Selasa, 01 Maret 2011

Hajriansyah: 79 PUISI HAJRI


Data buku kumpulan puisi 79 Puisi Hajri

Judul : 79 Puisi Hajri
Penulis : Hajriansyah
Cetakan : 1, Juli 2010
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin.
Tebal : vii + 104 hlm. 14 x 20 cm (79 judul puisi)
Editor : Sandi Firly
Ilustrasi : Agus Trianto BR
ISBN : 978-602-84140-23-4


Beberapa pilihan puisi Hajriansyah dalam 79 Puisi Hajri


Di Awal Mimpi Kita, Tahun ini Tumbuh Daun

Aku petik mimpi ini
Di ujung daun tumbuh daun

Di dalam tanah akar saling berjalin-tangan
Di luar tanah mimpi kita tumbuh lagi

Tanah yang subur
Rumah yang makmur

Di langit ada kembara
Di cakrawala seseorang memanggil kita

“hoi… rumahmu terbakar
Ada sungai di seberang sana!”

Januari, 2010



Puisi Wajahku

Sebait puisi ditulis anakku yang paling kecil
Isinya kurang lebih seperti ini:
Ayah, aku bisa menggambar wajahmu


Rumah

1.      Binatang pulang ke sarangnya;
Manusia pulang ke dalam jiwanya.
2.      Tetumbuhan pulang ke tanahnya;
Angin dan bintang-bintang pulang ke laut-lautnya
3.      Rasa benci pulang ke rumah dendamnya;
Rasa sedih pulang kepada kegelisahannya
4.      Bebunyian pulang ke rongga dadanya;
Yang selalu diam pulang ke rumah-tertutupnya

Inilah rumah yang kuidamkan. Kedamaian saat pulang bersama
kepuasan hatiku.


Memelihara Damai

Seseorang mengajarkan:
Peliharalah kebaikan, kejujuran dan kasih sayang
Tapi kau harus kuat, katanya,
Dan kau harus berada di jarak yang aman

Zaman ini titik yang rawan
Para fanatik melihat tanah, dan saling berebut
Mana yang lebih suci
Sementara di tanahku, kita tak mengenal perang
Karena di hati kita begitu tak memiliki apa-apa
Sukurlah, dengan begitu kita tak perlu berkorban

Pergilah ke tempat yang jauh
Belajarlah kebaikan yang menyelamatkan sebuah kota
Dan anak-anak
Dan orang tua
Dan orang-orang yang lemah
Sementara di kampungku, kami mengayuh jukung
Ke tempat yang tak sudah-sudah

Sukurlah, di dalam damai kami hidup
Beranak-pinak

28032008


Ninda

Setiap kali ingin melupakanmu
Kau muncul dalam lagu-lagu
Kenangan-kenangan, dan sebuah kota

Merindukanmu, rupanya;
Sehingga telah habis hari-hari yang lalu
Bahkan suara dan baju anakku menuju
Padamu

Selalu mengenangmu!
Meski kawanku telah mengapurkan bayangan buruk
Dalam imaji tentang engkau
Dan kawanku yang lain;
Dirimu seolah awan yang kan berlalu

Mengenangmu dalam mimpi-mimpi tak kesampaian?
Dalam janji yang tak terpenuhi
Dan utang yang belum terlunasi
Dan terus saja semua itu menghantui
Dalam seburuk-buruk mimpi di luar tidurku

14 juli 2008


Sedingin Angin Malam

Sedingin angin malam
Setinggi langit dan harapan

Jejakku jejak rompal
Menjejak lalu terjengkal

Jur-malam, jur-siang
Hari-hari datang lalu pulang

Maka, lihatlah lagi
Betapa air telah naik ke kaki kita
Sungai-sungai telah lelah menampung
sampah dan rumah-rumah;

besok, ingatlah
mungkin sungai akan naik ke badan kita
lalu kepala kita
lalu ke dalam tubuh kita
lalu kita mabuk sungai
mabuk air berkelimpahan
menari-nari menyembur air
lalu tumpahlah
tumpahlah segala salah:
parah!

Des, 08

Tentang Hajriansyah
Lahir di Banjarmasin, 10 Oktober 1979. Adalah pemilik Tahura Advertising dan Penerbit Tahura Media. Seorang pelukis yang mendalami ilmunya di MSD Yogyakarta dan ISI Yogya. Selain menerbitkan puisi dalam beberapa antologi bersama, karyanya juga dibukukan dalam kumpulan puisi Jejak-jejak Angin (Olongia, Yogyakarta, 2007) bersama M. Nahdiansyah Abdi, Jejak Air (Tahura Media, Banjarmasin, 2007). Kumpulan cerpennya adalah Angin Besar Menggerus Ladang-Ladang Kami (Frame Publishing, Yogyakarta, 2009). Sekarang tinggal di Banjarmasin, (masih) dengan 1 orang isteri dan 5 anaknya.

  
Catatan Lain
Buku ini dikasih sama penulisnya waktu bertandang ke kantor Tahura Media, dengan embel-embel harus menulis ulasannya! Di kasih juga bersama buku ini, kumcer Nailiya Nikmah, Rindu Rumpun Ilalang. Telah kulunasi dengan sebuah tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar