Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Rabu, 09 Maret 2011

PEWARIS TUNGGAL ISTANA PASIR


Data buku kumpulan puisi Pewaris Tunggal Istana Pasir

Judul : Pewaris Tunggal Istana Pasir
Penulis : M. Nahdiansyah Abdi
Cetakan : 1, Desember 2009
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin.
Tebal : xii + 194 hlm. 13,5 x 20 cm (200 judul puisi)
ISBN : 978-60284140-12-18


Beberapa pilihan puisi M. Nahdiansyah Abdi dalam Pewaris Tunggal Istana Pasir


Ke Dunia Maya Aku kan Kembali*

Di sana gadisku
sendiri  menunggu

Senyumnya sangat, sangat, sangat virtual

Susah untuk tidak rindu!

Ke dunia maya aku kan kembali
menghambur ke pelukan rintih
Serupa burung-burung putih
melesat ke langit bersalju

Gadisku manis seperti ombak yang menanti
Kulempar jauh dayungku, kulubangi jukungku
Gadisku sekait sekelindan dengan ajalku

Tak ada bulan, angin, pacar
Puisi menghilang, kesedihan pelan mencakar
Dan kulunaskan janji pada iseng yang membara ini
Apapun tarohannya, ke dunia maya aku kan kembali

010708

*antara lagu Koes Plus, puisi Chairil, dan lukisan Leonardo da Vinci


Maut

Maut, maut terhampar dalam benakku
Digenangi airmataku
Lumpurnya yang mengendap tercermin di langit
Adam masih di surga, pohon larangan belum berbunga
Tidak juga aku kangen, maaf.

201102



Setia

Ini tarian yang kita butuhkan
lebih terasing dari cahaya bulan
Kabut merangkak di jantungku
bersama hak untuk menindasku

Inilah segelintir cerita
ketika ketahanan kami melemah
sebab kami telah berupaya
menyayangkan segalanya, termasuk cinta

240299


Di Pelipismu Aku Mengasah Rindu

Di pelipismu aku mengasah rindu
Kau harus kubunuh malam ini juga

Malam terang bulan
Maling-maling pada keluar menjemput buruannya
Aku keluar memaling kekasihku dari ajalnya

Aku membunuhmu hidup-hidup di hidupku
Luka yang rembes seperti mata air baru nemu
Sakit yang luruh pada lebar tawa
Mati yang lebur pada hidup luas menganga

Menggigil: “Kasihku, aku ingin terbakar api cemburu selamanya!”

191208


Jalan

Dengan enak sekali aku melemparmu
ke sebuah jalan
kamu pun celingukan

Jalan itu memang pernah kau kenal
Tapi tak kau perlukan lagi saat ini

Kamu hanya perlu bertemuku
Entah untuk apa

Lantas kamu menungguku
di bekas pohon yang terbakar

051200


Terhiburlah

Merayakan kota
membokongi kampung
Lidah tidak berdusta
Dompet isinya tagihan
Rumah menjadi showroom
Tubuh mengiklankan sampah
Slogan-slogan berubah dengung
Semua kehidupan menjadi panglima
Terhiburlah!

121107


Laut

Lautan masih menyimpan
keisengan
dan epos garam

Biji demi biji kegetiran
telah dihitung
— tampak klise —
menyeret daku
pada kebun-kebun imaji

kesenangan
tak berpikir matang
ia telah dibunuh
novelet dan drama
kesiasiaan jadi lokal
teramat tipisnya
kalau suatu waktu ia tergolek
dan menjual akalnya pada keledai
segera, kasih aku cincin kawin

220698


Mimpi Siang
  
Biji-biji masyarakat
memompa sepatuku: menyisipkan paru-paruku yang sakit
Kedengarannya lucu
Tapi ada yang lebih lucu lagi
yaitu tentang sapi menghajar trotoar

yaitu tentang petir melumat waktu
dan rumah-rumah di masa pubernya
Tak tertolong

Semoga sarafku teramat puritan bagimu
Berdenyut cepat ketika mimpimu lembayung, ketika
mimpimu menjelma payung: erotisme yang menggantung.

 290200


Catatan Arkeologis
  
Pada saat yang begitu mencengangkan
seseorang telah ditemukan sebagai mayat
dalam pecahan gerabah dan ziggurat

Dan seorang yang lain
lengannya diikat kasa
menggali seperti kesetanan

Lalu apa yang ditemukan?
Seorang lagi!
Dari tempat yang jauh: perempuan!


210401

O

Biarkan burung-burung itu kewalahan
mematuki es krim dalam iklan

Kamu datang naik sepeda
pipimu kegendutan

Sebuah mobil ditembak dari samping
terjungkal ke hidupmu
  
151200


Bulldog
Agus Noor

Aku mencium bau orang berbincang-bincang
di dekat kue ulang tahun
perkawinan
dan kepongahannya telah menjadi tempat ibadah yang
busuk, yang bisa dimaafkan dengan perlawanan
abadi
Airmata telah di luar moral
dan kakiku kesemutan dengan sendirinya
  
250600


Marg Bar Amrika
  
Berlangganan suara bising ombak laut
Awan mendung seperti ditarik menutupi cakrawala
Di geladak yang lebih sunyi itu, aku ditawari
“Tagaroa” minum kopi
Cinta terlihat dalam beberapa kata
Kenikmatan yang akan ditempuh dalam hitungan mil

Sejak itu cuaca membaik
Engkau menoleh padaku dan menggariskan perpisahan
yang kecut
Arus laut yang tabah dan perayaan keberanian
adalah lumba-lumba yang terluka siripnya
dalam semak-semak dongeng dunia
  
111099


Tentang M. Nahdiansyah Abdi
Terlahir di desa Durian Gantang, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Memulai debut di Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha, Banjarbaru, tahun 2005, di mana saat itu bergabung penyair Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Arsyad Indradi, Sri Wuryani, Yuniar M. Ari, Hudan Nur, dll.  Buku puisinya yang pertama Jejak-jejak Angin (Olongia, Yogyakarta, 2007) bersama Hajriansyah, disusul Parodi tentang Orang yang Ingin Bunuh Diri dengan Pistol Air (Tahura Media, Banjarmasin, 2008) dan Pewaris Tunggal Istana Pasir (Tahura Media, Banjarmasin, 2009). Tinggal di Banjarbaru. Bekerja di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sambang Lihum.
  

Catatan Lain
Tak terbayangkan sebelumnya memiliki buku puisi sendiri. Ya, saya telah melakukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar