yang paling sedikit
menderita.


PEREMPUAN TUA DAN GUCI ANGGUR

Mungkin Anda belum tahu bahwa kadang para wanita
lanjut usia suka menenggak secawan anggur. Salah satu
di antara wanita ini suatu hari menemukan sebuah guci
anggur di tepi jalan. Sambil mendekat, ia amat berharap
guci ini terisi penuh. Tapi ketika ia raih, ternyata semua
isinya telah habis. Ia hiruplah sisa-sisa bau yang masih
tertinggal dari dalam guci itu.
            “Ah,” pekiknya, “betapa kenangan indah saling mengait
bersama benda yang menyertainya.”



RUBAH DAN SEBUAH TOPENG

Seekor rubah masuk ke dalam ruang tamu milik sebuah
kelompok teater. Tiba-tiba di atas dinding ia menemukan
sebuah wajah dengan mata melotot padanya. Ia sangat
takut. Tapi setelah diamati lebih lama, ia jadi tahu bahwa itu
hanya sebuah topeng yang biasa dipakai para aktor.
            “Ah, kata rubah, “kau kelihatan sangat bagus. Tapi
sayang sekali, kau tak punya otak.”
            Penampilan luar tidaklah mencerminkan hal yang ada di
dalam


SI PENGAIL DAN IKAN KECIL

Suatu ketika pernah terjadi seorang pengail ikan hanya
mendapatkan seekor ikan kecil meski telah memancing
seharian.
            “Kumohon, lepaskan aku, Tuan,” kata si ikan. “Aku
terlalu kecil untuk bisa membuatmu kenyang. Jika kau
lemparkan aku kembali ke air, aku nanti akan tumbuh besar
sehingga saat kau tangkap lagi akan kenyanglah perutmu.”
            “Tidak, tidak, ikan kecil,” kata pengail ikan. “Aku sudah
mendapatkanmu. Esok hari, kau takkan tertangkap lagi.”
            Barang yang kecil di genggaman tangan lebih berharga
ketimbang barang besar, tapi belum diperoleh.


SINGA DAN SEBONGKAH BATU

Seorang lelaki dan seekor singa sedang berdiskusi tentang
kekuatan relatif singa dan manusia secara umum. Lelaki
itu berpuas diri dengan mengatakan bahwa ia dan kaum
sebangsanya lebih kuat ketimbang singa dengan alasan
bahwa mereka lebih cerdas.
            “Ayo ikut aku,” ia berseru lantang. “Akan segera
kutunjukkan bahwa ucapanku benar.”
            Maka lelaki itu membawa si singa ke taman umum
dan menunjukkan padanya sebuah patung Herkules
yang menggambarkan ia tengah menaklukkan singa dan
merobek mulutnya hingga koyak jadi dua.      
“Itu bagus,” kata singa, “tapi tak menunjukkan apapun
karena yang membuat patung itu adalah manusia.”
Kita bisa dengan mudah melukiskan diri sendiri sebaik
yang kita mau.

           
SINGA YANG SAKIT

Seekor singa sedang menjemput ajalnya dan ia terbaring
sekarat di mulut gua, menghembuskan napas dengan susah
payah. Para binatang yang tunduk di bawah kekuasaannya,
berkumpul mengintarinya dan mendekat ketika ia semakin
kritis.
            Ketika mereka melihatnya hampir mati, mereka ber-
pikir: “Sekaranglah saatnya membalas derita masa silam.”
            Maka babi hutan datang mendekat dan menyarangkan
taringnya ke tubuh lemah itu, lalu banteng menyeruduknya
dengan tanduk. Singa, tak seperti sebelumnya, hanya
berbaring tanpa menunjukkan keinginan untuk mem-
balas. Setelah itu muncullah keledai yang merasa aman
dari bahaya. Ia mengibaskan ekornya pada si singa, lalu
menendang wajah si singa dengan tumitnya. “Sungguh
kematianku berlipat ganda,” geram si singa.
            Dia yang semula kuat pun menjelang ajalnya tidaklah
ditakuti si lemah.


KATAK INGINKAN RAJA

Bangsa katak hidup bahagia sebagaimana yang mereka
inginkan di sebuah rawa-rawa. Mereka berkecipak di air
tanpa peduli siapapun dan tak ada pula yang mempedu-
likan mereka. Tapi beberapa di antara mereka merasa keba-
hagiaan itu belumlah cukup. Mereka harus punya raja dan
undang-undang yang sesuai. Maka mereka putuskan untuk
mengajukan permohonan tentang hal itu pada dewa.
            Dewa tertawa mendengar keruak mereka dan melem-
parkan sebatang kayu ke tengah rawa, sehingga membuat
percikan yang dahsyat. Katak-katak ketakutan dan mereka
berkumpul di tepi untuk melihat siapa raksasa mengerikan
itu. Tapi sesat kemudian, melihat bahwa raksasa ini
tak bergerak, satu atau dua di antara mereka mendekat,
bahkan ada yang berani menyentuhnya. Raksasa itu tetap
tak bergerak. Kemudian katak yang jiwanya paling besar
melompat ke atas batang kayu dan menari-nari. Maka
semua katak pun melakukan hal yang sama. Kadang
katak-katak itu sibuk melakukan sesuatu tanpa menyadari
keberadaan Raja Batang Kayu di tengah mereka. Tapi
raja baru ini tak cocok buat mereka. Mereka mengajukan
permintaan lain pada dewa.
            “Kami ingin raja sungguhan. Raja yang akan mengatur
kami semua.”
            Hal ini membuat dewa marah. Ia kirimkan ke tengah
mereka seekor bangau besar yang segera melahap mereka
semua. Katak-katak sudah terlambat untuk menyesali diri.
            Lebih baik tanpa penguasa ketimbang ada penguasa tapi
kejam.


GAGAK DAN SEBUAH KENDI

Seekor gagak berjalan gontai, sekarat karena kehausan.
Beruntung ia bertemu dengan sebuah kendi. Tapi ketika
hendak memasukkan paruh, ia dapati air di dalamnya
tinggal tersisa sedikit. Ia tak memiliki paruh yang panjang
sehingga air dalam kendi tak bisa ia minum. Ia mencoba
dan terus mencoba, sampai akhirnya ia putus asa.
            Sebersit gagasan melintasi benaknya. Ia kumpulkan
batu-batu kecil sebanyak mungkin dan ia cemplungkan
ke dalam kendi satu persatu dengan paruhnya sehingga
air kendi itu pun meluap. Ia hirup air itu dan selamatlah
jiwanya.
            Penemuan besar bermula dari hal-hal kecil.


DUA EKOR KEPITING

Suatu hari dua ekor kepiting –si betina dan anaknya – keluar
rumah dan berjalan-jalan santai di atas hamparan pasir
pantai.
            “Nak,” kata betina, “cara berjalanmu benar-benar
kurang berwibawa. Bisakah dirimu berjalan lurus tanpa
menyamping-nyamping?”
            “Kumohon, Ibu, berilah contoh sehingga aku bisa
menirukannya,” jawab si kepiting kecil.
            Contoh adalah ajaran terbaik.

                       
BOCAH LELAKI DAN GUCI STROBERI

Seorang bocah memasukkan tangannya ke dalam guci
berisi stroberi dan menggenggam buah yang ada sebanyak
mungkin. Tapi ketika ia tarik, tangannya itu tak bisa keluar.
Leher guci itu teramat sempit.
            Ia tak ingin melepaskan sebiji pun buah stroberi
yang telah ia genggam dan selama itulah ia terus gagal
mengeluarkan tangannya sehingga akhirnya menangis.
            Si ayah yang berdiri tak jauh darinya berkata, “Wah,
Nak, jangan serakah begitu. Berpuaslah dengan separuh
bagian, dan kau akan bisa mengeluarkan tanganmu kembali.”


SERIGALA BERBULU DOMBA

Seekor serigala menemukan kesulitan besardalam menang-
kap domba, karena si gembala dan anjing-anjingnya selalu
waspada. Tapi suatu hari ia menemukan sehelai kulit domba
yang sedang dijemur. Ia pakai kulit itu di punggungnya dan
bergabunglah ia bersama kawanan domba.
            Seekor anak domba pun mengikuti serigala yang sedang
menyamar itu. Setelah mereka agak jauh dari gerombolan-
nya, ia segera menerjang dan menyantap si anak domba.
Siasatnya berhasil!
            Penampilan memang menipu!


SEIKAT RANTING

Menjelang ajalnya, seorang lelaki tua memanggil putra-
putranya untuk berkumpul sebelum memberikan pesan
perpisahan. Ia meminta dibawakan seikat ranting. Lalu
ia berkata pada putra tertua: “Patahkanlah!” Si sulung
mencoba sekuat tenaga, tapi ia tak bisa mematahkan
ranting-ranting itu. Si tengah dan si bungsu pun diminta
melakukan hal serupa, tapi tak ada di antara meraka yang
berhasil.
            “Sekarang lepaslah ikatannya,” kata sang ayah, “dan
masing-masing peganglah sebatang ranting, lalu patahkan!”
            Krak! Krak! Krak! Setiap batang ranting patah dnegan
mudah.
            “Kalian tahu maksudku?” tanya sang ayah.
            Persatuan membawa kekuatan.


PENCURI DAN AYAM JAGO

Sekomplotan maling menyelinap masuk rumah dan tak
menemukan apapun kecuali seekor ayam jago. Ketimbang
pulang tanpa mendapat apapun, mereka ambil juga ayam
itu dan melesat pergi.
            Ketika tengah mempersiapkan makan malam dan
salah satu maling bermaksud memotong lehernya, si ayam
jago memekik-mekik dan berkata, “Mohon jangan kau
sembelih aku. Kau ‘kan tahu diriku banyak berjasa. Aku
membangunkan orang tidur dengan berkokok menjelang
pagi.”
            Tapi si maling menjawab ringan, “Ya, aku tahu, tapi
itulah yang menyebabkan kami mudah tertangkap. Nah,
masuk kuali sana!”


MERPATI DAN SEMUT

Seekor semut berjalan menuju pinggir sungai untuk
melepas dahaga, tapi ia justru hanyut terbawa aliran air.
Saat itu pula seekor merpati meluncur dan bertengger di
ranting pohon yng menjorok di atas sungai itu. Goncangan
ranting membuat sehelai daun rontok dan jatuh ke aliran
sungai. Si semut pun naik ke atas daun itu dan berlayar
dengan selamat ke tepi, tidak berapa jauh dari situ.
            Tak lama kemudian, datanglah seorang pemburu bu-
rung dan berdiri di dekat tempat si semut menepi. Ia
bergerak mengendap-endap dan diam-diam membidik
merpati itu. Si semut menyadari ini dan secepat mungkin ia
berlari mendekat, menggigit kaki si pemburu. Pemburu itu
pun merasa kesakitan dan segera menggaruk betisnya.
            Seketika itu pula, sepasang sayap merpati mengepak
terbang.


MERKURIUS DAN TUKANG PATUNG

Tersebutlah bahwa dewa Merkurius sangat kuatir perihal
perlakukan manusia padanya sehingga ia menyamar menjadi
seorang lelaki dan berkunjung ke studio seorang pematung.
Di sana ada banyak patung yang sudah selsai dibuat dan
siap dijual.
            Di antara sekian banyak hasil pahatan, ia melihat
Patung Jupiter. Ia pun bertanya: “Berapa harganya?”
            “Satu drakhma!” sahut pematung.
            “Cuma segitu?” ia membatin sambil tertawa. “Lalu
kalau ini berapa?” ia bertanya sambil menunjuk patung
Juno.
            “Itu setengah drakhma!” jawab pematung
            Ia manggut-manggut sebelum mengitarkan pandangan
kembali dan melihat sosok patung dirinya sendiri di
sudut. Ia menahan napas.
            “Kalau untuk yang itu, berapa yang Anda minta?”
            “Oh, yang itu?” seru pematung sambil tersenyum. “Jika
Anda beli dua patung di depan tadi, Tuan, Anda dapat
bonus patung itu!”


KELEDAI DAN BAGAL

Suatu hari, seorang lelaki berniat melakukan perjalanan
dagang. Ia membebani punggung keledai dan bagalnya
dengan berbagai macam barang, lalu berangkatlah mereka.
            Di jalanan rata, si keledai bisa membawa barang tanpa
masalah. Tapi ketika jalanan menanjak, ia terengah-engah.
Saat itulah ia berbisik pada si bagal, memintanya agar mau
menerima satu atau dua karungnya untuk meringankan
beban; tapi si bagal menolak.
            Akhirnya, karena tak kuat lagi berjalan menanjak, si
keledai rubuh dan mati. Si empunya pun kebingungan.
Lantas ia mengambil solusi terbaik yang bisa dilakukannya.
Ia menambahkan beban si keledai ke punggung si bagal dan
setelah itu menaikkan bangkai keledai ke atas punggung si
bagal.
            “Ah, sialnya nasibku! Kalau tadi aku tak menolak
permintaan si keledai, tentu aku tak mengalami siksaan
begini.”


RUBAH DAN BUAH ANGGUR

Di suatu siang musim panas, seekor rubah berkeliaran dan
sampailah ia di tengah kebun buah. Saat menengok ke atas,
dilihatnya serumpun buah anggur sudah mulai masak,
menggantung di bawah cabang yang megah.
            “Andai saja bisa kuobati rasa hausku dengan buah itu…”
ia bergumam.
            Ia pun mengambil ancang-ancang dan lari meloncat
dengan tangan menggapai ke atas. Tapi ia gagal menggapai
anggur itu. Ia mencoba lagi dua, tiga, dan empat kali; tapi
tetap saja ia tak dapat menyentuhnya. Ia terus mencoba
tak kenal putus asa, tapi akhirnya ia menyerah juga dan
berjalan dengan moncong menengadah, sambil berkata:
“Aku yakin, anggur-anggur itu rasanya masam.”
            Memang mudah memandang rendah sesuatu yang tak
bisa dicapai.


Tentang Aesop
Aesop adalah pendongeng yang hidup sekitar 650 SM (ada juga catatan yang menyebut tahun 550 SM). Beberapa sumber tentang dirinya didapat dari Aristoteles, Herodotus, dan Plutarch. Ia adalah budak seorang Yunani di Samos, sebuah pulau kecil di laut Aegea. Ia kemudian dibebaskan dari budak karena kecerdasannya menggubah cerita. Ada lebih 2000 fabel yang diyakini berasal dari tuturan mulut Aesop, meski ada sebagian berasal dari dongeng asli bangsa Yunani yang diceritakan ulang oleh Aesop.


Tentang Penerjemah
Nurul Hanafi lahir di Bantul tahun 1981. Ia menyukai kajian sastra Inggris era Elizabethan hingga restorasi, drama klasik Yunani-Romawi, dan penulis-penulis modern. Novelnya: Piknik (2015).


Catatan Lain
Penerjemah membuat kata pengantar di buku ini. dikatakan bahwa sebagian fabel Aesop digubah dalam bentuk sajak oleh Babrius (abad 3 M), diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Phaedrus (abad 1 M) dan Avianus (abad 4 M). Erasmus membuat lagi edisi latinnya pada 1513 dan sejak itu edisi ini yang banyak digunakan di sekolah-sekolah.
            Juga dikatakan bahwa tidak sedikit di antara ratusan fabel itu  yang mempunyai kesamaan motif cerita dan pembedanya hanyalah jenis karakter binatang yang terlibat di dalamnya. (hlm. 5).
            Di sampul belakang buku hadir kata-kata dari Aesop berikut lukisan yang dinisbatkan kepada dirinya: “Dongeng memang tidaklah sebagaimana kehidupan nyata. Namun kehidupan setiap manusia tak ubahnya sebuah dongeng.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar