Pengantar Bulan Februari 2017

Pengantar Bulan Februari 2017
Bulan Februari 2017, menyapa kita sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 11 Maret 2011

ARLOJI


Data buku kumpulan puisi Arloji

Judul : Arloji
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : 2009
Penerbit : Editum, Ciputat.
Tebal : tanpa halaman (33 judul puisi)
ISBN : 978-979-19766-8-8


Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Arloji


Tukang Kebun

Setelah beberapa kali ketukan,
pintu kubuka; rupanya ada tamu
yang, katanya, menjemputku sore hari ini
Apakah aku sudah pernah mengenalnya?

Waktu kutanyakan pergi ke mana,
jawabnya ringkas, “Ke sana, ke samudra raya!”
Ditunjukkannya pula rajah di lengannya:
gambar jangkar, tengkorak, dan kata tak terbaca.

Aku ini tukang kebun tua yang lahir dan dibesarkan
di pedalaman, sepanjang hidup hanya belajar
menghayati rumput, pohon, dan tanah basah,
mengurus pagar dan membersihkan rumah.

Aku tak mampu apa dan bagaimana lagi.
Pandanganku tinggal sejengkal,
dan telingaku? Suaraku sendiri pun tak dikenal.
Tamu itu membelalak ketika kupersilahkan duduk.

Tuhan, aku takut. Tolong tanyakan padanya
siapa gerangan yang telah mengutusnya.



Pada Suatu Magrib

Susah benar menyeberang jalan di Jakarta ini;
hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib.
Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini,
Astagfirullah! Rasanya di mana-mana ajal mengintip


Tentu. Kau Boleh

Tentu. Kau boleh saja masuk
masih ada ruang
di sela-sela butir darahku.
Tak hanya ketika rumahku sepi,
angin hanya menyentuh gorden,
laba-laba menganyam jaring,
terdengar tetes air keran
yang tak ditutup rapat;
dan di jalan
sama sekali tak ada orang
atau kendaraan lewat.
Tapi juga ketika turun hujan,
angin tempias lewat lubang angin,
selokan ribut dan meluap ke pekarangan,
genting bocor dan aku capek
menggulung kasur dan mengepel lantai.
Tentu. Kau boleh mengalir
di sela-sela butir darahku,
keluar masuk dinding-dinding jantungku,
menyapa setiap sel tubuhku.
Tetapi jangan sekali-kali
pura-pura bertanya kapan boleh pergi
atau seenaknya melupakan
percintaan ini.
              Sampai huruf terakhir
sajak ini, Kau-lah yang harus
bertanggung jawab
atas air mataku.


Pertanyaan Kerikil yang Goblok

“Kenapa aku berada di sini?”
tanya kerikil yang goblok itu. Ia baru saja
dilontarkan dari ketapel seorang anak lelaki,
merontokkan beberapa lembar daun mangga,
menyerempet ujung ekor balam yang terperanjat,
dan sejenak membuat lengkungan yang indah
di udara, lalu jatuh di jalan raya
tepat ketika ada truk lewat di sana.
Kini ia terjepit di sela-sela kembang ban
dan malah bertanya kenapa;
ada saatnya nanti, entah kapan dan di mana,
ia dicungkil oleh si kenek sambil berkata,
“Mengganggu saja!”


Ayat-ayat Tokyo

/1/
angin memahatkan tiga patah kata
di kelopak sakura –
ada yang diam-diam membacanya

/2/
ada kuntum melayang jatuh
air tergelincir dari payung itu;
“kita bergegas,” katanya

/3/
kita pandang daun bermunculan
kita pandang bunga berguguran
kita diam: berpandangan

/4/
kemarin tak berpangkal, besok tak berujung –
tak tahu mesti ke mana
angin menyambar bunga gugur itu

/5/
lengking sakura –
tapi angin tuli
dan langit buta

/6/
menjelma burung gereja
menghirup langit dalam-dalam –
angin musim semi


Tentang Sapardi Djoko Damono
Lahir di Solo, 20 Maret 1940. Beliau adalah Professor Sastra di Universitas Indonesia. Buku puisinya yang pertama terbit tahun 1969 dengan judul: duka-Mu abadi. Disusul sejumlah buku puisi lainnya, esai, dan fiksi. Juga aktif menerjemahkan. Buku puisinya terakhir adalah Kolam (2009).


Catatan Lain
Buku Arloji ini pertama kali diterbitkan oleh Yayasan Puisi tahun 1998, dan menjadi salah satu bagian dari Ayat-ayat Api terbitan Pustaka Firdaus, 2000. Buku ini merupakan kejutan kecil akhir tahun 2009 dari penulisnya untuk saya. (Awalnya saya yang lebih dulu menjalin korespondensi, namun lama tak ada kabarnya, jadi saya anggap hilang). Dikirim ke rumah sakit tempat saya bekerja, RSJ Sambang Lihum, bersama buku Kolam. Ini menjadi koleksi buku saya yang pertama dari penyair kenamaan ini. Ada pesannya juga: “Menulis atau tak menulis apa pula bedanya, tetapi saya mengharapkan Sdr tetap menulis – “ Hehe… Terima kasih.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar